XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ratu felisha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ratu felisha. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2015

MIDNIGHT SHOW : Unravel Mystery In Bloody Theatre

Quote:
Johan: Ya meskipun satu penonton tetap harus kita layani.

Nice-to-know:
Sutradara Ginanti Rona sempat diganggu dimana saat take, earphone nya terdengar suara berisik dan tawa wanita padahal semua kru dan pemain sedang tidak bersuara.

Cast:
Gandhi Fernando sebagai Juna
Acha Septriasa sebagai Naya
Ratu Felisha sebagai Sarah
Ganindra Bimo sebagai Tama
Boy Harsya sebagai Ikhsan
Gesata Stella sebagai Lusi
Arthur Tobing sebagai Seno
Ronny P. Tjandra sebagai Johan
Daniel Topan sebagai Allan
Ade Firman Hakim sebagai Guntur
Rangga Djoned sebagai Heru
Citra Prima sebagai Yuli
Rayhand Khan sebagai Bagas Film
Neny Aggraeni sebagai Desi
Yayu Aw Unru sebagai Purno
Zack Lee


Director:
Merupakan feature debut bagi Ginanti Rona Tembang Asri setelah menjadi astrada dalam The Raid: Redemption (2011).

W For Words:
Siapa nyana duet G bertekad menyuguhkan tontonan berdarah-darah bagi penikmat film Indonesia di awal tahun 2016 mendatang? Mereka adalah Gandhi Fernando dan Ginanti Rona Tembang Asri. Satunya adalah pelakon dan juga pionir dari Renee Pictures yang sudah menelurkan tiga film berbeda genre sejauh ini. Sedangkan yang lainnya sudah berpengalaman sebagai astrada bagi famous Indonesian genre directors yaitu Gareth Evans dan The Mo Brothers selain menggarap secara koperatif sebuah film kecil lima tahun silam. Seperti apa hasil kolaborasi produser dan sutradara ini memang layak ditunggu.

Pengusaha bioskop Johan sedang menunggui anak buahnya berjaga untuk pertunjukan midnight, sebuah film baru berjudul “Bocah” yang konon diinspirasi dari kisah nyata. Satpam Allan yang sudah mengantuk, penjaga loket Naya yang harus menggantikan tugas Lusi yang pulang lebih awal karena sakit dan juga projectionist merangkap penjual snack Juna yang usil. Beberapa penonton pun berdatangan mulai dari pasangan Ikhsan dan Sarah, pria tua Seno serta pria misterius Guntur. Mereka tidak menyadari jika ada sosok bertopeng yang tidak menyukai pemutaran film itu sedang mengintai. 

















Husein M. Atmodjo yang menggarap skenario berdasarkan ide cerita Gandhi ini bertekad memberikan pondasi yang kokoh bagi karakter-karakternya sebelum beranjak dengan konflik yang diusung. Simak saja bagaimana flashback mencengangkan sebagai appetizer yang menggugah rasa. Namun usaha Husein memang belum sepenuhnya berhasil karena adanya kekhawatiran membuka ‘kedok’ terlalu dini. Layer demi layer yang tersingkap seiring waktu akan terus memberi petunjuk bagi anda untuk menebak siapa pelaku sesungguhnya di akhir cerita. Tidak sulit bagi mereka yang mengaku slasher fans.

Ginanti sebagai sutradara tampak menguasai betul panggung bermainnya. Sebuah bioskop tua dengan studio lawas, ruang gelap maupun lorong sempit memang terasa sempurna sebagai arena kejar-kejaran yang menegangkan. Tidak lupa segala gimmick autentiknya mulai dari karcis sobek, poster film non digital hingga loket kaca menambah sisi artistik sekaligus menunjukkan kecintaan pembuatnya terhadap sinema sejak usia dini. Sinematografi dengan low key lighting dari Joel F. Zola sukses menghadirkan suasana mencekam di sepanjang film.














Menarik melihat Acha mengambil peran yang berbeda dari biasanya karena Naya adalah sosok heroine yang jelas akan anda pedulikan nasibnya di sepanjang film. Gandhi memberikan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya lewat karakter Juna yang usil tapi tak kenal takut. Kembalinya Ratu Felisha ke layar lebar lewat genre horor thriller pantas diapresiasi sebagai Sarah yang annoying. Sederetan aktor aktris muda yang turut mendukung sukses menghadirkan ‘distraksi’ yang dibutuhkan. Kemunculan sekilas tak lantas mengurangi nilai akting Ronny dan Gesata yang kian matang.

Terlepas dari pace yang sedikit naik turun dan juga flashback yang agak overexposed pada third act nya, Midnight Show merupakan slasher psikologis dengan kajian character study yang pantas diapresiasi karena tidak banyak filmmaker yang mau bersusah-payah melakukan effort serupa untuk genre sejenis. Sebuah film bisa dikatakan berhasil jika mampu melayangkan imajinasi penonton untuk sejenak membayangkan ada dalam situasi yang tengah dialami para tokohnya. If that’s the case then i’d be anywhere else but Podium theatre. Who’s the killer? It’s your task to uncover the mask.

Durasi:
100 menit

Movie-meter:

Kamis, 29 Juli 2010

NAKALNYA ANAK MUDA : Perjalanan dan Pembunuhan Misterius

Storyline:
Di sebuah pesta, Renata mengajak Andien ikut serta berlibur ke villa kakek Andra yang juga membawa Dicky, Pay dan Reno. Dalam perjalanan, mereka melewati hutan dan air terjun yang indah, malah villa tua tersebut menimbulkan kejanggalan dalam diri Renata hingga aktifitas keenam muda-mudi tersebut selalu dihabiskan di luar. Namun satu persatu, Pay, Reno dan Andra kemudian tewas mengenaskan hingga menyisakan Renata dan Dicky yang segera kembali ke Bogor. Keduanya melapor polisi atas kejadian itu sekaligus melakukan pencarian terhadap Andien yang menghilang secara misterius. Siapa sebenarnya pelaku dari semua itu?

Nice to know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan diproduseri oleh Karan Mahtani.

Cast:
Ratu Felisha sebagai Andien
Uli Auliani sebagai Renata
Fero Walandouw
Billy Ade Sumirat
Rozie Mahally
Rommy Ravalzy

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Nayato Fio Nuala di tahun 2010.

Comment:
Lagi-lagi Nayato dengan karya-karyanya yang tiada habisnya, masih dengan pertanggungjawaban yang nihil. Singkat saja, plotnya hanya berputar-putar, awal ke tengah, lalu dari tengah kembali lagi ke awal yang dijadikan akhir. Bingung? Sayapun demikian, hingga memutuskan untuk menuntaskan rasa kantuk yang menjalar saja di bangku bioskop yang nyaman. Mengenai sekelompok anak dugem yang berpesta, mabuk, melakukan kesalahan sudah berkali-kali dipotretkan sebelumnya. Kali ini dengan “kreatif”, Nayato membawa setting dari klub malam langsung ke hutan rimba dan kembali ke kota. Jujur kepala saya agak pening jika harus mengingat-ingat kembali.
Dari jajaran pemain jujur saya kasihan pada mereka semua harus “menerima” peran yang disodorkan terlepas dari motif apapun juga. Sedikit fakta lucu saat Ratu Felisha menggunakan nama Andien untuk karakter yang diperankannya. Entah ini ide siapa. Disengaja atau tidak? Uli tidak terlalu berbeda dalam melakoni Renata seperti yang sudah-sudah. Keempat aktor remaja prianya? Saya bahkan tidak peduli sama sekali pada eksistensi dan nasib mereka di film ini.
Nakalnya Anak Muda yang sempat dijadwalkan berjudul JIPER alias Jeritan Perawan ini sangat menipu dari segi tampilan poster yang diulang-ulang-ulang-ulang-ulang.. Isinya hanyalah thriller bukan thriller, slasher bukan slasher, dan tampaknya Nayato sendiri bukanlah Nayato yang sesungguhnya.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 25 Februari 2010

KAIN KAFAN PERAWAN : Kutukan Penunggu Gerbong Kereta

Storyline:
Saat sedang membuat video klip Rasty bersama kelima temannya Smitha, Debby, Marchel, Harry dan Dhana malah menemukan penampakan hantu wanita pada hasil editingnya. Rasa penasaran membuat mereka kembali ke stasiun kereta tersebut dengan ide baru yaitu membuat film dokumenter horor untuk dijual ke stasiun TV! Sayangnya keputusan mereka ternyata salah besar karena satu persatu dari kelima sahabat tersebut tewas termasuk Rasty yang akhirnya koma di rumah sakit. Kakak Rasty, Feli dan temannya, Sarah yang seorang fotografer terkejut saat dihubungi polisi. Setelah menjenguk Rasty, keduanya juga turut dihantui. Atas saran seorang paranormal, Feli dan Sarah harus membakar sepotong kain kafan perawan di dalam gerbong kereta untuk menghentikan semua kutukan tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan diproduseri oleh Gope T. Samtani & Subagio S.

Cast:
Masing-masing cast menggunakan nama panggilan aslinya dalam film. Kehabisan idekah?
Ardina Rasti
Ratu Felisha
Sarah Jane

Director:
Bekerjasama dengan penulis skenario Riady Adef, Nayato nampaknya kembali "bereksperimen" dengan karya terbarunya yang tampaknya terinspirasi dari kesuksesan Tali Pocong Perawan.

Comment:
Masih dengan formula campur aduknya dari beberapa film horor terdahulu Nayato yang belakangan ini menghasilkan film layar lebar selayaknya stripping sinetron kejar tayang. Segerombolan anak muda yang bermain-main di tempat yang tidak semestinya, diteror hantu hingga sebagian diantaranya tewas, sisanya harus kembali ke tempat semula untuk melakukan sesuatu yang belum selesai walau beresiko kehilangan nyawa. Tema yang sudah tidak asing lagi bukan? Yang baru mungkin dari jajaran cast. Kembalinya Ratu Felisha ke layar lebar setelah serangkaian kasus kehidupan pribadi yang dialaminya. Menarik bahwa fakta ia memulainya dengan bekerjasama dengan Nayato! Masih terasa terlalu muda sebagai kakak dari Rasty yang seakan berpromosi lagu dan video klipnya pula disini. Hmm.. Yang lain sepertinya tidak terlalu penting karena sebagai pelengkap penderita saja. Jika horor box office 2008, Tali Pocong Perawan masih memiliki cerita dan karakterisasi yang beralasan, tidak halnya dengan Kain Kafan Perawan yang judulnya hanya tempelan belaka dan terasa dipaksakan menjadi konklusi dari semua kejadian di ending film.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!