XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 03 November 2012

SKYFALL : Classic Requisite Bond In New Heights


Quotes:
James Bond: 007 reporting for duty.
M: Where the hell have you been?
James Bond: Enjoying death.


Nice-to-know: 
Film James Bond ketiga yang mengambil lokasi Istanbul dan Turki setelah From Russia with Love (1963) dan The World Is Not Enough (1999).

Cast: 
Daniel Craig sebagai James Bond
Judi Dench sebagai M
Javier Bardem sebagai Silva
Ralph Fiennes sebagai Gareth Mallory
Naomie Harris sebagai Eve
Bérénice Marlohe sebagai Sévérine
Albert Finney sebagai Kincade
Ben Wishaw sebagai Q


Director:
Merupakan feature film keenam bagi Sam Mendes setelah terakhir Away We Go (2009).

W For Words:
James Bond bukan lagi sebuah nama atau karakter dalam dunia film. Ia telah menjadi ikon cultural mancanegara. Tanpa terasa agen 007 sudah memasuki peringatan emas di layar perak alias 50 tahun semenjak perilisan Dr. No (1962). Tak kurang dari 6 aktor sudah memerankan tokoh rekaan Ian Fleming ini mulai dari Sean Connery, George Lazenby, Roger Moore, Timothy Dalton, Pierce Brosnan hingga Daniel Craig. Usia "panjang" tersebut merupakan kombinasi dari aksi seru, intrik internasional, sesi bercinta panas, antagonis berkarakter hingga klimaks tak terduga.

Kecerobohan M membuat daftar agen rahasia Inggris yang menyelinap ke dalam jaringan teroris dunia terungkap sehingga satu persatu diburu. James Bond yang tengah berupaya menyelamatkan dokumen tersebut malah tertembak. Ketika markas MI6 diserang di luar dugaan Bond yang dianggap tewas justru kembali meski kemudian harus menjalani serangkaian tes kemampuan dan psikologi. Mantan agen MI6, Raoul Silva yang menyimpan dendam pada M karena merasa terbuang pun menjadi musuh besar Bond yang sedang napak tilas masa lalunya sendiri. 

Skrip yang ditulis oleh trio Neal Purvis, Robert Wade dan John Logan ini memang menitikberatkan pada hubungan M dan Bond yang telah terjalin selama bertahun-tahun sebagai atasan dan bawahan. Menarik melihat Dench tak sedingin dan Craig tak setangguh biasanya. Sisi humanisme keduanya semakin tergali ketika M mengakui ia tak biasa memegang senjata apalagi memikirkan untuk bertugas di lapangan atau saat Bond harus belajar lagi untuk mengembalikan nalar dan kemampuan menembaknya. Chemistry mereka yang sempat berada di titik nadir semakin mengebumikan sosok yang selama ini dianggap superior. 

Cewek Bond yang biasanya "menjual" kali ini seperti tenggelam. Saya tidak bermaksud mengecilkan poosisi Marlohe tapi peran Severine terkesan basa-basi saja. Sebaliknya sosok antagonis dijiwai Bardem secara karismatik, menyaingi penampilannya dalam No Country For Old Men (2007) dahulu yang memberikannya Piala Oscar. Tokoh Raoul yang kejam dan freak itu semakin kentara melalui polesan make-up wajah dan rambut nan eksentrik. Menarik melihat sumbangsih Harris dan Wishaw sebagai Eve dan Q yang sukses mencuri perhatian di setiap kemunculannya.

Sutradara Mendes menyuguhkan set lokasi yang memikat mulai dari Istanbul, Shanghai, London sampai Skotlandia. Adegan pembuka yang berlangsung di atas kereta berjalan di Turki menjadi pembuka megah sebelum berujung pada klimaks emosional di rumah Skotlandia. Tempo film yang sedikit lambat seakan memberi waktu bagi penonton untuk merasakan kerapuhan yang diharapkan tapi bagi para penggemar aksi Bond bisa jadi akan merasa bosan. Setidaknya narasi yang mengedepankan plot cerdas dan karakteristik kuat menutupi aspek itu sehingga dramatisasi dan sekuens aksi mampu bersisian seimbang.

Installment terbaru ini masih setia dengan pakem 2D alias reguler. Meski demikian versi IMAX nya patut ditunggu karena menawarkan aspek ratio 26% lebih tinggi dari biasanya. So, if u ask me whether go for IMAX or not, i will say yes although its not a must. Lanskap nya lebih terasa apalagi dukungan sinematografi ciamik dari Roger Deakins. Jangan lupakan lantunan suara merdu Adele sebagai pengisi soundtrack di samping sajian musik original dari Thomas Newman yang tidak mengabaikan nuansa klasiknya.

Skyfall memang tidak bercitarasa pada film-film Bond pada umumnya tapi pendekatan realistis terhadap para anggota MI6 itu membuat segalanya lebih manusiawi. Bagaimana kesalahan perhitungan dan kekeliruan asumsi bisa saja terjadi pada siapapun. Tak ketinggalan selipan humor yang sangat British disana-sini tergolong efektif untuk mencairkan suasana. Template film hero masa kini tak dipungkiri mengalami pergeseran, bukan cuma good versus evil tetapi memaknai prosesnya itu sendiri. Film yang juga kependekan harfiah “the sky is falling ini menegaskan hal tersebut sambil mengumpamakan kesetiaan tiada batas yang mahal harganya.

Durasi: 
143 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 01 November 2012

DENDAM DARI KUBURAN : Teror Kuntilanak Rumah Baru So What?


Quotes:
Stephen: Dia mandi pake baju apa gak ya?
Willy: Si tolol kalo mandi pake baju namanya diceburin.

Nice-to-know: 
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Chika Jessica
Natassa Lengkong
Angie Amanda
Raymond Knuliqh
sebagai Stephen
Dion Chow sebagai Willy
Munajat Praditya sebagai Pasha
Yudha Putra
Yafi Tesazahara
Shinta Bachir
Bolot

Director: 
Merupakan film kesembilan bagi Koya Pagayo di tahun 2012 ini.

W For Words: 
Jika bulan Juli lalu ada Bangkit Dari Kubur maka empat bulan kemudian ada Dendam. Coba anda definisikan perbedaan kata "Bangkit" dan "Dendam" terlebih dahulu. Menurut hemat saya satu bermakna kata kerja dan lainnya sifat yang bisa dikategorikan sebagai objek. Sependapat? Terserah. Namun tampaknya Koya Pagayo tidak mau peduli dan memilih menggunakan "template" yang sudah-sudah. Terima kasih buat timnya yang sudah sangat kompak dan saling pengertian itu. Anjing menggongong, kafilah berlalu. Begitulah kira-kira slogan mereka.

Alkisah Willy si penulis skenario tengah mencari rumah kontrakan baru untuk berkonsentrasi dengan karyanya. Sebuah rumah yang dijaga oleh Pak Bolot menarik minatnya. Ia mengajak dua sohibnya, Stephen si pemilik tempat fitness dan Pasha yang selalu gagal mendekati cewek. Rumah tersebut akhirnya jatuh ke tangan mereka sebelum penampakan demi penampakan mulai mengganggu. Willy yang berpacaran dengan Agnes mulai panas ketika Wisnu mendekati ceweknya itu. Adakah hubungannya dengan cewek seksi penjual parfum bernama Puspita?

Duet penulis skrip "langganan", Erry Sofid dan Ule Sulaeman tampaknya sudah semakin malas memberi nama dan karakteristik yang unik pada tokoh-tokohnya. Tidak penting! Yang jelas selalu ada cowok jayus berbadan kekar, cowok kutu buku pecundang cinta, cowok pintar-pintar bodoh serta sederetan cewek cantik nan seksi. Sebut saja mereka Bunga, Mawar, Duri, Daun dan sejenisnya pun tak akan berpengaruh banyak. Tinggal mainkan interaksi satu tokoh dengan lainnya dalam dialog komedi bernuansa horor secara simultan di sepanjang film. Mudah bukan?

Koya Pagayo juga menggunakan rumah, kamar tidur, kamar mandi, kampus dan kuburan yang sama sebagai setting lokasinya. Saya curiga, jangan-jangan setiap habis syuting tidak pernah dibenahi, langsung dipakai untuk syuting berikutnya. Berapa banyak penghematan yang dilakukan departemen art? Beruntung, make-up sang kuntilanak Puspita dan versi mininya Jojo tidak berlebihan seperti biasanya. Tak jarang mereka memilih nunduk dan muncul tiba-tiba sambil sesekali seliweran layaknya mengenakan sepatu roda.

Dendam Dari Kuburan juga memanfaatkan medio cenayang untuk menjembatani dunia nyata dan alam baka. Lihat bagaimana Kilan kesurupan dan menjelaskan semua kejadian dari mulutnya. Epik! Setelah semuanya terungkap tak berarti film berakhir. Ketika kuburan Puspita dan Jojo diketemukan maka layar segera ditutup. Lagi-lagi penonton jadi korban! Bersyukurlah jika beberapa di antara anda masih bisa tertawa melihat “aksi” Haji Bolot atau Reymond yang repetitif itu. Bahkan judul-judul film kondang macam Spongebob, Spiderman, Safe House dan Jelangkung turut disebutkan tanpa tujuan yang jelas. Ah sudahlah!

Durasi: 
76 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 30 Oktober 2012

LOE GUE END : Teror Misterius Kaum Jetset Ibukota



Quotes: 
Fifi: Alkohol gak bahaya kok, lebih banyak orang yang mati gara-gara obesitas..

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Ganesha Perkasa Film ini gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 30 Oktober 2012.

Cast: 
Dion Wiyoko sebagai Radit
Nadine Alexandra sebagai Alana
Dimas Beck sebagai Timo
Manohara Odelia sebagai Vira
Claudia Hidayat sebagai Adriana
Tracy Shuckleford sebagai Santika
Amanda Soekasah sebagai Zara Zettira
Kelly Tan sebagai Lina

Moudyzania sebagai Fifi
Ray Sahetapy sebagai Ayah Alana

Director: 
Merupakan film kesepuluh bagi Awi Suryadi setelah terakhir Simfoni Luar Biasa (2011).

W For Words: 
Partying in cinemas everywhere. Dari poster dan tagline tersebut sudah jelas, film ini bertemakan kehidupan malam sekelompok muda-mudi yang doyan party. Tentu anda mengira sudah bisa menduga isinya secara keseluruhan, tidak jauh-jauh dari seks, alkohol dan narkoba. Eits, nanti dulu! Adaptasi novel berjudul sama karangan Zara Zettira ZR ini setidaknya masih berupaya memberikan twist tersendiri di akhir cerita. Tidak percaya? Buktikan sendiri karya terbaru Awi Suryadi dengan sederetan aktris muka baru di samping dua aktor utama yang telah dikenal sebelumnya.

Novelis tersohor, Zara Zettira kehilangan gairah menulis sepulang dari Kanada walau didesak asistennya, Vina. Suatu ketika, ia menerima email-email misterius dari seseorang bernama Alana yang berkisah tentang kaum jetset Jakarta lengkap dengan segala intrik-intriknya. Alana tidak pernah mengenal ibunya selain ayahnya yang dokter bedah sibuk. Teman-temannya adalah pecandu anak Jaksa Agung – Timo, desainer kesepian – Fifi, pekerja kantoran ganteng – Radit, bandar narkoba lesbian – Lina, guru TK yang hobi fly – Yosi dan sosialita narsis – Vira. Teror dari Santika secara tak langsung menewaskan mereka satu per satu. Apa hubungannya dengan masa lalu Alana?

Skrip yang juga ditata oleh Archie Hekagery ini memiliki lubang besar yang menganga. Perkenalan singkat terhadap masing-masing karakternya tidak otomatis membangun karakterisasi apalagi sampai membuat penonton berpikir, si A ini gue banget, si B ini temen gue dsb. Lantas untuk apa perkenalan jika pada akhirnya satu persatu menemui "pintu keluar"nya? Penjelasan di paruh terakhir pun dilakukan oleh karakter-karakter yang awalnya tidak ada. Seakan anda tengah belajar bersama di ruang kelas lalu tiba-tiba 1-2 orang tak dikenal masuk dan menerangkan semua pelajaran yang dibutuhkan. Anda semua lantas akan berujar, “Ha?”

Beruntung materi yang miskin itu mampu ditutupi oleh sang sutradara. Suryadi Musalim alias Awi berupaya semaksimal mungkin menampilkan production value yang sangat mendukung. Niat baiknya terlihat dari storytelling yang lumayan asik dengan insert-insert dinamis yang memberi penegasan nuansa kehidupan malam itu sendiri. Lagu tema dari Koil dan Saint Loco memang cadas tapi tergolong pas dengan nyawa film ini, berbaur dengan tata musik Ricky Lionardi dan tata suara Khikmawan Santosa. Editing akhir dari Harris Reggy dipadukan dengan pemakaian spesial efek di beberapa bagian.

Karena kedangkalan karakteristik, tak banyak kapabilitas yang bisa dilihat dari aktor-aktrisnya. Mereka hanya berlalu lalang, bertingkah laku dan berdialog sesuai kebutuhan peran. Nadine lah satu-satunya yang mendapat kesempatan bereksplorasi secara luas. Tokoh Alana di tangannya memang belum cukup freak dan paranoid. Namun usahanya untuk keluar dari peran gadis baik-baik "minggu lalu" bolehlah diapresiasi. Cukup menarik menyaksikan debut dua nama yang sudah saya dengar sebelumnya yaitu Kelly dan Manohara . Semoga ada kesempatan berikut bagi keduanya.

Loe Gue End berusaha keras mengaburkan genre dengan mencampur adukkan unsur thriller, horor, drama sejak menit pertama bergulir. Hal tersebut tak ayal malah membingungkan penonton yang merasa logikanya terjebak sedari awal. Semakin sedikit yang anda tau, rasa penasaran anda akan bertambah besar. Akhir kata, film ini tak lebih dari sekadar iklan layanan masyarakat dengan durasi yang lebih panjang beserta contoh-contoh yang eksplisit. Namun perlukah generasi muda disadarkan dengan presentasi semacam ini? Pertanyaan yang akan memunculkan jawaban yang berbeda-beda jua.

Durasi: 
75 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 27 Oktober 2012

FRANKENWEENIE : Stop-Motion Heart Beats From Burton


Quotes: 
Susan: He was a great dog, a great friend.
Ben: The best dog a kid could have.
Susan: When you lose someone you love, they never really leave you. They move into a special place in your heart.
Victor: I don’t want him in my heart. I want him here with me.
Susan: I know. If we could bring him back we would.

Nice-to-know: 
Kolaborasi ketiga antara Winona Ryder dan Tim Burton setelah 21 tahun lalu lewat Edward Scissorhands (1991).

Cast: 

Charlie Tahan sebagai Victor Frankenstein 
James Hiroyuki Liao sebagai Toshiaki 
Atticus Shaffer sebagai Edgar 'E' Gore 
Catherine O'Hara sebagai Mrs. Frankenstien / Weird Girl / Gym Teacher 
Martin Short sebagai Mr. Frankenstein / Mr. Burgemeister / Nassor 
Martin Landau sebagai Mr. Rzykruski 
Winona Ryder sebagai Elsa Van Helsing 
Robert Capron sebagai Bob 

Director: 

Merupakan karya ke-28 bagi Tim Burton yang memulainya lewat short movie The Island of Doctor Agor di tahun 1971.

W For Words: 
Jika The Cabin in the Woods (2011) dianggap sebagai tribute terhadap film horor klasik maka film ini dapat dikatakan homage terhadap film monster klasik yang bukan kebetulan hadir dalam format animasi hitam putih 2D, 3D bahkan IMAX. Daya tarik utama tentunya ada pada sang kreator, Tim Burton yang telah menggagas ide ini sejak 28 tahun lalu lewat film pendek bertitel sama. Biar lambat asal selamat mungkin peribahasa yang paling tepat menggambarkan antusiasme publik terhadap adaptasi skrip yang kemudian dikembangkan oleh John August dan Leonard Ripps sejak tahun 2006 tersebut .

Sekolah dasar New Holland telah menggalakkan pekan ilmiah. Salah satu siswanya Victor adalah anak penyendiri yang punya ketertarikan besar terhadap sains bersama anjing setianya Sparky. Mr. & Mrs. Frankenstein menyuruh putranya untuk keluar rumah dan berolahraga. Inilah awal tragedi terjadi, kala Victor bermain baseball, Sparky tewas tertabrak mobil. Duka yang mendalam berganti menjadi harapan di kelas Mr. Ryzykruski ketika penjelasan terhadap energi petir dikemukakan. Eksperimen Victor di luar dugaan berhasil membangkitkan kembali Sparky hingga menimbulkan kericuhan pada seantero kota. 

Animasi ini masih berjalan dalam tradisi Burton, visualisasi gelap misterius, moralitas kontradiktif serta konsep kematian dan kehidupan seiring sejalan. Berbagai referensi dari Beetlejuice (1988), Edward Scissorhands (1990), A Nightmare Before Christmas (1993), Corpse Bride (2005) mungkin akan anda temui disini. Usaha Burton menampilkan nuansa 50an yang kental melalui kompleks perumahan dengan pekarangan retro terbilang berhasil. Konsep stop-motion animasi black and white yang dikerjakannya pada akhirnya dikonversi ke format 3D oleh Prime Focus World.

Tak salah jika anda menganggap kisah ini gabungan dari Lassie dan Frankenstein yang telah melegenda itu. Hubungan Victor dan Sparky seakan terbagi dalam 3 babak dengan ruang lingkup yang semakin luas. Pertama, anda akan melihat kasih sayang murni seorang anak laki-laki dan seekor anjing normal di sebuah rumah. Kedua, berganti menjadi sosok anjing monster yang segera menjadi kontroversi di sekolah. Ketiga, bertambahnya sosok hewan-hewan monster yang menimbulkan polemik di masyarakat. Disinilah persahabatan, persaingan dan pengorbanan akan menjadi ujian yang paling berharga.

Dengan dukungan pengisi suara kompeten macam O’Hara, Short, Landau, Ryder, Hiroyuki Liao, Shaffer hingga si kecil Tahan menjadikan Frankenweenie terasa hidup! Arah blockbuster movie yang dituju di paruh terakhirnya sebelum ditutup ala Hollywood memang sedikit mengaburkan esensi klasik personal yang terbangun sejak menit pertama. Tidak perlu dipermasalahkan jika drama, komedi, horor nya berjalan seimbang di atas titian makna keluarga dan persahabatan yang kuat. Mengandalkan hati dan detak jantung, Burton pun sukses menghadirkan animasi universal bagi semua kalangan usia. By the way, 2D is enough to watch.

Durasi: 
87 menit

U.S. Movie Box Office: 
$28,238,779 till October 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 26 Oktober 2012

I LOVE YOU, MAS BRO : Drama Nanggung Komedi Garing


Quotes:
Alim: 
Sorry bro, gua gak punya bakat boring kayak loe.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 23 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Andhika Pratama sebagai Bagus
Ramon Y Tungka sebagai Alim
Cecep Reza sebagai Rizky
Tya Ariestya sebagai Alia
Tamara Tyasmara sebagai Max
Joe P-Project sebagai Boss Boss
Bobby Samuel sebagai Vina
Yurike Prastica sebagai Ibu Vivi
Alfie Alfandi sebagai Tanto
Mayang Naomi sebagai Meta
Epy Kusnandar sebagai Notaris

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Raymond Handaya yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai astrada dan asisten produser.

W For Words: 
Cassandra Massardi boleh dikategorikan sebagai penata skrip yang sukses mengingat sudah nyaris 20 film ditanganinya termasuk yang satu ini. Beragam topik yang saling berkolaborasi mulai dari cinta, keluarga, persahabatan kembali ditampilkan. Namun apakah cukup kreatif untuk setidaknya membuat penonton berpaling dan tertarik menyaksikan drama persembahan Rapi Films ini? Sutradara debutan pun ditunjuk untuk menangani dua aktor yang sudah malang melintang di jagat perfilman nasional selain sederetan aktor-aktris baru yang turut menyemarakkan suasana.

Empat saudara yang kesemuanya laki-laki yaitu Bagus yang juling kala menatap cewek, Alim yang rajin mendatangi masalah, Rizky yang otaknya kurang maksimal, Vina yang kecewek-cewekan hingga kerap berdandan tumbuh bersama sejak kecil. Alim yang lebih dekat dengan adik-adiknya tak jarang menimbulkan kecemburuan dalam diri Bagus. Saat kecelakaan mobil merenggut nyawa kedua orangtua mereka, Bagus dan Alim harus mencari cara masing-masing demi bertahan hidup apalagi seorang mafia misterius dan konco-konconya mulai datang menagih hutang lima ratus juta rupiah.

Satu hal yang paling fatal dalam film ini adalah sisi humor yang coba digali tapi berujung garing. Komedi situasi antar empat bersaudara sudah terlalu sering diperlihatkan sebelumnya dimana sejak awal Bagus, Alim, Rizky dan Vina sudah dikondisikan sesuai karakteristik tipikal masing-masing. Mungkin ini adalah penampilan terburuk Joe P-Project yang biasanya kocak dengan spontanitasnya. Bagaimana tidak, tokoh Bos yang dimainkannya sibuk memberi instruksi bodoh pada anak buahnya atau berbicara dengan burung nuri yang juga didubbing suaranya.

Unsur dramanya pun tidak kuat. Alasan mengedepankan sosok Alim di dalam keluarga tidak berjalan wajar. Ketegaran Bagus, Alim, Rizky dan Vina dalam menjalani hidup setelah kematian orangtuanya juga tidak terlihat bersungguh-sungguh.  Kehadiran Alia, Meta dan Max terkesan sebagai pengalih dari kejenuhan, padahal sosok keduanya sebagai love interest Alim, Bagus dan Vina sebenarnya mampu menghadirkan konflik serius tersendiri andai digali lebih dalam. Penyimpulan berbagai subplot yang berkembang di akhir cerita terbilang instan, lagi-lagi tanpa nyawa yang dibutuhkan.

Begitu banyaknya nama-nama berbakat yang mendukung tidak satupun memberikan kesan yang berarti. Sulit menyebutkan secara pasti salahnya dimana. Skrip? Sutradara? Atau ada faktor lain? Ramon yang umumnya mencuri perhatian, Andhika yang biasanya memiliki karisma tidak jua mampu keluar dari st
ereotype bad boy dan good boy yang melekat pada mereka. Apabila harus memilih, Tya dan Bobby setidaknya masih berakting lumayan dalam menyembunyikan perasaan mereka dalam-dalam sambil tetap berusaha memberikan sinyal kepada orang yang disukai. 

I Love You Mas Bro memang bukan drama komedi hancur lebur. Faktanya, ia masih ada dalam tahap tontonan standar. Lupakan elemen action basa-basi yang kontinuitasnya pantas dipertanyakan itu. Berbagai intrik dan twist yang tertata di sepanjang durasinya sudah bisa diduga dari awal. Itu sebabnya beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop lebih dahulu sebelum film benar-benar berakhir. Sebagai ilustrasi, jika melihat dialog yang serba klise dan gagal total dalam bertutur, rasanya anda sudah bisa menerka kesalahan utama ada pada siapa. Sorry to say.. I cannot love you, mas bro!


Durasi: 
99 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 25 Oktober 2012

SANG MARTIR : Pesan Moral Terhimpit Berat Muatan


Quotes: 
Rangga: Gua ga ngebunuh, gua ngebela diri.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Adipati Dolken sebagai Rangga
Nadine Alexandra sebagai Cinta
Tio Pakusadewo sebagai Rambo
Ray Sahetapy sebagai Jerry
Henidar Amroe sebagai Hj Rosna
Tity Qadarsih sebagai Mama Jerry
Jamal Mirdad sebagai H Rachman
Astri Nurdin sebagai Istri Jerry
Widy 'Vierra' sebagai Lili

Director: 
Merupakan kali keempat, Helfi Ch Kardit menyutradarai film yang ditulisnya sendiri setelah terakhir Mengaku Rasul : Sesat (2008).

W For Words: 
MARTIR berarti SAKSI yang berasal dari bahasa Yunani, μαρτυρ. Umumnya digunakan dalam konteks yang berhubungan langsung dengan umat Kristiani. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan pemakaian kata ini untuk sebuah judul film lokal. Namun seorang Helfi melakukannya dengan satu benang merah yaitu kesaksian yang berujung pada pengorbanan. Premis yang mungkin mengingatkan anda pada Tanda Tanya (2011) milik Hanung Bramantyo dari buah pemikiran Titien Wattimena. Interpretasi berbeda tentunya bisa memperkaya khasanah pemahaman itu sendiri.

Rangga besar di sebuah panti asuhan milik Haji Rachman dan istrinya Hajjah Rosna. Kasus pemerkosaan yang menimpa anak panti bernama Lili membuat Rangga terbakar emosi dan membunuh sang pelaku yang merupakan adik Rambo, kepala preman yang berkuasa. Hukuman 3 tahun penjara dijalani Rangga di bawah lindungan Pendeta Josep. Sekeluarnya dari sana, Rangga menjadi incaran anak buah Rambo yang ingin membunuhnya. Kepala geng preman lain, Jerry yang juga musuh bebuyutan Rambo memberi perlindungan pada Rangga dengan agenda tersembunyi di belakangnya.

Selama lebih dari satu setengah jam durasinya, Helfi sibuk menjejali pikiran penonton dengan isu-isu politik, ekonomi hingga sosial budaya yang tak jarang menyentuh S.A.R.A. Semua headline yang biasa anda temui di surat kabar muncul di sini, sebut saja penyelundupan narkoba, kasus korupsi, perebutan wilayah kekuasaan, tindakan nepotisme, kesenjangan sosial, perbudakan anak yang dijadikan pengemis di atas dua plot besar yang bergulir yaitu pertikaian antar geng (Rambo dan Jerry) serta percintaan berbeda agama (Rangga dan Cinta).

Penyutradaraan Helfi sendiri berjalan pada rel yang benar. Saya menghargai upayanya untuk mencoba sesuatu yang lain di luar genre komedi/horor belakangan ini. Narasinya terbilang berjalan mulus dengan pembagian frame yang cukup rapat di antara subplotnya. Panggung demi panggung pun disiapkan untuk menjadi “lahan bermain” para karakternya. Sayang begitu banyak yang masuk ke layar rupanya tak diimbangi dengan karakteristik yang mendalam. Padahal aspek ini amatlah dibutuhkan penonton untuk benar-benar terintrusi dengan jalinan konflik yang ada. Hasilnya?  Datar tanpa impresi.

Adipati membawakan peran Rangga dengan misi besar. Bagaimana rentang waktu panjang yang dialami sedikit banyak membentuk karakternya sedemikian rupa. Ia cukup berhasil tapi belum maksimal. Menarik menyaksikan Tio dan Ray ada di pihak yang berseberangan dengan segala karakter “jadi”, dua orang yang hidup untuk mengambil resiko demi menjalankan apa yang mereka yakini terlepas dari unsur benar atau tidaknya. Minimnya porsi Nadine sebagai Cinta sangat disayangkan mengingat relativitas hubungannya dengan Rangga seharusnya bisa digali lebih. Masih banyak nama-nama berbakat lain yang tidak cukup mendapat kesempatan.

Sang Martir patut dipuji karena masih mampu menyampaikan misi dan aspirasinya yang mulia yaitu meluruskan pandangan umat beragama untuk bertindak dan bertingkah laku sebagaimana mestinya serta menegaskan konsekuensi pilihan hidup yang diambil seseorang. Kekerasan dalam film ini tergolong cukup dominan walaupun sebetulnya tidak perlu secara eksplisit. Andaikata Helfi mau mempersempit “ruang lingkup” bahasannya, kemungkinan fokus cerita akan lebih maksimal dengan pengantaran pesan moral yang lebih efektif. Sayang beribu sayang memang.

Durasi: 
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 24 Oktober 2012

ALEX CROSS : Underpar Action Unimportant "Cross" Rebuilt


Tagline: 
Don’t ever cross Alex Cross.

Nice-to-know: 
Idris Elba sedianya mengambil alih peran Alex Cross dari Morgan Freeman dimana ia pernah membintangi film Tyler Perry yang berjudul Daddy's Little Girls (2007).

Cast: 

Matthew Fox sebagai Picasso
Tyler Perry sebagai Dr. Alex Cross
Rachel Nichols sebagai Monica Ashe
Giancarlo Esposito sebagai Daramus Holiday
Edward Burns sebagai Tommy Kane
Jean Reno sebagai Leon Mercier


Director: 

Merupakan feature film kesebelas bagi Rob Cohen setelah The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor (2008).

W For Words: 
Masih membekas dalam ingatan saya betapa piawainya seorang Morgan Freeman membawakan tokoh Dr. Alex Cross dalam Kiss The Girls (1997) dan Along Came A Spider (2001). Entah apa yang ada di pikiran QED International, Envision Entertainment Corporation, IAC Productions, James Patterson Entertainment untuk menghidupkan karakter tersebut dengan bintang.. Tyler Perry? Marc Moss yang juga menulis skrip tahun 2001 itu kini bertandem dengan Kerry Williamson untuk menerjemahkan novel milik pencetus aslinya yakni James Patterson yang berjudul Cross.

Dr. Alex Cross adalah detektif pembunuhan kawakan yang didukung oleh tangan kanannya, Tommy Kane dan kekasihnya, Monica Ashe. Suatu ketika seorang pembunuh sadis yang dikenal dengan sebutan Picasso muncul dan menebar teror kesakitan dari penyiksaan. Korban pertamanya adalah wanita kaya, Fan Yau Lee dimana pebisnis Jerman, Erich Nunemacher menjadi target berikutnya. Dr. Alex Cross mengendus petunjuk yang ditinggalkan sang pelaku dan berupaya membongkar motif sesungguhnya di balik semua kasus kejahatan ini. 

Entah mengapa saya merasa filmmakers lebih memihak pada tokoh antagonis dibanding protagonis. Ini tidak wajar! Sejak menit pertama kemunculannya, Picasso lebih mencuri perhatian dengan sisi psikopat berdarah dingin yang meyakinkan. Sedangkan Alex Cross tidak mencerminkan sosok detektif cerdas yang sigap. Empatinya terhadap rekan kerja, ibu, istri dan anaknya sendiri pun tidak terlihat hangat. Elemen aksi dan misteri di tiga puluh menit pertama sebetulnya menjanjikan, intensitas suspensinya menurun di tiga puluh menit kedua sebelum berantakan di paruh terakhirnya.

Rob Cohen memang berpengalaman dalam menyutradarai film action. Namun hal itu tidak menjamin kualitas film yang lebih mendekati kelas B dengan dialog cheesy ini. Endingnya yang mengambil lokasi di Bali dengan sedikit penggunaan bahasa Indonesia mungkin akan menarik bagi penonton kita meskipun terkesan dipaksakan demi menyimpulkan berbagai plot yang dikembangkan sejak awal. Keputusannya untuk meminimalisasi CGI mungkin harus dibayar mahal mengingat beberapa adegan aksi disini kentara memakai stuntman dengan set lokasi yang terlalu standar pula.

Perry bukanlah aktor buruk tapi ia harus jeli memilih peran. Detektif Alex Cross, sang jagoan intelek jelas bukan untuknya. Bahkan Fox melakukan tugas yang lebih meyakinkan dengan sorot mata tajam dan perawakan mengerikan, terima kasih pada kerja kerasnya dalam memahat tubuh walaupun tidak sekalipun nama karakternya disebut dalam film. Burns dan Nichols tidak memiliki pengaruh apa-apa sebagai sidekick dimana screentime nya juga minimal. Begitupun dengan Reno yang tiba-tiba muncul dan merasa berkewajiban menjelaskan semuanya.

Alex Cross tidak terasa sebagai thriller cerdas high profile seperti dua pendahulunya, melainkan drama kepolisian biasa dengan misi sulit dan balas dendam yang kental tanpa lupa menyebut unsur seksualitas yang cukup eksplisit di bagian prolog. Klimaks yang biasanya menyelamatkan sebuah film kali ini berdampak sebaliknya. Narasi penutup yang terburu-buru,  fokus yang hilang hingga rangkaian penjelasan yang tidak masuk akal mungkin saja menamatkan karakter Cross dalam film untuk selama-lamanya. All i can say, this is under par. So, Morgan Freeman, Ashley Judd and Monica Potter were much luckier that time!

Durasi: 
101 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 23 Oktober 2012

STUDENT OF THE YEAR : Extravagant Competition For Love and Honor


Quotes: 
Ashok Nanda: You can either be rich, or a chamcha.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Dharma Productions dan Red Chillies Entertainment ini rilis di Indonesia bersamaan dengan India dan Amerika Serikat yaitu 19 Oktober 2012.   

Cast: 

Sidharth Malhotra sebagai Abhimanyu Singh
Varun Dhawan sebagai Rohan
Nanda
Alia Bhatt sebagai Shanaya Singhania
Sana Saeed sebagai Tanya
Asrani
Rishi Kapoor sebagai Dean Yoginder Vasisht

Ronit Roy sebagai Pelatih Karan Shah
Ram Kapoor sebagai Ashok Nanda
Manjot Singh sebagai Dimpy
Sahil Anand sebagai Jeet Khurana
Kayoze Irani sebagai Sodo

Boman Irani                       

Director: 
Merupakan film kelima bagi Karan Johar setelah My Name Is Khan (2010).

W For Words: 
Sekolah seringkali menjadi panggung bercerita yang asyik dalam sebuah film. Salah satu referensi berkualitas terdahulu adalah film lawas Mansoor Khan berjudul Jo Jeeta Wohi Sikandar (1992) yang dibintangi oleh Aamir Khan, Ayesha Jhulka dan Deepak Tijori. Kali ini Karan Johar, pria kelahiran Bombay 40 tahun lalu yang juga peraih beberapa penghargaan lokal dan internasional atas beberapa film-film sebelumnya berupaya “meremajakan” karyanya dengan menampilkan bintang-bintang muda di barisan terdepan dan memperkenalkan mereka sebagai MURID!

ST Teresa di Dehradun merupakan sekolah papan atas sekaligus pertemuan siswa-siswi kaya atau berprestasi. Kepala sekolahnya Yoginder Vasisht adalah gay yang jatuh cinta pada pelatih olahraga. Penyokong dananya seorang pebisnis kejam dimana putranya, Rohan Nanda bersekolah disana dengan segudang fasilitas mewah. Kekasih Rohan, Shanaya Singhania juga siswi populer. Kedatangan siswa baru dari luar negeri, Abhi yang penuh talenta membuat Rohan merasa tersaingi. Puncaknya terjadi pada saat kompetisi tahunan siswa terbaik yang menjadi penentuan segalanya. 

Skenario Rensil Dsilva memang tidak anyar. Dua lelaki yang saling bersaing untuk seorang gadis dan juga sebuah piala. Sub konflik lain adalah hubungan ayah dan anak yang tidak mulus hingga konsep frenemies diantara beberapa karakter utama pelajarnya mengingat standar tinggi yang sudah ditetapkan sejak awal di sekolah bergengsi yang tidak mengenal kata bodoh dan miskin tersebut. Dialog karangan Niranjan Iyengar juga sebetulnya tidak terlalu kreatif tapi cukup untuk menghadirkan drama klise, romansa tipikal sambil sesekali melontarkan humor praktis. 

Sutradara Johar lagi-lagi bersikap perfeksionis. Sinematografi Ayananka Bose yang megah, editing Deepa Bhatia yang memikat, musik Vishal-Shekhar yang dinamis lengkap dengan koreografi energik sudah menegaskan hal tersebut. Nomor soundtrack macam Vele, Ishq Wala Love, The Disco Song dengan mudah melekat di kepala anda. Tampilan ST Teresa yang luar biasa mulai dari aula, lorong, taman hingga kolam renang standar Olimpiade rasanya mampu mengundang murid manapun untuk bersekolah disini. Pendekatan flashback maju mundur reuni “tak terencana” yang mengambil rentang waktu sepuluh tahun sejak perayaan 25 tahun sekolah mengingatkan anda pada hal serupa dalam 3 Idiots (2009).

Indahkan pertanyaan-pertanyaan anda mengenai karakterisasi yang sangat textbook layaknya dalam pakem Glee atau High School Musical. Bagaimana Abhi yang awalnya masuk karena beasiswa mampu mengikuti gaya hidup jetset. Bagaimana Rohan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya setelah meninggalkan rumah. Bagaimana Shanaya menentukan pilihan hati yang sebenarnya. Selain itu karakter siswi kutu buku, siswa gendut, siswi oportunis dan siswa tangan kanan juga menjelma dalam diri Dimpy, Sodo, Tanya dan Jeet yang stereotype hilir mudik di sela aksi ketiga tokoh utamanya tersebut.

Malhotra dan Dhawan mungkin terlihat lebih tua untuk peran siswa tapi keduanya jelas mampu menyajikan esensi rivalitas dan bromance yang menarik. Malhotra mungkin lebih mudah menarik simpati karena ada di posisi underdog selain ketulusan hatinya, Dhawan harus diakui lebih luwes dalam berdansa di samping keteguhan hatinya membuktikan diri, Bhatt cukup konsisten memerankan gadis innocent yang bergelimang harta di luar prestasi yang patut dipertanyakan. Scene stealer jatuh pada Kapoor yang terampil menokohkan kepala sekolah ambisius yang tak jarang bertingkah komikal.

Student of the Year memang tidak akan menjadi film terbaik tetapi tak dipungkiri salah satu yang paling menghibur tahun ini. Penampilan para debutan yang memikat setidaknya mengesampingkan plot cerita yang  cukup timpang. Apresiasi tinggi untuk kinerja sutradara kawakan K Jo yang tahu betul bagaimana memaksimalkan apa yang ia punya. Jangan lewatkan presentasi masa muda yang penuh gejolak tatkala mengejar cita, cinta sekaligus berusaha menjadi yang terdepan. This is an example of extravagant movie should be with eye-candy and ear-catchy on its’ side. Like it!

Durasi: 
146 menit

India Box Office: 
Rs 25.25 crore till mid October 2012

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 22 Oktober 2012

DREDD : Judgment Couldn’t Be Any Harder Tasks


Quotes:
Judge Dredd: Negotiation's over. Sentence is death.  

Nice-to-know: 
Tidak seperti film Judge Dredd sebelumnya, Karl Urban menegaskan bahwa helmnya tidak akan dilepas mengacu pada karakter dalam buku komiknya.  

Cast: 

Karl Urban sebagai Judge Dredd
Olivia Thirlby sebagai Anderson
Lena Headey sebagai Ma-Ma
Jason Cope sebagai Zwirner
Rakie Ayola sebagai Chief Judge
Warrick Grier sebagai Caleb
Wood Harris sebagai Kay
 


Director: 

Pete Travis memulai debut layar lebarnya lewat Vantage Point (2008).

W For Words: 
Jika Judge Dredd (1995) yang dibintangi Stallone menawarkan begitu banyak aksi kekerasan yang menyenangkan penikmat film tapi tidak memuaskan pecinta komiknya, maka produksi DNA Films, IM Global, Reliance Big Pictures ini berusaha seimbang. Meski didasari pada karakter utama hasil rekaan John Wagner dan Carlos Ezquerra, saya tidak setuju jika produksi 2012 ini dikatakan sekuel apalagi remake. Keduanya boleh dikatakan berdiri sendiri dan dapat dinikmati masing-masing terlepas dari setting Mega City One yang masih melatarbelakanginya.

Kejahatan merajalela di Mega City One.  Kumpulan polisi urban yang dikenal sebagai “Judges” punya hak untuk menimbang, memutuskan dan mengeksekusi para kriminal di tempat. Salah satu diantaranya adalah Dredd yang tengah melatih si pemula, Cassandra Anderson yang juga seorang cenayang. Epidemi obat bius “Slo-Mo” yang seakan menurunkan kecepatan waktu membuat keduanya sepakat mengobrak-abrik Peach Trees, apartemen 200 lantai yang dihuni oleh ribuan orang termasuk geng pengedar kejam yang disebut Ma-Ma Clan.

Skrip yang ditulis oleh produsernya langsung, Alex Garland ini akan mengingatkan anda pada The Raid : Redemption (2012) milik Gareth Evans. Elemen-elemen seperti apartemen kumuh, penghuni kriminal, penguasa kuat sekaligus pengedar luas yang berdiam di lantai atas memang familiar. Pembedanya adalah pertukaran peluru atau granat yang menggantikan pergantian jurus atau pisau. Selain sosok protagonis Dredd yang terlihat lebih tangguh dengan kepribadian yang lebih dingin, bertandem bersama Anderson yang terkesan lemah dengan perhitungan yang lebih matang. Kombinasi yang menarik, bukan?

Sutradara Travis mengandalkan tempo cepat demi menutupi minimnya sekuens aksi kasat mata. Hal ini dilakukan mengingat Dredd dan Anderson saja sudah kalah “jumlah” dan “modal” dari pihak antagonisnya. Efek CGI juga digunakan secara efektif untuk memperlihatkan konstruksi ledakan dan bombardir senjata canggih yang diinginkan penonton pecinta action. Jangan lupakan berbagai visualisasi cantik slow motion sehingga detail adegan “keras” tersaji dengan baik termasuk gory things macam tumpahan darah, hamburan anggota tubuh dsb.

Urban yang tidak pernah melepaskan helmnya mampu mempertahankan kesan dingin Dredd di balik kostum dengan suara berat dan pergerakannya yang mantap di sepanjang film. Thirlby berhasil menciptakan karakter dilematis yang menarik dalam diri Anderson terutama imajinasi “penglihatan” nya yang tak jarang kelewat batas tersebut. Headey sukses menjiwai penjahat sadis berkelamin perempuan bernama Ma-Ma yang tampak garang dengan codet di pipi dan sorot matanya yang tajam terlepas dari kemampuan bertarung yang tidak terlalu sepadan.

Dredd yang juga unggul dari set futuristik diantara chaos yang tercipta di masa depan mungkin akan membuat anda beruntung untuk tidak hidup dalam kondisi seperti itu. Entah alasan apa yang dikemukakan distributor sehingga publik Indonesia tidak berkesempatan menyaksikannya dalam format 3D padahal sisi artistik yang terbangun oleh sekuens pengaruh Slo-Mo terbilang memberikan pengalaman baru. Kesampingkan fakta bahwa plot film ini sesungguhnya tipis karena konsistensi brutalitas selama durasinya berjalan membuat anda teramat peduli pada duet Dredd dan Anderson, bertahan hidup sebagai penegak hukum atau mati sebagai pahlawan!

Durasi: 
95 menit

U.S. Movie Box Office: 
$13,157,045 till October 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:





Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 21 Oktober 2012

END OF WATCH : Heroism Charm Against Realism Crime

Quotes:
Mike Zavala: My Grandmother said, "If you can live without her, then man-up and cut her off. Don't string her along."

Nice-to-know:
Dua karakter utama dalam film berdasarkan kisah nyata petugas LAPD, Charles Wunder dan Jamie McBride yang bertandem di Divisi Newton pada pertengahan hingga akhir tahun 90an

Cast: 

Jake Gyllenhaal sebagai Brian Taylor
Michael Peña sebagai Mike Zavala
Natalie Martinez sebagai Gabby
Anna Kendrick sebagai Janet
David Harbour sebagai Van Hauser
Frank Grillo sebagai Sarge


Director: 

Merupakan film ketiga David Ayer setelah Street Kings (2008).

W For Words: 
Buddy cop movies. Berapa banyak judul hadir sebelumnya dengan premis serupa? Beberapa berkesan, beberapa tidak. Kombinasi dua orang yang berasal dari ras berbeda sejauh ini paling efektif mungkin ada pada Training Day (2001), The Fast and the Furious (2001), S.W.A.T. (2003) atau Rush Hour (1998). Konflik narkoba, senjata api serta pertentangan antar geng tentunya tidak asing lagi bagi seorang David Ayer yang hidup di South Central. Itulah sebabnya film produksi Exclusive Media Group, Emmett/Furla Films, Hedge Fund Film Partners, Le Grisbi Productions, Crave Films dan Envision Entertainment Corporation ini menarik untuk ditonton.

Dua petugas LAPD, Mike Zavala dan Brian Taylor ditugaskan berpatroli di South Central Los Angeles. Misi yang tidak mudah mengingat tingkat kejahatan tinggi yang berhubungan dengan narkoba, senjata api hingga human trafficking. Mike sendiri tengah menunggu istrinya Gabby melahirkan sedangkan Brian baru saja berkencan dengan Janet. Persahabatan mereka tak jarang diuji ketika harus melindungi satu sama lain termasuk ancaman pembunuhan yang datang setelah keterlibatan keduanya dalam pertikaian antar geng berbahaya.

Skrip film ini secara tak langsung menegaskan kekhawatiran masyarakat untuk dapat hidup tenang di kota besar seperti Los Angeles. It’s sad but true. Maraknya aksi kejahatan tak terduga tergambar lewat serangkaian kejadian dari yang ringan seperti laporan kehilangan anak dari keluarga junkie sampai yang disturbing seperti kawanan orang terpenjara untuk komoditas human trafficking. Itulah sebabnya para petugas polisi ditempatkan di Divisi dan Area masing-masing untuk berjaga-jaga. Tempo yang lambat terkadang membuat film ini menjadi terlalu episodik layaknya serial televisi mingguan.

Sutradara Ayer awalnya menggunakan konsep found-footage dari kamera yang terpasang di saku Brian. Gambar-gambar hasil shaky cam memang tak nyaman di mata tetapi berhasil menangkap realitas dengan nyata. Sudut pandang orang pertama semacam video game seakan langsung mengajak anda berpatroli menjelajah kompleks rumah/apartemen yang dianggap mencurigakan sambil menerka baha apa yang kira-kira mengancam. Sayangnya ia tidak cukup konsisten dengan gaya tersebut karena seiring film berjalan, format standar orang ketiga mulai dipakai untuk menyelaraskannya. 

Beruntung akting luar biasa Gyllenhaal dan Peña mampu menutupi kekurangan naratif tersebut. Anda akan menyukai sosok Mike dan Brian di sepanjang film serta mau peduli dengan bentuk kehidupan pribadi yang mereka jalani masing-masing. Chemistry bromance di antara keduanya pun tercipta melalui tokoh pria tangguh memesona Gyllenhaal dan family man sensitif Peña yang saling bertukar cerita baik serius maupun becanda. Aktris favorit saya Kendrick juga tidak mengecewakan sebagai kekasih pintar, pula Martinez yang menjelma sebagai istri suportif. Jangan lupakan penampilan berbagai tokoh antagonis kejam yang akan memancing emosi anda.

End Of Watch bisa saja menjelma sebagai crime thriller yang membosankan dengan dramatisir disana-sini. Namun karakterisasi yang kuat dari tokoh-tokoh utamanya meniadakan hal tersebut. Pertukaran peluru dan aksi pengejaran mungkin tidak sebanyak atau seintens yang anda harapkan tapi percayalah setiap subplot disini memiliki sesuatu untuk dikatakan. Saya sedikit menyesalkan tipikal ending yang “memihak” macam ini, di luar logika yang seharusnya terjadi. Ya, stereotype polisi kotor setidaknya bisa terhapus lewat heroisme Zavala dan Taylor kali ini. For seconds, you might believe that it’s a reality show.

Durasi: 
109 menit

U.S. Movie Box Office: 
$36,374,223 till October 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent