XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rudi soedjarwo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rudi soedjarwo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

PASUKAN KAPITEN : Inspirasi Visual Untuk (Tidak) Membully


Tagline:
Jangan pakai otot. Pakai otak.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Cinema Delapan ini melangsungkan gala premierenya di Gandaria XXI pada tanggal 2 Desember 2012.

Cast: 
Cahya R Saputra sebagai Yuma
Adrina Puteri Syarira sebagai Asti
Bintang Panglima sebagai Saleh
Omara N Esteghlal sebagai Omar
Andi Bersama sebagai Kakek Sudirman
Aryadila Yarosairy sebagai Widodo

Director: 
Merupakan film kedua bagi Rudi Soedjarwo di tahun 2012 setelah Langit Ke-7 yang justru syuting belakangan.

W For Words: 
Sedianya film ini rencananya diedarkan untuk menyambut libur Lebaran bulan Agustus yang lalu. Entah kenapa akhirnya diundur ke akhir tahun bahkan nyaris tanpa publisitas yang berarti. Cermin ketidakpedean filmmakers? Melihat nama Kemal Arsjad dan Rudi Soedjarwo untuk kolaborasi kesekian kalinya tetap saja rasa penasaran saya tergelitik. Apalagi tidak banyak film konsumsi anak-anak citarasa lokal yang beredar belakangan ini. Judulnya pun cukup menggambarkan ke-Indonesia-an nya yang langsung mengingatkan saya pada lagu karya AT Mahmud yaitu Aku Seorang Kapiten.

Omar adalah anak nakal yang kerap mengganggu anak-anak lainnya termasuk Yuma. Suatu ketika, Yuma tengah mengambil layangan miliknya di rumah kosong yang ternyata dihuni oleh Kakek pensiunan tentara. Pelan-pelan Kakek mengajarkan Yuma berbagai taktik perang dengan menggunakan cabe, ember, semprotan air dsb meski menuai protes dari para orangtua. Diam-diam Kakek merindukan putranya Widodo dan cucunya Citra yang sudah menempati rumah mewah di area mereka. Berhasilkah Yuma membuat Omar jera pada akhirnya?

Tumpal Tampubolon sebenarnya hanya ingin mengangkat tema per-bully-an. Namun tanda tanya besar hinggap di dalam benak saya, berapa halaman skrip yang minim dialog tersebut? Pertanyaan yang muncul selepas menonton tersebut dikarenakan terlalu banyak ruang kosong yang dapat diisi oleh subplot yang variatif. Persahabatan Yuma dengan teman-temannya tidak mempunyai jiwa. Sama halnya dengan hubungan Kakek dengan keluarganya tidak memiliki esensi apa-apa. Dua garis besar itu lantas dihubungkan dengan titik samar-samar melalui tokoh Omar yang bertingkah laku kurang terpuji? It’s a very thin line.

Saya akui kredibilitas Rudi Soedjarwo dalam menyutradarai apalagi menggaet Yunus Pasolang sebagai tata kameranya. Itulah alasan kuat mengapa visual film ini masih bercerita lebih baik dibanding plotnya sendiri. Sinematografi cantik dengan setting lokasi terbatas, kompleks perumahan, rumah mewah, rumah tak terurus saja setidaknya cukup memanjakan mata. Sayangnya upaya Rudi untuk menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sosok anak kecil yang baru saling mengenal sudah kerap kita saksikan, masih segar dalam ingatan adalah Lima Elang (2011) yang chemistrynya jauh lebih natural. 

Penonton mungkin bisa memaklumi kekurangan akting dari Cahya, Adrina, Bintang, Omar dan lain-lain jika simpati dan interkoneksi dapat terbangun sedari awal dengan karakter-karakter yang mereka perankan. Minimnya latar belakang tak mampu dipungkiri. Anda akan bertanya-tanya mengapa Yuma, Asti, Saleh dan Omar tidak bersekolah? Apakah mereka sedang libur? Seberapa kuat pengaruh pendidikan formal dan nonformal terhadap keseharian mereka? Hanya satu tokoh yang ‘mengandung informasi’ disini yaitu Kakek yang dijiwai oleh Andi Bersama dengan cukup meyakinkan.

Pasukan Kapiten tidaklah sekreatif Lima Elang dalam menyusun strategi atau sevariatif Langit Biru (2011) dalam menyajikan pembalasan terhadap pelaku bully. Btw, apa korelasi judul dengan isi filmnya? Anyone? Menurut hemat saya, film ini adalah titik terlemah dalam karir seorang Rudi Soedjarwo terlepas dari dukungan tim produksi yang credible. Tagline “Jangan pakai otot, pakai otak” yang terpampang di poster sedianya sudah cukup menyampaikan pesan moral bagi anak-anak, tidak melulu harus melalui presentasi ending yang  over-the-top saat Omar memukuli Yuma habis-habisan. Ouch!


Durasi: 

79 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 23 November 2012

LANGIT KE-7 : Suratan Takdir Berujung Temuan Cinta


Quotes: 
Dania: Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Reload Pictures dan Sanca International ini melangsungkan press screening dan gala premierenya sekaligus di Studio XXI eX pada tanggal 20 November 2012.

Cast:
Taskya Namya sebagai Dania
Aryadila Yarosairy sebagai Denan
Nikki Frazetta sebagai Pio
Bonita Lauwoie sebagai Lintang
Atika Noviasti sebagai Indira
Rechelle Rumawas sebagai Visi
Maureen Irwinsyah sebagai Angel
Pong Hardjatmo sebagai Sutoro
Sandra Dewi sebagai Dokter Ira

Director: 
Merupakan film ke-22 bagi Rudi Soedjarwo setelah terakhir Batas, Lima Elang dan Garuda Di Dadaku 2 di tahun 2011 lalu.

W For Words: 
Rudi Soedjarwo selama ini dikenal sebagai sutradara bertangan dingin dalam menangani bintang-bintang baru dalam filmnya. Kelima gadis pemenang ajang tahunan CLEAR Hair Model 2012 yang digagas oleh PT Unilever Indonesia Tbk tersebut nampaknya cukup beruntung mendapat kesempatan emas itu. Sebuah drama romantis dengan segmentasi remaja yang tak hanya bertutur mengenai cinta tetapi juga keluarga dan persahabatan ini dipersembahkan oleh duet produser handal Kemal Arsjad dan Faby Tsui ke hadapan masyarakat Indonesia yang sudah rindu akan tontonan bergenre sejenis.

Dania tengah dijodohkan ayahnya Sutoro yang mulai sakit-sakitan dengan putra kerabat dekatnya meski ia belum berpikir untuk menikah. Ia lantas mengajak sahabat-sahabatnya berlibur ke Bali sekaligus menghibur Visi yang baru saja diselingkuhi pacarnya Pio. Momen menyenangkan itu dirusak oleh kehadiran dua paparazzi yang mengejar Dania kemanapun. Malang saat sendiri, ia mengalami kecelakaan hingga koma dan ditangani langsung oleh Dokter Ira. Di luar dugaan, rohnya yang berjalan-jalan hanya bisa dilihat dan didengar oleh Denan yang akhirnya setuju untuk membantunya kembali.

Skrip yang ditulis oleh Virra Dewi ini mayoritasnya harus diakui mirip sekali dengan Just Like Heaven (2005). Perjodohan keluarga, mati suri, komunikasi gaib, keyakinan diri hingga jatuh cinta itu elemen-elemen yang tertata lurus dari awal sampai akhir. Perbedaan minor hanya pada obyek pelengkap saja.
Sayangnya semua karakter dalam film ini tereksploitasi secara datar terlepas dari banyaknya waktu tersedia. Kesalahan fatal yang akhirnya membuat alasan ini-itunya menjadi kurang kuat yang turut mempengaruhi keberpihakan penonton pada nasib tokoh-tokohnya. Pertentangan baik melawan jahat layaknya sinetron yang sempat menjadi konflik utama pun lantas hilang tanpa bekas.

Sutradara Rudi bahkan memasukkan template Ada Apa Dengan Cinta (2002) setiap kali Dania, Visi, Angel, Lintang dan Indira berkumpul walau belum dibekali dengan chemistry yang sama. Ketajaman visinya tak berkurang samasekali, terbukti setting lokasi Jakarta dan Bali mampu dimaksimalkan sebagai panggung berlanskap indah plus sinematografi bawah laut yang sangat memanjakan mata. Scoring musik dari Andi Rianto berhasil memberi nyawa pada film termasuk lantunan suara merdu biduan muda Nathan Hartono dalam hit lawas yang didaur ulang oleh Andi Rianto, Layu Sebelum Berkembang.

Saya menghargai usaha Taskya dan Aryadila dalam menghadirkan chemistry yang cukup memadai. Taskya yang berwajah eksotis memperlihatkan talentanya dimana karakter Dania dituntut untuk senang, marah hingga putus asa. Meski tak terlalu eye candy, Arya justru menunjukkan penjiwaan natural dengan ekspresi lugu dan mata lebarnya yang tak jarang membuat penonton tersenyum. Menarik melihat debut Nikki sebagai playboy cool menyebalkan, begitu pula dengan kuartet Bonita, Atika, Maureen, Rechelle yang lumayan kompak sebagai bff. Kembalinya Sandra Dewi ke layar lebar lewat peran dokter cantik menjadi nilai tambah tersendiri. Sangat disayangkan aktor sekelas Donny Damara tidak dimaksimalkan sebagaimana mestinya.

Langit Ke-7 merupakan angin segar bagi kancah perfilman lokal yang masih kekurangan stok drama romantis yang “benar”. Jika dicermati memang tak ada korelasi judul dengan isi cerita yang ingin disampaikan. Satu-satunya penghubung menurut saya adalah angka 7 di kamar Denan yang penuh lukisan watermark tersebut. Kesampingkanlah faktor minimnya jam terbang bintang-bintang anyar ini karena kerja keras mereka dalam menghadirkan “momen-momen” yang dibutuhkan masih terasa. Untuk sesaat biarkan anda terhanyut dalam permainan takdir yang tak jarang berlabuh pada penemuan cinta.

Durasi: 
92 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 15 Desember 2011

GARUDA DI DADAKU 2 : Hambatan Diri Kompetisi Sepakbola Asean

Quotes:
Wisnu: Kita jatuh bukan karena batu besar, tapi karena kerikil!


Storyline:
Bayu yang sudah menjadi kapten timnas U-15 bertekad membawa timnya menjuarai kompetisi sepakbola junior tingkat ASEAN di Jakarta. Sahabat setianya Heri selalu mendukungnya dengan analisa pertandingan yang tajam. Kedatangan pelatih baru Pak Wisnu sempat menurunkan semangat Bayu dkk karena kerasnya latihan fisik yang diberikan pada mereka. Kehadiran pemain baru bernama Yusuf sedikit mengacaukan konsentrasi Bayu ditambah dengan kedekatan Ibunya dengan om Rudi. Belum lagi rapornya yang semakin memerah menuntut kerja kerasnya di sekolah menyelesaikan tugas bersama murid pindahan Anya yang disukainya . Apakah Bayu bisa mengatasi hambatan dalam dirinya sendiri untuk meraih sukses?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh SBO Films dan KG Productions & XY Kids dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI tanggal 11 Desember 2011.

Cast:
Emir Mahira sebagai Bayu Purnomojati
Aldo Tansani sebagai Heri
Monica Sayangbati sebagai Anya
Maudy Koesnaedi sebagai Wahyuni
Ramzi sebagai Dulloh
Rio Dewanto sebagai Wisnu
Rendi Krisna sebagai Rudi
Muhammad Ali sebagai Yusuf
Mayo Ramzi Fuhaira sebagai Effendi
Joshua Pandelaki sebagai Pak Miftah
Dorman Borisman sebagai Harri Dotto

Director:
Merupakan film ke-21 bagi Rudi Soedjarwo sekaligus yang ke-3 di tahun 2011 ini.

Comment:
Masih ingat dengan Garuda Di Dadaku (2009) yang berhasil membukukan jumlah penonton sebanyak 1,4 juta orang itu? Terus terang, film tersebut cukup membekas dalam ingatan saya sebagai salah satu film anak-anak bertemakan olahraga terbaik yang pernah ada dalam sejarah perfilman nasional karena kisahnya yang lugu dan inspiratif. Tak heran jika lantas 2 tahun kemudian muncul sekuelnya meski tanpa kehadiran Ikranagara ataupun Ari Sihasale.
Penulis skrip handal, Salman Aristo kembali melanjutkan tugasnya. Beberapa elemen yang ada dalam prekuelnya seperti nilai kerjasama, persahabatan, cinta monyet tetap dipertahankan. Selebihnya faktor persaingan dan kecemburuan menjadi konflik yang paling ditonjolkan kali ini, menyertai perkembangan karakterisasi para tokohnya yang beranjak remaja tersebut. Kompetisi sepakbola junior tingkat Asia Tenggara pun diambil sebagai latar belakangnya.

Emir yang baru saja memenangkan Piala Citra kategori Aktor Utama Terbaik lewat Rumah Tanpa Jendela (2011) ini menunjukkan perkembangan akting yang cukup signifikan. Sorot mata dan bahasa tubuh Bayu turut bermain saat mencemburui pemain baru Yusuf yang menjadi idola sahabatnya Heri atau om Rudi yang merenggut perhatian ibunya Wahyuni. Belum lagi perasaan ketertarikannya kepada Anya lewat tatapan malu-malu bercampur kagum.
Aldo dan Ramzi yang sukses mencuri perhatian di film pertamanya disini seperti kehilangan taji. Terjadi pengulangan dalam tokoh Heri yang kurang berkembang ataupun celetukan jenaka Bang Dulloh yang gagal mengembangkan senyum. Entah mengapa saya merasa raut “jutek” Monica cukup mengganggu dalam interpretasinya sebagai Anya yang seharusnya cerdas dan menyenangkan. Highlight akting tentu saja jatuh pada Rio Dewanto yang bermain keras tegas sebagai pelatih baru berdedikasi bernama Wisnu.

Rudi Soedjarwo yang menggantikan Ifa Isfansyah di kursi sutradara cukup berhasil merangkai plot dan subplotnya sedemikian rupa sehingga enak diikuti. Kekurangan yang cukup mengganggu adalah scoring music megah yang seharusnya menjadi latar suara belaka tapi malah digunakan sebagai penyelesaian momentum, contoh ketika presentasi PLKJ yang dilakukan Bayu di hadapan para guru atau saat mencetak gol pamungkas. Padahal hal sepele macam ini bisa memperkuat dramatisasi film yang terkadang kehilangan klimaksnya itu.
Saya berharap Garuda Di Dadaku 2 bukan hanya pengulangan sebuah proyek komersil, melainkan kelanjutan sebuah proses pendewasaan insan muda penerus kejayaan sepakbola Indonesia di tingkat kompetisi manapun juga. Setidaknya optimisme dan inspirasi nyata kali ini mampu dituangkan selayaknya menikmati esensi pertandingan sepakbola seru yang sesungguhnya. Kita butuh sosok seperti Bayu yang mau bekerja tiga kali lebih keras untuk menggapai mimpinya sekaligus beritikad baik untuk terus memperbaiki kesalahannya.

Durasi:
99 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 21 Agustus 2011

5 ELANG : Semangat Kaum Muda Pramuka Unjuk Gigi

Quotes:
Ayah: Paling kamu ke jakarta cuma main mobil-mobilan aja


Storyline:
Putra semata wayang Baron harus mengikuti orangtuanya pindah dari Jakartake Balikpapan. Kehilangan teman-teman dan aktifitas kota besarnya pun dihabiskan dengan bermain mobil RC tanpa berusaha peduli dengan lingkungan barunya. Beruntung sahabat barunya, Rusdi tak segan-segan mengenalkan Baron pada Pramuka hingga akhirnya bersedia mengikuti kegiatan Bumi Perkemahan bersama Anton si ahli api, dan Aldi si kerdil yang temperamen. Kelompok mereka dinamakan Elang dan harus bersaing dengan kelompok lain untuk mencapai nilai tertinggi di akhir periode. Akankah pandangan Baron berubah dan mampukah Rusdi menjadi pramuka sejati seperti yang diimpikannya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh SBO Films dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 21 Agustus 2011.

Cast:
Christoffer Nelwan sebagai Baron
Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan sebagai Rusdi
Bastian Bintang Simbolon sebagai Aldi
Teuku Rizky Muhammad sebagai Anton
Monica Sayangbati sebagai Sindai
David Chalik sebagai Ayah
Junior Liem sebagai Tito

Director:
Merupakan film ke-20 Rudi Soedjarwo yang diawali oleh Bintang Jatuh (2000).

Comment:
Secara pribadi saya mengagumi keberanian trio produser Shanty Harmayn, Salman Aristo dan Kemal Arsjad mengusung tema “pramuka” dalam film semua umur menyambut liburan Idul Fitri kali ini. Bukan apa-apa, salah satu kegiatan ekstrakurikuler di tingkat sekolah dasar itu memang nyaris terlupakan (meskipun saya yakin bahwa nyaris semua orang pernah menjalaninya) apalagi terpikirkan untuk menjadikannya sebuah film yang komersil? Salute!
Penulis skrip jempolan Salman Aristo mengembangkan plot cerita sedemikian rupa sehingga kesan enteng dan menyenangkan bisa didapatkan. Bagian opening yang memperlihatkan kehidupan serba berkecukupan si anak kota besar Baron dengan mainan elektroniknya mampu ditransisikan menjadi aktifitas kota kecil yang didominasi dengan kegiatan luar ruang termasuk Pramuka itu sendiri. Beragam pertanyaan mungkin melingkupi benak penonton akan proses tersebut tapi secara keseluruhan hanya menimbulkan efek minor yang tidak mengganggu.
Semangat para pramuka mengikuti Bumi Perkemahan yang sibuk digelorakan Rudi selama lebih dari dua pertiga durasi film justru mendekati ending sedikit terusik dengan munculnya tiga bandit kelas teri yang tidak banyak disinggung latar belakangnya. Sampai disini terjadi pergeseran konflik hingga ke luar zona tanpa penjelasan masuk akal. Walaupun pada akhirnya semua subplot berhasil dipadukan kembali, unsur pemaksaan tetap terasa janggal.

Masuknya tokoh Sindai di tengah-tengah Rusdi, Baron, Aldi, Anton juga patut dipertanyakan. Tidak ada excuse dari kakak Pembina sekalipun yang seharusnya keras dengan peraturan yang diterapkan. Memang sedari awal grup Elang sendiri sudah terlihat “kecil” dengan 6 anggota dibandingkan grup lain yang berintikan 8-10 anggota. Dengan keluarnya si kembar, kita lantas bisa berasumsi: “Setidaknya sentralisasi dapat lebih difokuskan pada 4 anak tersebut tanpa pelebaran kesana-sini.”
Kejanggalan hal-hal tersebut di atas mampu ditutupi oleh akting gemilang para aktor-aktris cilik disini khususnya Iqbaal yang senyum tulus dan optimismenya itu melambangkan pemimpin pramuka yang baik. Christoffer yang sedikit terlihat lebih dewasa juga menjiwai peran pramuka pendatang dengan sikap keengganan yang kadang menjengkelkan itu. Jujur saya sebetulnya mengharapkan chemistry bertolak belakang yang lebih kentara di antara keduanya. Kehadiran Junior Liem wajib mendapat kredit tersendiri karena peran kakak pembina Tito justru mengalirkan energi positif yang membangun.
Setting ciamik di hutan yang masih asri dan penempatan musik latar oleh Bembi Gusti dkk yang tepat pada sasaran serta storytelling yang mengalir maju menjadikan 5 Elang masih memenuhi standar sebuah film keluarga yang layak untuk ditonton mengisi liburan panjang. Siapa tahu jiwa dan watak seorang Pramuka yang berlandaskan iman taqwa serta selalu mengikuti perkembangan Iptek akan muncul kembali dalam diri anda. Jangan ragu untuk melakukan tepuk pramuka selagi kredit titel menutup layar terlebih jika anda terpuaskan dengan kualitas akhir secara keseluruhan.

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 19 Mei 2011

BATAS : Menguji Perhinggaan Diri Pedalaman Kalimantan

Quotes:
Jaleswari: Mandau telah ada di dalam dirimu, menebas putus batas keraguanmu..

Storyline:
Jaleswari menerima tanggung jawab berat untuk menyelidiki rantai pendidikan yang selalu terputus di pedalaman Kalimantan. Dua minggu waktu yang diberikan harus dimaksimalkannya terlebih kondisinya yang tengah hamil. Sesampainya disana, Jaleswari diantar oleh Arif, petugas perbatasan untuk bertemu dengan Panglima, Kepala Suku yang mengajarkannya akan “Bahasa Hutan”. Sebetulnya bukan tidak ada tenaga pendidik disana, Adeus yang ditunjuk justru memilih mundur karena pola hidup masyarakat dan adat istiadat setempat yang demikian tertutup akan sistem baru yang dibawanya dari kota besar. Mampukah Jaleswari mengubah semua kondisi tersebut apalagi melihat antusiasme seorang anak lokal bernama Borneo?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Keana Production dan gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 12 Mei 2011.

Cast:
Marcella Zalianty sebagai Jaleswari
Arifin Putra sebagai Arif
Ardina Rasti sebagai Ubuh
Jajang C Noer sebagai Nawara
Piet Pagau sebagai Panglima
Marcell Domits sebagai Adeus
Alifyandra sebagai Borneo

Director:
Merupakan film pertama Rudi Soedjarwo setelah absen 2 tahun. Karya terakhirnya adalah Hantu Rumah Ampera (2009) yang sempat masuk daftar Asian horror movies to watch.

Comment:
Jujur saya menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dari kualitas akhir film ini. Mengingat harus absen pada gala premierenya dan nyaris semua rekan-rekan memberi penilaian negatif pada waktu itu. Namun melihat nama sutradara dan jajaran cast yang mengisinya, rasanya sulit untuk memalingkan muka dari film yang naskahnya ditulis oleh Slamet Rahardjo Djarot ini.
Tema globalnya dibagi menjadi dua. Satu, seseorang yang berusaha mengintrusi sekumpulan orang yang sudah terpatri dengan adat istiadat dan pola pikir setempat dengan optimismenya. Dua, masyarakat yang antipati dengan perubahan baru yang dibawa dari dunia luar tempat tinggal mereka. Dari situ kemudian digalilah subplot-subplot mengenai pencarian jati diri dari berbagai tokoh yang terlibat di dalamnya.
Jika anda bisa melihat secara luas, tentu dapat menangkap maksud yang ingin disampaikan seorang Rudi Soedjarwo kali ini. Dan jangan coba bandingkan karya yang satu ini dengan karya-karyanya yang lain karena konsepnya sudah jelas berbeda. Rudi menggunakan pendekatan psikis yang sangat personal dari masing-masing karakternya dan hal tersebut memang tidak mudah ditangkap begitu saja oleh penonton yang bisa jadi cepat merasa bosan karenanya.
Paling kentara adalah tokoh Jaleswari yang dihidupkan dengan matang oleh Marcella Zalianty. Ia seringkali berperang dengan batinnya sendiri yaitu kegalauannya dalam mengandung, perasaan kehilangan cinta diwujudkan lewat adegan seorang diri menyuarakan isi hatinya. Di luar itu, ia terlihat tegar dan mampu menjadi sosok yang inspiratif bagi orang-orang di sekitarnya. Sama halnya dengan Rasti yang meski tidak mendapat porsi dialog yang banyak tapi bahasa tubuh dan ekspresi Ubuh sudah berbicara banyak mewakili kepahitan yang dialaminya.
Dua pendatang baru, Alifyandra dan Marcell Domits berakting dengan sangat menarik dalam peranannya masing-masing. Karakter Borneo yang selalu bersemangat memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Berbanding terbalik dengan karakter Adeus yang bahkan tidak percaya diri dengan satu-satunya kemampuan yang ia miliki yaitu mengajar. Jangan ragukan kwalitet Piet Pagau dan Jajang C Noer yang lagi-lagi berhasil melebur dalam karakter Nawara dan Panglima.
Kekurangan film ini terletak pada editingnya yang kelewat kasar dalam memotong adegan demi adegan, juga penggunaan handheld camera pada opening film yang cukup mengganggu. Beberapa tambahan karakter sebenarnya tidak terlalu penting jika dimaksudkan untuk memperkaya konflik termasuk Arifin Putra yang meski sudah berusaha maksimal tapi saya merasa karakter Arif tidaklah sepenting itu. Plus endingnya yang seharusnya bisa diakhiri 5-10 menit lebih cepat untuk memperkuat makna closingnya.
Batas adalah sebuah film perjalanan yang kental dengan pengalaman spiritual para karakternya. Tidak ambisius tetapi cukup realistis. Bagaimana mengatasi ketakutan-ketakutan yang akan selalu ada dalam diri seseorang untuk akhirnya mampu keluar dari belenggu-belenggu yang membatasi langkahnya selama ini. Dan tidak ada yang lebih tepat selain pedalaman Borneo dengan segala keterbatasannya untuk digunakan sebagai settingnya. Kunci untuk menikmatinya adalah bersikap santai dan sabar terhadap ritme film yang teramat datar dan lamban. Absurd tetapi nyata senyata-nyatanya, bukankah jiwa manusia memang demikian?

Durasi:
115 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 11 Juli 2009

HANTU RUMAH AMPERA : Cinta Segitiga dan Misteri Penunggu Rumah

Cerita:
Bertekad pulang dari London pada saat ulang tahun pacar tersayangnya Adit, Anissa memutar music box sembari mengingat-ingat janji sehidup semati yang mereka ucapkan dulu.
Di Jakarta justru Adit sudah melupakan semuanya dan menjalin hubungan serius dengan Lulu. Berdua bersama ibunya, Adit disibukkan dengan urusan pindah rumah ke lingkungan yang baru. Tak perlu menunggu lama, Adit dan ibunya justru mendapat "teror" dari makhluk halus di rumah tersebut.
Sementara itu kepulangan Anissa yang mendadak membuatnya harus kecewa saat melihat Adit bermesraan dengan Lulu. Apakah Adit benar-benar sudah melupakannya? Lalu bagaimana Adit dan ibunya bisa selamat dari semua kejadian janggal yang mereka hadapi di rumah baru tersebut?

Gambar:
Pencahayaan minimalis dengan ekspos close up cukup sukses menghadirkan gambar-gambar menyeramkan di seputar rumah Ampera tersebut.

Act:
Ben Joshua sebagai Adit kembali dipasangkan dengan Nadila Ernesta sebagai Lulu setelah berkali-kali termasuk dalam horor layar lebar Hantu Jembatan Ancol beberapa tahun lalu.
Pendatang baru Rahma Landy sebagai Anissa dan aktris senior Meity Josefina sebagai ibu Widya, mamanya Adit.

Sutradara:
Rudi Soedjarwo yang pernah sukses dalam 2 film bergenre horor yakni Pocong 2 dan 40 Hari Bangkitnya Pocong kali ini kembali dengan horor percintaan remaja yang dibalut bumbu misteri.

Komentar:
Plot cerita sepintas mengingatkan kita pada Hantu Jembatan Ancol dimana cinta segitiga dan janji sehidup semati menjadi jualannya. Dari awal sampai pertengahan, film ini boleh dibilang cukup berhasil membangun misteri dengan adegan-adegan menyeramkan yang tidak terjelaskan. Sayangnya memasuki paruh kedua, justru terasa kedodoran dan akhirnya malah terjebak ke arah penyelesaian yang klise dan mudah ditebak. Korelasi "penunggu" rumah dengan cinta segitiga pun berakhir tanpa jawaban sama sekali. Padahal sang sutradara bisa dikatakan berhasil membangun atmosfir horor yang baik tapi tidak didukung oleh skrip yang matang. Sayang sekali!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 08 Maret 2009

KAMBING JANTAN : Suka Duka Long Distance Relationship dan Kuliah Finance

Cerita:
Karena dilahirkan di klinik dokter hewan, Dika menjuluki dirinya KAMBING. Sejak kecil ia sudah berusaha mencari soulmatenya dengan mengirimkan surat cinta kepada teman-teman sekolahnya yang berlainan jenis mulai dari SD sampai SMA. Usahanya kadang berhasil kadang gagal hingga akhirnya bertemu sang pujaan hati yang dijulukinya KEBO! Kambing dan kebo yang sama-sama hobi bermusik membentuk sebuah band sambil merajut tali cinta mereka. Ujian muncul saat mereka menapaki jenjang kuliah dimana kambing dipaksa menuruti kemauan orangtuanya untuk mengambil kuliah finance di Adelaide. Hubungan jarak jauh yang rumit disertai dengan kondisi keuangan yang pas-pasan membuat Dika bingung, apalagi harus menjalani studi yang sebenarnya tidak disukai dan dikuasainya. Bagaimana Dika menghadapi semua persoalan pelik tersebut sekaligus mencari akhir bahagia untuk dirinya?

Gambar:
Setting Indonesia Australia mendapat porsi yang cukup disertai dengan beberapa visualisasi imajinatif yang menarik.

Act:
Raditya Dika yang telah menelurkan beberapa buku ringan dan juga penulis blog populer kali ini memerankan dirinya sendiri. Hasilnya tampak natural dan pas walau ia mengaku tidak mempunyai referensi khusus dalam berakting.
Herfiza Novianti sebagai Kebo memperlihatkan akting yang cukup menarik terutama transformasinya dari siswi manis penyuka musik sampai menjadi mahasiswi pecinta sastra Cina.
Edric Tjandra paling mendapat kredit atas perannya yang memikat sebagai Haryanto, sahabat seperjuangan Dika.
Didukung pula oleh Sarah Safitri sebagai Ine, Meity Josefina dan Pong Hardjatmo sebagai Mama dan Papa Dika.

Sutradara:
Rudy Soedjarwo yang beberapa karya terakhirnya kurang mendapat sambutan boleh dikatakan kembali ke kiblat awalnya. Rudi memang cenderung lebih baik membuat film ringan dengan serius dibandingkan film serius tapi berusaha dibuat ringan dan itu dibuktikan lewat Kambing Jantan. Terjemahan bebas dari blog/novel yang cukup mulus dan terjaga untuk tidak melenceng dari pakemnya.

Komentar:
Jika anda membaca blog atau bukunya terlebih dahulu dan mengenal siapa itu Raditya Dika mungkin tidak akan asing lagi dengan isi film ini. Memang tidak mudah memvisualisasikan apa yang sudah tertuang dalam tulisan karena pasti ada something missing dalam prosesnya. Terbukti kadang-kadang film ini seperti "lelah" dalam menyampaikan isinya yang penuh keanekaragaman aspek anak muda. Terlepas dari itu saya mendapati Kambing Jantan The Movie ini sebagai hiburan segar dan beda untuk penonton kalangan remaja karena merupakan film lokal pertama yang diangkat dari blog. Jika sukses, bukan tidak mungkin kita akan melihat karya-karya Raditya Dika lain yang diangkat ke layar lebar.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 10 Juli 2008

LIAR : Konflik Kakak Beradik dan Balap Jalanan

Cerita:
Kakak beradik Indra dan Bayu memiliki hobi balapan liar. Indra selalu menang setiap bertanding dan dijuluki Raja Jalanan sehingga dibenci Macan, pimpinan genk motor saingannya. Setelah kematian ayahnya, Indra memutuskan meninggalkan dunia balap dan bekerja sebagai pengantar makanan yang membawanya berkenalan dengan Monique. Diam-diam Bayu melanjutkan kiblat kakaknya menjadi pembalap motor yang handal termasuk bertemu montir cantik bernama Pepi. Sempat memancing kemarahan Macan, Bayu tidak menyadari bahaya apa yang dihadapinya selagi kakaknya Indra berjuang melawan kanker yang terus menggerogoti waktu hidupnya.

Gambar:
Adegan balap yang seharusnya menjadi nilai jual film ini tidak terlalu dominan. Alhasil gambar didominasi oleh dramatisasi adegan yang terkadang berlebihan.

Act:
Setelah terakhir terlibat dalam komedi Asoy Geboy, Raffi Ahmad kembali bermain serius sebagai Bayu yang ambisius dan punya caranya sendiri.
Mantan presenter Indonesian Idol, Irgi Ahmad Fahrezi kebagian peran utama pertamanya sebagai Indra yang kalem dan berusaha melindungi keluarganya sepeninggal ayahanda tercinta.
Dua love interest tokoh utama yaitu Pepi dan Monique masing-masing dimainkan oleh model cantik Asmirandah dan Intain Nuraini.

Sutradara:
Rudi Soedjarwo berusaha kembali pada genre drama yang membesarkan namanya. Bertekad mengambil tema balap liar yang belum banyak diangkat di perfilman nasional, Rudy tampaknya masih harus banyak belajar untuk mengeksplorasi dengan lebih tepat.

Komentar:
Menyaksikan Liar memang terkesan serba tanggung. Dunia balap liar yang melatarbelakanginya seakan hanya tempelan belaka karena tidak ada penjelasan yang dalam tentang asal usul Indra-Bayu dan geng motor yang mendukung sekaligus melawannya. Jika saja konflik antar geng tidak sedangkal itu, niscaya film akan lebih menarik lagi. Apakah drama yang ingin diketengahkan? Romantika mungkin? Rasanya tidak karena segala unsur itupun masih terasa mengambang di sana-sini.Hm, di beberapa segi, Rudi tampaknya cukup berhasil "menjual". Namun tidak menolong kualitas film secara keseluruhan yang jatuh menjadi teramat standar dan mungkin tidak cukup menarik bagi penonton umum. Sayang sekali!

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!