XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label raditya dika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raditya dika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

MANUSIA SETENGAH SALMON : Analogi Perpindahan Rumah dan Hati


Quote:
Mama: Kalo kita mau pindah ke tempat yang baru, kita juga harus siap untuk meninggalkan yang lama.

Nice-to-know:
Pergantian sutradara dari Fajar Nugros di Cinta Brontosaurus dimaksudkan untuk mengubah suasana dan tone film secara keseluruhan.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Kimberly Ryder sebagai Patricia
Eriska Rein sebagai Jessica
Bucek sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Mosidik sebagai Christian, editor buku
Insan Nur Akbar sebagai
Sugiman, sopir

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Herdanius Larobu yang juga menggarap efek visual sendiri.

W For Words:
Saat ditanya wartawan mengapa 'rajin' sekali menggunakan binatang sebagai judul ceritanya, Raditya Dika mengatakan bahwa binatang memiliki sifat yang khas sehingga dapat dijadikan perumpamaan. Brontosaurus mewakili sesuatu yang usang, kadaluwarsa. Sedangkan Salmon dipercaya selalu berpindah-pindah selama menempuh jarak 1.448 km untuk menemukan pasangannya. Film ini sendiri adalah kelanjutan dari Indonesian summer hit lalu yang sampai hari ini masih tercatat sebagai film terlaris tahun 2013. Fenomenal? Bisa jadi! Tapi tidak mengejutkan mengingat fanbase Dika begitu luas.

Ketika ibunya memutuskan pindah dari rumah semasa dia kecil, Dika yang juga seorang penulis masih berjuang untuk pindah dari hati Jessica yang sudah meninggalkannya. Saat berbicara dengan temannya Rizky, Dika bertemu cewek cantik Patricia yang bekas teman sekolahnya dulu. Pendekatan berjalan lancar hingga keduanya sepakat jadian. Masalah mulai muncul tatkala Patricia mengetahui isi hati Dika yang sesungguhnya. Sementara itu pencarian rumah baru bersama ibunya tak kunjung berakhir selain ayah Dika yang merasa hubungan dengan putranya sendiri kian berjarak. 

Dika sebagai penulis skrip tahu betul bagaimana memasukan 'his real life stories' untuk dirasakan, bahkan ditertawakan pula oleh penonton. Karakter ayah, ibu, adik-adik, teman-teman bahkan sopirnya silih berganti masuk frame untuk memperkaya plot sehingga film ini dapat dikategorikan family movies. Urusan hati tetap mendapat porsinya sendiri, terwakili oleh sang mantan yang masih hilir mudik dalam hidup Dika maupun kekasih anyar yang mempertanyakan keseriusan Dika. Secara konten memang harus diakui lebih kaya dibandingkan prekuelnya yang terlampau linier karena banyak bicara tentang ego itu.


Sutradara Larobu yang lebih dikenal dengan sebutan Capluk itu nyatanya bukan orang baru di bidang perfilman. Produser Chand Parwez mengaku sudah mengenalnya sejak Kafir / Satanic (2001). Kesempatan menggarap feature film debutnya tak disia-siakan. Kejelian menangkap momen jelas nilai plus dalam produksi di samping pemilihan setting 'sehari-hari' yang cukup variatif. Dukungan sinematografi Yadi Sugandi, editing rapi Cesa David, scoring music Andhika Triyadi dan desain Khikmawan serta sumbangan lagu tema dari HiVi semakin melengkapi unsur entertainment nya.
Dika memang terlihat lebih 'simpatik' di sini meski dari segi akting tidak jauh berbeda dari apa yang sudah-sudah. Hadirnya Kimberly menambah value dengan pesona dan keluwesannya membawakan tokoh. Dewi Irawan dan Bucek menyuguhkan nuansa komedik lewat tipikalitas figur ibu dan ayah yang kental. Insan Nur Akbar sukses mencuri perhatian dengan karakter supir Jawa lugu nan mengganggu. Standup comedian Mosidik turut andil sebagai editor Christian layaknya hantu yang bisa muncul dimana-mana. Deretan aktor-aktris langganan Starvision mengisi deretan extra/cameo. Can you guess all of them?

Saya bisa katakan, Manusia Setengah Salmon mungkin akan lebih bersahabat pada penonton non-fans Raditya Dika. Rangkaian ceritanya yang mengalir datar setidaknya masih bisa diamini karena begitu dekat dengan kenyataan. Dika berhasil menganalogikan ‘rumah’ dan ‘hati’ dengan pas tanpa harus kehilangan korelasi satu sama lain. Siapa sih yang tidak pernah merasakan sulitnya 'move on' dari kondisi yang sudah sangat dikenal sebelumnya? We tend to be afraid with new situations instead of accept it as a challenge. For worse or even better, life must go on, right?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 07 Mei 2013

CINTA BRONTOSAURUS : Love Expires But Remains Still


Quote:
Dika: Gue butuh cewe yang kalo gue ngeliat gue ga kebayang putusnya bakal kayak gimana.

Nice-to-know:
Jika anda cermati seluruh karakter pria dalam film ini mengenakan kacamata.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Eriska Rein sebagai Jessica
Soleh Solihun sebagai Kosasih
Ronny P. Tjandra sebagai Soe Lim
Bucek Depp sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Meriam Bellina sebagai Mama Jessica
Tyas Mirasih sebagai Wanda

Director:
Merupakan film ketiga bagi Fajar Nugros setelah Cinta Di Saku Celana (2012).

W For Words:
Dika Angkasaputra Moerwani yang lebih dikenal dengan nama Raditya Dika adalah seorang novelis jenaka yang kontan tenar sejak menerbitkan Kambing Jantan di tahun 2005 yang segera disusul empat judul berikutnya dengan status keseluruhan best seller! Empat tahun setelah bukunya, adaptasi layar lebar Kambing Jantan segera diproduksi oleh Indika Pictures dan Vito Production di tahun 2009. Saat itu Dika merambah layar lebar dan digarap langsung oleh sutradara kondang Rudy Soedjarwo. Empat tahun kemudian, giliran buku keduanya difilmkan. Penasaran? 

Kerap diputuskan kekasihnya dalam waktu singkat, Dika memilih percaya pada konsep cinta itu bisa kadaluarsa. Semua uneg-uneg nya sejak masa kecil tertuang pada buku terbarunya, Cinta Brontosaurus. Adalah produser film Soe Lim yang tertarik mengadaptasi karyanya tersebut ke layar lebar. Tawaran yang kemudian diamini oleh agennya, Kosasih yang memang sedang membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya Wanda yang boros. Tanpa sengaja, Dika justru berkenalan dengan Jessica yang tak dipungkiri memiliki pemikiran setipe dengannya. Mungkinkah pandangannya berubah?

Skrip yang terinspirasi dari kisah nyata percintaan semasa hidup seorang Raditya Dika ini memang terbilang sangat jujur. Bukan hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga kaum pria secara umum. Siapa sih yang tidak pernah ditolak cewe? Berapa kali anda pernah mengalami putus cinta? Jawaban yang dapat dipastikan frekuentif itu dirasa cukup untuk menjadi ‘nyawa’ film. Nyatanya tidak. Begitu menit-menit awal yang menjanjikan berlalu, yang tersisa adalah menit-menit yang agak membosankan karena konflik cerita yang terasa ditarik ulur kesana kemari.

Pertama, ada produser film sohor Soe Lim yang begitu rajin mengedepankan segala sosok ‘hantu’ di kancah perfilman nasional. Jangan salah. Ronny P. Tjandra sudah melakukannya dengan gaya eksentrik yang memikat. Namun pola sindiran terhadap pihak tertentu yang dianut tampaknya belum terlalu kuat menjalankan fungsinya. Kedua, ada rumah tangga Kosasih dan Wanda yang didominasi oleh masalah uang. Tanpa latar belakang mereka yang memadai membuat penonton sulit untuk larut dalam keprihatinan yang dikondisikan sedemikian rupa. Di satu sisi, Soleh lumayan berhasil memberikan nyawa tapi tidak halnya dengan Tyas yang berakting satu dimensi.

Sutradara Nugros selama ini saya kenal sebagai storyteller yang baik. Ia sudah melakukan upaya terbaiknya untuk mengemas kisah yang sesungguhnya biasa-biasa saja itu ke dalam tontonan yang mengalir. Tak sepenuhnya berhasil karena masih ada berbagai pengulangan yang tipikal dan tak jarang membuat penonton letih mengikutinya. Beruntung alunan suara HiVi! lewat suguhan tiga tembang manisnya sedikit banyak memberi esensi fun. Permainan kamera yang dinamis dari Yadi Sugandi dan editing yang rapi dari Cesa David juga menghadirkan nilai plus yang dibutuhkan.

Raditya Dika dari tahun ke tahun merupakan figur komedian yang khas. Tidak semua sasarannya lucu, banyak di antaranya cenderung datar saja. Butuh lebih dari sekadar fans untuk bisa tertawa mengikuti jalan pikirannya. Namun sebagai aktor, saya melihat peningkatan positif dibandingkan film sebelumnya. Eriska Rein dapat dikatakan beruntung mampu menjadi leading act hanya di film ketiganya ini menjadi pasangan yang pas. Walau Jessica digambarkan sebagai cewek freak dengan segala polah tingkah dan pemikiran ajaibnya, ia tetap girly dan loveable.

Cinta Brontosaurus secara cerdas kali ini menggandeng provider XL yang juga tengah melakukan peluncuran perdana program NONTON demi viral marketing yang lebih luas lagi. Terlepas dari formula cinta yang cheesy dan efektifitas lelucon yang minim, setidaknya produksi terbaru Starvision ini masih cukup akrab menyapa penonton remaja hingga dewasa muda yang kerap mempertanyakan arti cinta ataupun teori batas waktu pacaran yang sedianya berlaku. Masih butuh jawaban? Ayo coba dipikirkan kembali matang-matang.

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

*Bespeak for Starvision/Fajar Nugros

Jumat, 02 Oktober 2009

MALING KUTANG : Kutang Tua Menjadi Incaran Kesalahpahaman

Cerita:
1973, nenek Sugeni berduka saat kehilangan suaminya yang tewas ditabrak wagon setelah membelikan kutang merah biru polkadot berumbai-rumbai emas. Kenangan terus membekas sehingga Sugeni yang tidak pandai mencari uang dituntut menjadi banci untuk mendapatkan uang dengan mudah?! Secara tidak sengaja, Sugeni menghilangkan kutang tersebut yang jatuh ke tangan Ina, pemilik toko kelontong sukses. Lewat kejadian tak disengaja, tetangga sekaligus saingan Ina yakni Syamsul dan Yuyun mengasumsikan Ina menyembah kutang norak tersebut. Berbagai cara kocak mereka lakukan untuk mendapatkannya. Seketika, kutang itupun menjadi rebutan berbagai pihak..

Gambar:
Berbagai scene karikatural selayaknya komedi DKI tahun 80an muncul kembali disini. Lengkap dengan beberapa pelesetan kejadian ataupun tokoh-tokoh ternama.

Act:
Arie K. Untung sebagai Sugeni
Indra Birowo sebagai Syamsul
Deswita Maharani sebagai Yuyun
Kinaryosih sebagai Ina
Sogi Indra Huaja

Sutradara:
Serasa stripping sinetron, Rako Prijanto meluncurkan film ketiganya dalam bulan-bulan terakhir ini setelah KCK dan Preman In Love! Masih mengangkat tema komedi, kali ini ia bekerjasama dengan penulis novel remaja, Raditya Dika yang baru saja sukses dengan Kambing Jantan.

Komentar:
Entah ide gila apa yang muncul di kepala Raditya Dika saat menulis cerita film ini dan didukung dengan visualisasi kacaunya Rako hingga menghasilkan film semacam ini! Dari plot cerita memang fresh tetapi tidak didukung logika yang baik sehingga terkesan membodohi penonton. Dari sisi humor, seakan kembali ke jaman dahulu dimana lelucon pengocok tawa memang terasa tradisional alami, sayangnya tidak relevan dengan subplot cerita yang berlapis-lapis. Dari segi cast, tetap sulit menyukai salah satu dari beberapa karakter utama tersebut dikarenakan tampilan norak yang ditonjolkan mereka. Alhasil Maling Kutang hanya akan membuat kening kita berkerut saat menyaksikannya termasuk saya yang kadang bingung dengan orang-orang di sekitar yang masih bisa tertawa dengan dagelan yang ditawarkannya, yang menurut saya tidak lucu samasekali. Semoga dengan open ending, tidak akan ada sekuelnya di masa mendatang..

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can't be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 08 Maret 2009

KAMBING JANTAN : Suka Duka Long Distance Relationship dan Kuliah Finance

Cerita:
Karena dilahirkan di klinik dokter hewan, Dika menjuluki dirinya KAMBING. Sejak kecil ia sudah berusaha mencari soulmatenya dengan mengirimkan surat cinta kepada teman-teman sekolahnya yang berlainan jenis mulai dari SD sampai SMA. Usahanya kadang berhasil kadang gagal hingga akhirnya bertemu sang pujaan hati yang dijulukinya KEBO! Kambing dan kebo yang sama-sama hobi bermusik membentuk sebuah band sambil merajut tali cinta mereka. Ujian muncul saat mereka menapaki jenjang kuliah dimana kambing dipaksa menuruti kemauan orangtuanya untuk mengambil kuliah finance di Adelaide. Hubungan jarak jauh yang rumit disertai dengan kondisi keuangan yang pas-pasan membuat Dika bingung, apalagi harus menjalani studi yang sebenarnya tidak disukai dan dikuasainya. Bagaimana Dika menghadapi semua persoalan pelik tersebut sekaligus mencari akhir bahagia untuk dirinya?

Gambar:
Setting Indonesia Australia mendapat porsi yang cukup disertai dengan beberapa visualisasi imajinatif yang menarik.

Act:
Raditya Dika yang telah menelurkan beberapa buku ringan dan juga penulis blog populer kali ini memerankan dirinya sendiri. Hasilnya tampak natural dan pas walau ia mengaku tidak mempunyai referensi khusus dalam berakting.
Herfiza Novianti sebagai Kebo memperlihatkan akting yang cukup menarik terutama transformasinya dari siswi manis penyuka musik sampai menjadi mahasiswi pecinta sastra Cina.
Edric Tjandra paling mendapat kredit atas perannya yang memikat sebagai Haryanto, sahabat seperjuangan Dika.
Didukung pula oleh Sarah Safitri sebagai Ine, Meity Josefina dan Pong Hardjatmo sebagai Mama dan Papa Dika.

Sutradara:
Rudy Soedjarwo yang beberapa karya terakhirnya kurang mendapat sambutan boleh dikatakan kembali ke kiblat awalnya. Rudi memang cenderung lebih baik membuat film ringan dengan serius dibandingkan film serius tapi berusaha dibuat ringan dan itu dibuktikan lewat Kambing Jantan. Terjemahan bebas dari blog/novel yang cukup mulus dan terjaga untuk tidak melenceng dari pakemnya.

Komentar:
Jika anda membaca blog atau bukunya terlebih dahulu dan mengenal siapa itu Raditya Dika mungkin tidak akan asing lagi dengan isi film ini. Memang tidak mudah memvisualisasikan apa yang sudah tertuang dalam tulisan karena pasti ada something missing dalam prosesnya. Terbukti kadang-kadang film ini seperti "lelah" dalam menyampaikan isinya yang penuh keanekaragaman aspek anak muda. Terlepas dari itu saya mendapati Kambing Jantan The Movie ini sebagai hiburan segar dan beda untuk penonton kalangan remaja karena merupakan film lokal pertama yang diangkat dari blog. Jika sukses, bukan tidak mungkin kita akan melihat karya-karya Raditya Dika lain yang diangkat ke layar lebar.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!