XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label raymond knuliq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raymond knuliq. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

DENDAM DARI KUBURAN : Teror Kuntilanak Rumah Baru So What?


Quotes:
Stephen: Dia mandi pake baju apa gak ya?
Willy: Si tolol kalo mandi pake baju namanya diceburin.

Nice-to-know: 
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Chika Jessica
Natassa Lengkong
Angie Amanda
Raymond Knuliqh
sebagai Stephen
Dion Chow sebagai Willy
Munajat Praditya sebagai Pasha
Yudha Putra
Yafi Tesazahara
Shinta Bachir
Bolot

Director: 
Merupakan film kesembilan bagi Koya Pagayo di tahun 2012 ini.

W For Words: 
Jika bulan Juli lalu ada Bangkit Dari Kubur maka empat bulan kemudian ada Dendam. Coba anda definisikan perbedaan kata "Bangkit" dan "Dendam" terlebih dahulu. Menurut hemat saya satu bermakna kata kerja dan lainnya sifat yang bisa dikategorikan sebagai objek. Sependapat? Terserah. Namun tampaknya Koya Pagayo tidak mau peduli dan memilih menggunakan "template" yang sudah-sudah. Terima kasih buat timnya yang sudah sangat kompak dan saling pengertian itu. Anjing menggongong, kafilah berlalu. Begitulah kira-kira slogan mereka.

Alkisah Willy si penulis skenario tengah mencari rumah kontrakan baru untuk berkonsentrasi dengan karyanya. Sebuah rumah yang dijaga oleh Pak Bolot menarik minatnya. Ia mengajak dua sohibnya, Stephen si pemilik tempat fitness dan Pasha yang selalu gagal mendekati cewek. Rumah tersebut akhirnya jatuh ke tangan mereka sebelum penampakan demi penampakan mulai mengganggu. Willy yang berpacaran dengan Agnes mulai panas ketika Wisnu mendekati ceweknya itu. Adakah hubungannya dengan cewek seksi penjual parfum bernama Puspita?

Duet penulis skrip "langganan", Erry Sofid dan Ule Sulaeman tampaknya sudah semakin malas memberi nama dan karakteristik yang unik pada tokoh-tokohnya. Tidak penting! Yang jelas selalu ada cowok jayus berbadan kekar, cowok kutu buku pecundang cinta, cowok pintar-pintar bodoh serta sederetan cewek cantik nan seksi. Sebut saja mereka Bunga, Mawar, Duri, Daun dan sejenisnya pun tak akan berpengaruh banyak. Tinggal mainkan interaksi satu tokoh dengan lainnya dalam dialog komedi bernuansa horor secara simultan di sepanjang film. Mudah bukan?

Koya Pagayo juga menggunakan rumah, kamar tidur, kamar mandi, kampus dan kuburan yang sama sebagai setting lokasinya. Saya curiga, jangan-jangan setiap habis syuting tidak pernah dibenahi, langsung dipakai untuk syuting berikutnya. Berapa banyak penghematan yang dilakukan departemen art? Beruntung, make-up sang kuntilanak Puspita dan versi mininya Jojo tidak berlebihan seperti biasanya. Tak jarang mereka memilih nunduk dan muncul tiba-tiba sambil sesekali seliweran layaknya mengenakan sepatu roda.

Dendam Dari Kuburan juga memanfaatkan medio cenayang untuk menjembatani dunia nyata dan alam baka. Lihat bagaimana Kilan kesurupan dan menjelaskan semua kejadian dari mulutnya. Epik! Setelah semuanya terungkap tak berarti film berakhir. Ketika kuburan Puspita dan Jojo diketemukan maka layar segera ditutup. Lagi-lagi penonton jadi korban! Bersyukurlah jika beberapa di antara anda masih bisa tertawa melihat “aksi” Haji Bolot atau Reymond yang repetitif itu. Bahkan judul-judul film kondang macam Spongebob, Spiderman, Safe House dan Jelangkung turut disebutkan tanpa tujuan yang jelas. Ah sudahlah!

Durasi: 
76 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 21 Juni 2012

BANGKIT DARI KUBUR : Kolaborasi Pocong Kuntilanak Lagi

Quotes:
Ranggo: Liat-liat dong kalo mau main. Di kamar mayat hormatin yang udah wafat..

Nice-to-know:
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast:
Reymond Knuliqh sebagai Ranggo
Mpok Atiek sebagai Mbah Ulun
Chika Jessica sebagai Trisa
Laras Monca
Yessa Iona
Julia Perez
Ria Rolen
Munazat Raditya
Dion Chow


Director:
Merupakan film ketiga atas nama Koya Pagayo di tahun 2012 ini setelah Santet Kuntilanak dan Kuntilanak-Kuntilanak.

W For Words:
Judul film terbaru kolaborasi Mitra Pictures dan BIC Productions ini memang mengingatkan anda akan film-film lawas jaman almarhumah Suzanna dulu. Namun dari segi kualitas tidak perlu diperbandingkan lagi karena semua pecinta film lokal pasti tau siapa Koya Pagayo dan bagaimana cara kerjanya yang cenderung cepat dan satu arah itu. Apapun isi otak Erry Sofid dan TB Ule Sulaeman yang bertindak sebagai penata skrip pasti lambat laun idenya akan digeneralisasi sedemikian rupa dalam satu template yang tidak jauh berbeda antara satu film dengan yang lainnya. Poor ‘em!

Marlon, Ranggo dan Aril Mukadepan tanpa sengaja menabrak sepasang kekasih yang tengah berkendara dengan sepeda motor. Keduanya tewas seketika. Tak berani bertanggungjawab, ketiga sahabat yang juga mahasiswa kedokteran itu memilih melarikan diri. Lambat laun tugas mereka sebagai penjaga kamar mayat saat magang di sebuah rumah sakit terganggu karena kehadiran pocong dan kuntilanak. Nyatanya teror tak berhenti sampai disitu melainkan menjalar ke kost mereka yang juga ditempati oleh pacar Ranggo yaitu Trisa dan ketiga temannya masing-masing Intan, Meta dan Popy. Mampukah Mbah Ulun menolong muda-mudi tersebut?

Entah sudah berapa puluh kali saya menuliskan review yang kurang lebih sama dari formula Koya Pagayo yang tak jauh berbeda. Ide copy paste pun seketika melintas di kepala saya. Ya, premis yang dibuka dengan sekelompok muda-mudi bla bla bla yang kemudian diakhiri dengan adegan di hutan setelah konsultasi bersama dukun itu sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Analogikan sebagai bahan skripsi yang dijiplak berkali-kali untuk dipresentasikan kepada dosen pembimbing yang sama (dalam hal ini penonton). Sudah dipastikan akan ada degradasi nilai dari satu karya ke lainnya.

Di saat pemuda berbadan kekar berotot dengan six packs sibuk memperebutkan gelar jawara L-Men of the Year 2012, mantan finalis edisi 2009 bernama Reymond Knuliq ini justru sibuk mempermalukan diri dengan peran-peran tipikal sambil sesekali turut membuka kaosnya. Di saat Azis Gagap atau Zaky Zimah mulai meninggalkan ‘belantara’, Reymond semakin menjadi lewat imej cowok berbody dan bermulut besar lengkap dengan celotehan-celotehan yang sebetulnya dimaksudkan sebagai efek humor tapi sayang terlalu dipaksakan mengundang tawa tidak wajar. Haruskah ada yang memperingatkan doi untuk lepas dari keterikatannya?

Bangkit Dari Kubur hanya layak ditonton saat menit-menit pertamanya dimana sepasang tangan menyeruak dari dalam kuburan. Setelah itu waktunya anda meninggalkan kursi sebelum mengalami dejavu yang mengancam turunnya batas intelejensi karena repetisi formula yang itu-itu saja. Lagi-lagi pocong dan kuntilanak united menebar pengalaman spiritual yang tak lagi ditakuti tapi ditertawakan oleh kebodohan dan ketidakwajarannya. Pesan moralnya sejak awal jelas bahkan sebelum menonton filmnya yaitu “Please do respect the dead.” Sederhana kan?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
 

Jumat, 04 Mei 2012

3 POCONG IDIOT : Anggap Bodoh Tak Dapat Diajar


Quotes:
Pipin: Pokoknya sebagai pocong sejati, kita harus balas dendam pada gorilla fitness itu!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini mengadakan screeningnya di fX Platinum XXI pada tanggal 30 April 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Pipin
Joshua Suherman sebagai Keling
Jordi Onsu sebagai Jadoel
Rina Diana sebagai Rayna
Rozie Mahally sebagai Glenn
Reymon Knuliqh sebagai Azis
Keira Shabira
Karina Meita

Director:
Merupakan film kelima bagi Nayato Fio Nuala setelah Seandainya di tahun 2012 ini.

W For Words:
Masih ingat dengan film India fenomenal berjudul 3 Idiots (2009) yang mencetak sukses dimanapun ditayangkan? Entah kita harus berbangga atau malu hati akan arti sebuah kreatifitas karena penulis anonim All Izz Well membuat versi novelnya berjudul “3 Pocong Idiot” yang lantas diadaptasi lagi oleh Gope T. Samtani dkk ke dalam versi filmnya lewat Rapi Films. Saya pribadi merasa malu kuadrat akan ketidak-kreatifan pangkat tiga ini dan tidak lagi peduli akan siapa-siapa yang terlibat di dalamnya.

Cendol Itu Asyik alias CIA merupakan boyband yang beranggotakan Glenn, Pipin, Jadoel dan Keling yang cukup populer di sekolah mereka. Malangnya saat akan manggung di sebuah cafe, Pipin, Jadoel dan Keling mengalami kecelakaan akibat kelalaian Azis mengemudi. Ketiganya pun menjadi pocong dan harus menyesuaikan diri dengan hidup baru mereka termasuk berinteraksi dengan orang-orang terkasihnya dahulu. Akankah kebahagiaan akan muncul dalam bentuk hidup yang lain bagi mereka?
Ide cerita yang ditulis oleh Ipnu Rinto Nugroho ini kemudian dituangkan dalam bentuk skrip oleh Djamaludin Moenaf dan Ery Sofid. Terus terang saya bingung apa sesungguhnya esensi yang ingin dihadirkan? Jika persahabatan, tidak ada gregetnya. Jika cinta, tidak ada chemistrynya. Jika kebodohan, nah yang satu ini banyak sekali, bertebaran dari menit awal sampai akhir, tanpa keeleganan samasekali yang mampu menyelamatkan kualitasnya dari keburukan fatal. Bayangkan seikat pocong bisa dengan mudahnya mengeluarkan tangan dan kaki untuk beraktifitas atas dasar apa?

Duet Joshua Suherman dan Jordi Onsu disini nyaris membuat saya menyesal karena sangat menyukai mereka dalam Tendangan Dari Langit (2011). Humor Keling dan Jadoel yang biasanya natural kali ini meleset disana-sini. Sama halnya dengan Ajun Perwira yang semakin membosankan dengan peran stereotype pocong sok asik. Sorry dude, you are not fun to watch anymore. Kalo melihat aktor-aktris langganan Nayato seperti Rozie, Reymon, Rina, Keira tak perlu dikomentari lagi, mereka sudah melekat dalam kebuntuan seperti kawanan kerbau dicocok hidungnya.
Sutradara Nayato bahkan menggunakan nama Koya Pagayo dalam jajaran penata kamera bersama Freddy A. Lingga. Jangan katakan bahwa “alter ego” nya tersebut sebetulnya nyata! Kembali pada 3 Pocong Idiot, trailernya yang lucu manis itu tidak usah dipercaya. Isinya tak lain tak bukan adalah daur ulang dari formula lawasnya saja, tambal sulam tanpa juntrungan yang mungkin berefek samping pada kecerdasan anda. Harapan terbesar saya adalah semoga ini kali terakhir kali saya melihat tiga anak manis tersebut bermain dalam film Nayato.

Durasi:
81 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 29 Desember 2011

POCONG KESETANAN : Makam Keramat Berurusan Vampir Cina

Quotes:
Asep: Asep gak takut sama pocong tapi sama bencong!


Storyline:
Bujang, Mentil dan James pergi ke kota untuk menjemput Santo yang sudah minggat setahun lantaran menolak jadi pendekar. Santo beralasan karena malu terkena kutukan yang membuatnya menjadi banci bernama Santi di malam hari. Suatu hari, Santo memutuskan untuk merampok makam keramat Cina yang menyimpan banyak harta karun bersama Bujang dan James. Sejak saat itulah mereka diteror oleh vampir Cina, pocong Ajun dan kuntilanak di rumah kontrakan yang juga berisikan Chika dan Wendy. Berhasilkah mereka lepas dari teror supernatural tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Parco Film dan sedianya diberi judul Kungfutilanak.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Santo/Santi
Raffi Ahmad sebagai Asep
Guntur Triyoga sebagai James
Ajun Perwira sebagai Pocong
Reymon Knuliqh sebagai Bujang Jawara Pantun
Rina Diana sebagai Mentil
Diah Cempaka Sari sebagai Chika
Febriyanie Ferdzilla sebagai Dewi
Rozi Mahally sebagai Reymon

Director:
Merupakan film penutup Nayato Fio Nuala di tahun 2011 yang menggunakan nama Pinkan Utari.

Comment:
Serasa belum cukup bermain dengan kuntilanak dan pocong dalam film-filmnya yang dominan selama 3 tahun terakhir, Nayato membawa serta ikon baru yaitu vampir Cina yang hobi melompat-lompat dalam balutan busana khas tradisional sana. Sebagai informasi, vampir semacam ini sempat populer di era 90an lewat serial televisi ataupun film layar lebar Mandarin yang juga berhasil mengangkat nama Lam Cheng Ying sebagai guru penakluknya.
Penulis Ery Sofid dan Ian Jampanay secara serampangan mencampur-adukkan berbagai plot cerita yang tidak simetris itu. Pertama, ada Asep yang ditugaskan membawa pulang Santo yang konon terkena kutukan siang dan malam (what is this?).Namun ternyata setelah paruh pertama film, si Asep menghilang entah kemana. Kedua, merampok makam Cina itu tujuannya apa? Mengambil uang orang mati yang tidak laku di dunia manusia? Lantas mau menukarnya di money changer? Come on, u can’t be more silly!
Kehadiran pocong Ajun juga tidak berkorelasi apapun dengan bangunan cerita. Sekadar memperingatkan Santo dkk untuk tidak berbuat jahat? Atau numpang eksis dengan menjadi polisi alam manusia dan setan? Jika memang Ajun Perwira hanya dimaksudkan untuk menjadi cameo, kenapa kemunculannya cukup dominan hingga dibully habis-habisan? Apalagi sampai mengubah design poster hingga mirip dengan PJP The Movie yang baru saja tayang sebulan yang lalu itu. Gosh!

Seberapa kerasnya usaha Azis dan Reymon untuk memancing tawa dengan kegagapan kemayu dan kejayusan berpantun di sepanjang durasinya itu, saya cuma bermuka datar bahkan tersenyum pun tidak. Suer! Justru saya mempertanyakan suara tawa penonton di deretan bangku belakang yang menggelegar. Ingin rasanya menyambangi mereka dan besar kemungkinan akan menemukan Bapak Nayato sedang menggelitik pinggang mereka satu persatu?!
Belum setengah jam film berjalan, beberapa penonton yang “bijak” sudah memilih untuk meninggalkan bioskop. Nyaris saya memberikan standing applause untuk mereka karena berani mengambil langkah tersebut. Kenyataannya saya cuma bisa mempertahankan flat face MODE ON selama kurang lebih satu jam seperempat sekaligus menahan kedua kaki untuk tidak beranjak menuruti perintah otak yang tidak mau beresiko mengalami distorsi akut.
Pocong Kesetanan benar-benar menyiksa pikiran dan batin, bukan karena ketakutan dan kelucuan tetapi kebodohan merangkai cerita yang tidak masuk akal. Adegan pertempuran antar geng yang lebih mengandalkan permainan kamera dan tali-menali tersebut hanya sekadar basa-basi. Ketololan para karakternya yang hanya bisa berjayus ria dan mengupil tersebut amat tidak termaafkan. Berdoalah agar bangsa alien tidak menyaksikan film ini, karena jika iya bisa jadi mereka sepakat menjajah bangsa manusia yang dianggap memiliki intelejensi sejenis. Wasallam!

Durasi:
76 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 Juli 2011

KEPERGOK POCONG : Cara Kaya Foto Mayat Sumpah Pocong

Quotes:
Boy: Nama aslinya George Coolman.. Tapi kenapa dipanggil Aceng ya?

Storyline:
Aina adalah seorang mahasiswa abadi yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penggali kuburan. Ia tinggal bersama kedua sahabatnya yang pintar-pintar bodoh yaitu Boy dan Ceko. Boy memiliki pacar cantik bernama Princess yang selalu mengukur kebahagiaan dari materi. Sedangkan Ceko memilih untuk memendam cintanya terhadap Niken. Saat rekan mereka di kampus, Donatus berusaha membuat dokumentasi tentang Aina, terbukalah sebuah buku rahasia yang membahas jika menyimpan foto jenazah orang yang tewas karena termakan sumpah pocong maka akan menjadi kaya. Boy dan Ceko mencoba cara tersebut hingga mendapatkan rejeki-rejeki yang mengalir. Akankah semua itu abadi dan tidak memiliki efek samping dari mayat yang mereka pinjam fotonya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 11 Juli 2011.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Aina
Raymond Knuliq sebagai Boy
Rozie Mahally sebagai Ceko
Nadya Almira sebagai Princess
Keira Shabira sebagai Niken
Albert Putra sebagai Donatus

Director:
Merupakan film keempat Nayato di tahun 2011 ini dan sangatlah produktif untuk ukuran sutradara lokal.

Comment:
Penasaran dengan apa yang dimaksud judul film ini? Saya akan berikan jawabannya sebelum memulai review ini. KKPK alias Komite Kepergok Pocong Katro. *sepi* Saya akan biarkan anda semua ternganga lebar dan bermawas diri terlebih dahulu. Tolong pikirkan lagi keputusan anda untuk menyaksikan film ini jika tidak ingin bergabung dalam perkumpulan fiktif tersebut. Dan jangan katakan saya tidak pernah memperingatkan anda sebelumnya.
Penulis Erry Sofid sangat disarankan tidak bermain-main dengan intelejensi penonton lagi. Percayalah hal tersebut tidak menguntungkan kedua belah pihak samasekali. Premis film ini sendiri sudah tidak wajar yakni menggabungkan dunia nyata dengan dunia gaib dalam sebuah komedi situasi. Bisa bayangkan jika pocong dan kuntilanak dapat hidup berdampingan dengan anda secara terang-terangan sehari-harinya? Akankah reaksi anda sama seperti halnya Azis Gagap dkk disini?
Perlakuan tak senonoh bertubi-tubi menimpa Mr. P dan Mrs. K di sepanjang film. Demikian saya berikan julukan khusus untuk meredam rasa sakit hati mereka setelah dibanting, ditimpuk telor, dijitak dan menerima sederetan perilaku ajaib lainnya. Mungkin ada baiknya mereka memikirkan koalisi dalam mengajukan fatwa khusus terhadap Nayato? Mohon jangan ditanggapi terlalu serius karena ini hanya sebuah ide liar yang terlintas dalam kepala saya yang sudah semakin mumet ini.
Khusus Nayato sebaiknya tidak terlalu dicaci-maki karena ia membawa banyak sekali isu LGBT kali ini. Entah sebagai dukungan atau justru ia berusaha jujur dengan orientasi pribadinya? Jika tidak percaya lihat saja interaksi Reymond dan Rozie yang awkward di sebuah toilet itu. Atau segala tingkah laku tokoh transgender Aina yang dimainkan dengan “super-duper” oleh Azis Gagap? Jika memang murni dimaksudkan untuk memancing tawa rasanya kurang bijaksana.
Kabar yang berhembus bahwa Nayato dan Azis Gagap berencana membuat 50 film bertemakan pocong mudah-mudahan tidak terealisasi atas dasar apapun juga. Kepergok Pocong sejauh ini sudah menjadi bukti kuat bahwa ide cerita dan formula yang berulang-ulang hanya akan menyebabkan sakit kepala, kram otak, gangguan penglihatan dan pendengaran serta stress tingkat tinggi. Beruntung saya tertidur di sebagian durasinya sehingga efek samping dapat diminimalisir tanpa disengaja.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 20 Juni 2011

ADA APA DENGAN POCONG : Misteri Pocong Teror Empat Pemuda

Quotes:
Boy: Loe pecahin aja tuh kaca biar rame. Kalo kurang rame, bakar!

Storyline:
Bermula pada Wawan yang mengalami teror oleh pocong di kostnya disusul oleh Hary, Boy dan Tedi yang mengalami hal sama. Tidak tahan, Hary dan Wawan menyambangi seorang dukun sakti yang memberikan mereka keris mini sebagai perlindungan. Tedi dan Hary pun mengalami kecelakaan misterius karena pocong yang semakin marah. Boy yang ketakutan membuka mulut pada Ririn dan Mirna akan kejadian sesungguhnya yang berkaitan dengan Lastri, gadis kutu buku yang ditaksir Hary tapi menaruh hati pada Wawan. Akankah mereka berempat selamat dari gempuran pocong yang menyimpan dendam itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan Co Bic Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 20 Juni 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Boy
Joanna Alexandra sebagai Ririn
Dallas Pratama sebagai Wawan
Raymond Knuliq sebagai Hary
Jerry Likumahwa sebagai Tedi
H Bolot sebagai Dukun
Mpok Atiek sebagai Suster

Director:
Chiska Doppert dua kali menggarap film sebelumnya yaitu Missing (2005) dan Gotcha (2006).

Comment:
Prolog film ini langsung dibuka tanpa tedeng aling. Sepertinya Chiska hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan Nayato sebelumnya. Oh wait! Dari dulu saya selalu curiga keduanya adalah orang yang sama. Mungkin Nayato lebih senang berkostum pocong sedangkan Chiska memilih kostum kuntilanak. Sayangnya pesta Halloween masih jauh di depan, bapak dan ibu.. Namun untuk menghargai, saya akan tetap memakai nama Chiska dalam penulisan review ini.
Seberapa keras usaha Ule Sulaeman untuk menghasilkan skrip yang kreatif sekalipun sepertinya akan sia-sia. Eksekusi Chiska tidak dapat diganggu-gugat atas dasar apapun juga. Tidak heran jika terlalu banyak elemen yang mengganggu disini mulai dari miscast, misplaced, misruled, mismatch dan lain-lain. (Buka Wikipedia untuk menambah sederetan kata “mis” lainnya). Dan jangan minta saya untuk menyebutkan contoh kasus-kasusnya karena akan menyinggung terlalu banyak pihak.
Entah apa fungsi para aktris disini selain pemanis layar belaka. Joanna yang hobi jump-in jump-out pada scene-scene tertentu. Mpok Atiek yang hanya kebagian satu scene di rumah sakit sebagai suster tua genit. Atau Monique yang ternyata memiliki kemampuan “membelah diri” sebagai pocong dan kuntilanak sekaligus terlepas dari siapapun pemerannya. Penonton diamini untuk percaya bahwa dialah di balik semua make-up dan kostum horor tersebut. OMG!
Bagaimana dengan para aktornya? Zaky kembali mengeksploitasi keiteman dan kekhasannya dalam berlogat dan melontarkan celetukan-celetukan jenaka. Di awal-awal mungkin cukup berhasil tapi lama-kelamaan semakin menjemukan. Dallas sebelumnya cukup berwatak dalam berakting kali ini tidak menjanjikan apa-apa. Raymond lagi-lagi bermodal body panzer dan congor bawelnya. Paling mengganggu dari semua adalah karakter Tedi dan Dukun dimana budeg dan bolot itu ternyata memang beda tipis. Once or twice is funny but more than that would be sick. Mohon jangan salahkan Jerry ataupun H Bolot karena mereka hanya dibayar!
Mari kita beralih pada kiprah sang pocong dan kuntilanak. Mana yang lebih efektif dalam tampil? Tentu saja pocong sebab doski dijadikan judul! Mau lihat pocong naik mobil, busway, taksi? Itu tidak penting sebab yang lebih menarik adalah apakah mereka melompat-lompat dalam melakukannya atau ada yang berbaik hati membukakan ikat kakinya? Silakan berasumsi. Kabar baikya adalah tidak ada perlakuan nista yang ditujukan pada mereka kali ini sehingga imej horor setidaknya tetap terjaga.
Ada Apa Dengan Pocong sebetulnya berpotensi menjadi parodi horor yang lebih menghibur lagi andai digarap dengan lebih serius. Opening yang cukup menggebrak dengan angle dan lighting yang tidak lazim itu seketika sirna setelah 15 menit berlalu. Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan gambar tanpa isi yang lambat laun tersapu oleh hembusan angin berbau kantuk dari mulut para penonton. Jemu sekaligus tersiksa oleh kebodohan menantikan tirai di bawah tulisan EXIT terbuka.

Durasi:

80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter: