XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rizal mantovani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rizal mantovani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

5 CM : Nasionalisme Persahabatan Di Puncak Semeru


Quote: 
Zafran: Jadikan mimpi kita menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kita, biar dia nggak pernah lepas dari mata kita

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films ini mengadakan gala premierenya di Plaza Senayan XXI pada tanggal 8 Desember 2012.

Cast: 
Herjunot Ali sebagai Zafran
Fedi Nuril sebagai Genta
Pevita Pearce sebagai Dinda
Igor 'Saykoji' sebagai Ian
Denny Sumargo sebagai Arial
Raline Shah sebagai Riani
Didi Petet

Director: 
Merupakan film ke-15 bagi Rizal Mantovani yang terakhir muncul lewat Jenglot Pantai Selatan (2011).

W For Words: 
Donny Dhirgantoro pantas berbangga hati. Novel debutnya bertajuk 5 cm yang ditulis selepas meninggalkan bangku kuliah di tahun 2001 pada akhirnya mampu menjadi best seller di tahun 2005. Tahun 2012 yang memulai tren pengembangan buku menjadi format skenario di industri perfilman Indonesia pun memberi jalan bagi Donny untuk mengerjakannya bersama Sunil Soraya dan Hilman Mutasi. Penasaran bagaimana konversi novel berisi 381 halaman menjadi film berdurasi 126 menit? Tak ada salahnya anda menyambangi bioskop untuk menyaksikan persembahan terbaru Soraya Intercine Films ini.

Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sejak kecil. Suatu ketika, Genta merasa jenuh dan mengutarakan niatnya untuk memutus tali silaturahmi sementara selama 3 bulan. Riani yang tak setuju akhirnya sepakat dengan yang lainnya dimana mereka ingin fokus pada mimpi masing-masing. Pertemuan kembali itu dirayakan dengan perjalanan mencapai puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus yaitu mendaki gunung Mahameru yang penuh tantangan. Berhasilkah mereka menemukan jawaban dari pertanyaan diri yang selama ini menghinggap?

Awalnya saya sempat pesimis melihat nama Rizal Mantovani di bangku sutradara karena beberapa film terakhirnya yang di bawah rata-rata. Namun hal itu dituntaskan dengan kinerja yang begitu detail menangkap setiap panorama alam tanpa kehilangan esensi cerita itu sendiri. Sulitnya medan membuat kerja semua departemen yang terlibat menjadi berat sehingga apa yang bisa tersaji di hadapan kita pantas diapresiasi tinggi. Jadwal yang molor dan bujet yang membengkak dari semula pun menjadi sisa cerita yang mampu ditutupi oleh kualitas akhir yang cukup memuaskan seluruh pihak.

Detil perjalanan selama empat hari yang dimulai dari kota Malang dilanjutkan dengan desa Tumpang tergambar jelas. Ranupani yang terletak di kaki Semeru menyediakan warung dan pondok penginapan selain daya tarik dua danau Ranu Pani dan Ranu Regulo yang indah itu. Lembah dan bukit yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus di Watu Rejeng dilanjutkan dengan Ranu Kumbolo dan Kalimati yang jadi persinggahan terakhir para pendaki sebelum melewati Arcopodo yang penuh tantangan karena abu vulkanik dan tanah yang berpotensi longsor untuk benar-benar sampai di puncak Semeru.

Dengan enam tokoh utama memang agak membatasi eksplorasi karakteristiknya. Namun Fedi, Junot, Raline, Pevita, Denny dan Igor mampu membagi chemistry yang kuat satu sama lain. Pertukaran dialog lugas dan jujur di antara mereka menjadi salah satu kekuatan film yang sulit dipungkiri. Saya merasakan akting Fedi masih sedikit datar, Pevita yang masih tipikal peran-peran sebelumnya, Junot pun demikian meski ia berhasil memperbaikinya mulai pertengahan film. Raline, Denny dan Igor yang lebih minim jam terbang justru paling mencuri perhatian di setiap kemunculannya. 

Misi nasionalisme dalam sebuah film sesungguhnya memiliki beban berat karena jika tanggung maka akan dengan mudah mengundang cibiran penonton. 5 cm cenderung aman melakukannya walau orasi masing-masing karakternya terasa sedikit berlebihan. Beberapa pihak mungkin mengaitkannya dengan mata pelajaran PPKN alias Pendidikan Pancasila dan Kewarnanegaraan. Bagi saya sah-sah saja, manusia memang makhluk serba tau tapi jelas butuh diingatkan. Konflik cinta yang biasa jadi jualan utama kali ini muncul dalam porsi minor layaknya bumbu penyedap yang tidak sampai mengaburkan rasa.

Di atas semuanya, mohon camkan baik-baik bahwa visi terbesar 5 cm adalah mengajarkan kita untuk mengejar mimpi. Bukankah semua berawal dari situ? Keyakinan untuk menggapai harus dilandasi tekad yang kuat dan usaha yang maksimal. Analogi kaki, tangan, mata, leher, mulut dan hati sebagai modal pendukung dari Tuhan kepada setiap manusia itu tergolong luar biasa. Sebuah penegasan bahwa jatuh bangun itu hal yang biasa asalkan kamu tidak berhenti. Tentunya dukungan keluarga dan sahabat juga dibutuhkan sebagai dorongan semangat. Awesome cinematography has capped this as one of the best Indonesian movies ever made!

Durasi: 
126 menit

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Caricature Courtesy:
http://PabrikHidupDana.blogspot.com

Jumat, 27 Mei 2011

PUPUS : Dilematis Pengharapan Cinta Gadis Lugu

Quotes:
Cindy: Masalahnya aku cewek.. Aku butuh kejelasan..

Storyline:
Beranjak dari daerah ke Jakarta untuk menempuh ilmu, Cindy dikerjai para seniornya pada masa orientasi siswa hingga membawanya berkenalan dengan seniornya Panji yang memiliki tanggal ulang tahun persis dengannya. Cindy pun jatuh cinta pada pandangan pertama meski masih bertanya-tanya apakah Panji memiliki perasaan yang sama. Hari-hari berlalu, Hugo yang juga populer di kampus mulai mendekati Cindy yang semakin bingung dengan sikap Panji yang tidak jelas. Kini pilihan ada di tangan Cindy apakah ia akan bertahan mencintai Panji dengan segala kemisteriusannya itu sebelum harapannya benar-benar pupus.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diadakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 25 Mei 2011 yang lalu.

Cast:
Donita sebagai Cindy
Marcel Chandrawinata sebagai Panji
Arthur Brotolaras sebagai Hugo
Ichsan Akbar sebagai Eros
Kaditha Ayu
Vicky Monica

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Rizal Mantovani yang diawali oleh proyek keroyokan Kuldesak di tahun 1999.

Comment:
Rizal Mantovani merupakan satu dari sedikit sutradara lokal yang sukses bermain nyaris di semua genre mulai dari horror, drama, thriller hingga action. Favorit setiap orang tentunya berbeda-beda dan andalah sebagai penonton yang menilai. Bagaimana dengan drama yang terkesan picisan yang satu ini? Yang trailernya sudah wara-wiri dan sukses mencuri perhatian di bioskop-bioskop tanah air selama beberapa bulan terakhir?
Kisahnya sendiri nyaris merupakan pengulangan drama percintaan pada umumnya. Tarik ulur cinta dan maju mundurnya perasaan menjadi suguhan utama. Hanya saja sudut pandangnya dominan dari sisi perempuan sehingga unsur feminisnya lebih dominan kali ini. Sedikit twist coba dihadirkan di bagian akhir oleh penulis Alim Sudio untuk sedikit mengecoh penonton. Nice try! Meski sejak pertengahan saya sudah mulai dapat menerka endingnya.
Penunjukan Donita sebagai pemeran utama terbilang tepat. Wajah galau dan isak tangis sendunya sudah teruji dalam berbagai FTV dan kembali diperlihatkan sebagai Cindy disini. Sayangnya scene terbaiknya yang dilakukan di dapur tidak menjadi kejutan lagi karena sudah dipampang di trailer begitu saja. Sedangkan Marcel dituntut memberikan karakter lembut sekaligus misterius sebagai Panji. Namun perubahan sikap yang seharusnya lebih “tegas” di akhir cerita menjadi datar saja tanpa disertai alasan yang kuat. Meski demikian chemistry keduanya cukup menarik apalagi keduanya sangat camera-face.
Saya ingin menyorot perihal teknis gambar yang disuguhkan terkesan “terang-benderang” dan menyilaukan mata. Entah disengaja demi menimbulkan efek dramatisasi yang kental tapi nyatanya tidak berpengaruh apapun. Kekurangan yang satu ini tertolong oleh ilustrasi musik yang memang sudah terkenal tetapi diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali. Terbukti lantunan suara Ahmad Dhani, Mahadewi maupun Donita sendiri cukup member jiwa pada film.
Pupus bisa saja menjadi sebuah karya yang jauh lebih baik lagi andai dikonsep dengan lebih matang dengan memperhatikan satu dua hal secara lebih detail lagi. Kerunutan dalam bercerita yang mengambil rentang waktu lima tahun dan intensitas klimaks emosi yang kurang konsisten memang sedikit mengganggu. Dan pada akhirnya tidak lebih dari sebuah drama percintaan yang sengaja dikonsep untuk mengharu-biru penonton wanita pada khususnya. Bukankah cinta memang butuh pengorbanan dan cucuran air mata agar benar-benar dapat dirasakan?

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 17 Februari 2011

JENGLOT PANTAI SELATAN : Teror Muda-Mudi Luar Logika

Storyline:
Empat sekawan, Randy, Temmi, Denisa dan Josh sepakat menghabiskan liburan di Pantai Perawan yang baru dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata. Dan mereka tidak sendiri karena banyak muda-mudi lainnya yang juga bersenang-senang disana. Namun perlahan-lahan sukacita tersebut berubah menjadi ketakutan saat makhluk aneh setempat yang disebut jenglot mulai menyerang mereka satu persatu secara ganas. Benarkah pantai selatan harus tetap bersih tanpa campur tangan manusia? Lantas akankah ada yang selamat dari teror tersebut?

Nice to know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan press conferencenya dilakukan di fX Platinum XXI tanggal 16 Februari 2011.

Cast:
Temmy Rahadi sebagai Randy
Debby Ayu sebagai Tammy
Wichita Satari sebagai Denisa
Framli Nainggolan sebagai Josh
Febriyanie Ferdzilla
Zidni Adam

Director:
Rizal Mantovani mengawali karirnya sebagai sutradara video musik di tahun 1992.

Comment:
Entah mengapa saya menemukan nuansa remake Piranha karya Alexandre Aja dalam film ini. Mulai dari setting hingga teror yang menyergap para karakternya satu persatu. Apakah disengaja oleh penulis Alim Sudio atau sutradara Rizal Mantovani? Sulit dikatakan. Yang pasti anda harus menurunkan IQ terlebih dahulu sebelum memutuskan menonton film ini.
Plot ceritanya sungguh dangkal. Tidak jelas berapa jumlah jenglot yang mampu menyerang kawanan manusia sampai mati tersebut. Senjatanya hanyalah gigi yang mengoyak anggota tubuh dan ekor panjang yang membelit leher. Dan jika mau menggunakan akal sehat, rasanya manusia masih mampu melawan atau setidaknya menghindar dari makhluk yang hanya berukuran sepersekiannya itu.
Rizal seperti biasa menyajikan gambar-gambar yang enak dipandang tetapi tidak enak diterima logika. Seberapa kerasnya ia berusaha meyakinkan penonton dengan membuat segalanya tampak wajar malah semakin menggelikan seiring menit demi menit berjalan. Penampakan jenglot itu sendiri sebetulnya cukup kreatif. Namun di beberapa scene sangat terlihat efek pembesaran/pengecilan kamera untuk menyiasati ukurannya. Hm, nice try!
Para cast yang mengisi film ini juga tidak memberikan kontribusi apa-apa. Temmy, Debby, Wichita, Framlie, Febri, Zidni hanya bertukar dialog-dialog puitis murahan. Terkadang saya tak kuasa menahan senyum terpaksa saat dijejali kata demi kata yang sungguh absurd yang bertujuan memperpanjang durasinya saja. Belum lagi kemunculan aktor-aktris Indo (baca: bule) sekelebat hanya untuk menjadi korban. Penting?
Kesimpulannya, Jenglot Pantai Selatan pun sukses saya tahbiskan sebagai film terburuk tahun 2011 sejauh ini terutama dikarenakan penipuan intelejensi. Bukan kesuksesan yang positif tetapi negatif dimana saya harus menahan diri untuk tidak meninggalkan bangku bioskop demi menulis review ini. Andai saya kebelet pipis pada saat itu, maka dipastikan saya tidak akan bertahan. Percayalah bagi anda para penonton regular film lokal, selepas 5 menit pertama diperkirakan sudah dapat menerka keseluruhan isi film yang ingin disampaikan.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 18 Januari 2011

CEWEK GOKIL : Gadis Muda Dengan Segudang Impian

Quotes:
Eyang: Semua orang kalau nyetir harus ke satu tempat. Tapi belum tentu sampai ke satu tujuan.

Storyline:
Gadis muda bernama Keke ini memiliki segudang impian, mulai dari ibu yang pengertian, kakak yang penyayang, pacar yang baik hati hingga mobil Mini Cooper idamannya. Apakah ini disebabkan oleh kepalanya terbentur saat baru dilahirkan? Entahlah. Yang pasti Keke terus gigih mengejar semuanya hingga menjalani berbagai profesi semisal guru les, agen MLM, SPG, penyanyi hingga aktris! Hal tersebut membawanya bertemu Dino, cowok keren yang kemudian menaruh hati padanya. Tabungan Keke mulai terkumpul tapi akankah semua kebahagiaan itu sendiri bisa dibeli dengan uang?

Nice to know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 17 Januari 2011.

Cast:
Velove Vexia sebagai Keke
Syailendra Soepomo sebagai Dino
Enditha Bonacelli sebagai Fitri

Director:
Merupakan karya ke-12 bagi Rizal Mantovani yang diawali dengan Kuldesak (1999).

Comment:
Penampakan film ini sejak awal terasa kurang meyakinkan mulai dari sinematografi yang old-fashioned, gaya bercerita yang tidak lazim dan lain-lain. Namun jangan cepat-cepat menyimpulkan. Kapabilitas dan tingginya jam terbang seorang Rizal Mantovani tidak boleh diremehkan begitu saja. Terbukti bujet rendah yang dipercayakan padanya tetap dapat diolah menjadi sebuah tontonan drama komedi remaja yang menarik.
Munculnya nama Velove yang memulai debut peran utama layar lebar ini juga tergolong surprise. Nyatanya ia mampu menghidupkan peran Keke dengan sangat natural. Gadis muda yang tidak dewasa dan cenderung egois ini justru tidak membuat penonton antipati padanya melainkan tertawa dan antusias melihatnya mengejar mimpi-mimpi. Berbagai ekspresi juga ditampilkan Velove secara maksimal, salah satunya yang paling memorable adalah pada saat menjalani proses casting. Syailendra juga berhasil mengimbangi Velove dengan kekaleman dan kedewasaannya sebagai Dino yang cool. Chemistry keduanya juga terasa normal dan tidak dipaksakan. Berbagai peran pendukung lain juga terampil menjalankan fungsinya masing-masing walau dengan porsi yang sedikit.
Skenario yang ditulis oleh Ve Handojo ini runut dalam bercerita dengan menggunakan alur yang terus maju secara cepat. Nyaris tidak ada celah yang tidak penting untuk dilewatkan. Seakan semua elemen penceritaan memiliki makna sendiri yang mendukung plot cerita secara dinamis. Apalagi didukung lagu-lagu hit yang sudah sangat familiar sebagai latar belakangnya. Menarik!
Tak bisa dipungkiri, mungkin akan cukup sulit menjual Cewek Gokil di pasaran. Namun percayalah film ini fun untuk ditonton dan sebanding untuk menggantikan waktu anda yang berharga. Berbagai adegan slapstick dengan sound effect yang catchy dijamin akan mengembangkan tawa anda tanpa terkesan norak samasekali. Tanpa lupa beberapa pesan moral juga diselipkan secara ringan saja. Kekurangannya ya seperti yang sudah disebutkan di atas yaitu kemasannya yang terasa kurang “menjual” seakan produser tidak cukup percaya diri pada film ini untuk bisa mencatat hasil yang memuaskan.

Durasi:
80 menit

Movie-meter:

Jumat, 30 April 2010

TARING : Giliran Dedemit Menciptakan Teror

Storyline:
Bos agensi model Heaven's Secret, Alex menyewa fotografer terbaiknya, Damian beserta asistennya, Inggrid untuk menangani proyek bertemakan Wild Fantasy. Maka dipilihlah Farah, Wiwid dan Gabriella untuk bersama-sama menuju alam liar yang disebut Hutan Werenggini di pedalaman. Tidak mengindahkan larangan penduduk setempat, mereka tetap menuju lokasi pemotretan dengan memakai lingerie seksi. Selesai sesi foto tersebut, Dallas menemukan keanehan pada hasilnya. Sayang semua mungkin saja terlambat karena dedemit penunggu hutan mulai mengincar mereka satu-persatu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan diproduseri oleh Gope T. Samtani dan Subagio S.

Cast:
Terakhir muncul sebagai preman wanita dalam Perjaka Terakhir (2009), Fahrani Empel yang hobi mengoleksi tatoo ini berperan sebagai Farah, mantan kekasih Dallas yang juga harus mencari uang demi mengurus ibunya yang sakit keras di rumah sakit.
Baru saja bermain dalam Serigala Terakhir (2009), Dallas Pratama kali ini bermain sebagai Damian.
Memulai debut layar lebar pertamanya, penyanyi Rebecca sebagai Gabriella.
Shinta Bachir sebagai Wiwid.
Meidian Maladi sebagai Alex.
Reynavenska sebagai Inggrid.

Director:
Baru saja menggarap Air Terjun Pengantin (2009) sekitar enam bulan lalu itu, Rizal Mantovani bekerjasama dengan penulis cerita Alim Sudio untuk mengembangkan skenario film ini.

Comment:
Plot ceritanya sangat sederhana dan terkesan tidak mau banyak berpikir. Tidak banyak berbeda dengan apa yang tersaji dalam Air Terjun Pengantin, film ini hanya mengubah tokoh "antagonis" dari psikopat menjadi makhluk halus tradisional Indonesia. Selain itu faktor gadis-gadis seksi yang berpakaian minim dan terjebak di lokasi terpencil masih dipertahankan oleh Rizal. Satu-satunya hal baru yang ditampilkannya adalah sosok dedemit yang memburu dengan cara berjalan mundur ataupun kayang. Menarik atau aneh? Entahlah. Ilustrasi musik dan penampakan hantu sedikit banyak mengingatkan kita pada trilogi Kuntilanak yang laris itu, hanya saja tanpa nyanyian pemanggilan. Dari segi cast, Fahrani seperti biasa bermain dengan karakter yang kuat, itupun mungkin karena skrip mempercayakan porsi yang lebih padanya. Sedangkan yang lain tidak terlalu terekspos secara maksimal termasuk Dallas dan Rebecca yang sebenarnya cukup mencuri perhatian. Jika anda perhatikan, suasana malam terasa sangat panjang dalam film, kontras dengan siang yang terasa sekejap saja. Tujuannya jelas menakuti-nakuti penonton yang mungkin di beberapa sekuens cukup berhasil. Kesimpulannya Taring bukan film yang akan diingat terus oleh audiens apalagi endingnya yang dipaksakan gantung seperti biasa walaupun kurang relevan. Cape rasanya!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 05 Desember 2009

AIR TERJUN PENGANTIN : Psikopat Penghuni Pulau Surgawi

Tagline:
Apa Jadinya? Sebuah Liburan Menjadi Malapetaka!

Cerita:
Mantan atlet wushu yang mundur setelah mengalami kecelakaan mobil bernama Tiara menyisakan trauma paska kejadian tersebut sehingga takut terhadap kegelapan. Bersama kekasihnya, Lilo dan keponakannya, Mandy yang mengajak serta 5 orang teman-temannya, mereka berlibur di pulau terpencil yang terkenal dengan fenomena Air Terjun Pengantin yang konon bisa mengabulkan permintaan siapapun yang berenang disana. Sayangnya mereka tidak sendiri disana, ada seorang psikopat pembunuh keji yang memiliki misi mistis demi kepentingannya sendiri. Berhasilkah mereka keluar hidup-hidup dari pulau tersebut?

Gambar:
Bertempat di Pulau Sangiang, Kepulauan Seribu dan Bandung seakan menjadi lokasi alami nan indah yang tepat bagi Air Terjun Pengantin.

Cast:
Tamara Bleszynski sebagai Tiara menjadi daya tarik utama film ini karena sudah bertahun-tahun vakum dari dunia perfilman nasional.
Kieran Sidhu sebagai Lilo, kekasih Tiara.
Marcel Chandrawinata
Tyas Mirasih
Navy Rizky Tavania
Andrew Ralph Roxburgh

Sutradara:
Terakhir mengarahkan Kesurupan (2008) dan beberapa judul horor lainnya, Rizal Mantovani mencoba genre thriller slasher yang masih jarang disentuh sineas Indonesia dimana salah satu pionirnya adalah Psikopat (2006).

Comment:
Film produksi Maxima Pictures ini berusaha mengadaptasi slasher thriller sukses Hollywood. Formulanya kurang lebih sama yaitu pria-pria tampan dan gadis-gadis cantik yang berbikini seksi menghabiskan liburan di pantai untuk kemudian dijebak satu persatu menemui ajalnya oleh pembunuh psikopat sadis. Lantas jika demikian, apalagi yang bisa ditawarkan film ini? Sang sutradara berusaha menghadirkan panorama pulau terpencil selayaknya yang dilakukan koleganya Jose Poernomo dalam dua jilid Pulau Hantu. Hal ini mungkin berhasil, sayangnya kurang eksplorasi. Dari segi sound, kesan mengerikan saat pembantaian berusaha dimunculkan lewat gesekan biola yang menyayat-nyayat. Sukses? Rasanya belum karena malah terdengar tidak pas di telinga. Plotnya simpel saja seperti sudah dibahas di atas dan malangnya tidak ada hal baru yang coba digali. Unsur suspensi sama sekali tidak ada karena pelakunya hanya mengenakan topeng perwayangan. Elemen mistik seperti persyaratan, takhayul, klenik tidak cukup kuat untuk mendasari motif si pembunuh. Yang herannya lagi, seorang pembunuh yang dari perawakannya terlihat ringkih tapi tidak mampu dilawan oleh delapan orang dan tiga pria berbadan atletis diantaranya. Beberapa sekuens yang harusnya menjadi kemenangan mutlak atas tokoh antagonis juga teramat menggelikan. Pada akhirnya, Air Terjun Pengantin hanya membuat saya tersenyum simpul sepanjang film hingga meninggalkan gedung bioskop sambil berusaha mencerna dimana sisi istimewanya.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 11 April 2009

MATI SURI : Misteri Spiritual Setelah Kondisi Koma

Tagline:
Mati tak cukup sekali

Cerita:
Menjelang pernikahannya, Abel kalut mendapati fakta bahwa calon suaminya, Wisnu pernah menghamili wanita lain. Dalam keputus asaannya, Abel menenggak sebotol obat hingga membuatnya koma atau sering disebut mati suri. Dalam kondisi itu, Abel seperti berada di suatu tempat asing yang dingin dan gelap. Saat terbangun setelah beberapa hari, Abel bertekad menyendiri dan menyelesaikan pekerjaannya sebagai fotografer di villa milik sahabat baiknya, Charlie. Sayangnya di tempat itu, Abel malah menemukan serangkaian kejadian supranatural yang berusaha membujuknya untuk mati sekali lagi..

Gambar:
Konsep visual yang baik dengan dominan warna biru di malam hari.

Act:
Mendominasi layar dari awal sampai akhir, Nadine Chandrawinata menunjukkan emosi dan penjiwaan yang baik sebagai Abel, gadis cantik rapuh yang tidak percaya mistik.
Setelah masuk nominasi aktor terbaik dalam FFI 2008 yang lalu, Yama Carlos kali ini bermain sebagai Wisnu yang kebingungan mendapati calon istrinya menghilang dan berusaha mendapatkannya kembali dengan sekuat tenaga.
Satu lagi model asal Malaysia yang menyusul terjun ke dunia akting, Keith Foo sebagai Charlie yang setia kawan tapi berkesan misterius.

Sutradara:
Rizal Mantovani kembali lagi ke genre horor setelah terakhir membesut Kesurupan (2007). Dalam Mati Suri, Rizal menyuguhkan konsep serupa yaitu kondisi saat tubuh kehilangan kendali jiwanya. Usahanya dalam film ini boleh diacungi jempol karena mampu memadukan konsistensi cerita dengan konsep visual yang baik.

Komentar:
Menggunakan narasi Mama Loren dalam trailer film ini sebetulnya cukup kreatif. Tapi apa yang ditampilkan secara utuh jauh lebih daripada itu. Walau bertempo cukup lambat, Mati Suri berhasil menjaga ritme cerita mulai dari awal sampai klimaks. Pelebaran karakter tidak merumitkan kisah tapi membuka satu persatu kejutan yang disuguhkan. Suatu hal yang jarang ditemui dalam horor lokal. Sayang sekali di tengah serbuan horor tidak standar belakangan ini, Mati Suri yang di atas rata-rata justru kurang mendapat perhatian.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!