XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label adipati dolken. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adipati dolken. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

SANG MARTIR : Pesan Moral Terhimpit Berat Muatan


Quotes: 
Rangga: Gua ga ngebunuh, gua ngebela diri.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Adipati Dolken sebagai Rangga
Nadine Alexandra sebagai Cinta
Tio Pakusadewo sebagai Rambo
Ray Sahetapy sebagai Jerry
Henidar Amroe sebagai Hj Rosna
Tity Qadarsih sebagai Mama Jerry
Jamal Mirdad sebagai H Rachman
Astri Nurdin sebagai Istri Jerry
Widy 'Vierra' sebagai Lili

Director: 
Merupakan kali keempat, Helfi Ch Kardit menyutradarai film yang ditulisnya sendiri setelah terakhir Mengaku Rasul : Sesat (2008).

W For Words: 
MARTIR berarti SAKSI yang berasal dari bahasa Yunani, μαρτυρ. Umumnya digunakan dalam konteks yang berhubungan langsung dengan umat Kristiani. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan pemakaian kata ini untuk sebuah judul film lokal. Namun seorang Helfi melakukannya dengan satu benang merah yaitu kesaksian yang berujung pada pengorbanan. Premis yang mungkin mengingatkan anda pada Tanda Tanya (2011) milik Hanung Bramantyo dari buah pemikiran Titien Wattimena. Interpretasi berbeda tentunya bisa memperkaya khasanah pemahaman itu sendiri.

Rangga besar di sebuah panti asuhan milik Haji Rachman dan istrinya Hajjah Rosna. Kasus pemerkosaan yang menimpa anak panti bernama Lili membuat Rangga terbakar emosi dan membunuh sang pelaku yang merupakan adik Rambo, kepala preman yang berkuasa. Hukuman 3 tahun penjara dijalani Rangga di bawah lindungan Pendeta Josep. Sekeluarnya dari sana, Rangga menjadi incaran anak buah Rambo yang ingin membunuhnya. Kepala geng preman lain, Jerry yang juga musuh bebuyutan Rambo memberi perlindungan pada Rangga dengan agenda tersembunyi di belakangnya.

Selama lebih dari satu setengah jam durasinya, Helfi sibuk menjejali pikiran penonton dengan isu-isu politik, ekonomi hingga sosial budaya yang tak jarang menyentuh S.A.R.A. Semua headline yang biasa anda temui di surat kabar muncul di sini, sebut saja penyelundupan narkoba, kasus korupsi, perebutan wilayah kekuasaan, tindakan nepotisme, kesenjangan sosial, perbudakan anak yang dijadikan pengemis di atas dua plot besar yang bergulir yaitu pertikaian antar geng (Rambo dan Jerry) serta percintaan berbeda agama (Rangga dan Cinta).

Penyutradaraan Helfi sendiri berjalan pada rel yang benar. Saya menghargai upayanya untuk mencoba sesuatu yang lain di luar genre komedi/horor belakangan ini. Narasinya terbilang berjalan mulus dengan pembagian frame yang cukup rapat di antara subplotnya. Panggung demi panggung pun disiapkan untuk menjadi “lahan bermain” para karakternya. Sayang begitu banyak yang masuk ke layar rupanya tak diimbangi dengan karakteristik yang mendalam. Padahal aspek ini amatlah dibutuhkan penonton untuk benar-benar terintrusi dengan jalinan konflik yang ada. Hasilnya?  Datar tanpa impresi.

Adipati membawakan peran Rangga dengan misi besar. Bagaimana rentang waktu panjang yang dialami sedikit banyak membentuk karakternya sedemikian rupa. Ia cukup berhasil tapi belum maksimal. Menarik menyaksikan Tio dan Ray ada di pihak yang berseberangan dengan segala karakter “jadi”, dua orang yang hidup untuk mengambil resiko demi menjalankan apa yang mereka yakini terlepas dari unsur benar atau tidaknya. Minimnya porsi Nadine sebagai Cinta sangat disayangkan mengingat relativitas hubungannya dengan Rangga seharusnya bisa digali lebih. Masih banyak nama-nama berbakat lain yang tidak cukup mendapat kesempatan.

Sang Martir patut dipuji karena masih mampu menyampaikan misi dan aspirasinya yang mulia yaitu meluruskan pandangan umat beragama untuk bertindak dan bertingkah laku sebagaimana mestinya serta menegaskan konsekuensi pilihan hidup yang diambil seseorang. Kekerasan dalam film ini tergolong cukup dominan walaupun sebetulnya tidak perlu secara eksplisit. Andaikata Helfi mau mempersempit “ruang lingkup” bahasannya, kemungkinan fokus cerita akan lebih maksimal dengan pengantaran pesan moral yang lebih efektif. Sayang beribu sayang memang.

Durasi: 
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 03 Oktober 2012

PERAHU KERTAS PART 2 : Berlabuh Tambatkan Hati dan Perasaan


Quotes: 
Remi: Cari orang yang bisa kasih kamu segala-galanya tanpa kamu harus minta.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 1 Oktober 2012.

Cast: 
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director: 
Hanung Bramantyo mengawali karir penyutradaraannya lewat dua film di tahun 2004 yaitu Brownies dan Catatan Akhir Sekolah.

W For Words: 
Jika Perahu Kertas Part 1 sudah berlayar menghanyutkan mimpi dan cinta dengan hasil lebih dari lima ratus ribu penonton selama periode penayangan libur Lebaran 2012 yang lalu maka kelanjutannya tentu layak ditunggu. Akankah Kugy dan Keenan dapat bersatu pada akhirnya? Itulah yang menjadi pertanyaan anda semua. Presentasi yang menyisakan seperempat novelnya akan berusaha dijawab oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo dan empunya cerita, Dewi Lestari dalam film berdurasi lebih kurang 105 menit ini. Penasaran?

Ketika Keenan mengembalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy, timbul ide mereka untuk menerbitkan cerita anak yang selama ini diidam-idamkan. Kesibukan itu mengganggu pekerjaan Kugy di AdVocaDo sehingga banyak karyawan menyorot hubungannya dengan Remi. Liburan ke Bali yang dimanfaatkan untuk refreshing malah mempertemukan Kugy dengan Luhde di pura.Saat itulah semua rahasia terbongkar. Keenan berupaya menetapkan hatinya, demikian pula dengan Remi berusaha membuktikan keseriusan cintanya. Mungkinkah empat hati tersebut menemukan pasangan sejatinya?

Karakteristik yang sudah terbangun di bagian pertamanya membuat Hanung lebih leluasa untuk mengeksplorasi ruang perasaan empat tokoh utama disini. Memori masa lampau yang terus membekas di hati tak ayal menimbulkan keraguan untuk melangkah ke depan. Lihat bagaimana sulitnya Keenan meyakinkan Luhde bahwa ia tak perlu menjadi orang lain untuk dicintainya, atau susahnya Remi memastikan Kugy bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk dipilihnya. Tarik ulur konflik tersebut bergulir secara bergantian untuk memberikan sudut pandang terbaik dalam takaran seimbang.

Dialog merupakan kekuatan utama di bagian keduanya ini. Lontaran isi hati acapkali menusuk kalbu karena kejujuran yang mengiringi. Sayangnya momen-momen yang sudah dikondisikan untuk itu terkadang dirusak oleh perpindahan fokus yang kurang berarti. Tak jarang penonton malah tertawa saat seharusnya dituntut meresapi maknanya dalam-dalam. Tata musik dari Andhika Triyadi masih memberikan nuansa menggetarkan yang sama, berpadu cantik dengan tata kamera dari Faozan Rizal dan penyuntingan mulus dari Cesa David Luckmansyah.

Maudy, Adipati, Reza, Elyzia berhasil melalui transisi remaja di bagian pertama untuk melebur ke dalam fase dewasa muda disini. Kedewasaan Kugy, Keenan, Remi dan Luhde kian terasa tatkala dihadapkan pada problema cinta. Mereka tidak memilih untuk galau atau menangis tetapi bersikap tegar dan terus melangkah dengan pilihannya masing-masing. Intervensi kisah dari tokoh Wayan, Lena dan Adri di penghujung justru semakin memperkaya pemahaman bahwa setiap keputusan harus didasari pada konsekuensi dan tanggungjawab kelak. 

Perahu Kertas Part 2 ini memang lebih sederhana dibandingkan Part 1 nya. Fokus yang lebih sempit membuat ruang gerak menjadi lebih terkendali. Hanya saja tarik ulur yang terlalu detail mengenai arah hubungan Kugy dan Keenan bagi sebagian penonton bisa jadi bertele-tele dan membosankan. Penutupnya pun berlangsung sekejap tanpa kesan mendalam, layaknya kita menjentikkan jari tangan. Sebuah umpama tafsir perasaan yang mengikuti kata hati dan tidak, semua kembali lagi pada pribadi yang menjalaninya. Pelabuhan terakhir jelas tujuan agen Neptunus yang satu ini, dengan atau tanpa radar.

Durasi: 
105 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 12 Juli 2012

18++ : Esai Cinta dan Ujian Identitas Nayato


Quotes:
Scarlet : Loe boleh bikin gua patah hati tapi loe gak usah kasihani gua.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 10 Juli 2012.

Cast:
Adipati Dolken sebagai Kara
Kimberly Ryder sebagai Mila
Gege Elisa sebagai Scarlet
Roy Marten sebagai Opa Kara
Keke Soeryo Renaldi sebagai Ibu Mila
Maxime sebagai Pascal
Jordi Onsu sebagai Ruben
Rozi Mahally sebagai Martin
Reska Tania sebagai Sasi

Director:
Merupakan film ketujuh di tahun 2012 bagi Nayato Fio Nuala.

W For Words:
Masih ingat film 18+ : True Love Never Dies yang kontroversial dengan dialog vulgarnya itu yang tak perlu saya sebutkan lagi? Hasil box office yang dianggap cukup baik membuat rumah produksi PT. Kharisma Starvision Plus berinisiatif memproduksi sekuelnya masih dari tangan dingin seorang Nayato Fio Nuala. Satu-satunya cast yang kembali disini adalah Adipati Dolken (sudah jauh lebih ternama sekarang), bukan dengan karakter Topan yang telah menemui ajalnya di penghujung prekuel tersebut tetapi Kara yang harus menerima perubahan status sosialnya.

Ulang tahun ke-18 dihabiskan Kara dengan hura-hura bersama pacarnya Scarlet dan teman-temannya Pascal, Ruben, Martin. Saat itulah Opa Kara, Ben memutuskan supply materi melimpah yang biasa diterimanya. Kara yang malu memilih pergi dari kehidupan jetsetnya untuk menyepi di rumah sederhana milik Mila yang menyelamatkannya di terminal bis. Keadaan memaksa Kara untuk bekerja serabutan, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membalas budi Mila, ibunya dan adiknya Sasi. Cinta mulai tumbuh di antara mereka tepat ketika teman-teman Kara kembali. 

Terus terang saya cukup menikmati satu jam pertama film ini. Tipikal Nayato dengan premis dan eksekusi yang basi tidak terlihat disini. Beruntung sekali skrip karya Cassandra Massardi setidaknya dibiarkan “utuh” berbicara. Pendewasaan tokoh Kara yang melakoni hidup senang menjadi susah lewat serangkaian proses memang terkesan terlalu instan tapi masih masuk akal dengan sekuensi adegannya. Akting Adipati yang lumayan apik setidaknya mampu membuat penonton bersimpati padanya. Interaksinya dengan tokoh-tokoh di sekitarnya juga terbangun dengan baik, apalagi Reska Tania sebagai si kecil Sasi yang manis itu.

Sayangnya tiga puluh menit terakhir kembali dibumbui dengan sebuah penyakit yang menimpa karakter wanita. Kali ini gangguan fungsi hati diderita Mila yang amat mungkin merenggut nyawanya. Predictable, right? Sekecil apapun harapan hidup yang tersisa tetap harus disudahi lengkap dengan dramatisasi terjatuh, bangkit lagi hingga terkulai lemas pada akhirnya tepat di momen ulang tahun. Padahal Kimberly Ryder yang cantik itu sangat terlihat fresh di layar dengan kesenduan yang memikat. Ah mengapa?

Sutradara Nayato masih bermain dengan shot-shot andalannya terutama dunia gemerlap di prolog yang menampilkan kebut-kebutan mobil dan dunia malam diskotik. Namun storytelling yang jauh lebih baik sedikit menimbulkan harapan akan perubahan gaya positif dari karya-karyanya kemudian, layaknya sebuah ujian identitas baginya. Dukungan penata suara Khikmawan Santosa terbilang pas, kontras dengan duet Anto Hoed-Melly Goeslaw yang lagi-lagi menghasilkan satu tembang mendayu-dayu yang meluncur dari bibir merah Kimberly Ryder di sepanjang filmnya.

18++ : Forever Love merupakan sebuah esai cinta yang mengetengahkan banyak topik mulai dari one night stand, cinta segitiga, cinta berjurang status sosial yang biasa terjadi di kalangan remaja belasan tahun. Suguhan drama yang mengandalkan decent chemistry dari Adipati dan Kimberly yang masih dapat dinikmati terlepas dari romansa klise berujung penyakit mematikan. Angka 18 itu sendiri diperlakukan sebagai simbolik kedewasaan seseorang yang ditandari dengan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab atas kesediaan menjalani hidup kemandirian.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 09 Februari 2012

MALAIKAT TANPA SAYAP : Cinta Lepas Situasi Donor Organ


Quotes:
Vino: Embun tak perlu warna untuk bisa bikin daun jatuh cinta.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 7 Februari 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Mura
Adipati Dolken sebagai Vino
Surya Saputra sebagai Ayah Vino
Ikang Fawzi sebagai Ayah Mura
Kinaryosih sebagai Ibu Vino
Agus Kuncoro sebagai Calo
Geccha Qheagaveta sebagai Wina
Reza Pahlevi

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Rako Prijanto yang tahun lalu menelurkan Perempuan-Perempuan Liar.

W For Words:
Lagu Dewi Lestari yang berjudul Malaikat Juga Tahu pernah membahana di radio-radio tanah air pada medio 2008. Kini Starvision Plus menggaet penulis skrip Anggoro Saronto untuk menjadikan lagu tersebut inspirasi dalam menulis skrip yang juga berkisah tentang kegetiran hidup tanpa kasih sayang dan masa depan itu.
Nasib sial menimpa kakak beradik Vino dan Wina setelah ayah mereka Amir ditipu oleh rekan bisnisnya hingga berpindah ke rumah kontrakan sekaligus ditinggal ibunya Mirna. Wina yang mengalami kecelakaan membutuhkan transfusi darah golongan A negatif dari Vino. Disitulah Vino ditawarkan oleh Calo untuk mendonorkan organ bagian dalamnya demi sejumlah besar uang. Awalnya Vino menyetujui demi membantu perekonomian keluarga tetapi setelah mengenal Mura di rumah sakit, ia menyesali keputusannya. Akankah ada keajaiban yang tidak merenggut kebahagiaan dari hari-hari “terakhir” mereka?

Sutradara Rako pernah menghasilkan dramaturgi indah nan puitis semacam Ungu Violet di masa lampau. Kali ini ia berupaya mengulang kembali kinerjanya itu, mudah-mudahan tidak sekadar bernostalgia. Terbukti Rako mampu bertutur runut menyibak lembar demi lembar kehidupan Vino dan Mura yang penuh kepahitan lengkap dengan pertukaran dialog yang menggigit di antara pemainnya sambil sesekali didukung dengan bahasa gambar yang menawan.
Adipati Dolken dan Maudy Ayunda berbagi ikatan emosional yang cukup dalam sebagai pasangan remaja disini. Lihat bagaimana keduanya terlihat saling mengisi di tengah harapan hidup yang semakin menipis mampu mengundang simpati. Masuknya karakter-karakter pendukung juga efektif dalam memperkuat pemahaman penonton akan tokoh Vino dan Mura secara utuh. Agus Kuncoro seperti biasa cukup menggigit walaupun porsinya tidak dominan. Tampaknya peran ayah menjadi “makanan” yang sulit dihindari oleh Surya Saputra belakangan ini.

Malaikat Tanpa Sayap pada akhirnya turut memperkaya khasanah perfilman Indonesia dengan kualitas yang di atas rata-rata. Saya menyukai penuturan lembut Rako yang sangat memperhatikan emosi aktor-aktrisnya yang terjaga dengan baik tanpa harus berlebihan. Sayangnya endingnya masih terlalu “tipikal” dengan twist yang sengaja dipaparkan demikian adanya. Tak pelak sepeda, lukisan pasir, komedi putar pun turut menjadi saksi bagaimana sepasang anak manusia mampu menemukan jati dirinya masing-masing di tengah himpitan kompleksitas masalah orang dewasa. Bukankah ikatan itu menguatkan?

Durasi:
104 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 29 Januari 2010

18+ : Dinamika Muda Mudi Mempertahankan Cinta

Tagline:
True love never dies

Storyline:
Dua sobat karib, Raka dan Topan memiliki problemanya masing-masing. Topan mencintai Chanisa walau tahu kekasihnya itu mengidap kanker paru-paru yang kronis. Hal tersebut dilakukannya juga sebagai pelarian dari orangtuanya yang sering bertengkar di rumah. Belum lagi gangguan mantan pacarnya, Nayla yang rapuh jiwanya. Sedangkan Raka mengejar Helen sejak perjumpaan pertama walau Helen awalnya menolak akhirnya mereka jadian. Biaya pengobatan yang tinggi mau tidak mau membuat Topan dan Raka memutar otak mencari uang termasuk dari rentenir. Sayangnya keputusan itu malah menyeret keempatnya dalam kronik yang semakin dalam dan sulit terselesaikan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh PT. Kharisma Starvision Plus dan dilakukan gala premiere di Planet Hollywood

Cast:
Samuel Zyglwyn sebagai Raka
Adipati sebagai Topan
Stevanie Nepa sebagai Chanisa
Leylarey Lesesne sebagai Helen
Arumi Bachsin sebagai Nayla

Director:
Terakhir membesut Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, Nayato Fio Nuala kembali dengan genre serupa yaitu drama remaja yang kelam.

Comment:
Skrip yang ditulis oleh trio Ery Sofid, Eka D Sitorus dan Viva Westi ini sebetulnya cukup solid dari segi tema cerita, hanya saja saya yakin banyak campur tangan dari sang sutradara. Terbukti apa yang disuguhkan pada akhirnya tidak jauh beda dengan karya-karya Nayato sebelumnya termasuk alur lambat, tone warna lembut, lanskap yang sunyi hingga musik hingar bingar (dan kali ini adalah Koil yang dipilih sebagai bintang tamu sekaligus pengisi soundtracknya). Sedikit perbedaan adalah Nayato bermain di sisi maskulinitas kali ini, tidak dari segi feminis sebagaimana biasanya. Kerasnya hidup Raka dan Topan menjadi sorotan utama, dan ditutup dengan ending yang memilukan sekaligus tragis bagi keduanya. Perbaikan? Mungkin, tetapi belum secara keseluruhan. Karakter wanitanya tidak terlalu dominan walau turut memberikan kontribusi. Remaja-remaja tersebut bermain standar dalam artian tidak buruk dan juga tidak bagus-bagus amat. Sayangnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan mengambang tanpa penjelasan yang logis. Ah memang rasanya judul dan poster yang provokatif itu saja cukup memancing calon penonton untuk datang menyaksikannya.

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!