XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label andhika pratama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andhika pratama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

JAKARTA HATI : Sekelumit Konflik Manusia Seantero Ibukota


Quotes:
Oh ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?

Terbagi dalam 6 segmen:
ORANG LAIN (21 min)
Seorang pria di usia pertengahan 30 tengah mabuk di meja bar sambil mencelupkan cincin kawinnya ke dalam gelas di hadapannya. Tak lama datanglah seorang perempuan kisaran usia 20 yang mengatakan bahwa pacarnya berselingkuh dengan istri pria tersebut. Dalam situasi canggung, keduanya sepakat menghabiskan waktu dengan makan dan jalan bersama sembari membahas kekurangan pasangan masing-masing. Apakah mereka betul-betul mengenal diri sendiri?

MASIH ADA (17 min)
Marzuni adalah seorang anggota dewan yang ingin menyambangi rekan-rekannya di bilangan Senayan dengan membawa tas olahraga berisi uang tunai sejumlah satu milyar rupiah. Malang, mobilnya mogok dan supirnya tak mampu berbuat apa-apa. Marzuni lalu menyetop sebuah taksi dimana sang supir berceloteh tentang moral orang gede dan kecil yang memicu perdebatan di antara keduanya. Dalam perjalanan, Marzuni belajar bahwa anggapan negatif memang tak bisa lepas dari profesinya itu.

KABAR BAIK (19 min)
Bana adalah seorang polisi muda yang jujur dan disiplin meskipun banyak godaan untuk bermain kotor. Suatu saat, tahanannya adalah pria paruh baya yang ternyata ayahnya sendiri. Dituding melarikan sejumlah uang arisan berantai tetangganya sendiri, Bana harus menjalani prosedur pemeriksaan dan interogasi yang canggung. Interaksi keduanya mengungkapkan banyak cerita yang tidak diketahui Bana sekaligus menimbulkan dilema yang sulit dihindari.
HADIAH (18 min)
Seorang penulis skrip yang telah melewati masa emasnya, Firman tengah kekeringan ide dalam menyelesaikan apa yang dianggapnya akan meledak. Sahabatnya menyarankan via telepon agar Firman menghubungi langsung produsernya untuk membahas konsep komedi seks kacangan itu. Sementara putra Firman yang berusia 8 tahun merengek agar ditemani ayahnya datang ke pesta ultah teman sekolahnya yang kaya raya. Bermodalkan lima puluh ribu, Firman lantas mempertaruhkan harga dirinya.

DALAM GELAP (23 min)
Pemadaman listrik terjadi di sebuah kawasan Jakarta selepas maghrib. Pasutri muda yang biasa menyibukkan diri dengan gadget, media sosial dan seabrek kegiatan pribadi lainnya terpaksa berbicara satu sama lain. Sayangnya bahasan yang mereka ambil justru semakin memperkeruh suasana yaitu rahasia perselingkuhan masing-masing yang sudah diketahui keduanya. Betapapun mereka mencoba berdamai, kegagalan membina rumah tangga tak bisa ditutupi lagi.

DARLING FATIMAH (16 min)
Fatimah adalah perempuan keturunan Pakistan penjual darling alias dadar guling dan penganan lainnya di Pasar Senen. Kecantikan dan mulut manisnya selalu memikat para pembeli termasuk Ayun, pemuda keturunan Cina yang menaruh hati padanya. Interaksi mereka yang tak nyaman didengar karena terlampau jujur lambat laun mengarah pada cinta dimana hubungan keduanya mungkin menuju pada masa depan yang kompromis.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh 13 Entertainment ini gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 6 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Slamet Rahardjo sebagai Marzuni
Andhika Pratama sebagai Bana
Roy Marten sebagai Ayah Bana
Dwi Sasono sebagai Firman
Agni Pratistha
Dion Wiyoko
Shahnaz Haque
sebagai Fatima
Framly Nainggolan sebagai Ayun
Surya Saputra
Asmirandah
Didi Petet
Jajang C Noer
Agus Kuncoro

Cowboy Junior

Director: 
Merupakan karya kedua bagi Salman Aristo yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis skenario ini.

Comment: 
Jika tahun lalu ada Jakarta Maghrib yang edar terbatas di jaringan bioskop Blitzmegaplex dengan konsep omnibus serupa dan durasi masing-masing segmen yang lebih singkat, maka kali ini Salman Aristo berupaya mengeksplorasi lebih jauh kedalaman hati segelintir orang yang dianggap mewakili idealisme kota Jakarta. Enam kisah pendek seperti Orang Lain, Masih Ada, Kabar Baik, Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah mengambil tema beragam yang ujung-ujungnya berpijak pada cinta itu sendiri. Hak rilis yang dipegang 21Cineplex jelas memberikan kesempatan yang lebih luas.

Kapabilitas Salman sebagai sutradara memang mengalami peningkatan. Permainan gambarnya jauh lebih variatif meski kontinuitasnya masih belum sempurna di beberapa bagian. Editing jempolan dari Cesa David setidaknya mampu menutupi hal tersebut. Dialog-dialog puitis nan menggigit tetap menjadi andalan dalam menohok perasaan penonton yang mungkin pernah berada di situasi nyata yang mirip. Sayangnya tata musik Jenal belum dapat menghadirkan penekanan nuansa yang diinginkan sehingga tak jarang pengadeganannya terasa kosong tanpa nyawa.

Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah, Masih Ada, Orang Lain, Kabar Baik. Urutan tersebut adalah susunan saya dari yang terfavorit hingga yang tidak. Ya, paruh pertama film ini menunjukkan kecanggungan yang tidak biasa sebelum diperbaiki dengan kefasihan yang lebih lancar di paruh kedua.
 Simak ulasan singkat saya terhadap masing-masing segmen. Abaikan jika anda tidak ingin tahu terlalu banyak.
Orang Lain>Kejutan berupaya disimpan rapat-rapat hingga akhir. Namun eksploitasi percakapan random tak cukup untuk menggali kepribadian dari sosok pria dan wanita disini sehingga logikanya sedikit terabaikan dan penonton tak mampu bersimpati pada keduanya. Wajah dan akting rupawan dari duet Surya Saputra dan Asmirandah setidaknya menyelamatkan bagian pembuka ini.
Masih Ada>Slamet Rahardjo tampak “sendirian” mengangkat segmen ini menangkis anggapan negatif orang-orang awam di sekitarnya. Penampilan Agus Kuncoro, Didi Petet, Herdin Hidayat yang juga tak kalah senior malahan tak cukup tegas menggarisbawahi pernyataan kontradiktif yang lahir dari stereotype pejabat negeri ini.

Kabar Baik>Pemasangan Roy Marten dengan Andhika Pratama nampaknya bukan ide yang bagus mengingat lintas generasi yang tidak didukung oleh kualitas akting yang sebanding. Konflik ayah penipu dan putra polisi seharusnya mampu memercikkan riak kekeluargaan yang kental, bukan sebatas cap legitimasi penegak dan pelanggar hukum.
Hadiah>Segmen inilah yang paling memiliki hati. Anda akan melihat kasih sayang tulus orangtua terhadap anak dan juga antar teman terlepas dari himpitan beban hidup dan kesenjangan sosial yang melatarbelakanginya. Dwi Sasono secara cemerlang menjiwai peran penulis skrip yang hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan masa lalu sehingga lupa menyongsong masa depan. Simak pertukaran dialognya dengan sahabat di ujung telepon yang sukses menjelaskan segalanya.
Dalam Gelap>Segmen yang satu ini memang muncul dalam format steady shot minim cahaya. Pemadaman listrik yang berakhir pada perdebatan suami istri yang saling “menelanjangi” rahasia masing-masing tak memungkiri api rumah tangga yang mulai memadam. Dion dan Agni menyuguhkan gestur tubuh yang menarik disertai spontanitas kalimat sindiran yang tajam menohok walau ekspresi wajah tertutupi kegelapan.
Darling Fatimah>Keluhan saya cuma satu, Shahnaz terlalu cantik untuk peran wanita penjual di pasar. Meski begitu, usahanya menokohkan janda Pakistan pantas diacungi jempol. Sama halnya dengan Framly sebagai pemuda Cina Betawi berpendirian kuat. Interaksi Fatimah dan Ayun memang belum sempurna tapi chemistry mereka terbilang manis dalam merumuskan potensi cinta yang ada.

Menilik kualitas cerita secara keseluruhan, saya 
katakan Jakarta Hati tidak sebaik pendahulunya terlepas dari peningkatan aspek teknis yang kentara. Omnibus ini belum memiliki keseimbangan hakiki pada tiap segmennya dimana plot masing-masing tak mampu menyembunyikan kesan episodik dari sebuah potret besar. Penggunaan Jakarta sebagai ruang lingkup dan hati sebagai nyawa tampak terlalu berat untuk dirangkum terlepas dari durasi yang nyaris mencapai dua jam tersebut. Namun Salman jelas mempunyai niatan baik untuk bertutur dengan menempatkan kepingan hati ragam rasa di tiap sudut kota Jakarta yang hiruk pikuk.

Durasi: 
114 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 26 Oktober 2012

I LOVE YOU, MAS BRO : Drama Nanggung Komedi Garing


Quotes:
Alim: 
Sorry bro, gua gak punya bakat boring kayak loe.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 23 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Andhika Pratama sebagai Bagus
Ramon Y Tungka sebagai Alim
Cecep Reza sebagai Rizky
Tya Ariestya sebagai Alia
Tamara Tyasmara sebagai Max
Joe P-Project sebagai Boss Boss
Bobby Samuel sebagai Vina
Yurike Prastica sebagai Ibu Vivi
Alfie Alfandi sebagai Tanto
Mayang Naomi sebagai Meta
Epy Kusnandar sebagai Notaris

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Raymond Handaya yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai astrada dan asisten produser.

W For Words: 
Cassandra Massardi boleh dikategorikan sebagai penata skrip yang sukses mengingat sudah nyaris 20 film ditanganinya termasuk yang satu ini. Beragam topik yang saling berkolaborasi mulai dari cinta, keluarga, persahabatan kembali ditampilkan. Namun apakah cukup kreatif untuk setidaknya membuat penonton berpaling dan tertarik menyaksikan drama persembahan Rapi Films ini? Sutradara debutan pun ditunjuk untuk menangani dua aktor yang sudah malang melintang di jagat perfilman nasional selain sederetan aktor-aktris baru yang turut menyemarakkan suasana.

Empat saudara yang kesemuanya laki-laki yaitu Bagus yang juling kala menatap cewek, Alim yang rajin mendatangi masalah, Rizky yang otaknya kurang maksimal, Vina yang kecewek-cewekan hingga kerap berdandan tumbuh bersama sejak kecil. Alim yang lebih dekat dengan adik-adiknya tak jarang menimbulkan kecemburuan dalam diri Bagus. Saat kecelakaan mobil merenggut nyawa kedua orangtua mereka, Bagus dan Alim harus mencari cara masing-masing demi bertahan hidup apalagi seorang mafia misterius dan konco-konconya mulai datang menagih hutang lima ratus juta rupiah.

Satu hal yang paling fatal dalam film ini adalah sisi humor yang coba digali tapi berujung garing. Komedi situasi antar empat bersaudara sudah terlalu sering diperlihatkan sebelumnya dimana sejak awal Bagus, Alim, Rizky dan Vina sudah dikondisikan sesuai karakteristik tipikal masing-masing. Mungkin ini adalah penampilan terburuk Joe P-Project yang biasanya kocak dengan spontanitasnya. Bagaimana tidak, tokoh Bos yang dimainkannya sibuk memberi instruksi bodoh pada anak buahnya atau berbicara dengan burung nuri yang juga didubbing suaranya.

Unsur dramanya pun tidak kuat. Alasan mengedepankan sosok Alim di dalam keluarga tidak berjalan wajar. Ketegaran Bagus, Alim, Rizky dan Vina dalam menjalani hidup setelah kematian orangtuanya juga tidak terlihat bersungguh-sungguh.  Kehadiran Alia, Meta dan Max terkesan sebagai pengalih dari kejenuhan, padahal sosok keduanya sebagai love interest Alim, Bagus dan Vina sebenarnya mampu menghadirkan konflik serius tersendiri andai digali lebih dalam. Penyimpulan berbagai subplot yang berkembang di akhir cerita terbilang instan, lagi-lagi tanpa nyawa yang dibutuhkan.

Begitu banyaknya nama-nama berbakat yang mendukung tidak satupun memberikan kesan yang berarti. Sulit menyebutkan secara pasti salahnya dimana. Skrip? Sutradara? Atau ada faktor lain? Ramon yang umumnya mencuri perhatian, Andhika yang biasanya memiliki karisma tidak jua mampu keluar dari st
ereotype bad boy dan good boy yang melekat pada mereka. Apabila harus memilih, Tya dan Bobby setidaknya masih berakting lumayan dalam menyembunyikan perasaan mereka dalam-dalam sambil tetap berusaha memberikan sinyal kepada orang yang disukai. 

I Love You Mas Bro memang bukan drama komedi hancur lebur. Faktanya, ia masih ada dalam tahap tontonan standar. Lupakan elemen action basa-basi yang kontinuitasnya pantas dipertanyakan itu. Berbagai intrik dan twist yang tertata di sepanjang durasinya sudah bisa diduga dari awal. Itu sebabnya beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop lebih dahulu sebelum film benar-benar berakhir. Sebagai ilustrasi, jika melihat dialog yang serba klise dan gagal total dalam bertutur, rasanya anda sudah bisa menerka kesalahan utama ada pada siapa. Sorry to say.. I cannot love you, mas bro!


Durasi: 
99 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 25 Oktober 2011

KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG : Keadilan Poligami Cinta Tak Sampai

Quotes:
Ifand: Mengapa kamu ada di sini?
Syahdu: Karena takdir mempertemukan kita..


Storyline:
Gadis cantik bernama Syahdu hidup sederhana bersama ibunya yang sakit-sakitan dan juga adiknya Ratih. Saat mengunjungi kakek-neneknya di lain kota, Syahdu berkenalan dengan pemuda soleh, Ifand yang juga ternyata tertarik padanya. Kedekatan keduanya tidak terelakkan menimbulkan cinta. Sayangnya hal tersebut ditentang warga sekitar sehingga Syahdu memilih pergi dan menikahi Nazmi yang bersedia membantu biaya pengobatan ibunya. Ifand yang terluka pun akhirnya menikahi Sofia yang amat tulus menyayanginya. Beberapa tahun kemudian, Syahdu dan Ifand dipertemukan kembali. Akankah cinta mereka berujung kebahagiaan di atas kekalutan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dimana screening terbatasnya diadakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 26 Oktober 2011.

Cast:
Donita sebagai Syahdu
Andhika Pratama sebagai Ifand
Ussy Sulistiawaty sebagai Sofia
Nadya Almira sebagai Ratih
Jordi Onsu sebagai Andi
Iwa Rasya sebagai Nazmi

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Tya Subiakto Satrio, salah satu penata musik film terbaik yang dimiliki Indonesia.

Comment:
Entah apa yang ada di benak Amalia Putri saat mengerjakan skrip film ini. Terus terang saya penasaran apakah ia menyaksikan Pupus (2011) atau Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap (2011) sebelumnya sehingga menghasilkan karya yang teramat mirip. Perbedaannya, Pupus drama cinta remaja, Kejarlah drama cinta beda kasta sedangkan Kerudung sudah bisa diduga dari judulnya drama cinta bernafaskan religi. Bukan kebetulan jika ketiganya dibintangi oleh Donita dan dua diantaranya diperani oleh Andhika Pratama.
Donita disini lagi-lagi mengumbar air mata. Scene menangisnya kembali menjadi andalan utama. Kasih tak sampai, diduakan cinta, ditinggal kawin, perasaan tersakiti dan sederetan kejadian dramatis lainnya bisa menjadi alasan karakter Syahdu untuk menangis. Meski saya bukan Muslim tetapi penggunaan kerudung Donita di sepanjang film sangatlah mengganggu karena dikenakan dengan setengah niat. Apakah dimaksudkan untuk menegaskan karakter Syahdu yang tidak memahami agamanya sendiri? Hm, rasanya masih ada cara lain yang lebih tepat.
Sebaliknya Ussy memulai debutnya dengan gemilang. Mudah-mudahan kerudung yang menjadi judul film ini memang diperuntukkan bagi karakter Sofia, wanita tegar berhati besar yang benar-benar menjunjung tinggi kehormatan diri lewat sikap ikhlas dan “nrimo”nya. Kalimat terakhir ini mohon jangan diartikan bahwa saya mendukung setiap perempuan untuk menerima nasib untuk “dimadu” suaminya. Saya selalu percaya bahwa konsep pernikahan adalah satu adanya.
Peran Andhika disini mengingatkan pada apa yang dilakukan Fedi Nuril dalam Ayat-Ayat Cinta (2008). Sayangnya turun naiknya emosi tokoh Ifand pantas dipertanyakan saat ia mengencani Syahdu, menikahi Sofia, meminang Syahdu hingga terkesan berpihak pada Sofia kembali dalam berumahtangga. Tentunya penonton perlu mengetahui proses pergolakan batin yang lebih kentara untuk dapat mengerti alasan-alasan Andhika melakukan semua itu.
Debut Tya Subiakto sebagai sutradara memang dipertanyakan banyak orang yang merasa karyanya ini menilik dari sinematografinya lebih “bergaya” Nayato yang kebetulan hanya duduk di bidang departemen kamera kali ini. Namun saya percaya pengalaman Tia mengerjakan scoring musik dan bekerjasama dengan sineas-sineas tanah air turut membekalinya ilmu penyutradaraan. Film pertamanya ini masih diwarnai dengan sentuhan feminis pada sudut pandang karakter-karakternya, sesuatu yang rasanya cuma bisa dilakukan oleh seorang wanita.
Kehormatan Di Balik Kerudung bukanlah karya sempurna yang lagi-lagi mencoba mengejawantahkan kasus poligami dengan pendekatan yang sudah tidak asing lagi. Bagaimanapun juga pembelajaran kaum wanita untuk menghadapi pria semacam ini tetap patut diingatkan dari waktu ke waktu, baik sebagai istri tua atau muda sekalipun. Anda bukannya tidak punya pilihan tetapi sangatlah penting untuk mengambil sikap tegas demi kepentingan sendiri, bukan orang lain.

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 24 Agustus 2011

KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : Pemuda Desa Kepincut Gadis Model Metropolitan

Quotes:
Asep: Kalo Asep udah cinta jangankan beda kota, beda dunia juga bakal Asep kejar!



Storyline:
Pernikahan yang tidak diinginkan Asep akhirnya terjadi juga karena keluarganya sudah memilih Enok. Dalam perjalanan, melintaslah Farah di dalam mobil beratapkan sunroof yang datang ke kampung Asep untuk sesi pemotretan luar ruang. Seketika Asep jatuh hati pada Farah dan keduanya pun menghabiskan seharian bersama karena kendaraan dinas Farah yang mogok. Asep tidak peduli akan ketidaksukaan Emak dan warga setempat dengan para pendatang tersebut. Sepulangnya Farah ke Jakarta, Asep nekad kabur dari rumah untuk menyusulnya. Apa yang bisa dilakukan pemuda desa di kota metropolitan yang samasekali asing baginya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Studio XXI eX pada tanggal 23 Agustus 2011.


Cast:

Andhika Pratama sebagai Asep
Donita
sebagai Farah

Lidya Kandau sebagai Ibu Asep
Joe P Project
sebagai Paman

Polo sebagai Supir Taksi
Mucle
sebagai Ustad

Bertrand Antolin
sebagai Brandon


Director:

Merupakan film kedua bagi Indrayanto Kurniawan setelah Saus Kacang (2008).


Comment:

Percintaan pemuda desa dengan gadis metropolitan. Entah sudah berapa kali tema serupa diangkat ke layar lebar sebelumnya. Masih segar dalam ingatan (meski sebetulnya tidak terlalu memorable) di penghujung tahun lalu ada Kabayan Jadi Milyuner. Jelas yang membuat berbeda adalah jajaran cast dan filmmaker yang terlibat di dalamnya. Masing-masing mempunyai versinya sendiri dan dikembalikan penonton mau berpihak pada yang mana.

Penulis skrip Benni Setiawan masih menunjukkan kelemahannya disini yaitu kesulitan menyatukan berbagai subplot yang sudah terbangun untuk kemudian dikonklusikan pada akhirnya. Pertemuan Asep dan Farah di bagian openingnya bahkan tanpa tedeng aling terlebih dahulu. Terlalu cepat dalam menyimpulkan ada “sesuatu” di antara keduanya setelah cinta pandangan pertama Asep atau Farah yang harus menginap satu malam dimana keduanya terlibat perbincangan yang tak terlalu krusial.
Permasalahan utama film adalah terlalu terfokus pada Andhika dan Donita. Dunia seakan milik mereka berdua, tokoh-tokoh lain yang timbul tenggelam begitu saja seakan berada di “dunia lain” tanpa memiliki pengaruh yang bisa menguatkan bangunan cerita. Kemana Enok setelah dibatalkan pernikahannya? Mengapa reaksi Mak Asep datar seakan tanpa kekhawatiran menyambut kembali kepulangan putra kesayangannya? Apa alasan Bertrand putus sambung dengan mudahnya? Semua pertanyaan tersebut tidak akan pernah anda temui jawabannya.

Rasanya di jaman sekarang ini sulit untuk percaya ada pemuda selugu (kalau tak mau dibilang bodoh) Asep yang sebegitu naifnya mau bersusah payah menerapkan prinsip agamanya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Bagaimana alasan gadis cantik modern hidup dalam kemewahan seperti Farah yang mau peduli pada pemuda desa yang baru sekali ditemuinya itu termasuk mengajaknya tinggal bersama (baca berdua) di apartemennya? Sekeras apapun Andhika dan Donita menampilkan penjiwaan yang sesuai dengan karakter mereka dalam film ini, tetap sulit bagi penonton untuk tidak mengerutkan kening saat menyaksikan polah tingkah keduanya di sepanjang durasi.
Jika sebelumnya sutradara Indrayanto masih cukup berhasil dengan duet suami-istri Ashraff-BCL yang merusak suasana Nyepi di Bali dalam Saus Kacang yang setidaknya mampu menyuguhkan romantisme pembangkit senyum kecil, tidak kali ini dengan pasangan Andhika-Donita. Percayalah tangisan meyakinkan Donita dalam berbagai scene sekalipun tidak mampu menyelamatkan film. Apalagi diiringi scoring musik yang tidak pada tempatnya.

Konsep komedi yang ditawarkan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini tergolong masih mampu memancing tawa. Sayangnya bukan tawa lepas melebarkan mulut melainkan tawa kecut mengerutkan kening. Mungkin setelahnya anda harus berpikir keras untuk mencari alasan melakukan itu. Ya setidaknya dua pesan moral coba disematkan kali ini yakni ingatlah akan pedoman agama di setiap tingkah lakumu dan budayakan tolong menolong antar sesama. Terdengar sesuai dengan tontonan Idul Fitri? Anda sendiri yang menentukan!


Durasi:
100 menit


Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 07 Oktober 2010

SATU JAM SAJA : Tiga Sahabat Dalam Cinta Bersyarat

Quotes:
Gadis: Memang kamu nggak mau besok tidur disini sama aku?

Storyline:
Andika, Hans dan Gadis sudah bersahabat sejak kecil hingga beranjak dewasa. Pada suatu kesempatan, Andika berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di Jerman. Saat Hans dan Gadis ingin menyambangi Andika, mobil yang ditumpangi mereka mogok di tengah hujan badai. Sayangnya Hans tidak dapat menahan nafsunya sehingga tidak lama kemudian, Gadis hamil akibat perbuatannya itu. Andika yang diam-diam mencintai Gadis bersedia menikahinya sekaligus menjadi ayah bagi jabang bayi tersebut. Namun luka di hati Gadis tidak bisa hilang begitu saja. Di sisi lain, Hans menyesali perbuatannya dan meminta Andika mempertemukannya kembali dengan Gadis. Bagaimana akhir dari kemelut ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Karnos Film dan diproduseri oleh Santy Karno.

Cast:
Vino G. Bastian sebagai Andika
Revalina S. Temat sebagai Gadis
Andhika Pratama sebagai Hans
Rano Karno sebagai Bos Andika
Widyawati sebagai Dokter
Marini sebagai Ibu Gadis

Director:
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi pria kelahiran Bogor bernama Ario Rubbik ini.

Comment:
Jujur saja film ini sangat mengandalkan nama Rano Karno yang sudah sangat lama absen dari dunia perfilman Indonesia disamping fakta bahwa ia tampil juga dalam beberapa scene sebagai pemilik dealer motor tempat Andika bekerja. Selain itu apa yang dijual film ini? Tentu saja trio Reva, Vino dan Andhika yang berulangkali mencatat sukses dalam film-film yang pernah mereka perankan sebelumnya.
Plot ceritanya yang ditulis Rano sebetulnya sangat mudah ditebak dan boleh dibilang tidak ada sesuatu yang baru. Cinta segitiga antar tiga sekawan yang akhirnya menimbulkan tragedi dimana perasaan dan persahabatan benar-benar diuji. Mungkin dari menit pertama hingga terakhir bisa anda konstruksikan sendiri bahkan sejak opening scene bergulir. Itulah kenyataannya. Pemakaian judul yang juga terinspirasi dari lagu itu juga terkesan terlalu mendramatisir walaupun tidak harus seperti itu.
Dari paparan di atas, apakah kualitas film ini sedemikian buruk? Nyatanya tidak. Justru kejujuran dan kesederhanaan yang dijual cukup mengena. Akting Reva dan Vino bisa dikatakan cemerlang, permainan emosi mereka tertangkap dengan baik. Andhika sekuat tenaga mengimbangi tapi nampaknya ruang yang diberikan padanya untuk mengeksplorasi akting juga tidak sebesar kedua nama di atas. Belum lagi para pendukung senior yang seakan membawa film ini kembali ke nuansa tahun 1980an atau setidaknya awal 1990an.
Bagi sebagian penonton terutama pria bisa jadi film ini membosankan dikarenakan alur yang lambat dengan musik latar yang seharusnya membantu mood ternyata sangatlah minim. Namun kewajaran Satu Jam Saja dalam bercerita diyakini tetap mampu menguras emosi audiens yang spontan tertawa dengan dialog-dialog cheesy ataupun terharu dengan permainan nasib yang tidak adil itu.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Minggu, 12 Juli 2009

PUNK IN LOVE : Perjalanan Empat Sahabat Punkers!

Cerita:
Lepas dari percobaan bunuh diri membuat Arok nekad menyatakan cintanya pada Maia, gadis idamannya yang akan melepas masa lajangnya dengan sesama punkers, Indra. Perjalanan dari Malang menuju Jakarta dilakoni Arok bersama dengan tiga sahabat sejatinya, Yoji, Mojo dan Almira dengan uang pas-pasan dan modal semangat nekad. Bagaimana perjalanan sepanjang pulau Jawa itu bisa mengubah hidup mereka dan tentunya persahabatan diantara mereka berempat? Tentunya kejadian dan pengalaman tak terduga mungkin membentang di hadapan mereka..

Gambar:
Malang ke Jakarta dengan rute Bromo, Cepu, Pati, Semarang, Cirebon tentunya menawarkan nuansa petualangan tersendiri dengan berbagai adegan unik yang akan membuat anda tergelak-gelak.

Act:
Memenangkan Piala Citra Aktor Terbaik dalam Radit dan Jani tidak membuat Vino Bastian kehabisan bakat. Peran sebagai punkers berlogat Jawa, Arok pun dilakoninya dengan total.
Terakhir tampil bersama BCL dalam Ada Kamu, Aku Ada kali ini Andhika Pratama bermain sebagai Yoji, punker berambut mohawk bercat pink yang setia kawan.
Pernah mendukung Planet Mars bersama Artika Sari Devi, Yogi Finanda memegang karakter Mojo yang kocak dan penuh semangat.
Filmnya sebelum ini Urbanisexy konon batal tayang tapi akhirnya Aulia Sarah kebagian salah satu peran utama sebagai Almira, gadis punk pemberani yang sangat dipercayai sahabat-sahabatnya ini.

Sutradara:
Sukses dengan dwilogi Kawin Kontrak tidak menghentikan langkah Ody C. Harahap membuat Punk In Love yang terbilang temanya baru di perfilman nasional ini. Humor segar yang menjadi ciri khasnya tampil kembali disini.

Komentar:
Tiga kata yang menggambarkan film ini yaitu punya gaya sendiri, unpredictable, seru! Road movie memang terkenal dengan konsep yang tidak mudah ditebak jalan ceritanya. Fakta tersebut bersinergi dengan plot cerita mengenai persahabatan dan cinta anak-anak punk yang mengatasnamakan kesetiakawanan dan modal pas-pasan! Bisa dibilang orisinil ditambah semua cast tampil gemilang dan saling berbagi chemistry yang dalam. Acungan jempol buat sutradara yang berhasil mengemasnya dengan fun. Siapkan diri anda untuk perjalanan penuh tawa haru dalam balutan semangat punkers!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 03 Februari 2009

GLITCH : Menyelidiki Vortex dan Perbedaan Waktu

Tagline:
Tersesat Dalam Waktu

Cerita:
26 Desember 2004 pukul 01:58, 6 jam sebelum tsunami terjadi berbagai kekacauan waktu di berbagai belahan bumi. Tiga sahabat, Andi, Dara, Teten sedang dalam perjalanan menjemput Sheila di Cibubur tiba-tiba terdampar di Bukittinggi. Keganjilan ini kemudian membuat mereka berempat berusaha menyelidiki fenomena alam dan misteri vortex dengan bantuan ahli di bidang Quantum Physic Research yakni Prof. David Leman yang keturunan Jepang. Akankah semua pertanyaan pada akhirnya akan terjawab secara ilmiah?

Gambar:
Visualisasi yang ditampilkan sebenarnya lumayan menjual. Beberapa lokasi di Bukittinggi, Padang cukup dimaksimalkan terutama Ngarai Sianok dan Jam Gadang.

Cast:
Satu-satunya yang berpengalaman di layar lebar termasuk Butterfly (2007), Andhika Pratama sebagai Andi
Fikha Effendi sebagai Sheila
Ikhsan Samiaji sebagai Teten
Amanda Faried sebagai Dara

Sutradara:
David Poernomo yang baru menghasilkan satu film sebelumnya yaitu spin-off Pocong Vs Kuntilanak kali ini mencoba genre sains fiksi dengan sentuhan spesial efek.

Comment:
Ide cerita film yang terpilih sebagai peserta Thailand International Film Festival 2008 ini memang cukup orisinil untuk ukuran film lokal. Genre sains fiksi yang jarang sekali diangkat tapi memiliki kekurangan fatal jika tidak didukung logika cerita yang baik. Inilah perjudian yang dijalani sang sutradara dimana hasil akhirnya serba tanggung, teori vortex yang kurang mendalam dan eksplorasi cerita yang tidak maksimal. Dari segi cast, sulit rasanya menyalahkan keempat karakter utamanya karena mereka sudah berbuat yang terbaik sebisanya. Beberapa elemen suspens cukup menjanjikan walau saya agak heran karena jatuhnya menjadi sedikit bernuansakan horor. Penggunaan spesial efek yang sederhana cukup mulus dilakukan. Secara keseluruhan, Glitch memiliki visualisasi yang baik dan berusaha bercerita tapi sayangnya lemah dalam logika dan penyelesaian sehingga terasa membosankan walaupun berdurasi pendek.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!