XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label sandra dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sandra dewi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

LANGIT KE-7 : Suratan Takdir Berujung Temuan Cinta


Quotes: 
Dania: Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Reload Pictures dan Sanca International ini melangsungkan press screening dan gala premierenya sekaligus di Studio XXI eX pada tanggal 20 November 2012.

Cast:
Taskya Namya sebagai Dania
Aryadila Yarosairy sebagai Denan
Nikki Frazetta sebagai Pio
Bonita Lauwoie sebagai Lintang
Atika Noviasti sebagai Indira
Rechelle Rumawas sebagai Visi
Maureen Irwinsyah sebagai Angel
Pong Hardjatmo sebagai Sutoro
Sandra Dewi sebagai Dokter Ira

Director: 
Merupakan film ke-22 bagi Rudi Soedjarwo setelah terakhir Batas, Lima Elang dan Garuda Di Dadaku 2 di tahun 2011 lalu.

W For Words: 
Rudi Soedjarwo selama ini dikenal sebagai sutradara bertangan dingin dalam menangani bintang-bintang baru dalam filmnya. Kelima gadis pemenang ajang tahunan CLEAR Hair Model 2012 yang digagas oleh PT Unilever Indonesia Tbk tersebut nampaknya cukup beruntung mendapat kesempatan emas itu. Sebuah drama romantis dengan segmentasi remaja yang tak hanya bertutur mengenai cinta tetapi juga keluarga dan persahabatan ini dipersembahkan oleh duet produser handal Kemal Arsjad dan Faby Tsui ke hadapan masyarakat Indonesia yang sudah rindu akan tontonan bergenre sejenis.

Dania tengah dijodohkan ayahnya Sutoro yang mulai sakit-sakitan dengan putra kerabat dekatnya meski ia belum berpikir untuk menikah. Ia lantas mengajak sahabat-sahabatnya berlibur ke Bali sekaligus menghibur Visi yang baru saja diselingkuhi pacarnya Pio. Momen menyenangkan itu dirusak oleh kehadiran dua paparazzi yang mengejar Dania kemanapun. Malang saat sendiri, ia mengalami kecelakaan hingga koma dan ditangani langsung oleh Dokter Ira. Di luar dugaan, rohnya yang berjalan-jalan hanya bisa dilihat dan didengar oleh Denan yang akhirnya setuju untuk membantunya kembali.

Skrip yang ditulis oleh Virra Dewi ini mayoritasnya harus diakui mirip sekali dengan Just Like Heaven (2005). Perjodohan keluarga, mati suri, komunikasi gaib, keyakinan diri hingga jatuh cinta itu elemen-elemen yang tertata lurus dari awal sampai akhir. Perbedaan minor hanya pada obyek pelengkap saja.
Sayangnya semua karakter dalam film ini tereksploitasi secara datar terlepas dari banyaknya waktu tersedia. Kesalahan fatal yang akhirnya membuat alasan ini-itunya menjadi kurang kuat yang turut mempengaruhi keberpihakan penonton pada nasib tokoh-tokohnya. Pertentangan baik melawan jahat layaknya sinetron yang sempat menjadi konflik utama pun lantas hilang tanpa bekas.

Sutradara Rudi bahkan memasukkan template Ada Apa Dengan Cinta (2002) setiap kali Dania, Visi, Angel, Lintang dan Indira berkumpul walau belum dibekali dengan chemistry yang sama. Ketajaman visinya tak berkurang samasekali, terbukti setting lokasi Jakarta dan Bali mampu dimaksimalkan sebagai panggung berlanskap indah plus sinematografi bawah laut yang sangat memanjakan mata. Scoring musik dari Andi Rianto berhasil memberi nyawa pada film termasuk lantunan suara merdu biduan muda Nathan Hartono dalam hit lawas yang didaur ulang oleh Andi Rianto, Layu Sebelum Berkembang.

Saya menghargai usaha Taskya dan Aryadila dalam menghadirkan chemistry yang cukup memadai. Taskya yang berwajah eksotis memperlihatkan talentanya dimana karakter Dania dituntut untuk senang, marah hingga putus asa. Meski tak terlalu eye candy, Arya justru menunjukkan penjiwaan natural dengan ekspresi lugu dan mata lebarnya yang tak jarang membuat penonton tersenyum. Menarik melihat debut Nikki sebagai playboy cool menyebalkan, begitu pula dengan kuartet Bonita, Atika, Maureen, Rechelle yang lumayan kompak sebagai bff. Kembalinya Sandra Dewi ke layar lebar lewat peran dokter cantik menjadi nilai tambah tersendiri. Sangat disayangkan aktor sekelas Donny Damara tidak dimaksimalkan sebagaimana mestinya.

Langit Ke-7 merupakan angin segar bagi kancah perfilman lokal yang masih kekurangan stok drama romantis yang “benar”. Jika dicermati memang tak ada korelasi judul dengan isi cerita yang ingin disampaikan. Satu-satunya penghubung menurut saya adalah angka 7 di kamar Denan yang penuh lukisan watermark tersebut. Kesampingkanlah faktor minimnya jam terbang bintang-bintang anyar ini karena kerja keras mereka dalam menghadirkan “momen-momen” yang dibutuhkan masih terasa. Untuk sesaat biarkan anda terhanyut dalam permainan takdir yang tak jarang berlabuh pada penemuan cinta.

Durasi: 
92 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 10 Desember 2008

TARZAN KE KOTA : Formula Lawas Tarzan Modern

Cerita:
Saat sedang bertualang mencari tumbuhan di hutan, Ratna diculik oleh Arde beserta anak buahnya dan disembunyikan di dalam gua. Saat siuman, Ratna kaget mendapati seekor macan tutul dan sekaligus takut mendengar sebuah siulan manusia gua gondrong yang hanya bercawat saja. Kekhawatiran Ratna tidak menjadi kenyataan, karena makhluk tersebut ternyata baik hati dan dinamakan Tarzan karena mampu berkomunikasi dengan hewan. Tarzan pun mengantar Ratna pulang ke kota menggunakan kuda. Kehebohan muncul di apartemen Ratna saat Tarzan muncul dan lagi rupanya Tarzan sendiri tidak terbiasa dengan kehidupan metropolitan. Di lain pihak, Arde yang mengalami kecelakaan saat mobilnya masuk jurang, mengalami pengobatan khusus yang membuat area matanya menghitam sehingga ia mengganti namanya menjadi Master Mata Hitam. Arde berusaha memanfaatkan Tarzan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Bagaimana akhir dari petualangan Tarzan di kota?

Gambar:
Adegan pembuka dan beberapa scene yang mengambil suasana hutan terlihat tidak natural. Pergerakan kamera dan kualitas gambar yang dihasilkan juga tidak terlalu mulus untuk disaksikan dari awal sampai akhir.

Act:
Penampilan keduanya di layar lebar, Sandra Dewi berusaha menampilkan sosok gadis polos nan mandiri bernama Ratna. Cukup berhasil memang namun secara keseluruhan improvisasinya tidak cukup kuat sebagai pemeran utama di film ini.
Pendatang baru Ajul Jiung juga belum banyak dikenal orang. Rasanya di film ini, ia sedikit banyak mengadopsi gaya almarhum Benjamin sebagai Tarzan kocak dan baik hati.
Vincent Rompies yang seringkali terlibat dalam produksi komedi kali ini kebagian peran antagonis tapi hasil akhirnya tidak cukup meyakinkan sebagai Mamahi.

Sutradara:
Entah apa yang ada di benak Reka Wijaya yang juga bertindak sebagai penulis skenario saat memutuskan untuk mengeksekusi film ini. Semuanya menjadi serba tanggung dan dangkal padahal inti cerita harusnya bisa dikembangkan lagi, tentunya dengan persiapan praproduksi yang lebih matang. Apakah keterbatasan bujet menjadi kendala?

Komentar:
Film lawas serupa yang dibintangi alm Benjamin memang pernah sukses pada masanya dan mungkin masih berkesan untuk sebagian orang sampai saat ini. Namun formula lama yang coba diterapkan dalam produksi baru ini bisa dikatakan gagal. Penggunaan bahasa komunikasi antar Tarzan dan hewan-hewannya sungguh menggelikan dan tidak konsisten. Promosi yang cukup gencar pun, tidak mampu menolong film ini. Digadang-gadang sebagai film yang bisa disaksikan seluruh anggota keluarga, Tarzan Ke Kota malah terkesan sebagai hiburan yang tidak berkelas dan masih jauh dari unsur fun.

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10