XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ralph fiennes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ralph fiennes. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2012

SKYFALL : Classic Requisite Bond In New Heights


Quotes:
James Bond: 007 reporting for duty.
M: Where the hell have you been?
James Bond: Enjoying death.


Nice-to-know: 
Film James Bond ketiga yang mengambil lokasi Istanbul dan Turki setelah From Russia with Love (1963) dan The World Is Not Enough (1999).

Cast: 
Daniel Craig sebagai James Bond
Judi Dench sebagai M
Javier Bardem sebagai Silva
Ralph Fiennes sebagai Gareth Mallory
Naomie Harris sebagai Eve
Bérénice Marlohe sebagai Sévérine
Albert Finney sebagai Kincade
Ben Wishaw sebagai Q


Director:
Merupakan feature film keenam bagi Sam Mendes setelah terakhir Away We Go (2009).

W For Words:
James Bond bukan lagi sebuah nama atau karakter dalam dunia film. Ia telah menjadi ikon cultural mancanegara. Tanpa terasa agen 007 sudah memasuki peringatan emas di layar perak alias 50 tahun semenjak perilisan Dr. No (1962). Tak kurang dari 6 aktor sudah memerankan tokoh rekaan Ian Fleming ini mulai dari Sean Connery, George Lazenby, Roger Moore, Timothy Dalton, Pierce Brosnan hingga Daniel Craig. Usia "panjang" tersebut merupakan kombinasi dari aksi seru, intrik internasional, sesi bercinta panas, antagonis berkarakter hingga klimaks tak terduga.

Kecerobohan M membuat daftar agen rahasia Inggris yang menyelinap ke dalam jaringan teroris dunia terungkap sehingga satu persatu diburu. James Bond yang tengah berupaya menyelamatkan dokumen tersebut malah tertembak. Ketika markas MI6 diserang di luar dugaan Bond yang dianggap tewas justru kembali meski kemudian harus menjalani serangkaian tes kemampuan dan psikologi. Mantan agen MI6, Raoul Silva yang menyimpan dendam pada M karena merasa terbuang pun menjadi musuh besar Bond yang sedang napak tilas masa lalunya sendiri. 

Skrip yang ditulis oleh trio Neal Purvis, Robert Wade dan John Logan ini memang menitikberatkan pada hubungan M dan Bond yang telah terjalin selama bertahun-tahun sebagai atasan dan bawahan. Menarik melihat Dench tak sedingin dan Craig tak setangguh biasanya. Sisi humanisme keduanya semakin tergali ketika M mengakui ia tak biasa memegang senjata apalagi memikirkan untuk bertugas di lapangan atau saat Bond harus belajar lagi untuk mengembalikan nalar dan kemampuan menembaknya. Chemistry mereka yang sempat berada di titik nadir semakin mengebumikan sosok yang selama ini dianggap superior. 

Cewek Bond yang biasanya "menjual" kali ini seperti tenggelam. Saya tidak bermaksud mengecilkan poosisi Marlohe tapi peran Severine terkesan basa-basi saja. Sebaliknya sosok antagonis dijiwai Bardem secara karismatik, menyaingi penampilannya dalam No Country For Old Men (2007) dahulu yang memberikannya Piala Oscar. Tokoh Raoul yang kejam dan freak itu semakin kentara melalui polesan make-up wajah dan rambut nan eksentrik. Menarik melihat sumbangsih Harris dan Wishaw sebagai Eve dan Q yang sukses mencuri perhatian di setiap kemunculannya.

Sutradara Mendes menyuguhkan set lokasi yang memikat mulai dari Istanbul, Shanghai, London sampai Skotlandia. Adegan pembuka yang berlangsung di atas kereta berjalan di Turki menjadi pembuka megah sebelum berujung pada klimaks emosional di rumah Skotlandia. Tempo film yang sedikit lambat seakan memberi waktu bagi penonton untuk merasakan kerapuhan yang diharapkan tapi bagi para penggemar aksi Bond bisa jadi akan merasa bosan. Setidaknya narasi yang mengedepankan plot cerdas dan karakteristik kuat menutupi aspek itu sehingga dramatisasi dan sekuens aksi mampu bersisian seimbang.

Installment terbaru ini masih setia dengan pakem 2D alias reguler. Meski demikian versi IMAX nya patut ditunggu karena menawarkan aspek ratio 26% lebih tinggi dari biasanya. So, if u ask me whether go for IMAX or not, i will say yes although its not a must. Lanskap nya lebih terasa apalagi dukungan sinematografi ciamik dari Roger Deakins. Jangan lupakan lantunan suara merdu Adele sebagai pengisi soundtrack di samping sajian musik original dari Thomas Newman yang tidak mengabaikan nuansa klasiknya.

Skyfall memang tidak bercitarasa pada film-film Bond pada umumnya tapi pendekatan realistis terhadap para anggota MI6 itu membuat segalanya lebih manusiawi. Bagaimana kesalahan perhitungan dan kekeliruan asumsi bisa saja terjadi pada siapapun. Tak ketinggalan selipan humor yang sangat British disana-sini tergolong efektif untuk mencairkan suasana. Template film hero masa kini tak dipungkiri mengalami pergeseran, bukan cuma good versus evil tetapi memaknai prosesnya itu sendiri. Film yang juga kependekan harfiah “the sky is falling ini menegaskan hal tersebut sambil mengumpamakan kesetiaan tiada batas yang mahal harganya.

Durasi: 
143 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 07 Agustus 2012

CORIOLANUS : Great Shakespeare Play Into Cinema

Quote:
Caius Martius Coriolanus: I'll fight with none but thee, for I do hate thee.
Tullus Aufidius: We hate alike.

Nice-to-know:
Ralph Fiennes pernah memerankan tokoh Coriolanus dalam opera di Almeida Theatre, London pada tahun 2000.

Cast:
Ralph Fiennes sebagai Caius Martius Coriolanus
Gerard Butler sebagai Tullus Aufidius
Brian Cox sebagai Menenius
Jessica Chastain sebagai Virgilia
Vanessa Redgrave sebagai Volumnia

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ralph Fiennes yang pernah dua kali dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam ajang Oscar.

W For Words:
William Shakespeare dikenal publik sebagai pujangga berbahasa Inggris terbaik di dunia. Karya-karyanya berulang kali dipertunjukkan di atas panggung dan beberapa di antaranya bahkan diadaptasi ke layar lebar. Paling ternama adalah Romeo + Juliet versi Leonardo DiCaprio dan Claire Danes dimana sutradara Baz Luhrmann memindahkan settingnya ke jaman modern. Sama halnya yang dilakukan oleh Ralph Fiennes lewat film ini yang merupakan kali pertama kisah pahlawan Roma ini diangkat dalam format apapun juga. Interesting, huh?

Paska perang, Caius Martius adalah tentara sekaligus figur publik berpandangan ekstrim yang berbalik membenci rakyat Roma karena sikap dan perlakuan mereka yang apatis terhadapnya. Label pengkhianat pun disematkan padanya sehingga demi menghindari kekacauan masal, dewan memutuskan Caius wajib meninggalkan kota. Tidak terima, ia bertekad membalas dendam sekaligus berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya, Tullus Aufidius.

Yang menarik adalah kinerja Fiennes yang super sibuk di depan dan di belakang kamera sekaligus. Pergeseran konfliknya cukup terlihat mulai dari Caius yang dibenci, memperoleh simpati, kehilangan respek,  pengasingan, pengkhianatan sampai keputusan hidup atau mati pada akhirnya. Sejujurnya banyak adegan yang dapat dipangkas untuk penekanan yang lebih efisien sehingga durasinya tidak kelewat lama. Sayangnya lagi nama-nama besar seperti Butler, Cox, Redgrave, Chastain tidak dimaksimalkan dan terkesan sebagai karakter pelengkap belaka bagi Fiennes yang sangat dominan disini.

Penggunaan bahasa menjadi kendala utama disini. Penulis skrip John Logan memilih “setia” pada Shakespeare dengan mempertahankan archaic language yang sangat asing di telinga. Porsi terbesar film yang dihabiskan melalui pertukaran dialog antar karakternya pun semakin memperburuk situasi dimana penonton masa kini bisa jadi kehilangan interest walaupun sudah dibantu dengan subtitle. Padahal jika mau dicermati, setting modern lengkap dengan pemakaian seragam/kostum masa kini, penggunaan ponsel dan pengendaraan mobil teranyar telah menegaskan adaptasi lawas yang bergulir lancar.

Coriolanus seakan diperuntukkan bagi ambisi positif seorang Ralph Fiennes. Karisma dan keahlian aktingnya belum pudar, ditambah kompetensi sutradara yang mulai dirambahnya semakin memperkuat posisinya di kancah perfilman Hollywood masa mendatang. Secara keseluruhan, saya merasa screenplay dengan bahasa asli ini sejatinya lebih cocok bagi panggung teater, bukan media film. It’s definitely not everybody’s cup of tea, especially for moviegoers nowadays who are looking for a quick snack but might end up bored and completely clueless.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$756,452 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 31 Maret 2012

WRATH OF THE TITANS : Slightly Better Epic Demigods’ Letdown


Quotes:
Zeus: You will learn someday that being half human, makes you stronger than a god.

Nice-to-know:
Gemma Arterton sedianya kembali dalam produksi film ini tapi mengalami konflik jadwal dengan Hansel and Gretel: Witch Hunters (2012).

Cast:
Sam Worthington sebagai Perseus
Liam Neeson sebagai Zeus
Ralph Fiennes sebagai Hades
Édgar Ramírez sebagai Ares
Toby Kebbell sebagai Agenor
Rosamund Pike sebagai Andromeda
Bill Nighy sebagai Hephaestus
Danny Huston sebagai Poseidon

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Jonathan Liebesman yang terakhir menggarap Battle Los Angeles (2011).

W for Words:
Pada Clash of the Titans (2010), Perseus berhasil mengalahkan Medusa dan Kraken sambil menyelamatkan Andromeda dan juga kota Argos dari kehancuran. Film tersebut sukses mengumpulkan nyaris 500 juta dollar lewat peredaran internasionalnya saja. Untuk itulah Warner Bros bermata silau untuk melanjutkan petualangan tokoh yang masih diperankan oleh Sam Worthington itu ke dalam installment baru, tentunya dengan konflik yang berbeda dan musuh-musuh yang jauh lebih tangguh.
Satu dekade setelah peristiwa yang mengangkat namanya, Perseus yang merupakan keturunan dari Zeus berupaya menjalani hidup normal sebagai nelayan bersama putranya Helius di sebuah desa yang tenang. Sementara itu, perebutan kekuasaan terjadi di antara para dewa dan the Titans itu sendiri. Pemimpin Titans yaitu Kronos bekerjasama dengan Hades dan Ares mengancam kedudukan Zeus dengan pasukan mautnya. Kini Perseus harus sekali lagi mengerahkan segenap kemampuannya untuk melindungi apa yang ia punya meski harus membahayakan nyawanya.

Kali ini anda akan menjadi saksi visualisasi monster-monster yang dihidupkan oleh CGI dengan senyata mungkin mulai dari chimera, trio Cyclopes, raksasa berkepala dua Makhai hingga sang Kronos itu. Kesemuanya berguna dalam menciptakan teror yang cukup mencengangkan dan berdarah untuk sebuah film remaja. Sutradara Liebesman yang banyak menggunakan shaky cam style di paruh pertama terutama untuk pertarungan Perseus melawan raksasa mampu menghadirkan serangkaian adegan aksi ala blockbuster yang lebih nyaman untuk disimak di paruh keduanya.
Saya tidak melihat ada perbedaan akting Worthington disini. Sorot matanya masih terasa kosong dan intonasi suaranya datar saja padahal muatan emosinya jauh lebih berisi, lihat saja nasib ayahnya Zeus dan putra remajanya Helius yang berkali-kali terancam. Pike yang menggantikan Davalos sebagai Andromeda memang terlihat jauh lebih dewasa walau cenderung lebih feminin yang mengurangi kesan tangguhnya. Dua aktor senior, Neeson dan Fiennes seperti biasa tidak mengecewakan samasekali sebagai dua saudara yang saling berebut kekuasaan menjelang akhir dunia, Zeus dan Hades.

Wrath of the Titans untungnya masih menyisakan beberapa adegan yang memorable, salah satunya adalah sekuens labirin di penghujung film yang terasa mencekam. Selebihnya tidak ada perbaikan yang signifikan dari prekuelnya selain action yang lebih intens dan visual yang lebih menjual termasuk konversi 3D yang lebih efektif di setengah jam terakhir durasinya. Kekurangan dari plot cerita dan pengembangan karakternya yang miskin tidak membantu para penggemar kisah ini untuk memberikan opini yang positif. See it only if you want to see some fantasy action in the fantastic spare time but for me, the last few demigods movies have been such a letdown including this one.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$34,200,000 in opening week of Apr 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 30 Juli 2011

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2 : Pamungkas Horcrux Pertarungan Voldermort

Quotes:
Harry Potter: We have to go there, now.
Hermione Granger: What? We can't do that! We've got to plan! We've got to figure it out...
Harry Potter: Hermione! When have any of our plans ever actually worked? We plan, we get there, all hell breaks loose.


Storyline:
Harry, Ron, Hermione harus menemukan 3 horcrux tersisa untuk menghancurkan kekuatan Voldermort. Perjuangan diawali dari The Gringott hingga Hogwarts sebelum berhadapan langsung dengan Raja Kegelapan yang mengancam akan menguasai dunia dan melenyapkan siapapun yang tidak sejalan dengannya. Sementara itu Severus yang menjadikan Hogwarts bagaikan penjara hidup ditentang oleh Prof McGonagall dan pengajar lainnya sehingga memaksanya kembali ke Voldermort. Jalan pikiran Harry yang secara tidak langsung terkoneksi dengan Voldermort pun menuntunnya mengatur strategi terbaik sekaligus memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya walau mungkin mengorbankan banyak nyawa tak berdosa.

Nice-to-know:
Total kacamata yang dihabiskan Daniel Radcliffe selama syuting delapan seri Harry Potter adalah 160 pasang!

Cast:
Daniel Radcliffe sebagai Harry Potter
Rupert Grint sebagai Ron Weasley
Emma Watson sebagai Hermione Granger
Ralph Fiennes sebagai Lord Voldemort
Alan Rickman sebagai Professor Severus Snape
Matthew Lewis sebagai Neville Longbottom
Evanna Lynch sebagai Luna Lovegood
Helena Bonham Carter sebagai Bellatrix Lestrange
Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy
Warwick Davis sebagai Griphook / Professor Filius Flitwick

Director:
Perjalanan pria kelahiran Inggris 48 tahun yang lalu bernama David Yates ini tergolong luar biasa. Dari berbagai serial televisi hingga akhirnya dipercaya menangani 4 seri terakhir installment Harry Potter.

Comment:
Inilah instalasi terakhir dari franchise Harry Potter yang sudah menjadi fenomena selama satu dekade terakhir di kancah perfilman dunia. Bukan hanya dari perolehan dollar nya saja yang fantastis tetapi proses adaptasi dari bukunya itu sendiri yang patut ditunggu. Pada akhirnya dua hal tersebutlah yang menjadi indikasi sukses atau tidaknya setiap bagian dari terjemahan bebas hasil karya penulis J.K. Rowling tersebut.
Sutradara Yates patut diberikan applause karena menghadirkan sinematografi yang spektakuler dengan sisi artistik yang terjaga baik. Tak heran visualisasinya mengundang decak kagum terutama penggunaan spesial efek yang mulus dan penataan kostum yang pas. Belum lagi penempatan scoring musik yang brilian mengiringi setiap scene pertarungan maupun dramatisasinya. Tidak heran jika seri terakhir ini patut dikedepankan sebagai calon nominasi Oscar tahun depan atas atas keunggulan-keunggulannya itu.
Favorit saya kali ini tidak lain tidak bukan adalah Alan Rickman. Karakter Snape yang selama ini digambarkan monoton tanpa emosi akhirnya memperlihatkan sisi lain yang manusiawi sehingga membuat penonton mampu berempati padanya. Sayangnya scenes dimana ingatan Snape tereksploitasi malah terkesan terburu-buru dan tidak memberi ruang yang cukup untuk benar-benar merasakan pembentukan karakternya dari masa lalu.
Dua karakter yang cukup mencuri perhatian adalah Neville Longbottom dan Helena Ravenclaw. Lewis berhasil melakukan pidato singkat yang cukup berarti plus aksi heroiknya di bagian ending. Juga Macdonald sempat sukses membangun nuansa menakutkan saat berbagi scene dengan Harry Potter. Sayangnya Davis masih terasa kurang maksimal sebagai Aberforth Dumbledore dari segi karisma dibandingkan tokoh-tokoh senior lainnya.
Konsistensi trio Harry-Ron-Hermione secara sempurna dipertahankan oleh Radcliffe-Grint-Watson yang sudah semakin dewasa. Perubahan fisik jelas terlihat signifikan dibandingkan kemunculan pertama mereka masing-masing. Cukup menarik menyaksikan penuaan “19 tahun” yang dilakukan di penutupan film meskipun saya berpendapat bagian ini sebetulnya tidak perlu ada karena tidak mengganggu cerita samasekali.
Scenes yang paling memorable bagi saya adalah The Gringott dan juga pertempuran mempertahankan Hogwarts dari serbuan Voldermort. Adu sihir yang bombastis memang menjadi jualan utama sebuah summer movies yang harus lebih dari segala-galanya. Laga finale antara Harry dan Tom memang sedikit antiklimaks. But what more could you have asked for? Ini adalah pertarungan baik dan jahat yang kerapkali terjadi dalam bentuk apapun di dunia ini.
Terlepas dari ending process yang menurut saya agak rushing, Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 merupakan penutup sempurna bagi petualangan ketiga karakter remaja (muda ke dewasa) yang berbagi persahabatan dengan kesamaan visi nyata, tekad kuat dan semangat tinggi untuk memerangi raja kegelapan. Kesempurnaan akan konsep visual dan keseimbangan emosional yang belum pernah disaksikan dari ketujuh seri sebelumnya. Bersiaplah untuk merindukan dunia magis Harry Potter dalam tahun-tahun mendatang. Tanpa disadari franchise ini turut menjadi bagian dari perjalanan hidup saya dan juga anda semua penggemar film pada umumnya dalam rentang waktu yang panjang. IT ALL ENDS. Adieu!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$169,189,427 (opening weekend in mid July 2011)

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 20 November 2010

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART I : Pencarian Horcrux Ungkap Rahasia Terkuat

Quotes:
Harry Potter-What do you know about the Deathly Hallows?
Mr. Ollivander-It is rumored there are three. To possess them all is to make oneself immortal. But few truly believe such objects exist. If it's true, you really don't stand a chance.

Storyline:
Kekuatan Voldermort semakin besar karena berhasil menguasai the Ministry of Magic dan Hogwarts. Harry, Ron dan Hermione bertekad melanjutkan usaha Dumbledore dan mencari Horcrux yang tersisa untuk dihancurkan sekaligus mengalahkan Voldermort. The Order tiba dan memerintahkan Harry untuk pindah dari Privet Drive. Satu-satunya cara ditempuh yaitu memberikan Polyjuice Potion untuk menciptakan kembaran-kembaran Harry sehingga membingungkan kawanan Death Eaters. Rencana tersebut berhasil walau harus mengorbankan beberapa kawan Harry. Kemudian Minister of Magic yaitu Rufus Scrimgeour menitipkan surat wasiat terakhir dari Dumbledore yang mewariskan Deluminator bagi Ron, copy buku "The Tales of the Beetle the Bard" buat Hermione dan bola Snitch pertama yang Harry tangkap dalam permainan Quidditch serta pedang Gryffindor yang hilang untuk Harry. Ketiganya sepakat melakukan perjalanan untuk mencari jawaban sekaligus menghindari kekuatan hitam yang diutus untuk menghalangi mereka.

Nice-to-know:
Dua pembatalan besar terjadi sebelum rilis filmnya yaitu durasi yang terlalu panjang sehingga dibagi dua bagian dan juga konversi ke 3D dari rencana semula.

Cast:
Daniel Radcliffe sebagai Harry Potter
Emma Watson sebagai Hermione Granger
Rupert Grint sebagai Ron Weasley
Bill Nighy sebagai Rufus Scrimgeour
Ralph Fiennes sebagai Lord Voldemort
Helena Bonham Carter sebagai Bellatrix Lestrange
Fiona Shaw sebagai Petunia Dursley
Alan Rickman sebagai Professor Severus Snape
Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy
Rhys Ifans sebagai Xenophilius Lovegood
Toby Jones mengisi suara Dobby

Director:
Tidak banyak yang tahu David Yates memulai karir penyutradaraannya lewat beberapa film pendek yang berujung pada film layar lebar pertamanya yaitu The Tichborne Claimant di tahun 1998.

Comment:
Harus diakui sisi gelap film ini sudah ditekankan sejak kemunculan logo Warner Bros yang membuka film, lalu dilanjutkan dengan tone warna yang dominan abu-abu dan biru gelap, belum lagi musik garapan John Williams yang kaya getaran nada-nada rendah. Beruntung saja semuanya itu dipercayakan pada tangan yang tepat yaitu sutradara Yates yang kali ini berusaha mengeksplorasi ketiga karakternya dengan kedalaman yang lebih dari prekuel-prekuelnya.
Yates memenuhi keinginan JK Rowling untuk menampilkan sisi lain dari persahabatan Harry-Ron-Hermione yaitu kedewasaan tanpa harus terkesan klise. Tentu saja, sebab 10 tahun berlalu dari awal petualangan mereka telah banyak terjadi suka duka yang mengubah persepsi masing-masing terhadap satu sama lainnya. Bagaimana komunikasi-komunikasi yang terjalin di antara ketiganya dihadirkan dalam kondisi serealistis mungkin, tak jarang terjadi jeda yang hanya diisi dengan sikap diam dan mimik penuh arti.
Tentu saja (seperti biasa) alurnya berjalan lambat, mungkin sedikit lebih lambat dari yang sudah-sudah. Walaupun beberapa adegan aksi cukup "membangunkan" anda terutama adegan di Dartfor Tunnel. Berbagai karakter di luar trio tersebut juga turut memperkuat cerita semisal karakter baru Rufus Scrimgeour, Xenophilius Lovegood, Gellert Grindelwald dsb. Belum lagi konsistensi karakter lama Bellatrix Lestrange, Lucius Malfoy dll. Jangan lupakan kemunculan Dobby yang sangat saya rindukan di penghujung cerita. Singkat tetapi sangat berarti!
Tak dipungkiri Radcliffe dan Watson menunjukkan perkembangan akting yang positif dengan kematangan mereka memerankan sosok Harry dan Hermione. Grint yang sedikit di bawah radar dibandingkan kedua rekannya itu tetap harus diacungi jempol dalam menokohkan Ron yang gegabah sambil sesekali menghadirkan tawa akibat tingkah lugunya itu. Hubungan ketiganya menjadi porsi yang utama dimana kecemburuan yang terjadi terkadang menghalangi kerjasama yang terjalin di antara mereka.
Harry Potter and the Deathly Hallows Part I ini dibalut dalam sinematografi yang brilian dan spesial efek yang bekerja dengan maksimal pada tempatnya masing-masing. Konstruksi cerita yang rapi dengan eksekusi skrip yang gemilang di luar Hogward seperti biasanya menjadikan Part II nya patut ditunggu bagi para pecinta Harry Potter pada musim panas tahun depan. Jadi bersabarlah. Ohya, sekadar catatan kecil, adegan awal yang menghadirkan 8 sosok Harry Potter secara 360 derajat cukup membangun sisi humor sekaligus rasa kagum. Awesome!

Durasi:
145 menit

U.S. Box Office:
$61,000,000 in opening week end of Nov 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 04 April 2010

CLASH OF THE TITANS : Pertarungan "Balas Dendam" Manusia Melawan Dewa

Quotes:
Perseus-If I do this, I do it as a man.
Draco-But you are not JUST a man!

Storyline:
Yunani masa purba, kota Argos mengingkari kekuatan dewa-dewa sehingga dikutuk akan dimusnahkan dari muka bumi jika dalam 10 hari, putri raja Andromeda tidak dikorbankan kepada Kraken, monster lautnya dewa Hades pada saat gerhana. Sementara itu Perseus yang semasa kecil menjadi satu-satunya selamat dari karamnya kapal nelayan telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tangguh. Ia sesungguhnya masih keturunan Zeus sehingga mendapat sebutan demigod, setengah manusia setengah dewa. Dendamnya pada Hades coba dituntaskan Perseus dengan menyelamatkan kota Argos. Dengan bantuan Calibos, Io, Draco dkk, mereka berkelana mencari jawaban untuk mengalahkan Kraken. Berhasilkah mereka?

Nice-to-know:
Awalnya Stephen Norrington akan menyutradarai film ini tetapi ia belum pernah menyaksikan versi aslinya sehingga tidak yakin mampu. Pada Juni 2008, proyek akhirnya diserahkan pada Louis Leterrier.

Cast:
Karir layar lebarnya dimulai lewat Bootmen (2000), kini Sam Worthington didapuk sebagai Perseus masa kini yang keras hati sekaligus tangguh bertarung.
Dua aktor senior, Liam Neeson dan Ralph Fiennes didaulat sebagai dewa yang selalu berseberangan yaitu Zeus dan Hades.
Dua gadis cantik, Gemma Arterton dan Alexa Davalos dipercayakan sebagai Io dan Andromeda.

Director:
Terakhir menggarap The Incredible Hulk (2008) yang cukup sukses itu, pria Perancis bernama Louis Leterrier ini sangat mengagumi film klasik Clash Of The Titans (1981) dan antusias saat mendapat kesempatan meremakenya.

Comment:
Apakah sebuah kesalahan melakukan remake film klasik dengan tambahan spesial efek? Hm, bisa jadi iya walau harapan meraih hasil yang lebih baik juga ada. Sebetulnya jika ditelaah lebih jauh dunia dewa-dewa teramat sangat banyak karakternya dengan karakterisasi dan cerita kehidupannya masing-masing. Clash Of The Titans hanyalah menarasikan segelintir peristiwanya dan sayangnya hal tersebut sudah dilakukan oleh film pop remaja, Percy Jackson yang baru launching beberapa bulan lalu! Plot ceritanya memang terkesan mengambang karena diawali seperti di tengah-tengah sesuatu dan tiba-tiba saja Perseus sudah dewasa tanpa kita tahu perkembangan jiwanya. Transisi antara adegan aksinya juga sedikit mengganggu, belum lagi dialognya yang tidak terlalu mengesankan. Mengingatkan film-film blockbuster buatan Michael Bay yang tidak beremosi dan bermakna. Worthington sudah melakukan yang terbaik bagi karakter Perseus tetapi kedalaman eksplorasinya tidak memungkinkan. Fiennes dan Neeson sekalipun tidak dapat berkontribusi banyak karena cerita seakan tidak menjadi fokus utama. Di luar faktor aksi dan visual efek yang menampilkan Medusa dan Kraken, film ini tidaklah terlalu spesial apalagi sampai dibilang epik. Faktor 3D juga tidak akan banyak membantu karena 2D nya sendiri sudah cukup.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$61,400,000 in first week of April 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 08 Juni 2009

THE READER : Percintaan Beda Usia Si Pembaca

Quotes:
Hanna Schmitz[to Michael]-You don't have the power to upset me. You don't matter enough to upset me.
----------
Young Michael[to Hanna]-I can't live without you. The thought of leaving you kills me. Do you love me?

Cerita:
Ahli hukum Jerman, Michael Berg bernostalgia bersama putrinya yang beranjak dewasa mengenang masa mudanya termasuk pada usia 15 tahun berkenalan dan menjalin hubungan dengan Hanna Schmitz yang berusia dua kali lipatnya saat itu. Hubungan singkat selama musim panas itu setelah Hanna meninggalkannya tanpa jejak membekas seumur hidup dalam diri Michael. Tak diduga beberapa bulan kemudian saat sidang pengadilan perang Nazi yang melibatkan 6 wanita tertuduh bekas pengawal kamp S.S. termasuk Hanna menggugah Michael. Apa yang sesungguhnya dialami Hanna Schmitz? Bagaimana Michael bersikap menghadapi dilema terbesar yang selalu menghantui hidupnya?

Gambar:
Setting kota-kota besar Jerman mendasarinya dengan baik sehingga mendukung penuturan film ini.

Act:
Memasuki dunia akting lewat Heavenly Creatures (1994) sampai akhirnya memenangkan Oscar untuk Aktris Terbaik merupakan catatan prestasi Kate Winslet. Penjiwaannya sebagai Hanna Schmitz 3 generasi sangat meyakinkan termasuk mengubah aksen Inggrisnya menjadi aksen Jerman dengan sangat baik!
Aktor Inggris yang sukses di Amerika ini mengawali karirnya dalam Wuthering Heights (1992), Ralph Fiennes telah banyak bermain film ternama termasuk disini sebagai Michael Berg dewasa yang tumbuh dalam bayang-bayang cinta remajanya sehingga mempengaruhi pola pikirnya.
Belum lama ini tampil dalam Krabat, aktor muda kelahiran Jerman bernama David Kross ini kebagian peran Michael Berg muda dimana ia acapkali beradegan mesra dengan lawan mainnya yang jauh lebih tua dan semua itu dilakoninya dengan sangat baik.

Sutradara:
Angkat nama lewat Billy Elliot (2000), sutradara Inggris bernama Stephen Daldry ini sudah memenangkan beberapa penghargaan internasional dari sedikit film yang dihasilkannya. Tangan dinginnya kembali dalam The Reader yang penuh makna kehidupan.

Komentar:
Film yang sangat kompleks jika menilai hubungan antar karakternya yang penuh dengan emosi dari sensualitas sampai kemarahan dan berujung pada simpati. Tapi justru itulah nilai lebihnya apalagi ditunjang dengan akting tiga karakter utama yakni Winslet, Kross dan Fiennes yang sangat mumpuni ditambah kualitas kaliber sang sutradara. The Reader adalah suatu cerminan hidup yang penuh perasaan yang sulit dijelaskan dalam diri kita. Meskipun bergulir lambat, niscaya anda akan terhanyut di dalamnya sembari menggali esensi dari kemanusiaan itu sendiri.
Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$34,180,954 till May 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!