XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label animasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label animasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juli 2013

DESPICABLE ME 2 : Extra Love For Gru and Extended Minions

Quote:
Agnes: Are you really gonna save the world?
Gru: That's right, baby! Gru's back in the game with cool cars... gadgets... and weapons!

Nice-to-know:
Al Pacino
dan Javier Bardem sempat dikabarkan akan mengisi suara Eduardo sebelum batal dan digantikan oleh Benjamin Bratt.

Cast:
Steve Carell
 sebagai Gru
Kristen Wiig sebagai Lucy
Benjamin Bratt sebagai Eduardo / El Macho
Miranda Cosgrove sebagai Margo
Russell Brand sebagai Dr. Nefario
Steve Coogan sebagai Silas
Elsie Fisher sebagai Agnes
Dana Gaier sebagai
Edith

Director:
Pierre Coffin dan Chris Renaud melanjutkan kerjasama mereka setelah Despicable Me (2010) sukses meraup lebih dari 250 juta dollar di Amerika Serikat saja.

W For Words:
Bagi saya Despicable Me (2010) adalah salah satu animasi 3D terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Komposisi warna, gambar dan efek visualnya amat memanjakan mata, bahkan post-credit title nya pun masih ditunggu. Produksi Universal Illumination Pictures ini lantas sukses besar dalam mencuatkan ikon baru di dunia perfilman yaitu the minions, makhluk mungil berwarna kuning dengan seribu satu polah tingkahnya yang mampu mencuri perhatian penonton. Okay, enough with the introduction, who’s going to continue with this sequel?

Mantan penjahat super Gru tengah menikmati masa pensiunnya dengan mengurus ketiga gadis Margo, Edith dan Agnes. Bersama asistennya Dr. Nefario, ia mengembangkan usaha selai dan jelly di laboratorium rahasia dengan bantuan minions. Pada suatu hari, agen Anti Villain League bernama Lucy Wilde menyambanginya dan membawanya bertemu dengan kepala perserikatan Silas Ramsbottom. Tujuannya adalah membujuk Gru untuk menyelidiki hilangnya serum yang dapat mengubah makhluk apapun menjadi monster berkekuatan super.  Bersediakah Gru bertandem dengan Lucy?

Materi yang masih ditulis oleh Ken Daurio dan Cinco Paul ini memang tak lagi menitikberatkan pada petualangan Gru yang taktis dan cool seperti pendahulunya.  Kali ini ‘petualangan’ yang terbilang lebih manusiawi lebih ditekankan yakni aksinya sebagai single parent dan kiprahnya sebagai love chaser. Dua aspek itu kian terasa menutupi misi besar yang tengah dihadapinya. Tebaran elemen slapstik dan komedi satir baik lewat dialog ataupun bahasa tubuh nyaris di setiap bagian nyatanya masih cukup ampuh dalam menggalang tawa lepas penonton.

Carell masih konsisten memberikan aksen Rusia yang pas pada karakter Gru. Pujian patut dilayangkan pada Coogan, Bratt dan Arias yang begitu hidup menyuarakan Silas, Eduardo dan Antonio berturut-turut. Sedangkan Wiig yang dalam prekuelnya mengisi suara Miss Hattie berganti menjadi Lucy yang digambarkan berkepribadian unik dan menyenangkan. Istilah ‘lipstick taser’ mungkin akan terus tertanam di benak anda dalam waktu yang cukup lama. Selain itu masih ada Russell Brand, Ken Jeong, Miranda Cosgrove, Elsie Fisher, Dana Gaier dan lain-lain yang tak ketinggalan sumbangsihnya.

Salah satu daya tarik film jelas ada pada minions yang mendominasi durasinya termasuk digambarkan baik dan jahat sekaligus (tanpa bermaksud spoiler). Lihat bagaimana mereka mengejar ice cream, bersantai di pantai, bermain sambil bekerja dengan multilingual aksen. Saya menangkap ‘hana dul ses’ atau one two three dalam bahasa Korea, ‘masalah’ dalam bahasa Indonesia, gelato dalam bahasa Italia, ‘gan bei’ dalam bahasa Cina dan banyak lagi. Now you know why they got famous all over the world. Nantikan kejutan dari mereka di penghujung kisah yang akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Coffin dan Renaud sebagai duo sutradara kreatif yang masih menonjol dalam aspek kedetailan desain visual ini tak lantas dituding sepenuhnya atas degradasi segi cerita karena mengikuti kemauan produser dalam upaya ‘menjual’ Despicable Me 2. Terbukti spin-off Minions rencananya akan mulai diproduksi tahun depan. Sementara itu nikmati saja terlebih dahulu sajian kisah Gru yang happy ending in the most ‘cheesy’ way ini. Who knows it will still entertain you. Don’t forget to see at least its 3D version. Worth your extra money especially get extra ‘love’ in here.

Durasi:
98 menit

U.S. Box Office:
$228.376.775 till
Jul 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 01 Desember 2012

RISE OF THE GUARDIANS : Worthwile Believing In Magic For All Ages


Quote: 
North: It is our job to protect the children of the world. For as long as they believe in us, we will guard them with our lives... 

Nice-to-know: 

Film DreamWorks Animation terakhir yang didistribusikan oleh Paramount.

Cast:
Chris Pine sebagai Jack Frost
Alec Baldwin sebagai North
Jude Law sebagai Pitch
Isla Fisher sebagai Tooth
Hugh Jackman sebagai Bunny
Dakota Goyo sebagai Jamie Bennett


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Peter Ramsey yang sebelumnya menangani Monsters vs Aliens : Mutant Pumpkins from Outer Space (2009) yang langsung rilis untuk konsumsi televisi.

W For Words: 
Dari masa ke masa berbagai judul animasi selalu dikeluarkan untuk menyambut Natal dengan satu tujuan yaitu menjaga spirit dan kepercayaan kaum muda yang tumbuh bersama kisah-kisah serupa dari orangtua masing-masing. Tradisi itu kemudian diteruskan oleh DreamWorks tahun ini lewat film yang tidak berhubungan samasekali dengan Legend of the Guardians : The Owls of Ga’Hoole (2010) milik Warner Bros terlepas dari kemiripan judul, melainkan adaptasi buku karya William Joyce yang lantas digubah ke dalam bentuk skenario oleh David Lindsay-Abaire.

Jack Frost kerap kali mempertanyakan identitas dan arti hidupnya. Ia tak dapat dilihat meskipun ada di sekitar manusia. Jawaban itu mulai terungkap ketika North, Sandy, Tooth, Bunny mengajaknya bergabung dalam ikatan Guardians alias pelindung anak-anak di seluruh dunia termasuk Jamie dan kawan-kawan. Pasalnya roh jahat yang dikenal dengan sebutan Pitch tengah meluncurkan armada bayangan hitam yang bertekad mematikan semangat Paskah di muka bumi. Mampukah lima sekawan itu mempertahankan diri sekaligus membuat warga tetap percaya?

Ada lima karakter fiktif yang akan membuat anda bersorak-sorai. Pertama, Jack Frost (Chris Pine) yang berupaya mengembalikan ingatannya ketika masih menjadi anak biasa. Kedua, North (Alec Baldwin) alias Santa yang bertanggungjawab atas produksi pabrik mainan demi memenuhi permintaan anak-anak sedunia. Ketiga, Bunny (Hugh Jackman) ikon kelinci Paskah penyedia telur hias. Keempat, Tooth (Isla Fisher) peri pengumpul gigi susu anak-anak yang tanggal. Kelima, Sandman/Sandy yang bertindak sebagai pemberi mimpi dan juga penghapus ingatan anak-anak dengan memakai pasir emas ajaibnya.


Karakter manusia diwakili oleh bocah laki-laki bernama Jamie (Dakota Goyo) yang selalu mempercayai keberadaan lima “pelindung” itu meski tak pernah dilihatnya secara langsung. Tokoh antagonis Pitch (Jude Law) adalah penebar ketakutan yang ditanamkan dalam mimpi anak-anak. Kecerdasan Lindsay-Abaire dalam meramu setiap plot dan twist berdasarkan mitos yang ada menjadi nilai jual tersendiri. Penonton belia maupun dewasa sekalipun akan merasa dekat dengan masa-masa yang pernah mereka alami sehingga tradisi mempercayai keajaiban akan tetap terjaga.

Sutradara Ramsey berhasil memperluas ruang penceritaannya dengan desain art yang detail di setiap tokoh dan lokasinya, lihat saja kolam es Jack Frost, pabrik mainan North, ladang telur Bunny, penjara baby tooth dsb. Belum lagi sentuhan estetika imajinatif khas Guillermo del Toro yang kali ini hanya bertindak sebagai produser. Narasi keseluruhan tergolong dinamis sehingga momen-momen di dalamnya terkoneksi secara utuh. Format 3D ataupun IMAX memang mempertegas kedalaman gambar dan ketajaman warna tapi tidak cukup efektif pada sekuens adegan aksi yang bergerak cepat. 

Rise of the Guardians sangatlah predictable tapi diyakini masih mampu mempertahankan excitement anda dari awal sampai akhir. Selain mengandung pesan moral bahwa tak ada salahnya tetap mempercayai keajaiban demi keyakinan melangkah, jalan berbeda yang dipilih oleh Frost dan Pitch yang sama-sama pernah mengalami kepahitan semasa hidupnya bisa menghadirkan perenungan reflektif.
Definitely recommended for entire family in the end of season’s holiday. Enjoy heartfelt fun with those lively characters on a big screen!

Durasi: 
97 menit 

U.S. Box Office: 

$32,341,090 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 November 2012

WRECK IT RALPH : Best Video Game Movie With Heart and Messages


Quotes:
Wreck-It Ralph: It's hard to love your job, when no one else seems to like you for doing it... 


Nice-to-know: 

Password yang digunakan King Candy untuk mengakses game Sugar Rush adalah UP, UP, DOWN, DOWN, LEFT, RIGHT, LEFT, RIGHT, B, A, START. Ini adalah kode cheat bagi Contra pada NES dan juga controller Nintendo yang bisa memberi hingga 30 nyawa (bukan 3 seperti biasa) pada pemainnya.

Voice: 

John C. Reilly sebagai Ralph
Sarah Silverman sebagai Vanellope
Jack McBrayer sebagai Felix
Jane Lynch sebagai Calhoun
Adam Carolla sebagai Wynnchel
Alan Tudyk sebagai King Candy


Director: 

Merupakan debut penyutradaraan Rich Moore yang selama ini berpengalaman menangani TV series.

W For Words: 
Berani bertaruh bahwa anda yang umurnya tidak berbeda jauh dengan saya pasti pernah memainkan classic arcade games seperti Rally-X Pac-Man, Defender dan sebagainya. Arena dingdong pada masa itu menggunakan koin untuk mengoperasikannya, jauh berbeda dengan anak-anak masa kini yang lebih memilih bermain di rumah menggunakan komputer, PS 3, Nintendo Wii, Xbox dan berbagai perangkat mutakhir lainnya. Walt Disney is very thoughtful! Animasi terbarunya ini mengombinasikan petualangan seru dalam balutan komedi menyentuh yang bisa dinikmati semua kalangan umur.

Alkisah Ralph si penghancur bosan bertindak sebagai antagonis dalam video game Fix-It Felix Jr. Ia merasa dikucilkan dari penghuni mansion hingga memilih pergi. Partisipasinya dalam Hero’s Duty membuahkan medali emas kepahlawanan sekaligus tanpa sengaja melepas musuh mematikan ke dunia Sugar Rush yang bisa mengancam kelangsungan populasi dunia game. Sergeant Calhoun memburu virus tersebut sebelum berkembang biak sementara Ralph berupaya membantu gadis cilik Vanellope von Schweetz untuk ikut balapan walaupun dilarang oleh King Candy.

