XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 30 Oktober 2011

REAL STEEL : Robot Pemersatu Ayah Anak Keras Hati

Quotes:
Bailey Tallet: 1200 miles for a kiss.
Charlie Kenton: Worth it. So worth it.


Storyline:
Masa depan dimana robot petinju merupakan olahraga terpopuler, Charlie Kenton terus saja berjudi dengan robot miliknya yang dengan mudah dihancurkan. Hutang yang menumpuk di tengah hidup yang serabutan semakin lengkap saat mantan kekasihnya yang meninggal malah meninggalkannya seorang putra berusia 11 tahun bernama Max. Kesulitan uang, Charlie “menjual” Max pada bibinya yang bersuamikan seorang pria tua konglomerat dalam kurun waktu 2 minggu. Sambil menunggu, Max yang juga tertarik pada robot justru melengkapi hidup Charlie yang berantakan, terutama dengan kehadiran robot “sparring” Atom yang tidak pernah diperhitungkan untuk bertarung. Akankah kolaborasi ayah anak ini akan berhasil pada akhirnya?

Nice-to-know:
Setiap robot dibangun utuh secara fisik dan animasi CGI nya. Untuk gerakan spesifik tertentu dikontrol oleh lebih dari 20 orang.

Cast:
Film keempat yang dibintanginya di tahun 2011 setelah Butter, Hugh Jackman sebagai Charlie Kenton
Pemeran Thor muda versi modern bernama Dakota Goyo ini berperan sebagai Max Kenton
Evangeline Lilly sebagai Bailey Tallet
Anthony Mackie sebagai Finn
Kevin Durand sebagai Ricky
Olga Fonda sebagai Farra Lemkova
Karl Yune sebagai Tak Mashido

Director:
Merupakan film ketiga dari sutradara Shawn Levy yang dirilis dalam format IMAX setelah Night at the Museum (2006) dan Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009).

Comment:
Mencari sebuah hiburan drama keluarga bernafaskan klasik tapi bernuansakan modern berkualitas? Inilah jawaban Steven Spielberg, Robert Zemeckis dan sederet nama beken lainnya yang duduk di jajaran produser eksekutif atas pertanyaan tadi. Konon ide ceritanya berasal dari salah satu episode serial televisi lawas Twilight Zone yaitu Steel (#5.2) di tahun 1963, sebagian orang bahkan menyebutnya sebagai remake. Saya tidak pernah menyaksikannya dan sebagian besar dari anda rasanya juga tidak. Jika ada, mohon tinggalkan komentar di kolom berikut mengenai komparasi singkatnya. Terima kasih.
Cerita yang ditulis oleh Dan Gilroy dan Jeremy Leven kemudian dikembangkan sedemikian rupa oleh penulis skrip John Gatins yang mengambil setting waktu kisaran tahun 2025 dimana teknologi canggih nan futuristik sudah diterapkan dimana-mana. Meski demikian nuansa country masih terasa kental mendampingi perjalanan ayah anak Charlie dan Max Kenton dalam menelusuri rimba pertarungan robot petinju dari satu tempat ke tempat lain.

Laga robot petinju disini merupakan daya tarik utama. Tak kurang dari 3 robot yang dimiliki keluarga Kenton mulai dari Ambush, Noisy Boy hingga Atom silih berganti ditampilkan dengan karakteristik masing-masing. Belum lagi kemunculan si robot jawara Zeus milik duet sombong Lemkova dan Mashido yang teramat tangguh dan canggih. Berbanding terbalik dengan Atom yang terlihat lemah tetapi seakan memiliki emosi dari cahaya biru di matanya. Acungan jempol bagi penata spesial dan visual efek karena sukses menghasilkan pergerakan robot yang begitu luwes dan natural.
Konflik keluarga yang sedari awal ditunjukkan oleh Charlie yang keras kepala nyatanya semakin runyam dengan hadirnya si kecil Max yang tak kalah teguh pendiriannya. Jika pertengkaran ayah anak yang anda harapkan? Itu memang terjadi. Namun chemistry keduanya sangatlah kuat, menegaskan peribahasa “Darah lebih kental daripada air.” sehingga tak jarang emosi anda luluh lantak menyaksikan interaksi mereka lewat tatap mata, bahasa tubuh dan pertukaran tutur kata yang sengit.

Kali ini kita akan kembali mengenal Jackman sebagai manusia, bukan superhero. Karakter Charlie di tangannya terasa meledak-ledak dengan postur fisik yang sangat menunjang. Tak sia-sia Sugar Ray Leonard mengajarnya langsung teknik-teknik bertinju untuk terlihat meyakinkan. Si kecil Goyo juga secara gemilang mampu menjiwai karakter Max yang polos dan ingin selalu percaya pada mimpi-mimpinya. Tak kalah mencuri perhatian adalah Lilly yang pengertian dan berjiwa besar. Andai karakter Bailey lebih banyak mendapat porsi disini sekaligus menetralkan kekerasan dengan kelembutan.
Sutradara Levy berhasil menangkap momen-momen menyentuh dengan brilian, apalagi didukung oleh scoring music indah milik Danny Elfman di sepanjang film yang silih berganti menggelorakan dan menghangatkan suasana. Setiap adegan dalam film ini tidak diramunya dengan berlebihan termasuk pertarungan keras antar robot yang mengingatkan anda pada film-film tinju manusia macam Rocky (1976) ataupun Raging Bull (1980) dengan hasil akhir yang sudah bisa diduga tapi tetap layak ditunggu.

Real Steel sesungguhnya mengisahkan cinta dan kekuatan yang memperjuangkannya. Sesederhana itu! Tak peduli berapa kali anda menerima pukulan atau cobaan, kemampuan bertahan dan terus mencoba capai apa yang diyakini sangatlah layak dilakukan. Film aksi drama yang pantas disaksikan seluruh anggota keluarga demi sebuah pembelajaran yang teramat menghibur. Bersiaplah untuk berteriak, menangis, tertawa sambil merasakan kebesaran “hati baja” yang sesungguhnya telah dimiliki oleh setiap manusia itu.

Durasi:
127 menit

U.S. Box Office:
$66,732,152 till end of Oct 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 29 Oktober 2011

JOHNNY ENGLISH REBORN : Tiga Vortex Agen Rahasia Dodol

Tagline:
A little intelligence goes a long way


Storyline:
Insiden di Mozambique membuat Johnny English pension dari MI-7 dan memilih untuk menenangkan diri bersama biksu-biksu Tibet. Takdir membuat Pamela dari Her Majesty's Secret Service harus menugaskan Johnny kembali untuk menghentikan sekelompok pembunuh bayaran internasional yang ingin menghabisi pemimpin dunia sekaligus menciptakan kekacauan global. Johnny yang juga dilengkapi dengan persenjataan unik bin ajaib itu didaulat bekerjasama dengan Agent Tucker. Berhasilkah mereka menumpas operasi yang KGB, CIA dan bahkan MI-7 tersebut sebelum terlambat?

Nice-to-know:
Pierce Brosnan sempat dikabarkan akan mengisi salah satu peran dalam film ini. Namun akhirnya mantan gadis Bond, Rosamund Pike dalam Die Another Day (2002) yang membintanginya.

Cast:
Pertama kali muncul dalam film pendek televisi Canned Laughteri tahun 1979, Rowan Atkinson kembali memerankan Johnny English
Gillian Anderson sebagai Pamela
Rosamund Pike sebagai Kate
Dominic West sebagai Ambrose
Daniel Kaluuya sebagai Agent Tucker
Pik Sen Lim sebagai Pembunuh China

Director:
Oliver Parker yang juga dikenal sebagai aktor ini pertama kali mengerjakan Othello (1995). Film ini adalah karya layar lebarnya ke-9 sejauh ini.

Comment:
Anda termasuk pecinta franchise James Bond? Saya yakin nyaris suara bulat berkata iya, tidak peduli generasi tua ataupun muda. Bagaimana jika franchise tersebut diparodikan? Tidak hanya sekali tetapi dua kali? Rentang waktu 8 tahun setelah Johnny English (2003) rasanya cukup panjang tetapi tidak masalah jika duet William Davies dan Hamish McColl yakin mampu menghasilkan skrip yang jauh lebih bagus dibandingkan pendahulunya tersebut.
Rowan Atkinson.Siapa yang tidak mengenal ketololannya lewat serial televisi legendaris Mr. Bean itu. Rowan kini melanjutkan peran agen rahasia MI-7 yang paling tidak diminati. Tidak usah pertanyakan bagaimana ia bisa dipercayakan menangani misi penting. Cukup duduk manis menikmati aksi konyolnya di sepanjang durasi film yang membuat gemas bin ngakak. Penampilannya sedikit lebih “kelimis” dan berwibawa disini, bisa jadi karena pengaruh “mendalami ilmu” di Tibet bersama para biksu?

Di luar nama Rowan, Anderson dan Pike menjadi kembang alias daya tarik tersendiri. Anderson dengan wibawanya, tak jarang mengingatkan kita pada karakter Dana Scully dalam The X-Files. Lain lagi Pike dengan gaya elegannya menjadi “match” yang sepadan bagi Johnny English. Sedangkan Kaluuya seakan ditakdirkan sebagai Chris Tucker disini dengan nama yang juga serupa “Agent Tucker”! Kombo “pin-pin-bo” hitam putih ini lumayan ampuh memancing tawa getir penonton.
Satu yang saya cermati adalah kemunculan Pik Sen Lim yang timbul tenggelam. Wanita tua Chinese berpostur pendek ini ditugaskan menghabisi Johnny English sejak awal. Permainan kucing tikus keduanya yang terjadi tiga kali lebih merupakan repetisi formula komedi yang cukup mengganggu. Johnny kerapkali mendapat kesempatan menghabisinya tetapi selalu berakhir dengan bertindak bodoh. Meski demikian, penampilan Pik kali ini akan memorable bagi sebagian orang, termasuk saya!

Sutradara Parker jelas menggunakan waktunya untuk bercerita secara lebih efektif, memberikan kesempatan penonton untuk mencerna elemen aksi dan komedi yang saling bersinergi. Visualisasinya pun lumayan menjanjikan berkat setting lokasi yang variatif dan juga proses editing yang cukup efisien. Scoring musik milik Ilan Eshkeri bekerja dengan baik memainkan tone film, konsistensinya senada dengan film-film James Bond dalam meramu ketegangan terlebih di penghujung cerita.
Saya menemukan Johnny English Reborn ini masih di atas prekuelnya dari segi storytelling dan plot cerita yang jauh lebih reasonable untuk diikuti. Tidak munculnya Rowan Atkinson dalam jangka waktu panjang bisa jadi memberi waktu bagi para penggemar untuk merindukannya. Memang bahasa tubuh dan pola pikir komediknya masih itu-itu saja yang membuat geregetan tetapi setidaknya masih mampu memancing derai tawa yang sesekali disertai air mata bahagia. Nikmatilah waktu anda bersama sarjana universitas kenamaan Newcastle dan Oxford ini dan mohon jangan ragukan intelejensi aslinya.

Durasi:
101 menit

U.S. Box Office:
$3,833,300 in opening week end of Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 28 Oktober 2011

RA ONE : Aktualisasi Hitam Putih Dunia Game

Quotes:
Shekhar: Bullets don't win you a battle, your heart does...


Storyline:
Shekhar dan Sonia adalah pasutri berbahagia yang memiliki satu putra cerdas bernama Prateek. Shekhar sendiri yang bekerja di perusahaan video game tengah mengembangkan proyek terbarunya yang diinspirasi dari permintaan Prateek yaitu penjahat yang lebih hebat daripada jagoannya. Terciptalah tokoh jahat Ra.One alias Raavan dan tokoh baik G.One alias Good One dimana optimisme kesuksesan membubung tinggi. Sayangnya terjadi kesalahan teknis hingga Ra.One dapat diproyeksikan ke dunia nyata dan memburu Prateek yang menggunakan nama Lucifer. Kini tugas Shekhar dan juga G.One untuk menghancurkan Hart milik Ra.One sebelum semuanya terlambat.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Red Chillies Entertainment dan Bollywood Hollywood Production dimana tanggal rilis di negara asalnya, India adalah 26 Oktober 2011.

Cast:
Aktor ini memulai karirnya lewat serial televisi Fauji di tahun 1988, Shah Rukh Khan sebagai Shekhar / G.One
Kareena Kapoor sebagai Sonia Subramanium
Arjun Rampal sebagai PiBi 2 / RA. One
Aman Verma sebagai Prateek Subramaniam
Shahana Goswami sebagai Jenny Nayar
Satish Shah sebagai Iyer

Director:
Merupakan film keenam bagi Anubhav Sinha yang mengawali penyutradaraannya lewat Tum Bin...: Love Will Find a Way (2001).

Comment:
Shah Rukh Khan dan Gauri Khan selaku produser tampaknya serius menggarap sains fiksi superhero movie termegah yang pernah ada dalam industri perfilman India. Tidak peduli besar dana yang dikucurkan yang konon termahal sepanjang sejarah, film ini juga dikonversi ke dalam format 3D sehingga menyebabkan penundaan tanggal rilis yang seharusnya di musim panas 2011. Belum lagi penggunaan dua versi bahasa yaitu Tamil dan Telugu agar menjangkau keseluruhan pasar India.
Penulis cerita Anubhav Sinha dan David Benullo dibantu dengan Kanika Dhillon, Niranjan Iyengar, Shah Rukh Khan, Mushtaq Sheikh menggarap skenarionya bersama-sama. Jujur saja ide mereka tidaklah orisinil karena bermuatan banyak referensi film Hollywood sukses. Namun yang terpenting adalah bagaimana menggabungkan keseluruhan elemen yang sudah ada menjadi bercitarasa India dan hal ini dilakukan dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Shah Rukh Khan adalah megastar Bollywood dan ia tidak perlu melakukan terlalu banyak untuk mempertahankan justifikasi tersebut. Dari segi akting, saya merasakan ada sedikit kesamaan antara karakter G.One yang dapat dikatakan robot dengan karakter Rizvan yang terbelakang dalam My Name Is Khan (2010) terutama dalam interaksinya dengan manusia normal. Meski demikian kemampuannya menggoyangkan tubuh dan pinggul pada khususnya masih menjadi hiburan tersendiri.
Verma berakting cukup maksimal dalam kapasitasnya sebagai aktor cilik menghadapi ayah ibunya yang overprotektif. Menarik melihat Tom Wu dan Arjun Rampal memerankan Ra.One secara bergantian dalam dua bagian yang berbeda dengan interpretasi yang berbeda-beda. Sedangkan intermission (tipikal) diisi dengan romansa komedik antara G.One dengan Sonia. Pada bagian ini Kapoor menuntaskan tugasnya dengan baik lewat paras cantik dan tubuh aduhainya yang tetap memikat.
Sutradara Anubhav menyaksikan sekuens aksinya dengan setengah komikal sehingga tidak akan sampai menegangkan untuk disimak. Contoh paling konkret saat berjalan di antara gerbong kereta api melawan gaya gravitasi, semacam parodi dari Hancock (2008). Bombardir spesial efek disana-sini memang memanjakan mata dan mengundang naluri anda untuk berdecak kagum, terlebih kubus-kubus kecil merah biru yang menjadi sel dasar G.One ataupun Ra.One saat terluka. Namun tak jarang spesial efek lumayan “menyakiti” telinga dengan suara elektronik yang terlampau bising.

Satu hal yang cukup inovatif adalah inisiatif Shah Rukh Khan menggandeng penyanyi R&B ternama Akon untuk bernyanyi dan mengerjakan lagu-lagunya. Hasilnya Chammak Challo sangatlah asyik untuk bergoyang ditambah dengan koreografi colorful yang heboh seperti biasanya. Daur ulang Dildaara alias Stand By Me juga berhasil memberikan nuansa yang berbeda pada bagian intermission. Sederetan tembang lain terbukti sukses membangunkan mood penonton yang terkadang lelah mengikuti serangkaian plot cerita predictable yang diperpanjang disana-sini.
Ra.One sebagai sebuah hiburan “ONE time watch” memang harus diakui berdaya jual tinggi dan menyenangkan untuk disimak. Namun dari segi kualitas, nyaris tidak ada yang bisa dibanggakan apalagi jika mengingat penonton awam sekalipun mampu menyebutkan setidaknya 10 judul film yang menjadi sumber comot gagasan ini. Beban berat yang dibawa Shah Rukh Khan sebagai “that ONE man” tidak dapat disembunyikan lagi, mengangkatnya dari luar tetapi menjatuhkannya dari dalam. Selayaknya Ra.One (negatif) yang lebih dominan daripada G.One (positif) disini.

Durasi:
145 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 27 Oktober 2011

THE ASSAULT : Misi Pembebasan Pesawat Tersandera


Storyline:
24 Desember 1994, 4 teroris dari Algerian Armed Islamic Group membajak pesawat Perancis, Flight 8969. 227 penumpang di pesawat tampak sudah ditakdirkan menjadi korban. Setelah berjam-jam negosiasi, pesawat diijinkan berangkat menuju Marseille untuk mengisi bahan bakar. Kekerasan dan klastrofobia melingkupi perjalanan petugas SWAT Thierry memerangi semua rintangan yang ada untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Labyrinthe Films dan sudah dirilis di negara asalnya Perancis pada tanggal 9 Maret 2011.

Cast:
Vincent Elbaz sebagai Thierry
Grégori Derangère sebagai Commandant Denis Favier
Mélanie Bernier sebagai Carole
Philippe Bas sebagai Didier
Aymen Saïdi sebagai Yahia

Director:
Merupakan film kedua bagi Julien Leclercq setelah Chrysalis (2007).

Comment:
Pernah menyaksikan United 93 atau World Trade Centre? Berkisah tentang para “jihad” pembajak pesawat yang mengatasnamakan Tuhan untuk segala kegiatan terorismenya? Jika anda pernah menontonnya atau setidaknya tahu, film yang diproduseri oleh Julien Leclercq dan Julien Madon ini mengambil benang merah yang sama, hanya saja produksi Perancis sehingga sudut pandang Eropanya terasa lebih kental.
Simon Moutairou dan Julien Leclercq yang menulis skripnya berdasarkan buku karangan Roland Môntins dan Gilles Cauture berjudul L’assaut memilih sudut pandang tiga pihak kali ini. Satu adalah Thierry, pemimpin GIGN dan juga ayah yang baik dari putri kecilnya. Dua adalah Yahia, pemimpin teroris penyandera pesawat. Tiga adalah Carole, staf Kementerian Perancis yang berusaha menjelaskan sudut pandang dan prediksinya dari kejadian penyanderaan tersebut.
Sayangnya Leclercq yang bertindak sebagai sutradara tampaknya terlalu sibuk menata kronologis peristiwa itu dari awal sampai akhir sehingga melupakan intensitas yang harus dirasakan penonton. Belum lagi merasakan keterikatan emosional tokoh-tokohnya agar kita peduli siapa yang harus mati dan siapa yang mesti tetap hidup. Nyaris tidak banyak waktu tersisa untuk memfokuskan diri pada karakter Thierry, Yahia ataupun Carole secara seimbang.
Meski demikian ketiga tokoh utama tersebut mampu menampilkan akting yang cukup mengagumkan. Paling menonjol adalah Saidi yang tidak berperikemanusiaan ataupun memiliki logika yang masuk akal mengenai segala aksinya. Lalu Elbaz juga memberikan figur seorang family man yang pengasih, kontras dengan ketegasannya sebagai seorang pemimpin berani mati. Atau Bernier yang juga terlihat tegas dan dinamis dalam mengambil resiko meskipun autoritas Pemerintahan bukan berada di tangannya.
Walaupun filmmakernya merupakan asli Perancis, The Assault seakan terinspirasi oleh kinerja Paul Greengrass terlebih dalam Green Zone (2010) dengan gambar-gambar bergerak hasil handheld camera untuk memberikan efek terdekat dengan documenter. Seakan keseluruhan drama itu terjadi di depan mata kita. Jelas bukan action thriller yang biasa anda temui dalam film-film, tetapi lebih kepada peringatan bahwa situasi berbahaya bisa menimpa siapapun juga tanpa terkecuali.

Durasi:
87 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 26 Oktober 2011

THE PERFECT HOUSE : Guru Pengganti Rumah Sempurna

Quotes:
Madame Rita: Anda tidak kenal cucu saya, nak Julie..


Storyline:
Julie adalah seorang guru privat untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus termasuk Angie, anak autis yang mencapai tahap berhasil dibimbingnya. Sewaktu berniat cuti, Julie justru kedatangan Madame Rita yang memintanya menangani cucunya Januar. Guru lamanya, Lulu menghilang entah kemana. Akhirnya Julie menyanggupi untuk datang ke rumah megah nan klasik di daerah Puncak yang terpencil itu. Di antar asistennya Dwi, Julie kemudian harus membiasakan diri dengan interaksi tegang antara nenek dan cucu tersebut di samping perilaku aneh sang pembantu Yadi. Lama kelamaan, Julie semakin bersimpati dengan Januar yang cerdas itu. Ia merencanakan pelarian tanpa mengetahui rahasia apa yang sesungguhnya tersimpan di rumah tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh VL Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 25 Oktober 2011.

Cast:
Cathy Sharon sebagai Julie
Bella Esperance sebagai Madame Rita
Endy Arfian sebagai Januar
Mike Lucock sebagai Yadi
Wanda Nizar sebagai Dwi

Director:
Merupakan film keempat bagi Affandi Abdul Rachman yang diawali dengan Pencarian Terakhir di tahun 2008 dan menyusul satu judul setiap tahunnya kemudian.

Comment:
Pertama kali mendengar proyek ini di awal kuartal kedua tahun 2011, antusiasme saya merebak.Meskipun harus menunggu berbulan-bulan, produksi pertama VL Production ini harus melanglang buana terlebih dahulu hingga ke Puchon International Fantastic Film Festival di bulan Juni, akhirnya di penghujung kuartal ketiga pun dirilis juga. Kebetulan saya termasuk satu dari sedikit media yang beruntung mendapatkan kesempatan pertama menyaksikannya lewat screening khusus.
Trio penulis Alim Sudio, Affandi Abdul Rachman dan Vera Lasut menggarap sebuah thriller psikologis yang hanya memfokuskan diri pada kompleksitas 3 karakter utamanya saja di sebuah rumah kuno terpencil. Hal ini membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk memperkaya karakteristik secara. Premis yang sebetulnya terdengar lazim pun bisa disiasati dengan konstruksi konflik yang merambat secara perlahan dan sedikit membutuhkan kesabaran.

Kembalinya Bella ke ranah perfilman nasional disini terbilang gemilang. Peran Madame Rita dihidupkannya dengan meyakinkan lewat aksen Indo-Belanda yang tegas dan lantang. Ekspresi wajah dengan lirikan matanya pun konsisten di sepanjang film sebagai momok yang ditakuti. Sedangkan Cathy menjiwai peran Julie dengan baik, tokoh Ibu Guru yang lembut dan pelindung. Usahanya untuk mendobrak norma-norma yang berlaku di dalam rumah tersebut cukup memikat.
Penampilan si kecil Endy yang baru berusia 10 tahun juga patut diacungi jempol. Meskipun emosinya masih cenderung turun naik tapi kepolosan tingkah laku dan mata berbinar lugu Januar mampu menyihir penonton. Usaha Mike yang total mengandalkan bahasa tubuh menutupi fakta bahwa karakter Yadi sangatlah minim dialog. Apresiasi khusus pantas diberikan pada Wanda lewat peran minor Dwi yang secara mengejutkan meninggal dunia seminggu sebelum filmnya rilis nasional.

Sutradara Affandi berhasil bekerjasama dengan Faozan Rizal dan Benny Lauda untuk menjaga kesinambungan sinematografi indah dengan tata artistik dinamis lewat tampilan interior rumah yang bergaya lawas itu, sangat mendukung atmosfer yang ingin dibangun sebagai panggung bercerita. Sisi minor film ini mungkin ada pada editing beberapa adegan yang terasa diputus begitu saja, salah satu contoh saat Julie bersembunyi di kamar Madame Rita, tanpa penjelasan sekuensi lebih lanjut.
Saya berani katakan bahwa The Perfect House dapat dikatakan thriller lokal terbaik di sepanjang tahun 2011 yang banyak diisi oleh komedi horor. Kinerja berbagai departemen yang saling bersinergi mampu menghadirkan tontonan menarik yang sangat solid production valuenya. Kejutan twist di akhir cerita terbukti cukup “mengganggu” walau tidak akan asing bagi anda penyuka genre serupa, menutup rangkaian mimpi buruk konstan sepanjang satu setengah jam. Satu rumah berjuta cerita, siapkah anda memasukinya?

Durasi:
96 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 25 Oktober 2011

KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG : Keadilan Poligami Cinta Tak Sampai

Quotes:
Ifand: Mengapa kamu ada di sini?
Syahdu: Karena takdir mempertemukan kita..


Storyline:
Gadis cantik bernama Syahdu hidup sederhana bersama ibunya yang sakit-sakitan dan juga adiknya Ratih. Saat mengunjungi kakek-neneknya di lain kota, Syahdu berkenalan dengan pemuda soleh, Ifand yang juga ternyata tertarik padanya. Kedekatan keduanya tidak terelakkan menimbulkan cinta. Sayangnya hal tersebut ditentang warga sekitar sehingga Syahdu memilih pergi dan menikahi Nazmi yang bersedia membantu biaya pengobatan ibunya. Ifand yang terluka pun akhirnya menikahi Sofia yang amat tulus menyayanginya. Beberapa tahun kemudian, Syahdu dan Ifand dipertemukan kembali. Akankah cinta mereka berujung kebahagiaan di atas kekalutan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dimana screening terbatasnya diadakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 26 Oktober 2011.

Cast:
Donita sebagai Syahdu
Andhika Pratama sebagai Ifand
Ussy Sulistiawaty sebagai Sofia
Nadya Almira sebagai Ratih
Jordi Onsu sebagai Andi
Iwa Rasya sebagai Nazmi

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Tya Subiakto Satrio, salah satu penata musik film terbaik yang dimiliki Indonesia.

Comment:
Entah apa yang ada di benak Amalia Putri saat mengerjakan skrip film ini. Terus terang saya penasaran apakah ia menyaksikan Pupus (2011) atau Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap (2011) sebelumnya sehingga menghasilkan karya yang teramat mirip. Perbedaannya, Pupus drama cinta remaja, Kejarlah drama cinta beda kasta sedangkan Kerudung sudah bisa diduga dari judulnya drama cinta bernafaskan religi. Bukan kebetulan jika ketiganya dibintangi oleh Donita dan dua diantaranya diperani oleh Andhika Pratama.
Donita disini lagi-lagi mengumbar air mata. Scene menangisnya kembali menjadi andalan utama. Kasih tak sampai, diduakan cinta, ditinggal kawin, perasaan tersakiti dan sederetan kejadian dramatis lainnya bisa menjadi alasan karakter Syahdu untuk menangis. Meski saya bukan Muslim tetapi penggunaan kerudung Donita di sepanjang film sangatlah mengganggu karena dikenakan dengan setengah niat. Apakah dimaksudkan untuk menegaskan karakter Syahdu yang tidak memahami agamanya sendiri? Hm, rasanya masih ada cara lain yang lebih tepat.
Sebaliknya Ussy memulai debutnya dengan gemilang. Mudah-mudahan kerudung yang menjadi judul film ini memang diperuntukkan bagi karakter Sofia, wanita tegar berhati besar yang benar-benar menjunjung tinggi kehormatan diri lewat sikap ikhlas dan “nrimo”nya. Kalimat terakhir ini mohon jangan diartikan bahwa saya mendukung setiap perempuan untuk menerima nasib untuk “dimadu” suaminya. Saya selalu percaya bahwa konsep pernikahan adalah satu adanya.
Peran Andhika disini mengingatkan pada apa yang dilakukan Fedi Nuril dalam Ayat-Ayat Cinta (2008). Sayangnya turun naiknya emosi tokoh Ifand pantas dipertanyakan saat ia mengencani Syahdu, menikahi Sofia, meminang Syahdu hingga terkesan berpihak pada Sofia kembali dalam berumahtangga. Tentunya penonton perlu mengetahui proses pergolakan batin yang lebih kentara untuk dapat mengerti alasan-alasan Andhika melakukan semua itu.
Debut Tya Subiakto sebagai sutradara memang dipertanyakan banyak orang yang merasa karyanya ini menilik dari sinematografinya lebih “bergaya” Nayato yang kebetulan hanya duduk di bidang departemen kamera kali ini. Namun saya percaya pengalaman Tia mengerjakan scoring musik dan bekerjasama dengan sineas-sineas tanah air turut membekalinya ilmu penyutradaraan. Film pertamanya ini masih diwarnai dengan sentuhan feminis pada sudut pandang karakter-karakternya, sesuatu yang rasanya cuma bisa dilakukan oleh seorang wanita.
Kehormatan Di Balik Kerudung bukanlah karya sempurna yang lagi-lagi mencoba mengejawantahkan kasus poligami dengan pendekatan yang sudah tidak asing lagi. Bagaimanapun juga pembelajaran kaum wanita untuk menghadapi pria semacam ini tetap patut diingatkan dari waktu ke waktu, baik sebagai istri tua atau muda sekalipun. Anda bukannya tidak punya pilihan tetapi sangatlah penting untuk mengambil sikap tegas demi kepentingan sendiri, bukan orang lain.

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 24 Oktober 2011

GRAVE ENCOUNTERS : Kru Pemburu Hantu Investigasi Supernatural

Tagline:
They were searching for proof... they found it.


Storyline:
Presenter ternama Lance Preston dan kru "Grave Encounters", sebuah reality show televisi yang selalu ditunggu pemirsa menyambangi Rumah Sakit Jiwa Collingwood yang sudah lama terbengkalai. Fenomena supernatural dikumpulkan dari berbagai narasumber yang menyatakan ada hantu perempuan bunuh diri, suara teriakan dari dalam bangunan, jendela yang selalu terbuka sendiri di malam hari dsb. Lance dkk akhirnya sepakat mengunci diri mereka selama semalaman demi kepentingan investigasi, merekam semuanya dalam kamera di berbagai sudut. Apa yang akan mereka temukan selanjutnya?

Nice-to-know:
Merupakan produksi Kanada dari kerjasama Twin Engine Films dan Digital Interference Productions.

Cast:
Pernah mendapat peran kecil dalam Underworld: Evolution (2006), Sean Rogerson berperan sebagai Lance Preston
Juan Riedinger sebagai Matt White
Ashleigh Gryzko sebagai Sasha Parker
Mackenzie Gray sebagai Houston Gray

Director:
Debut penyutradaaran bagi The Vicious Brothers lewat mockumentary ini.

Comment:
Sebuah mockumentary yang sudah menjadi proyek percobaan para sineas di berbagai belahan dunia belakangan ini jelas perlu hal-hal baru untuk menakuti penonton. Bukan hanya dengan premis sekelompok orang yang memasuki sebuah bangunan tua berhantu untuk mencari “bukti” sebelum benar-benar dikejutkan. Kita sudah menyaksikan ini sebelumnya sehingga agak mudah ditebak kemana arah film bergulir menuju akhir.
The Vicious Brothers mengembel-embeli openingnya dengan konsep sebuah tim pemburu hantu “Grave Encounters” dalam serial televisi yang digawangi oleh Lance Preston, sang presenter. Jangan salah menilai, Rogerson berakting cukup baik sebagai Lance tapi entah mengapa saya sulit mengkoneksikan diri dengan semua karakter dalam film ini. Itu sebabnya tidak terlalu peduli pada nasib mereka satu-persatu saat dikerjai penunggu RSJ Collingwood.

Sutradara The Vicious Brothers masih mempertahankan gaya “shaky camera” dengan zooming dan lighting “night mode” yang sangat penting membangun keotentikan documenter. Sayangnya proses interview beberapa subyek oleh presenter yang didampingi oleh cameraman professional sekalipun di bagian awal malah terlihat bodoh dan palsu. Tidak pantas rasanya dijadikan footage yang mampu mewakili kejadian yang sesungguhnya.
Saat kru “Grave Encounters” memasuki RSJ Collingwood memang berhasil membangun atmosfir menyeramkan setidaknya sampai pertengahan. Selepas itu, “terror-teror” murahan yang terjadi malah tidak menakutkan lagi, terlebih bagi mereka yang sudah menyaksikan trailernya. Endingnya yang tidak menawarkan twist baru diperparah dengan penyampaian yang terlalu gamblang. Kesemuanya itu menjadikan Grave Encounters semacam kuburan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Durasi:
92 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 23 Oktober 2011

THE THREE MUSKETEERS : Aksi Bersekutu Mencegah Pecahnya Eropa

Quotes:
Porthos: There were four of us, against forty of them.


Storyline:
D'Artagnan muda bersama dengan tiga pendekar legendaris yaitu Athos si ahli meloloskan diri, Porthos si jago tarung dan Aramis si master siasat harus menggagalkan upaya berkobarnya perang di Eropa terutama antara Perancis dan Inggris. Si pencuri cantik Milady de Winter yang berniat mencuri kalung berlian, si gila kuasa Duke of Buckingham, si jahat Cardinal Richlieu dan tangan kanannya, Rochefort siap menggagalkan D’Artagnan dan The Three Musketeers dengan berbagai cara dan intrik yang teramat picik dalam petualangan seru.

Nice-to-know:
Christoph Waltz memiliki tanggal lahir yang sama yaitu 4 Oktober dengan Charlton Heston yang memainkan Richelieu di The Three Musketeers/The Four Musketeers.

Cast:
Tahun lalu tampil dalam Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief, Logan Lerman kali ini kebagian tokoh D'Artagnan
Matthew Macfadyen sebagai Athos
Milla Jovovich sebagai Milady de Winter
Luke Evans sebagai Aramis
Ray Stevenson sebagai Porthos
Til Schweiger sebagai Cagliostro
Mads Mikkelsen sebagai Rochefort
Christoph Waltz sebagai Richelieu
Orlando Bloom sebagai Duke of Buckingham

Director:
Pernah menangani Milla Jovovich sebelumnya dalam Resident Evil (2002), Paul W.S. Anderson menggarap film layar lebar ke-9 nya kali ini.

Comment:
Siapa yang tidak mengenal novel klasik “Les Trois Mousquetaires” karya Alexandre Dumas père yang mendunia dan sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa itu? Bisa jadi sebagian dari anda yang masih berusia muda yang menjawab tidak. Tidak terlambat untuk mencari referensi sekarang karena sifatnya yang timeless itu. Filmnya pun sudah diremake berkali-kali mulai dari versi tahun 1935 yang dibintangi oleh Walter Abel dan Ian Keith hingga yang terbaru di abad 21 ini.
Duet penulis Alex Litvak dan Andrew Davies memang berusaha setia dengan naskah originalnya. Apalagi Glen MacPherson berhasil menyuguhkan sinematografi yang memikat dengan lokasi-lokasi pilihan yang amat memanjakan mata. Sayangnya sutradara Anderson terlalu banyak memasukkan unsur modern terutama untuk adegan aksinya yang banyak mencomot ide-ide dari film-film memorable yang terkadang tidak pada tempatnya. Berusaha meremajakan? Bukan begitu caranya!

Sebut saja karakter Millady yang terkesan over-the-top dalam film. Tidak mengherankan melihat fakta Jovovich adalah istri dari sang sutradara! Setidaknya ada 3 adegan yang paling mencolok. Lihat bagaimana ia meloloskan diri dari dinding berpeluru di ruang bawah tanah dan menerobos laser mematikan saat mencuri kalung berlian. Familiar dengan Resident Evil? Atau saat ia mengenakan baju minim menuruni istana dengan tali. Ingat Mission Impossible? Meski demikian harus diakui Jovovich memang tampil cantik disini dengan kostum klasik menawan.
Lerman yang masih berpenampilan ‘boyish’ justru tampil cemerlang. Karakter d’Artagnan muda di tangannya justru terasa dinamis dan bersemangat. Aksi memainkan pedangnya juga lumayan. Di luar dugaan, tiga pendekar yang harusnya menjadi sentral cerita malah terpinggirkan. Meski demikian Macfadyen, Stevenson dan Evans lumayan menjiwai Athos, Portos, Aramis dengan karakteristik unik masing-masing. Menyenangkan melihat Bloom bermain santai sebagai Duke of Buckingham.

Semua adegan aksinya memang memenuhi standar film hiburan berbujet besar. Adu siasat, perebutan harta, alih kekuasaan mewarnai pertentangan dua kubu. Paling menghibur adalah pertempuran dua kapal udara di angkasa mulai dari adu meriam sampai tumpang tindih, terlepas dari kemudahan membangun kapal sedemikian megah hanya dalam kejapan mata. Duel pedang di atap antara D’Artagnan dan Rochefort juga memikat, terlebih dilakukan sendiri oleh mereka!
The Three Musketeers adalah sebuah remake yang menghibur walaupun dikotori oleh modernisasi yang tidak perlu dan tak jarang berlebihan. Entah mengapa elemen komedi yang disisipkan malah membuat saya merasa film ini lebih ke arah parodi. Bagi penonton yang sudah mengenal kiprah tiga pendekar ini bisa jadi mempertanyakan motif produser melakukan remake. Sedangkan bagi penonton yang belum, mungkin akan puas dengan full entertainment yang dibalut 3D. Possibly a sequel in the future for united. One for all, all for one...

Durasi:
113 menit

Europe Box Office:
€9,599,925 in Germany till Okt 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 22 Oktober 2011

SUPER 8 : Proyek Film Berujung Kenyataan Misterius

Quotes:
Cary: Stop talking about production value, the Air Force is going to kill us.


Storyline:
Liburan musim panas tahun 1979 di Ohio, Charles bertindak sebagai sutradara mengerjakan sebuah proyek film berjudul Super 8 bersama Joe, Alice, Cary, Preston dan Martin. Sewaktu syuting tengah malam di saat bersamaan terjadi kecelakaan kereta api dimana seorang guru sains Dr. Woodward yang menjadi korbannya mengingatkan mereka untuk tidak ikut campur. Tak lama kemudian, kejadian misterius melanda kota dimana satu persatu warga menghilang, wakil sheriff yang juga ayah Joe, Jackson mencurigai campur tangan pihak militer yang dikepalai oleh Jenderal Nelec. Rahasia apa yang sesungguhnya tersimpan?

Nice-to-know:
Film zombie yang dibuat anak-anak dalam film ini mengacu pada sutradara George A. Romero termasuk poster salah satu judulnya yang terpampang di kamar tidur Joe. Jangan beranjak setelah credit title bergulir. Tidak ada salahnya menyaksikan karya utuh mereka yang mengesankan itu.

Cast:
Debut aktor remaja berusia 15 tahun bernama Joel Courtney ini sebagai Joe Lamb
Mulai mencuri perhatian saat bermain dalam Because of Winn-Dixie (2005), Elle Fanning bermain sebagai Alice Dainard
Riley Griffiths sebagai Charles
Ryan Lee sebagai Cary
Gabriel Basso sebagai Martin
Zach Mills sebagai Preston
Kyle Chandler sebagai Jackson Lamb
Ron Eldard sebagai Louis Dainard
Noah Emmerich sebagai General Neled

Director:
Merupakan film ketiga bagi J.J. Abrams setelah terakhir sukses menggarap remake Star Trek (2009).

Comment:
J.J. Abrams dapat dikatakan salah satu nama fenomenal yang dimiliki industri perfilman Hollywood. Multi peran yang dilakukannya mulai dari aktor, produser, penulis hingga sutradara telah menghasilkan beberapa film “besar” yang sangat layak tercantum dalam curriculum vitae nya. Kali ini ia dipercayakan oleh Steven Spielberg untuk mengambil tiga posisi penting mulai dari salah satu dari tiga produser, penulis skrip hingga sutradaranya sekaligus.
Skrip yang ditulisnya masih bertemakan makhluk angkasa luar, bisa jadi mengingatkan anda pada Close Encounters of the Third Kind (1977), E.T. (1982), War of the Worlds (2005) hingga Cloverfield (2008). Perbedaannya adalah ia menggunakan sudut pandang sekumpulan remaja belia di bawah 17 tahun yang kebetulan menguasai teknik pembuatan film dimana salah satunya yang dibahas secara tegas adalah ‘production value’. Anda akan tersenyum pada scene tertentu itu.

Saya sangat menghargai penampilan cemerlang para aktor-aktris muda disini, terlebih tidak ada konflik intern yang terlalu didramatisasi. Griffiths sepintas memang terlihat seperti anak gendut yang mengesalkan tetapi pengetahuannya dalam pembuatan film membuat kita berdecak kagum. Courtney dan Fanning pun berbagi chemistry dengan wajar dimana pemikiran mereka terbilang dewasa sebagai putra-putri yang sebenarnya terpatri oleh masalah keluarga.
Abrams sebagai sutradara berusaha semaksimal mungkin untuk menyatukan seluruh kepingan yang telah ia sebar di sepanjang film, sebut saja misteri, persaingan, politik, persahabatan dan sebagainya dimana terdengar amat menjanjikan sebagai satu paket lengkap. Sayangnya tidak semua berhasil ia kumpulkan sehingga penonton tidak benar-benar merasakan kedalaman konflik dari gaya bertutur yang kurang realistis dan tak mengindahkan logika tersebut.

Tampilan alien sepintas seperti laba-laba raksasa dengan kaki-kaki panjang yang mampu meraih apa saja. Barang-barang logam sebagai bahan armadanya kembali ataupun justru manusia-manusia sebagai asupan makanannya. Pernyataan yang terakhir terbukti tidak diperlihatkan secara eksplisit demi menjaga rating PG-13 yang dimilikinya. Kinerja CGI kali ini lumayan meyakinkan, setidaknya sang alien berani muncul secara close-up di penghujung cerita yang semakin antiklimaks itu.
Super 8 memang tidak sepenuhnya orisinil karena mengingatkan anda pada beberapa garapan lawas Steven Spielberg yang sudah saya sebutkan di awal. Elemen-elemen hasil comotan sana-sini itu diramu sedemikian rupa menjadi sebuah film baru yang menawarkan suspensi misteri dan drama thriller yang cukup bersahabat dengan penonton. Sebuah film yang setidaknya mencoba untuk membawa anda bertualang jauh memasuki dimensi masa lalu dimana dunia masih menawarkan kepolosannya. Finally, i give this super "8" for such entertainment!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$126,975,169 till Sep 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 21 Oktober 2011

THE LEDGE : Tepian Keputusan Pertentangan Keagamaan

Quotes:
Gavin Nichols: Love the Sinner, hate the sin?


Storyline:
Seorang polisi, Hollis yang baru mendapati dirinya memiliki putra-putri bukan dari benihnya ditugasi menuju puncak sebuah gedung tinggi. Disana ada Gavin yang berniat melompat bunuh diri sewaktu jam menunjukkan tepat tengah hari. Ia dirundung masalah ketika teman sekamarnya Chris yang gay divonis HIV+ belum lagi Shana, pegawainya di hotel tengah menjalani rumah tangga yang tidak bahagia dengan Joe, Kristen taat yang menganggap setiap tindakannya sesuai dengan ajaran Alkitab. Waktu yang tersisa harus disiasati Hollis untuk mengubah pikiran Gavin. Adakah motivasi lain yang melingkupinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Film & Entertainment VIP Medienfonds 4 GmbH & Co. KG bersama dengan Modern VideoFilm dan sudah rilis di Amerika Serikat pada tanggal 10 Juli 2011 yang lalu.

Cast:
Sebelumnya mendukung Children of Men (2006), Charlie Hunnam berperan sebagai Gavin Nichols
Mengawali karir aktris dalam film Silent Fall (1994), Liv Tyler bermain sebagai Shana
Patrick Wilson sebagai Joe Harris
Terrence Howard sebagai Hollis Lucetti
Christopher Gorham sebagai Chris

Director:
Merupakan film keempat bagi Matthew Chapman sekaligus yang pertama dalam 13 tahun terakhir sejak Heart of Midnight (1988).

Comment:
Perselingkuhan bukanlah tema baru dalam sebuah film, dari kelas Oscar hingga kelas abal-abal sekalipun, maaf saya tidak berbicara mengenai film biru disini. Namun bagaimana jika hal tersebut digabungkan dengan aspek religius, pertentangan Kristen dengan atheis mengenai konsep hubungan cinta berlawanan jenis dalam pernikahan atau sesama jenis dalam komitmen itu sendiri? Jawabannya tertuang dalam drama thriller yang diproduseri salah satunya oleh Mark Damon ini.
Penulis sekaligus sutradara Chapman dengan cerdas mengambil gaya penceritaan flashback yang tidak biasa dengan simpanan twist spesial di ujung film yang membuat antusiasme penonton tetap terjaga. Penetrasi terhadap konflik dilakukan secara detail perlahan-lahan dari sudut pandang keempat tokohnya secara bergantian yakni Gavin, Shana, Joe, Chris disamping peran Hollis sebagai negosiator pihak ketiga. Sisi emosionalnya pun terjaga dengan rapi, tidak lemah tapi tidak dipaksakan berlebihan.

Hunnam adalah aktor Inggris yang berhasil membuat aksen Amerika. Karakternya abu-abu disini, hitam sebagai pria yang gagal mempertahankan rumah tangga sekaligus putih sebagai pria yang berusaha membangun cinta baru. Semakin kompleks dengan filosofi atheis yang mempengaruhi setiap tindak tanduknya yang terkesan “semau gue” itu. Chemistrynya dengan Tyler cukup manis, dimana keduanya dapat dikatakan sama-sama pernah gagal dalam hidup.
Wilson dan Howard, which happen to be two of my fave actors, melakoni karakter Joe dan Hollis dengan mengesankan. Satu pria fundamental yang secara mengejutkan diplot sebagai tokoh antagonis kali ini. Padahal jika dicermati, ia hanyalah pria Kristen biasa yang melindungi apa yang dimilikinya berdasarkan keyakinan yang kuat selayaknya menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri. Sedangkan satu lagi mempertanyakan kesetiaan istrinya sendiri hingga mengancam keutuhan keluarganya yang nyaris sempurna itu.

Chapman juga mempertahankan eksplorasi topik sensitif dalam film ini agar tidak terkesan menimbulkan argumentasi keras dari golongan tertentu. Dialog-dialog yang tercipta tidak menggurui tetapi mampu memprovokasi secara positif sehingga amat mendekati kenyataan. Banyak sekali bahasa tubuh dari karakter-karakter utama yang sudah lebih dari cukup untuk menerjemahkan sisi perspektif psikologis yang dihadapi masing-masing, apalagi dibantu dengan music scoring dari Nathan Barr.
The Ledge adalah mainstream movie yang bermuatan diskusi teologi yang menarik. Bagi anda yang kadar keagamaannya tidak terlalu dominan bisa jadi akan lebih mudah jatuh hati pada tokoh Gavin. Sebuah contoh kasus kompleksitas karakter yang multi-dimensi yang mampu dijembatani secara utuh terhadap penonton. Terkadang suara hati memang berbeda dengan keyakinan manusia yang sesungguhnya. Itulah sebabnya anda dipersilakan mengambil posisi pengamat di sebuah tepian yang sangat menentukan langkah selanjutnya menuju pilihan-pilihan hidup.

Durasi:
101 menit

U.S. Box Office:
$5,176 till July 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 20 Oktober 2011

SETANNYA KOK MASIH ADA : Penjaga Kamar Mayat Pengusir Hantu

Quotes:
Beno: Kita mau besuk siapa sih? Siapa yang sakit?
Dedi: Elu yang sakit. Kita kan mau kerja!


Storyline:
Dedi dan Beno adalah dua sarjana pengangguran yang terpaksa menerima pekerjaan sebagai penjaga kamar mayat di sebuah rumah sakit. Mudah ditebak kericuhan pun terjadi saban malam karena rasa takut yang menggelora. Pada suatu kesempatan, Maya yang juga seorang model menyewa Beno dan Dedi untuk menjaga rumah mewah warisan kakeknya yang meninggal. Maya yang berlibur bersama Niken dan Ranti saja ketakutan sejak malam pertama karena diganggu pocong, kuntilanak dan hantu kepala buntung hingga menginap di hotel. Apakah dua sekawan kocak itu akan merasakan hal serupa dalam tugas baru mereka tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diadakan pada tanggal 11 Oktober 2011 di Planet Hollywood XXI.

Cast:
Dedi Mahendrea Desta sebagai Beno
Zaky Zimah sebagai Dedi
Deriell Jaqueline Tampung sebagai Maya
Indah Kusuma Wardani sebagai Ranti
Paramita Sari sebagai Niken
Ramco Sari Tua sebagai Mang Toha

Director:
Merupakan film ketiga Muchyar Syamas sekaligus kedua tahun ini setelah Mudik Lebaran.

Comment:
Ada yang masih ingat dengan komedi produksi Millenium Visitama Film di tahun 2008 yang berjudul Setannya Kok Beneran? Dibintangi trio Indra Birowo, Mario Lawalatta dan Ence Bagus yang berlakon sebagai pengusir hantu reality show televisi hingga akhirnya disuruh mengusir setan beneran di sebuah rumah berhantu? Jika tahu atau pernah menyaksikannya, siapa sangka 3 tahun kemudian muncullah sekuel tak resminya!
Jika dulu cerita digarap oleh Deden Tristanto maka kali ini berpindah tangan kepada kakak beradik Muchyar dan Martias Syamas. Anehnya saya merasa ada kesamaan sekitar 50-60% dari yang sudah-sudah, sebut saja dari trio menjadi duo yang “dikondisikan” berurusan dengan hantu sampai akhirnya atas permintaan cewek cantik benar-benar berjumpa dengan hantu yang sesungguhnya. Setting final pun sama-sama berlangsung di rumah angker. Sungguh kreatif!
Muchyar yang juga bertindak sebagai sutradara untuk dua film tersebut masih mengusung pola yang tidak jauh berbeda. Komedi situasi yang dibalut dengan nuansa horor memang lebih dimaksudkan untuk memancing tawa dibanding rasa takut itu sendiri. Syukur-syukur bisa dua-duanya. Rasio keberhasilan tak dipungkiri terletak pada skrip dan para pemainnya itu sendiri. Setting lokasi kamar mayat rumah sakit dan rumah megah berhantu rasanya tinggal dimaksimalkan saja dengan bantuan musik tentunya.
Duet Zaky dan Desta tak dinyana cukup ampuh mempertahankan film ini untuk tetap berada dalam rel komedinya. Selepas menjerit-jerit menangani mayat-mayat di rumah sakit, duet Beno dan Dedi kemudian terbirit-birit menghadapi hantu-hantu di rumah angker. Kekompakan keduanya bertukar dialog spontan lumayan sukses menghadirkan tawa membahana, apalagi adegan pamungkasnya ketika mereka balik “memperdaya”. Konyol dengan sentuhan slapstick!
Produser Anjasmara dan Gobind Punjabi tampaknya tidak terlalu berambisi dengan Setannya Kok Masih Ada ini. Terbukti komedi horor yang bernuansa 80an ini tampil apa adanya, nyaris sekelas dengan film lepas televisi. Secara keseluruhan tergolong cukup menghibur walaupun logikanya sering dipertanyakan di sepanjang durasi. Semua elemen disini nyaris tidak ada yang baru termasuk wajah hantu yang tersorot sinar lampu acapkali penampakan. Meski demikian kuntilanak yang hobi ngikik dan suster yang rajin ngesot itu sukses “dikerjai” habis-habisan, mudah-mudahan versi aslinya tidak tersinggung!

Durasi:
83 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 19 Oktober 2011

CEREMONY : Identitas Diri Pernikahan Mantan

Quotes:
Zoe: Now you're just being an ass, Sam.
Sam Davis: Yes, I am. I'm winning you back goddamn it.


Storyline:
Penulis cerita anak, Sam mengajak sahabatnya Marshall pergi ke luar kota selama akhir pekan. Awalnya Marshall berpikir perjalanan ini akan mempererat hubungannya dengan Sam yang dikaguminya. Namun kenyataan berbicara lain, Sam berniat menggagalkan pernikahan mantan kekasihnya, Zoe yang akan menggelar resepsi bersama Whit, petualang sekaligus fotografer mapan. Keduanya pun terlibat pertengkaran dimana tokoh-tokoh di sekitar mereka mulai mengganggu dengan masalahnya masing-masing. Akankah Sam berhasil mendapatkan Zoe kembali?

Nice-to-know:
Michael Angarano awalnya dicasting untuk peran Marshall mendampingi Jesse Eisenberg sebagai Sanm. Namun kemudian Eisenberg mengundurkan diri sehingga Arangano mendapatkan peran utama tersebut.

Cast:
Sempat menyaksikannya mendampingi Jackie Chan dalam The Forbidden Kingdom (2008), Michael Angarano berperan sebagai Sam Davis
Film pertamanya di usia 15 tahun yaitu Dreamcatcher (2003), Reece Thompson bermain sebagai Marshall Schmidt
Lee Pace sebagai Whit Coutell
Uma Thurman sebagai Zoe
Jake M. Johnson sebagai Teddy


Director:
Merupakan film panjang pertama Max Winkler setelah beberapa serial televisi.

Comment:
Seringkali kita yang masih hidup melajang bagai mendengar petir di siang bolong saat mengetahui sang mantan pacar akan menikah dengan orang lain! Hal ini berlaku bagi pria ataupun wanita tanpa terkecuali. Sebesar apapun hati anda menerima, rasanya akan tetap terhenyak sambil melayangkan ingatan pada masa-masa indah bersama dahulu. Film ini adalah salah satu dari sekian judul yang membahas tema tersebut.
Penulis skrip merangkap sutradara Winkler tidak hanya berfokus pada usaha Sam mendekati Zoe kembali tetapi juga persahabatan mutualisme antara Sam dan Marshall itu sendiri. Dua plot yang bersisian di sepanjang film selain konflik dilematis antara Zoe dan calon suaminya Whit. Pendekatan drama dari Winkler berjalan lambat dengan berbagai penekanan yang tidak lazim dari sifat-sifat asli para tokohnya disini.

Arangano memainkan Sam dengan lugas, penulis sok jago yang sebetulnya kekanak-kanakan.
Thompson memerankan Marshall dengan polos, pemuda yang selalu mencari inspirasi hidupnya. Thurman menokohkan Zoe dengan gamang, wanita yang mudah bosan dengan hal-hal kesukaannya.
Pace melakoni Whit dengan eksentrik, pria penuh pencapaian yang memiliki jiwa petualang yang besar.
Johnson menghidupkan Teddy dengan cuek, lelaki serabutan yang menganggap apapun tidak serius. Kelima tokoh utama yang aneh bin ajaib itu berinteraksi satu sama lain tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Inilah sisi yang menarik dari sebuah film dimana karakteristik yang begitu kaya dapat melebur ke dalam konflik yang semakin menebal. Terkadang penonton akan mengernyitkan kening saat menyaksikan tingkah laku mereka tetapi itulah elemen realistis yang paling dekat dengan dunia nyata versi Winkler.

Humor yang ditawarkan memang lebih ke arah sinis, menertawakan konsep hubungan pria-wanita masa kini yang kerapkali lebih mementingkan kemapanan dan kebutuhan dibandingkan kenyamanan dan kesigapan itu sendiri. Jangan mengharapkan romantisme yang kental karena sudut pandang cinta hanyalah faktor kesekian disini, penting tetapi bukan yang utama. Banyak metafora tidak terjelaskan yang menggambarkan tarik ulur perasaan Zoe dan Sam maupun Zoe dan Whit.
Ceremony lebih tepat dikatakan film indie dari kreatifitas sineas muda dengan dukungan maksimal dari jajaran castnya. Nyaris tidak ada hal klise yang mengingatkan anda pada ratusan judul komedi romantis sebelumnya. Sebuah visi yang betul-betul baru dimana pilihan cinta tidak harus selalu diselesaikan dengan manis. Terkadang suatu kepahitan sekalipun mampu membuka lembaran baru yang jauh lebih positif bagi para subyeknya kelak.

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office:
$21,666 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent