XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 12 Desember 2012

5 CM : Nasionalisme Persahabatan Di Puncak Semeru


Quote: 
Zafran: Jadikan mimpi kita menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kita, biar dia nggak pernah lepas dari mata kita

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films ini mengadakan gala premierenya di Plaza Senayan XXI pada tanggal 8 Desember 2012.

Cast: 
Herjunot Ali sebagai Zafran
Fedi Nuril sebagai Genta
Pevita Pearce sebagai Dinda
Igor 'Saykoji' sebagai Ian
Denny Sumargo sebagai Arial
Raline Shah sebagai Riani
Didi Petet

Director: 
Merupakan film ke-15 bagi Rizal Mantovani yang terakhir muncul lewat Jenglot Pantai Selatan (2011).

W For Words: 
Donny Dhirgantoro pantas berbangga hati. Novel debutnya bertajuk 5 cm yang ditulis selepas meninggalkan bangku kuliah di tahun 2001 pada akhirnya mampu menjadi best seller di tahun 2005. Tahun 2012 yang memulai tren pengembangan buku menjadi format skenario di industri perfilman Indonesia pun memberi jalan bagi Donny untuk mengerjakannya bersama Sunil Soraya dan Hilman Mutasi. Penasaran bagaimana konversi novel berisi 381 halaman menjadi film berdurasi 126 menit? Tak ada salahnya anda menyambangi bioskop untuk menyaksikan persembahan terbaru Soraya Intercine Films ini.

Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sejak kecil. Suatu ketika, Genta merasa jenuh dan mengutarakan niatnya untuk memutus tali silaturahmi sementara selama 3 bulan. Riani yang tak setuju akhirnya sepakat dengan yang lainnya dimana mereka ingin fokus pada mimpi masing-masing. Pertemuan kembali itu dirayakan dengan perjalanan mencapai puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus yaitu mendaki gunung Mahameru yang penuh tantangan. Berhasilkah mereka menemukan jawaban dari pertanyaan diri yang selama ini menghinggap?

Awalnya saya sempat pesimis melihat nama Rizal Mantovani di bangku sutradara karena beberapa film terakhirnya yang di bawah rata-rata. Namun hal itu dituntaskan dengan kinerja yang begitu detail menangkap setiap panorama alam tanpa kehilangan esensi cerita itu sendiri. Sulitnya medan membuat kerja semua departemen yang terlibat menjadi berat sehingga apa yang bisa tersaji di hadapan kita pantas diapresiasi tinggi. Jadwal yang molor dan bujet yang membengkak dari semula pun menjadi sisa cerita yang mampu ditutupi oleh kualitas akhir yang cukup memuaskan seluruh pihak.

Detil perjalanan selama empat hari yang dimulai dari kota Malang dilanjutkan dengan desa Tumpang tergambar jelas. Ranupani yang terletak di kaki Semeru menyediakan warung dan pondok penginapan selain daya tarik dua danau Ranu Pani dan Ranu Regulo yang indah itu. Lembah dan bukit yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus di Watu Rejeng dilanjutkan dengan Ranu Kumbolo dan Kalimati yang jadi persinggahan terakhir para pendaki sebelum melewati Arcopodo yang penuh tantangan karena abu vulkanik dan tanah yang berpotensi longsor untuk benar-benar sampai di puncak Semeru.

Dengan enam tokoh utama memang agak membatasi eksplorasi karakteristiknya. Namun Fedi, Junot, Raline, Pevita, Denny dan Igor mampu membagi chemistry yang kuat satu sama lain. Pertukaran dialog lugas dan jujur di antara mereka menjadi salah satu kekuatan film yang sulit dipungkiri. Saya merasakan akting Fedi masih sedikit datar, Pevita yang masih tipikal peran-peran sebelumnya, Junot pun demikian meski ia berhasil memperbaikinya mulai pertengahan film. Raline, Denny dan Igor yang lebih minim jam terbang justru paling mencuri perhatian di setiap kemunculannya. 

Misi nasionalisme dalam sebuah film sesungguhnya memiliki beban berat karena jika tanggung maka akan dengan mudah mengundang cibiran penonton. 5 cm cenderung aman melakukannya walau orasi masing-masing karakternya terasa sedikit berlebihan. Beberapa pihak mungkin mengaitkannya dengan mata pelajaran PPKN alias Pendidikan Pancasila dan Kewarnanegaraan. Bagi saya sah-sah saja, manusia memang makhluk serba tau tapi jelas butuh diingatkan. Konflik cinta yang biasa jadi jualan utama kali ini muncul dalam porsi minor layaknya bumbu penyedap yang tidak sampai mengaburkan rasa.

Di atas semuanya, mohon camkan baik-baik bahwa visi terbesar 5 cm adalah mengajarkan kita untuk mengejar mimpi. Bukankah semua berawal dari situ? Keyakinan untuk menggapai harus dilandasi tekad yang kuat dan usaha yang maksimal. Analogi kaki, tangan, mata, leher, mulut dan hati sebagai modal pendukung dari Tuhan kepada setiap manusia itu tergolong luar biasa. Sebuah penegasan bahwa jatuh bangun itu hal yang biasa asalkan kamu tidak berhenti. Tentunya dukungan keluarga dan sahabat juga dibutuhkan sebagai dorongan semangat. Awesome cinematography has capped this as one of the best Indonesian movies ever made!

Durasi: 
126 menit

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Caricature Courtesy:
http://PabrikHidupDana.blogspot.com

Senin, 10 Desember 2012

MILLION DOLLAR CROCODILE : Laughable Beast Movie From China


Quote: 
Insurance agent: Believe it or not, it’s this long and this big!
Wang: Did you see it yourself?
Insurance agent: No

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Screen Media Films ini sudah rilis di China pada tanggal 8 Juni 2012 yang lalu.

Cast: 
Tao Guo sebagai Wang Beiji
Barbie Hsu sebagai Wen Yan
Suet Lam sebagai Zhao

Ding Jiali sebagai Xiaoxing
Shi Zhaoqi sebagai Liu

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Li Sheng Lin yang juga menulis skripnya.

W For Words: 
Pencapaian terbaik film ini adalah sebagai pembuka Montreal International Film Festival 2012. Tampaknya China cukup percaya diri dalam memproduksi film pertama yang mengusung teknologi CGI secara baik dan benar dalam wujud buaya betina sepanjang 36 kaki! Jangan ditanya berapa banyak judul produksi Hollywood yang bertemakan serupa sebelumnya mulai dari yang paling wah sampai medioker sekalipun. Kesalahan terbesar biasanya ada di aspek cerita yang kurang diperhatikan. Bagaimana dengan yang satu ini? Tertarik untuk membuktikannya sendiri?

Bocah sepuluh tahun, Xiaoxing menganggap buaya raksasa bernama Amao milik Kakek Liu sebagai temannya. Karena kesulitan uang untuk perawatan, Amao dan kawanan buaya lain terpaksa dijual pada pengusaha restoran ilegal, Zhao. Pada satu kesempatan, Amao berhasil kabur dan tanpa sengaja menelan sebuah tas berisi uang seratus ribu Euro punya Yan yang baru kembali dari Italia. Yan yang tidak terima melapor pada polisi lokal, Wang yang juga ayah Xiaoxing. Perburuan liar dari berbagai pihak lantas dilakukan terhadap buaya betina yang mulai mengganas tersebut.

Lin sebagai penulis skrip memang lebih menitikberatkan pada unsur hiburan dan komedinya. Saya harus katakan sejak menit awal, film ini gagal menjaring simpati penonton terhadap salah satu karakternya sekalipun. Xiaoxing tidak tampak seperti bocah lugu menggemaskan tapi nakal menyebalkan, Yan bukanlah heroine tegar tapi materialistis manja, Wang lebih mirip pecundang menyedihkan dibanding polisi berwibawa. Siapa dari mereka yang akan anda dukung untuk selamat pada akhirnya? Jika harus jujur, saya berharap ketiganya menjadi korban saja dengan karakteristik yang begitu mengganggu.

Lin sebagai sutradara memang berupaya menjaga tensi film agar stabil. Ia cukup berhasil meski harus menempuh jalan yang corny sekalipun termasuk memberikan sisi emosional pada Amao di penghujung. Spesial efek merupakan suguhan terbaik dimana pergerakan buaya tergolong wajar, baik di darat (kebun teh) atau air (sungai, bendungan) lengkap dengan jejak yang ditinggalkannya. Apabila anda berharap cipratan darah dan adegan kekerasan mungkin akan kecewa karena porsinya tergolong minim dan cenderung aman dikonsumsi oleh seluruh kelompok umur.

Satu-satunya yang tampil menawan disini adalah Suet Lam dengan sifat rakus dan culasnya yang dominan sebagai antagonis Zhao. Andai dapat memaklumi “kepayahan” Wang, akting Guo Tao sebetulnya cukup menarik. Ia tabah menghadapi “tekanan” dari sana sini mulai dari atasan, rekan kerja, warga, pendatang baru hingga anaknya sendiri yang tidak menghargainya. Bagi aktris sekaliber Barbie Hsu, peran Yan hanya akan menorehkan catatan hitam karirnya. Saya sangat terganggu dengan dialog itu-itu saja yang tak jarang terucap melalui jeritan melengking atau teriakan histeris.

Million Dollar Crocodile pada akhirnya hanya akan menjadi film kebanggaan negeri tirai bambu yang sebetulnya tidak pantas dibanggakan. Kelemahan skrip tak bisa dipungkiri terlepas dari kemustahilan yang paling mungkin terjadi pada setting pinggiran propinsi Hangzhou masa kini. Sisi komedik yang dibangun terbukti masih bercitarasa lokal, simak dialog antara pemetik teh Fang Qingzhuo dan agen asuransi Wang Jinsong yang kocak itu. Terima kasih pada sinematografer Li Xi dengan konsep fotografi layar lebarnya yang menjadikan film yang juga dikenal dengan judul Croczilla ini believeable.

Durasi:
87 menit 

Overall: 

6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 09 Desember 2012

RED DAWN : Guerillas Movement For Patriotic Unnecessary Remake


Quote:
Jed Eckert: Marines don't die, they go to hell and regroup.
  
Nice-to-know: 

Chris Hemsworth dan Isabel Lucas berkencan di kehidupan nyata dan sama-sama membintangi soap opera Australia "Home and Away".

Cast: 
Chris Hemsworth sebagai Jed Eckert
Josh Peck sebagai Matt Eckert
Josh Hutcherson sebagai Robert Kitner
Adrianne Palicki sebagai Toni Walsh
Isabel Lucas sebagai Erica Martin
Connor Cruise sebagai Daryl Jenkins


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Dan Bradley yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung sebagai stunt coordinator sejak tahun 1983.

W For Words: 
Pada tahun 1984 terdapat sebuah film bertajuk Red Dawn yang dibintangi oleh Patrick Swayze, C. Thomas Howell dan Lea Thompson. Genre action yang disutradarai oleh John Milius itu pada akhirnya sukses meraup pendapatan lebih dari empat kali pengeluarannya hanya di Amerika Serikat saja. Siapa nyana jika lebih dari satu dekade kemudian Contrafilm, Metro-Goldwyn-Mayer dan Vincent Newman Entertainment berpikiran untuk meremakenya dengan bintang-bintang masa kini. Satu pertanyaan besar adalah seberapa jauh perombakan skrip dalam penyesuaiannya dengan jaman modern?

Mantan anggota angkatan laut, Jed Eckert baru saja kembali ke rumah tapi bersitegang dengan adiknya yang masih duduk di bangku SMU Matt hingga ditengarai sang ayah Tom yang juga berjiwa keras. Suatu malam, kota kecil Spokane tempat tinggal mereka mendadak diserang pasukan tentara Korea Utara sehingga Pemerintah segera memberlakukan peraturan militer bagi warganya. Kakak beradik itu tak tinggal diam dan mengajak kawan-kawannya mengadakan perlawanan di bawah nama “The Wolverines” yang segera memancing amarah Kapten Lo yang kejam. 

Carl Ellsworth dan Jeremy Passmore tampaknya tidak memberi banyak perubahan pada skrip asli milik Kevin Reynolds dan John Milius selain penekanan pada hubungan abang adik Jed-Matt yang lebih kuat dan perpindahan Calumet, Colorado ke Spokane, Washington. Satu hal yang terlupakan adalah fakta bahwa Perang Dingin sudah lama berlalu. Jika demikian mengapa rasisme antar bangsa masih cukup kental? Hal ini terlihat dari figur Kapten Korea Utara, ayah Afro Amerika yang pembelot dan Jenderal Rusia dengan maksud tertentu yang mulai muncul sejak pertengahan film. 

Latar belakang sutradara Bradley jelas berguna dalam merekonstruksi sekuens aksi seru yang bertebaran di sepanjang film ini. Sayangnya kelemahan narasi masih cukup terasa disana-sini sehingga berbagai faktual menjadi terabaikan. Aksi The Wolverines memang believable tapi kemampuan memperdaya pasukan tentara yang jauh lebih berpengalaman jelas patut dipertanyakan. Belum lagi persiapan minim dengan perbekalan seadanya, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Penggunaan CGI nya tergolong amatir walau tidak sampai konyol sekali.

Hemsworth secara dominan mampu menegaskan kepemimpinannya, terima kasih pada beberapa judul blockbuster Hollywood yang sudah mengangkat namanya.  Sesungguhnya Peck menerima peran menantang dimana transformasi karakter Matt dari awal hingga akhir begitu kentara dan ia memperlihatkan potensinya. Chemistry keduanya menjadi aspek yang paling menarik dalam film. Duet Hutcherson dan Cruise juga lumayan kompak sebagai pendukung yang mampu mencuri perhatian. Kemunculan Dean Morgan di pertengahan terasa sebagai cameo belaka.

Mungkin Red Dawn sebaiknya tidak perlu diproduksi kembali apalagi sampai dipresentasikan kepada publik. Bukan drama perang inspiratif melainkan propaganda action akan sebuah patriotistik Amerika Serikat yang kental. Sulit rasanya untuk percaya bahwa di masa seperti sekarang ini, hal serupa dapat terjadi di luar sana. Tidak ada salahnya apabila anda berandai-andai menempatkan diri pada posisi mereka untuk benar-benar dapat terikat pada film secara keseluruhan. It’s a pure entertainment holiday season movie but doesn’t come up with something special that will be remembered for long time.

Durasi: 
93 menit 

U.S. Box Office: 

$31,272,953 till Dec 2012 

Overall: 

7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 Desember 2012

TALAASH : Unconventional Gripping Thriller In Slow Pace


Tagline:
The Answer Lies Within

Nice-to-know: 

Aamir Khan sempat menjalani latihan renang selama tiga bulan untuk beberapa adegan spesifik untuk film ini.

Cast: 
Aamir Khan sebagai Surjan Singh Sekhawat
Kareena Kapoor sebagai Rosy
Rani Mukerji sebagai Shreya Bondre
Nawazuddin Siddiqui sebagai Tehmur
Raj Kumar Yadav sebagai Devrath Kulkarni


Director: 
Merupakan film kedua bagi Reema Kagti setelah Honeymoon Travels Pvt. Ltd. (2007).

W For Words: 
Sedianya sebuah thriller yang baik sudah mempersiapkan “kejutan manis” di akhir cerita. Apakah hal serupa berlaku untuk Bollywood? Tentu saja. Di tahun 2012 ini, Kahaani telah membuktikannya, setidaknya menurut anggapan sebagian besar orang yang telah menyaksikannya. Produksi terbaru Aamir Khan Productions dan Excel Entertainment dengan genre sejenis ini jelas menjual nama Aamir Khan yang bertindak sebagai produser dan aktor utamanya. Tambahan lagi dua aktris papan atas Kareena Kapoor dan Rani Mukerji. Who dare to miss this?

Aktor Armaan Kapoor tewas dalam kecelakaan misterius. Inspektur Surjan Singh Sekhawat ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu bersama rekannya Devrath Kulkarni. Padahal Surjan baru saja pindah ke Mumbai bersama istrinya Shreya Bondre demi melupakan kematian putra mereka satu-satunya, Karan yang tenggelam di lautan. Tetangga baru mereka, Franny yang juga cenayang berupaya melepaskan kesedihan melalui komunikasi tulisan dengan Karan. Surjan yang tidak percaya memilih pergi dan bertemu dengan pelacur Rosy yang dapat memberi titik terang pada kasus yang dikerjakannya. 

Kolaborasi Reema Kagti dan Zoya Akhtar dalam skrip ini mengambil waktu sebanyak yang dibutuhkan untuk memperkenalkan karakternya. Perlahan penonton diajak menyelami visi dan misi masing-masing sambil merajut benang merah cerita menjadi satu konklusi utuh. Plot yang terkesan simpel lantas menjelma menjadi teka-teki rumit dengan berbagai kemungkinan di setiap tikungannya. Dialog buah pikiran Farhan Akhtar juga terbilang jitu dalam menerjemahkan multi konflik yang ada sehingga anda akan merasa dekat dengan semua tokoh dalam film ini.

Kagti yang juga menjabat sebagai sutradara sukses menjaga misteri dan ketegangan hingga akhir melalui narasi lambat penuh suspensi. Nuansa Kamathipura yang suram dan klastrofobik serta Mumbai yang gelap dan misterius dihadirkan sebagai panggung bercerita yang sempurna untuk membangun mood. Sinematografi dari KU Mohanan terkesan surealis dengan warna pucat yang mengaburkan batas mimpi dan kenyataan. Berpadu padan dengan musik campuran klasik, jazz dan elektronika dari Ram Sampath plus lirik memikat milik Javed Akhtar. 

Aamir terampil menerjemahkan kedalaman emosi suami yang didera rasa bersalah sekaligus kesigapan inspektur polisi yang penuh wibawa. Keinginannya untuk move on kerap bertentangan dengan kata hatinya sendiri. Rani cekatan menjiwai sosok istri yang depresi dan ibu yang putus asa menghadapi masalah bertubi-tubi. Kareena sendiri mampu mencuri perhatian di tiap kemunculannya melalui sosok pelacur cantik glamor berbusana seksi nan seronok. Pendatang baru Siddiqui menegaskan talentanya sebagai si pincang Tehmur yang menyimpan berbagai rahasia.

Talaash jelas membutuhkan kesabaran tinggi dan konsentrasi penuh untuk mengikutinya dari menit ke menit agar tidak ketinggalan petunjuknya. Percayalah usaha anda selama lebih dari dua jam itu sebanding dengan endingnya yang memukau. Memang tidak sulit ditebak bagi penggemar thriller sejati tapi upaya filmmaker untuk keluar dari pakem standar patut diapresiasi apalagi sampai mengalihkan perhatian penonton berkali-kali tanpa kehilangan kemudi. Thumbs up for the great performances and two thumbs more for the script itself because writing and making thrillers is never easy.

Durasi: 
139 menit 

U.S. Box Office: 

$1,638,706 in opening week early Dec 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 07 Desember 2012

ASSASSINS : Character Study Over Action Sequences About Cao Cao


Quote:
Ling Ju: Selama harapan itu masih ada, tak akan bisa membunuh kita.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Changchun Motion Picture Studio, Enlight Pictures dan Le Vision Pictures ini sudah tayang di China pada tanggal 26 September 2012 yang lalu.

Cast:
Chow Yun-Fat sebagai Cao Cao
Liu Yifei sebagai Gong Ling Ju
Hiroshi Tamaki sebagai Mu Shun
Alec Su sebagai Emperor Xian
Annie Yi sebagai Empress Fu Shou
Qiu Xinzhi sebagai Cao Pi
 


Director:
Merupakan debut penyutradaraan Zhao Linshan.

W For Words: 
Superstar Hongkong, Chow Yun-fat memang telah menua selama satu dekade terakhir. Pria bernama Mandarin “Aman” ini di usia ke-57 mendapat kepercayaan memerankan tokoh antagonis legendaris Cao Cao dalam film yang sedianya berjudul Bronze Sparrow Terrace ini. Mungkin faktor komersil dan familiar yang akhirnya melahirkan judul The Assassins. Kabar baiknya distributor Well Go USA telah membeli hak rilis untuk Amerika Utara dari Arclight Films yang juga sudah menjual film-film produksi Asia lainnya seperti Hua Mulan, The Four hingga Dangerous Liaisons.  

Periode Sam Kok, Cao Cao sang Perdana Menteri Dinasti Han melebarkan sayap ke Timur demi mengalahkan pejuang terbaik daratan China, Lv Bu. Beberapa tahun kemudian ia dinobatkan sebagai Raja Wei dan membangun Pulau Gagak Perunggu untuk menegaskan kekuatannya. Sementara itu pasangan muda Mu Shun dan Ling Ju diambil dari penjara untuk dilatih sebagai pembunuh di kuburan tersembunyi selama lima tahun. Putra Cao Cao dan para pengikutnya lantas mendesaknya untuk segera maju sebagai Kaisar baru terlepas dari berbagai pihak yang menentangnya. 

Berbeda dengan dwilogi Red Cliff (2008-2009) yang lebih menonjolkan aksi, skrip milik Wang Bin dan Wang Hailin ini memang lebih mengedepankan  kerapuhan fisik dan mental seorang tokoh sejarah.  Sayangnya romantika Mu dan Ling terkesan tempelan belaka, tidak mampu memperkuat plot utamanya. Sutradara debutan Zhao Linshan dibantu sinematografer handal Zhao Xiaoding untungnya masih terampil menyuguhkan visual ciamik termasuk saat para pembunuh meretas jalan dari tali di udara selain detail setting yang begitu indah sebagai panggung bercerita.

Yun-fat kembali dengan peran serupa dalam The Curse of the Golden Flower (2006). Karismanya terasa kuat meski dengan usaha minim sekalipun. Bayangkan jika ia benar-benar ambil bagian sebagai Cao Cao dalam Red Cliff 1 & 2. Yifei tergolong aman dalam menghidupkan Ling, dedikasinya tak jarang bertentangan dengan suara hatinya sendiri. Hiroshi berhasil memaksimalkan karakter Mu terlepas dari sedikitnya eksplorasi skenario. Alec Su sukses menjiwai Kaisar Xian yang selalu merasa tak bersalah atas apapun yang telah dilakukannya

Assassins terbukti menitikberatkan pada pembelajaran antar karakternya dibandingkan sekuens aksi yang biasanya melibatkan kekerasan dan pertumpahan darah. Kelemahannya adalah penempatan sisi emosional yang terasa miss di setiap bagian sehingga atensi penonton seakan terbagi dari satu subplot ke subplot lainnya. Ini adalah interpretasi “lain” dari Zhao yang patut diapresiasi dan masih dapat dinikmati sebagai sebuah film tapi tidak akan disambut meriah oleh kalangan moviegoers yang keburu merasa jenuh dengan tema sejenis dalam presentasi yang tak terkoneksi dengan baik.

Durasi:
107 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 06 Desember 2012

PASUKAN KAPITEN : Inspirasi Visual Untuk (Tidak) Membully


Tagline:
Jangan pakai otot. Pakai otak.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Cinema Delapan ini melangsungkan gala premierenya di Gandaria XXI pada tanggal 2 Desember 2012.

Cast: 
Cahya R Saputra sebagai Yuma
Adrina Puteri Syarira sebagai Asti
Bintang Panglima sebagai Saleh
Omara N Esteghlal sebagai Omar
Andi Bersama sebagai Kakek Sudirman
Aryadila Yarosairy sebagai Widodo

Director: 
Merupakan film kedua bagi Rudi Soedjarwo di tahun 2012 setelah Langit Ke-7 yang justru syuting belakangan.

W For Words: 
Sedianya film ini rencananya diedarkan untuk menyambut libur Lebaran bulan Agustus yang lalu. Entah kenapa akhirnya diundur ke akhir tahun bahkan nyaris tanpa publisitas yang berarti. Cermin ketidakpedean filmmakers? Melihat nama Kemal Arsjad dan Rudi Soedjarwo untuk kolaborasi kesekian kalinya tetap saja rasa penasaran saya tergelitik. Apalagi tidak banyak film konsumsi anak-anak citarasa lokal yang beredar belakangan ini. Judulnya pun cukup menggambarkan ke-Indonesia-an nya yang langsung mengingatkan saya pada lagu karya AT Mahmud yaitu Aku Seorang Kapiten.

Omar adalah anak nakal yang kerap mengganggu anak-anak lainnya termasuk Yuma. Suatu ketika, Yuma tengah mengambil layangan miliknya di rumah kosong yang ternyata dihuni oleh Kakek pensiunan tentara. Pelan-pelan Kakek mengajarkan Yuma berbagai taktik perang dengan menggunakan cabe, ember, semprotan air dsb meski menuai protes dari para orangtua. Diam-diam Kakek merindukan putranya Widodo dan cucunya Citra yang sudah menempati rumah mewah di area mereka. Berhasilkah Yuma membuat Omar jera pada akhirnya?

Tumpal Tampubolon sebenarnya hanya ingin mengangkat tema per-bully-an. Namun tanda tanya besar hinggap di dalam benak saya, berapa halaman skrip yang minim dialog tersebut? Pertanyaan yang muncul selepas menonton tersebut dikarenakan terlalu banyak ruang kosong yang dapat diisi oleh subplot yang variatif. Persahabatan Yuma dengan teman-temannya tidak mempunyai jiwa. Sama halnya dengan hubungan Kakek dengan keluarganya tidak memiliki esensi apa-apa. Dua garis besar itu lantas dihubungkan dengan titik samar-samar melalui tokoh Omar yang bertingkah laku kurang terpuji? It’s a very thin line.

Saya akui kredibilitas Rudi Soedjarwo dalam menyutradarai apalagi menggaet Yunus Pasolang sebagai tata kameranya. Itulah alasan kuat mengapa visual film ini masih bercerita lebih baik dibanding plotnya sendiri. Sinematografi cantik dengan setting lokasi terbatas, kompleks perumahan, rumah mewah, rumah tak terurus saja setidaknya cukup memanjakan mata. Sayangnya upaya Rudi untuk menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sosok anak kecil yang baru saling mengenal sudah kerap kita saksikan, masih segar dalam ingatan adalah Lima Elang (2011) yang chemistrynya jauh lebih natural. 

Penonton mungkin bisa memaklumi kekurangan akting dari Cahya, Adrina, Bintang, Omar dan lain-lain jika simpati dan interkoneksi dapat terbangun sedari awal dengan karakter-karakter yang mereka perankan. Minimnya latar belakang tak mampu dipungkiri. Anda akan bertanya-tanya mengapa Yuma, Asti, Saleh dan Omar tidak bersekolah? Apakah mereka sedang libur? Seberapa kuat pengaruh pendidikan formal dan nonformal terhadap keseharian mereka? Hanya satu tokoh yang ‘mengandung informasi’ disini yaitu Kakek yang dijiwai oleh Andi Bersama dengan cukup meyakinkan.

Pasukan Kapiten tidaklah sekreatif Lima Elang dalam menyusun strategi atau sevariatif Langit Biru (2011) dalam menyajikan pembalasan terhadap pelaku bully. Btw, apa korelasi judul dengan isi filmnya? Anyone? Menurut hemat saya, film ini adalah titik terlemah dalam karir seorang Rudi Soedjarwo terlepas dari dukungan tim produksi yang credible. Tagline “Jangan pakai otot, pakai otak” yang terpampang di poster sedianya sudah cukup menyampaikan pesan moral bagi anak-anak, tidak melulu harus melalui presentasi ending yang  over-the-top saat Omar memukuli Yuma habis-habisan. Ouch!


Durasi: 

79 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 05 Desember 2012

STOLEN : Uneffective Family Drama Unsuccessful Action Movie


Tagline:
12 Hours. $10 Million. 1 Kidnapped Daughter.

Nice-to-know: 
Baik Clive Owen maupun Jason Statham pernah dikabarkan mengisi peran utama dalam film ini.

Cast:
Nicolas Cage sebagai Will Montgomery
Josh Lucas sebagai Vincent
Danny Huston sebagai Tim Harlend
Malin Ã…kerman sebagai Riley Jeffers
Sami Gayle sebagai
Alison Loeb 

Director:
Film pertama Simon West adalah Con Air (1997) yang juga dibintangi oleh Nicolas Cage.

W For Words:
Melihat lima filmnya sepanjang tahun 2011 yaitu Season of the Witch, Drive Angry, Seeking Justice, Trespass, Ghost Rider: Spirit of Vengeance yang flop abis rasanya anda sudah tahu dimana level seorang Nicolas Cage sekarang. Pemenang Aktor Terbaik di ajang Academy Awards 1996 lewat Leaving Las Vegas (1995) ini ironisnya tak kunjung mendapat tawaran berarti sehingga memilih untuk ’kejar setoran’. Apalagi poster film yang diproduksi oleh Millennium Films, Nu Image Films dan lain-lain ini tergolong buruk dengan teknik photoshop yang amat kentara. 

Will Montgomery adalah pencuri ulung yang secara tidak sengaja melukai rekannya sendiri Vincent pada saat merampok bank. Tertangkap dan mendiami tahanan selama delapan tahun, Will akhirnya bebas dan bisa menjumpai putrinya kembali Alison. Malangnya, Vincent masih menyimpan dendam dan menganggap Will menyembunyikan hasil rampokan hingga tega menculik Alison dan menyekapnya di dalam bagasi taksi yang dikendarainya. Kini Will harus mencari cara untuk mengumpulkan sejumlah uang tebusan dengan bantuan mantan rekannya si pramusaji bar, Riley Jeffers. 

Skrip yang ditulis oleh David Guggenheim ini memang tidak terbilang baru. Cage bahkan pernah melakoni peran serupa dalam Gone in Sixty Seconds (2000) yang juga bertemakan pencurian mobil demi menyelamatkan adiknya. Anda tinggal mengganti mobil dengan emas, adiknya dengan putrinya. Voila! Belum lagi kasus penculikan yang selama ini dipopulerkan oleh Liam Neeson dalam Taken (2008) dan sekuelnya tersebut. Silakan kombinasikan elemen-elemen itu dan jadilah sebuah film anyar dengan citarasa lawas. Still okay if you have a great presentation to the audience!

Kapabilitas sutradara West untuk genre action memang tak perlu diragukan lagi. Timing tepat dan tempo cepat amat dibutuhkan demi memacu adrenalin penonton. Production value yang “menjual” disini adalah setting jalanan New Orleans selama parade Mardi Gras dimana tingkat kesulitan menata suara dan dialognya memang cukup tinggi. Selain itu adegan kebut-kebutan mobilnya lumayan menegangkan walaupun kehancuran yang disebabkan sedikit terasa berlebihan. Pergulatan dengan FBI lagi-lagi sesuai stereotype, datang terlambat, respon telat dsb.

Untungnya Cage tidak sampai overreact seperti yang ditunjukkannya belakangan ini. Setiap adegan aksi yang dilakoninya masih believable. Sayang penjiwaannya sebagai rekan, ayah dan korban belum beranjak dari kebiasaan lama yang datar saja. Lucas mampu mencuri perhatian sebagai antagonis dengan gangguan mental, semakin meyakinkan dalam rambut pirang panjang yang tak terurus. Salah satu aktris cantik favorit saya yakni Akerman seakan memperpanjang daftar buruknya setelah Catch.44 (2011). Sama halnya dengan Gayle yang tidak memberi kontribusi berarti dalam peran putri pemberontak.

Stolen memang lebih baik dari lima film Cage yang saya sebutkan pada paragraf pertama di atas. Setidaknya masih terbilang efektif mengisi waktu santai anda dengan hiburan brainless yang sesekali menghadirkan tawa baik disengaja ataupun tidak. Dua subplot yang berjalan bersisian bisa jadi diniatkan sedari awal walau secara tidak langsung mengaburkan penekanan film yang blur. Failed as a family drama but not successful either as an action movie. Still curious with Cage in similar roles? Well, you can give this a shot.

Durasi: 
96 menit

U.S. Box Office: 
$183,125 till Sep 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 04 Desember 2012

BIDADARI-BIDADARI SURGA : Dedikasi Laisa dan Dramatisasi Perjodohan


Quotes: 
Laisa: Kalian harus belajar.. Bukan untuk mama, bukan untuk kakak, tapi demi kehidupan masa akan datang yang lebih baik.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini menyelenggarakan press screening dan gala premierenya sekaligus di Hollywood XXI pada tanggal 4 Desember 2012.

Cast: 
Nirina Zubir sebagai Laisa
Nino Fernandez sebagai Dalimunte
Nadine Chandrawinata sebagai Yashinta
Henidar Amroe sebagai Mamak Lainuri
Rizky Hanggono sebagai Dharma
Chantiq Schagerl sebagai Yashinta kecil
Mike Lewis sebagai Gougsky
Eriska Raenisa sebagai Cie Hui
Adam Zidni sebagai Ikanuri
Frans Nicholas sebagai Wibisana
Astri Nurdin sebagai Andini

Director: 
Merupakan film ketiga bagi Sony Gaokasak setelah terakhir Hafalan Shalat Delisa (2011) juga muncul di bulan Desember dengan masih mengandalkan Nirina Zubir.

W For Words: 
Bagi anda yang belum mengenal siapa Tere Liye, dia adalah seorang pria bernama asli Darwis yang dikenal lewat novel best seller Hafalan Shalat Delisa yang sudah difilmkan rumah produksi Starvision dengan bintang-bintang Reza Rahadian, Nirina Zubir dan si cilik Chantiq Schagerl. Hasil menempati peringkat ketiga film terlaris tahun 2011 dengan raihan jumlah penonton lebih dari enam ratus ribu orang adalah sebuah prestasi. Tahun ini adaptasi lain dari karya penulis yang nama bekennya berarti “For You” itu muncul kembali dimana skripnya ditata oleh Dewa Raka. 

Laisa adalah gadis buruk rupa berhati emas yang tak henti mengingatkan adik-adiknya Dalimunte, Yashinta, Ikanuri, Wibisana untuk rajin belajar dan bersekolah meski berasal dari keluarga sederhana di Lembah Lahambay. Begitu dewasa Dali berhasil menjadi profesor, Yashinta menjadi peneliti, Ikanuri dan Wibisana menjadi pebisnis handal. Kekurangan yang dirasa hanya satu, kakak tercinta mereka itu belum menemui jodoh. Dali sepakat tidak “melangkahi” Laisa dan menjodohkannya dengan beberapa pemuda kenalannya termasuk Dharma yang ternyata telah beristri. Benarkah kebahagiaan sudah menjauhi Laisa?

Menerjemahkan perjalanan hidup dalam rentang waktu yang panjang dengan melibatkan begitu banyak karakter memang bukan hal mudah. Itulah yang terjadi pada film ini. Saya menghargai sekuens animasi sekitar tiga menit sebagai pembuka layaknya cerita rakyat antara umat manusia dan kaum harimau tapi nyatanya tak berkorelasi kuat terhadap plot utama. Penjabaran masa kecil kelima anak Mamak Lainuri tersebut melulu tentang arti pendidikan saja selain penggambaran keteguhan hati seorang Laisa dalam mendidik adik-adiknya sekaligus mengembangkan kebiasaan bercocok tanam.

Sayangnya sebagian besar isi film justru berfokus pada perjodohan dan pernikahan. Penolakan demi penolakan yang diterima Laisa justru lebih banyak memancing tawa dibanding prihatin. Jika boleh, saya lebih memilih untuk menempatkan Laisa sebagai sosok wanita mandiri yang berpegang teguh pada emansipasi daripada kesepian karena cinta atau menderita karena penyakit. Nirina pun sudah menyuguhkan akting lumayan apik dengan penampilan yang lain dari biasanya yaitu rambut gimbal, tubuh bungkuk, badan gempal, kulit hitam dsb yang menjadikannya tidak menarik samasekali. Namun make up artist belum cukup konsisten menerapkan proses penuaan dari masa ke masa.

Begitu banyaknya nama besar yang terlibat membuat duet berbakat Rizky dan Astri seakan melengkapi saja. Begitu pula dengan pasangan senior Piet dan Henidar yang terasa kurang power. Nadine, Zidni, Frans tidak mendapatkan porsi yang memadai untuk mengeksplorasi karakter masing-masing. Mike Lewis tak cukup meyakinkan dengan aksen Inggris-Indonesia yang terbata-bata. Pemilihan aktor-aktris cilik maupun dewasa bertampang Indo memang patut dipertanyakan. Sama halnya dengan setting rumah dan gaya hidup yang terlalu mewah untuk standar warga “kampung” biasa.

Sutradara Sony kembali pada lokasi yang sempat digunakan untuk film pertamanya dahulu. Shot cantik daerah Ciwidey dan Pengalengan yang asri kehijauan menjadi andalan panggung bercerita yang alami. Kesan frame by frame terbukti sulit dihindari karena banyaknya penanda yang hilang saat perpindahan lokasi atau sudut pandang karakter. Editing Cesa David dan Ryan Purwoko kali ini tidak banyak membantu mengingat kontinuitas yang kerap terabaikan. Sebaik apapun kualitas akting jajaran castnya jika tidak melewati proses reading, hasilnya akan terasa kurang maksimal. Beruntung departemen yang satu itu tidak sampai underachieved disini.

Adegan yang dikondisikan (bukan dirasakan) untuk menciptakan momen haru terbilang masih hit and miss padahal esensi novelnya ada di situ. Durasi bisa jadi kendala tersendiri mengingat 136 halaman termasuk materi yang padat. Bidadari-Bidadari Surga lantas menyisakan satu pertanyaan mendasar yang pantas dilayangkan pada Tere Liye. Apa hubungan judul dengan isi cerita? Mungkin Surat Al-Waqi’ah: 22, Ar Rahman: 70, Ash-Shaffat: 49 dalam Al Qur’an mampu menjawabnya. Setidaknya film ini masih bermaksud baik karena mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan sebagai pondasi tumbuhnya seseorang ke jalan yang benar.


Durasi: 

105 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 02 Desember 2012

LIFE OF PI : Remarkable New Age’s Life and Spirituality


Quote: 
Santosh Patel: You think tiger is your friend, he is an animal, not a playmate
Pi Patel: Animals have souls... I have seen it in their eyes.


Nice-to-know: 

Pada satu titik, M. Night Shyamalan sempat dikabarkan akan menulis dan menyutradarai proyek ini.

Cast: 
Suraj Sharma sebagai Pi Patel
Irrfan Khan sebagai Adult Pi Patel
Ayush Tandon sebagai Pi Patel (11 / 12 Years)
Gautam Belur sebagai Pi Patel (5 Years)
Adil Hussain sebagai Santosh Patel
Tabu sebagai Gita Patel
Rafe Spall sebagai Writer
Gérard Depardieu sebagai Cook


Director: 
Merupakan film ke-13 bagi Ang Lee setelah Taking Woodstock (2009).

W For Words:
Butuh waktu sekitar sebelas tahun bagi studio besar Hollywood untuk yakin mengadaptasi novel petualangan fantasi keluaran tahun 2001 berjudul Life of Pi karangan pria kelahiran Kanada-Perancis, Yann Martel yang berhasil memenangkan Man Booker Prize untuk edisi Inggris setahun berikutnya. Kisah seorang anak India itu juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa hingga menjadi salah satu buku paling berpengaruh selama satu dekade terakhir. Adalah Fox 2000 Pictures yang sepakat mempercayakan bujet 120 juta dollar di tangan sutradara Asia bernama Ang Lee yang juga pemegang Piala Oscar di tahun 2005 lalu.

Pi adalah seorang anak yang menganut beberapa keyakinan sekaligus sebagai pedoman hidupnya. Ketika ayahnya memutuskan menjual isi kebun binatang keluarga melalui perjalanan laut, bencana kapal karam diterjang badai merenggut orang-orang terkasih dalam hidup Pi. Sekoci yang menyelamatkannya hanya menyisakan seekor zebra, hyena, orang utan dan harimau Bengali yang buas. Lantas Pi berusaha keras untuk bertahan hidup terapung-apung di lautan sekaligus menceritakan seluruh kisah hidupnya yang luar biasa tersebut kepada salah satu penulis yang ingin menerbitkannya dalam bentuk buku.

Skrip milik David Magee membagi perjalanan hidup Pi dalam 4 fase yaitu sekolah dasar, sekolah menengah, remaja dan dewasa dimana masing-masing memberikan kontribusi terhadap tingkah laku dan cara pemikirannya. Satu masa yang mengubah hidupnya secara nyata adalah survival 227 hari bersama Richard Parker sambil tetap meyakini campur tangan Tuhan yang sesungguhnya. Semua itu tertuang dalam narasi yang terstruktur rapi. Permasalahan utamanya, sejak awal anda diminta untuk “kompromi” terhadap tokoh Pi yang mempercayai Hindu, Kristen dan Islam sekaligus. Please continue if you’re okay with it!

Belur, Tandon dan Khan memang likeable tapi standout performance jatuh pada debutan Sharma. Nyawa film yang bergantung padanya berhasil dituntaskan dengan terjemahan emosi kesedihan, kekalutan, kepasrahan, kemarahan dan keberanian yang begitu nyata tanpa harus kehilangan sisi charming nya dimana sebagian besar adegan dilakukan “seorang diri”. Tak kurang dari empat ekor harimau Bengali dipilih untuk menghidupkan Richard Parker yang buas dan jinak sekaligus. Tentunya bantuan CGI amat dibutuhkan untuk mewujudkan interaksi intens yang sangat menantang tersebut.

Sutradara Ang benar-benar memaksimalkan kamera 3D di tangannya untuk menyajikan visual indah memanjakan mata baik siang maupun malam. Bagaimana pantulan cahaya matahari terbit/terbenam di atas permukaan laut, ikan terbang berwarna perak, ikan paus yang melompat, ubur-ubur di laut biru yang bercahaya, meerkat yang bergerombol memenuhi pulau dsb bekerja secara efektif menjaga intensitas minat anda. Spesial efek badai yang mengombang-ambingkan kapal juga berhasil dengan baik sehingga ritme naik turun film terbangun dengan sempurna dalam melayarkan konflik yang ada. He’s one of the most versatile directors ever!

Konsep rantai makanan juga tergambar disini ketika tikus, zebra, orangutan, hyena dan harimau saling memangsa. Contoh seleksi alam juga terpampang melalui pulau kematian yang menyediakan air segar menyejukkan di siang hari tetapi berubah menjadi air asam mematikan di malam hari sehingga populasi meerkat yang mendiaminya tersingkir dengan sendirinya. Perubahan interaksi Pi dengan Richard yang semula mangsa dan predator sampai bisa hidup bersisian dalam simbiosis mutualisme adalah proses menarik walau sesungguhnya saya mengharapkan sedikit kedalaman yang lebih rasional lagi.


Life Of Pi memang mengajarkan kita akan segudang hal mulai dari bertahan hidup, bekerja keras, berpikir cerdas, beradaptasi cepat hingga berserah diri pada Tuhan. Perjalanan spiritual yang dialami Piscine Moralto Patel niscaya memunculkan arti hidup sebenarnya, bisa ditemukan tanpa harus dicari. Tentunya dapat direfleksikan dengan kehidupan kita sehari-hari dalam menghadapi cobaan yang datang silih berganti. Apabila ada yang harus dikorbankan sebagian besar berupa waktu dan kenangan tak ternilai yang bahkan tidak selalu menyisakan satupun kata perpisahan. Let’s sail away the journey. Shall we?

Durasi: 
127 menit 

U.S. Box Office: 

$30,573,101 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 Desember 2012

RISE OF THE GUARDIANS : Worthwile Believing In Magic For All Ages


Quote: 
North: It is our job to protect the children of the world. For as long as they believe in us, we will guard them with our lives... 

Nice-to-know: 

Film DreamWorks Animation terakhir yang didistribusikan oleh Paramount.

Cast:
Chris Pine sebagai Jack Frost
Alec Baldwin sebagai North
Jude Law sebagai Pitch
Isla Fisher sebagai Tooth
Hugh Jackman sebagai Bunny
Dakota Goyo sebagai Jamie Bennett


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Peter Ramsey yang sebelumnya menangani Monsters vs Aliens : Mutant Pumpkins from Outer Space (2009) yang langsung rilis untuk konsumsi televisi.

W For Words: 
Dari masa ke masa berbagai judul animasi selalu dikeluarkan untuk menyambut Natal dengan satu tujuan yaitu menjaga spirit dan kepercayaan kaum muda yang tumbuh bersama kisah-kisah serupa dari orangtua masing-masing. Tradisi itu kemudian diteruskan oleh DreamWorks tahun ini lewat film yang tidak berhubungan samasekali dengan Legend of the Guardians : The Owls of Ga’Hoole (2010) milik Warner Bros terlepas dari kemiripan judul, melainkan adaptasi buku karya William Joyce yang lantas digubah ke dalam bentuk skenario oleh David Lindsay-Abaire.

Jack Frost kerap kali mempertanyakan identitas dan arti hidupnya. Ia tak dapat dilihat meskipun ada di sekitar manusia. Jawaban itu mulai terungkap ketika North, Sandy, Tooth, Bunny mengajaknya bergabung dalam ikatan Guardians alias pelindung anak-anak di seluruh dunia termasuk Jamie dan kawan-kawan. Pasalnya roh jahat yang dikenal dengan sebutan Pitch tengah meluncurkan armada bayangan hitam yang bertekad mematikan semangat Paskah di muka bumi. Mampukah lima sekawan itu mempertahankan diri sekaligus membuat warga tetap percaya?

Ada lima karakter fiktif yang akan membuat anda bersorak-sorai. Pertama, Jack Frost (Chris Pine) yang berupaya mengembalikan ingatannya ketika masih menjadi anak biasa. Kedua, North (Alec Baldwin) alias Santa yang bertanggungjawab atas produksi pabrik mainan demi memenuhi permintaan anak-anak sedunia. Ketiga, Bunny (Hugh Jackman) ikon kelinci Paskah penyedia telur hias. Keempat, Tooth (Isla Fisher) peri pengumpul gigi susu anak-anak yang tanggal. Kelima, Sandman/Sandy yang bertindak sebagai pemberi mimpi dan juga penghapus ingatan anak-anak dengan memakai pasir emas ajaibnya.


Karakter manusia diwakili oleh bocah laki-laki bernama Jamie (Dakota Goyo) yang selalu mempercayai keberadaan lima “pelindung” itu meski tak pernah dilihatnya secara langsung. Tokoh antagonis Pitch (Jude Law) adalah penebar ketakutan yang ditanamkan dalam mimpi anak-anak. Kecerdasan Lindsay-Abaire dalam meramu setiap plot dan twist berdasarkan mitos yang ada menjadi nilai jual tersendiri. Penonton belia maupun dewasa sekalipun akan merasa dekat dengan masa-masa yang pernah mereka alami sehingga tradisi mempercayai keajaiban akan tetap terjaga.

Sutradara Ramsey berhasil memperluas ruang penceritaannya dengan desain art yang detail di setiap tokoh dan lokasinya, lihat saja kolam es Jack Frost, pabrik mainan North, ladang telur Bunny, penjara baby tooth dsb. Belum lagi sentuhan estetika imajinatif khas Guillermo del Toro yang kali ini hanya bertindak sebagai produser. Narasi keseluruhan tergolong dinamis sehingga momen-momen di dalamnya terkoneksi secara utuh. Format 3D ataupun IMAX memang mempertegas kedalaman gambar dan ketajaman warna tapi tidak cukup efektif pada sekuens adegan aksi yang bergerak cepat. 

Rise of the Guardians sangatlah predictable tapi diyakini masih mampu mempertahankan excitement anda dari awal sampai akhir. Selain mengandung pesan moral bahwa tak ada salahnya tetap mempercayai keajaiban demi keyakinan melangkah, jalan berbeda yang dipilih oleh Frost dan Pitch yang sama-sama pernah mengalami kepahitan semasa hidupnya bisa menghadirkan perenungan reflektif.
Definitely recommended for entire family in the end of season’s holiday. Enjoy heartfelt fun with those lively characters on a big screen!

Durasi: 
97 menit 

U.S. Box Office: 

$32,341,090 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent