XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label robert downey jr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label robert downey jr. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

IRON MAN 3 : Final Round Technology Bound


Quote:
Tony Stark: Things are different now. I have to protect the one thing that i can’t live without. That’s you.

Nice-to-know:
Jon Favreau batal menyutradarai seri penutup ini karena kebagian proyek Magic Kingdom dan Jersey Boys. Namun demikian ia mengaku lebih leluasa memerankan karakter Happy Hogan di sini.

Cast:
Robert Downey Jr.
sebagai Tony Stark / Iron Man
Gwyneth Paltrow sebagai Pepper Potts
Guy Pearce sebagai Aldrich Killian
Rebecca Hall sebagai Maya Hansen
Ben Kingsley sebagai The Mandarin
Paul Bettany sebagai Jarvis (voice)
Don Cheadle sebagai James Rhodes / War Machine
Jon Favreau sebagai
Happy Hogan

Director:
Shane Black yang mengawali karirnya sebagai penulis film aksi ini menggarap film keduanya setelah Kiss Kiss Bang Bang (2005).

W For Words:
Jika sebuah film superhero sudah mencapai sekuel maka pertaruhannya akan semakin berat. Mengapa? Beberapa di antaranya untuk sekadar menyamai saja gagal. Cuma sedikit yang terbilang sukses mengungguli seri sebelumnya. Bagaimana dengan keluaran Marvel yang satu ini? Well, i’m one of those people who got lucky to see it first during the grand opening of IMAX Kelapa Gading. Hell yeah! Tell you what, saya bukanlah fans setia Iron Man jika dibandingkan dengan karakter pahlawan lainnya. Namun selepas film berakhir dapat tersenyum puas.

Tony Stark kerapkali mengalami serangan panik karena terlalu memikirkan keselamatan kekasihnya Pepper Pots. Ketika mantan kekasih Tony yakni Maya datang, tiba-tiba rumah mereka diserang oleh helikopter hingga berujung pada pemberitaan tewasnya Tony di surat kabar. Saat bersembunyi, Tony berjumpa bocah jenius Harley yang memotivasinya kembali. Sementara itu Mandarin mengancam Presiden Amerika lewat pembajakan siaran televisi. Adakah hubungannya dengan ilmuwan sinting Aldrich Killian yang pernah dikecewakan Tony belasan tahun silam?

Shane Black bersama Drew Pearce yang menulis skrip bersama tampak menggunakan pendekatan yang berbeda dengan dua seri sebelumnya. Seri ketiga yang diyakini sebagai penutup ini murni berfokus pada pergulatan seorang Tony Stark dalam memenuhi ‘kewajiban’ nya baik sebagai kekasih ataupun pahlawan masyarakat. Sisi playboy, narsis dan sok pamernya yang biasa dominan sedikit dikesampingkan. Semua berganti oleh pertukaran dialog sarkastis yang menggigit dengan karakter-karakter di sekelilingnya. 

Sebagai sutradara Black memulainya dengan terlampau ‘biasa’. Begitu memasuki pertengahan barulah bermunculan twist dan turns yang segera menganulir segala keklisean yang ada. Patut dicatat, tidak semua fan base Iron Man akan happy dengan perubahan tersebut. Alih-alih protes banyak bermunculan. Sah-sah saja. Bombardir efek khusus tergolong sesuai kapasitas sebuah film aksi (superhero), terlebih di ending yang lumayan mencengangkan itu. Sementara gimmick 3D ataupun versi IMAX nya hanya berdampak minor karena merupakan hasil konversi.

Downey Jr. memang masih pilihan paling tepat untuk tokoh Tony Stark/Iron Man. Range emosinya yang luas mendapat porsi yang cukup signifikan dalam menerjemahkan semua konflik di dalamnya. Pearce sebagai villain juga terkesan ‘sebanding’ dengan kekuatan dahsyat dan kegilaan kejam yang melandasinya. Menarik mengamati karakter-karakter wanita yang dihidupkan oleh Paltrow, Hall atau Szostak yang mencuri perhatian walau kemunculannya sejenak. Belum lagi kontribusi aktor senior Cheadle, Kingsley hingga si cilik Simpkins. Sutradara terdahulu Favreau turut hadir sebagai Hogan, diikuti dengan sumbangan ‘suara’ milik Bettany sebagai Jarvis.

Iron Man 3 bagi saya adalah yang terbaik dari keseluruhan seri. Saya mendapati esensi sebuah film utuh, tak seperti dua seri sebelumnya yang masih mengesankan film komik. Permasalahan utamanya terbilang baru yakni bagaimana seorang pahlawan super ternyata bisa mengalami krisis ketergantungan dengan teknologi canggih yang selama ini membantunya. Belum lagi pengembangan ‘cinta’ semenjak seri pertama yang biasanya selingan belaka. Penambahan berbagai karakter baru juga kian mempertajam esensi interpersonal nan variatif. Does the journey end? Shall we continue to Avengers 2? Don’t ask, don’t think. Just enjoy this one first as i did!

Durasi:
1
25 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 


Sabtu, 05 Mei 2012

THE AVENGERS : Teamed Up Superheroes And Bang Bang Boom


Quotes:
Loki: What have I to fear?
Tony Stark: The Avengers. That's what we call ourselves. Sort of like a team. Earth's mightiest heroes, type thing.

Nice-to-know:
Film Marvel pertama yang didistribusikan oleh Walt Disney Pictures ini sudah tayang di Amerika Serikat pada tanggal 11 April 2012 yang lalu.

Cast:
Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark / Iron Man
Chris Evans sebagai Steve Rogers / Captain America
Mark Ruffalo sebagai Bruce Banner / The Hulk
Chris Hemsworth sebagai Thor
Scarlett Johansson sebagai Natasha Romanoff / Black Widow
Jeremy Renner sebagai Clint Barton / Hawkeye
Tom Hiddleston sebagai Loki

Director:
Merupakan film kedua bagi Joss Whedon setelah Serenity (2005).

W For Words:
Sulit dipercaya jika keluaran pertama Marvel Studio di tahun 2008 yaitu Iron Man sesungguhnya merupakan proyek perjudian. Nyatanya empat film kemudian yang disusul berturut-turut oleh Iron Man 2 (2010), Thor (2011), Captain America : The First Avenger (2011), kesemua karakter pahlawan super tersebut bersatu-padu dalam sebuah film blockbuster yang diluncurkan sebagai appetizer summer movies tahun 2012 ini sekaligus tayangan pembuka teater IMAX Gandaria City XXI yang baru beroperasi di Indonesia.
Kepala S.H.I.E.L.D sebuah perusahaan penjaga perdamaian dunia, Nick Fury kerapkali berhubungan dengan komite Marvel Super Heroes yang beranggotakan Iron Man, The Incredible Hulk, Thor, Captain America, Hawkeye dan Black Widow. Suatu ketika adik Thor, Loki dan kawanannya bertekad menguasai dunia melalui kubus The Tesseract yang mampu menyerap kekuatan tanpa batas dari dimensi lain. Kini para pahlawan super itu beraksi kembali demi mencegah kerusakan dan kehancuran yang lebih besar lagi.

Komik yang digagas oleh Stan Lee dan Jack Kirby itu kemudian disadur oleh Joss Whedon dan Zak Penn ke dalam skrip yang sangat sederhana dengan tujuan mudah dimengerti oleh penonton yang murni menginginkan sebuah hiburan belaka. Bertindak pula sebagai sutradara, Whedon tampak paham betul bagaimana menghabiskan bujet 220 juta dollar ke dalam eksekusi cerdas nan jitu. Terlepas dari durasinya yang terlalu lama, penonton tidak akan terlalu merasakannya karena sibuk dijejali adegan aksi penuh antusiasme dari awal sampai akhir.
Seperti sudah diduga sebelumnya, Iron Man mendapat porsi terbesar dengan figur Tony Stark yang haus popularitasnya itu. Captain America dan Thor terlihat lebih nyaman di belakangnya melanjutkan apa yang sudah dilanjutkan duet Chris sebelumnya dalam feature film masing-masing. Black Widow memberikan kesan feminisme yang kental apalagi dalam kostum spandex yang seksi itu. Debut penampilan Jeremy Renner sebagai Hawkeye dan Mark Ruffalo sebagai Hulk yang teramat destruktif patut diacungi jempol terlepas dari faktor “kurang terdepan” nya mereka di antara yang lainnya. Jangan khawatir, anda tak akan kehilangan salah satu aksi dari mereka karena kemunculan yang bergantian.

Mengingat Captain America dan Thor sudah dibalut dalam teknologi 3D maka tidak ada alasan film ini muncul tanpa 3D. Jika anda bertanya pada saya apakah 3D nya layak? Saya cenderung menjawab iya. Joss Whedon memang melakukan post-converted di akhir tahun 2011 lalu tetapi sudah cukup memfasilitasi live action movie semacam ini. Pertarungan indoor yang dominan disini mungkin efek 3D nya tidak akan terasa tetapi khusus outdoor –terlebih di pertarungan akhir- jelas terasa karena kedalaman gambar yang signifikan, membuat anda seperti melihat ke luar jendela New York City.
Para pecinta komik The Avengers dipastikan menaruh harapan setinggi-tingginya akan adaptasi teranyarnya ini. Saya pastikan anda tidak akan kecewa! Bagi khalayak umum yang tidak terlalu memfavoritkan komiknya akan tetap menikmati sajian yang tak hanya luar biasa tetapi juga paling menghibur di antara deretan film adaptasi komik lainnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat pahlawan super kesukaan anda belajar untuk kompak sebagai sebuah kesatuan demi rasa kemanusiaan yang tinggi. Kita berharap saja sekuel yang tampaknya tidak terhindari itu tak akan lebih dari sekadar pengulangan belaka.

Durasi:
142 menit

U.S. Box Office:
$178,400,000 till April 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 25 Desember 2011

SHERLOCK HOLMES : A GAME OF SHADOWS Permainan Bayangan Profesor Intelek Ambisius

Quotes:
Professor Moriaty: Are you sure you want to play this game?
Sherlock Holmes: I'm afraid you'd lose.


Storyline:
Dr. Watson berusaha melanjutkan hidupnya dengan menikahi Mary yang ditutup dengan bulan madu di Brighton. Namun Sherlock Holmes tiba-tiba muncul dan mencium gerakan terorisme Prof. Moriarty yang bertekad menciptakan perang besar dengan persenjataan yang dimilikinya. Hadir pula wanita gipsy yang mampu membaca peruntungan Madam Simza yang adiknya Ravache dicurigai terlibat dalam konspirasi. Berbagai usaha hidup mati pun harus dijalani Holmes dan Watson sebelum berklimaks pada istana Reichenbach Falls at the Peace dimana Prof. Moriarty menantang Holmes bermain catur sekaligus mengungkap misteri masing-masing.

Nice-to-know:
Sekuel ini berdasarkan cerita pendek "The Final Problem" karya Sir Arthur Conan Doyle tetapi banyak mengambil aspek dari cerita-cerita Sherlock Holmes lainnya seperti: "The Sign of Four"; "The Greek Interpretor"; "Valley of Fear"; "The Speckled Band"; "The Dying Detective"; "Bruce Partington Plans"; dan "The Second Stain".

Cast:
Sekuel keduanya berturut-turut setelah Iron Man 2 (2010), Robert Downey Jr. meneruskan peran Sherlock Holmes
2011 menjadi tahun tersibuk bagi Jude Law yang baru saja menyelesaikan Hugo sebelum kembali dengan tokoh Dr. John Watson
Noomi Rapace sebagai Madam Simza Heron
Rachel McAdams sebagai Irene Adler
Jared Harris sebagai Professor James Moriarty
Kelly Reilly sebagai Mary Watson

Director:
Merupakan film ketujuh Guy Ritchie yang juga pernah menangani Snatch di tahun 2000.

Comment:
Satu hal mencolok yang menjadi keunggulan Sherlock Holmes (2009) adalah duet Holmes dan Watson yang seringkali ditempatkan pada persimpangan yang memaksa mereka untuk mengambil pilihan yang sulit dan penuh resiko. Tentunya tidak ada yang lebih tepat selain tiga orang di balik kesuksesan adaptasi kisah klasik tersebut yaitu Robert Downey, Jr., Jude Law dan Guy Ritchie yang untungnya tetap setuju untuk memperkuat sekuelnya yang berselang waktu 2 tahun ini.
Kieran dan Michele Mulroney ditunjuk menjadi penulis skripnya dengan mempertahankan karakterisasi yang digagas oleh Sir Arthur Conan Doyle. Hubungan Holmes dan Watson “dibawa” ke tahap selanjutnya saat Watson menikahi Mary di Brighton. Disinilah terasa chemistry yang berbeda dibandingkan prekuelnya dimana unsur “bromance” tereksplorasi dengan lebih eksplisit. Kehadiran antagonis Prof. James Moriarty sebetulnya cukup menarik tapi tidak benar-benar terangkat ke permukaan untuk menjadi ancaman serius.

Downey Jr. masih mempertahankan sisi eksentriknya yang nyaris serupa dengan Jack Sparrow dalam franchise Pirates of the Caribbean tapi dalam nuansa yang lebih gelap layaknya Bruce Wayne dalam The Dark Knight. Kelugasan Holmes menyamar dalam berbagai “bentuk” menjadi highlight tersendiri yang mampu memancing tawa penonton. Law sendiri meskipun berstatus sidekick tetapi mampu menjiwai peran Watson dengan sempurna. Apresiasi patut dilayangkan untuk Rapace yang sukses mempotretkan karakter wanita gipsy Madam Simza dengan dandanan ekspresif nan meyakinkan.
Saya sempat berharap maraknya interaksi antara Holmes dan Moriarty sebagai dua kubu yang berseberangan di sepanjang film. Nyatanya hal tersebut baru terjadi di penghujung cerita dimana keduanya adu strategi bermain catur sekaligus berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan kecerdasan otak masing-masing yang di atas rata-rata itu. Menarik! Sayangnya ancaman perang antara Perancis dan Jerman yang digadang-gadang oleh tokoh pemilik gudang senjata yang diperani oleh Jared Harris itu terkesan semu dan tidak benar-benar dieksploitasi secara logika.

Sutradara Ritchie berusaha menyajikan beraneka adegan aksi yang menjadi nyawa film ini dalam tempo yang cepat. Ini dilakukan untuk menyiasati plot cerita yang memang tergolong berlarut-larut. Desingan peluru dan ledakan bom disana-sini memang lebih menjual dibandingkan prekuelnya. Memorable scenes bagi saya dan tampaknya sebagian besar dari anda pula adalah kejar-kejaran malam hari di tengah hutan yang diselesaikan dengan efek slow-motion yang amat keren. Selebihnya adalah permainan ilustrasi musik dan atmosfir yang diciptakan khusus untuk membangun suasana enerjik film.
Sherlock Holmes: A Game of Shadows memang tidak seberat yang diperkirakan walaupun ide yang lumayan sederhana itu harus diseret sedemikian rupa demi menciptakan suatu hiburan panjang. Interaksi menggigit penuh humor antara Downey, Jr. dan Law dalam adu taktik dengan musuh-musuh mereka serta penyutradaraan stylish ala British dari Ritchie lagi-lagi membawa sekuel ini berdaya jual tinggi. Kagumilah visualisasi noir dunia Eropa yang cantik sambil menyelami pikiran seorang Sherlock Holmes yang bisa menipu anda mentah-mentah bahkan sebelum anda sempat melangkah maju.

Durasi:
129 menit

U.S. Box Office:
$39,637,079 in opening week of mid Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 10 Desember 2010

DUE DATE : Perjalanan Mimpi Buruk Tak Terduga

Quotes:
Ethan Tremblay: Did you call me over here to apologize?
Peter Highman: What? Fuck You!

Storyline:
Peter Highman hanya memiliki waktu 5 hari untuk pergi ke Los Angeles dari Atlanta sebelum kelahiran putra pertamanya dimana istrinya Sarah menunggu. Sayangnya di airport, lewat serangkaian kejadian semenjak bertemu pemain teater bernama Ethan Tremblay, Peter mengalami kesialan terutama namanya masuk dalam daftar dilarang terbang. Ethan yang ditemani bulldog kesayangan bernama Sonny menawarkan tumpangan yang kemudian terpaksa diterima Peter untuk melintasi negara bagian termasuk cita-cita Ethan yaitu Hollywood dan tempat menabur abu almarhum ayahnya yakni Grand Canyon. Akankah keputusan Peter itu akan disesalinya di kemudian hari?

Nice-to-know:
Diselundupkan ke bioskop dengan nama "Maternity Day"

Cast:
Baru saja menyelesaikan peran Tony Stark dalam Iron Man 2, Robert Downey Jr. bermain sebagai Peter Highman yang sangat diuji batas kesabaran dan kemanusiaannya dalam perjalanan menunggui istrinya yang akan melahirkan.
Bermain dalam dua film drama komedi di tahun ini yaitu It's Kind of a Funny Story dan Dinner for Schmucks, Zack Galifianakis berperan sebagai Ethan Tremblay/Chase yang terobsesi untuk menjadi bintang di Hollywood.
Michelle Monaghan sebagai Sarah Highman
Jamie Foxx sebagai Darryl
Juliette Lewis sebagai Heidi

Director:
Nama Todd Phillips mencuat setelah kesuksesan tak terduga dari The Hangover (2009) yang akan dilanjutkan dengan sekuelnya tahun depan.

Comment:
Ada 2 hal yang perlu saya ingatkan sebelum anda memutuskan untuk menonton film ini. Pertama, ini adalah komedi, jadi singkirkan cara pikir rasional anda untuk sejenak. Kedua, pastikan anda sudah mengenal gaya Todd Phillips sebelumnya yaitu The Hangover. Jika anda bisa menerima kedua fakta tersebut, bisa jadi penilaian anda tidak akan jauh berbeda dari apa yang saya berikan. Namun jika tidak, rasanya anda akan mengganggap film ini sinting.
Oke dalam hal cast kita punya Downey Jr. dan Galifianakis yang teramat sangat mendominasi film ini. Dari awal sampai akhir mereka akan saling bertukar interaksi yang penuh humor slapstick termasuk dari dialog dan bahasa tubuh masing-masing. Harus diakui karakter Peter dan Ethan yang saling berseberangan itu bukanlah karakter yang mudah menarik simpati audiens. Penyebabnya adalah krisis identitas Ethan yang cukup mengganggu dan emosi terpendam Peter yang mengindahkan empati itu. Namun bagaimanapun juga chemistry keduanya tetaplah nilai jual utama. Downey Jr. tetap terlihat cool dan Galifianakis freak. Perpaduan 360 derajat yang merupakan makanan empuk bagi komedi situasi seperti ini.
Sutradara Phillips dapat dikatakan melakukan pengulangan beberapa elemen dari The Hangover seperti pasangan hidup yang menunggu nun jauh disana (dulu Barrese, kini Monaghan), karakter pendukung pria kulit hitam yang ternama (dulu Tyson, kini Foxx), pelacur yang numpang lewat (dulu Graham, kini Lewis) serta ganja ataupun drugs yang mengaburkan kesadaran Tidak salah sepanjang masih dapat dihadirkan dengan tema yang fresh dan eksekusi yang kreatif.
Kesimpulan akhir, Due Date cukup menghibur bagi saya yang mampu terpingkal-pingkal selepas kepenatan jam kerja yang ketat itu. Namun yang disayangkan adalah endingnya yang terkesan "too easy" dan tidak ada kejutan yang berarti. See it if you are a fan of Downey Jr. and acceptable for the concept of over-the-top comedy road-movie style.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$90,882,138 till early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 Mei 2010

IRON MAN 2 : Kehidupan Gemerlap Tony Stark Incaran Musuh Baru

Quotes:
Tony Stark-I am Iron Man. The suit and I are one.
Justin Hammer-I wanna make Iron Man look like an antique.

Storyline:
Kini dunia sudah mengakui Tony Stark sebagai pahlawan super Iron Man dan juga milyuner penemu yang sukses. Hal tersebut memicu tekanan yang ditimbulkan oleh Pemerintah, pers, khalayak umum yang memaksa Tony berbagi rahasia teknologi yang digunakannya kepada bidang militer. Sementara itu saingan Tony, Justin Hammer berusaha keras menemukan teknologi yang sama hingga berjumpa dengan Ivan Vanko, fisikawan sekaligus putra penemu yang pernah bekerjasama dengan ayah Tony. Keduanya membentuk kekuatan baru yang mengerikan. Setelah menyerahkan Stark Enterprise kepada asisten sekaligus kekasihnya, Pepper Pots dan karyawan baru yang cerdas, Natalie Rushman, Tony pun berusaha menyelamatkan dunia sekali lagi dengan bantuan temannya Letnan Kolonel James "Rhodey" Rhodes

Nice-to-know:
Scarlett Johansson telanjur mengecat rambutnya menjadi merah sebelum dipastikan mendapatkan peran Black Widow yang awalnya ditawarkan kepada Emily Blunt yang akhirnya mundur karena jadwal syuting Gulliver's Travels (2010).

Act:
Dua tokoh utama, Robert Downey, JR dan Gwyneth Paltrow masih menokohkan Tony Stark alias Iron Man dan kekasih asistennya Pepper Pots.
Dua pendatang baru dalam sekuel ini yang memegang peran cukup penting adalah Scarlett Johansson sebagai Natalie Rushman dan Don Cheadle sebagai James Rhodes yang menggantikan Terrence Howard yang tidak sepakat dengan Marvel Studios.
Dua karakter antagonis, Justin Hammer dan Ivan Vanko masing-masing dipegang oleh Sam Rockwell dan Mickey Rourke.

Director:
Nominasi besar pertamanya diraih di Emmy Award lewat Dinner For Five (2001), kini Jon Favreau tergolong sutradara sukses yang sudah mengarahkan beberapa film box-office dari periode 1990an hingga sekarang.

Comment:
Tanpa pengenalan karakter lagi, sekuel ini langsung dibuka dengan pengenalan kehidupan Tony Stark sebagai superhero selebritis miliarder yang glamor pede kalau tidak mau dibilang congkak. Terkadang penonton akan merasa muak melihatnya tapi itulah Downey yang berhasil membawakan karakter pahlawan secara berbeda dengan gaya tersendiri. Paltrow masih tampak anggun dan cerdas sedangkan Johansson cantik dingin juga tangguh sebagai tokoh baru disini. Sutradara Favreau masih mempertahankan tone yang kurang lebih sama dengan prekuelnya. Adegan aksinya lebih ke arah penghancuran memang terasa megah walau tidak terlalu intens, terutama di awal dan akhir film. Namun apa yang terjadi di pertengahan? Sepertinya agak sedikit slow dengan perjalanan cerita yang berangsur reda, banyak sekali tempelan adegan yang tidak terlalu penting dan seharusnya bisa dihilangkan saja karena tidak mengganggu cerita. Endingnya juga terasa dipermudah, bahkan sebelum anda berekspektasi lebih, sudah diselesaikan. Kesimpulannya, Iron Man 2 "hanya" sedikit lebih baik dari prekuelnya yang terkesan lebih gelap dan provokatif di bagian awal dan akhir tetapi penilaian lengkap masih belum mampu menyamai Iron Man 1. Semoga tidak akan ada seri ketiganya kecuali betul-betul dipersiapkan secara matang.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 02 Januari 2010

SHERLOCK HOLMES : Duet Kompak Detektif dan Dokter Menelusuri Misteri

Quotes:
Sherlock Holmes-You've never complained about my methods before. Dr. John Watson-I've never complained! When have I ever complained about you practicing the violin at three in the morning, or your mess? Your general lack of hygiene or the fact that you steal my clothes?

Storyline:
Setelah akhirnya menangkap pembunuh berantai gadis-gadis muda dan "penyihir" Lord Blackwood yang akhirnya dihukum gantung, detektif legendaris Sherlock Holmes dan tandemnya Dr. John Watson dengan mudahnya memecahkan berbagai kasus. Namun "kebangkitan" Lord Blackwood dari liang kubur dan bertekad membunuh tiga korban lagi, Holmes harus bekerja lebih keras lagi dalam perburuan tersebut. Dalam perjalanannya, berurusan dengan tunangan baru Watson, kepala Scotland Yard Inspektur Lestrade dan juga godaan wanita misterius Irene Adler. Pada akhirnya tuntutannya hanyalah satu, Holmes harus lebih pintar dalam menghadapi kasus yang penuh tipuan dan ilmu hitam


Nice-to-know:
Beberapa lokasi di Inggris Raya disetting menjadi kota tua seperti Brompton Cemetery, Bunsen Street, Chatham Docks, Finsbury, Freemason's Hall, Little Lever Street, Manchester Town Hall, Mangle Street, Newton Street dan St. Paul's Cathedral serta sedikit scene di New York City.


Cast:

Aktor senior yang pertama kali dinominasikan Aktor Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat Chaplin (1992), Robert Downey Jr. kini kebagian karakter legendaris Sherlock Holmes yang pintar dan eksentrik.

Aktor papan atas kelahiran Inggris yang dinominasikan Aktor Pendukung Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat The Talented Mr. Ripley (1999), Jude Law berperan sebagai Dr. John Watson, asisten Holmes yang sangat ilmiah.

Peran antagonis Lord Blackwood dan wanita misterius Irene Adler dipegang oleh Mark Strong dan Rachel McAdams.


Director:
Sutradara eksentrik kelahiran Inggris 41 tahun lalu, Guy Ritchie mulai angkat nama di perfilman dunia setelah film keduanya yaitu Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) mencapai status cult.

Comment:
Remake yang bisa dibilang sesuai dengan kondisi masa kini. Acungan jempol untuk sutradara Ritchie yang berhasil melakukan delivery dengan sangat baik serta tensi yang terjaga sepanjang film sehingga dua jam tidak terlalu dirasakan oleh penonton. Lihat bagaimana ia bermain dengan fast track dan slow motion yang sangat menarik terutama untuk berbagai adegan aksi yang porsinya pas tanpa mengganggu keseimbangan tema. Plot cerita disesuaikan dengan literatur yang terfokus pada Holmes dan Watson dalam memecahkan misteri demi misteri. Penjiwaan Downey Jr. terhadap Holmes yang kecanduan alkohol, gemar berlatih beladiri, hobi menyamar dan seringkali mengejek orang-orang di sekitarnya nyaris sempurna. Chemistrynya bersama Watson terasa pas yang juga dimainkan dengan berkarisma tinggi oleh Law. Strong menampilkan karakter Lord Blackwood dengan misterius, picik dan menyeramkan. Belum lagi McAdams yang memberi nuansa cantik berbahaya, sulit ditebak untuk karakter Irene Adler. Semua itu menjadikan jajaran cast yang sangat menjanjikan. Tim produksi juga sukses memvisualisasikan kota tua London dengan indah dan sesuai mood pada masanya. Versi Sherlock Holmes terbaru ini bisa dikatakan yang terbaik dari karya-karya Sir Arthur Conan Doyle manapun dari berbagai aspek yang ditawarkannya.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$62,390,000 in end of Dec 2009 (opening week)

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 12 Desember 2008

TROPIC THUNDER : "Kisah" Di Balik Pembuatan Film Perang Vietnam

Quotes:
Kirk Lazarus-I don't read the script. The script reads me.
----------

Tugg Speedman-This is insane. Are you really going to abandon this movie? We're supposed to be a unit!
Kirk Lazarus-Suck my unit.

Cerita:
Dengan narasi John "Four Leaf" Tayback, kita diajak untuk menyaksikan perang Vietnam dalam film aksi "Tropic Thunder" dengan empat karakter utama Tugg Speedman, Kirk Lazarus, Alpa Chino dan Jeff Portnoy. Sayangnya adegan ledakan yang dirancang dengan bujet besar malah terjadi sebelum waktunya. Sang sutradara, Damien Cockburn menjadi murka apalagi setelah dicaci-maki sang big boss Les Grosman. Maka Damien pun merancang "naskah buatan" bagi keempat aktor yang sebetulnya memiliki masalah masing-masing dengan karirnya itu ke dalam situasi sungguhan di pedalaman Vietnam dengan beberapa kamera tersembunyi. Bersama aktor muda Kevin Sandusky, mereka berusaha survive dari komunitas Vietnam pemasok heroin terbesar di Asia. Bagaimana mereka bisa mengakhiri semua itu dan bertindak layaknya megabintang untuk menyelamatkan karir akting masing-masing?

Gambar:
Kita diajak melihat setting langsung dari lokasi syuting Tropic Thunder di hutan Vietnam dimana semua masih terlihat asri. Ditambah beberapa adegan di ruang produser kaya yang mewah beserta atribut kru yang membantunya. Semua terlihat natural dan "menipu" sudut pandang penonton.

Act:
Tiga aktor tenar yang banyak angkat nama di genre komedi yakni Ben Stiller, Jack Black, Robert Downey JR seperti memfilmkan keseharian mereka saat syuting dengan karakter khasnya masing-masing. Hasilnya cukup membanggakan sebagai sebuah tontonan sekaligus parodi.
Beberapa nama tenar seperti Tom Cruise, Matthew McConaughey, Nick Nolte turut mengisi peran kecil di film ini serta jangan lupakan beberapa cameo seperti Jack Nicholson, Tobey Maguire, Jon Voight, Alicia Silverstone menjadi diri mereka sendiri.

Sutradara:
Pengalaman Ben Stiller dalam menyutradarai memang belum banyak namun beberapa dari sedikit itu justru menunjukkan bakatnya sebagai sutradara. Kali ini harus diakui Ben sangat terampil menggarap ide cerita menjadi sesuatu yang fresh dan jarang sekali diekspos, ditambah dengan cast bintang-bintang ternama yang sangat menjual.

Komentar:
Opening yang memperlihatkan trailer dari Alpa Chino, minuman energi "Booty Sweat" dan cokelat batangan "Bust-A-Nut" sambil menyanyikan lagu "I Love Tha' Pussy"; Tugg Speedman's dalam 'Scorcher VI: Global Meltdown'; Jeff Portnoy dalam 'The Fatties: Fart 2'; pemenang lima Oscar Kirk Lazarus dalam 'Satan's Alley' dijamin bakal mengocok perut anda. Film ini sangat kreatif karena membuka mata penonton tentang semua hal yang biasa terjadi saat syuting pembuatan film. Salah satu film wajib tonton tahun ini walau humor yang ditawarkan masih kental dengan gaya Hollywood.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office (till end of Sep):
$108,768,665

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 02 Maret 2007

ZODIAC : Mengusut Jejak Pembunuh Serial Misterius

Quotes:
Robert Graysmith-Doesn't it bother you that people call you Shorty?
Shorty-Doesn't it bother you that people call you retard?
Robert Graysmith-Nobody calls me that.
Shorty-Right.

Cerita:
Seorang kartunis yang bekerja untuk surat kabar San Fransisco, Robert Graysmith berteman dengan seorang reporter yang sering mabuk-mabukan, Paul Avery. Keduanya seringkali bertukar pendapat tentang pembunuh serial yang disebut Zodiac. Robert kemudian terobsesi dengan kasus tersebut di saat Paul semakin tenggelam dalam dunia alkohol. Robert kemudian berkenalan dengan inspektur polisi, David Toschi yang gagal menangkap penjahat yang pandai meniru tulisan tangan, Sherwood Morrill dan Linda del Buono yang pernah dekat dengan korban Zodiac.

Gambar:
Sebagian besar setting jalan, apartemen, TKP dibuat di Downey Studios di LA, California dengan latar belakang San Fransisco dimasukkan secara digital untuk melengkapi scene.

Act:
Aktor muda yang memulai karir sejak berusia 11 tahun dalam City Slickers (1991), Jake Gyllenhaal memiliki masa depan cerah di Hollywood. Hal itu dibuktikannya saat memerankan Robert Graysmith yang optimis dan cerdas.
Saat ini memulai karir sebagai sutradara dalam Sympathy For Delicious (2009), Mark Ruffalo sementara waktu berperan sebagai inspektur David Toschi dalam film yang diangkat dari novel laris ini.
Robert Downey, JR yang seakan menjadi dirinya sendiri sebagai Paul Avery yang kehilangan kontrol akibat alkohol, sama halnya seperti kehidupan nyatanya belakangan ini.

Sutradara:
Berangkat dari sutradara video klip, David Fincher menjelma menjadi salah satu sutradara papan atas Hollywood. Mengadaptasi Zodiac yang diinspirasi dari kisah nyata dan dibukukan bukanlah hal mudah. Namun tangan dingin Fincher berhasil mengantarkan Zodiac bukan hanya film detektif biasa tapi lebih dari itu.

Komentar:
Cenderung mendapat review yang baik dimanapun, film ini bukan merupakan konsumsi umum. Dikarenakan alur yang lambat, durasi yang panjang, plot cerita yang membingungkan karena didasarkan pada kejadian nyata yang mungkin hanya diketahui publik Amerika saja menjadikan Zodiac film yang keren tetapi sulit untuk dinikmati. Terbukti dari hasil box-office nya yang biasa saja.

Durasi:
100 menit

U.S. Box-Office:
$33,048,353 till April 2007

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!