Trio Rich Moore, Phil Johnston dan Jim Reardon
sebagai penulis skenario masih menjaga pakem film-film Disney yaitu pencarian identitas diri yang sesungguhnya lewat serangkaian perjalanan tak terduga. Hal tersebut tak sepenuhnya menjadikan plotnya predictable karena terbukti beberapa twist masih disimpan hingga menit-menit terakhir. Selain itu dunia penuh warna dan setting kreatif rekaan sutradara Rich mampu menghadirkan visualisasi yang mengagumkan, baik di dalam maupun di luar dunia game. 3D nya menarik tapi bukan harga mutlak untuk menikmati animasi ini.

Sedikit pengetahuan tentang dunia video game dibutuhkan untuk lebih “menjiwai” petualangan yang disajikan. Ya, dunia magis yang baru akan hidup setelah waktu “aktif” nya berlalu ini memang imajinatif, lengkap dengan interpretasi kode, bit, piksel, avatar, kabel yang membuat para gamer bernostalgia. Humornya yang sedikit keras mungkin lebih bekerja pada penonton dewasa tapi setidaknya anak-anak lebih menghargai motion tokoh-tokohnya yang teramat kartunis tersebut. Soundtrack ear-catchy dari Owl City, AKB48 dsb semakin menghidupkan suasana. 

Ohya, sebagai pembuka ada animasi pendek hitam putih berdurasi 7 menit bertitel Paperman. Kisahnya sederhana yaitu seorang pekerja pria yang secara kebetulan bertemu seorang wanita cantik di jalan. Tanpa sengaja wanita itu meninggalkan bekas lipstik di kertas kerja sang pria. Yang terjadi kemudian adalah usaha pria mencari jalan kembali ke wanita tersebut, tentunya dengan sedikit bantuan takdir. Tanpa suara dan kata-kata, romantisme manis ini murni mengandalkan bahasa gambar yang mungkin mengingatkan anda pada pasangan Carl dan Ellie dalam Up (2009). Love it!

Jika mau mencermati, ruang lingkup Wreck-It-Ralph sebenarnya tidak seluas yang dibayangkan. Penampilan berbagai cameo lah yang menjadikannya variatif, sebut saja zombie, pac-man, Q*bert dan deretan karakter familiar lainnya. Itulah sebabnya film tak pernah kehilangan fokus plot utamanya. Saya berharap kesuksesan yang diraih akan membuka pintu kesempatan bagi spin-off lainnya dalam frame yang lebih besar lagi. Sementara itu nikmatilah dahulu animasi dengan hati ini yang menitikberatkan pada aksi heroik serta konsep persahabatan yang bermakna dalam. Bagaimana merasa nyaman dengan diri sendiri meski kerap mendapat cap negatif. This is the best video game movie ever made!

Durasi: 
101 menit 

U.S. Box Office: 

$49,038,712 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 27 Oktober 2012

FRANKENWEENIE : Stop-Motion Heart Beats From Burton


Quotes: 
Susan: He was a great dog, a great friend.
Ben: The best dog a kid could have.
Susan: When you lose someone you love, they never really leave you. They move into a special place in your heart.
Victor: I don’t want him in my heart. I want him here with me.
Susan: I know. If we could bring him back we would.

Nice-to-know: 
Kolaborasi ketiga antara Winona Ryder dan Tim Burton setelah 21 tahun lalu lewat Edward Scissorhands (1991).

Cast: 

Charlie Tahan sebagai Victor Frankenstein 
James Hiroyuki Liao sebagai Toshiaki 
Atticus Shaffer sebagai Edgar 'E' Gore 
Catherine O'Hara sebagai Mrs. Frankenstien / Weird Girl / Gym Teacher 
Martin Short sebagai Mr. Frankenstein / Mr. Burgemeister / Nassor 
Martin Landau sebagai Mr. Rzykruski 
Winona Ryder sebagai Elsa Van Helsing 
Robert Capron sebagai Bob 

Director: 

Merupakan karya ke-28 bagi Tim Burton yang memulainya lewat short movie The Island of Doctor Agor di tahun 1971.

W For Words: 
Jika The Cabin in the Woods (2011) dianggap sebagai tribute terhadap film horor klasik maka film ini dapat dikatakan homage terhadap film monster klasik yang bukan kebetulan hadir dalam format animasi hitam putih 2D, 3D bahkan IMAX. Daya tarik utama tentunya ada pada sang kreator, Tim Burton yang telah menggagas ide ini sejak 28 tahun lalu lewat film pendek bertitel sama. Biar lambat asal selamat mungkin peribahasa yang paling tepat menggambarkan antusiasme publik terhadap adaptasi skrip yang kemudian dikembangkan oleh John August dan Leonard Ripps sejak tahun 2006 tersebut .

Sekolah dasar New Holland telah menggalakkan pekan ilmiah. Salah satu siswanya Victor adalah anak penyendiri yang punya ketertarikan besar terhadap sains bersama anjing setianya Sparky. Mr. & Mrs. Frankenstein menyuruh putranya untuk keluar rumah dan berolahraga. Inilah awal tragedi terjadi, kala Victor bermain baseball, Sparky tewas tertabrak mobil. Duka yang mendalam berganti menjadi harapan di kelas Mr. Ryzykruski ketika penjelasan terhadap energi petir dikemukakan. Eksperimen Victor di luar dugaan berhasil membangkitkan kembali Sparky hingga menimbulkan kericuhan pada seantero kota. 

Animasi ini masih berjalan dalam tradisi Burton, visualisasi gelap misterius, moralitas kontradiktif serta konsep kematian dan kehidupan seiring sejalan. Berbagai referensi dari Beetlejuice (1988), Edward Scissorhands (1990), A Nightmare Before Christmas (1993), Corpse Bride (2005) mungkin akan anda temui disini. Usaha Burton menampilkan nuansa 50an yang kental melalui kompleks perumahan dengan pekarangan retro terbilang berhasil. Konsep stop-motion animasi black and white yang dikerjakannya pada akhirnya dikonversi ke format 3D oleh Prime Focus World.

Tak salah jika anda menganggap kisah ini gabungan dari Lassie dan Frankenstein yang telah melegenda itu. Hubungan Victor dan Sparky seakan terbagi dalam 3 babak dengan ruang lingkup yang semakin luas. Pertama, anda akan melihat kasih sayang murni seorang anak laki-laki dan seekor anjing normal di sebuah rumah. Kedua, berganti menjadi sosok anjing monster yang segera menjadi kontroversi di sekolah. Ketiga, bertambahnya sosok hewan-hewan monster yang menimbulkan polemik di masyarakat. Disinilah persahabatan, persaingan dan pengorbanan akan menjadi ujian yang paling berharga.

Dengan dukungan pengisi suara kompeten macam O’Hara, Short, Landau, Ryder, Hiroyuki Liao, Shaffer hingga si kecil Tahan menjadikan Frankenweenie terasa hidup! Arah blockbuster movie yang dituju di paruh terakhirnya sebelum ditutup ala Hollywood memang sedikit mengaburkan esensi klasik personal yang terbangun sejak menit pertama. Tidak perlu dipermasalahkan jika drama, komedi, horor nya berjalan seimbang di atas titian makna keluarga dan persahabatan yang kuat. Mengandalkan hati dan detak jantung, Burton pun sukses menghadirkan animasi universal bagi semua kalangan usia. By the way, 2D is enough to watch.

Durasi: 
87 menit

U.S. Movie Box Office: 
$28,238,779 till October 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 17 Oktober 2012

SAMMY 2 : ESCAPE FROM PARADISE Sluggish Animation Still With Environmental Messages


Tagline: 
Watch and Sea.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh nWave Pictures, Illuminata Pictures, Motion Investment Group, BNP Paribas Fortis Film Fund, Le Tax Shelter du Gouvernement Fédéral de Belgique dan uFilm ini sudah rilis di negara asalnya pada tanggal 15 Agustus 2012 yang lalu. 

Voice:
Pat Carroll
Carlos McCullers II
sebagai Ray
Cinda Adams sebagai Veterinarian
Dino Andrade sebagai Manuel Hogfish
Chris Andrew Ciulla sebagai Russian Snowcrab
Isabelle Fuhrman sebagai Shelly
Joe Thomas sebagai Lulu the Lobster
Billy Unger sebagai Sammy


Director: 

Merupakan feature film ketiga bagi Ben Stassen yang diawali dengan Fly Me to the Moon (2008).

W For Words: 
Kemunculan produksi Belgia, Sammy’s Adventure : The Secret Passage di tahun 2010 lalu rasanya tidak banyak dikenang (atau diketahui) orang. Saya pribadi hanya memberinya ponten 6.5 dan nyaris tertidur selama menyaksikannya karena bingung akan konsep animasi dokumenter yang diusungnya. Dua tahun kemudian, penulis skrip Domonic Paris dan sutradara Ben Stassen kembali lagi dengan premis yang tidak jauh berbeda yaitu isu lingkungan hidup yang terancam karena keegoisan manusia hingga merugikan ekosistem bawah laut. 

Dua kura-kura bersahabat karib, Sammy dan Ray tengah menggiring telur-telur cikal bakal cucu Ricky dan Ella menuju lautan bebas. Saat itulah mereka diganggu kawanan elang yang berniat menyantapnya. Ancaman lebih besar datang ketika sekawanan pemburu gelap menangkap mereka dan memenjarakannya di akuarium megah bawah laut penarik wisatawan di Dubai. Disana, Sammy berkenalan dengan si ikan buntal Jimbo, si lobster Lulu dan juga kuda laut pemimpin mereka Big D. Pelarian pun segera dirancang dimana kebebasan adalah tujuan akhirnya.

Jika pada prekuelnya membahas perjalanan besar Sammy kecil menjadi dewasa melewati berbagai macam perairan selama 50 tahun, maka kali ini rentang waktu dan ruang lingkupnya dipersempit. Hal ini menyebabkan sisi edukasinya tak lagi tercapai, tinggal menyisakan plot cerita yang usang, klise dan mudah diterka. Dialog yang tercipta antar karakternya pun hanya pengulangan belaka kalau tidak mau dikatakan tidak kreatif dan membosankan. Nyaris tak ada joke yang menggigit untuk menjaga rasa ketertarikan anda hingga akhir.

Satu-satunya yang pantas dihargai adalah kerja keras animator dalam mewujudkan obyek underwater yang memanjakan mata. Yang lebih mengesankan lagi adalah efek 3D nya yang membuat mereka semua tampak “bermunculan” di hadapan anda terlebih pada 15 menit pertama. Tatanan akuarium megah yang lebih mirip istana laut itu juga terbangun detail dengan segala seluk-beluknya mulai dari rongga pipa, saluran pembuangan, pintu air, pagar pembatas dan sebagainya yang menjadikan panggung aksi yang mengasyikkan mulai dari berenang hingga kejar-kejaran seru.


Sayangnya kelebihan itu masih tidak mampu menambal kelemahan alur cerita yang begitu kentara. Sammy’s Adventure 2 atau Sammy 2 : Escape From Paradise ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan standar animasi studio besar Hollywood jaman sekarang. Namun setidaknya pesan moral yang diembannya masih cukup efektif dicerna oleh penonton anak-anak pada khususnya. Kontribusi para pengisi suara juga tidak dapat diabaikan dimana kesemuanya terdengar wajar dan sesuai dengan situasi masing-masing. Tentunya suguhan musik Latin yang funky dan groovy juga semakin melengkapi. Actually i enjoyed this sequel slightly better than the previous one. Actually i enjoyed this sequel slightly better than the previous one. Don’t leave your cinema too soon for post-credit title scene.

Durasi: 
93 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 05 Oktober 2012

FINDING NEMO 3D : Quality Post-Conversion Enrich Your Vision


Quotes: 
Marlin: I can't read human.
Dory: Then we need to find a fish that can read this. Hey, look! Sharks!

Nice-to-know: 
Didedikasikan untuk mengenang Glenn McQueen (1960-2002), seorang animator Pixar yang namanya kemudian menjadi Lightning McQueen dalam Cars.

Voice:
Albert Brooks sebagai Marlin
Ellen DeGeneres sebagai Dory
Alexander Gould sebagai Nemo
Willem Dafoe sebagai Gill
Brad Garrett sebagai Bloat
Allison Janney sebagai
Peach

Director: 

Merupakan kerjasama pertama bagi Andrew Stanton dan Lee Unkrich.

W For Words: 
Film dengan pembukaan terbesar sepanjang sejarah animasi pada masanya ini telah menetapkan standar tersendiri bagi premis serupa yang kemudian bermunculan, sebut saja Shark Tale (2004), Sammy’s Adventure (2010) dan sederetan judul lainnya. Setelah nyaris satu dekade sukses dalam peredaran dvd, blu-ray, komik, merchandise serta sejumlah bentuk lainnya, Walt Disney dan Pixar sepakat melakukan konversi 3D dan mengedarkannya kembali secara terbatas di bioskop. Apakah anda masih merasa perlu menontonnya jika demikian? Yes, you should!
Sebagai bonus alias tradisi film pendek pembuka, kali ini “Partysaurus Rex” akan membuat anda tertawa sambil bergoyang. Tokoh Rex yang juga anggota dari keluarga besar Toy Story kerap dituding sebagai penghancur pesta. Suatu saat ia menyelinap ke dalam kamar mandi dan menemukan sekelompok mainan yang hanya bisa bersenang-senang selama 15 menit per harinya. Rex melakukan upaya terbaiknya untuk membahagiakan mereka hingga akhirnya mendapat julukan pemeriah pesta sebelum tindakannya tersebut mulai ke luar batas.

Mari kembali lagi kisah pada sepasang ikan badut ayah dan anak yang menemui petualangan masing-masing. Nemo berjumpa dengan Gill, Bloat, Peach, Gurgle, Bubbles, Deb/Flo di akuarium milik seorang dokter gigi. Sedangkan Marlin bersua dengan Dory yang mengidap short term memory lost. Keduanya sama-sama berjuang demi kebebasan sekaligus pertemuan kembali walau harus menghadapi ancaman maut yang tidak ringan. Bagaimana skrip karya Andrew Stanton, Bob Peterson dan David Reynolds bertutur secara seimbang dan efektif untuk segala kalangan usia.

Nostalgia anda akan kembali saat menyaksikan beberapa karakter pendukung yang sukses mencuri perhatian terlepas dari minimnya screentime mulai dari si pelikan Nigel, si penyu Crush, kumpulan kepiting jago kungfu, gerombolan merpati bersuara unik sampai si kecil penyiksa binatang Darla yang kemunculannya selalu ditandai dengan scoring musik dari Psycho (1960). Pesan moral yang disampaikan pun jelas tanpa mesti terkesan menggurui sehingga film ini menuai review positif serta disukai kritikus dan publik tanpa terkecuali.

Konversi 3D yang dilakukan tergolong memuaskan dibanding upaya sejenis pada umumnya. Pixar tampak memperbaiki kualitas gambar disana-sini secara detail, scene per scene sesuai posisinya baik foreground maupun background. Kedalaman gambar tercipta meski tidak sampai mengakibatkan timbulnya obyek-obyek terkait. Toh kekayaan warna yang dimiliki sudah cukup memanjakan mata penonton. Petualangan bawah laut ini seakan mengajak anda mengarungi samudera atau akuarium dengan mata kepala sendiri sambil merasakan kesenangan dan ketegangan sekaligus.

Tidak ada adegan tambahan atau perpanjangan durasi, Finding Nemo 3D tetap setia pada versi originalnya. Sebuah karya cult yang tetap layak diapresiasi dan disaksikan di layar besar baik oleh penonton lama ataupun baru. Harus diakui, tahun-tahun berlalu yang banyak diisi oleh film-film sejenis dengan kualitas lebih buruk memang sedikit mengurangi kenikmatan saya menontonnya dibandingkan kali pertama tahun 2003. Well, fortunately its’ rich visual enhancement and quality post-conversion will satisfy you better. Put on your 3D glasses please!

Durasi: 
100 menit

Worldwide Movie Box Office: 
$867,893,978 till Nov 2011)

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 15 Juli 2012

ICE AGE 4 : CONTINENTAL DRIFT Familiar Adventure Forgetable Additional Series

Quotes:
Peaches: So tell me, when exactly will I be allowed to hang out with boys?
Manny: When I'm dead. Plus three days, just to make sure I'm dead.

Nice-to-know:
Awalnya film berjudul Ice Age: Th4w dimana bercerita seputar Manny, Sid, Diego, Ellie dan Scrat yang membeku sebelum dicairkan di museum masa kini.

Cast:
Ray Romano sebagai Manny
Seann William Scott sebagai Crash
Queen Latifah sebagai Ellie
Denis Leary sebagai Diego
John Leguizamo sebagai Sid
Peter Dinklage sebagai Captain Gutt
Wanda Sykes sebagai Granny
Jennifer Lopez sebagai Shira
Keke Palmer sebagai Peaches
Josh Gad sebagai Louis


Director:
Mike Thurmeier melanjutkan karya penyutradaraannya di installment ketiga dengan menggandeng debutan Steve Martino.

W For Words:
Saya merupakan salah satu penggemar berat franchise animasi Ice Age di samping Shrek dan Toy Story. Ketiga seri sebelumnya cenderung memuaskan meski kekhawatiran sempat muncul dalam benak jika installment keempatnya ini akan kehabisan energi. Michael Berg yang juga menulis seri 1 dan 3 nya kali ini kembali menggandeng Jason Fuchs yang lebih dikenal sebagai aktor televisi untuk menulis skrip bersama. Jangan ketinggalan film pendek The Simpsons yang berjudul “The Longest Daycare” sebagai menu pembukanya yang amat memikat itu.

Dunia seakan terbelah, memecah benua menjadi dataran-dataran terpisah. Manny, Diego dan Sid harus bertualang sekali lagi menggunakan potongan es sebagai kapal, mencari jalan kembali pada keluarga masing-masing. Perjalanan yang semula mulus itu lantas dihempas badai sebelum menghadapkan mereka pada kawanan bajak laut yang diketuai oleh Kapten Gutt sebagai pemilik ambisi penguasa lautan. Sid yang didampingi neneknya, Diego yang jatuh cinta pada Shira harus mendukung Manny bertemu dengan Ellie dan putri keduanya yang beranjak remaja, Peaches.

Kemunculan Scrat seperti biasa dinantikan sebagai penyeimbang yang fresh. Adegan pembuka yang memperlihatkannya mengacaukan “bumi” terbilang hilarious meski harus mengabaikan korelasi waktu itu sendiri, apakah benar ia dan Manny cs berada pada jaman yang sama? I don’t think so. Adegan penutup yang mempertontonkan keserakahannya akan biji kenari merupakan pesan moral yang patut diingat baik anak-anak maupun orang dewasa sekalipun. Yes, Scratlantis is one super idea, not to giving away a lot of spoilers here.

Terus terang petualangan yang dilalui Manny, Diego dan Sid tidaklah sekuat pada seri sebelumnya. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kemiripan elemen dengan film yang sudah-sudah, sebut saja Kapten Gutt dan Sirene yang mengingatkan anda pada Blackbeard dan Syrena dalam franchise Pirates of the Caribbean. Tidak dijelaskan apa yang melatarbelakangi aksi bajak laut yang tiba-tiba muncul tersebut. Romantika Diego dan Shira juga tidak tergali dengan baik, tidak seperti Louis dan Peaches yang mengajarkan bahwa perbedaan tak sewajarnya mengganggu persahabatan.

Animasinya sendiri masih tergolong berisi dan penuh warna sebagai penyokong karakter-karakter baru maupun lama yang variatif itu. Efek 3D nya lumayan mendukung walau tidak sampai megah sekali. Adegan badai dan tornado di laut serta pertempuran di akhir yang melibatkan si paus Precious mampu mencuri perhatian anda yang mungkin sudah mulai bosan dengan plot yang itu-itu saja tanpa kejutan berarti. Sayangnya tidak dibarengi oleh penerapan humor menggigit yang masih labil, dalam arti terkadang berhasil, terkadang tidak.

Ice Age 4 : Continental Drift lebih terasa sebagai pelengkap saja terhadap keseluruhan seri tanpa mampu menandingi kualitas tiga episode sebelumnya yang benar-benar mengikatkan penonton pada karakter-karakternya tersebut. Tidak ada tikungan yang berarti untuk membangkitkan excitement anda yang terjaga di level standar. It’s fairly plain for adults but still enjoyable for kids despite its fun ride for such new adventure. Film ini jelas hanya diperuntukkan bagi anda yang kangen dengan Manny cs dan sekadar ingin bernostalgia dengan kondisi jaman es yang imajinatif tersebut. Well, I do hope this will be the last installment from Fox before gets ugly.

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$46,000,000 in opening week mid July 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 10 Juni 2012

MADAGASCAR 3 : EUROPE’S MOST WANTED Colorful Vibrant Circus Save The Show


Quotes:
Alex: In order to get home, we will come up with an act that will blow everyone away!

Nice-to-know:
Sekuel yang masih diproduksi oleh DreamWorks Animation ini berjarak 7 tahun dari seri pertama dan 4 tahun dari seri keduanya.

Voice:
Ben Stiller sebagai Alex
Chris Rock sebagai Marty
David Schwimmer sebagai Melman
Jada Pinkett Smith sebagai Gloria
Sacha Baron Cohen sebagai King Julien XIII
Cedric the Entertainer sebagai Maurice
Jessica Chastain sebagai Gia
Frances McDormand sebagai Captain Chantel DuBois
Andy Richter sebagai Mort
Bryan Cranston sebagai Vitaly

Director:
Conrad Vernon bergabung dengan duet Eric Darnell dan Tom McGrath yang sudah menyutradarai dua seri sebelumnya.

W For Words:
Kuartet Alex si singa, Marty si zebra, Melman si jerapah dan Gloria si kuda nil merupakan penghuni kebun binatang New York yang kompak dan atraktif. Petualangan mereka terbukti telah menjadi daya tarik utama DreamWorks Animation sejak kesuksesan Madagascar (2005) dan Madagascar: Escape 2 Africa (2008) dalam peredaran domestik dan internasionalnya yang menggembirakan. Eric Darnell yang sedari awal berperan aktif sebagai penulis skrip kali ini bertandem dengan Noah Baumbach mencari sensasi baru yang diharapkan kembali “menggigit” setelah 4 tahun berselang.

Mendapati diri ditipu mentah-mentah oleh gerombolan pinguin, empat sahabat ini melakukan pengejaran sampai Monte Carlo. Kehadiran mereka menarik perhatian Animal Control yang dikepalai oleh kapten wanita ambisius Chantel Dubois hingga terpaksa bergabung dengan kawanan sirkus Eropa. Alex harus berbohong bahwa ia dan teman-temannya merupakan anggota sirkus Amerika agar diterima oleh Gia, Vitaly dkk. Tujuannya tentu kembali ke Big Apple, terutama kebun binatang Central Park setelah rangkaian tur Eropa mulai dari Rome hingga London. Akankah atraksi mereka berhasil menarik penonton sekaligus menuntaskan misi bersama?

Konsistensi karakteristik Alex, Marty, Gloria dan Melman tetap dipertahankan. Stiller, Rock, Schwimmer, Pinkett-Smith masih tetap eksentrik dengan keunikan masing-masing. Catatan khusus bagi Marty, dansa Afro polkadot lengkap dengan tampilan colorful nya itu sangat inspiratif. Sedangkan Baron Cohen melanjutkan rayuan mautnya terhadap Sonia, beruang betina yang loveable itu. Cute couple with slow-mo and background music! Pendatang baru Gia yang disuarakan oleh Chastain sebagai love interest nya Alex memang manis, kontras dengan Vitaly yang disulihkan dengan aksen Rusia kental oleh Cranston. Jangan lupakan pula kontribusi Short sebagai singa laut Stefano yang menyenangkan itu.

Beberapa elemen dalam animasi ini tergolong over the top, jika diperuntukkan untuk anak-anak mungkin dapat dimaafkan tetapi bagi orang dewasa bisa jadi mengangkat sebelah alisnya. Paling nyata adalah aksi impossible Vitaly menembus ring berdiameter semakin kecil, terjadi hanya dalam kedipan mata saja. Lainnya adalah aksi tak kenal lelah Dubois mengejar Alex,  lihat adegan pembuka saat ia melacak jejak, menerobos dinding sekaligus melompati gedung bertingkat. Well, those are too much. Ekspresi bengisnya mungkin mengingatkan anda pada tokoh Cruella DeVille dalam 101 Dalmatians (1996).

Bagan terbaik sekuel ini jelas ada pada pertunjukan sirkus ala Cirque de Soleil nya. Semua tokoh berbaur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam mempertontonkan aksi bergemuruh luar biasa yang menyihir audiens dengan balutan warna-warni ciamik dan tembang enerjik “Fireworks” milik Katy Perry. Mata anda tak akan berkedip menikmatinya. Penempatan kamera dengan berbagai arah sudut pandang juga menjadikan efek 3D nya terasa lebih dinamis. Terima kasih pada kinerja trio sutradara Darnell-McGrath-Vernon yang bergerak cepat untuk meminimalkan unsur kemustahilannya disana-sini.

Madagascar 3 memang tidak berambisi menjadi film animasi terbaik yang akan dikenang selama-lamanya oleh penonton tetapi cukup memuaskan selama kurang dari satu setengah jam durasinya. Drama yang tak berlebihan, komedi penghadir tawa demi tawa serta aksi penggugah rasa mampu menata struktur yang kokoh sekaligus membuat anda tetap terhubung secara emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Feel the European sensation buoyed by some famous tracks along the way. Yes, you have the most wanted simple entertainment for this summer and the producers will likely continue to the fourth, Madagascar 4ever perhaps? Move it!

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 24 Maret 2012

THE LORAX : Saving Thneeds For Ecological Reminder


Quotes:
Ted: The last seed?
Once-ler: It's not about what it is. It's about what it can become.

Nice-to-know:
This is the first film to feature Universal's 100th Anniversary logo.

Voice:
Danny DeVito sebagai The Lorax
Ed Helms sebagai The Once-ler
Zac Efron sebagai Ted
Taylor Swift sebagai Audrey
Betty White sebagai Grammy Norma
Rob Riggle sebagai Mr. O'Hare

Director:
Merupakan film kedua bagi Chris Renaud setelah Despicable Me (2010) dan kolaborasi pertama dengan Kyle Balda yang sebelumnya menangani beberapa film pendek.

W for Words:
Koleksi cerita Dr. Seuss memang amat beragam dari yang pendek hingga yang panjang. Sebagian di antaranya sudah diadaptasi ke layar lebar dengan pencapaian tersukses adalah How the Grinch Stole Christmas! (2000). Kali ini buku cerita anak-anak berisi 45 halaman pun ditranskripkan menjadi skenario oleh duo penulis, Ken Daurio dan Cinco Paul ke dalam animasi berdurasi 86 menit yang sebetulnya bertemakan serius ini yaitu pelestarian alam dari campur tangan manusia.
Bocah berusia 12 tahun Ted bertekad memenangkan hati gadis pujaannya Audrey dengan menelusuri kisah Lorax, makhluk oranye penggerutu berkumis lebat yang selalu berjuang untuk kestabilan ekosistem yang pernah dirusak oleh manusia egois bernama Once-ler yang seenaknya menggunduli pohon Thneeds untuk kepentingannya sendiri. Sayangnya petualangan Ted harus ditentang oleh walikota eksentrik Mr. O’Hare yang tidak ingin mengubah tata kotanya dengan cara apapun juga.

Plot utamanya memang sederhana yaitu pertemuan laki-laki dan perempuan. Namun di luar itu, subplotnya mengenai pelestarian alam memang amat kuat dinarasikan lewat animasi grafis yang keindahannya mencengangkan termasuk desain Thneedville lawas dan anyar yang sangat kontras. Meski demikian unsur 3D yang dibebatkannya nyaris tidak memberikan kontribusi apa-apa selain penampakan “timbul” yang minim, jauh jika dibandingkan dengan karya sutradara Chris Renaud sebelumnya.
Percakapan menggigit antara Ted dan Once-Ler di balik gubuknya merupakan kekuatan utama film ini. Rasa penasaran Ted disulihkan dengan baik oleh Zac Efron. Sama halnya kebijaksanaan Lorax yang disuarakan dengan maksimal oleh Danny DeVito. Sedangkan kredibilitas tinggi patut dilayangkan kepada penjiwaan naik turun Ed Helms yang hidup dalam penyesalan setelah termakan oleh ambisi pribadinya semasa muda lewat penemuan Truffula selain dorongan untuk memenuhi kebutuhan keluarga besarnya sendiri. Kelembutan suara Taylor Swift sebagai Audrey juga memperkaya keragaman karakter disini.

Proyek yang beresiko tinggi ini rasanya akan lebih dapat dinikmati oleh anak-anak yang menemukan lucunya tingkah laku anak beruang atau imutnya trio ikan bernyanyi sambil berkoreografi. Nyatanya orang dewasa mungkin tidak akan terlalu terkesan begitu mengetahui sesungguhnya apa yang ingin dikampanyekan film ini yaitu menanam sebatang pohon demi kelangsungan penghijauan di muka bumi. Tujuan yang mulia karena digelorakan lewat animasi cantik semi-persuasif yang untungnya tidak terkesan memaksa ini. Simply let the trees grow. We should start caring bout it without being reminded!

Durasi:
86 menit

U.S. Box Office:.
$121,724,850 till March 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 Desember 2011

HAPPY FEET 2 : Pencarian Identitas Kiamat Bangsa Pinguin

Quotes:
The Mighty Sven: If you want it, you must will it. If you will it, it will be yours.


Storyline:
Mumble kesulitan menghadapi putranya Erik yang tidak bisa berdansa tetapi terobsesi untuk terbang melihat figur idolanya, The Mighty Sven. Tak lama kemudian, bencana alam yang menyebabkan dataran yang tertutup es mulai hancur perlahan-lahan pun mengancam eksistensi bangsa penguin yang terjebak tanpa makanan dan jalan keluar. Mumble dan Gloria beserta Sven dan kawan-kawan harus memutar otak untuk menyatukan bangsa penguin agar tidak kehilangan harapan walau harus menanggung resiko bahaya pribadi demi tujuan yang lebih mulia lagi.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Warner Bros. Pictures, Village Roadshow Pictures, Kennedy Miller Mitchell dan Dr D Studios, sekuel ini beredar di Amerika Serikat pada tanggal 18 November 2011.

Voice:
Elijah Wood sebagai Mumble
Pink sebagai Gloria
Ava Acres sebagai Erik
Brad Pitt sebagai Will the Krill
Matt Damon sebagai Bill the Krill
Hank Azaria sebagai The Mighty Sven

Director:
Sekuel pertama yang dikerjakan George Miller adalah Mad Max 2: The Road Warrior (1981).

Comment:
Masih ingat dengan kisah penguin yang pandai berdansa menderapkan kaki di saat mencari jati dirinya yang berbeda dari kawanannya? Happy Feet (2006) waktu itu mencatat sukses luar biasa yaitu perolehan box office 198 juta dollar dari peredaran di Amerika Serikat saja yang kemudian dilengkapi oleh gelar Film Animasi Terbaik dalam ajang Academy Awards 2007. Tidak heran jika 5 tahun kemudian, muncul sekuelnya dengan tema yang lebih dewasa.
Gary Eck dan Paul Livingston melengkapi line-up George Miller dan Warren Coleman yang memang sudah terlibat dari prekuelnya. Kali ini mereka berempat mengajak penonton untuk mengenal sosok Mumble dan Gloria sebagai orangtua dari putra kecil mereka, Erik yang memiliki kesulitan untuk menggerakkan kaki. Bukan hanya itu, isu gangguan keseimbangan alam juga disajikan sebagai latar belakang cerita yang memang bisa mengancam eksistensi makhluk hidup tanpa terkecuali.

Wood masih menyumbangkan kontribusi yang sama dalam tokoh Mumble yang lugu tetapi tulus itu. Pink yang terpilih sebagai Gloria di luar dugaan mampu memberikan aksen yang berbeda. Tone suara rockernya ternyata mampu menyanyikan lagu ballad dengan baik seperti dalam nomor Do Your Thing, Bridge of Light atau Rhythm Nation. Acres juga menyulihkan suara si kecil Erik dengan lumayan meskipun dalam lagu Erik’s Opera yang sangat mendalam itu harus diback up oleh Omar Crook. Jangan lupakan juga gaya humor khas Azaria dan Williams dalam sosok Ramon dan Sven sekaligus.
Entah mengapa saya merasa tokoh Will dan Bill the Krill yang sebetulnya berada di luar konteks cerita utama seakan dibiarkan memiliki porsi tersendiri dengan petualangan mencari kerumunannya sendiri. Mungkin mengingatkan anda pada sosok Scrat dalam trilogi Ice Age yang amat sukses mencuri perhatian di setiap kemunculannya itu. Penunjukan Damon dan Pitt untuk mengisi suara dua udang kecil yang warna dan tekstur tubuh detil yang enak dipandang itu juga terbilang bijak.

Sutradara Miller bisa jadi lupa bahwa Happy Feet seharusnya menjadi tontonan seluruh anggota keluarga. Sekuelnya ini sedikit terlalu gelap untuk dinikmati anak-anak karena karakter penguin-penguin muda yang tak jarang diberikan tanggungjawab berat untuk memikul bahaya. Efek 3D memang ditempatkan secara benar di beberapa bagian bawah laut terutama di setiap scene Will-Bill yang menyala itu tapi rasanya tidak terlalu penting dalam memberikan nilai tambah.
Happy Feet Two ini sebetulnya sebuah sekuel yang tak diperlukan mengingat premis pencarian jati diri penguin yang memiliki kebiasaan unik sulit untuk diulang atas dasar apapun juga. Terbukti bagian pembuka hingga pertengahan tidak menawarkan hal-hal baru. Beruntung setelah itu menuju ending, intensitasnya naik lewat berbagai momen ajaib nan menyentuh yang banyak terbantu oleh lagu-lagu mixed up lawas seperti We Are The Champions, Ice Ice Baby ataupun Dragostea Din Tei. Nilai yang dapat dipetik tentunya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup harus diperhatikan terutama sewaktu menghadapi bahaya yang bisa menjerumuskan semua pihak.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$51,704,566 till Dec 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent