XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 18 Desember 2010

TRON LEGACY : Petualangan Penyelamatan Di Dunia Cyber

Quotes:
Alan Bradley: I promised you that if I ever got any information about your dad, I'd tell you first, right? I was paged last night; came from your dad's office at the arcade.
Sam Flynn: So?
Alan Bradley: "So?" That number has been disconnected for twenty years! Two nights before he disappeared, he came to my house. He said he was about to change everything - science, medicine, religion. He wouldn't have left that, Sam. He wouldn't have left you.

Storyline:
Di usia 27 tahun, Sam Flynn tumbuh menjadi seorang pemberontak akibat ditinggal ayahnya, Kevin Flynn yang menghilang secara misterius sejak ia kecil. Kevin sendiri pernah dikenal sebagai pengembang video game terbaik di seluruh dunia dan kini hanya tertingggal Flynn's Arcade yang sudah terbengkalai. Pada suatu malam, Sam menangkap signal aneh dari Flynn's Arcade yang disinyalir datang dari ayahnya yang mungkin saja terperangkap selama 20 tahun di dalam dunia cyber. Dibantu Quorra, Sam akhirnya bertemu kembali dengan Kevin. Sayangnya kehidupan dunia cyber tersebut sudah berkembang sedemikian rupa hingga menciptakan sosok penguasa yang tidak akan membiarkan ketiganya lolos dari sana. Berhasilkah Sam membawa ayahnya kembali ke dunia?

Nice-to-know:
Syuting film ini hanya menghabiskan waktu 64 hari tetapi paska produksinya membutuhkan 68 minggu karena kompleksitas spesial efeknya.

Cast:
Meneruskan peran ganda Kevin Flynn / Clu, Jeff Bridges pertama kali terlibat dalam TRON (1982).
Mengawali karir aktingnya dalam Troy (2004), Garrett Hedlund disini bermain sebagai Sam Flynn.
Baru saja terlihat dalam The Next Three Days yang rilis bersamaan, Olivia Wilde kebagian karakter Quorra
Bruce Boxleitner sebagai Alan Bradley / Tron
James Frain sebagai Jarvis
Beau Garrett sebagai Gem
Michael Sheen sebagai Castor / Zuse
Anis Cheurfa sebagai Rinzler

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Joseph Kosinski yang sebelumnya beberapa kali terlibat dalam serial televisi.

Comment:
Rasanya saya mempunyai pendapat yang berbeda dari kebanyakan orang mengenai film ini yang rata-rata memberikan nilai tinggu. Original Tron yang muncul di tahun 1982 jelas tidak pernah saya dengar atau saya saksikan, sebab saya belum lahir di tahun itu. Yang saya tahu Tron : Legacy merupakan sekuel dan menceritakan generasi yang lebih muda dengan kondisi yang lebih kini tentunya kalau tidak mau dibilang lebih futuristik lagi. So, i really have no idea until see the trailer itself.
Kisahnya cukup menarik dimana perjalanan memasuki dunia cyber yang tak terduga memang membuat sebagian besar penonton bertanya-tanya apa yang akan disuguhkan kemudian. Namun satu hal yang perlu saya tegaskan, benang merah cerita ini adalah hubungan ayah dan anak serta proses si anak menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Sesimpel itu. Hanya saja ditambah dengan berbagai subplot yang mendukung seperti kisah cinta ataupun perseteruan. Tidak seru jika tidak ada dua hal ini dalam sebuah film blockbuster berbujet besar.
Spesial efek merupakan nilai utama yang dijual disini. Lihat bagaimana visualisasinya sangat memanjakan mata dengan sinar berwarna warni yang dilengkapi dengan background dark blue. Cakram berwarna putih, kontras dengan pedang berwarna oranye sekaligus melambangkan dua kubu yang saling berseberangan. Kostum aktor-aktrisnya sendiri konon menghabiskan 13 juta dollar! Luar biasa bukan? Sebanding dengan hasil akhirnya.
Jajaran cast yang mendukungnya bermain cukup baik. Bridges yang paling senior berakting bagus sebagai Kevin, tapi tidak sebagai Clu yang terlalu "digital" penampilannya apalagi ditambah dengan jenggot. Mungkin ini cara terbaik untuk me"muda"kannya tetapi malah terlihat palsu. Sedangkan Hedlund yang masih tergolong junior sedikit mengingatkan pada awal kemunculan Christensen dalam Star Wars, hanya saja Hedlund sedikit lebih dinamis dan natural dalam membawakan karakter Sam. Wilde menjadi daya tarik sendiri sebagai Quorra apalagi kostumnya yang super ketat nan seksi selayaknya Catwoman tanpa penutup mata. Jangan juga lupakan nama Martin Sheen.
Kekurangan film ini adalah fokus yang sering berpindah-pindah. Terlalu panjang di bagian yang tidak perlu dan kadang terlalu pendek di bagian yang penting. Prolog film harus diakui membosankan dan monoton. Namun setelah sejam berlalu dan Sam mulai memasuki The Grid, mata anda akan terjaga dengan Light Cycles, Light Runner dsb yang menampilkan berbagai adegan aksi yang menegangkan. Diperkuat oleh theme musik yang sangat pas menyatu dengan konsep film ini, Tron: Legacy rasanya bisa menutupi kelemahan yang dipunyainya. Film yang konon berbujet 300 juta dollar ini akan menghibur anda dengan penampakan yang futuristik sekaligus memukau walau tidak akan membombardir anda dengan aksi non stop sepanjang durasinya yang lumayan panjang itu. Pakailah terus kacamata 3D anda walau akan sedikit memusingkan kepala pada akhirnya.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$52,100,000 in opening week of mid Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 17 Desember 2010

DEVIL : Terjebak Dalam Lift Permainan Iblis

Tagline:
Bad Things Happen For A Reason

Storyline:
Dibuka dengan narasi petugas security bernama Ramirez yang menceritakan dongeng masa kecilnya saat seorang pria tak dikenal nekad loncat dari atap gedung perkantoran. Setelah itu Detective Bowden pun mengusut TKP sebelum memutuskan kasusnya. Sementara itu lima orang yang tak saling mengenal yaitu Ben, Sarah, Vince, Jane dan Tony memasuki gedung dan menempati lift yang sama. Di luar dugaan, lift berhenti mendadak dan menyisakan perdebatan di antara mereka berlima. Selagi perbaikan menunggu, hal-hal aneh yang mengerikan terjadi dalam lift tersebut. Benarkah salah satu dari mereka adalah jelmaan iblis pencabut nyawa?

Nice-to-know:
Angka 666 yang seringkali diartikan simbol iblis juga muncul disini mulai dari nomor gedung 333 (666/2), nomor lift 6, dan berhenti di lantai 23 sampai 42 (2*3=6, 4+2=6).

Cast:
Chris Messina sebagai Detective Bowden
Logan Marshall-Green sebagai Tony
Jenny O'Hara sebagai Jane (Wanita Tua)
Bojana Novakovic sebagai Sarah
Bokeem Woodbine sebagai Ben
Geoffrey Arend sebagai Vince
Jacob Vargas sebagai Ramirez

Director:
John Erick Dowdle yang angkat nama lewat Quarantine (2008) kali ini juga bermain dalam film bergenre horor thriller.

Comment:
Nama M. Night Shyamalan bagi saya tetaplah sebuah misteri yang karya-karyanya seringkali overrated. Namun sejauh ini baru Lady In The Water yang benar-benar tidak saya sukai. Selebihnya masih dapat dinikmati terutama The Sixth Sense tentunya. Kredibilitasnya yang mulai turun kini coba dibangun kembali lewat proyek The Night Chronicles Trilogy yang akan berfokus pada adaptasi kisah-kisah horor klasik ke dalam situasi modern. Menarik bukan? Dan film inilah sebagai pembukanya.
Premis film ini cukup menarik dimana mengambil tema suspense, thriller, horror, drama sekaligus dengan jalinan cerita yang berbelit tetapi disajikan secara simpel dan mudah dicerna. Subplot utamanya seakan terbagi menjadi dua bagian yaitu di dalam dan di luar lift. Bagaimana orang-orang yang terjebak di dalam lift berusaha mengalahkan klaustrofobianya sekaligus bertahan hidup dari ancaman satu sama lain. Sedangkan pihak-pihak di luar lift sibuk melakukan evakuasi sekaligus investigasi terhadap fenomena apa yang sesungguhnya terjadi disitu. Kedua bagian ini saling kait-mengait pada akhirnya dan berujung pada satu twist yang pintar dan sukses menyimpulkan keseluruhan benang merah.
Beruntung Shyamalan tidak melibatkan dirinya lagi sebagai aktor cameo tetapi benar-benar berfokus pada penulisan cerita dan memproduserinya, salah satu skill terbaiknya untuk genre horor/thriller. Dan penunjukkan Erick Dowdle merupakan pilihan yang tepat untuk menyutradarainya. Bagaimana gaya film lawas Alfred Hitchcock disajikan dengan penggunaan musik latar yang tepat untuk membangun suasana mencekam dan juga rasa penasaran yang tinggi.
Para aktor-aktris yang bermain disini juga menunaikan tugasnya dengan baik. Lihat bagaimana Messina harus berdamai dengan masa lalunya yang menyedihkan untuk tetap fokus pada kegigihannya mengungkapkan kasus tanpa terpengaruh sudut pandang apapun. Atau Vargas yang memainkan intonasi suaranya sedemikian rupa sehingga terasa seperti storyteller anak-anak yang sendu. Marshall-Green, Woodbine, Novakovic memberikan emosi yang cukup baik sebagai pribadi-pribadi resah yang terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Semakin sedikit anda mengetahui DEVIL maka akan semakin menikmati apa yang disuguhkan Shyamalan kali ini. Sama halnya seperti saya yang tergerak untuk menunggu episode-episode berikutnya. Bagaimana skrip yang demikian tidak terduga dan tidak klise berhasil menjaga intensitas yang sama hingga berujung pada klimaks yang menarik. Dengan biaya produksi yang tidak tinggi serta durasi yang cukup singkat bisa jadi jalan kembali Shyamalan ke jajaran filmmaker yang patut diperhitungkan terutama dalam genre seperti ini.

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
$33,583,175 till mid Nov 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 16 Desember 2010

POCONG RUMAH ANGKER : Misi "Pencarian" Berbuntut Penampakan

Storyline:
Bertindak sebagai reporter, Zaki, Joana dan Debby nekad menyambangi sebuah rumah kosong yang terkenal angker karena sering dijadikan tempat pembuangan mayat dalam kasus kriminal. Saat mendokumentasikan situasi bangunan dengan handycam, Joana malah membuka payung usang di dalam rumah tersebut. Hal tersebut diyakini Zaki yang juga diamini Debby akan mengundang makhluk-makhluk gaib. Sepulang dari sana, Zaki, Joana dan Debby kerap diganggu oleh berbagai penampakan yang sulit terjelaskan bahkan teman mereka yang juga seorang bule, Ipung disambangi gadis manis bernama Lilis yang mengaku mengenal trio tersebut di suatu tempat. Apa yang dimulai di tempat awal harus juga diakhiri disana. Maka mereka berlima berusaha menelusuri apa yang sesungguhnya diinginkan oleh makhluk gaib tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures – Bic Production.

Cast:
Donita
Zaki Zimah
Pamela Bowie
Krisna Patra
Radith

Director:
Koya Pagayo kembali lagi setelah terakhir membuat versi Indonesia Te[rekam] pada pertengahan tahun 2010 ini.

Comment:
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu yakni mereview film terakhir sutradara paling produktif di tahun 2010. Anda tahu siapa namanya, tak usah saya sebutkan lagi. Pantang soalnya! Dan menurut pendapat saya, film ini seperti kompilasi dua filmnya sebelumnya yaitu Kuntilanak Beranak dan Sarang Kuntilanak. Namun dikarenakan mengangkat tema hantu mantan penari jaipong (dulu ronggeng) dan rumah angker maka judulpun diganti menjadi Pocong. Subyek horornya menjadi dua yaitu Pocong dan Kuntilanak sekaligus. Voila! Entah mana dari mereka yang bernama Lilis, tidak ada penjelasan, atau saya yang memang tidak perhatian karena tidak penting? Maafkan saya jika begitu.
Dari jajaran cast, beribu sayang Zaky tidak seperti tupai yang tidak jatuh berkali-kali di lubang yang sama, melainkan dakocan yang berkali-kali jatuh di genre film yang sama! Desperate keluar dari komedi layar gelas ke komedi horor layar lebar? Sekali-kali tidak masalah tapi kalau berkali-kali bikin eneg. Ia yang saya akui lucu di beberapa film sebelumnya kali ini gagal total. Jayus abis! Maaf Zaky, kali ini gaya melucu anda kurang ampuh dan amat sangat dipaksakan. Saya sebetulnya ingin tertawa tapi tidak menemukan alasan yang kuat melakukan itu. Sama halnya dengan Donita dan Pamela yang hanya berusaha bercantik-cantik dan menjerit-jerit ria tanpa ada efek positif bagi film ini.
Jika saya ada di posisi produser seperti HM Firman Bintang, maka saya akan menggaji Lilis 3x lipat! Kesulitannya paling tinggi karena harus berperan sedikitnya sebagai lima makhluk! Satu, sebagai gadis desa manis yang lugu. Dua, sebagai penari Jaipong yang lincah menarik. Tiga, sebagai gadis pendiam yang selalu menunduk dengan rambut awut-awutan. Tiga, sebagai pocong yang hobi "tampil". Empat, sebagai "gadis" misterius yang hobi merambat di tembok ataupun naik turun dengan kerekan tali. Sungguh usaha yang luar biasa!
Satu hal yang paling memorable (sekaligus penting) bagi saya adalah saat Debby mengisi gelasnya dengan air dari botol tetapi kosong saat diminumnya, berkali-kali! Cukup orisinil. Selebihnya Pocong Rumah Angker hanyalah pengulangan formula basi yang sudah expired beratus-ratus tahun lalu hingga meracuni otak sekaligus pikiran penonton yang kadung bingung dengan misi film ini sebenarnya. Masih berpikir ingin mencari pocong (atau membantu pocong mencari) di rumah angker?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 13 Desember 2010

THE NEXT THREE DAYS : Melarikan Istri Dari Tuduhan Pembunuhan

Tagline:
Lose who you are to save what you love.

Storyline:
Tiba-tiba saja Lara Brennan ditahan di rumahnya sendiri karena dituduh membunuh bosnya sendiri dimana keduanya sempat terlibat argumen keras pada malam sebelumnya. Menurut Kepolisian, sidik jari Lara terekam di TKP sehingga memberatkannya dan mengganjarnya hukuman 20 tahun penjara. Suami Lara, John Brennan menghabiskan bertahun-tahun untuk mengeluarkan Lara tetapi sia-sia saja karena bukti dan kesaksiannya saja tidak cukup. Putus asa saat putranya Luke mulai menjauhi ibunya, John pun menempuh satu-satunya cara yaitu menjebol penjara dan merencanakan pelarian sempurna. Berhasilkah John merancang semuanya sekaligus menuju kehidupan baru yang harmonis kembali?

Nice-to-know:
Sebelumnya Elizabeth Banks pernah bermain sebagai ibu rumah tangga yang dituduh melakukan pembunuhan dalam serial "Law & Order: Special Victims Unit" (1999).

Cast:
Terakhir kita lihat bermain sebagai Robin Longstride dalam Robin Hood, Russell Crowe kini berperan sebagai John Brennan, ayah, suami sekaligus guru biasa yang nekad melawan hukum demi mempertahankan keutuhan keluarganya.
Turut bermain dalam serial televisi Scrubs di sela-sela kesibukannya, Elizabeth Banks tampil berbeda dari biasanya sebagai Lara Brennan yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap bos wanitanya sendiri.
Jason Beghe sebagai Detective Quinn
Aisha Hinds sebagai Detective Collero
Liam Neeson sebagai Damon Pennington
Olivia Wilde sebagai Nicole
Ty Simpkins sebagai Luke

Director:
Sutradara Inggris berusia 69 tahun bernama Michael Apted sebelum ini menyutradarai Married In America 2 (2007).

Comment:
Merupakan remake dari action thriller Perancis berjudul Anything for Her di tahun 2008. Kini sutradara Paul Haggis mengganti setting Paris, Eropa menjadi Pittsburgh, Amerika Utara. Nyaris sama persis dan konon sama baiknya meski saya belum menyaksikan versi originalnya. Lebih dari sepertiga film diawali dengan lambat saat karakter John melakukan riset terbaiknya sebelum menjalankan rencana nekad yang bisa dibilang kesempatan sekali seumur hidupnya. Melewati pertengahan film barulah intensitas mulai meningkat dan menyajikan berbagai aksi yang seru.
Crowe sebagai John, seorang guru bahasa Inggris kampus sepintas terlihat tidak beremosi tetapi tindakannya menunjukkan bahwa ia sepenuhnya percaya dan mencintai istrinya. Menarik melihat Crowe dalam porsi superior tapi masih manusiawi disini. Sebaliknya, Banks yang biasa bermain dalam genre komedi memperlihatkan akting yang baik sebagai istri sekaligus ibu yang terfitnah hingga terancam harus mengakhiri hidupnya di penjara akibat tuduhan pembunuhan. Meskipun tampil sekilas, Neeson cukup mengesankan sebagai figur mentor yang baik di prolog film.
Saya harus akui sebagai action thriller, The Next Three Days ditutup dengan baik lebih dikarenakan sudut pandang unik yang dipakainya walaupun durasinya cukup panjang. Berbagai twists dan turns berhasil menyajikan ketegangan sendiri dalam mengikutinya. Sedikit mengingatkan apa yang biasa dilakukan Haggis sebelumnya yang juga dikombinasikan dengan musik latar yang sangat membangun mood penonton. Anda seakan diajak peduli sepenuhnya pada usaha John melarikan Lara. Bagaimana seorang pria biasa berusaha semaksimal mungkin menyatukan keluarganya kembali walau harus melakukan hal-hal di luar kebiasaan dan kemampuannya. Sesaat kadang kita dihadapkan pada situasi dimana seperti berdiri di antara garis tipis benar atau salah yang terkadang sulit ditebak kenyataannya. Slow start then closed with excellency!

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$18,310,917 till early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 12 Desember 2010

HAUNTED CHANGI : Menelusuri Rumah Sakit Bersejarah Terbengkalai

Tagline:
In January 2010, a group of filmmakers began exploring Old Changi Hospital in Singapore.. with terrifying and tragic results.

Storyline:
Empat orang masing-masing Andrew, Sheena, Audi dan Farid mempunyai proyek menyelidiki RS Changi yang terbengkalai dan konon berhantu. Berbagai kamera ditempatkan di setiap sudut untuk mengambil gambar sepanjang hari, siang dan malam. Terkadang mereka turun langsung ke lokasi untuk mencari terowongan rahasia yang tersembunyi sejak jaman penjajahan Jepang atas bangsa Singapura tersebut. Kemudian bergabungnya Tim Pemburu Hantu Singapura dengan keempat muda-mudi tersebut. Apa yang akan mereka temukan disana?

Nice-to-know:
Tanggal premiere film ini di negara asalnya adalah 2 September 2010.

Cast:
Andrew Lau sebagai Director
Sheena Chung sebagai Producer
Farid Azlam sebagai Sound
Audi Khalis sebagai Camera

Director:
Andrew Lau

Comment:
Film ini sangat menghebohkan Singapore beberapa bulan terakhir. Pasalnya keempat orang yang berinisiatif terjun langsung dalam proyek ini menggunakan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk menciptakan eforia tersendiri. Bagaimana mereka membeberkan timeline produksi mulai dari ide awal hingga berjalannya syuting. Taktik promosi yang pintar sehingga membuat publik setempat penasaran luar biasa apalagi Rumah Sakit Tua Changi itu memang sudah kesohor angkernya sejak tahun 1997.
Prolog dibuka dengan pengenalan para kru yang terlebih dahulu menceritakan sejarah rumah sakit tersebut sekaligus mewawancarai beberapa penduduk setempat. Hal ini sangat krusial mengingat audiens di luar Singapura membutuhkan informasi tersebut untuk benar-benar masuk ke dalam tujuan pembuatan dokumenter ini. Bisa diartikan juga pemanasan agar anda bisa berimajinasi terlebih dahulu akan apa yang ditampilkan kelak. Nyaris separuh durasi film dihabiskan untuk hal ini dan suka tidak suka memang agak membosankan.
Ketakutan yang berusaha dihadirkan terbagi menjadi dua yaitu siang dan malam hari. Pada siang hari, walau tanpa spesial efek apapun, gedung tua itu sudah sangat mengerikan yang menyiratkan akan kesepian yang misterius. Bagian ini diyakini mampu membuat anda terjaga untuk berusaha menangkap setiap detil yang mungkin muncul. Pada malam hari memang dibantu oleh night vision dari berbagai jenis kamera yang sukses menyingkap bayangan dari pencahayaan yang minim. Bagian ini saya acungi jempol akan keberanian mereka menelusuri lorong-lorong sempit dimana terkadang bertemu dengan hal-hal aneh yang sulit dijelaskan.
Twist dirancang pada akhir cerita yang meski tidak terlalu mencengangkan tetapi kenyataan yang terbangun cukup membuat audiens sedikit "blank". Haunted Changi merupakan proyek ambisius negeri Singapura untuk menembus pasaran horor internasional dengan konsep found footage pertamanya. Benarkah rekaman yang terdiri dari potongan-potongan gambar ini asli? Terus terang saya sedikit meragukannya atas berbagai alasan. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 11 Desember 2010

THE CHRONICLES OF NARNIA : THE VOYAGE OF THE DAWN TREADER

Quotes:
Aslan-But I will not tell you how long or short the way will be, only that it lies across a river. But do not fear, for I’m the great Bridge Builder.

Storyline:
Saat Lucy dan Edmund berdebat dengan sepupu mereka Eustace, lukisan kapal laut di kamar Lucy tiba-tiba menjadi nyata dan membawa mereka bertiga kembali ke Narnia. Eustace yang tidak mempercayai negeri khayalan itu menjadi terheran-heran melihat si tikus Reepicheep dan makhluk-makhluk dongeng lainnya. Sedangkan Lucy dan Edmund malah senang berjumpa kembali dengan sahabat mereka Caspian yang sudah menjadi Raja saat ini dan sedang dalam misi menemukan tujuh pedang Raja-Raja Narnia yang hilang seperti janjinya pada Aslan. Perjalanan panjang mereka mendapat banyak tantangan yang berat kemudian. Berhasilkah mereka menuntaskan misi sekaligus menguak kabut hijau misterius yang mematikan itu?

Nice-to-know:
Setelah The Chronicles of Narnia: Prince Caspian (2008) tidak mencetak hasil yang diharapkan di tangga box-office, Walt Disney tidak turut memproduseri dan mensponsori episode Narnia selanjutnya.

Cast:
Georgie Henley sebagai Lucy Pevensie
Skandar Keynes sebagai Edmund Pevensie
Ben Barnes sebagai Caspian
Will Poulter sebagai Eustace Scrubb

Voice:
Liam Neeson sebagai Aslan
Simon Pegg sebagai Reepicheep

Director:
Sutradara Inggris berusia 69 tahun bernama Michael Apted sebelum ini menyutradarai Married In America 2 (2007).

Comment:
Bagi yang sudah terbiasa dengan kehadiran Peter dan Susan, bersiaplah kecewa karena keduanya tidak tampil lagi disini. Yang ada hanyalah Edward dan Lucy yang juga telah beranjak remaja. Beruntung masih ada Caspian yang memperkuat nuansa petualangan dari seri sebelumnya. Sebagai gantinya ada peran Eustace yang tampaknya cukup penting meskipun muka baru dalam Narnia series. Kita akan “tidak nyaman” melihat tingkah laku dan mendengar suara gerutunya yang sangat mendominasi itu, dibawakan dengan sangat baik oleh Poulter. Chemistry nya dengan si tikus pejuang Reepicheep yang disuarakan oleh Pegg juga tergolong unik dan menarik.
Sutradara Apted seakan membawa Narnia ke dunia yang baru dengan visual efek yang memukau dengan berbagai setting yang variatif. Sayangnya sedikit terganggu dengan dialog yang terlalu umum dan terkesan cheesy. Chapter per chapter dikerjakan dengan pace yang seimbang mengarah pada klimaks yang cukup seru, sedikit berbeda dengan dua seri sebelumnya yang cenderung antiklimaks dan terlalu lambat. Bamyak pesan moral yang coba disisipkan disini, salah satunya adalah mencoba menjadi diri sendiri dan bersyukur atas berkat apapun yang telah diberikan. Niscaya hidup akan lebih bermakna bagi pribadi ataupun orang lain.
Secara keseluruhan, rasanya The Chronicles of Narnia : The Voyage of the Dawn Treader menyajikan aksi petualangan yang bisa dinikmati anak-anak dan orang dewasa sekaligus. Anda bisa tertawa sekaligus terpacu dibuatnya. Walaupun mungkin ada kelompok penonton yang kecewa dengan kisah fantasi disini yang di luar kebiasaan, tidak ada salahnya tetap menyaksikan penutup trilogy satu ini. Tidak perlu dalam 3D karena tidak banyak gambar hidup yang bisa dijual apalagi dark scenes nya cukup dominan. Satu hal yang unik bagi saya, Narnia seakan sebuah agama tersendiri terutama dari pandangan umat Kristiani, analogikan Aslan sebagai Tuhan yang selalu membimbing dan mengarahkan dengan suara-suaranya. Menarik bukan?

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$24,500,000 in opening week of early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 10 Desember 2010

DUE DATE : Perjalanan Mimpi Buruk Tak Terduga

Quotes:
Ethan Tremblay: Did you call me over here to apologize?
Peter Highman: What? Fuck You!

Storyline:
Peter Highman hanya memiliki waktu 5 hari untuk pergi ke Los Angeles dari Atlanta sebelum kelahiran putra pertamanya dimana istrinya Sarah menunggu. Sayangnya di airport, lewat serangkaian kejadian semenjak bertemu pemain teater bernama Ethan Tremblay, Peter mengalami kesialan terutama namanya masuk dalam daftar dilarang terbang. Ethan yang ditemani bulldog kesayangan bernama Sonny menawarkan tumpangan yang kemudian terpaksa diterima Peter untuk melintasi negara bagian termasuk cita-cita Ethan yaitu Hollywood dan tempat menabur abu almarhum ayahnya yakni Grand Canyon. Akankah keputusan Peter itu akan disesalinya di kemudian hari?

Nice-to-know:
Diselundupkan ke bioskop dengan nama "Maternity Day"

Cast:
Baru saja menyelesaikan peran Tony Stark dalam Iron Man 2, Robert Downey Jr. bermain sebagai Peter Highman yang sangat diuji batas kesabaran dan kemanusiaannya dalam perjalanan menunggui istrinya yang akan melahirkan.
Bermain dalam dua film drama komedi di tahun ini yaitu It's Kind of a Funny Story dan Dinner for Schmucks, Zack Galifianakis berperan sebagai Ethan Tremblay/Chase yang terobsesi untuk menjadi bintang di Hollywood.
Michelle Monaghan sebagai Sarah Highman
Jamie Foxx sebagai Darryl
Juliette Lewis sebagai Heidi

Director:
Nama Todd Phillips mencuat setelah kesuksesan tak terduga dari The Hangover (2009) yang akan dilanjutkan dengan sekuelnya tahun depan.

Comment:
Ada 2 hal yang perlu saya ingatkan sebelum anda memutuskan untuk menonton film ini. Pertama, ini adalah komedi, jadi singkirkan cara pikir rasional anda untuk sejenak. Kedua, pastikan anda sudah mengenal gaya Todd Phillips sebelumnya yaitu The Hangover. Jika anda bisa menerima kedua fakta tersebut, bisa jadi penilaian anda tidak akan jauh berbeda dari apa yang saya berikan. Namun jika tidak, rasanya anda akan mengganggap film ini sinting.
Oke dalam hal cast kita punya Downey Jr. dan Galifianakis yang teramat sangat mendominasi film ini. Dari awal sampai akhir mereka akan saling bertukar interaksi yang penuh humor slapstick termasuk dari dialog dan bahasa tubuh masing-masing. Harus diakui karakter Peter dan Ethan yang saling berseberangan itu bukanlah karakter yang mudah menarik simpati audiens. Penyebabnya adalah krisis identitas Ethan yang cukup mengganggu dan emosi terpendam Peter yang mengindahkan empati itu. Namun bagaimanapun juga chemistry keduanya tetaplah nilai jual utama. Downey Jr. tetap terlihat cool dan Galifianakis freak. Perpaduan 360 derajat yang merupakan makanan empuk bagi komedi situasi seperti ini.
Sutradara Phillips dapat dikatakan melakukan pengulangan beberapa elemen dari The Hangover seperti pasangan hidup yang menunggu nun jauh disana (dulu Barrese, kini Monaghan), karakter pendukung pria kulit hitam yang ternama (dulu Tyson, kini Foxx), pelacur yang numpang lewat (dulu Graham, kini Lewis) serta ganja ataupun drugs yang mengaburkan kesadaran Tidak salah sepanjang masih dapat dihadirkan dengan tema yang fresh dan eksekusi yang kreatif.
Kesimpulan akhir, Due Date cukup menghibur bagi saya yang mampu terpingkal-pingkal selepas kepenatan jam kerja yang ketat itu. Namun yang disayangkan adalah endingnya yang terkesan "too easy" dan tidak ada kejutan yang berarti. See it if you are a fan of Downey Jr. and acceptable for the concept of over-the-top comedy road-movie style.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$90,882,138 till early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 09 Desember 2010

CIN.. TETANGGA GUE KUNTILANAK! : Bertetangga Dengan Wanita Jadi-Jadian Menuntut Balas

Storyline:
Afgan dan Nono adalah penyiar radio yang membawakan program "Malam Jumat Seram" yang khusus membahas cerita-cerita hantu. Tanpa sengaja keduanya ditelepon oleh seorang gadis patah hati bernama Anissa yang bertekad bunuh diri setelah kematian calon suaminya. Insiden pun terjadi dan beruntung keduanya tidak dipersalahkan oleh pihak kepolisian. Namun mereka tidak berhenti dan bersama Nadine bekerjasama mengumpulkan kisah horor untuk dijadikan bahan film independen termasuk salah satunya narasumbernya adalah pembantu tetangganya yang bernama Bi Iyem. Bi Iyem menceritakan mantan majikannya Safina yang tertekan karena suaminya, Anton berselingkuh dengan sekretarisnya, Yuli hingga akhirnya tewas setelah melahirkan seorang bayi. Kekejian Yuli tidak sampai disitu karena membayar dukun untuk memasang paku di jasad Safina sehingga menjadi kuntilanak berwujud wanita cantik. Kini tugas Bi Iyem, Nadine, Afgan dan Nono membebaskan roh Safina sekaligus membalaskan dendamnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Vincent Pictures.

Cast:
Cynthiara Alona
Dafino Kandou
Ar Rozzy Mahally
Mayang
Melinda
Chairil JM
Trisno ”Tutul”
De’ratu
Deden Dower
Topan Dicky

Director:
Tidak banyak yang tahu bahwa Yan Senjaya pernah menjadi produser dalam Ken Arok - Ken Dedes di tahun 1983.

Comment:
Di penghujung tahun 2010 alias bulan Desember ini rasanya kelesuan menyergap perfilman nasional kita. Calon-calon penghuni daftar film terburuk sepanjang tahun bisa jadi berasal dari rilis akhir tahun. Mungkin inilah salah satunya dimana dari judul, poster dan ikhtisar ceritanya tidak ada yang positif. Entah apa yang ada dalam benak produser Lukito dan Wong Fen Sen saat memutuskan maju dengan proyek ini. Mungkin mereka lupa bahwa sekarang bukan tahun 1990an lagi tetapi tahun 2000an itupun sudah satu dasawarsa berlalu!
Prolog film dibuka dengan tulisan "Dari kumpulan cerpen horor". Jika ini terdiri dari kumpulan beberapa film pendek, bisa jadi segala kekurangan saya maafkan. Tetapi dari ide-ide tersebut ditambal sulam menjadi sebuah plot maka yang ada dalam pikiran saya adalah hasil jahitan yang acak adut tak jelas pola dan teksturnya. Itulah yang terjadi disini dan tak usah menelusuri terlalu jauh, lihat dulu dari karakter-karakternya. Kita punya tiga remaja yang penasaran akan hantu, seorang pembantu yang serba tahu, seorang dukun yang bergaya Joker dengan jahitan di sudut mulutnya, seorang suami tak setia, seorang wanita sekretaris berhati iblis, sesosok arwah penasaran yang mencari anaknya dan sebuah bayi yang ajaib tingkahnya. Ya, saya tidak salah ketik, karena bayi aneh itu bisa berganti-ganti "wujud" sehingga tidak saya kategorikan orang!
Sesungguhnya masing-masing dari mereka memiliki porsi masing-masing tetapi dipaksakan tumplek blek dalam satu scene sehingga memusingkan penonton yang harus memutar otak untuk mengingat-ingat kembali si ini hubungannya apa, si itu kenapa bisa kenal juga, dsb. Percayalah, usaha "mengingat-ingat" bukan sesuatu yang terpuji dalam mencerna film ini karena tidak ada gunanya juga. Lebih baik duduk dan nikmati saja dengan dua sikap. Satu, tertawalah jika dirasa perlu akan kelakuan jayus duet Afgan dan Nono yang serasa "Dumb & Dumber" itu. Dua, meringislah apabila dirasa anda mulai "tersiksa" dengan non existing plot yang disuguhkan penulis dan sutradara senior bernama Yan itu yang bisa-bisanya memakai beberapa visual efek ala FTV disini.
Jika anda tidak mau dipaksa mengucapkan judul film ini (karena memang bukan jati diri anda), maka sebaiknya anda tidak perlu merasa terpaksa juga menyaksikan Cin.. Tetangga Gue Kuntilanak! yang tampaknya terlalu serius ditambal sulam hingga berkali-kali melukai jari (dan sebagian jiwa) para filmmakernya. Ouch!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 07 Desember 2010

DOUBT : Ketika Keraguan Melangkahi Iman dan Janji

Tagline:
There is no evidence. There are no witnesses. But for one, there is no doubt.

Storyline:
Paroki St. Nicholas pada tahun 1964 di Bronx, pendeta karismatik Father Flynn berusaha menerapkan aturan yang berbeda dari yang sudah terbentuk oleh Sister Aloysius Beauvier. Kepala sekolah wanita ini terlalu percaya pada kekuatan ketakutan dan kedisiplinan dalam mendidik murid-muridnya yang perlahan mulai membangkang. Masuknya siswa kulit hitam pertama bernama Donald Miller semakin menimbulkan kekisruhan yang berbuntut pada kecurigaan Sister Aloysius akan perilaku menyimpang Father Flynn. Sister James yang masih muda dan belum berpengalaman semakin bingung menentukan sikap di antara keduanya. Benarkah tuduhan tersebut dapat mencoreng nama paroki terkait sekaligus memecat Donald sebagai Putra Altar?

Nice-to-know:
John Patrick Shanley sempat menawarkan peran Sister James kepada Natalie Portman tetapi menolaknya. Sebaliknya Oprah Winfrey tertarik peran Mrs. Miller tetapi sang sutradara menolaknya tanpa memberi kesempatan samasekali.

Cast:
Tak banyak yang tahu bahwa Meryl Streep pernah mengisi suara dalam The Ant Bully (2006). Kali ini ia bermain sebagai Sister Aloysius Beauvier yang konservatif dan penuh rasa curiga.
Pernah memenangkan Oscar kategori Aktor Terbaik lewat Capote (2005), Philip Seymour Hoffman berperan sebagai Father Brendan Flynn yang mendapat tantangan berat.
Terakhir kali mendukung Miss Pettigrew Lives for a Day (2008), Amy Adams kebagian tokoh simpatik Sister James.
Carrie Preston sebagai Christine Hurley
John Costelloe sebagai Warren Hurley
Lloyd Clay Brown sebagai Jimmy Hurley
Joseph Foster sebagai Donald Miller (as Joseph Foster II)

Director:
Sejauh ini baru film kedua bagi John Patrick Shanley setelah Joe Versus the Volcano (1990) yang juga ditulisnya sendiri

Comment:
Nilai jual utama film ini adalah aktor-aktris utamanya yaitu Meryl Streep dan Phillip Seymour Hoffman yang sama-sama berkaliber Oscar. Dan mereka memenuhi harapan tersebut dengan menyajikan akting yang brilian dengan pertukaran dialog yang menarik. Salah satunya adalah menjelang ending dimana terjadi percakapan lebih kurang 10 menit antara Sister Aloysius dan Father Flynn yang sangat menguras emosi mulai dari kemarahan dan keangkuhan yang berbaur sempurna dengan pendakwaan dan pembelaan diri. Bagaimana hubungan mereka terus berkembang dari berusaha saling adaptasi dari cara yang normal hingga menjadi ketidak sukaan yang saling bertentangan.
Penulis sekaligus sutradara Shanley bekerja dengan efektif dalam menjaga plot cerita agar tetap menarik dengan setting Paroki yang kaku sunyi yang mendukung serta penokohan yang simple tetapi sangat menggigit itu. Peran Adams sebagai supporting character juga cukup efektif, sedikit mewakili karakter penonton yang netral di antara hitam dan putih. Jelas sebuah kinerja tim yang pantas sekali dilirik para juri ajang penghargaan manapun di tahun 2008 itu.
Konflik yang dihadirkan dalam Doubt memang cenderung sensitif dan controversial. Namun semua itu disampaikan dengan cara yang halus tetapi tidak kehilangan ketajamannya dalam bercerita. Sebuah contoh dimana setiap manusia memiliki sudut pandang dan harga diri tersendiri yang terkadang dituntut untuk mempertahankannya sampai titik tertentu tanpa peduli konsep benar salah yang mendasarinya. Film ini memberikan contoh yang teramat realistis untuk kasus tersebut.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$33,422,556 till April 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 06 Desember 2010

PERFUME : THE STORY OF A MURDERER Obsesi Kecantikan Wanita Pembuat Parfum

Quotes:
Jean-Baptiste Grenouille: You want to make this leather smell good, don't you?
Giuseppe Baldini: Why of course, and so it shall.
Jean-Baptiste Grenouille: With Amor and Psyche by Pelissier?
Giuseppe Baldini: What ever gave you the absurd idea I would use someone else's perfume?
Jean-Baptiste Grenouille: It's all over you.

Storyline:
Pada abad ke-18 di Paris, Jean-Baptiste Grenouille terbuang oleh ibunya semenjak lahir. Beranjak dewasa ia mempunyai penciuman yang sangat tajam yang kemudian digunakannya untuk bekerja di sebuah toko parfum terkenal milik Giuseppe Baldini. Dengan kepandaiannya, Jean-Baptiste mampu meracik parfum-parfum beraroma baru hasil temuannya. Sayangnya rasa penasaran dan kreatifitasnya menuntunnya mencari formula-formula baru bagi parfumnya yang terkadang tidak biasa. Plus obsesinya mengabadikan kecantikan wanita bisa jadi menjerumuskannya semakin dalam sebagai orang yang berbahaya.

Nice-to-know:
Ridley Scott sempat dikabarkan tertarik dengan proyek ini bertahun-tahun yang lalu dimana Tim Burton juga dipertimbangkan sebagai sutradaranya disamping Martin Scorsese, Milos Forman dan Stanley Kubrick.

Cast:
Ben Whishaw sebagai Jean-Baptiste Grenouille
Dustin Hoffman sebagai Giuseppe Baldini
Karoline Herfurth sebagai The Plum Girl
Rachel Hurd-Wood sebagai Laura
Alan Rickman sebagai Antoine Richis
Sara Forestier sebagai Jeanne

Director:
Sutradara Tom Tykwer sempat menggarap salah satu segmen berjudul "Faubourg Saint-Denis" dalam Paris, je t'aime.

Comment:
Film ini menyajikan tema yang tidak biasa apalagi dengan citarasa Eropa, rasanya bermimpi bisa ditayangkan di bioskop Indonesia. Namun hal ini tidak menghalangi saya untuk menyaksikannya juga sebab storyline nya sangat menarik bagi saya. Menyimpan penasaran karena apa yang akan disajikan lebih? Drama kah? Thriller kah? Slasher kah?
Sutradara Tykwer menjawabnya dengan brilian. Ia sajikan thriller halus yang kental dengan unsur drama terutama dalam menyikapi sisi kemanusiaan yang terdalam sekalipun. Sinematografi yang lembut berpadu lengkap dengan elemen-elemen metafora yang dominan di sepanjang film. Sangat cantik!
Whishaw mempotretkan karakter pemuda cerdas yang terobsesi pada kecantikan wanita dengan luar biasa. Ekspresinya yang dingin sekaligus sorot matanya yang tajam tetap menyiratkan kepolosan seorang remaja yang suka bereksperimen. Kita sendiri bingung apakah harus mengkategorikan Jean-Baptiste sebagai seorang psikopat atau bukan? Narasi John Hurt yang mengantarkan cerita dari awal hingga akhir semakin melengkapi storytelling yang gemilang dan menarik untuk diikuti selayaknya sebuah simfoni orchestra yang sempurna.
Endingnya yang provokatif tergolong tidak biasa dan di luar dugaan saya. Namun tetap masuk akal walau bisa dikatakan absurd. Semua itu menjadikan Perfume : The Story Of A Murderer sebuah pengalaman menonton karya Eropa yang mumpuni dengan keindahan sekaligus kemisteriusan. Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa jadi film ini sangat mendekati penulisannya. Anyone?

Durasi:
145 menit

U.S. Box Office:
$2,208,939 till end of Feb 2007.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent