XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 07 Mei 2013

CINTA BRONTOSAURUS : Love Expires But Remains Still


Quote:
Dika: Gue butuh cewe yang kalo gue ngeliat gue ga kebayang putusnya bakal kayak gimana.

Nice-to-know:
Jika anda cermati seluruh karakter pria dalam film ini mengenakan kacamata.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Eriska Rein sebagai Jessica
Soleh Solihun sebagai Kosasih
Ronny P. Tjandra sebagai Soe Lim
Bucek Depp sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Meriam Bellina sebagai Mama Jessica
Tyas Mirasih sebagai Wanda

Director:
Merupakan film ketiga bagi Fajar Nugros setelah Cinta Di Saku Celana (2012).

W For Words:
Dika Angkasaputra Moerwani yang lebih dikenal dengan nama Raditya Dika adalah seorang novelis jenaka yang kontan tenar sejak menerbitkan Kambing Jantan di tahun 2005 yang segera disusul empat judul berikutnya dengan status keseluruhan best seller! Empat tahun setelah bukunya, adaptasi layar lebar Kambing Jantan segera diproduksi oleh Indika Pictures dan Vito Production di tahun 2009. Saat itu Dika merambah layar lebar dan digarap langsung oleh sutradara kondang Rudy Soedjarwo. Empat tahun kemudian, giliran buku keduanya difilmkan. Penasaran? 

Kerap diputuskan kekasihnya dalam waktu singkat, Dika memilih percaya pada konsep cinta itu bisa kadaluarsa. Semua uneg-uneg nya sejak masa kecil tertuang pada buku terbarunya, Cinta Brontosaurus. Adalah produser film Soe Lim yang tertarik mengadaptasi karyanya tersebut ke layar lebar. Tawaran yang kemudian diamini oleh agennya, Kosasih yang memang sedang membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya Wanda yang boros. Tanpa sengaja, Dika justru berkenalan dengan Jessica yang tak dipungkiri memiliki pemikiran setipe dengannya. Mungkinkah pandangannya berubah?

Skrip yang terinspirasi dari kisah nyata percintaan semasa hidup seorang Raditya Dika ini memang terbilang sangat jujur. Bukan hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga kaum pria secara umum. Siapa sih yang tidak pernah ditolak cewe? Berapa kali anda pernah mengalami putus cinta? Jawaban yang dapat dipastikan frekuentif itu dirasa cukup untuk menjadi ‘nyawa’ film. Nyatanya tidak. Begitu menit-menit awal yang menjanjikan berlalu, yang tersisa adalah menit-menit yang agak membosankan karena konflik cerita yang terasa ditarik ulur kesana kemari.

Pertama, ada produser film sohor Soe Lim yang begitu rajin mengedepankan segala sosok ‘hantu’ di kancah perfilman nasional. Jangan salah. Ronny P. Tjandra sudah melakukannya dengan gaya eksentrik yang memikat. Namun pola sindiran terhadap pihak tertentu yang dianut tampaknya belum terlalu kuat menjalankan fungsinya. Kedua, ada rumah tangga Kosasih dan Wanda yang didominasi oleh masalah uang. Tanpa latar belakang mereka yang memadai membuat penonton sulit untuk larut dalam keprihatinan yang dikondisikan sedemikian rupa. Di satu sisi, Soleh lumayan berhasil memberikan nyawa tapi tidak halnya dengan Tyas yang berakting satu dimensi.

Sutradara Nugros selama ini saya kenal sebagai storyteller yang baik. Ia sudah melakukan upaya terbaiknya untuk mengemas kisah yang sesungguhnya biasa-biasa saja itu ke dalam tontonan yang mengalir. Tak sepenuhnya berhasil karena masih ada berbagai pengulangan yang tipikal dan tak jarang membuat penonton letih mengikutinya. Beruntung alunan suara HiVi! lewat suguhan tiga tembang manisnya sedikit banyak memberi esensi fun. Permainan kamera yang dinamis dari Yadi Sugandi dan editing yang rapi dari Cesa David juga menghadirkan nilai plus yang dibutuhkan.

Raditya Dika dari tahun ke tahun merupakan figur komedian yang khas. Tidak semua sasarannya lucu, banyak di antaranya cenderung datar saja. Butuh lebih dari sekadar fans untuk bisa tertawa mengikuti jalan pikirannya. Namun sebagai aktor, saya melihat peningkatan positif dibandingkan film sebelumnya. Eriska Rein dapat dikatakan beruntung mampu menjadi leading act hanya di film ketiganya ini menjadi pasangan yang pas. Walau Jessica digambarkan sebagai cewek freak dengan segala polah tingkah dan pemikiran ajaibnya, ia tetap girly dan loveable.

Cinta Brontosaurus secara cerdas kali ini menggandeng provider XL yang juga tengah melakukan peluncuran perdana program NONTON demi viral marketing yang lebih luas lagi. Terlepas dari formula cinta yang cheesy dan efektifitas lelucon yang minim, setidaknya produksi terbaru Starvision ini masih cukup akrab menyapa penonton remaja hingga dewasa muda yang kerap mempertanyakan arti cinta ataupun teori batas waktu pacaran yang sedianya berlaku. Masih butuh jawaban? Ayo coba dipikirkan kembali matang-matang.

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

*Bespeak for Starvision/Fajar Nugros

Sabtu, 04 Mei 2013

THE GIFTED HANDS : Gripping Thriller About Souls to Save and Hearts to Keep

Tagline:
Hands that reveal the past.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Psycho-metry ini sudah rilis tanggal 7 Maret 2013 lalu di Korea Selatan.

Cast:
Kim Beom
sebagai Kim Joon
Kim Kang-woo sebagai Detektif Yang Choon-dong
Esom sebagai Kim Seung-gi
Lee Joon-Hyuk sebagai Yang-Soo
Kim Yu-Bin sebagai Da-hee

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Kwon Ho-Jung.

W For Words:
Kita harus mengakui jika Korea Selatan merupakan produsen thriller terbaik di Asia saat ini semenjak era tahun 2000 mulai merambah pasar Indonesia. (Terima kasih pada berbagai seri melodrama yang efektif menguras air mata) Sebut saja judul-judul seperti Tell Me Something (1999), Oldboy (2003), I Saw The Devil (2010) silih berganti menjadi rekomendasi jika sedang ditanya. Kini suguhan terbaru negeri ginseng tersebut kembali menyapa penikmat film di Indonesia melalui distributor langganan CJ Entertainment yang masih menggandeng jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Detektif Yang Chun-dong tengah menyelidiki kasus menghilangnya gadis cilik yang kemudian ditemukan tewas terkubur. Satu-satunya petunjuk yang tertinggal adalah gambar grafiti dari seniman jalanan Kim Joon yang selalu mengenakan jaket hitam untuk menutupi fisiknya yang pucat lemah. Saat Da-hee yang pernah ditemuinya di jalan diculik, Chun-dong harus berpacu dengan waktu untuk menemukan pelaku. Kim Joon yang ternyata mampu membaca masa lalu seseorang lewat sentuhan tangannya setuju untuk membantu walau harus menyakiti dirinya sendiri.

Skrip yang ditulis oleh Ho-Jung ini memang tidak terlalu ‘gelap’. Bagaimana tidak? Introduksi terhadap Detektif Chun-dong yang sembrono dilakukan secara komikal. Lihat bagaimana ia berbicara dengan mulut penuh makanan, bertengkar dengan warga yang menjalani kerja sosial hingga dipukuli atasannya dengan dokumen. Bagi sebagian orang, hal ini terkesan mengurangi superioritasnya. Namun bagi saya justru terlihat manusiawi, ia tidak sempurna. Kim Kang-woo menokohkannya dengan baik, mengundang keberpihakan yang jelas dalam diri penonton.

Kim Beom yang berpenampilan ‘manis’ itu terasa melekat dalam karakter Kim Joon yang berkemampuan khusus. Tutur katanya yang halus, bahasa tubuhnya yang gemulai cukup menjelaskan perlakuan apa yang kira-kira diterimanya dari orang-orang di sekitarnya. Sayangnya masih banyak hal yang tak terjawab mengenainya bahkan sampai durasi berakhir. Setidaknya chemistry “bromance” antara Kim Joon dan Chun-dong terjalin erat. Pada satu titik, penonton dibuat percaya bahwa keduanya akan dapat saling mengisi kekosongan yang ditinggalkan keluarga masing-masing.

Sebagai sutradara Ho-Jung masih memanfaatkan beberapa elemen klise yang biasa ditemui yaitu basement gelap, lorong sepi, bangunan terbengkalai, ruang terisolasi dll. Setting lokasi yang digunakan cukup variatif untuk menonjolkan paranoia tersendiri. Yang juga menarik adalah pengadeganan masa silam lewat potongan-potongan flashback yang dikerjakan dengan serius. Suspensinya terbangun sempurna semenjak melewati pertengahan hingga akhir film sehingga klimaksnya dapat tercapai. Tak jarang penonton akan memekik gemas dibuatnya.

The Gifted Hands memang belum beranjak dari fakta bahwa anak-anak, perempuan pada khususnya, masih menjadi sasaran utama tindak kekerasan dan obyek seksual para pelaku yang umumnya menderita gangguan mental walau terlihat normal dari luar. Protagonis yang diset sedemikian rupa dalam wujud anggota kepolisian lengkap dengan trauma masa kecilnya saja sudah merupakan polemik tersendiri. Secara keseluruhan bukan thriller mumpuni tapi sudah lebih dari cukup dalam menghibur. It’s all about souls to save and hearts to keep. Memories do fading away.

Durasi:
1
07 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:



Jumat, 03 Mei 2013

THE CALLER : Is It Worth Staying On The Line?


Tagline:
Some calls are best left unanswered.

Nice-to-know:
Brittany Murphy sempat dicast sebagai Mary Kee sebelum digantikan Rachelle Lefevre.

Cast:
Rachelle Lefevre sebagai Mary Kee
Stephen Moyer sebagai John Guidi
Lorna Raver sebagai Rose Lazar
Ed Quinn sebagai Steven Campbell
Luis Guzmán sebagai George

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Matthew Parkhill setelah Dot the I (2003).

W For Words:
Jika telepon dapat dikategorikan sebagai sebuah teror, anda akan mendapati suguhan thriller atau horor. Contoh dari klan thriller adalah Phone Booth (2002) atau Cellular (2004). Sedangkan dari klan horror, kita punya The Phone (2002) atau One Missed Call (2003) dari Korea dan Jepang. Bagaimana jika Puerto Rico mencoba melakukannya dengan mixed up thriller/horror yang beralaskan misteri? Maka didapatlah judul terbaru produksi kolaborasi Alcove Entertainment, Head Gear Films, Pimienta dan The Salt Company International ini yang terpaksa ‘ditinggalkan’ seorang aktris muda berbakat Hollywood.

Mary Kee baru saja bercerai dengan Steven Campbell meski sang suami masih kerap menyambanginya tanpa alasan. Pada suatu ketika, Mary mulai menerima telepon-telepon aneh dari wanita misterius yang mengaku bernama Rose Lazar. Ternyata Rose berasal dari masa lalu hingga tega meneror Mary yang dianggap mengabaikannya. Hubungan Mary yang baru dengan seorang guru bernama John Guido pun berantakan. Susah payah Mary berupaya memutuskan hubungan dengan Rose tetapi apa yang sedari awal ditakutkan terjadi juga. Siapa sesungguhnya Rose? 

Premis yang dimiliki Sergio Casci ini sesungguhnya menjanjikan. Sekelumit latar belakang yang minim di bagian pembuka seakan disengaja untuk memancing rasa penasaran penonton. Memang berhasil di awal tapi mulai mengganggu begitu memasuki pertengahan hingga akhir. Apa sebab? Petunjuk yang demikian sedikit terasa tak sebanding dengan durasi yang begitu panjang. Intensitasnya pun cenderung turun naik. Anda dipaksa untuk duduk manis menunggu telepon berdering di sepanjang film sambil berujar, "What's next?"

Sutradara Parkhill banyak memanfaatkan pencahayaan minimalis untuk mempertegas teror klastrofobik yang terjadi di dalam rumah. Ya sebagian besar di antaranya bahkan terjadi di malam hari. Tempo film yang cukup lambat berusaha disiasati dengan elemen-elemen klise nan mengejutkan seperti derit pintu, ketokan dinding, suara erangan dll. Kemunculan berbagai karakter pendamping memang menarik sebagai pengalih, hanya saja tidak ditunjang oleh karakteristik memadai yang tujuannya tentu saja memperkaya konflik.
Jangan salahkan Rachelle Lefevre yang sedang mencoba keluar dari bayang-bayang Twilight saga. Sebagai frontliner Mary Kee di sini, ia cukup solid menokohkan sejak menit pertama. Sikap tak berdaya menghadapi mantan suami penyiksa, keraguan mempercayakan hatinya lagi hingga rasa parno mendengar dering telepon dilakoninya dengan meyakinkan. Stephen Moyer yang kebagian peran John juga tidak mengecewakan. Lorna Raver yang sepanjang film hanya terdengar suaranya saja berhasil menuntaskan tugas dengan baik. They all should be appreciated eventhough relatively unknown.

The Caller seperti sudah disebutkan di atas merupakan film menarik berkelas medioker yang berangsur-angsur kehilangan daya tariknya seiring durasi bergulir. Suspensi yang disiapkan jadi tak ada artinya karena penonton kadung merasa bosan. Begitu banyak plot holes disana-sini tanpa adanya penjelasan logis antara dunia paralel masa silam dan masa kini kian memperburuk pemahaman twist yang sesungguhnya telah tersimpan rapat selama lebih kurang 53 menit. In the end, we will questioning like "is it worth staying on the line?" Well, i think you already knew the answer.

Durasi:
92
menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 02 Mei 2013

LAWLESS : Riveting Truth and Fiction Bootlegging Days


Quote:
Forrest Bondurant: Jack, look at me. We're survivors. We control the fear. And without the fear, we are all as good as dead. Do you understand? - Do you?

Nice-to-know:
Karakter Forrest Bondurant seharusnya lebih kurus tapi tubuh Tom Hardy membesar karena The Dark Knight Rises (2012).

Cast:
Shia LaBeouf sebagai Jack Bondurant
Tom Hardy sebagai Forrest Bondurant
Jason Clarke sebagai Howard Bondurant
Guy Pearce sebagai Charlie Rakes
Jessica Chastain sebagai Maggie Beauford
Mia Wasikowska sebagai Bertha Minnix

Dane DeHaan sebagai Cricket Pate
Gary Oldman sebagai Mason Wardell

Director:
Merupakan feature film kelima John Hillcoat setelah terakhir menangani The Road (2009).

W For Words:
Jika anda pernah membaca atau setidaknya mengetahui novel berjudul "The Wettest County in the World" (2008) karangan Matt Bondurant, bisa dipastikan bayangan kerasnya kondisi kehidupan negara barat pada masa lampau sedianya akan terpampang dalam benak. Sekadar catatan, Matt adalah cucu langsung dari Jack Bondurant yang merupakan salah satu tokoh sentral dalam cerita. Nah film ini adalah adaptasi resmi yang skripnya ditulis oleh Nick Cave. Jajaran cast yang mengisi pun tidak main-main.  Penasaran?  You should be.

Tahun 1931 di Franklyn County, Virginia hiduplah tiga bersaudara Bondurant yang menjadi penguasa setempat, terima kasih pada Kepala Wilayah Mason Wardell yang korup. Si sulung, Forrest dikenal sebagai legenda karena selamat dari perang. Ia lantas jatuh hati pada Maggie, mantan penari yang bekerja di barnya. Si tengah, Howard adalah begundal tangguh yang sulit mengontrol emosi. Si bungsu, Jack dapat dikatakan pengecut bersama sahabat karibnya si pincang Cricket Pate. Ketenangan mereka mulai terusik saat Sherif Khusus, Charles Rakes bertekad menjalankan peraturannya.

Kisah nyata memang tak pernah mudah diterjemahkan. Namun sutradara Hillcoat tergolong berhasil melakukannya. Kita tak hanya disuguhi sepak terjang Bondurant bersaudara tetapi juga intrik politik yang terjadi di Franklin County. Sah-sah saja jika pada akhirnya ditambahkan beberapa elemen fiktif untuk memperkuat narasi. Pilihan warna-warni tonenya seakan menegaskan era The Great Depression yang cenderung naik turun bagi siapapun yang hidup di dalamnya. Menarik melihat panggung berlanskap yang begitu alami lengkap dengan nilai produksi yang tinggi.

Sebagai dua pihak berseberangan yang sudah memilih jalan hidupnya masing-masing, Hardy dan Pearce tampil menawan. Keberingasan Forrest (masih dalam bayang-bayang Bane) masih akan mengundang simpati penonton. Sedangkan kesadisan Charlie (masih terbawa sosok Killian) secara tidak langsung menggiring antipati pemirsa. Upaya LaBeouf untuk menokohkan Jack yang labil pantas diapresiasi karena berhasil menjembatani berbagai karakter dalam film. Sayangnya Clarke tidak mendapat porsi memadai untuk benar-benar unjuk gigi dibanding abang dan adiknya itu.

Chastain seperti biasa memperlihatkan kelasnya. Tak peduli seberapa minim kemunculannya, tokoh Maggie tetaplah penting untuk menunjukkan ‘peran wanita’ di antara dominasi pria sekalipun. Sedangkan Wasikowska kebagian karakter Bertha yang polos manis. Status scene-stealer patut dialamatkan terhadap DeHaan yang tampak begitu hidup sebagai si lugu timpang. Sayangnya aktor senior Oldman terkesan kurang diberdayakan di sini. Banyaknya nama yang terlibat membuat fokus utama dan tambahan silih berganti masuk demi penyesuaian konfliknya.

Lawless menghadapi tantangan sulit dalam penyajiannya. Bagaimana drama konspirasi harus tetap terkait erat dengan konten historis yang ada. Bagi saya tontonan yang satu ini tetap akan memorable karena akting mumpuni para cast dan strategi filmmaking cerdas sang sutradara. Belum lagi porsi kekerasan brutal yang tak jarang membuat penonton merasa gelisah di kursi masing-masing. Tak usah memungkiri keberpihakan anda pada keluarga Bondurant di masa jayanya yang tak taat hukum tersebut. You know that true-life is (always) stranger than fiction!

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$37.397.291 till Nov 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 01 Mei 2013

Nonton Gratis 3 Film Indonesia Terbaru

Bioskopers, menyambut rilis 3 @film_indonesia dalam satu hari untuk pertama kalinya, kita mau bagi-bagi tiket nonton nih. Caranya gampang kok.

1. Follow @film_bioskop
2. Tweet alasan kamu nonton film pilihan, salah satu dari (The Legend Of Trio Macan, Kisah 3 Titik, What They Don't Talk About When They Talk About Love) sebelum jam 10.30
Khusus domisili Jakarta saja ya.
3. Tweet jam tayang dan bioskop pilihanmu untuk hari ini.
The Legend of Trio Macan 
Cilandak: 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Citra: 13.15-15.15-17.15-19.15-21.15
Kisah 3 Titik
Citra: 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Blitz GI: 11.00-13.30-16.00-18.30
What They Don't Talk About When They Talk About Love
Kemang Village: 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Blitz GI: 12.45-17.15-19.30-21.45
4. Jawaban terpilih akan diumumkan pukul 11 dimana masing-masing pemenang mendapat 2 tiket nonton. 
5. Ayo dukung terus film Indonesia berkibar di bioskop negeri sendiri.

Rabu, 24 April 2013

IRON MAN 3 : Final Round Technology Bound


Quote:
Tony Stark: Things are different now. I have to protect the one thing that i can’t live without. That’s you.

Nice-to-know:
Jon Favreau batal menyutradarai seri penutup ini karena kebagian proyek Magic Kingdom dan Jersey Boys. Namun demikian ia mengaku lebih leluasa memerankan karakter Happy Hogan di sini.

Cast:
Robert Downey Jr.
sebagai Tony Stark / Iron Man
Gwyneth Paltrow sebagai Pepper Potts
Guy Pearce sebagai Aldrich Killian
Rebecca Hall sebagai Maya Hansen
Ben Kingsley sebagai The Mandarin
Paul Bettany sebagai Jarvis (voice)
Don Cheadle sebagai James Rhodes / War Machine
Jon Favreau sebagai
Happy Hogan

Director:
Shane Black yang mengawali karirnya sebagai penulis film aksi ini menggarap film keduanya setelah Kiss Kiss Bang Bang (2005).

W For Words:
Jika sebuah film superhero sudah mencapai sekuel maka pertaruhannya akan semakin berat. Mengapa? Beberapa di antaranya untuk sekadar menyamai saja gagal. Cuma sedikit yang terbilang sukses mengungguli seri sebelumnya. Bagaimana dengan keluaran Marvel yang satu ini? Well, i’m one of those people who got lucky to see it first during the grand opening of IMAX Kelapa Gading. Hell yeah! Tell you what, saya bukanlah fans setia Iron Man jika dibandingkan dengan karakter pahlawan lainnya. Namun selepas film berakhir dapat tersenyum puas.

Tony Stark kerapkali mengalami serangan panik karena terlalu memikirkan keselamatan kekasihnya Pepper Pots. Ketika mantan kekasih Tony yakni Maya datang, tiba-tiba rumah mereka diserang oleh helikopter hingga berujung pada pemberitaan tewasnya Tony di surat kabar. Saat bersembunyi, Tony berjumpa bocah jenius Harley yang memotivasinya kembali. Sementara itu Mandarin mengancam Presiden Amerika lewat pembajakan siaran televisi. Adakah hubungannya dengan ilmuwan sinting Aldrich Killian yang pernah dikecewakan Tony belasan tahun silam?

Shane Black bersama Drew Pearce yang menulis skrip bersama tampak menggunakan pendekatan yang berbeda dengan dua seri sebelumnya. Seri ketiga yang diyakini sebagai penutup ini murni berfokus pada pergulatan seorang Tony Stark dalam memenuhi ‘kewajiban’ nya baik sebagai kekasih ataupun pahlawan masyarakat. Sisi playboy, narsis dan sok pamernya yang biasa dominan sedikit dikesampingkan. Semua berganti oleh pertukaran dialog sarkastis yang menggigit dengan karakter-karakter di sekelilingnya. 

Sebagai sutradara Black memulainya dengan terlampau ‘biasa’. Begitu memasuki pertengahan barulah bermunculan twist dan turns yang segera menganulir segala keklisean yang ada. Patut dicatat, tidak semua fan base Iron Man akan happy dengan perubahan tersebut. Alih-alih protes banyak bermunculan. Sah-sah saja. Bombardir efek khusus tergolong sesuai kapasitas sebuah film aksi (superhero), terlebih di ending yang lumayan mencengangkan itu. Sementara gimmick 3D ataupun versi IMAX nya hanya berdampak minor karena merupakan hasil konversi.

Downey Jr. memang masih pilihan paling tepat untuk tokoh Tony Stark/Iron Man. Range emosinya yang luas mendapat porsi yang cukup signifikan dalam menerjemahkan semua konflik di dalamnya. Pearce sebagai villain juga terkesan ‘sebanding’ dengan kekuatan dahsyat dan kegilaan kejam yang melandasinya. Menarik mengamati karakter-karakter wanita yang dihidupkan oleh Paltrow, Hall atau Szostak yang mencuri perhatian walau kemunculannya sejenak. Belum lagi kontribusi aktor senior Cheadle, Kingsley hingga si cilik Simpkins. Sutradara terdahulu Favreau turut hadir sebagai Hogan, diikuti dengan sumbangan ‘suara’ milik Bettany sebagai Jarvis.

Iron Man 3 bagi saya adalah yang terbaik dari keseluruhan seri. Saya mendapati esensi sebuah film utuh, tak seperti dua seri sebelumnya yang masih mengesankan film komik. Permasalahan utamanya terbilang baru yakni bagaimana seorang pahlawan super ternyata bisa mengalami krisis ketergantungan dengan teknologi canggih yang selama ini membantunya. Belum lagi pengembangan ‘cinta’ semenjak seri pertama yang biasanya selingan belaka. Penambahan berbagai karakter baru juga kian mempertajam esensi interpersonal nan variatif. Does the journey end? Shall we continue to Avengers 2? Don’t ask, don’t think. Just enjoy this one first as i did!

Durasi:
1
25 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 


Sabtu, 20 April 2013

KON-TIKI : Questionable Journey With High Determination


Tagline:
Real adventure has no limits.

Nice-to-know:
Merupakan wakil Norwegia pada kategori Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards 2013.  

Cast:
Pål Sverre Hagen sebagai Thor Heyerdahl
Anders Baasmo Christiansen sebagai Herman Watzinger
Gustaf Skarsgård sebagai Bengt Danielsson
Odd Magnus Williamson sebagai Erik Hesselberg
Tobias Santelmann sebagai Knut Haugland
Jakob Oftebro sebagai Torstein Raaby
Agnes Kittelsen sebagai Liv Heyerdahl

Director:
Merupakan kolaborasi ketiga Joachim Rønning dan Espen Sandberg setelah Bandidas (2006) dan Max Manus (2008).

W For Words:
Label film termahal yang pernah dibuat Norwegia sepanjang masa rasanya sudah cukup membuat moviegoers di seluruh dunia sepantasnya mengantisipasi tanggal rilisnya film ini termasuk Indonesia lewat jaringan Blitzmegaplex. Apalagi Thor Heyerdahl merupakan tokoh nyata yang menjadi inspirasi atas upayanya mengarungi Samudera Pasifik dengan menggunakan rakit primitif. Namun tampaknya tidak mudah menyajikan sebuah casual biopic dengan adventure drama yang cukup believable untuk menggamit perhatian penonton selama nyaris dua jam. Tidak percaya?

Tahun 1947, pengembara Thor bersama lima pria dengan latar belakang yang berbeda-beda yaitu Herman Watzinger, Bengt Danielsson, Erik Hesselberg, Knut Haugland dan Torstein Raaby mempersiapkan segala sesuatunya demi melakukan perjalanan ke Kepulauan Polynesia mengikuti jejak tokoh sejarahwan Tiki di masa lampau yang menjadi inspirasinya. Istrinya Liv meski kurang setuju terpaksa menerima keputusan itu dengan berat hati. Selama 101 hari melalui 8000 kilometer, mereka berenam menghadapi berbagai macam bahaya yang muncul. 

Sutradara Rønning dan Sandberg
tak lupa menambahkan potongan film dokumenter pemenang Oscar tahun 1950 sebagai remarkable footage. Sinematografer Geir Hartly Andreassen bahkan menggunakan metode B&W saat pembangunan rakitnya. Hubungan yang terjadi di antara ‘awak’ rakit tersebut menjadi salah satu highlight tersendiri selain kemunculan obyek-obyek detail yang memperkaya penuturannya. Bagaimana paus, hiu, ubur-ubur, kakaktua, kepiting, ikan terbang dan sebagainya silih berganti menyita perhatian penonton

Kinerja make-up, wardrobe dan art department sangat memuaskan. Keenam pria tersebut tampil lusuh dan kumuh dengan pakaian seadanya dengan kumis dan cambang yang semakin lebat. Spesial efeknya juga cukup meyakinkan untuk membuat anda seakan merasakan apa yang mereka alami juga. Ada satu pergerakan kamera yang mencengangkan saya saat aerial shot menangkap posisi rakit di lautan lalu mengangkasa terus menerus hingga keluar planet sebelum kembali lagi saat hari berganti. Editing yang mulus membuatnya terkesan tanpa putus.

Sayangnya konflik yang dihadirkan di atas rakit memang tergolong minim. Hanya ada keegoisan dan kegilaan yang melanda, itupun tidak benar-benar sampai memuncak ke permukaan. Jujur saya mengharapkan terjadinya berbagai realita pahit agar terlihat lebih meyakinkan. Bukankah perjuangan hidup memang demikian? Sebagai contoh Herman yang sekujur tubuhnya telah terpercik darah hiu jatuh ke laut masih tidak terjamah oleh kawanan hiu yang mengelilinginya. Maafkan saya jika terlalu banyak menonton Jaws ataupun thriller sejenis lainnya.

Kon-Tiki yang merupakan nama lawas dari dewa matahari suku Inca – Viracocha selayaknya film biografi lain memang tampak mengedepankan sosok Heyerdahl sebagai ‘pahlawan’ yang konvensional. Pål Sverre Hagen menjiwainya dengan gemilang dimana ia harus memimpin tanpa terkesan otoriter. Pada akhirnya banyak pihak yang meragukan fakta perjalanan ini setelah meneliti detil-detil pendukung. Percaya atau tidak menjadi keputusan anda sepenuhnya. Bagi saya yang penting adalah memaknai determinasi tinggi seorang anak manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.

Durasi:
118
menit

Europe Box Office:
871,645 in Norway till Nov 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 19 April 2013

SINISTER : Fun Horror That Best Served Slow


Tagline:
Once you see him, nothing can save you.  

Nice-to-know:
Penulis skrip C. Robert Cargill mendapat ide cerita dari mimpi buruk yang muncul setelah menyaksikan The Ring.

Cast:
Ethan Hawke sebagai Ellison Oswalt
Juliet Rylance sebagai Tracy
Fred Dalton Thompson sebagai Sheriff
James Ransone sebagai Deputy
Michael Hall D'Addario sebagai Trevor
Clare Foley sebagai Ashley
 

Director:
Scott Derrickson yang juga dikenal sebagai penulis skrip ini menggarap feature film ketiganya setelah The Day the Earth Stood Still (2008).

W For Words:
Sulit rasanya menemukan film horor yang ‘menyenangkan’ beberapa tahun terakhir ini. Tahun lalu saya dan kawan-kawan pecinta genre ini sempat dikejutkan dengan kemunculan trailer film berbujet rendah produksi kolaborasi Alliance Films, IM Global, Blumhouse Productions, Automatik Entertainment dan Possessed Pictures yang cukup menyeramkan. Daya tarik lain jelas keterlibatan aktor mumpuni Ethan Hawke sebagai tokoh utamanya. Sayangnya penantian terasa begitu panjang karena jaringan bioskop 21 baru memutuskan tanggal rilis 16 Maret 2013 yang lalu.    

Penulis novel kriminal Ellison Oswalt memutuskan pindah ke rumah baru demi menyelesaikan karya teranyarnya meski istri dan anak-anaknya tidak setuju. Sesungguhnya di rumah tersebut pernah terjadi pembunuhan mengerikan dimana seantero keluarga tewas tergantung di pohon halaman belakang rumah. Tak lama kemudian, Ellison menemukan satu kardus berisikan video di loteng rumahnya yang ternyata berisikan rekaman keluarga-keluarga yang terbunuh secara misterius di masa lampau. Mampukah ia memecahkan misteri tersebut sebelum nyawanya terancam juga?
Scott Derrickson bekerjasama dengan C. Robert Cargill berupaya mengetengahkan suguhan thriller horror yang fresh melalui elemen-elemen tipikal sebut saja rumah mencekam, tokoh misterius, latar belakang mencengangkan dsb. Berhasil? Bagi saya iya. Momok menakutkan kali ini adalah Mr. Boogie yang terlihat seperti seorang pria bertopeng.  Sewajarnya film bergenre sejenis, ada twist yang tersimpan di penghujung cerita. Tugas anda lah menerkanya sambil ‘memutar kembali’ apa saja yang telah anda saksikan sejak menit awal.

Sebagai sutradara, Derrickson berupaya semaksimal mungkin menjaga intensitas film lewat serangkaian ‘trik’ yang sebenarnya tak bisa dikatakan baru. Namun pace yang terasa lambat tetap tak mampu dihindari. Tak ayal penonton kadung bosan sebelum sampai klimaksnya. Beruntung multi relationship yang dimiliki Ellison dengan orang-orang sekitarnya mampu memperkuat plot yang ada. Belum lagi variasi video footage kuno yang berulang kali efektif menciptakan kengerian lewat gambar dan suara yang khas. Niscaya akan akan gelisah mendapati siang berganti malam di sepanjang durasinya.
Hawke memegang peranan kunci di sini termasuk narasi utama yang dilakukannya. Tokoh Ellison yang cukup ‘gelap’ itu sesungguhnya cuma kepala keluarga biasa, suami setia dan ayah perhatian yang menyayangi keluarganya sendiri. Hanya saja ambisi pribadi membuatnya mempertaruhkan segalanya. Ketakutannya yang membuncah diterjemahkannya secara wajar. Rylance berhasil memberikan penjiwaan yang baik sebagai istri tertekan karena obsesi suaminya yang tidak rasional. Foley dan D’Addario juga tak kalah memikat sebagai putra dan putri dengan kedalaman psikologis masing-masing.

Sekali lagi kenikmatan menyaksikan Sinister adalah membuka misteri yang tersimpan rapat satu-persatu dengan penjelasan yang cukup logis. Kombinasi dengan mitos yang ada juga terbilang relevan dalam memperkuat substansi penerimaan penonton yang tanpa sadar mengaplikasikan langsung dengan kondisi nyata. Gambar-gambar yang disturbing bisa jadi sulit dibuang dari ingatan apalagi ditambah dengan beberapa scene ‘berdarah’ dengan penyajian yang variatif. Semua aspek tersebut jelas beralasan. So, be prepared for this one without any single information. Too bad its poster has already explained much.

Durasi:
110
menit

U.S Box Office:
$48.056.940 till Dec 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 13 April 2013

OBLIVION : Audio-Visual Fair Above Earth and Humanity


Quote:
Jack Harper: Is it possible to miss a place you've never been? To mourn a time you never lived?

Nice-to-know:
Proyek The Oblivion awalnya berasal dari skrip 8 halaman yang ditulis Joseph Kosinski dan diajukan sebagai novel grafis kepada Barry Levine dan Jesse Berger di Radical Publishing pada tahun 2007.

Cast:
Tom Cruise sebagai Jack
Morgan Freeman sebagai Beech
Olga Kurylenko sebagai Julia
Andrea Riseborough sebagai Victoria
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Sykes
Melissa Leo sebagai Sally  

Director:
Merupakan film kedua Joseph Kosinski setelah TRON : Legacy (2010).

W For Words:
Delapan tahun sudah sejak terakhir kemunculan Tom Cruise dalam film bergenre science fiction, itupun remake ternama yakni War of the Worlds. Bisa jadi anda sama seperti saya, lebih ingat pendahulunya yaitu Minority Report (2002). Suguhan terbaru Universal Pictures ini tak sepenuhnya dapat dikatakan baru karena plotnya akan mengacu pada beberapa referensi dari yang sudah-sudah, tidak perlu disebutkan di sini agar tak ada tudingan menjiplak mentah-mentah. Sah-sah saja untuk sebuah tema post-apocalyptic yang sesungguhnya memang penuh dengan tanda tanya.

Jack Harper adalah teknisi yang ditugaskan menjaga robot-robot agar tetap pada fungsinya membasmi scavs di bumi. Pangkalannya terletak di lapisan stratosfer yang juga dikomandoi oleh Victoria dan disupervisi langsung oleh Sally melalui layar monitor. Ya, bumi memang telah mati selama enam puluh tahun akibat serangan alien. Kehidupan keduanya yang tenang mulai terusik saat Jack menyelamatkan nyawa Julia dari pesawat yang terbakar di area terpencil. Memori masa lalu yang perlahan terkuak agaknya membuat Jack bingung akan jati diri yang sebenarnya.

Joseph Kosinski mengembangkan komiknya bersama Arvid Nelson tapi kolaborasinya dengan Karl Gajdusek dan Michael Arndt lah yang menghasilkan skrip film ini. Nyaris setengah durasi awalnya dihabiskan untuk dua hal yakni pengenalan karakter Jack Harper berikut kecanggihan teknologi yang digunakannya dan penjelasan keadaan bumi berikut ancaman serius yang dihadapinya. Lewat pertengahan barulah muncul konflik utama yang segera diikuti penyelesaiannya. Tampaknya tidak terlalu sulit menerka kemana arah cerita akan bergulir.

Cruise adalah mega bintang Hollywood yang nyaris selalu “one man show” di setiap filmnya. Tokoh Jack Harper dimainkannya dengan energik, sensitif dan penuh keingintahuan. In my opinion, he did great, not as bad as people talked about. Riseborough dan Kurylenko memerankan dua pendamping wanita yang karakternya bertentangan. They are good enough to keep Cruise on balance. Sulit mengomentari penampilan Freeman, Coster-Waldau, Leo dll karena tak banyak kesempatan yang diberikan. Nah salah satu permasalahan utama film adalah kurangnya sosok antagonis yang bisa mempertajam konflik.

Kosinski di kursi sutradara mengulangi apa yang dilakukan sebelumnya yaitu pamer kecanggihan spesial efek. Lihat saja basis Harper dan Victoria yang sangat memanjakan mata dengan background langit biru atau kendaraan Harper dalam menjelajah semesta. Keunggulan itulah yang membuat anda cukup yakin merogoh kocek lebih untuk menyaksikan versi IMAX nya. Tak dipungkiri, storytelling miliknya menjadi sedikit terkesampingkan. Pace yang lambat di awal sangat mungkin membuat penonton awam merasa bosan hingga tak terlalu terjerat kepedulian lagi terhadap klimaks yang disuguhkan.

Di satu sisi, Oblivion terlalu memberi keleluasaan bagi penikmatnya untuk memahami konsep film secara utuh. Bagi anda yang menyukai detail, hal ini tentu akan sangat menyenangkan. Di sisi lain, pokok pembicaraannya masih berkisar pada hubungan interpersonal. Tak terlalu mengejutkan memang karena manusia semestinya tetap menggunakan hati dan perasaannya walaupun seburuk apapun situasi yang dihadapi. In the end, it’s about earth and humanity. Our own memories will always stand for who we are and what we do.

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 06 April 2013

PEE MAK : Fun Peek-A-Boo For The Nak-ed Truth


Quote:
Nak: Jika suatu saat aku mati. Dapatkah kau tetap hidup?
Mak: Aku tak dapat hidup tanpamu.


Nice-to-know:
Mencatatkan diri sebagai film Thailand kedua sepanjang masa yang menjadi pengumpul uang terbanyak di hari pertama rilisnya dengan total 21 juta baht di bawah Ong Bak (2003).

Cast:
Mario Maurer
sebagai Mak
Davika Hoorne sebagai Nak
Nattapong Chartpong sebagai Ter
Pongsatorn Jongwilak sebagai Puak
Wiwat Kongrasri sebagai Shin
Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai
Aey

Director:
Merupakan f
eature film keempat bagi Banjong Pisanthanakun setelah terakhir Kuan Meun Ho alias Hello Stranger (2010).

W For Words:
Tiga faktor yang menjadi jaminan kesuksesan besar film ini adalah Mario Maurer, GTH dan legenda urban klasik Nang Nak di Phra Kanong yang sudah demikian melegenda di kalangan masyarakat Thailand. Bagaimana dengan pasar internasional? Rasanya masih dapat berbicara banyak mengingat sutradara Banjong Pisanthanakun telah berhasil menelurkan film-film box office sebelumnya sebut saja dwilogi Phobia (2008-2009) di antaranya yang turut menjadi landasan daya tarik film yang turut menghadirkan Mario di acara meet and greet yang diadakan oleh Blitzmegaplex pada tanggal 7 April 2013 ini.

Tentara Mak yang terluka di medan perang berhasil diselamatkan keempat sahabatnya yang kemudian menyertainya pulang ke kampung halaman Phra Kanong. Di sanalah istri setia Nak telah menunggunya bersama putra mereka yang masih bayi bernama Dang. Rumor berhembus di antara warga desa bahwa sesungguhnya Nak telah meninggal beberapa waktu lalu. Ter, Puak, Shin dan Aey yang mempercayainya segera mencari cara untuk memberitahu Mak tanpa sepengetahuan Nak. Siapa yang hantu dan siapa yang manusia pada akhirnya?

Skrip yang dikerjakan oleh Banjong bersama Chantavit Dhanasevi dan Nontra Khumvong ini masih berpakem pada komedi horor andalan mereka. Nama Ter, Puak, Shin dan Aey sebagai sidekicks bahkan dipertahankan lengkap dengan karakteristik masing-masing. Tokoh Mak pun lebih ditonjolkan ketimbang Nak demi memberikan perspektif yang berbeda. Seperti biasa twist-ending dipersiapkan untuk menipu penonton. Berhasil? Mungkin. Yang jelas perubahan seratus delapan puluh derajat yang terjadi di akhir memang cukup mencengangkan sambil tetap berpegang pada kisah cinta itu sendiri.

Jangan salahkan alasan pemilihan Mario dan debutan Davika yang wajahnya terlihat lebih barat dalam memerankan tokoh pasutri asli Thai karena keduanya terbilang sukses membangun chemistry Mak dan Nak yang awkward sekaligus manis. Jangan ragukan penampilan kuartet “setia kawan” Nattapong, Pongsaton, Wiwat dan Kantapat yang tetap mencuri perhatian kapanpun mereka muncul. Lupakan sejenak penyajian beberapa joke seputar tokoh/film asing yang bisa dibilang tidak relevan dengan jaman kesemua tokoh tersebut hidup mengingat kesempatan lain anda tertawa melihat keempatnya masih amat lebar.
Setting lokasi hutan dan sungai yang terdapat dalam segmen “In The Middle” – 4BIA (2008) kembali digunakan sutradara Banjong sebagai panggung bercerita di samping gubuk tua Mae Nak yang terlihat rapuh tersebut. Durasi keseluruhan yang nyaris dua jam itu seharusnya dipangkas lebih singkat mengingat baru sejam pertama saja sudah merangkum semua situasi dan kondisi yang dialami keenam tokoh utamanya. Trailernya yang diluncurkan sejak bulan lalu sudah berbicara ‘terlampau’ banyak sehingga unsur kejutannya menjadi berkurang.

Tak diragukan lagi, Pee Mak merupakan ‘peremajaan’ yang kreatif dari judul-judul tersebut di atas, bukan remake, bukan sepenuhnya orisinil. Dengan demikian tujuan akhir filmmaker untuk merangkul penonton dewasa dan remaja sekaligus dapat tercapai. Cerdas bukan? Secara pribadi saya memang menyukainya sebagai tontonan menghibur walau tidak sampai menganggapnya spesial. Bagaimanapun juga memanusiakan hantu tetaplah sebuah konsep yang sulit diterima nalar, tak peduli apapun alasan di baliknya. Well, at least it makes you keep guessing for the real Nak-ed truth.

Durasi:
115 menit

U.S Box Office:
21.700.000 baht in opening day Maret 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: