XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thriller. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2019

THE POOL : Nailbiting Survival Thriller For Another Day


:
Tagline:
6 Metres. Deep Pool. No Ladder. No Way Out.

Nice-to-know:
Sutradara Ping Lumpraleng menemukan ide cerita ini saat menemukan kolam kosong sewaktu mencari lokasi untuk debut penyutradaraannya, Kote Rak Aeng Loei (2006).

Cast:
Theeradej Wongpuapan sebagai Day
Ratnamon Ratchiratham sebagai Koy 


Director:
Merupakan feature film keenam bagi Ping Lumpraploeng setelah Pob na pluak (2014).

W For Words:
Jika diminta menyebutkan survival thriller yang melibatkan air dan predator, mungkin mayoritas dari anda akan menyebutkan Open Water (2003) atau yang terbaru 47 Meters Down (2017). Kesamaannya hanya dimainkan satu atau dua karakter yang selalu terlihat di layar, selebihnya adalah binatang buas yang siap mengancam mereka. Film Thailand produksi T Moment ini memang tidak terkecuali. Perbedaannya terletak pada panggung cerita, bukan lautan, bukan juga samudera melainkan kolam renang kosong yang berkedalaman enam meter. Bagaimana bisa?

Art director, Day baru saja menyelesaikan syuting iklan komersial dan memilih bersantai di kolam renang terpencil. Semua kru telah pergi dan instruksi mengosongkan kolam pun sudah keluar. Malangnya Day ketiduran tanpa menyadari air yang mulai surut. Tak lama kekasihnya Koy malah menyusul terjun ke kolam dimana kepalanya sempat terantuk tembok. Keduanya ditambah anjing Lucky yang terikat rantai di atas kolam lantas berupaya bertahan hidup dan mencari jalan keluar selama berhari-hari. Sementara itu buaya betina yang terlepas juga turut mengancam nyawa mereka. 

Dengan limitasi karakter dan setting, tentunya Lumpraploeng harus pandai memaksimalkan apa yang ia punya. Untungnya semua setup yang dipasang bisa dikatakan berhasil dalam menjaga ritme penceritaan. Penonton akan ‘disiksa’ selama 90 menit, meskipun draft awalnya yang konon berdurasi 150 menit, dengan rasa tidak nyaman dan geregetan melihat kesulitan demi kesulitan yang tak henti menghampiri Day. Saat secercah harapan datang, apapun caranya pasti akan pergi lagi, anda hanya perlu bersabar hingga menit terakhir untuk mengetahui nasib pasangan ini.

Karakter Day sendiri digambarkan begitu manusiawi. Ada keputusan yang membuatnya masuk ranah antagonis. Namun kita bisa mengerti alasannya. Apalagi setelah melihat segala bentuk perjuangan tak kenal lelah, mudah rasanya menggalang rasa simpati pada tokoh ini. Sedangkan Koy bisa dikatakan tipikal gadis manja tak berdaya yang mengandalkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, tapi dipaksa tegar juga karena situasi tak terelakkan. Ada dua bintang binatang yang memberi kontribusi signifikan yakni Lucky yang lucu dan buaya yang berbahaya. Kita harus akui kombinasi CGI, mekanik dan live action keduanya cukup meyakinkan di layar.

Sulit untuk tak mengakui penampilan apik Theeradej Wongpuapan yang membawa beban berat di pundaknya dalam one man show kali ini. Sudah satu dekade semenjak kita terakhir menyaksikan akting mempesonanya dalam Bangkok Traffic Love Story (2009) bersama Cris Horwang yang fenomenal itu. Rasa takut, bingung, kalut, frustrasi diterjemahkannya dengan baik lewat ekspresi dan gestur, ditunjang dengan tubuh kekar berotot membuat kita percaya kehidupan keras yang dilakoni pria berusia 40an ini hingga bisa melakukan apa saja demi bertahan hidup.

Tak sia-sia penantian panjang terhadap film yang penayangannya terus ditunda di Indonesia sejak akhir tahun lalu ini. The Pool mungkin dapat dikategorikan sebagai action fantasy drama yang memposisikan manusia melawan monster (literally) dan ketakutan dalam dirinya sendiri akan masa depan yang belum pasti (metaphorically). Seperti kata pepatah milik Napoleon Hill, “Strength and growth come only through continuous effort and struggle.”
This time, Day might be Lucky enough to see another day. And we can always learn to be brave with our own lives as well.

Durasi:
91 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 30 Agustus 2016

TRAIN TO BUSAN : Unstoppable Ride For Zombie Bite

Tagline:
Life-or-death survival begins.

Nice-to-know:

Premiere pada Cannes Film Festival 2016 pada section Midnight Screening.  

Cast:
Gong Yoo sebagai Seok-woo
Kim Su-an sebagai Su-an
Jung Yu-mi sebagai Seong-kyeong
Ma Dong-seok sebagai Sang-hwa
Choi Woo-shik sebagai Young-guk
Ahn So-hee sebagai Jin-hee
Kim Eui-sung sebagai Yong-suk
Choi Gwi-hwa sebagai gelandangan
Jung Suk-yong sebagai Captain of KTX
Ye Soo-jung sebagai In-gil
Park Myung-sin sebagai Jong-gil
Jang Hyuk-jin sebagai Ki-chul
Kim Chang-hwan sebagai Kim Jin-mo

Director:
Merupakan feature live-action perdana bagi Yeon Sang-ho yang sebelumnya menggarap enam animasi.

W For Words:
Selama puluhan tahun, George A. Romero dan John A. Russo telah membagi para pecinta zombie menjadi dua kubu yaitu zombie berjalan dan zombie berlari.  Mana yang lebih disukai dengan berbagai alasan di baliknya biarlah menjadi preferensi anda. Kini zombie apocalypse terbaru versi Yeon Sang-ho yang sempat diputar pada Cannes Film Festival 2016 ini siap menambah panjang daftar film sejenis. Namun bagi penggemar film Asia pada khususnya, hal ini jelas merupakan kabar gembira. It means you might expect to get humanity sides more than anything else. Well, is that so?

Pialang Seok-woo mungkin bukan ayah yang baik bagi Su-an, hingga berniat memberikan kado ulang tahun terbaik yaitu mengantar putrinya tersebut menemui ibunya alias mantan istrinya di Busan dengan menggunakan kereta express KTX. Dalam perjalanan, mereka bertemu pria tangguh Sang-hwa dan istrinya yang tengah mengandung Seong-kyeong, kawanan pemain bisbol yang dipimpin Young-guk dan pemandu sorak Jin-hee yang menyukainya, dua bersaudari lanjut usia, gelandangan serta ratusan penumpang lainnya. Epidemi misterius nan mematikan kemudian menentukan nasib mereka semua.

Nama Yeon Sang-ho memang belum setenar Park Chan-wook, Bong Joon-ho atau Kim Ki-duk. Namun live-action perdananya ini saya yakini akan langsung membawanya ke jajaran sutradara kelas A negeri ginseng. Skenario yang juga ditulisnya ini sepintas terlihat linier, tetapi jika ditelusuri lebih dalam, sesungguhnya Yeon telah menyematkan beberapa twist dan turns yang menjadi kejutan menarik hingga end credits bergulir. Semuanya dirangkai secara piawai lewat pengenalan multi karakter yang begitu berwarna lengkap dengan identitas konflik masing-masing.

Yeon masih setia menggunakan metode bertutur tiga babak secara efektif terlepas dari limitasi durasi yang mengekang. Universe yang ia ciptakan, meski masih menyisakan sebagian pertanyaan mendasar yang tidak pernah terjawab hingga akhir, berhasil menjadi panggung bertahan hidup yang sangat meyakinkan. Kecepatan zombie mengejar manusia berbanding lurus dengan pacing film yang juga konsisten mengantar penonton pada tujuan yang ingin dicapainya. Tim efek khusus pantas diacungi jempol dengan kinerja maksimal yang dipertunjukkannya. 
















Barisan cast sukses mempertahankan pakem dramatisasi yang biasanya melekat pada film-film Korea. Gong Yoo yang bertransformasi sifat usai menghadapi situasi hidup mati didukung oleh si kecil Su-an yang konsisten dengan pemikiran lurusnya. Sementara Dong-seok adalah tipikal hero sejati, kontras dengan Yu-mi yang terlihat tak berdaya. Ada lagi kawula muda yang diwakili Woo-sik atau manula oleh Soo-jung dan Myung-sin. Sedangkan Yong-suk diyakini mampu menganulir keberpihakan penonton dengan sikap dan perangainya.

Train To Busan adalah sebuah perjalanan spektakuler yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton sejak stasiun keberangkatannya. Tidak perlu khawatir akan materi darah dan kekerasan yang tergolong minim di sini. Beberapa perhentian melodrama yang kerap bermuatan kritik sosial akan memberi waktu bagi jantung anda, yang tak disadari kian terpacu, untuk beristirahat sejenak. Karakter manusia memang kompleks. Still it’s better to be alive, right? Now the signal is on. Just get on board into nearest cinema as quick as you can for such memorable experiences!

Durasi:
118 menit

U.S. Box Office:
$1.644.123 till August 2016

Movie-meter:


Selasa, 08 Desember 2015

MIDNIGHT SHOW : Unravel Mystery In Bloody Theatre

Quote:
Johan: Ya meskipun satu penonton tetap harus kita layani.

Nice-to-know:
Sutradara Ginanti Rona sempat diganggu dimana saat take, earphone nya terdengar suara berisik dan tawa wanita padahal semua kru dan pemain sedang tidak bersuara.

Cast:
Gandhi Fernando sebagai Juna
Acha Septriasa sebagai Naya
Ratu Felisha sebagai Sarah
Ganindra Bimo sebagai Tama
Boy Harsya sebagai Ikhsan
Gesata Stella sebagai Lusi
Arthur Tobing sebagai Seno
Ronny P. Tjandra sebagai Johan
Daniel Topan sebagai Allan
Ade Firman Hakim sebagai Guntur
Rangga Djoned sebagai Heru
Citra Prima sebagai Yuli
Rayhand Khan sebagai Bagas Film
Neny Aggraeni sebagai Desi
Yayu Aw Unru sebagai Purno
Zack Lee


Director:
Merupakan feature debut bagi Ginanti Rona Tembang Asri setelah menjadi astrada dalam The Raid: Redemption (2011).

W For Words:
Siapa nyana duet G bertekad menyuguhkan tontonan berdarah-darah bagi penikmat film Indonesia di awal tahun 2016 mendatang? Mereka adalah Gandhi Fernando dan Ginanti Rona Tembang Asri. Satunya adalah pelakon dan juga pionir dari Renee Pictures yang sudah menelurkan tiga film berbeda genre sejauh ini. Sedangkan yang lainnya sudah berpengalaman sebagai astrada bagi famous Indonesian genre directors yaitu Gareth Evans dan The Mo Brothers selain menggarap secara koperatif sebuah film kecil lima tahun silam. Seperti apa hasil kolaborasi produser dan sutradara ini memang layak ditunggu.

Pengusaha bioskop Johan sedang menunggui anak buahnya berjaga untuk pertunjukan midnight, sebuah film baru berjudul “Bocah” yang konon diinspirasi dari kisah nyata. Satpam Allan yang sudah mengantuk, penjaga loket Naya yang harus menggantikan tugas Lusi yang pulang lebih awal karena sakit dan juga projectionist merangkap penjual snack Juna yang usil. Beberapa penonton pun berdatangan mulai dari pasangan Ikhsan dan Sarah, pria tua Seno serta pria misterius Guntur. Mereka tidak menyadari jika ada sosok bertopeng yang tidak menyukai pemutaran film itu sedang mengintai. 

















Husein M. Atmodjo yang menggarap skenario berdasarkan ide cerita Gandhi ini bertekad memberikan pondasi yang kokoh bagi karakter-karakternya sebelum beranjak dengan konflik yang diusung. Simak saja bagaimana flashback mencengangkan sebagai appetizer yang menggugah rasa. Namun usaha Husein memang belum sepenuhnya berhasil karena adanya kekhawatiran membuka ‘kedok’ terlalu dini. Layer demi layer yang tersingkap seiring waktu akan terus memberi petunjuk bagi anda untuk menebak siapa pelaku sesungguhnya di akhir cerita. Tidak sulit bagi mereka yang mengaku slasher fans.

Ginanti sebagai sutradara tampak menguasai betul panggung bermainnya. Sebuah bioskop tua dengan studio lawas, ruang gelap maupun lorong sempit memang terasa sempurna sebagai arena kejar-kejaran yang menegangkan. Tidak lupa segala gimmick autentiknya mulai dari karcis sobek, poster film non digital hingga loket kaca menambah sisi artistik sekaligus menunjukkan kecintaan pembuatnya terhadap sinema sejak usia dini. Sinematografi dengan low key lighting dari Joel F. Zola sukses menghadirkan suasana mencekam di sepanjang film.














Menarik melihat Acha mengambil peran yang berbeda dari biasanya karena Naya adalah sosok heroine yang jelas akan anda pedulikan nasibnya di sepanjang film. Gandhi memberikan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya lewat karakter Juna yang usil tapi tak kenal takut. Kembalinya Ratu Felisha ke layar lebar lewat genre horor thriller pantas diapresiasi sebagai Sarah yang annoying. Sederetan aktor aktris muda yang turut mendukung sukses menghadirkan ‘distraksi’ yang dibutuhkan. Kemunculan sekilas tak lantas mengurangi nilai akting Ronny dan Gesata yang kian matang.

Terlepas dari pace yang sedikit naik turun dan juga flashback yang agak overexposed pada third act nya, Midnight Show merupakan slasher psikologis dengan kajian character study yang pantas diapresiasi karena tidak banyak filmmaker yang mau bersusah-payah melakukan effort serupa untuk genre sejenis. Sebuah film bisa dikatakan berhasil jika mampu melayangkan imajinasi penonton untuk sejenak membayangkan ada dalam situasi yang tengah dialami para tokohnya. If that’s the case then i’d be anywhere else but Podium theatre. Who’s the killer? It’s your task to uncover the mask.

Durasi:
100 menit

Movie-meter:

Rabu, 05 Agustus 2015

DRISHYAM : When Right Versus Wrong Couldn’t Get Any Better


Tagline:
Visuals can be deceptive.

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film Malayalam terlaris sepanjang masa berjudul sama.

Cast:
Ajay Devgn sebagai Vijay Salgaocar
Tabu sebagai Meera Deshmukh
Kamlesh Sawant sebagai Gaitonde
Shriya Saran sebagai Nandhani Vijay Salgaonkar
Rajat Kapoor sebagai Mahesh Deshmukh
Ishita Dutta sebagai Anju
Mrinal Jadhav sebagai Anu
Rishab Chaddha sebagai Sameer Deshmukh

Director:
Merupakan feature film keenam bagi Nishikant Kamat setelah Lai Bhaari (2014).

W For Words:
Jeethu Joseph adalah tokoh di balik suksesnya film Malayalam berjudul Drishyam (2013) yang kemudian dibuat ulang dalam versi Tamil berjudul Papanasam (Destruction of sins) dua tahun kemudian dimana Kamal Haasan dan Gauthami berupaya mengikuti jejak Mohanlal dan Meena. Pada waktu bersamaan, Nishikant Kamat mengerjakan remake yang persis sama dengan harapan melampaui pencapaian box-office sekaligus jumlah penonton. Tentu saja mengandalkan nama besar Ajay Devgn dan Tabu yang sedianya lebih dikenal luas baik regional maupun internasional.

Pengusaha jaringan teve kabel di desa terpencil Goa yang juga yatim piatu dan berpendidikan rendah, Vijay memiliki kecintaan tinggi terhadap film. Ia hidup bahagia bersama istrinya Nandhini dan kedua putri mereka Anju dan Anu. Saat remaja Sam yang juga putra dari Inspektur berdarah dingin Meera Deshmukh menghilang, keluarga Salgaonkar menjadi tersangka hingga harus menjalani proses interogasi panjang di bawah pengawasan polisi korup Gaitonde. Mampukah Vijay melindungi orang-orang tercintanya dari penguasa kejam? 














Skenario yang digagas oleh Upendra Sidhaye sedianya hanyalah pemendekan durasi dari versi originalnya. Pengenalan terhadap keluarga Salgaonkar dilakukan secara lebih cepat. Keyakinan penonton diarahkan untuk memihak kepada mereka apapun yang terjadi sehingga beberapa logika yang mengganggu tidak akan terlalu dihiraukan. Secara kontradiktif, pihak kepolisian dibuat demikian negatif di sini. Layer demi layer misteri yang terbuka harus diakui menarik untuk disimak walau harus menempatkan kebenaran di atas kesalahan sekalipun.

Devgn mungkin salah satu weakest link. Superioritas dirinya sebagai seorang superstar jelas mempengaruhinya untuk dapat sepenuhnya masuk ke dalam karakter Vijay yang membumi dan putus asa. Namun kita bisa melihat upaya maksimalnya. Saran sebagai istrinya hanya terlihat lebih tua beberapa tahun dari Dutta yang menjadi putrinya. Miscast? Sedangkan Sawant jelas paling berhasil memancing emosi penonton lewat sikap buruk dan ignorant Gaitonde. Tabu juga menunjukkan penampilan gemilang melalui tokoh Meera yang multi-layer tersebut, tegas dan rapuh secara bersamaan. 














Sutradara Kamat memang sedikit kedodoran di paruh pertama film yang berjalan cukup lambat tanpa penekanan titik petunjuk yang berarti.  Paska interval barulah pace nya meningkat dimana karakter-karakter kunci mulai memegang teguh pada posisinya masing-masing. Setidaknya elemen penting dalam sebuah thriller adalah how mystery unfolds. Bagaimana kenyataan yang sesungguhnya mungkin tidak seperti apa yang terlihat. Twist dan turns yang silih berganti hadir akan menantang anda untuk terus menebak hingga akhir.

Lupakan sejenak Kahaani atau Talaash yang memuncaki daftar film favorit anda di tahun 2012 silam, Drishyam adalah drama suspense thriller yang bisa dikatakan berhasil bagi mereka yang belum pernah menonton versi aslinya. Sebuah adaptasi bebas dari kisah nyata seorang pria biasa dengan tekad dan keberanian luar biasa meskipun menghadapi dilema besar. Is it worth suffering for in the end? I believe yes. A gripping story that will keep you on the edge of your seat. Just watch the proceedings till the final scene blows us off!

Durasi:
163 menit

Movie-meter:

Sabtu, 16 November 2013

KILLER TOON : Promising But Overstretched Final Act

Original title:
Deo Web-toon: Ye-go Sal-in

Nice-to-know:
Film horor Korea Selatan pertama yang menjual lebih dari satu juta tiket semenjak Death Bell (2008).

Cast:
Lee Si-young sebagai Ji-yoon
Uhm
Ki-joon sebagai Lee Gi-cheol
Kim
Hyeon-woo sebagai Yeong-soo
Moon Ga-young
Kwon
Hae-hyo
Oh
Kwang-rok


Director:
Merupakan film keempat bagi Kim Yong-gyun setelah The Sword with No Name (2009).

W For Words:
Gambar fiktif yang kemudian menjadi kenyataan. Rasanya baru beberapa bulan lalu, Korea menyuguhkan The Gifted Hands alias Psychometry yang dibintangi oleh Kim Kang-woo dan Kim Beom. Kini hadir persembahan Filma Pictures dan CJ Entertainment dengan aktris Lee Si-young dan Moon Ga-young. Yang satu mengambil obyek grafitti sedangkan yang lain komik. Perbedaannya mungkin hanya pada penekanan hubungan interpersonalnya saja, cowok dengan cowok, cewek dengan cewek.  Tentu menghasilkan sudut pandang yang juga berbeda. Curious?
Komikus wanita Ji-yoon tengah menikmati kesuksesannya dengan menandatangani kontrak baru bernilai tinggi. Satu kasus pembunuhan misterius yang disinyalir meniru apa yang terjadi pada komiknya membuat Ji-yoon lantas menjadi tersangka utama. Detektif Ki-cheol dan asistennya Yeong-soo segera melakukan interogasi tapi tidak ditemukan bukti yang cukup kuat. Seiring penyelidikan berjalan, masa lalu Ji-yoon pun terkuak dimana perjuangannya untuk mencapai status seperti sekarang tidaklah mudah. Sementara itu korban lain mulai berjatuhan.
Penulis skrip sekaligus produser film, Lee Sang-hak sesungguhnya sudah memulai dengan baik apalagi opening act nya lumayan menggebrak dimana sederetan gambar horor mampu meneror pikiran penonton. Namun memasuki paruh kedua, Lee mulai memainkan trik lawas yaitu balas dendam dan perasaan bersalah ketika rahasia gelap mulai terbongkar. Belum lagi dramatisasi ‘kekeluargaan’ yang biasanya menjadi identitas film Korea. Kian diperburuk dengan twist after twist after twist yang terlalu dipaksakan menjelang endingnya, seakan memaksa penonton merasa tertipu mentah-mentah.
 
Sutradara Yong Kyun tampak menguasai trik ‘horor’ secara maksimal. Timing dan atmosfir yang dibangun berhasil mencekam penonton di beberapa bagian. Sedangkan sisi gore dan violence nya disuguhkan dengan efektif tanpa melulu terkesan eksplisit. Setting gothic dengan pemilihan tone warna yang variatif semakin ciamik dengan pemanfaatan lighting yang tepat. Elemen terpenting yang juga gemilang ditanganinya adalah tampilan sekuens komik yang bisa jadi membuat bulu kuduk anda berdiri. Visualisasi film secara keseluruhan mampu menutupi segala kekurangan yang ada.
Si-young yang filmografinya didominasi genre drama romantis kali ini menjadi nyawa film dimana terjadi pergeseran karakteristik tokoh Ji-yoon yang cukup signifikan. Ki-joon, Hyeon-woo, Ga-young juga tidak mengecewakan meskipun harus menjalani penokohan nan klise. Killer Toon yang sempat merajai box-office Korea tahun ini mungkin bisa dimaafkan atas ketidakmaksimalannya dalam upaya menyajikan horor thriller modern yang fresh dan mindbending. Blame the overstretched final act with unimportant conclusion. Well, at least they try. It’s still above average for such Asian’s similar genres.

Durasi:
104 menit

Asian Box Office:
₩7.79 billion in Korea

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 09 Oktober 2013

PRISONERS : Lock You Up In Moral Ambiguity


Quote:
Keller Dover: Pray for the best, but prepare for the worst.

Nice-to-know:
Kartu nama Detektif Loki menunjukkan nama lengkapnya sebagai David Wayne Loki.

Cast:
Hugh Jackman sebagai Keller Dover
Jake Gyllenhaal sebagai Detective Loki
Viola Davis sebagai Nancy Birch
Maria Bello sebagai Grace Dover
Terrence Howard sebagai Franklin Birch
Melissa Leo sebagai Holly Jones
Paul Dano sebagai Alex Jones
Dylan Minnette sebagai Ralph Dover


Director:
Merupakan f
ilm ke-11 bagi Denis Villeneuve setelah feature terakhirnya Incendies (2010).

W For Words:
Premis penculikan anak yang kemudian menyulut sang ayah untuk bertindak sendiri rasanya sudah ratusan kali dieksekusi.  Lupakan sejenak dwilogi Taken (2008 & 2012) atau Stolen (2012) yang bertempo cepat dengan serentetan aksi superior sang protagonis di dalamnya. Kali ini Alcon Entertainment, 8:38 Productions dan Madhouse Entertainment punya cara berbeda. Itulah yang menjadi alasan utama anda untuk tidak melewatkannya selain faktor aktor-aktris berkualitas yang mengisi deretan cast nya. Jangan pula gentar melihat durasinya yang tidak biasa untuk ukuran sebuah produksi Hollywood.

Keluarga Dover dan Birch merayakan Thanksgiving bersama sebelum menyadari putri mereka, Anna dan Joy hilang begitu saja. Kecurigaan utama pelaku penculikan yang menggunakan caravan itu jatuh pada Alex Jones, pria terbelakang yang IQ nya diyakini sama dengan anak berusia 10 tahun. Sayangnya Detektif Loki tidak menemukan bukti yang kuat untuk menahan Alex yang memang lolos tes dan investigasi. Tak sabar menunggu kerja kepolisian yang dianggap lamban, ayah Anna yaitu Keller sepakat bertindak sendiri melakukan pencarian sekaligus mengumpulkan bukti-bukti selagi waktu terus berjalan.

Skrip yang ditulis oleh Aaron Guzikowski ini memberi kesempatan seluas-luasnya bagi karakter Keller dan Loki untuk berkembang. Selain itu takaran memadai juga dihantarkan masing-masing tokoh-tokoh di luar keduanya sehingga terjalinlah sebuah circle utuh yang saling bertautan. Nobody would stay for what he seemed. Misteri yang berusaha dijaga rapat dari menit pertama sampai terakhir sesungguhnya telah meninggalkan beberapa petunjuk jika anda cukup jeli mengikutinya. Namun tentunya akan ada banyak distraksi subplot yang bisa menyanggah opini anda. So keep guessing till the very end!

Sutradara Villeneuve secara seimbang membagi unsur drama, aksi, suspense dan thriller sekaligus dengan ketajaman visinya menerjemahkan skrip. Sinematografi yang tampak dingin dan sunyi di hari hujan atau bersalju dari veteran Roger Deakins, besar kemungkinan mengingatkan anda pada No Country For Old Men (2007) milik Coen Brothers, kian memerangkap anda dalam labirin konflik. Scoring musik milik Jóhann Jóhannsson juga terasa pas menyuguhkan atmosfir yang diinginkan. Editing Joel Cox dan Gary Roach tergolong efektif menjaga pace film terlepas dari durasi yang tidak singkat. 

Walau identik dengan peran superhero, kapabilitas Jackman menghidupkan peran dramatik tidak boleh diragukan. Tokoh Keller di tangannya berevolusi sempurna, bukan melulu mengenai baik dan jahat, dari figur ayah simpatik menjadi pria yang tidak segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tak kalah cemerlang Gyllenhaal sebagai Detektif intuitif dengan track record sempurna. Pergolakan batinnya untuk bertindak lebih dari semestinya begitu kentara. Karisma keduanya sama kuatnya ketika harus berbagi screen bagaikan yin dan yang. 

Masih ada lagi Howard sebagai Franklin yang dilematik atau Dano yang innocently distubing sebagai Alex. Terlepas dari kesan film ‘lelaki’ yang kental, mungkin tokoh wanita terkesan kurang diberdayakan. Toh kesemuanya tetap menampilkan performa memikat. Bello yang begitu rapuh sebagai Grace, Davis yang tampak tegar sebagai Nancy, Leo yang terlihat tenang bijaksana. Si kecil Gerasimovich dan Simmons yang menjadi pokok permasalahan mampu mencuri perhatian di bagian pembuka dengan pelesetan lagu Jingle Bells nya yang nyeleneh itu.

Prisoners secara harfiah dapat diartikan sebagai pribadi-pribadi yang terpenjara. Bagaimana sebuah abduction/kidnapping bisa memiliki efek domino yang begitu luas bagi pelaku maupun korbannya sendiri. Tidak ada aksi reaksi yang tidak diharapkan karena semua berjalan pada jalurnya yang amat believable. Terlepas dari minimnya kekerasan yang mungkin diharapkan, scene penyiksaan tetap akan membuat anda bergidik. This dark gritty crime drama thriller really worth your effort, time and money to be wasted inside the theatre especially with those top notch performances to keep everything grounded.

Durasi:
153 menit

Overall:
8.5 out of 10

U.S. Box Office:
$49,029,007 till October 2013

Movie-meter:

Selasa, 08 Oktober 2013

FLU : Dramatically Massive Epidemic Korean Movie

Tagline:
Death goes viral

Nice-to-know:
Film berjudul asli Gamgi ini sudah tayang di Korea Selatan pada tanggal 14 Agustus 2013 yang lalu.

Cast:
Jang Hyuk sebagai Kang Ji-koo
Soo Ae sebagai Kim In-hae

Park Min-ah sebagai Mirre
Cha In-Pyo sebagai Presiden
Yoo Hae-jin sebagai Bae Kyung-ub
Lee Hee-joon sebagai Byung-ki
Lee
Sang-Yeob sebagai Byeong-woo

Jeon Kook-Hwan sebagai Ma Dong-seok

Director:
Merupakan f
eature film keenam bagi Kim Sung-su setelah Please Teach Me English (2003).

W For Words:
Masih membekas dalam ingatan akan wabah virus flu yang mematikan dalam Contagion (2011) atau World War Z (2013). Kini rumah produksi Korea, iLoveCinema dan iFilm Co.membuat versinya dimana hak distribusi dipegang langsung oleh CJ Entertainment. Beruntung publik Indonesia bisa menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex walaupun harus terlambat dua bulan. Sederetan aktor-aktris ternama negeri ginseng dikerahkan untuk menghidupkan suasana chaos. Tak heran jika wajah-wajah familiar akan anda temukan dalam film yang menghabiskan total bujet 9,9 juta won.

Sejumlah imigran gelap diselundupkan ke Bundang dekat Seoul. Virus flu H5N1 menewaskan semua kecuali Monssai yang menyebarkan ke seantero warga sipil di dekatnya akibat melarikan diri dari kakak beradik Byeong-woo dan Byeong-ki. Kontan wabah tersebut meluas hingga memaksa Presiden mengambil tindakan yaitu melakukan evakuasi untuk menghentikan penyebaran. Sementara itu dokter yang juga single mom, In-hae bertekad menyembuhkan anaknya Mirre yang tertular dengan bantuan petugas Tim Penyelamat baik budi, Jigu yang juga menaruh hati padanya.
Layaknya film Korea yang kerap menitikberatkan pada nilai-nilai keluarga, yang satu ini bukan pengecualian. Small units yaitu Jigu dan ibu anak In-hae dan Mirre membawa semangat itu, lengkap dengan melodrama episodiknya di paruh kedua sampai film berakhir. Teori konspirasi dari pihak-pihak berwenang dalam menangani wabah juga turut memperkaya konflik. In the end, it might only be the worst situation that happened in Bundang, small city with approx half million population. Namun nyatanya tetap mampu memberikan efek global yang dibutuhkan tanpa terkesan ambisius.

Sutradara Kim melakukan intertwining setiap porsi subplot nya dengan baik sehingga tidak kehilangan fokus. Terima kasih pada kerapian editing Nam Na-young dan kecermatan DOP Lee Mo-gae mengambil suasana kericuhan publik baik steady maupun handheld. Belum lagi kemegahan scoring music yang terbilang efektif menjaga tempo film yang berjalan lebih dari dua jam. Efek virus flu yang mengerikan mulai dari ruam kulit, batuk parah, semburan darah juga sukses membangun paranoia penonton, terlebih ancaman kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup kita.

Jang Hyuk yang biasanya bermain komedik kali ini mengusung jiwa patriotik yang meski terkesan berlebihan langsung membuat penonton berpihak padanya. Sebaliknya Su Ae yang insecure dan memegang kode etik kedokteran justru dihadapkan pada situasi yang menuntutnya berubah drastis. Si kecil Min-ha menampilkan akting lugu menggemaskan nan memikat dengan spontanitas dan high curiosity nya. Aksi heroik penuh wibawa dilakoni In-pyo sebagai Presiden yang mendapat tekanan internal, militer sekaligus pihak asing yang mulai mencampuri otoritasnya.

Flu adalah disaster movie dengan intensitas tinggi. Tak jarang esensi konfliknya begitu menekan anda hingga ke ulu hati termasuk perpanjangan klimaks menjelang ending. Atmosfirnya yang depresif juga secara konstan menyetir anda untuk bisa merasakan bagaimana jika berada dalam kondisi demikian. Berbagai informasi teknis dari segi medik ataupun sosial politik yang seharusnya kuat mendukung memang sedikit terabaikan. Toh semua itu tak menghalangi keberhasilan filmmaker Kim dalam menyuguhkan mass hysteria cause by epidemic. This horrible but logically expected under those circumstances sci-fi thriller will stuck in your mind for a while.

Durasi:
121 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 06 Oktober 2013

GRAVITY : Spectacular Space Survival Ride


Tagline:
Don't Let Go

Nice-to-know:
Penggarapan Gravity sempat terombang-ambing selama empat tahun karena perfeksionisme Cuarón yang menginginkan inovasi teknologi yang lebih tinggi lagi.

Cast:
Sandra Bullock sebagai Ryan Stone
George Clooney sebagai Matt Kowalski
Ed Harris sebagai Mission Control
Orto Ignatiussen sebagai Aningaaq
Paul Sharma sebagai Shariff
Amy Warren sebagai Explorer Captain


Director:
Merupakan f
ilm ke-16 bagi Alfonso Cuarón setelah feature terakhirnya Children of Men (2006).

W For Words:
Ayo tunjuk tangan siapa di antara anda yang waktu kecil sempat bercita-cita menjadi astronot ketika ditanya guru? Setelah dewasa mungkin sebagian besar diantaranya sudah mengurungkan niat tetapi masih berpikiran bahwa profesi astronot itu keren. Namun semua opini tersebut dijamin akan berubah seratus delapan puluh derajat selepas menyaksikan persembahan terbaru Warner Bros., Esperanto Filmoj dan Heyday Films ini. Tidak percaya? Buktikan saja. Saya rekomendasikan versi 3D, IMAX 3D atau bahkan 4DX untuk pengalaman sinematik yang lebih nyata. Worth the higher admission price!

Ahli medis Dr. Ryan Stone menjalani misi luar angkasa pertamanya bersama astronot kawakan Matt Kowalski yang berniat pensiun segera. Tugas yang semula tampak tenang dan sederhana itu berubah menjadi bencana ketika serpihan satelit Rusia menerjang stasiun mereka hingga hancur berantakan. Beruntung Matt sempat ‘mengikat’ Ryan sebelum terombang-ambing dalam kepanikan dimana cadangan oksigen nya kian menipis. Komunikasi dengan Houston yang terputus ditambah perjalanan jauh menuju statsiun terdekat membuat harapan hidup keduanya menjadi minim. 

Skrip yang dikerjakan oleh ayah dan anak Cuarón, Alfonso dan Jonás ini sepintas memang terkesan ‘ringan’ tanpa subplot. Murni interaksi antara kedua karakter utama yang berlawanan jenis tanpa tendensi seksual eksplisit dari awal sampai akhir. Demi menjaga tensi film maka dimaksimalkan berbagai macam elemen sebagai penguat cerita seperti persediaan oksigen yang hampir habis, kesigapan bergerak di hampa udara, kemampuan mengoperasikan mesin hingga keinginan kuat untuk bertahan hidup dalam rentang waktu yang demikian terbatas. 

Sebagai filmmaker handal, Alfonso jelas tahu betul bagaimana memvisualisasikan konsep yang ada di kepalanya. Setting stasiun dan kapal luar angkasa dibangun sedetail mungkin melampaui berbagai referensi yang sudah ada dari film sejenis. Pergerakan kamera yang smooth dari berbagai angle kinerja Emmanuel Lubezki juga sangat memikat. Bukan hanya mata, indera pendengaran anda pun dimanjakan dengan sound design yang apik mulai dari yang silent sampai menggelegar sekalipun. Sumbangsih scoring music nan grande dari composer Steven Price juga tak main-main. 

Besar kemungkinan Bullock akan dinominasikan kembali sebagai aktris terbaik di banyak ajang penghargaan film internasional tahun depan melalui performa primanya sebagai Stone. Lihat ekspresi wajah dan dengar intonasi suara saat ketakutan melanda tanpa harus menghilangkan sosok ilmuwan cerdas dan berkemauan keras. Tokoh Kowalski bisa jadi mengingatkan anda pada Chris Kelvin dalam Solaris (2002) yang sama-sama dimainkan Clooney. Gaya perayu flamboyan paruh baya yang dibawakannya di sini tergolong sah saja demi membangkitkan suasana rileks barang sejenak. Ada yang mengenali suara Harris sebagai Mission Control?

Tak dipungkiri, Gravity adalah obsesi tingkat tinggi sekaligus puncak prestasi seorang Cuarón sejauh ini. Sebuah tontonan sempurna yang mampu menstimulasi multi indera penonton secara efektif dari awal sampai akhir. Audiences will be emotionally challenged. Sebuah pengalaman sinematik kaya perspektif yang akan bertahan lama di dalam memori anda selepas meninggalkan bangku bioskop. Most of us could never imagined what it feels like being up there hopeless with fears around. That would be the key for success to gain cult status among survival thriller in years to come.

Durasi:
90 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 16 Agustus 2013

THE CALL : Pick Up Its Thrill Over The Line

Quote:
Jordan Turner: And don't make promises... cause you know you can't keep'em.

Nice-to-know:
Awalnya Halle Berry dicasting saat Joel Schumacher duduk di kursi sutradara. Lalu Schumacher keluar dan digantikan oleh Brad Anderson. Berry sempat keluar juga karena jadwal yang tidak cocok sebelum kembali mengisi peran utama.

Cast:
Halle Berry sebagai Jordan Turner
Abigail Breslin sebagai Casey Welson
Morris Chestnut sebagai Officer Paul Phillips
Michael Eklund sebagai Michael Foster
David Otunga sebagai Officer Jake Devans
Michael Imperioli sebagai Alan Denado
Justina Machado sebagai Rachel

Director:
Merupakan film kesembilan bagi Brad Anderson yang lebih berpengalaman di serial televisi.

W For Words:
Rasanya baru beberapa waktu lalu bioskop tanah air disuguhi drama supernatural Inggris/Puerto Rico, The Caller (2011) dengan topik serupa yaitu telepon sebagai media penebar teror. Kali ini kolaborasi Troika Pictures, WWE Studios, Emergency Films,Apotheosis Media Group dan Amasia Entertainment mengandalkan nama besar peraih Oscar, Halle Berry dan bintang muda yang kian diperhitungkan di kancah Hollywood yaitu Abigail Breslin lewat premis emergency call 911 yang seringkali menjadi alternatif utama apabila menghadapi keadaan bahaya.

Operator 911 berpengalaman, Jordan Turner membuat satu kesalahan fatal dalam bertugas yang menyebabkan Leah Templeton tewas. Rasa bersalah membuatnya alih tugas sebagai tenaga pengajar bagi para calon operator. Namun saat remaja Casey Welson disergap seorang pria misterius dan meneleponnya untuk meminta tolong, Jordan harus mengerahkan segenap kemampuannya  sebelum korban gadis belia kembali jatuh.Misi yang tidak mudah karena mobil yang membawa Casey terus berjalan, meninggalkan jejak minim kepada petugas polisi yang segera melakukan penyisiran jalan.

Penulis skrip Richard D'Ovidio, Nicole D'Ovidio dan Jon Bokenkampsejak menit pertama sudah memperkenalkan sosok heroine dan antagonisnya secara gamblang meski lewat gelombang suara saja. Bisa diduga jika keduanya pada akhirnya harus berhadapan langsung melalui perantara sang korban tentunya. Klise? Ya jika anda memiliki banyak referensi thriller. Namun serentetanproses aksi reaksi dari berbagai tokoh pendukung mampu mengedepankan trik logis dalam upayanya memperlebar konflik cerita tanpa terkesan tarik ulur selama lebih kurang satu setengah jam durasinya. 

Sutradara Anderson juga terampil menjaga tensi film terlepas dari keterbatasan aspek. Sekuens nya terbilang rapi dimana penonton seakan ditempatkan sebagai pengamat langsung. Proyeksi topografi tak jarang dilakukan untuk menegaskan posisi korban berada yang terlacak oleh GPS. Bagian ending memang terasa sedikit kedodoran karena penekanan thriller psikologis dengan sedikit penjelasan, meninggalkan penonton dengan asumsinya masing-masing. Namun untungnya bagi saya adegan akhirnya cukup memorable dengan menghindari klise sejenis.
Berry tampil solid dalam menerjemahkan sisi emosional yang rentan bagi karakteristik profesinya. Sorot mata, intonasi suara dan bahasa tubuhnya sudah cukup banyak memberi informasi. Breslin terbilang hanya mengandalkan kepanikan seorang korban yang sulit menerka kelanjutan nasibnya sehingga mengindahkan pengendalian diri ataupun kekuatan intelektualitas yang dimilikinya. Eklund bermain cemerlang sebagai villain psikopat dengan awkward gesture dan unpredictable act nya, amat menonjol menjelang akhir film. Berbagai supporting seperti Chestnut, Imperioli, Dowse, Maffia tak mengecewakan.

The Call memang bukan film kelas A dengan keabsenan biaya produksi tinggi ataupun dukungan teknis memadai. Namun tidak menghalanginya menjadi sebuah tontonan pemicu ketegangan layaknya jantung yang terus berdenyut di sepanjang durasinya. Thanks to filmmaker and its cast who have made it possible. Suguhan ketakutan mencekam dan kekerasan berdarah di beberapa bagian layaknya icing on the cake justru membuat penonton tercekat dan terpekik sekaligus kian memihak pada protagonis untuk menuntaskan misi hidup matinya. Are you ready to pick up the call?

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$51,872,378till Jun 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 04 Mei 2013

THE GIFTED HANDS : Gripping Thriller About Souls to Save and Hearts to Keep

Tagline:
Hands that reveal the past.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Psycho-metry ini sudah rilis tanggal 7 Maret 2013 lalu di Korea Selatan.

Cast:
Kim Beom
sebagai Kim Joon
Kim Kang-woo sebagai Detektif Yang Choon-dong
Esom sebagai Kim Seung-gi
Lee Joon-Hyuk sebagai Yang-Soo
Kim Yu-Bin sebagai Da-hee

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Kwon Ho-Jung.

W For Words:
Kita harus mengakui jika Korea Selatan merupakan produsen thriller terbaik di Asia saat ini semenjak era tahun 2000 mulai merambah pasar Indonesia. (Terima kasih pada berbagai seri melodrama yang efektif menguras air mata) Sebut saja judul-judul seperti Tell Me Something (1999), Oldboy (2003), I Saw The Devil (2010) silih berganti menjadi rekomendasi jika sedang ditanya. Kini suguhan terbaru negeri ginseng tersebut kembali menyapa penikmat film di Indonesia melalui distributor langganan CJ Entertainment yang masih menggandeng jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Detektif Yang Chun-dong tengah menyelidiki kasus menghilangnya gadis cilik yang kemudian ditemukan tewas terkubur. Satu-satunya petunjuk yang tertinggal adalah gambar grafiti dari seniman jalanan Kim Joon yang selalu mengenakan jaket hitam untuk menutupi fisiknya yang pucat lemah. Saat Da-hee yang pernah ditemuinya di jalan diculik, Chun-dong harus berpacu dengan waktu untuk menemukan pelaku. Kim Joon yang ternyata mampu membaca masa lalu seseorang lewat sentuhan tangannya setuju untuk membantu walau harus menyakiti dirinya sendiri.

Skrip yang ditulis oleh Ho-Jung ini memang tidak terlalu ‘gelap’. Bagaimana tidak? Introduksi terhadap Detektif Chun-dong yang sembrono dilakukan secara komikal. Lihat bagaimana ia berbicara dengan mulut penuh makanan, bertengkar dengan warga yang menjalani kerja sosial hingga dipukuli atasannya dengan dokumen. Bagi sebagian orang, hal ini terkesan mengurangi superioritasnya. Namun bagi saya justru terlihat manusiawi, ia tidak sempurna. Kim Kang-woo menokohkannya dengan baik, mengundang keberpihakan yang jelas dalam diri penonton.

Kim Beom yang berpenampilan ‘manis’ itu terasa melekat dalam karakter Kim Joon yang berkemampuan khusus. Tutur katanya yang halus, bahasa tubuhnya yang gemulai cukup menjelaskan perlakuan apa yang kira-kira diterimanya dari orang-orang di sekitarnya. Sayangnya masih banyak hal yang tak terjawab mengenainya bahkan sampai durasi berakhir. Setidaknya chemistry “bromance” antara Kim Joon dan Chun-dong terjalin erat. Pada satu titik, penonton dibuat percaya bahwa keduanya akan dapat saling mengisi kekosongan yang ditinggalkan keluarga masing-masing.

Sebagai sutradara Ho-Jung masih memanfaatkan beberapa elemen klise yang biasa ditemui yaitu basement gelap, lorong sepi, bangunan terbengkalai, ruang terisolasi dll. Setting lokasi yang digunakan cukup variatif untuk menonjolkan paranoia tersendiri. Yang juga menarik adalah pengadeganan masa silam lewat potongan-potongan flashback yang dikerjakan dengan serius. Suspensinya terbangun sempurna semenjak melewati pertengahan hingga akhir film sehingga klimaksnya dapat tercapai. Tak jarang penonton akan memekik gemas dibuatnya.

The Gifted Hands memang belum beranjak dari fakta bahwa anak-anak, perempuan pada khususnya, masih menjadi sasaran utama tindak kekerasan dan obyek seksual para pelaku yang umumnya menderita gangguan mental walau terlihat normal dari luar. Protagonis yang diset sedemikian rupa dalam wujud anggota kepolisian lengkap dengan trauma masa kecilnya saja sudah merupakan polemik tersendiri. Secara keseluruhan bukan thriller mumpuni tapi sudah lebih dari cukup dalam menghibur. It’s all about souls to save and hearts to keep. Memories do fading away.

Durasi:
1
07 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter: