XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jude law. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jude law. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

RISE OF THE GUARDIANS : Worthwile Believing In Magic For All Ages


Quote: 
North: It is our job to protect the children of the world. For as long as they believe in us, we will guard them with our lives... 

Nice-to-know: 

Film DreamWorks Animation terakhir yang didistribusikan oleh Paramount.

Cast:
Chris Pine sebagai Jack Frost
Alec Baldwin sebagai North
Jude Law sebagai Pitch
Isla Fisher sebagai Tooth
Hugh Jackman sebagai Bunny
Dakota Goyo sebagai Jamie Bennett


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Peter Ramsey yang sebelumnya menangani Monsters vs Aliens : Mutant Pumpkins from Outer Space (2009) yang langsung rilis untuk konsumsi televisi.

W For Words: 
Dari masa ke masa berbagai judul animasi selalu dikeluarkan untuk menyambut Natal dengan satu tujuan yaitu menjaga spirit dan kepercayaan kaum muda yang tumbuh bersama kisah-kisah serupa dari orangtua masing-masing. Tradisi itu kemudian diteruskan oleh DreamWorks tahun ini lewat film yang tidak berhubungan samasekali dengan Legend of the Guardians : The Owls of Ga’Hoole (2010) milik Warner Bros terlepas dari kemiripan judul, melainkan adaptasi buku karya William Joyce yang lantas digubah ke dalam bentuk skenario oleh David Lindsay-Abaire.

Jack Frost kerap kali mempertanyakan identitas dan arti hidupnya. Ia tak dapat dilihat meskipun ada di sekitar manusia. Jawaban itu mulai terungkap ketika North, Sandy, Tooth, Bunny mengajaknya bergabung dalam ikatan Guardians alias pelindung anak-anak di seluruh dunia termasuk Jamie dan kawan-kawan. Pasalnya roh jahat yang dikenal dengan sebutan Pitch tengah meluncurkan armada bayangan hitam yang bertekad mematikan semangat Paskah di muka bumi. Mampukah lima sekawan itu mempertahankan diri sekaligus membuat warga tetap percaya?

Ada lima karakter fiktif yang akan membuat anda bersorak-sorai. Pertama, Jack Frost (Chris Pine) yang berupaya mengembalikan ingatannya ketika masih menjadi anak biasa. Kedua, North (Alec Baldwin) alias Santa yang bertanggungjawab atas produksi pabrik mainan demi memenuhi permintaan anak-anak sedunia. Ketiga, Bunny (Hugh Jackman) ikon kelinci Paskah penyedia telur hias. Keempat, Tooth (Isla Fisher) peri pengumpul gigi susu anak-anak yang tanggal. Kelima, Sandman/Sandy yang bertindak sebagai pemberi mimpi dan juga penghapus ingatan anak-anak dengan memakai pasir emas ajaibnya.


Karakter manusia diwakili oleh bocah laki-laki bernama Jamie (Dakota Goyo) yang selalu mempercayai keberadaan lima “pelindung” itu meski tak pernah dilihatnya secara langsung. Tokoh antagonis Pitch (Jude Law) adalah penebar ketakutan yang ditanamkan dalam mimpi anak-anak. Kecerdasan Lindsay-Abaire dalam meramu setiap plot dan twist berdasarkan mitos yang ada menjadi nilai jual tersendiri. Penonton belia maupun dewasa sekalipun akan merasa dekat dengan masa-masa yang pernah mereka alami sehingga tradisi mempercayai keajaiban akan tetap terjaga.

Sutradara Ramsey berhasil memperluas ruang penceritaannya dengan desain art yang detail di setiap tokoh dan lokasinya, lihat saja kolam es Jack Frost, pabrik mainan North, ladang telur Bunny, penjara baby tooth dsb. Belum lagi sentuhan estetika imajinatif khas Guillermo del Toro yang kali ini hanya bertindak sebagai produser. Narasi keseluruhan tergolong dinamis sehingga momen-momen di dalamnya terkoneksi secara utuh. Format 3D ataupun IMAX memang mempertegas kedalaman gambar dan ketajaman warna tapi tidak cukup efektif pada sekuens adegan aksi yang bergerak cepat. 

Rise of the Guardians sangatlah predictable tapi diyakini masih mampu mempertahankan excitement anda dari awal sampai akhir. Selain mengandung pesan moral bahwa tak ada salahnya tetap mempercayai keajaiban demi keyakinan melangkah, jalan berbeda yang dipilih oleh Frost dan Pitch yang sama-sama pernah mengalami kepahitan semasa hidupnya bisa menghadirkan perenungan reflektif.
Definitely recommended for entire family in the end of season’s holiday. Enjoy heartfelt fun with those lively characters on a big screen!

Durasi: 
97 menit 

U.S. Box Office: 

$32,341,090 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 25 Desember 2011

SHERLOCK HOLMES : A GAME OF SHADOWS Permainan Bayangan Profesor Intelek Ambisius

Quotes:
Professor Moriaty: Are you sure you want to play this game?
Sherlock Holmes: I'm afraid you'd lose.


Storyline:
Dr. Watson berusaha melanjutkan hidupnya dengan menikahi Mary yang ditutup dengan bulan madu di Brighton. Namun Sherlock Holmes tiba-tiba muncul dan mencium gerakan terorisme Prof. Moriarty yang bertekad menciptakan perang besar dengan persenjataan yang dimilikinya. Hadir pula wanita gipsy yang mampu membaca peruntungan Madam Simza yang adiknya Ravache dicurigai terlibat dalam konspirasi. Berbagai usaha hidup mati pun harus dijalani Holmes dan Watson sebelum berklimaks pada istana Reichenbach Falls at the Peace dimana Prof. Moriarty menantang Holmes bermain catur sekaligus mengungkap misteri masing-masing.

Nice-to-know:
Sekuel ini berdasarkan cerita pendek "The Final Problem" karya Sir Arthur Conan Doyle tetapi banyak mengambil aspek dari cerita-cerita Sherlock Holmes lainnya seperti: "The Sign of Four"; "The Greek Interpretor"; "Valley of Fear"; "The Speckled Band"; "The Dying Detective"; "Bruce Partington Plans"; dan "The Second Stain".

Cast:
Sekuel keduanya berturut-turut setelah Iron Man 2 (2010), Robert Downey Jr. meneruskan peran Sherlock Holmes
2011 menjadi tahun tersibuk bagi Jude Law yang baru saja menyelesaikan Hugo sebelum kembali dengan tokoh Dr. John Watson
Noomi Rapace sebagai Madam Simza Heron
Rachel McAdams sebagai Irene Adler
Jared Harris sebagai Professor James Moriarty
Kelly Reilly sebagai Mary Watson

Director:
Merupakan film ketujuh Guy Ritchie yang juga pernah menangani Snatch di tahun 2000.

Comment:
Satu hal mencolok yang menjadi keunggulan Sherlock Holmes (2009) adalah duet Holmes dan Watson yang seringkali ditempatkan pada persimpangan yang memaksa mereka untuk mengambil pilihan yang sulit dan penuh resiko. Tentunya tidak ada yang lebih tepat selain tiga orang di balik kesuksesan adaptasi kisah klasik tersebut yaitu Robert Downey, Jr., Jude Law dan Guy Ritchie yang untungnya tetap setuju untuk memperkuat sekuelnya yang berselang waktu 2 tahun ini.
Kieran dan Michele Mulroney ditunjuk menjadi penulis skripnya dengan mempertahankan karakterisasi yang digagas oleh Sir Arthur Conan Doyle. Hubungan Holmes dan Watson “dibawa” ke tahap selanjutnya saat Watson menikahi Mary di Brighton. Disinilah terasa chemistry yang berbeda dibandingkan prekuelnya dimana unsur “bromance” tereksplorasi dengan lebih eksplisit. Kehadiran antagonis Prof. James Moriarty sebetulnya cukup menarik tapi tidak benar-benar terangkat ke permukaan untuk menjadi ancaman serius.

Downey Jr. masih mempertahankan sisi eksentriknya yang nyaris serupa dengan Jack Sparrow dalam franchise Pirates of the Caribbean tapi dalam nuansa yang lebih gelap layaknya Bruce Wayne dalam The Dark Knight. Kelugasan Holmes menyamar dalam berbagai “bentuk” menjadi highlight tersendiri yang mampu memancing tawa penonton. Law sendiri meskipun berstatus sidekick tetapi mampu menjiwai peran Watson dengan sempurna. Apresiasi patut dilayangkan untuk Rapace yang sukses mempotretkan karakter wanita gipsy Madam Simza dengan dandanan ekspresif nan meyakinkan.
Saya sempat berharap maraknya interaksi antara Holmes dan Moriarty sebagai dua kubu yang berseberangan di sepanjang film. Nyatanya hal tersebut baru terjadi di penghujung cerita dimana keduanya adu strategi bermain catur sekaligus berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan kecerdasan otak masing-masing yang di atas rata-rata itu. Menarik! Sayangnya ancaman perang antara Perancis dan Jerman yang digadang-gadang oleh tokoh pemilik gudang senjata yang diperani oleh Jared Harris itu terkesan semu dan tidak benar-benar dieksploitasi secara logika.

Sutradara Ritchie berusaha menyajikan beraneka adegan aksi yang menjadi nyawa film ini dalam tempo yang cepat. Ini dilakukan untuk menyiasati plot cerita yang memang tergolong berlarut-larut. Desingan peluru dan ledakan bom disana-sini memang lebih menjual dibandingkan prekuelnya. Memorable scenes bagi saya dan tampaknya sebagian besar dari anda pula adalah kejar-kejaran malam hari di tengah hutan yang diselesaikan dengan efek slow-motion yang amat keren. Selebihnya adalah permainan ilustrasi musik dan atmosfir yang diciptakan khusus untuk membangun suasana enerjik film.
Sherlock Holmes: A Game of Shadows memang tidak seberat yang diperkirakan walaupun ide yang lumayan sederhana itu harus diseret sedemikian rupa demi menciptakan suatu hiburan panjang. Interaksi menggigit penuh humor antara Downey, Jr. dan Law dalam adu taktik dengan musuh-musuh mereka serta penyutradaraan stylish ala British dari Ritchie lagi-lagi membawa sekuel ini berdaya jual tinggi. Kagumilah visualisasi noir dunia Eropa yang cantik sambil menyelami pikiran seorang Sherlock Holmes yang bisa menipu anda mentah-mentah bahkan sebelum anda sempat melangkah maju.

Durasi:
129 menit

U.S. Box Office:
$39,637,079 in opening week of mid Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 17 November 2011

CONTAGION : Penyebaran Epidemi Misterius Mematikan

Quotes:
Dr. Ian Sussman: Blogging is not writing. It's just graffiti with punctuation.


Storyline:
Sekembalinya dari perjalanan dinas Hongkong, Beth Emhoff tewas karena flu ataupun infeksi tertentu yang belum teridentifikasi. Putranya pun menyusulnya di kemudian hari. Sang suami, Mitch justru terkesan kebal terhadap virus. U.S. Center for Disease Control tidak tinggal diam dengan mengutus sejumlah dokter dan ilmuwan professional untuk menyelidiki epidemi mematikan tersebut. Proses identifikasi dan tindakan pencegahan memang tidak mudah dilakukan terlebih korban-korban semakin banyak berjatuhan.

Nice-to-know:
Reuni Gwyneth Paltrow, Matt Damon dan Jude Law setelah The Talented Mr. Ripley (1999). meskipun Law tidak bertemu dalam scene yang sama dengan Paltrow dan Damon.

Cast:
Terakhir tidak terlalu sukses mendukung The Adjustment Bureau, Matt Damon bermain sebagai Mitch Emhoff
Memulai debut aktingnya lewat Cornbread, Earl and Me (1975), Laurence Fishburne berperan sebagai Dr. Ellis Cheever
Jude Law sebagai Alan Krumwiede
Marion Cotillard sebagai Dr. Leonora Orantes
Kate Winslet sebagai Dr. Erin Mears
Gwyneth Paltrow sebagai Beth Emhoff

Director:
Film pertama Steven Soderbergh yang dirilis dalam format IMAX.

Comment:
Salah satu film mengenai penyebaran epidemi yang paling saya ingat adalah Outbreak (1995). Tidak sekadar menyuguhkan horor thriller belaka tetapi juga menganut paham sains fiksi yang dominan sehingga pemaparannya tergolong cerdas dan amat menarik untuk diikuti. Bagaimana dengan film hasil pemikiran Scott Z. Burns yang satu ini dimana jaman sudah semakin maju dan penyampaian informasi pun semakin cepat?
Plot ceritanya dibangun dengan kompleksitas tinggi melibatkan berbagai sudut pandang terutama dalam bidang kedokteran. Bagaimana pendekatan dilakukan lewat strukturisasi hari per hari, virus yang menjadi “bintang utama” ini begitu cepat bermutasi hingga menjalar ke seluruh dunia. Banyaknya korban berjatuhan memicu kekisruhan disana-sini karena manusia mulai berpikir tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi mereka.

Sedianya mengembangkan ide menarik menjadi provokatif dengan gambaran-gambaran mengerikan efek virus mematikan itu, film malah berputar-putar di sekitar motif dan aksi-reaksi para karakternya. Sebagian tersaji dalam elemen satir melalui penuturan realita sistem kesehatan yang berlaku umum di belahan bumi manapun sekaligus menyentil perilaku setiap insan di dalamnya secara random, baik doktor, ilmuwan maupun warga sipil.
Sutradara Soderbergh benar-benar memaksimalkan aspek sinematografinya disini apalagi didukung oleh scoring music bernuansakan lawas tahun 80an yang dikerjakan oleh Cliff Martinez. Hari 1-30 yang menyorot berbagai lokasi dari Hongkong hingga Amerika dihadirkan dengan skema warna yang berbeda-beda disertai production value yang tinggi, seakan penonton menikmati suguhan kanvas alami yang menakjubkan. Saya tidak berani membayangkan format IMAX nya akan sebagus apa.

Tokoh-tokoh yang terlibat disini dibagi menjadi dua kubu, pertama ada keluarga Emhoff, kedua Dr. Ellis Cheever dan team ilmuwan internasionalnya. Masing-masing memperlihatkan aspek drama yang kuat dengan tempo yang terjaga. Fishburne dan Law yang kerapkali berseteru dengan sudut pandang masing-masing menjadi konflik yang cukup memikat selain menyaksikan Damon yang tidak berdaya, Paltrow meninggal ataupun Winslet yang terlihat menua dalam kekaleman yang tidak seperti biasanya.
Antusiasme yang semula muncul melihat cast bertabur bintang dan sutradara jempolan menjadi hilang begitu saja. Contagion hampir tak menyisakan gigi karena sisi thriller tidak cukup kuat menggedor jantung ataupun segi satir tidak cukup konsisten menyedot paranoia. Sangat slow dan boring layaknya bahan perkuliahan kedokteran dengan bahasan berputar-putar. Saya sudah sangat berupaya menyukai film ini mengingat rating bagus dan trailer menjanjikan tetapi berakhir tergesa-gesa meninggalkan bioskop sambil bersikap parno menghindari “persinggungan” dengan orang-orang di sekitar.

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$74,467,640 till Nov 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 02 Januari 2010

SHERLOCK HOLMES : Duet Kompak Detektif dan Dokter Menelusuri Misteri

Quotes:
Sherlock Holmes-You've never complained about my methods before. Dr. John Watson-I've never complained! When have I ever complained about you practicing the violin at three in the morning, or your mess? Your general lack of hygiene or the fact that you steal my clothes?

Storyline:
Setelah akhirnya menangkap pembunuh berantai gadis-gadis muda dan "penyihir" Lord Blackwood yang akhirnya dihukum gantung, detektif legendaris Sherlock Holmes dan tandemnya Dr. John Watson dengan mudahnya memecahkan berbagai kasus. Namun "kebangkitan" Lord Blackwood dari liang kubur dan bertekad membunuh tiga korban lagi, Holmes harus bekerja lebih keras lagi dalam perburuan tersebut. Dalam perjalanannya, berurusan dengan tunangan baru Watson, kepala Scotland Yard Inspektur Lestrade dan juga godaan wanita misterius Irene Adler. Pada akhirnya tuntutannya hanyalah satu, Holmes harus lebih pintar dalam menghadapi kasus yang penuh tipuan dan ilmu hitam


Nice-to-know:
Beberapa lokasi di Inggris Raya disetting menjadi kota tua seperti Brompton Cemetery, Bunsen Street, Chatham Docks, Finsbury, Freemason's Hall, Little Lever Street, Manchester Town Hall, Mangle Street, Newton Street dan St. Paul's Cathedral serta sedikit scene di New York City.


Cast:

Aktor senior yang pertama kali dinominasikan Aktor Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat Chaplin (1992), Robert Downey Jr. kini kebagian karakter legendaris Sherlock Holmes yang pintar dan eksentrik.

Aktor papan atas kelahiran Inggris yang dinominasikan Aktor Pendukung Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat The Talented Mr. Ripley (1999), Jude Law berperan sebagai Dr. John Watson, asisten Holmes yang sangat ilmiah.

Peran antagonis Lord Blackwood dan wanita misterius Irene Adler dipegang oleh Mark Strong dan Rachel McAdams.


Director:
Sutradara eksentrik kelahiran Inggris 41 tahun lalu, Guy Ritchie mulai angkat nama di perfilman dunia setelah film keduanya yaitu Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) mencapai status cult.

Comment:
Remake yang bisa dibilang sesuai dengan kondisi masa kini. Acungan jempol untuk sutradara Ritchie yang berhasil melakukan delivery dengan sangat baik serta tensi yang terjaga sepanjang film sehingga dua jam tidak terlalu dirasakan oleh penonton. Lihat bagaimana ia bermain dengan fast track dan slow motion yang sangat menarik terutama untuk berbagai adegan aksi yang porsinya pas tanpa mengganggu keseimbangan tema. Plot cerita disesuaikan dengan literatur yang terfokus pada Holmes dan Watson dalam memecahkan misteri demi misteri. Penjiwaan Downey Jr. terhadap Holmes yang kecanduan alkohol, gemar berlatih beladiri, hobi menyamar dan seringkali mengejek orang-orang di sekitarnya nyaris sempurna. Chemistrynya bersama Watson terasa pas yang juga dimainkan dengan berkarisma tinggi oleh Law. Strong menampilkan karakter Lord Blackwood dengan misterius, picik dan menyeramkan. Belum lagi McAdams yang memberi nuansa cantik berbahaya, sulit ditebak untuk karakter Irene Adler. Semua itu menjadikan jajaran cast yang sangat menjanjikan. Tim produksi juga sukses memvisualisasikan kota tua London dengan indah dan sesuai mood pada masanya. Versi Sherlock Holmes terbaru ini bisa dikatakan yang terbaik dari karya-karya Sir Arthur Conan Doyle manapun dari berbagai aspek yang ditawarkannya.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$62,390,000 in end of Dec 2009 (opening week)

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 29 November 2008

MY BLUEBERRY NIGHTS : Setiap Peristiwa Adalah Babak Kehidupan

Quotes:
Elizabeth-So what's wrong with the Blueberry Pie?Jeremy-There's nothing wrong with the Blueberry Pie, just people make other choices. You can't blame the Blueberry Pie, it's just... no one wants it.
---
Elizabeth[wiping her tears]-How do you say goodbye to someone you can't imagine living without? I didn't say goodbye.. I didn't say anything.. I just walked away..

Cerita:
Putus cinta menyebabkan Elizabeth patah hati. Demi mengobati rasa kehilangan, dia seringkali mampir di cafe milik Jeremy pada di tengah malam. Sambil menikmati sepotong pai blueberry, mereka berbincang-bincang sampai Lizzy tertidur di meja cafe. Tiba di suatu titik dimana Lizzy merasa harus meninggalkan New York untuk memulai hidup baru di Memphis dengan bekerja di resto pada pagi hari dan di bar pada malam hari. Disana, ia bertemu polisi yang acapkali minum sampai mabuk akibat patah hati ditinggal istrinya Sue Lynne. Kemudian, Lizzy berangkat ke Nevada, bekerja di kasino dan bertemu Leslie, seorang penjudi wanita yang mengaku pandai membaca raut wajah. Walau jauh, Lizzy selalu menyempatkan diri menulis surat untuk Jeremy. Hari-hari berlalu. Bagaimana semua peristiwa itu bisa mengubah hidup Lizzy sekaligus mengetahui apa yang sebetulnya diinginkannya?

Gambar:
Khas sutradara kenamaan Hongkong ini kembali muncul dimana selalu memperlihatkan kereta melintas di malam hari dengan bayangan gedung-gedung tinggi. Beberapa adegan lambat yang seperti difast-forward sama sekali tidak mengganggu mata. Suasana malam Memphis dan New York serta Nevada siang hari mampu ditangkap dengan pas.

Act:
Dalam debut film pertamanya ini, Norah Jones bermain cemerlang sebagai Elizabeth, wanita muda yang naif dan selalu berpikir baik tentang semua hal sampai akhirnya menemukan arti hidupnya.
Jude Law yang muncul di awal dan akhir film seperti biasa bermain mengesankan dengan aksen Britishnya sebagai Jeremy, pemilik cafe yang selalu menonton security video nya sendiri di malam hari.
Kehadiran Rachel Weisz, Natalie Portman dan David Strathairn sebagai peran pendukung juga tampil memikat sesuai karakternya masing-masing.

Sutradara:
Wong Kar Wai yang biasa bermain dengan slow pace movie dengan banyak tokoh kali ini masih mempertahankan gaya yang sama untuk debut penyutradaraan internasional pertamanya. Hanya saja, menurut saya My Blueberry Nights ini lebih menyenangkan untuk diikuti dibanding beberapa film Mandarin yang pernah ditanganinya.

Komentar:
Film yang sempat membuka Festival Film Cannes 2007 ini dihiasi score dan ilustrasi musik yang menarik dengan alunan suara jazzy Norah Jones yang asyik. Beberapa adegan lambat di film ini seakan mengajak penonton meresapi setiap maknanya bahwa perjalanan hidup itu penuh dengan berbagai peristiwa yang mungkin mengubah pola pikir kita. Worth to watch for such art drama!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$886,778

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 26 Januari 2007

BREAKING AND ENTERING : Memasuki Sistem Mencari Kelemahan

Quotes:
Will Francis-Hi. I'm sorry.
Liv-You smell of perfume.
Will Francis-Well, I don't know how I do.
Liv-Nor do I.
Will Francis-I love you.
Liv-Is that an answer?
Will Francis-It's the truth. I feel as if I'm tapping on a window. You're somewhere behind the glass but you can't hear me. Even when you're angry, like now, it's like someone a long long way away is angry with me.

Cerita:
Arsitek lingkungan sukses berkebangsaan Inggris, Will tinggal bersama teman wanitanya yang berkebangsaan Swedia, Liv dimana hubungan mereka sudah mulai dingin dikarenakan anak Liv, Bea yang autis menyita energi keduanya. Kebutuhan Will akan cinta ditutupi dengan kesibukan project Green Effect bersama Sandy di lingkungan King's Cross yang berbahaya. Semua mulai kacau saat Miro memecahkan kode alarm pada malam hari dan mencuri sebagian perangkat komputer untuk dijual kembali. Di luar dugaan Miro, Will mengikutinya sampai ke flatnya dan bertemu ibunya Amira yang seorang penjahit. Apa yang selanjutnya dilakukan Will?

Gambar:
Selayaknya film Inggris, sebagian besar bersyuting di London yang kental dengan bangunan tua yang rapi tapi berkesan klasik kontemporer.

Act:
Mengawali debut layar lebar di tahun 1994 dalam 2 film yaitu The Crane dan Shopping, Jude Law merupakan contoh aktor Inggris yang sukses di Hollywood. Kali ini bermain sebagai arsitek kesepian, Will yang berusaha menyibukkan diri dengan proyeknya.
Istri Sean Penn, Robin Wright Penn berperan sebagai Liv, seorang ibu yang berdedikasi terhadap putri remajanya yang autis dan membutuhkan perhatian.
Peraih gelar Aktris Pendukung Terbaik Oscar 1997 dalam The English Patient, Juliette Binoche disini kebagian tokoh berkebangsaan Timur Tengah, Amira yang berjuang hidup bersama putra remajanya di sebuah flat sederhana.
Didukung pula oleh Martin Freeman sebagai Sandy dan Rafi Gavron sebagai Miro.

Sutradara:
Berjaya dalam ajang Oscar 2007 sebagai Sutradara Terbaik, Anthony Minghella kembali dalam drama Inggris yang kental dengan tema kehidupan.

Komentar:
Pertama yang menjadi rekomendasi adalah jajaran cast yang bermain sangat baik di film ini dan saling mendukung. Kedua adalah isu yang diangkat dimana terstruktur dengan baik dan sulit ditebak arahnya. Dua hal tersebut rasanya cukup memperkuat alasan anda menonton film ini. Terlepas dari endingnya yang terlalu rapi, Breaking And Entering berhasil meningkatkan intensitas minat menonton anda mulai dari awal sampai akhir dengan jalinan konflik cerdasnya. Buktikan sendiri!

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$928,960 till Apr 2007

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!