XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 07 Agustus 2010

KILLERS : Problema Menikahi Mantan Pembunuh Bayaran

Tagline:
Marriage... give it your best shot.

Storyline:
Pembunuh bayaran sewaan Pemerintah, Spencer Aimes pada suatu tugasnya di Nice bertemu dengan seorang wanita cantik yang baru saja putus cinta, Jen Kornfeldt. Keduanya dalam waktu singkat saling jatuh cinta dan memutuskan menikah. Tiga tahun berlalu, Spencer dan Jen tetap menikmati hari-hari pernikahan mereka sampai tibanya ulang tahun Spencer yang ke-30 dimana Spencer menjadi buruan semua pembunuh bayaran lain dengan iming-iming jutaan dolar. Dan faktanya para pembunuh tersebut berasal dari orang-orang dekat di sekeliling mereka. Kini Jen harus ikut dalam penyelamatan diri bersama Spencer sambil mencari tahu motif apa yang sesungguhnya mendalangi itu semua.

Nice-to-know:
Saat syuting, Ashton Kutcher secara tidak sengaja menjatuhkan seorang stuntman dengan tinjunya.

Cast:
Seringkali mendapat nominasi Teen Choice Award diawali dari Dude, Where's My Car? (2000), Ashton Kutcher berperan sebagai pembunuh bayaran yang stylish sekaligus ceroboh bernama Spencer Aimes.
Boleh dibilang angkat nama lewat My Father the Hero (1994), Katherine Heigl bermain sebagai Jen Kornfeldt, pewaris bisnis teknologi komputer yang tidak sadar menikahi seorang pembunuh bayaran.
Dua bintang veteran Tom Selleck dan Catherine O'Hara sebagai Mr. dan Mrs. Kornfeldt.

Director:
Kerjasama kedua kali berturut-turut dengan Heigl setelah The Ugly Truth (2009), Robert Luketic yang baru berusia 37 tahun asal Australia ini.

Comment:
Sutradara Luketic pernah menghasilkan beberapa film yang cukup menghibur sebelumnya dan kelihatannya ia cukup menguasai beberapa elemen komedi yang baik. Tapi apakah itu sudah cukup untuk menyajikan tema yang sudah basi dengan fresh?
Rasanya masih segar dalam ingatan beberapa waktu lalu ada Knight & Day (2010) (yang kebetulan rilis duluan di Indonesia) dengan plot serupa atau kalau mau dikatakan Mr & Mrs Smith (2005) yang lebih mirip lagi. Dua film tersebut menjual nama megabintang Cruise-Diaz ataupun Pitt-Jolie. Lantas mampukah Kutcher-Heigl berbicara banyak? Sulit dikatakan. Heigl bisa dikatakan late bloomer dan baru belakangan ini masuk kategori America's sweetheart, Kutcher sejak dulu tergolong aktor mediocre yang rasanya film-filmnya pantas masuk kategori straight-to-dvd. Disini keduanya tidak berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda di luar stereotype mereka, bisa jadi skrip juga tidak mengharuskan mereka berimprovisasi terlalu banyak. Keduanya berbagi chemistry yang terasa dipaksakan walaupun screen presence nya cukup memikat. Di luar mereka, cast pendukung seakan menjadi tempelan belaka dengan kecenderungan entah kaku atau bodoh, tipis sekali perbedaannya.
Adegan demi adegan yang ditampilkan mengacu pada sebuah konklusi di akhir yang tidak terlalu mengejutkan dengan sedikit mengada-ngada. Yang patut dipuji disini adalah penempatan tiap scene nya terasa wajar, unsur aksi dan komedi cukup seimbang. Namun sayangnya tidak pernah lebih baik dari film-film yang sudah disebutkan di atas ataupun judul-judul lainnya yang panjang jika dibuatkan daftar. Killers tidak termasuk kategori film sampah tetapi tidak mengesankan juga, hiburan yang benar-benar ringan bagi pengisi waktu senggang anda.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$46,859,803 till early August 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 06 Agustus 2010

BEFORE SUNRISE : Interaksi Sehari Semalam Dua Orang Asing

Tagline:
Jump on and live a Eurorail journey you will never forget!

Storyline:
Turis Amerika, Jesse dan mahasiswi Perancis, Celine bertemu secara tidak sengaja dalam perjalanan kereta dari Budapest menuju Vienna. Keduanya terlibat dalam perbincangan seru sampai Jesse meminta Celine menghabiskan sehari semalam di Vienna sebelum penerbangannya di pagi hari esoknya. Keduanya pun menciptakan suatu hubungan intim yang unik hanya dalam satu hari. Akankah hal tersebut mengubah pandangan masing-masing mengenai cinta?

Nice-to-know:
Ide film ini berasal dari sang sutradara yang pernah menghabiskan semalam penuh di Philadelphia bersama seorang wanita yang ia temui bernama Amy.

Cast:
Mengawali karir akting lewat Explorers (1985), Ethan Hawke bermain sebagai Jesse, turis Amerika yang berlibur menggunakan kereta api di Eropa.
Di tahun yang sama juga bermain dalam Blah Blah Blah (1995), Julie Delpy berperan sebagai Celine, mahasiswi Perancis yang setuju menemani pria yang baru dikenalnya dalam perjalanan berlibur.

Director:
Richard Linklater sebelum ini menghasilkan Dazed and Confused (1993) yang mendapat review baik dari penonton publik.

Comment:
Saya sudah mendengar kabar tentang film ini jauh bertahun-tahun sebelumnya tetapi baru benar-benar menyempatkan diri menontonnya tahun ini. Hm, melihat premisnya bisa jadi membuat anda membayangkan kebosanan. Jangan ambil kesimpulan terlalu cepat.
Memenangkan Silver Berlin Award untuk kategori Sutradara Terbaik di tahun 1995, Linklater mendasarkan kisah ini dari pengalaman pribadinya. Skrip yang ditulisnya sederhana tetapi brilian karena menampilkan interaksi dua orang yang baru berkenalan dan tertarik satu sama lain hingga saling mengeksplorasi. Dan pemilihan Hawke dan Delpy tidaklah salah, keduanya di kehidupan nyata memang berteman baik sehingga mampu menciptakan chemistry yang sempurna. Hawke yang terlihat cuek dan spontan berpadu pas dengan Delpy yang lembut dan easy going. Menarik melihat cara mereka berbicara dan memandang satu sama lain dari berbagai sudut kamera dibalut dengan pemandangan indah kota Vienna yang tradisional dan romantis itu.
Before Sunrise bukanlah drama biasa karena berkaca pada kehidupan nyata itu sendiri. Keseluruhan aspek di film ini terasa realistis. Bayangkan saja berapa banyak orang yang sudah anda temui di sepanjang jalan baik yang meninggalkan kesan ataupun tidak samasekali. Semua itu akan membentuk pribadi anda disadari atau tidak. Pada akhirnya hidup memang tiada hentinya dan akan selalu membawa hal-hal baru bagi anda.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$1,423,537 till end of January 1995.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 05 Agustus 2010

THE OPEN ROAD : Reuni Ayah dan Anak Penuh Polemik

Tagline:
They've got a long way to go.

Storyline:
Carlton bermain baseball di liga kampusnya di bawah bayang-bayang kebesaran nama ayahnya, Kyle Garrett yang pernah masuk Hall of Fame cabang olahraga yang sama. Saat mengetahui ibunya Katherine akan dioperasi karena kebocoran jantung dalam waktu dekat, Carlton bersama mantan kekasihnya, Lucy bertekad mengajak ayahnya pulang untuk menjenguk. Sayangnya hal tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan, perjalanan dari Houston harus ditempuh dengan berbagai kejadian dan peristiwa yang akan mempengaruhi hidup Carlton secara pribadi.

Nice-to-know:
Nama belakang Garrett yang digunakan Jeff Bridges dalam film ini sesuai dengan nama depan kakak kandungnya yang meninggal karena SIDS pada umur satu setengah bulan.

Cast:
Terakhir mendukung The Love Guru (2008), Justin Timberlake bermain sebagai Carlton yang berjanji membawa pulang sang ayah kepada ibunya yang akan menjalani operasi.
Pertama kali bermain film lewat The Yin and the Yang of Mr. Go (1970), Jeff Bridges berperan sebagai Kyle, mantan bintang baseball Amerika.
Kate Mara sebagai Lucy.
Mary Steenburgen sebagai Katherine.

Director:
Merupakan karya kedua bagi Michael Meredith setelah Three Days Of Rain (2002) .

Comment:
Nyaris tidak terdengar gaung film ini hingga muncul di jaringan Blitz Megaplex. Bahkan dengan iming-iming promo buy 2 tickets get 1 free cd juga masih tetap sepi penonton! Apakah sedemikian tidak menjualnya? Mari kita telusuri bersama. Intinya adalah drama keluarga yang berfokus pada interaksi ayah dan anak yang sudah bertahun-tahun hidup terpisah. Bagaimana mereka berusaha menyesuaikan diri satu sama lain di tengah permasalahan yang dihadapi masing-masing. Mungkin penonton akan jenuh melihat polah tingkah Bridges tetapi penjiwaannya sebagai seorang ayah bermasalah cukup berhasil. JT sekali lagi membuktikan bakatnya sebagai aktor, kita tidak akan melihat figur penyanyi disini tetapi seorang remaja labil yang masih belajar nilai-nilai kehidupan dari pengalaman pribadinya. Kehadiran Mara juga memberikan warna yang berbeda dengan sorot mata dan mimik mukanya yang lembut. Selain itu peran Dean Stanton, Steenburgen, Lovett, Danson yang kesemuanya sudah senior tidak perlu diajarkan lagi dalam mengisi karakternya masing-masing.
Kemiskinan jam terbang sutradara Meredith masih sangat kentara terutama dalam hal permainan kamera dan proses produksi yang agak menyedihkan. Beruntung hal tersebut tertutupi oleh penulisan skrip yang brilian dan kegemilangan aktor-aktrisnya. Ditambah dengan music theme yang kaya akan nuansa blues, jazz ataupun instrumental minimalis yang mengiringi scene demi scene. Terus terang menurut saya interaksi Bridges dan JT merupakan nilai jual utama yang sangat menarik untuk disimak. Meskipun olahraga baseball seakan menjadi tempelan belaka di prolog film, selebihnya alur bergulir dengan lancar membangun konflik-konflik yang ada tanpa terasa membebani penonton sedikitpun. Alhasil Open Road merupakan drama keluarga yang menghangatkan hati sekaligus menyentuh di beberapa bagian lewat pesan moral yang ingin disampaikannya. Sayang sekali film ini tidak tereksploitasi dan kemungkinan hanya akan teronggok berdebu di bagian rak rental yang tidak tersentuh pelanggan.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$19,348 till early September 2009 (7 screens only).

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 04 Agustus 2010

THE LAST AIRBENDER : Avatar Penyatu Empat Elemen Dunia

Quotes:
Aang: I will stop them.
Dragon Spirit: I know you will try...

Storyline:
Udara, Air, Bumi dan Api merupakan 4 bangsa yang ditentukan oleh takdir. Sayangnya bangsa Api memutuskan untuk menguasai dunia dengan menyingkirkan ketiga bangsa lainnya. Satu abad berlalu tanpa adanya harapan yang muncul untuk menghentikan kehancuran itu. Saat itulah, Aang muncul dan menyadari dirinya merupakan satu-satunya Avatar harapan dengan kekuatan yang mampu mengendalikan empat elemen tersebut. Kemudian Aang bertemu kekuatan Air, Katara dan kakaknya, Sokka dan berupaya mengembalikan keseimbangan dunia.

Nice-to-know:
Awalnya diberi judul Avatar : The Last Airbender tetapi saat Avatar (2009) dirilis lebih dahulu oleh 20th Century Fox maka akhirnya menjadi The Last Airbender saja untuk menghindari kerancuan.

Cast:
Noah Ringer baru berusia 13 tahun saat terpilih menjadi Aang.
Angkat nama di Hollywood lewat Slumdog Millionaire (2008), Dev Patel bermain sebagai Prince Zuko
Nicola Peltz sebagai Katara
Jackson Rathbone sebagai Sokka
Shaun Toub sebagai Uncle Iroh
Aasif Mandvi sebagai Commander Zhao

Director:
Pria asal India berusia 40 tahun, M. Night Shyamalan pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai lewat Praying With Anger (1992).

Comment:
Saya bukanlah penggemar seri kartun televisi Avatar yang sempat menghebohkan itu. Saat mengetahui filmnya akan diproduksi, saya tidak terlalu antusias. Saat melihat cuplikan trailernya, saya menjadi sedikit penasaran. Saat filmnya dirilis dan mendapat rating buruk, saya putuskan untuk membuktikannya sendiri. Demi menetralisir opini, saya mengajak salah seorang teman yang memang pecinta Avatar series untuk kemudian menilainya bersama dari sudut pandang Avatar fans dan non Avatar fans.
Plot ceritanya sebetulnya menarik dan sesungguhnya film ini memang coba digarap dengan epik. Tetapi tidak didukung oleh sinematografi yang konsisten ataupun penulisan skrip yang baik. Belum lagi alur maju mundur yang membingungkan dan tidak pada tempatnya. Alhasil sekitar satu setengah jam, penonton serasa disuguhi potongan-potongan klip yang bercitarasa campur aduk, bagus dan buruk, kesemuanya tidak menjadikan satu kesatuan tontonan yang utuh.
Dari segi cast, mungkin hanya Patel yang sedikit memberi nyawa. Sisanya nama-nama baru dari berbagai ras yang masih miskin pengalaman dan langsung didaulat bermain dalam film besar seperti ini. Sayangnya lagi nyaris tidak ada ruang dan waktu untuk pengembangan karakter-karakternya samasekali sehingga yang tercipta hanyalah dialog-dialog pendek yang tidak berisi, diperburuk lagi dengan narasi yang tidak pas dari narator yang berganti-ganti pula.
Kegagalan, setidaknya dari segi kualitas, patut dilayangkan pada Shyamalan yang tidak perform walau produser besar mempercayakan 150 juta dollar di tangannya. Keseluruhan The Last Airbender masih dapat dikatakan BERANTAKAN walau semua orang di luar Shyamalan sudah berusaha maksimal, termasuk spesial efek yang masih tergolong ok juga musik latar yang terdengar menggugah. Dari segi box-office, penempatan tanggal rilis summer movies mungkin akan berdampak positif dalm raupan dollar. Namun jika memang ada rencana sekuelnya seperti disugestikan endingnya, saya mengharapkan suatu perombakan total dimulai dari kursi sutradara.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$127,293,447 till early Aug 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 03 Agustus 2010

20 30 40 : Kehidupan Cinta Wanita Tiga Generasi

Tagline:
They were looking for love... but they found each other.

Storyline:
Gadis Malaysia, Xiao Jie datang ke Taipei dengan cita-cita menjadi penyanyi pop yang akhirnya membawanya bertemu Tong Yi yang centil dan periang.
Pramugari, A Xiang memiliki banyak kekasih baik yang masih lajang ataupun beristri tetapi masih merasa belum menemukan pria yang tepat untuknya.
Pemilik florist, Lily baru saja bercerai dari suaminya yang selingkuh dengan wanita yang lebih mudah. Untuk meredakan kekecewaannya, ia berkencan dengan beberapa pria yang pernah tumbuh bersamanya di bangku sekolah.
Ketiganya menghadapi problema kehidupan yang tidak mudah dan mungkin membuat mereka semua lelah pada akhirnya dalam mengejar kebahagiaan..

Nice-to-know:
Diedarkan di Asia di bawah bendera Columbia Pictures Film Production Asia Limited yang bekerjasama dengan Tang Moon International Productions Co. Ltd.

Cast:
Pertama kali memenangkan Aktris Pembantu Terbaik Festival Golden Horse lewat Bi yun tian (1976), Sylvia Chang sebagai Lily.
Rene Liu sebagai A Xiang
Angelica Lee sebagai Xiao Jie
Kate Yeung sebagai Tong Yi
Tony Leung Ka Fai sebagai Zhang Shi-Jie 'Jerry'
Anthony Wong Chau-Sang sebagai Shi Ge
Richie Ren sebagai Wang (The Tennis Instructor)

Director:
Setelah membintangi sekitar 40 tahun, Sylvia Chang mulai menekuni profesi sutradara yang dimulai dari Jiu meng bu xu ji (1981).

Comment:
Menjadi satu-satunya film Mandarin yang terpilih untuk ditayangkan dalam Festival Film Brelin 2004 tentunya menjadi kebanggaan sendiri bagi seorang Chang Ai Chia yang bertindak sebagai aktris utama, penulis cerita sekaligus sutradaranya. Dan memang Sylvia disini masih menampilkan pesona wanita 40 tahunan yang dinamis dan menghindari kesepian. Menarik menyaksikannya berinteraksi seorang diri di depan cermin disamping profesinya yang merajut rangkaian bunga indah yang sempat membongkar rahasia suaminya sendiri. Angelica Lee sekali lagi membuktikan dirinya sebagai aktris berbakat dengan membawakan gadis 20 tahunan yang antusias dan berjuang mewujudkan mimpinya. Chemistrynya dengan Kate Yeung juga terasa natural di luar kebiasaan keduanya yang mempunyai kecenderungan lesbian. Lain lagi dengan Rene Liu yang terlihat dewasa di usia 30 tahunan tetapi sebenarnya rapuh dan kesepian di dalamnya.
Plot cerita masing-masing ketiga karakter tersebut pada satu dan beberapa kesempatan terasa saling terkait dan memiliki kekuatan cerita sendiri. Awalnya cukup menggigit, di pertengahan memang sedikit melambat dikarenakan durasi yang cukup panjang dan pada akhirnya ditutup dengan cukup kuat tanpa kesan dipaksakan. Sebagai sutradara Sylvia memberikan porsi yang seimbang dimana magnet pada setiap scenenya berpindah-pindah sehingga menciptakan melodrama Asia yang berisi sekaligus berkesan. Komposisi musik latar juga mampu membangun mood cerita dengan tepat. Tiga dekade ciri khas kehidupan seorang perempuan bisa jadi seperti itu. 20an merasa hidup dan mencoba semua hal, 30an merasa bersinar dan mencari kestabilan, 40an merasa matang dan menjadi wanita sesungguhnya terlepas dari sejauh apa yang sudah dimilikinya. Ah, saya tiba-tiba serasa mengerti wanita..

Durasi:
110 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 02 Agustus 2010

THE HILLS RUN RED : Melacak Hilangnya Film Slasher Misterius

Storyline:
Terobsesi dengan horor "The Hills Run Red", mahasiswa film Tyler memutuskan mencari copy asli film yang disutradarai Wilson Wyler Concannon yang telah hilang selama lebih dari 20 tahun. Tyler mengajak kekasihnya Serina dan kedua temannya Lalo dan Sherri ikut serta. Dalam pelacakan, Tyler bertemu dengan Alexa, putri Concannon yang bersedia membantunya. Mereka berlima pun pergi ke lokasi syuting untuk penelitian sekaligus mewawancarai penduduk setempat. Benarkah legenda Babyface itu pernah hidup?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Dark Castle Entertainment dan syutingnya dilakukan di Sofia, Bulgaria.

Cast:
Sophie Monk sebagai Alexa
Tad Hilgenbrink sebagai Tyler
William Sadler sebagai Concannon
Janet Montgomery sebagai Serina
Alex Wyndham sebagai Lalo

Director:
Merupakan film sekuel kedua bagi Dave Parker yang langsung rilis dalam format video setelah Boogeyman II : Masters Of Horror (2002).

Comment:
Banyak sekali film yang membahas karakter Babyface sebelumnya sehingga akan sulit dibedakan satu sama lain dengan kualitas yang hampir mirip. Bagaimana dengan film ini? Setengah jam pertama terasa seperti film dokumenter dimana sekelompok anak muda melakukan perjalanan riset dengan kamera dan data-data yang ada. Setelah segmen tersebut berakhir barulah film "dimulai" dan semua adegan keji tersebut ditampilkan nyaris sama dengan yang sudah-sudah mulai dari adegan berdarah-darah hingga suasana gelap malam hari yang memang sangat mendukung pembantaian walau belum ada teori khusus yang membahasnya.
Lantas apa yang menjadi kelebihan film ini? Akting Sadler yang "gelap" terasa sangat menjiwai peranan sutradara Concannon. Belum lagi si bohay Monk yang sebelumnya bermain dalam film-film remaja macam Date Movie ternyata mampu bermain natural sebagai stripper misterius yang tidak hanya mengandalkan keseksiannya. Kedua orang itulah yang menjadikan film ini sedikit berbeda di samping kinerja sutradara Parker yang cukup berhasil mempertahankan tensi pada satu jam terakhir. The Hills Run Red bukanlah film straight-to-video yang buruk, tetapi masih menarik untuk disaksikan bagi pecinta horor slasher serupa meski endingnya sudah pasti bisa ditebak anda semua.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 01 Agustus 2010

THE JONESES : Rahasia Kesempurnaan Keluarga Jones

Tagline:
They're not just living the American dream, they're selling it.

Storyline:
Keluarga Jones memang terlihat sempurna yaitu suami istri Steve dan Kate serta kakak beradik Mick dan Jenn yang semuanya berpenampilan fisik menarik didukung dengan gaya yang elegan. Kepindahan mereka ke kediaman mewah di area kalangan menengah ke atas membuat iri siapapun juga termasuk tetangga baru mereka, pasutri Larry dan Summer. Perlahan tetapi pasti Steve dan Kate mulai menjadi trendsetter bagi orang-orang di sekeliling mereka. Mick dan Jenn juga berhasil mempengaruhi teman-teman mereka di sekolah. Namun rahasia besar sesungguhnya disimpan rapat-rapat di balik semua itu.

Nice-to-know:
Tempat Jenn dan Mick bersekolah disyuting di Calton J. Kell High School, Marietta, Georgia dimana semua siswa-siswinya juga asli murid SMP dan SMA sana.

Cast:
Angkat nama dari serial televisi top The X-Files yang sempat memberinya Piala Golden Globe di tahun 1997, David Duchovny bermain sebagai Steve Jones, suami flamboyan yang kharismatik.
Nyaris memenangkan satu-satunya nominasi Golden Globe yang pernah mampir ke tangannya lewat Ghost (1990), Demi Moore berperan sebagai Kate Jones, istri cantik yang glamor.
Amber Heard sebagai Jenn Jones
Gary Cole sebagai Larry
Glenne Headly sebagai Summer
Ben Hollingsworth sebagai Mick Jones

Director:
Ini merupakan debut penyutradaraan pertama bagi pria kelahiran Jerman bernama Derrick Borte yang juga bertindak sebagai penulis dan produsernya.

Comment:
Tanpa ekspektasi dan pengetahuan apapun, saya meluncur menyaksikan film ini. Ternyata apa yang disuguhkan selama satu setengah jam ke depan membuat saya puas dan terhibur terlebih tone dan color yang digunakannya sesuai dengan harapan saya. Pujian patut dilayangkan pada Borte yang memberikan usaha maksimal di debutnya ini baik sebagai produser, penulis dan sutradaranya. Penataan setting dan pengenalan produk-produk bermerk juga terasa pas pada tempatnya masing-masing sehingga menghasilkan sinematografi yang apik walau dengan bujet terbatas sekalipun.
Plotnya sederhana tetapi tidak biasa, tentang sekelompok orang yang berpura-pura terlihat sempurna di luar tetapi rapuh di dalam. Mereka adalah keluarga Jones yang dipotretkan dengan sangat baik oleh kwartet Duchovny, Moore, Heard dan Hollingsworth. Belum lagi karakter pendukung lainnya yang memback-up dengan baik terutama bos dan tetangga keluarga Jones yang dilakoni oleh Hutton, Cole, Headly. Duchovny dan Moore yang namanya semakin memudar terus terang chemistrynya justru terasa kuat disini. Menarik melihat mereka berinteraksi satu sama lain. Audiens akan melihat sisi terang dan gelap sekaligus pada setiap karakter yang ditonjolkan film ini.
Pada akhirnya The Joneses akan membuka mata anda mengenai dua hal. Pertama bagaimana ilmu marketing mampu memanipulasi orang dan kedua bahwa kebanggaan berperilaku hidup konsumerisme seringkali disalah artikan menjadi kebahagiaan di atas segala-galanya. Sebuah drama satir komedi yang akan membuat anda terhanyut, tercengang sekaligus tersenyum miris merefleksikan kehidupan pribadi anda sendiri ataupun orang-orang kebanyakan. Sayangnya film ini hanya rilis terbatas di tengah serbuan summer movies yang serba wah dan tipikal Hollywood.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$1,474,508 till early July 2010 (limited showing).

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 31 Juli 2010

SALT : Mata-mata Rusia Rencanakan Invasi Amerika Serikat

Tagline:
Who is Salt?

Storyline:
Meskipun sudah bersumpah demi pekerjaan dan negaranya, Evelyn Salt tetap dicurigai sebagai mata-mata Rusia saat tes kebohongan yang juga melibatkan Vassily Orlov. Pada saat interogasi dan penahanan intensif, Salt berhasil lolos dengan kenekadan dan keberaniannya. Tetapi apakah dalam pelariannya itu, Salt mampu mengungkap dalang yang sesungguhnya sekaligus menggagalkan misi berbahaya yang akan mengkambing hitamkan namanya?

Nice-to-know:
Nama-nama seperti Terry George, Michael Mann dan Peter Berg sempat dipertimbangkan untuk menyutradarai film ini.

Cast:
Pertama kali terjun sebagai aktris dalam Lookin' to Get Out (1982), Angelina Jolie kali ini bermain sebagai Evelyn Salt, agen CIA yang berusaha menyelamatkan suaminya sekaligus memulihkan jati diri sebenarnya.
Liev Schreiber memulai debut aktornya dalam Mixed Nuts (1994) dan disini didapuk sebagai Ted Winter, agen CIA yang selalu mendampingi Salt.

Director:
Sutradara asal Australia bernama Phillip Noyce ini pertama kali mendapat kesempatan mengarahkan dalam That's Showbiz (1973).

Comment:
Nyaris tiap summer selalu diisi action thriller spionase dan kali ini ada Jolie yang didapuk menjadi subyeknya. Prolog film yang memperlihatkan Evelyn terkena konflik kepentingan di Korea Utara menjelaskan pertemuan dengan suaminya yang berkebangsaan Jerman, Mike Krause. Disini sebetulnya tidak terlalu penting tetapi background seorang Evelyn rasanya cukup penting diutarakan walaupun korelasinya dengan Mike bukanlah porsi utama. Setelah itu film mengalir dengan tempo super cepat yang memperlihatkan aksi Jolie seorang diri mulai dari berlari, melompat, menembak, berkelahi tangan kosong dsb. Jujur saja hal-hal tersebut menarik tetapi nyaris tidak ada ruang untuk pengembangan karakternya. Plot serupa sudah berkali-kali dipertontonkan film serupa, sebut saja trilogi Jason Bourne ataupun franchise James Bond yang sudah melegenda sejak lama ini, hanya saja tokoh utama wanita rasanya belum terlalu banyak yang memorable. Atas fakta itu rasanya sah-sah saja jika melihat seorang Jolie mampu memporak-porandakan kota dengan aksi "tanpa bicara"nya. Sutradara Noyce yang sudah sangat familiar dengan tema serupa tidak akan canggung lagi memainkan aksi spionase yang menegangkan dari awal sampai akhir walau arahnya bisa jadi mudah ditebak audiens. Nikmatilah semua itu sebagai sebuah hiburan belaka tanpa banyak berpikir. Bersiaplah untuk sekuelnya di masa mendatang. Salt juga mengajarkan anda untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan siapa sebenarnya orang-orang di sekitar anda.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$36,011,243 in opening week end of July 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 30 Juli 2010

SHANGHAI : Jurnalis Amerika Di Tengah Pendudukan Jepang

Tagline:
In a world filled with secrets, solving a mystery can be murder.

Storyline:
Jurnalis Amerika, Paul Soames kembali ke Shanghai yang tengah dikuasai Jepang beberapa bulan sebelum kejadian Pearl Harbor untuk menyelidiki rekannya, Connor yang terbunuh. Saat itulah ia bertemu suami istri yang cukup berpengaruh, Anthony Lan-Ting dan Anna yang kemudian membawanya menelusuri fakta-fakta tersembunyi. Sementara itu Kapten Jepang, Tanaka mulai mencurigai kehadiran Paul yang dianggapnya melakukan gerakan rahasia tersendiri di antara dua pihak yang saling bertikai. Apa yang sesungguhnya menyebabkan Connor dibunuh?

Nice-to-know:
Setting senilai 3 juta dollar terpaksa mubazir saat Pemerintah Cina keberatan akan proyek film ini pada awal tahun 2008. Weinstein Co. akhirnya memindahkan syuting ke London dan Thailand sambil menciptakan atmosfir klasik Shanghai yang sesungguhnya

Cast:
Memulai akting di usia 17 tahun lewat Class (1983), John Cusack kali ini bermain sebagai Paul Soames
Debutnya diawali via Club Girl Story (1976), Chow Yun-Fat kebagian karakter Anthony Lan-Ting.
Pertama kali beraking dalam Hong Gao Liang (1987) yang produksi RRC, Gong Li disini berperan sebagai Anna Lan-Ting
Ken Watanabe sebagai Tanaka
Jeffrey Dean Morgan sebagai Connor

Director:
Pria kebangsaan Swedia bernama Mikael Håfström ini terakhir menggarap 1408 (2007).

Comment:
Sudah berkali-kali kisah seputar Shanghai dibabarkan termasuk Shanghai Bund yang legendaris itu dan kali ini sebuah produksi Hollywood coba mengangkatnya lagi dengan sudut pandang yang sedikit berbeda yakni dari visi seorang jurnalis Amerika. Dan memang Cusack lah satu-satunya aktor non Asia yang dominan disini, di luar faktor Dean Morgan yang hanya tampil sekilas. Karakter Soames yang dibawakannya cukup pas, cerdas dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Selebihnya bintang-bintang Asia yang sudah dikenal yang dijual eksistensinya. Tentunya kita tidak akan keberatan menyaksikan Chow yang seakan menjelma kembali dalam peran-peran serupa masa jayanya yaitu tokoh mafia yang disegani termasuk beraksi dengan pistol yang pernah menjadi trademarknya. Belum lagi Gong yang menyimpan sejuta makna di balik kecantikannya itu. Watanabe dan Kikuchi juga mengisi peran masing-masing dengan cukup baik. Semua karakter tersebut terasa abu-abu dengan translasi hitam putih yang silih berganti.
Bisa dikatakan sutradara Håfström cukup berhasil menghadirkan setting Shanghai tahun 1940an dengan detail mulai dari kostum, make-up hingga tata ruang. Sinematografi ala noir tersuguhkan dengan nyata didukung permainan lighting yang temaram dan angle-angle kamera yang terukur. Apa yang ingin disampaikan film ini adalah kombinasi dari investigasi dan hubungan interpersonal para tokohnya mulai dari cinta hingga pengkhianatan. Shanghai yang sangat bercitarasa Asia ini memang tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa, bahkan cenderung dapat diterka, tetapi masih menyisakan daya tarik tersendiri sebagai tontonan dengan jajaran cast kuat dan digarap secara maksimal.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$127,293,447 till early Aug 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 29 Juli 2010

NAKALNYA ANAK MUDA : Perjalanan dan Pembunuhan Misterius

Storyline:
Di sebuah pesta, Renata mengajak Andien ikut serta berlibur ke villa kakek Andra yang juga membawa Dicky, Pay dan Reno. Dalam perjalanan, mereka melewati hutan dan air terjun yang indah, malah villa tua tersebut menimbulkan kejanggalan dalam diri Renata hingga aktifitas keenam muda-mudi tersebut selalu dihabiskan di luar. Namun satu persatu, Pay, Reno dan Andra kemudian tewas mengenaskan hingga menyisakan Renata dan Dicky yang segera kembali ke Bogor. Keduanya melapor polisi atas kejadian itu sekaligus melakukan pencarian terhadap Andien yang menghilang secara misterius. Siapa sebenarnya pelaku dari semua itu?

Nice to know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan diproduseri oleh Karan Mahtani.

Cast:
Ratu Felisha sebagai Andien
Uli Auliani sebagai Renata
Fero Walandouw
Billy Ade Sumirat
Rozie Mahally
Rommy Ravalzy

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Nayato Fio Nuala di tahun 2010.

Comment:
Lagi-lagi Nayato dengan karya-karyanya yang tiada habisnya, masih dengan pertanggungjawaban yang nihil. Singkat saja, plotnya hanya berputar-putar, awal ke tengah, lalu dari tengah kembali lagi ke awal yang dijadikan akhir. Bingung? Sayapun demikian, hingga memutuskan untuk menuntaskan rasa kantuk yang menjalar saja di bangku bioskop yang nyaman. Mengenai sekelompok anak dugem yang berpesta, mabuk, melakukan kesalahan sudah berkali-kali dipotretkan sebelumnya. Kali ini dengan “kreatif”, Nayato membawa setting dari klub malam langsung ke hutan rimba dan kembali ke kota. Jujur kepala saya agak pening jika harus mengingat-ingat kembali.
Dari jajaran pemain jujur saya kasihan pada mereka semua harus “menerima” peran yang disodorkan terlepas dari motif apapun juga. Sedikit fakta lucu saat Ratu Felisha menggunakan nama Andien untuk karakter yang diperankannya. Entah ini ide siapa. Disengaja atau tidak? Uli tidak terlalu berbeda dalam melakoni Renata seperti yang sudah-sudah. Keempat aktor remaja prianya? Saya bahkan tidak peduli sama sekali pada eksistensi dan nasib mereka di film ini.
Nakalnya Anak Muda yang sempat dijadwalkan berjudul JIPER alias Jeritan Perawan ini sangat menipu dari segi tampilan poster yang diulang-ulang-ulang-ulang-ulang.. Isinya hanyalah thriller bukan thriller, slasher bukan slasher, dan tampaknya Nayato sendiri bukanlah Nayato yang sesungguhnya.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa