XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label nayato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nayato. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juli 2012

18++ : Esai Cinta dan Ujian Identitas Nayato


Quotes:
Scarlet : Loe boleh bikin gua patah hati tapi loe gak usah kasihani gua.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 10 Juli 2012.

Cast:
Adipati Dolken sebagai Kara
Kimberly Ryder sebagai Mila
Gege Elisa sebagai Scarlet
Roy Marten sebagai Opa Kara
Keke Soeryo Renaldi sebagai Ibu Mila
Maxime sebagai Pascal
Jordi Onsu sebagai Ruben
Rozi Mahally sebagai Martin
Reska Tania sebagai Sasi

Director:
Merupakan film ketujuh di tahun 2012 bagi Nayato Fio Nuala.

W For Words:
Masih ingat film 18+ : True Love Never Dies yang kontroversial dengan dialog vulgarnya itu yang tak perlu saya sebutkan lagi? Hasil box office yang dianggap cukup baik membuat rumah produksi PT. Kharisma Starvision Plus berinisiatif memproduksi sekuelnya masih dari tangan dingin seorang Nayato Fio Nuala. Satu-satunya cast yang kembali disini adalah Adipati Dolken (sudah jauh lebih ternama sekarang), bukan dengan karakter Topan yang telah menemui ajalnya di penghujung prekuel tersebut tetapi Kara yang harus menerima perubahan status sosialnya.

Ulang tahun ke-18 dihabiskan Kara dengan hura-hura bersama pacarnya Scarlet dan teman-temannya Pascal, Ruben, Martin. Saat itulah Opa Kara, Ben memutuskan supply materi melimpah yang biasa diterimanya. Kara yang malu memilih pergi dari kehidupan jetsetnya untuk menyepi di rumah sederhana milik Mila yang menyelamatkannya di terminal bis. Keadaan memaksa Kara untuk bekerja serabutan, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membalas budi Mila, ibunya dan adiknya Sasi. Cinta mulai tumbuh di antara mereka tepat ketika teman-teman Kara kembali. 

Terus terang saya cukup menikmati satu jam pertama film ini. Tipikal Nayato dengan premis dan eksekusi yang basi tidak terlihat disini. Beruntung sekali skrip karya Cassandra Massardi setidaknya dibiarkan “utuh” berbicara. Pendewasaan tokoh Kara yang melakoni hidup senang menjadi susah lewat serangkaian proses memang terkesan terlalu instan tapi masih masuk akal dengan sekuensi adegannya. Akting Adipati yang lumayan apik setidaknya mampu membuat penonton bersimpati padanya. Interaksinya dengan tokoh-tokoh di sekitarnya juga terbangun dengan baik, apalagi Reska Tania sebagai si kecil Sasi yang manis itu.

Sayangnya tiga puluh menit terakhir kembali dibumbui dengan sebuah penyakit yang menimpa karakter wanita. Kali ini gangguan fungsi hati diderita Mila yang amat mungkin merenggut nyawanya. Predictable, right? Sekecil apapun harapan hidup yang tersisa tetap harus disudahi lengkap dengan dramatisasi terjatuh, bangkit lagi hingga terkulai lemas pada akhirnya tepat di momen ulang tahun. Padahal Kimberly Ryder yang cantik itu sangat terlihat fresh di layar dengan kesenduan yang memikat. Ah mengapa?

Sutradara Nayato masih bermain dengan shot-shot andalannya terutama dunia gemerlap di prolog yang menampilkan kebut-kebutan mobil dan dunia malam diskotik. Namun storytelling yang jauh lebih baik sedikit menimbulkan harapan akan perubahan gaya positif dari karya-karyanya kemudian, layaknya sebuah ujian identitas baginya. Dukungan penata suara Khikmawan Santosa terbilang pas, kontras dengan duet Anto Hoed-Melly Goeslaw yang lagi-lagi menghasilkan satu tembang mendayu-dayu yang meluncur dari bibir merah Kimberly Ryder di sepanjang filmnya.

18++ : Forever Love merupakan sebuah esai cinta yang mengetengahkan banyak topik mulai dari one night stand, cinta segitiga, cinta berjurang status sosial yang biasa terjadi di kalangan remaja belasan tahun. Suguhan drama yang mengandalkan decent chemistry dari Adipati dan Kimberly yang masih dapat dinikmati terlepas dari romansa klise berujung penyakit mematikan. Angka 18 itu sendiri diperlakukan sebagai simbolik kedewasaan seseorang yang ditandari dengan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab atas kesediaan menjalani hidup kemandirian.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 04 Mei 2012

3 POCONG IDIOT : Anggap Bodoh Tak Dapat Diajar


Quotes:
Pipin: Pokoknya sebagai pocong sejati, kita harus balas dendam pada gorilla fitness itu!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini mengadakan screeningnya di fX Platinum XXI pada tanggal 30 April 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Pipin
Joshua Suherman sebagai Keling
Jordi Onsu sebagai Jadoel
Rina Diana sebagai Rayna
Rozie Mahally sebagai Glenn
Reymon Knuliqh sebagai Azis
Keira Shabira
Karina Meita

Director:
Merupakan film kelima bagi Nayato Fio Nuala setelah Seandainya di tahun 2012 ini.

W For Words:
Masih ingat dengan film India fenomenal berjudul 3 Idiots (2009) yang mencetak sukses dimanapun ditayangkan? Entah kita harus berbangga atau malu hati akan arti sebuah kreatifitas karena penulis anonim All Izz Well membuat versi novelnya berjudul “3 Pocong Idiot” yang lantas diadaptasi lagi oleh Gope T. Samtani dkk ke dalam versi filmnya lewat Rapi Films. Saya pribadi merasa malu kuadrat akan ketidak-kreatifan pangkat tiga ini dan tidak lagi peduli akan siapa-siapa yang terlibat di dalamnya.

Cendol Itu Asyik alias CIA merupakan boyband yang beranggotakan Glenn, Pipin, Jadoel dan Keling yang cukup populer di sekolah mereka. Malangnya saat akan manggung di sebuah cafe, Pipin, Jadoel dan Keling mengalami kecelakaan akibat kelalaian Azis mengemudi. Ketiganya pun menjadi pocong dan harus menyesuaikan diri dengan hidup baru mereka termasuk berinteraksi dengan orang-orang terkasihnya dahulu. Akankah kebahagiaan akan muncul dalam bentuk hidup yang lain bagi mereka?
Ide cerita yang ditulis oleh Ipnu Rinto Nugroho ini kemudian dituangkan dalam bentuk skrip oleh Djamaludin Moenaf dan Ery Sofid. Terus terang saya bingung apa sesungguhnya esensi yang ingin dihadirkan? Jika persahabatan, tidak ada gregetnya. Jika cinta, tidak ada chemistrynya. Jika kebodohan, nah yang satu ini banyak sekali, bertebaran dari menit awal sampai akhir, tanpa keeleganan samasekali yang mampu menyelamatkan kualitasnya dari keburukan fatal. Bayangkan seikat pocong bisa dengan mudahnya mengeluarkan tangan dan kaki untuk beraktifitas atas dasar apa?

Duet Joshua Suherman dan Jordi Onsu disini nyaris membuat saya menyesal karena sangat menyukai mereka dalam Tendangan Dari Langit (2011). Humor Keling dan Jadoel yang biasanya natural kali ini meleset disana-sini. Sama halnya dengan Ajun Perwira yang semakin membosankan dengan peran stereotype pocong sok asik. Sorry dude, you are not fun to watch anymore. Kalo melihat aktor-aktris langganan Nayato seperti Rozie, Reymon, Rina, Keira tak perlu dikomentari lagi, mereka sudah melekat dalam kebuntuan seperti kawanan kerbau dicocok hidungnya.
Sutradara Nayato bahkan menggunakan nama Koya Pagayo dalam jajaran penata kamera bersama Freddy A. Lingga. Jangan katakan bahwa “alter ego” nya tersebut sebetulnya nyata! Kembali pada 3 Pocong Idiot, trailernya yang lucu manis itu tidak usah dipercaya. Isinya tak lain tak bukan adalah daur ulang dari formula lawasnya saja, tambal sulam tanpa juntrungan yang mungkin berefek samping pada kecerdasan anda. Harapan terbesar saya adalah semoga ini kali terakhir kali saya melihat tiga anak manis tersebut bermain dalam film Nayato.

Durasi:
81 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 21 Februari 2012

SEANDAINYA : Cinta Instan Penyakit Kambuhan


Quotes:
Arkana: Cinta, malem ini kita ngedate kan? Kan gua anterin pulang.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana press screeningnya diadakan di fX Platinum pada tanggal 20 Februari 2012.

Cast:
Dinda Hauw sebagai Cinta
Chris Laurent sebagai Arkana
R Suwandata sebagai Papa
Rendy Kjaernett sebagai Jay
Cut Meyriska

Director:
Merupakan film kedua Nayato Fio Nuala di tahun 2012.

W For Words:
Baru dua minggu lalu penonton disuguhi Bila dari Chiska Doppert, kini Nayato rupanya tidak mau kalah dengan anak didiknya dengan merilis drama menye-menye yang lagi-lagi mengisahkan penyakit. Jika Chiska menggunakan dua bintang muda gres maka Nayato lebih percaya pada dua idola remaja populer dalam wujud Chris Laurent dan Dinda Hauw. Skripnya sendiri ditulis oleh Anggoro Saronto yang baru saja menyelesaikan Malaikat Tanya Sayap yang juga rilis dua minggu lalu. Kebetulan sekali!
Dunia Cinta memang sunyi karena hanya hidup berdua saja dengan ayahnya yang bisu tuli. Semua mulai berubah saat Arkana masuk ke dalam hidupnya. Sayangnya Papa melarang hubungan tersebut karena Arkana dianggap anak berandalan yang bisa mengubah Cinta yang sebetulnya sakit keras. Halangan itu membuat Cinta dan Arkana sepakat untuk backstreet dan belajar arti cinta yang sesungguhnya dimana perasaan ketakutan akan kehilangan itu sangat sulit dihindari.

Bicara tentang chemistry harus diakui Chris Laurent dan Dinda Hauw masing-masing memiliki wajah yang menarik. Namun menyatukan keduanya sebagai pasangan? Nanti dulu. Dialog-dialog yang tercipta di antara keduanya termasuk menggelikan, tidak heran karena hubungan cinta mereka diciptakan begitu instan hanya dalam hitungan jam! Coba bayangkan berseminya asmara di perpustakaan sekolah yang herannya bisa terkunci di siang bolong? Perhitungan 1+1=11 bisa jadi dibenarkan di lembaga pendidikan semacam ini.
Nayato bahkan tega memangkas berbagai proses “penting” yang bermanfaat sebagai pembangun konflik. Selain percintaan Arkana dan Cinta, pergaulan keduanya dengan teman-teman sebaya yang notabene satu sekolahan itu patut dipertanyakan, belum lagi problematika rumah tangga ayah dan ibu Arkana yang seakan tidak berkorelasi pada pribadi remaja putra itu. Mungkin karena itulah Arkana menyukai musik sebagai pelarian, sampai memakai headphone “anti hujan” dan “anti keringat” di sepanjang waktunya. Tolong belikan dua set untuk saya!

Penjelasan bagaimana Cinta bisa menjadi anak Papa bahkan bisa dianalogikan seperti Po dalam Kungfu Panda. Hell yeah. Brilliant! Satu lagi, ternyata Papa Cinta bukan bisu-tuli seperti dalam sinopsisnya, ia hanya mengalami gangguan berbicara secara normal dan nyatanya masih bisa mendengar setiap tutur kata putrinya tanpa alat bantu sekalipun (apakah dengan membaca gerak bibir, tidak dijelaskan). Cinta juga tidak digambarkan sebagai anak berbakti yang tulus menyayangi ayah angkatnya itu. Kasihan!
Seandainya jelas gagal menghadirkan minat penonton untuk dapat benar-benar terhanyut dalam melodrama ini apalagi bersimpati pada kemalangan para karakternya yang jujur saja terasa disengaja. Jika bermaksud menikmati gambar-gambar indah, anda lebih baik menghadiri pameran fotografi yang banyak tersebar di seantero kota besar Indonesia. Ah seandainya saja Nayato mau menggali kreatifitas dalam dirinya lewat karya-karya yang positif, bukan menyamaratakan setiap skrip yang hinggap ke tangannya.

Durasi:
82 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 17 Januari 2012

MY LAST LOVE : Takdir Cinta Terakhir Rasa Bersalah

Quotes:
Angel: Gua punya pengalaman, orang yang paling gua kenal adalah orang asing buat gua.



Storyline:
2 tahun sudah, Angel menjalin cinta dengan Hendra. Namun musibah tragis tak dapat ditolak, Angel ditabrak oleh mobil mewah Martin yang melaju kencang. Dalam kekalutan, Martin malah melarikan diri dan memilih bercerita pada sahabatnya, Ferdy. Angel memang selamat tapi menderita kelumpuhan yang merenggut masa depannya termasuk Hendra yang memilih meninggalkannya. Sahabat dan sepupu Angel, Nadya dan Anton mengajaknya berlibur ke vila untuk menenangkan diri. Di sanalah Angel bertemu dengan Martin tanpa sengaja. Martin yang prihatin berupaya mengembalikan keceriaan dan kesehatan Angel kembali hingga tumbuh benih kasih di antara mereka. Akankah keduanya berkesempatan memiliki cinta terakhir masing-masing?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures dimana gala premierenya diadakan di Studio XXI eX pada tanggal 17 Januari 2012.


Cast:
Evan Sanders
sebagai Martin

Donita
sebagai Angel

Ajun Perwira
sebagai Hendra

Rozie Mahally sebagai Ferdy
Caroline Elodie
sebagai Agnes

Jordi Onsu
sebagai Anton


Director:

Merupakan film pertama Nayato Fio Nuala di tahun 2012 ini.


Comment:

Cerita My Last Love yang kondang dari Agnes Davonar cukup membekas dalam ingatan saya karena menyentuh sanubari. Subjudulnya adalah kisah cinta gadis lumpuh dan pria penderita HIV. Namun apa yang terjadi sehingga Ery Sofid dan Agnes Davonar memutuskan untuk mengubah plot ceritanya sedemikian rupa. Apakah ini permintaan MD Pictures atau murni inisiatif dari seorang Nayato Fio Nuala? Jika ada dari anda sekalian yang mengetahui jawabannya, sudi kiranya untuk berbagi informasi.

Kapabilitas Donita untuk memerankan tokoh sendu tidak perlu diragukan lagi. Ia dapat menitikkan air mata dengan mudah apapun kondisinya. Karakter Angel di tangannya memang terasa mellow. Sayangnya proses melupakan Hendra begitu saja dan langsung mencintai Martin yang baru dikenalnya dalam waktu singkat terkesan terlalu mudah. Untungnya Caroline Elodie dan Jordi Onsu lumayan memberikan kontribusi sebagai sahabat-sahabat setianya yang kocak dan baik hati.


Evan Sanders pernah mempesona dalam Dealova (2006). Namun kefasihannya berakting dalam berbagai judul sinetron kejar tayang stasiun televisi lokal justru terbawa disini. Peran pesakitan memang cukup meyakinkan dibawakannya walaupun transisi dari pria muda bergaya hidup jetset tanpa komitmen cinta terasa mendadak. Nama Ajun Perwira yang mengisi peran Hendra seakan mendompleng ketenarannya yang meroket belakangan ini. Sedangkan Rozie Mahally yang kebagian tokoh Ferdy selama ini memang setia sebagai “pengikut” Nayato.

Berbagai kejanggalan juga patut dicermati dalam film ini. Tidak diceritakan faktor apa yang memungkinkan seseorang bisa sembuh dari kelumpuhan. Lantas menyaksikan Angel bisa dibonceng sepeda oleh Martin dengan gampangnya juga menimbulkan tanda tanya besar. Belum lagi keluarga Martin yang kaya raya secara materi tapi mempercayakan perawatan putra kesayangannya di rumah sakit kurang berkelas. Semua itu akan membuat anda mengernyitkan kening pertanda kebingungan.

Kinerja Nayato sebagai sutradara kali ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Cinta Pertama (2007) yang bertemakan serupa. Salah satu bukti bahwa ia mampu membesut sebuah film yang melebihi standar rata-rata! Dramatisasinya tergolong pas tanpa memaksakan diri untuk terlalu cengeng. Berbagai momen menyentuh yang ada pun berhasil dimaksimalkan untuk membangkitkan simpati penonton akan kelangsungan hubungan Martin dan Angel yang tidak “sempurna” tersebut.

Tak dipungkiri, bagi saya My Last Love merupakan film terbaik Nayato dalam 5 tahun terakhir! Meskipun sesungguhnya saya mengharapkan eksekusi yang lebih setia pada ide originalnya yang lebih kompleks tersebut. Bagaimanapun juga tidak ada salahnya jika sesekali memberikan rekomendasi #KamisKeBioskop bagi Nayato kali ini. Suguhan keikhlasan dan ketulusan cinta situasi dari pemasangan Evan dan Donita yang sama-sama rupawan itu pada akhirnya menjadi nilai tambah tersendiri.

Durasi:
91 menit


Overall:
7 out of 10


Movie-meter:

Kamis, 29 Desember 2011

POCONG KESETANAN : Makam Keramat Berurusan Vampir Cina

Quotes:
Asep: Asep gak takut sama pocong tapi sama bencong!


Storyline:
Bujang, Mentil dan James pergi ke kota untuk menjemput Santo yang sudah minggat setahun lantaran menolak jadi pendekar. Santo beralasan karena malu terkena kutukan yang membuatnya menjadi banci bernama Santi di malam hari. Suatu hari, Santo memutuskan untuk merampok makam keramat Cina yang menyimpan banyak harta karun bersama Bujang dan James. Sejak saat itulah mereka diteror oleh vampir Cina, pocong Ajun dan kuntilanak di rumah kontrakan yang juga berisikan Chika dan Wendy. Berhasilkah mereka lepas dari teror supernatural tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Parco Film dan sedianya diberi judul Kungfutilanak.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Santo/Santi
Raffi Ahmad sebagai Asep
Guntur Triyoga sebagai James
Ajun Perwira sebagai Pocong
Reymon Knuliqh sebagai Bujang Jawara Pantun
Rina Diana sebagai Mentil
Diah Cempaka Sari sebagai Chika
Febriyanie Ferdzilla sebagai Dewi
Rozi Mahally sebagai Reymon

Director:
Merupakan film penutup Nayato Fio Nuala di tahun 2011 yang menggunakan nama Pinkan Utari.

Comment:
Serasa belum cukup bermain dengan kuntilanak dan pocong dalam film-filmnya yang dominan selama 3 tahun terakhir, Nayato membawa serta ikon baru yaitu vampir Cina yang hobi melompat-lompat dalam balutan busana khas tradisional sana. Sebagai informasi, vampir semacam ini sempat populer di era 90an lewat serial televisi ataupun film layar lebar Mandarin yang juga berhasil mengangkat nama Lam Cheng Ying sebagai guru penakluknya.
Penulis Ery Sofid dan Ian Jampanay secara serampangan mencampur-adukkan berbagai plot cerita yang tidak simetris itu. Pertama, ada Asep yang ditugaskan membawa pulang Santo yang konon terkena kutukan siang dan malam (what is this?).Namun ternyata setelah paruh pertama film, si Asep menghilang entah kemana. Kedua, merampok makam Cina itu tujuannya apa? Mengambil uang orang mati yang tidak laku di dunia manusia? Lantas mau menukarnya di money changer? Come on, u can’t be more silly!
Kehadiran pocong Ajun juga tidak berkorelasi apapun dengan bangunan cerita. Sekadar memperingatkan Santo dkk untuk tidak berbuat jahat? Atau numpang eksis dengan menjadi polisi alam manusia dan setan? Jika memang Ajun Perwira hanya dimaksudkan untuk menjadi cameo, kenapa kemunculannya cukup dominan hingga dibully habis-habisan? Apalagi sampai mengubah design poster hingga mirip dengan PJP The Movie yang baru saja tayang sebulan yang lalu itu. Gosh!

Seberapa kerasnya usaha Azis dan Reymon untuk memancing tawa dengan kegagapan kemayu dan kejayusan berpantun di sepanjang durasinya itu, saya cuma bermuka datar bahkan tersenyum pun tidak. Suer! Justru saya mempertanyakan suara tawa penonton di deretan bangku belakang yang menggelegar. Ingin rasanya menyambangi mereka dan besar kemungkinan akan menemukan Bapak Nayato sedang menggelitik pinggang mereka satu persatu?!
Belum setengah jam film berjalan, beberapa penonton yang “bijak” sudah memilih untuk meninggalkan bioskop. Nyaris saya memberikan standing applause untuk mereka karena berani mengambil langkah tersebut. Kenyataannya saya cuma bisa mempertahankan flat face MODE ON selama kurang lebih satu jam seperempat sekaligus menahan kedua kaki untuk tidak beranjak menuruti perintah otak yang tidak mau beresiko mengalami distorsi akut.
Pocong Kesetanan benar-benar menyiksa pikiran dan batin, bukan karena ketakutan dan kelucuan tetapi kebodohan merangkai cerita yang tidak masuk akal. Adegan pertempuran antar geng yang lebih mengandalkan permainan kamera dan tali-menali tersebut hanya sekadar basa-basi. Ketololan para karakternya yang hanya bisa berjayus ria dan mengupil tersebut amat tidak termaafkan. Berdoalah agar bangsa alien tidak menyaksikan film ini, karena jika iya bisa jadi mereka sepakat menjajah bangsa manusia yang dianggap memiliki intelejensi sejenis. Wasallam!

Durasi:
76 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 15 September 2011

TARUNG : Aroma Balas Dendam Berdarah Persaudaraan

Quotes:
Galang: Gue janji. Gue pasti balik buat loe!


Storyline:
Empat pemuda dengan kehidupan keras masing-masing Reno, Galang, Choky dan Daud berawal dari panti asuhan yang sama milik Ibu Lastri. Bertahun-tahun kemudian, mereka berkesempatan untuk berkumpul kembali, memulai lembaran hidup yang baru. Reno yang baru keluar penjara, Galang yang jatuh hati pada pelacur bernama Astrid, Choky yang terlibat hutang dan Daud yang baru memulai usaha bengkelnya harus kembali menghadapi musuh-musuh mereka dimana nyawa dan persahabatan menjadi taruhan utamanya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Jelita Film dimana gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 13 September 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Galang
Volland Humonggio sebagai Reno
Khrisna Patra sebagai Coky
Daud Radex sebagai Daud
Cinta Dewi sebagai Astrid
Raymond Knuliq

Director:
Merupakan film ke-7 di tahun 2011 bagi pria kelahiran 20 Februari 1968 bernama Nayato yang hobi menggunakan berbagai identitas ini.

Comment:
Film laga merupakan salah satu tambang emas perfilman Indonesia periode 80-90an yang sebut saja menonjolkan nama George Rudy, Barry Prima dll. Namun entah kenapa pamor genre yang satu ini merosot tajam memasuki tahun 2000an. Bukan tidak ada samasekali tetapi yang beredar bisa dihitung dengan jari, apalagi yang mampu mempertanggungjawabkan kualitasnya? Bagaimana dengan garapan sutradara terproduktif minus Indonesia kali ini yang nekad bermain di luar zona nyamannya?
Nayato Fio Nuala, sebuah nama yang tidak asing bagi pengikut film Indonesia. Seseorang yang misterius dan sangat sulit ditemui wartawan media manapun sejak kasus kontroversial FFI 2007 ini di luar dugaan muncul saat gala premiere film terbarunya ini. Makna dari kepercayaan diri tinggi akan kualitas akhirnya yang diharapkan bisa berbicara banyak? Bisa jadi! Namun yang jelas butuh lebih dari sekadar sinematografi temaram dan koreografi laga yang cepat dari berbagai angle dinamis. (baca: bukan pujian)
Saya sedikit heran dengan skrip yang dikerjakan oleh Erry Sofid dan ian Jampanay ini. Opening film seakan memfokuskan diri pada karakter Reno yang keluar dari penjara dan berusaha hidup normal di luar faktor rival-rival yang masih mengintainya. Namun pertengahan film seakan bagian tersebut hilang begitu saja dan pusat perhatian berganti kepada Galang dan Coky yang terlibat hutang atas dasar ketidakmanusiaan yang curang dan biadab. Bagaimana tidak? Uang kotor, dipinjam secara paksa, diberikan sebagai amal pula? WTF? Robin Hood yang menganut prinsip serupa pun rasanya akan bunuh diri dengan busur panahnya sendiri!
Volland adalah seorang aktor laga, setidaknya sudah dibuktikan lewat film-film sebelumnya. Tidak heran jika seharusnya dipercaya memegang porsi besar untuk setidaknya menjadi ujung tombak film. Nyatanya Nayato masih lebih percaya pada aktor kesayangannya, Guntur yang diberikan otoritas tinggi untuk bertindak sebagai pahlawan kesiangan bagi saudara-saudara angkatnya maupun kekasih pelacurnya. Brilian! Saya kasihan pada aktor-aktris yang terlibat disini karena proses syutingnya mungkin 180 derajat lebih membingungkan dibandingkan proses readingnya. Mudah-mudahan ada yang berani bertestimoni suatu saat nanti daripada harus bangga dengan peran-peran keluar masuk semacam ini.
Dengan embel-embel judul City of Darkness, Nayato seakan merasa berhak menampilkan suasana kota yang didominasi kegelapan. Gang-gang sempit, pemukiman kumuh, transportasi kereta malam hingga diskotik yang hingar bingar dengan segala transaksi miras, narkoba hingga seks. Campur aduk plot tanpa sekat yang jelas! Penonton yang awalnya mencoba peduli pada kiprah keempat pemuda jebolan Panti Asuhan Bunda Mulia itu pun rasanya berbalik mencibir.
Tarung terbukti merupakan proyek kebingungan seorang Nayato, apakah ia sedang syuting drama spesialisasinya atau action coba-cobanya. Sisi emosionalnya gagal ditampilkan, sisi serunya juga tidak berhasil disuguhkan. Mungkin di lain kesempatan, Nayato masih harus berpikir kembali untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik daripada sekadar menyediakan bertumpuk-tumpuk stok kaca mobil untuk dipecahkan akibat baku hantam para tokohnya!

Durasi:
80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 12 Juli 2011

KEPERGOK POCONG : Cara Kaya Foto Mayat Sumpah Pocong

Quotes:
Boy: Nama aslinya George Coolman.. Tapi kenapa dipanggil Aceng ya?

Storyline:
Aina adalah seorang mahasiswa abadi yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penggali kuburan. Ia tinggal bersama kedua sahabatnya yang pintar-pintar bodoh yaitu Boy dan Ceko. Boy memiliki pacar cantik bernama Princess yang selalu mengukur kebahagiaan dari materi. Sedangkan Ceko memilih untuk memendam cintanya terhadap Niken. Saat rekan mereka di kampus, Donatus berusaha membuat dokumentasi tentang Aina, terbukalah sebuah buku rahasia yang membahas jika menyimpan foto jenazah orang yang tewas karena termakan sumpah pocong maka akan menjadi kaya. Boy dan Ceko mencoba cara tersebut hingga mendapatkan rejeki-rejeki yang mengalir. Akankah semua itu abadi dan tidak memiliki efek samping dari mayat yang mereka pinjam fotonya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 11 Juli 2011.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Aina
Raymond Knuliq sebagai Boy
Rozie Mahally sebagai Ceko
Nadya Almira sebagai Princess
Keira Shabira sebagai Niken
Albert Putra sebagai Donatus

Director:
Merupakan film keempat Nayato di tahun 2011 ini dan sangatlah produktif untuk ukuran sutradara lokal.

Comment:
Penasaran dengan apa yang dimaksud judul film ini? Saya akan berikan jawabannya sebelum memulai review ini. KKPK alias Komite Kepergok Pocong Katro. *sepi* Saya akan biarkan anda semua ternganga lebar dan bermawas diri terlebih dahulu. Tolong pikirkan lagi keputusan anda untuk menyaksikan film ini jika tidak ingin bergabung dalam perkumpulan fiktif tersebut. Dan jangan katakan saya tidak pernah memperingatkan anda sebelumnya.
Penulis Erry Sofid sangat disarankan tidak bermain-main dengan intelejensi penonton lagi. Percayalah hal tersebut tidak menguntungkan kedua belah pihak samasekali. Premis film ini sendiri sudah tidak wajar yakni menggabungkan dunia nyata dengan dunia gaib dalam sebuah komedi situasi. Bisa bayangkan jika pocong dan kuntilanak dapat hidup berdampingan dengan anda secara terang-terangan sehari-harinya? Akankah reaksi anda sama seperti halnya Azis Gagap dkk disini?
Perlakuan tak senonoh bertubi-tubi menimpa Mr. P dan Mrs. K di sepanjang film. Demikian saya berikan julukan khusus untuk meredam rasa sakit hati mereka setelah dibanting, ditimpuk telor, dijitak dan menerima sederetan perilaku ajaib lainnya. Mungkin ada baiknya mereka memikirkan koalisi dalam mengajukan fatwa khusus terhadap Nayato? Mohon jangan ditanggapi terlalu serius karena ini hanya sebuah ide liar yang terlintas dalam kepala saya yang sudah semakin mumet ini.
Khusus Nayato sebaiknya tidak terlalu dicaci-maki karena ia membawa banyak sekali isu LGBT kali ini. Entah sebagai dukungan atau justru ia berusaha jujur dengan orientasi pribadinya? Jika tidak percaya lihat saja interaksi Reymond dan Rozie yang awkward di sebuah toilet itu. Atau segala tingkah laku tokoh transgender Aina yang dimainkan dengan “super-duper” oleh Azis Gagap? Jika memang murni dimaksudkan untuk memancing tawa rasanya kurang bijaksana.
Kabar yang berhembus bahwa Nayato dan Azis Gagap berencana membuat 50 film bertemakan pocong mudah-mudahan tidak terealisasi atas dasar apapun juga. Kepergok Pocong sejauh ini sudah menjadi bukti kuat bahwa ide cerita dan formula yang berulang-ulang hanya akan menyebabkan sakit kepala, kram otak, gangguan penglihatan dan pendengaran serta stress tingkat tinggi. Beruntung saya tertidur di sebagian durasinya sehingga efek samping dapat diminimalisir tanpa disengaja.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 20 Juni 2011

ADA APA DENGAN POCONG : Misteri Pocong Teror Empat Pemuda

Quotes:
Boy: Loe pecahin aja tuh kaca biar rame. Kalo kurang rame, bakar!

Storyline:
Bermula pada Wawan yang mengalami teror oleh pocong di kostnya disusul oleh Hary, Boy dan Tedi yang mengalami hal sama. Tidak tahan, Hary dan Wawan menyambangi seorang dukun sakti yang memberikan mereka keris mini sebagai perlindungan. Tedi dan Hary pun mengalami kecelakaan misterius karena pocong yang semakin marah. Boy yang ketakutan membuka mulut pada Ririn dan Mirna akan kejadian sesungguhnya yang berkaitan dengan Lastri, gadis kutu buku yang ditaksir Hary tapi menaruh hati pada Wawan. Akankah mereka berempat selamat dari gempuran pocong yang menyimpan dendam itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan Co Bic Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 20 Juni 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Boy
Joanna Alexandra sebagai Ririn
Dallas Pratama sebagai Wawan
Raymond Knuliq sebagai Hary
Jerry Likumahwa sebagai Tedi
H Bolot sebagai Dukun
Mpok Atiek sebagai Suster

Director:
Chiska Doppert dua kali menggarap film sebelumnya yaitu Missing (2005) dan Gotcha (2006).

Comment:
Prolog film ini langsung dibuka tanpa tedeng aling. Sepertinya Chiska hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan Nayato sebelumnya. Oh wait! Dari dulu saya selalu curiga keduanya adalah orang yang sama. Mungkin Nayato lebih senang berkostum pocong sedangkan Chiska memilih kostum kuntilanak. Sayangnya pesta Halloween masih jauh di depan, bapak dan ibu.. Namun untuk menghargai, saya akan tetap memakai nama Chiska dalam penulisan review ini.
Seberapa keras usaha Ule Sulaeman untuk menghasilkan skrip yang kreatif sekalipun sepertinya akan sia-sia. Eksekusi Chiska tidak dapat diganggu-gugat atas dasar apapun juga. Tidak heran jika terlalu banyak elemen yang mengganggu disini mulai dari miscast, misplaced, misruled, mismatch dan lain-lain. (Buka Wikipedia untuk menambah sederetan kata “mis” lainnya). Dan jangan minta saya untuk menyebutkan contoh kasus-kasusnya karena akan menyinggung terlalu banyak pihak.
Entah apa fungsi para aktris disini selain pemanis layar belaka. Joanna yang hobi jump-in jump-out pada scene-scene tertentu. Mpok Atiek yang hanya kebagian satu scene di rumah sakit sebagai suster tua genit. Atau Monique yang ternyata memiliki kemampuan “membelah diri” sebagai pocong dan kuntilanak sekaligus terlepas dari siapapun pemerannya. Penonton diamini untuk percaya bahwa dialah di balik semua make-up dan kostum horor tersebut. OMG!
Bagaimana dengan para aktornya? Zaky kembali mengeksploitasi keiteman dan kekhasannya dalam berlogat dan melontarkan celetukan-celetukan jenaka. Di awal-awal mungkin cukup berhasil tapi lama-kelamaan semakin menjemukan. Dallas sebelumnya cukup berwatak dalam berakting kali ini tidak menjanjikan apa-apa. Raymond lagi-lagi bermodal body panzer dan congor bawelnya. Paling mengganggu dari semua adalah karakter Tedi dan Dukun dimana budeg dan bolot itu ternyata memang beda tipis. Once or twice is funny but more than that would be sick. Mohon jangan salahkan Jerry ataupun H Bolot karena mereka hanya dibayar!
Mari kita beralih pada kiprah sang pocong dan kuntilanak. Mana yang lebih efektif dalam tampil? Tentu saja pocong sebab doski dijadikan judul! Mau lihat pocong naik mobil, busway, taksi? Itu tidak penting sebab yang lebih menarik adalah apakah mereka melompat-lompat dalam melakukannya atau ada yang berbaik hati membukakan ikat kakinya? Silakan berasumsi. Kabar baikya adalah tidak ada perlakuan nista yang ditujukan pada mereka kali ini sehingga imej horor setidaknya tetap terjaga.
Ada Apa Dengan Pocong sebetulnya berpotensi menjadi parodi horor yang lebih menghibur lagi andai digarap dengan lebih serius. Opening yang cukup menggebrak dengan angle dan lighting yang tidak lazim itu seketika sirna setelah 15 menit berlalu. Yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan gambar tanpa isi yang lambat laun tersapu oleh hembusan angin berbau kantuk dari mulut para penonton. Jemu sekaligus tersiksa oleh kebodohan menantikan tirai di bawah tulisan EXIT terbuka.

Durasi:

80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 13 April 2011

KUNTILANAK KESURUPAN : Penulisan Biografi Artis Mengundang Hantu

Quotes:
Maya-Kunti lapar gak, Maya masak nih, ada pepes anjing..

Storyline:
Momon menawarkan Wesley untuk menulis biografi artis tenar bernama Indra Devian dengan bayaran tinggi. Tanpa ragu karena novel buatannya juga sedang stuck, Wesley menerima tawaran itu. Sayangnya sejak saat itu, Wesley dan teman-temannya masing-masing Kevin, Dylla, Gizka tak terkecuali pembantunya Maya mendapat gangguan bertubi-tubi dari kuntilanak dan pocong. Bahkan adik kesayangannya, Alice mendadak menghilang. Apa sesungguhnya yang diinginkan kuntilanak tersebut? Adakah hubungannya dengan Indra Devian sebenarnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 12 April 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Wesley
Fero Walandouw sebagai Kevin
Irish Bella sebagai Alice
Reymond Knuliq sebagai Momon
Aziz Gagap sebagai Maya
Julia Perez

Director:
Film keempat Nayato di tahun 2011 ini setelah terakhir Virgin 3 kurang dari sebulan yang lalu.

Comment:
Another title, same storyboard. Jika anda melihat trailernya, saya katakan itu sudah jauh lebih penting daripada isi filmnya sendiri. Percayalah akan review saya berikut ini. Namun jika anda tetap penasaran tidak ada salahnya menyaksikan sendiri. Toh kita semua datang ke bioskop untuk mendapatkan hiburan terlepas dari perasaan puas/tidak yang muncul setelahnya.
Sutradara Nayato masih juga menggunakan template-template favoritnya yaitu kamar, rumah, kampus, hutan yang sama persis dengan karya-karya sebelumnya. Yang berbeda hanyalah sound effect rusak yang sengaja dibelinya untuk memekakkan seisi gedung bioskop. Mudah-mudahan anda tidak perlu ke Dokter THT sehabis menyaksikannya karena tentunya akan menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan tiket bioskop yang tidak seberapa.
Masih ingat dengan cast Pocong Ngesot? Tiga diantaranya kembali lagi disini dengan peran yang sangat serupa yakni Aziz Gagap, Fero Walandouw, Reymond Knuliq tetapi dengan nama yang berlainan. Ditambah dengan dua bintang baru kesayangan Nayato yaitu Irish (Heart 2 Heart) dan Guntur (Gaby dan Lagunya). Kesemuanya seakan-akan diinstruksikan untuk berakting senorak dan selebay mungkin, tanpa peduli perasaan penonton yang sudah sangat terganggu.
Jika anda menganggap hanya kuntilanak yang menjadi momok disini, salah besar! Ia bertandem dengan pocong bahkan saling membagi tugas untuk menakut-nakuti orang-orang tertentu. Sungguh kerjasama yang baik walaupun pada akhirnya kemenangan mutlak tetap di tangan manusia. Betapa tidak, si kunti dan si pocong menjadi “bulan-bulanan” mulai dari disembur, ditendang, dikentutin, ditampol, kejeduk pintu dsb. Satu-satunya yang cukup manusiawi hanya pada saat si kunti digendong oleh Aziz Gagap ke dapur. Lucukah semua itu? Saya cuma bisa berkata, “Memprihatinkan!”
Kekurangan lain yang juga kentara adalah editingnya yang teramat kasar. Saya tidak menangkap manfaat pembagian scene per scene yang ujung-ujung selalu dipotong begitu saja, selayaknya stripping video klip gagal tapi tetap dipaksakan tayang demi menghabiskan durasi. Itulah minus terbesar yang saya tangkap ketika menonton Kuntilanak Kesurupan. Tak hanya mempertanyakan logika cerita tetapi juga penggunaan judul yang demikian. Dan jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title bergulir untuk mendapatkan jawabannya (jika dirasa perlu)!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 15 Maret 2011

VIRGIN 3 : Satu Malam Mengubah Segalanya

Storyline:
Demi merayakan malam terakhir Putri di Jakarta sebelum bertolak ke Melbourne, Dini, Tika dan Sherry nekad masuk ke klab malam yang eksklusif atas bantuan seorang fotografer bernama Tyo. Keempat remaja cewek yang masih belia dan minim pengalaman itu segera menarik perhatian sejumlah pria hidung belang dengan berbagai motif yang mulai mencekoki mereka minuman dan obat-obatan. Lewat serangkaian kejadian, keempatnya kemudian terbangun di sebuah kamar mewah di pagi hari dalam keadaan mabuk dengan luka berdarah di sekujur tubuh. Belum lagi kemunculan seorang pria asing yang belakangan diketahui bernama Allan di toilet hotel tersebut. Apa yang sesungguhnya terjadi semalam?

Nice to know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 15 Maret 2011.

Cast:
Irish Bella sebagai Sherry
Alex Abbad sebagai Allan
Fero Walandouw sebagai Ben
Gege Elisa sebagai Tika
Shapira Indah sebagai Dini
Ynessa Ioa Gaffar sebagai Putri
Raffi Ahmad

Director:
Film ketiga bagi Nayato di tahun 2011 ini setelah dua film bergenre horor komedi.

Comment:
Tidak butuh waktu lama bagi Nayato untuk kembali menghadirkan drama remaja yang berlatar belakang seks bebas. Dan tidak usah kaget jika franchise Virgin yang awalnya diprakarsai oleh Hanny R. Saputra mulai saat ini akan diklaim olehnya. Jika pada sekuelnya tahun lalu bersubtitle Bukan Film Porno maka sekuel keduanya ini bertajuk Satu Malam Mengubah Segalanya. Mungkin beberapa di antara anda mulai berpikir jika skenario yang ditulis oleh Cassandra Massardi ini jangan-jangan jiplakan The Hangover? Hm, jangan terlalu cepat menyimpulkan.
Saya sendiri sebetulnya lebih suka memberi subjudul Clubbing Satu Malam karena lebih dari separuh durasinya setting dihabiskan di klab malam dengan musik menghentak-hentak. Berbagai jenis dan bentuk muda-mudi sibuk berdansa, minum, lalu lalang dengan pakaian minim nan mencolok mata. Seakan gemerlap kehidupan benar-benar tertuang disana walaupun motif masing-masing belum tentu sama, bisa baik, bisa jahat. Seabu-abu warna seragam empat tokoh remaja putri kita disini.
Tak dipungkiri jika Irish, Shapira, Gege, Ynessa memang camera-face sekali. Nilai jualnya ditambah dengan kulit putih, wajah Indo dan juga berbodi yahud. Namun sedikit mengganggu mendengar mereka berdialog dengan cepat dan tak jarang berteriak akibat frustrasi. Seperti biasa Nayato tidak banyak memberikan ruang akting yang cukup bagi artis-artis barunya. Beruntung Alex Abbad masih bisa mencuri perhatian dengan peranan yang lain dari biasanya, kesan misterius cukup berhasil dipertahankannya di sepanjang film. Belum lagi Raffi yang tampil sekilas sebagai cameo penjual burger di sekolah.
Tampaknya Nayato kali ini sedikit bereksperimen dengan petualangan semalam suntuk yang menggunakan alur linier dengan berbagai subplot sederhana. Namun tak jarang shaky handheld camera semakin melelahkan mata untuk terus mengikuti sampai habis. Entah angin surga mana yang merasuk ke kepalanya, isu human trafficking dibahas juga di bagian ending. Untuk mempertegas maksud dan tujuannya, digunakanlah tulisan besar dengan huruf warna merah yang seharusnya tidak perlu.
Terlepas dari berbagai kekurangan tersebut di atas dan juga beberapa stereotype film-film bergenre sejenis yang masih ditemui, Virgin 3 sebetulnya masih dapat dikatakan lumayan menarik untuk disimak. Komposisi Tya Subiakto yang mengisi musik scoring nya terasa pas membangun mood film yang turun naik. Nuansa depresi tidak sampai lekat disini tetapi rasanya cukup menyampaikan untuk pesan moral yang dibidik khusus remaja belasan tahun yang seringkali mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan mereka.

Durasi:

80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 21 Februari 2011

POCONG NGESOT : Ketika Pocong Tak Lagi Loncat

Quotes:
Kenapa sih tuh pocong ngesot? Tau deh, tanya sendiri sama yang bersangkutan..
Keseleo kali!

Storyline:
Asep nekad pergi ke kota untuk mencari penghidupan yang layak demi menikahi kekasihnya di desa, Lilis. Di Jakarta, Asep malah tinggal di sebuah kontrakan bersama-sama Kubil, Bonar dan Wanda sekaligus mengenal Pretty dan Devina di kampus yang sesekali mengenalkannya pada kehidupan metropolitan. Kecemasan Asep akan Lilis yang mungkin dipersunting pengusaha kaya membuatnya bertekad mencari dukun pelet yang manjur. Lewat serangkaian prosesi yang melibatkan sesajen lengkap di sebuah pohon keramat trembesi, Asep dkk malah diganggu penampakan pocong ngesot. Akankah tujuannya berhasil pada akhirnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan press conferencenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 21 Februari 2011.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Panda
Rozie Mahally sebagai Asep
Keira Shabira sebagai Lilis
Leylarey Lesesne sebagai Devina
Fero Walandouw

Director:
Nayato menggarap film keduanya yang dalam judulnya mengandung kata “Pocong” setelah Pocong Jumat Kliwon (2010).

Comment:
Bagi anda para penggemar OVJ tentu tidak asing lagi dengan nama Aziz Gagap. Namun debut aktingnya di film layar lebar ternyata sebagai pria kemayu. Tokoh Panda yang dimainkannya sukses mencuri “perhatian” terutama karena kostum yang mengganggu pandangan ataupun kegagapan ala bencongnya. Bersama aktor-aktor lain yang tidak perlu saya sebutkan namanya, mereka bahu-membahu mempertahankan film ini agar tetap dalam rel komedi meski terseok-seok oleh konsep jayus dan norak sekalipun.
Sedangkan para aktris yang mendukung film ini sungguh tidak berkontribusi apa-apa selain menjual tampang dan tubuh yang tidak terlalu penting itu. Jika peran mereka dihilangkan, niscaya karakterisasi film ini tidak akan terlalu melebar selain faktor nilai dari teramat sangat hancur menjadi teramat hancur saja. Namun rupanya Nayato merasa masih perlu membayar mereka supaya filmnya masih mendapat label uniseks.
Dari segi cerita, tidak ada yang baru samasekali. Anda akan luar biasa familiar dengan sekuensi adegan demi adegannya. Tidak perlu benang merah lagi toh semua sudah tertutupi dengan celotehan konyol basi ataupun adegan slapstick norak di sepanjang durasinya yang seperti memaksakan penonton tertawa di mulut tetapi meringis di hati.
Bagaimana dengan nasib sang pocong? Sekali lagi ia dipermainkan sekejam-kejamnya disini mulai dari ditampol, ditimpuk, dikemplang sampai dijorokin hingga terjungkal, semua dilengkapi dengan sound effect. Setidaknya itu yang berhasil saya ingat di luar segala perlakuan nista lain terhadapnya. Namun tidak ada yang lebih kejam saat jenis kelaminnya ditukar-tukar begitu saja. Lewat serangkaian flashback dikatakan bahwa pocong tersebut wanita tetapi malah dianggap pria dengan sebutan Pak Mahmud?
Pocong Ngesot alhasil hanya berusaha menjual komedi mengerikan dan horor menggelikan. Mungkin setelah menonton film ini, anda akan tertarik mengundang sang pocong untuk ngesot di rumah anda sekaligus mengepel lantai dengan kain kafannya yang masih putih polos itu? Oops, mudah-mudahan tidak terpikirkan sekalipun. Cukup terjadi di dunia sinema saja yang kini tengah krisis film impor tersebut.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter: