XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label liam neeson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liam neeson. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

TAKEN 2 : Downgrade Repetition Of Lethal Neeson


Quotes:
Bryan Mills: If I kill you, your other sons will come and seek revenge? 
Murad: They will... 
Bryan Mills: And I will kill them too. 

Nice-to-know:
Menurut sang penulis, Luc Besson, ini akan menjadi sekuel satu-satunya.

Cast:
Liam Neeson sebagai Bryan Mills
Maggie Grace sebagai Kim
Famke Janssen sebagai Lenore
Leland Orser sebagai Sam
Jon Gries sebagai Casey
D.B. Sweeney sebagai Bernie
Rade Serbedzija sebagai Murad Krasniqi

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Olivier Megaton setelah Colombiana (2011).

W For Words:
Masih ingat dengan action thriller yang sepadan dengan bumbu drama yang melingkupi dalam Taken (2008) dari produser bertangan dingin Luc Besson? Saya yakin moviefreak pasti mengingatnya dengan jelas bagaimana seorang Liam Neeson mengobrak-abrik seantero kota Paris untuk mencari putrinya yang disekap oleh sindikat human trafficking internasional. Empat tahun kemudian, muncullah sekuelnya dengan premis balas dendam yang kental. Would it still be engaging for audiences like before? You have to see this to answer.

Bryan Mills masih menjalankan peran ayah dan mantan suami yang baik bagi putrinya Kim dan istrinya Lenore sehingga mengajak keduanya untuk berlibur di Instanbul selepas tugas pengawalan yang diembannya. Suasana yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk ketika ketua Mafia Albania, Murad Hoxha berniat meringkus ketiganya sebagai aksi balas dendam putranya yang tewas di tangan Bryan empat tahun lalu. Lenore yang diculik, Kim yang diburu membuat Bryan harus menggunakan keahliannya sekali lagi.

Skrip yang ditulis oleh Besson bersama Robert Mark Kamen ini memulai dengan rutinitas "biasa" seorang family man yang sebetulnya tidak terlalu penting. Barulah pada satu jam terakhir, Bryan Mills harus berjibaku menggunakan segala ketangkasan dan pengalaman yang dimilikinya menghadapi deretan musuh yang hanya menawarkan "sedikit" tantangan baginya. Jika Taken (2008) masih menyimpan suspensi menuju epilog, tidak halnya dengan sekuelnya ini yang begitu predictable di saat begitu banyak aspek yang bisa digali untuk kompleksitas lebih.

Sutradara Megaton tampak mempersiapkan set lokasi yang lebih baik dibanding prekuelnya tapi sayang tidak diikuti oleh koreografi beladiri yang lebih keras. Kerapkali permainan kamera yang shaky atau cut-to-cut editing digunakan untuk menyamarkan kelemahan tersebut sehingga ketangguhan seorang Bryan Mills seakan tersembunyikan. Perpindahan frame dari Kim ke Lennie atau sebaliknya pun sering tidak mulus, menimbulkan jeda fokus yang sulit dihindari, yang kemudian berimbas pada timing yang terlalu cepat/lambat.

Neeson memang belum kehilangan karismanya sebagai jagoan tapi saya justru merasa ia sedikit lambat dan rapuh disini. Salahkan skrip atau kapabilitas sutradara jika boleh. Janssen yang bertindak sebagai korban tidak memberikan banyak pengaruh selain mengaduh atau berteriak. Justru Grace yang mendapat pengembangan karakter berlebih baik sebagai pihak yang terancam sekaligus pendamping sang hero di lain kesempatan. Tidak ada sosok antagonis yang pantas diingat atau bahkan ditakuti kali ini meski Serbedzija cukup berhasil memberikan warna.

Sebagian besar Taken 2 cuma berisikan backtracking dan juga pengulangan formula dari yang sudah-sudah. Adegan penutupnya terbilang antiklimaks, justru adegan kejar-kejaran mobil di sepanjang jalan Istanbul yang ramai itulah yang membuat jantung saya berdegup kencang. Secara keseluruhan masih memuaskan para pecinta genre ini tapi tidak terlalu memenuhi ekspektasi mereka yang sudah teramat mencintai prekuelnya tersebut. Koneksi setia dengan cerita original mungkin satu-satunya benang merah yang membuat franchise ini menuai sukses dan konon akan berlanjut pada tahun 2014 mendatang. We may hope for even better sequel for sure!

Durasi:
91 menit

U.S. Movie Box Office:
$49,514,769 till October 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 11 April 2012

BATTLESHIP : Mind Your Brain For Mindless Entertainment


Tagline:
This summer, the battle for Earth begins at sea.

Nice-to-know:
Game “Battleship” itu sendiri diciptakan oleh Milton Bradley sejak tahun 1931 yang terinspirasi dari World War I.

Cast:
Liam Neeson sebagai Admiral Crane
Taylor Kitsch sebagai Alex Hopper
Alexander Skarsgård
sebagai Stone Hopper

Brooklyn Decker sebagai Samantha
Rihanna sebagai Raikes
Jesse Plemons sebagai Ordy
John Bell
sebagai Angus
Tadanobu Asano sebagai Nagata

Director:
Peter Berg
yang juga dikenal sebagai aktor ini terakhir menyutradarai film layar lebar yang dibintangi oleh Will Smith yaitu Hancock (2008).

W for Words:
Sebetulnya bukan hal baru jika sebuah blockbuster action Hollywood hanya menjual tembakan dan ledakan belaka. Untuk itu pasang ekspektasi serendah mungkin terhadap produksi Universal yang satu ini meskipun trailernya cukup menjanjikan apalagi rilisnya tergolong mencuri start di bulan April sebelum masa summer movies tiba. Terilhami oleh classic board game dari Hasbro yang juga sukses menelurkan Transformers franchise, rasanya anda bisa memiliki gambaran bagaimana perwujudan skrip yang ditulis oleh duet kakak beradik Erich Hoeber dan Jon Hoebert tersebut.
Alex Hopper adalah seorang letnan Angkatan Laut yang sembrono dan tengah meminta restu dari Admiral Crane untuk meminang putrinya, Samantha. Patroli yang dilakukan oleh Alex dan Raikes menangkap signal aneh dari perairan terbuka. Pertanyaan mereka tak lama terjawab saat kaum alien dengan kekuatan penghancur luar biasa mulai menyerang dan memporak-porandakan bumi. Alex yang juga “bersaing” dengan saudaranya Stone harus berkolaborasi dengan Nagata menyusun strategi demi mengalahkan musuh yang teknologinya jauh lebih unggul itu.

Di bawah arahan Peter Berg, film ini sudah berjalan di jalur tepat dengan berfokus pada dua sisi utama. Satu, serbuan alien unik berhelm yang membuat mereka dapat membedakan sinar merah dan hijau terhadap obyek di hadapan sesuai tingkat bahayanya. Tidak ada penjelasan logis mengapa mereka menyerang bumi, penonton dibiarkan larut dalam asumsi masing-masing. Kedua, perlawanan NAVY SEALs dengan taktik cerdas untuk menanggulangi musuh lebih terlihat seperti pertarungan video game dimana penonton seakan dikondisikan langsung sebagai pengamat pertama.
Tak ada satupun karakter protagonis disini yang tidak heroik tetapi tanpa latar belakang kuat. Taylor Kitsch patut dicap sebagai aktor beruntung karena peran-peran besar selalu jatuh ke tangannya. Namun tokoh Hooper di tangannya terasa dipaksakan berjiwa patriotik dengan superioritas tinggi dimana karismanya masih amat kurang. Asano jauh lebih berwibawa sebagai Kapten Nagata, Liam Neeson membawakan tone yang itu-itu saja sebagai Crane yang penggerutu, Rihanna yang hanya kebagian satu/dua kata dialog singkat diiringi dengan lari kesana kemari, Decker yang berfungsi sebagai pemanja mata, kesemuanya tidak akan memorable bagi anda selepas meninggalkan bioskop.

Bagaikan perpaduan Independence Day (1996) dan Transformers (2007), efek CGI digunakan secara efektif untuk menyajikan grafis pertempuran yang memukau. Kehancuran besar-besaran terhadap planet kita tercinta yang diwakili oleh segelintir negara ini dihadirkan secara singkat tanpa eksploitasi berlebihan. Namun kontribusi sound dan music department sangat mengingatkan kita pada Transformers : Dark of the Moon (2011) dimana suara bising dentuman disana-sini saya rasakan lumayan mengganggu indera pendengaran tapi setidaknya dalam skala yang lebih tolerable.
Terbukti Battleship masih mengusung patriotisme yang kental terutama dari sudut pandang Amerika Serikat, lihat bagaimana pensiunan tentara perang mendapat “penghargaan” tersendiri menjelang akhir. Plot cerita yang kosong dan karakterisasi yang lemah setidaknya tertutupi rapat oleh suguhan aksi yang intens dan visualisasi yang mencengangkan. Sudah cukup alasan bagi anda untuk duduk anteng melalui durasi yang sedikit terlampau lama itu. You got ships and battles in preceeding, should not mind with the mindless entertainment sometimes, right?

Durasi:
131 menit


Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good

9-excellent

Sabtu, 31 Maret 2012

WRATH OF THE TITANS : Slightly Better Epic Demigods’ Letdown


Quotes:
Zeus: You will learn someday that being half human, makes you stronger than a god.

Nice-to-know:
Gemma Arterton sedianya kembali dalam produksi film ini tapi mengalami konflik jadwal dengan Hansel and Gretel: Witch Hunters (2012).

Cast:
Sam Worthington sebagai Perseus
Liam Neeson sebagai Zeus
Ralph Fiennes sebagai Hades
Édgar Ramírez sebagai Ares
Toby Kebbell sebagai Agenor
Rosamund Pike sebagai Andromeda
Bill Nighy sebagai Hephaestus
Danny Huston sebagai Poseidon

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Jonathan Liebesman yang terakhir menggarap Battle Los Angeles (2011).

W for Words:
Pada Clash of the Titans (2010), Perseus berhasil mengalahkan Medusa dan Kraken sambil menyelamatkan Andromeda dan juga kota Argos dari kehancuran. Film tersebut sukses mengumpulkan nyaris 500 juta dollar lewat peredaran internasionalnya saja. Untuk itulah Warner Bros bermata silau untuk melanjutkan petualangan tokoh yang masih diperankan oleh Sam Worthington itu ke dalam installment baru, tentunya dengan konflik yang berbeda dan musuh-musuh yang jauh lebih tangguh.
Satu dekade setelah peristiwa yang mengangkat namanya, Perseus yang merupakan keturunan dari Zeus berupaya menjalani hidup normal sebagai nelayan bersama putranya Helius di sebuah desa yang tenang. Sementara itu, perebutan kekuasaan terjadi di antara para dewa dan the Titans itu sendiri. Pemimpin Titans yaitu Kronos bekerjasama dengan Hades dan Ares mengancam kedudukan Zeus dengan pasukan mautnya. Kini Perseus harus sekali lagi mengerahkan segenap kemampuannya untuk melindungi apa yang ia punya meski harus membahayakan nyawanya.

Kali ini anda akan menjadi saksi visualisasi monster-monster yang dihidupkan oleh CGI dengan senyata mungkin mulai dari chimera, trio Cyclopes, raksasa berkepala dua Makhai hingga sang Kronos itu. Kesemuanya berguna dalam menciptakan teror yang cukup mencengangkan dan berdarah untuk sebuah film remaja. Sutradara Liebesman yang banyak menggunakan shaky cam style di paruh pertama terutama untuk pertarungan Perseus melawan raksasa mampu menghadirkan serangkaian adegan aksi ala blockbuster yang lebih nyaman untuk disimak di paruh keduanya.
Saya tidak melihat ada perbedaan akting Worthington disini. Sorot matanya masih terasa kosong dan intonasi suaranya datar saja padahal muatan emosinya jauh lebih berisi, lihat saja nasib ayahnya Zeus dan putra remajanya Helius yang berkali-kali terancam. Pike yang menggantikan Davalos sebagai Andromeda memang terlihat jauh lebih dewasa walau cenderung lebih feminin yang mengurangi kesan tangguhnya. Dua aktor senior, Neeson dan Fiennes seperti biasa tidak mengecewakan samasekali sebagai dua saudara yang saling berebut kekuasaan menjelang akhir dunia, Zeus dan Hades.

Wrath of the Titans untungnya masih menyisakan beberapa adegan yang memorable, salah satunya adalah sekuens labirin di penghujung film yang terasa mencekam. Selebihnya tidak ada perbaikan yang signifikan dari prekuelnya selain action yang lebih intens dan visual yang lebih menjual termasuk konversi 3D yang lebih efektif di setengah jam terakhir durasinya. Kekurangan dari plot cerita dan pengembangan karakternya yang miskin tidak membantu para penggemar kisah ini untuk memberikan opini yang positif. See it only if you want to see some fantasy action in the fantastic spare time but for me, the last few demigods movies have been such a letdown including this one.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$34,200,000 in opening week of Apr 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 27 Februari 2012

THE GREY : To Live Surviving Or Die Trying


Quotes:
Diaz: Fate didn't give a fuck. Dead is dead.

Nice-to-know:
Lokasi syuting di Smithers, British Columbia sempat mencapai suhu minus 40 derajat Celcius. Bahkan adegan badai salju memang benar-benar terjadi, bukan rekayasa CGI.

Cast:
Liam Neeson sebagai Ottway
Dallas Roberts sebagai Hendrick
Frank Grillo sebagai Diaz
Dermot Mulroney sebagai Talget
Nonso Anozie sebagai Burke

Director:
Merupakan film kelima bagi Joe Carnahan yang terakhir menggarap The A-Team (2010).

W for Words:
Film berbujet 25 juta dollar ini mengisahkan perjuangan hidup segelintir manusia yang kesemuanya (bukan kebetulan) adalah pria. Perjuangan melawan alam (bencana), makhluk hidup (serigala) dan juga takdir (Tuhan) yang kerapkali menjadi proses yang tidak pernah dapat kita hindari. Sesungguhnya bukan tema yang baru mengingat pernah ada Alive (1993) dari Frank Marshall yang mengambil setting sama yaitu iklim Kanada yang bersalju.
Sekelompok pengebor minyak mengalami musibah saat pesawat yang ditumpangi kandas di pegunungan Alaska. Yang tersisa kemudian adalah Ottway, Hendrick, Diaz, Talget, Burke, Flannery dan Hernandez yang berusaha bertahan hidup dari dinginnya suhu dan terpaan badai salju. Ternyata bukan hanya itu karena segerombolan serigala yang merasa terganggu mulai mengintai mereka satu persatu. Ottway yang berprofesi sebagai pemburu serigala pun berusaha memimpin mereka keluar hidup-hidup dengan segenap keahlian dan pengalamannya.

Keberanian Joe Carnahan untuk keluar dari “zona nyaman” lewat film ini patut diacungi jempol . Adrenalin anda memang masih dipacu dengan ketakutan nyata yang muncul dari perburuan serigala dan juga pembantaian manusia yang cukup sadis tetapi pengembangan karakternya sedikit terabaikan walau tidak sampai mengganggu. Sang karakter utama sendiri, Ottway tidak diceritakan latar belakangnya dengan gamblang selain halusinasi frekuentif sang istri yang entah masih hidup atau sudah meninggal, anda bisa asumsikan sendiri.
Liam Neeson masih menyisakan sisi “jagoan” yang kental seperti dalam film-film sebelumnya. Namun dalam suasana putih bersalju yang bisa berubah menjadi percikan darah, anda akan melihat sisi lain dari seorang Ottway yang rapuh karena masa lalunya. Perbedaan dari karakter lain, ketakutan yang terang-terangan diakuinya itu tidak membuatnya goyah dan tetap menggunakan akal sehat untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk terus bertahan hidup.

Momen dimana kematian begitu dekat menjadi highlight film ini. Lihat saja transisi sikap tokoh Diaz yang paling mencolok. Atau Hendrick dan Talget dapat dikatakan telanjur pesimis sehingga kemungkinan terburuk yang dapat terjadi tidak bisa dihindarkan. Setiap manusia menyikapi momen tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian orang yang religius mungkin akan melihatnya sebagai upaya berserah diri kepada Tuhan dan jalan untuk bertemu orang terkasih yang lebih dahulu meninggalkannya.
The Grey bukanlah gory thriller biasa dengan momok serigala, Carnahan terbukti membawa standar survival drama ke tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman yang terasa amat nyata dan emosional ini diyakini mampu membuat anda tercekat di kursi saat menunggu detik-detik mencekam. Tak perlu malu untuk menutup mata atau telinga jika dirasa terlalu mengejutkan anda. Terpenting untuk digarisbawahi adalah tagline film ini sendiri yakni live and die on this day. So mark every aspect of your life with appreciative efforts!

Durasi:
117 menit

U.S. Box Office:
$42,787,884 till Feb 2012.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 19 Juni 2011

UNKNOWN : Hilang Ingatan Dualisme Identitas

Quotes:
Dr. Martin Harris: For a moment they had me convinced that I was crazy. But when they came to take me, when they killed your friend, I knew.


Storyline:
Biokimia Dr. Martin Harris dan istrinya Elizabeth tiba di Berlin untuk menghadiri konferensi dimana seorang ilmuwan dan Pangeran dari Arab akan membicarakan penemuan fenomenal. Sayangnya dalam perjalanan, taksi yang ditumpangi Martin mengalami kecelakaan hingga membuatnya hilang ingatan secara utuh setelah 4 hari koma. Tanpa identitas dan kesulitan mengingat kembali, Martin mencoba menemukan istrinya yang ternyata sudah bersama Dr. Martin Harris lain yang bukan dirinya! Di samping itu ada beberapa pihak yang berusaha melenyapkan nyawanya. Bagaimana Martin bisa menjawab semua teka-teki tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Warner Bros Pictures yang berkolaborasi dengan beberapa perusahaan lainnya dimana tanggal rilis di Amerika Serikat adalah 16 Februari 2011 yang lalu.

Cast:
Aktor berusia 59 tahun ini terakhir mengisi suara Azlan dalam The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader (2010), Liam Neeson bermain sebagai Dr. Martin Harris
Memulai karirnya lewat serial televisi Duelles (2002), Diane Kruger berperan sebagai Gina
January Jones sebagai Elizabeth Harris
Aidan Quinn sebagai Martin B
Bruno Ganz sebagai Ernst Jürgen
Frank Langella sebagai Rodney Cole
Sebastian Koch sebagai Professor Leo Bressler

Director:
Merupakan film keempat bagi Jaume Collet-Serra setelah terakhir kali sukses mencabik-cabik perasaan lewat The Orphan (2009).

Comment:
Dua alasan saya menyaksikan film ini adalah faktor sutradara dan jajaran castnya terutama aktor aktris utama. Jaume Collet-Serra meskipun filmografinya belum banyak tapi sudah mampu menghasilkan karya-karya yang intriguing. Tidak peduli jika seorang Liam Neeson dikatakan terlalu banyak bermain dalam film-film sejenis sebelumnya, ia tetaplah aktor watak yang handal dalam menerjemahkan peran-peran yang ditawarkan kepadanya.
Diangkat dari novel berjudul “Out of My Head” karya Didier Van Cauwelaert, duet penulis Oliver Butcher dan Stephen Cornwell menerjemahkan bagian demi bagian dengan runut. “Who am I?” di bagian opening akan membuat anda sama blanknya dengan karakter Dr. Martin Harris. Pemaparan sekuensi yang cermat berhasil menjaga intensitas cerita sekaligus memaksa penonton untuk tetap antusias menyaksikannya hingga akhir.
Film ini lebih tepat dikategorikan suspense mystery daripada action thriller. Terlepas dari berbagai adegan aksi seru yang disematkan, tidak menjadi fokus utamanya. Jalinan kisahnya yang tidak mudah ditebak karena berbagai twist yang disisipkan membuat kita menerka-nerka akankah tokoh Dr. Martin Harris akan sukses menemukan jawaban pada akhirnya? Apa yang kita pikirkan A ternyata berbalik menjadi B, begitu seterusnya hingga seluruh rangkaian teka-teki terjawab di bagian penutupnya.

Sutradara Collet-Serra manyajikan berbagai elemen thriller yang baik layaknya pembatas buku. Lihat saja adegan pembuka kecelakaan mobil yang membuat Neeson mengalami amnesia, sangat realistis! Atau kejar-kejaran mobil di tengah kota yang mengasyikkan walau disyut tidak terlalu detil dari sisi antagonisnya. Sinematografi ciamik dihadirkan Flavio Martínez Labiano dengan nuansa abu-abu, atmosfir kering yang melambangkan cuacana Jerman yang dingin bersalju.
Penampilan Neeson mungkin mengingatkan anda pada Taken (2008). Bedanya ia ‘hilang ingatan’ disini tetapi tetap sama tangguhnya dengan peran ‘singa terluka’ disana. Salah satu aktris fave saya, Kruger di luar dugaan tidak hanya menjadi sidekick belaka. Gina tergolong superwoman yang mampu meloloskan diri dari bahaya sekaligus menyelamatkan sang superhero. Awesome! Sedangkan Jones lumayan mencerahkan sebagai ‘istri’ Dr. Martin Harris yang anggun.
Unknown bukanlah film ambisius yang ingin mencetak dollar ataupun meraup penghargaan internasional dengan kekuatan cerita dan karakterisasinya. Kemudahan antagonis melacak protagonis untuk kemudian memberinya nafas panjang sebelum menghabisinya tampak masih kurang logis. Selebihnya trio produser Leonard Goldberg, Andrew Rona dan Joel Silver benar-benar seperti mengajak penonton membaca sebuah novel seru, lembar per lembar untuk memecahkan misteri terselubung itu. Overall, well done for me. Great puzzle if you had those pieces in place!

Durasi:
113 menit

U.S. Box Office:
$63,686,397 till May 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 26 Maret 2011

AFTER.LIFE : Ketakutan Akan Kematian (Atau Kehidupan)?

Tagline:
How do you save yourself when you're already dead?

Storyline:
Setelah bertengkar dengan kekasihnya Paul, Anna mengalami kecelakaan mobil yang fatal. Ia terbangun di atas sebuah dipan dimana pengatur pemakaman Eliot Deacon mengatakan bahwa dirinya telah meninggal. Bingung dan ketakutan, Anna tidak percaya bahwa ia telah meninggal. Eliot pun meyakinkannya bahwa ia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan yang mati dan juga selalu ada masa transisi setelah kehidupan sebelum menuju kematian. Terperangkap di dalam rumah pemakaman, Anna terus berusaha mencari cara untuk mengetahui fakta yang sesungguhnya.

Nice-to-know:
Kate Bosworth dan Alfred Molina semula dikabarkan mengisi peran Anna dan Eliot.

Cast:
Peran Anna Taylor merupakan 1 dari 3 film yang dibintangi Christina Ricci di tahun 2009 selain All's Faire in Love dan New York, I Love You.
Baru saja kemarin bermain bersama Julianne Moore dan Amanda Seyfried, Liam Neeson berperan sebagai Eliot Deacon
Justin Long sebagai Paul Coleman
Chandler Canterbury sebagai Jack

Director:
Feature film pertama Agnieszka Wojtowicz-Vosloo setelah sebuah film pendek berjudul Pâté di tahun 2001.

Comment:
Sebuah film bertemakan kematian memang tidak pernah mudah untuk disaksikan. Karena biasanya memiliki kompleksitas pemahaman yang dalam dari berbagai segi seperti perasaan kehilangan ataupun menerima fakta bahwa ia telah tiada dan sebagainya. Dua hal itulah yang ditekankan oleh sutradara Wojtowicz-Vosloo lewat kedalaman eksekusi cerita yang dilakukannya dengan mumpuni.
Itulah sebabnya film ini kental dengan sentuhan feminism dari sudut pandang Anna. Bagaimana Anna yang takut akan komitmen, Anna yang rapuh melihat segala sesuatu yang dihadapinya, Anna yang bingung menyikapi hidupnya sendiri dan 1001 pertanyaan lain yang memang tidak sempat dikemukakan tapi kita dapat menangkapnya berkecamuk dalam benak Anna.
Penunjukkan Ricci sebagai Anna sangatlah tepat. Ia terlihat galau dan gamang di setiap kesempatan yang disodorkan padanya. Namun tidak mengurangi asumsi bahwa dirinya adalah wanita yang tangguh. Tak lupa sensualitas seorang Ricci tidak diragukan lagi, terlebih ia diharuskan tampil tanpa busana di berbagai scene yang menuntutnya begitu.
Neeson dan Long juga memberikan warna tersendiri disini. Kita akan melihat kekakuan Liam dalam sosok Eliot mulai dari intonasinya yang datar dan ekspresinya yang monoton. Ketenangannya tertangkap di setiap tindakannya. Sedangkan sosok kekasih yang gila kerja dan tak jarang kesulitan bersikapnya sendiri juga dihidupkan oleh Justin dengan pas. Kekalutan dan kedepresiannya juga terekam secara maksimal meskipun scene yang ditawarkan kepadanya tidak demikian dominan.
Banyak hal yang tidak terjelaskan dalam skrip yang ditulis oleh Agnieszka-Paul Vosloo dan Jakub Korolczuk ini. Membuat penonton mereka-reka sendiri dalam permainan pikiran mereka walau tak jarang akan membosankan bagi yang tidak mau berusaha mengerti. Gambaran sesungguhnya konsep kehidupan setelah kematian juga tidak dieksplorasi secara detail sehingga bisa jadi anda hanya akan merasakan betapa pahitnya (atau mengerikannya) pengalaman tersebut.
After.life bukanlah sembarang horor drama thriller supernatural atau apapun anda menyebutnya. Ini adalah pengalaman sinema dengan perdebatan panjang yang sesungguhnya bermakna dalam. Anda akan diajak menjawab pertanyaan dasar sebagai berikut: “Apakah sesungguhnya anda lebih takut akan kematian dibandingkan kehidupan itu sendiri?” Jawaban itu tidak perlu anda jawab melainkan sudah tercermin dalam tindakan anda sehari-hari.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$106,472 till Apr 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 11 Desember 2010

THE CHRONICLES OF NARNIA : THE VOYAGE OF THE DAWN TREADER

Quotes:
Aslan-But I will not tell you how long or short the way will be, only that it lies across a river. But do not fear, for I’m the great Bridge Builder.

Storyline:
Saat Lucy dan Edmund berdebat dengan sepupu mereka Eustace, lukisan kapal laut di kamar Lucy tiba-tiba menjadi nyata dan membawa mereka bertiga kembali ke Narnia. Eustace yang tidak mempercayai negeri khayalan itu menjadi terheran-heran melihat si tikus Reepicheep dan makhluk-makhluk dongeng lainnya. Sedangkan Lucy dan Edmund malah senang berjumpa kembali dengan sahabat mereka Caspian yang sudah menjadi Raja saat ini dan sedang dalam misi menemukan tujuh pedang Raja-Raja Narnia yang hilang seperti janjinya pada Aslan. Perjalanan panjang mereka mendapat banyak tantangan yang berat kemudian. Berhasilkah mereka menuntaskan misi sekaligus menguak kabut hijau misterius yang mematikan itu?

Nice-to-know:
Setelah The Chronicles of Narnia: Prince Caspian (2008) tidak mencetak hasil yang diharapkan di tangga box-office, Walt Disney tidak turut memproduseri dan mensponsori episode Narnia selanjutnya.

Cast:
Georgie Henley sebagai Lucy Pevensie
Skandar Keynes sebagai Edmund Pevensie
Ben Barnes sebagai Caspian
Will Poulter sebagai Eustace Scrubb

Voice:
Liam Neeson sebagai Aslan
Simon Pegg sebagai Reepicheep

Director:
Sutradara Inggris berusia 69 tahun bernama Michael Apted sebelum ini menyutradarai Married In America 2 (2007).

Comment:
Bagi yang sudah terbiasa dengan kehadiran Peter dan Susan, bersiaplah kecewa karena keduanya tidak tampil lagi disini. Yang ada hanyalah Edward dan Lucy yang juga telah beranjak remaja. Beruntung masih ada Caspian yang memperkuat nuansa petualangan dari seri sebelumnya. Sebagai gantinya ada peran Eustace yang tampaknya cukup penting meskipun muka baru dalam Narnia series. Kita akan “tidak nyaman” melihat tingkah laku dan mendengar suara gerutunya yang sangat mendominasi itu, dibawakan dengan sangat baik oleh Poulter. Chemistry nya dengan si tikus pejuang Reepicheep yang disuarakan oleh Pegg juga tergolong unik dan menarik.
Sutradara Apted seakan membawa Narnia ke dunia yang baru dengan visual efek yang memukau dengan berbagai setting yang variatif. Sayangnya sedikit terganggu dengan dialog yang terlalu umum dan terkesan cheesy. Chapter per chapter dikerjakan dengan pace yang seimbang mengarah pada klimaks yang cukup seru, sedikit berbeda dengan dua seri sebelumnya yang cenderung antiklimaks dan terlalu lambat. Bamyak pesan moral yang coba disisipkan disini, salah satunya adalah mencoba menjadi diri sendiri dan bersyukur atas berkat apapun yang telah diberikan. Niscaya hidup akan lebih bermakna bagi pribadi ataupun orang lain.
Secara keseluruhan, rasanya The Chronicles of Narnia : The Voyage of the Dawn Treader menyajikan aksi petualangan yang bisa dinikmati anak-anak dan orang dewasa sekaligus. Anda bisa tertawa sekaligus terpacu dibuatnya. Walaupun mungkin ada kelompok penonton yang kecewa dengan kisah fantasi disini yang di luar kebiasaan, tidak ada salahnya tetap menyaksikan penutup trilogy satu ini. Tidak perlu dalam 3D karena tidak banyak gambar hidup yang bisa dijual apalagi dark scenes nya cukup dominan. Satu hal yang unik bagi saya, Narnia seakan sebuah agama tersendiri terutama dari pandangan umat Kristiani, analogikan Aslan sebagai Tuhan yang selalu membimbing dan mengarahkan dengan suara-suaranya. Menarik bukan?

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$24,500,000 in opening week of early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 29 Juni 2010

CHLOE : Kecurigaan Istri Berbuntut Obsesif Kompulsif

Tagline:
If the one you love was lying to you, how far would you go to find out the truth?

Storyline:
Saat kecewa karena suaminya David ketinggalan pesawat untuk menghadiri acara ultah yang sudah disiapkan, Catherine mulai berpikir buruk. Akumulasi hubungan suami istri yang mulai mendingin membuatnya nekad menyewa jasa Chloe, gadis misterius yang sering wara-wiri dekat tempat prakteknya. Ketika Chloe mulai menceritakan interaksinya dengan David, Catherine menjadi cemburu dan semakin kehilangan kendali akan akal sehatnya. Benarkah perselingkuhan itu terjadi hingga rumah tangga pasutri Stewart harus berakhir?

Nice-to-know:
Saat proses syuting berjalan pada bulan Maret 2009, Liam Neeson sempat meninggalkan lokasi beberapa hari karena istrinya Natasha Richardson mengalami cedera otak akibat kecelakaan ski es. Pada akhirnya Richardson meninggal, Neeson pun dengan sukarela melepaskan kepergiannya dan kembali meneruskan perannya dalam 2 hari setelah filmmaker sepakat mengubah skripnya.

Cast:
1 dari 4 proyek film yang dikerjakannya di tahun 2009 termasuk A Single Man, Julianne Moore bermain sebagai Catherine Stewart
Baru saja mendukung remake Jennifer’s Body (2009), Amanda Seyfried berperan sebagai Chloe
Liam Neeson sebagai David Stewart
Max Thieriot sebagai Michael Stewart

Director:
Atom Egoyan mulai dikenal luas setelah meraih nominasi Oscar kategori Sutradara Terbaik lewat The Sweet Hereafter (1997).

Comment:
Dengan kumpulan berbagai premis film-film thriller erotis tahun 1990an terciptalah film yang skripnya ditulis oleh Erin Cressida Wilson ini. Sepasang suami istri yang kehidupan rumah tangganya mulai goyah ditambah dengan kehadiran wanita muda penggoda. Sounds such an old twist and turns memang, tapi untungnya berhasil diremajakan sedemikian rupa untuk sebuah citarasa baru yang tidak kalah fresh. Nicely done!
Saya harus katakan ini adalah filmnya Julianne Moore. Totalitas aktingnya patut diacungi jempol karena bersedia beradegan nudis hingga menjurus aksi seksual. Emosinya pun benar-benar terpancing natural baik saat berhadapan dengan Neeson, Seyfried, Thieriot ataupun figurnya sebagai dokter ginekolog sukses. Kerapuhannya dapat dimengerti oleh penonton yang mungkin pernah merasakan pengalaman pribadi serupa dengannya.
Bagaimana dengan Amanda Seyfried? Peran gadis baik-baik yang biasa dilakoninya berubah 180 derajat kali ini. Yang menarik kesan lugu yang terpancar dari mata bundarnya seakan mengartikan hal lain, sesuatu yang dirahasiakan sekaligus berbahaya. Kecantikannya pun sedikit berkesan dewasa dari cara berpakaiannya yang apik. Berhadapan dengan Moore setelah Streep jelas semakin memperkaya pengalaman aktrisnya di masa mendatang.
Sutradara Egoyan menghadirkan sinematografi modern yang nyaman di mata dengan penggunaan setting lokasi yang minimalis tetapi maksimal hasilnya. Berpadu apik dengan scoring musik dari Mychael Danna yang merambat lurus searah dengan elemen suspensi yang dituangkan. Perubahan yang dilakukan Egoyan terhadap akhir cerita menyesuaikan kabar dukacita yang menimpa Neeson menguatkan kepekaannya terhadap hubungan antar manusia itu sendiri
Chloe adalah sebuah drama thriller yang solid dan mampu mengikat penonton untuk terus mengikutinya sampai akhir. Endingnya mungkin masih dapat dikategorikan predictable tetapi tetap sebuah cara manis nan realistis untuk mengakhirinya demikian. Insting alamiah seorang manusia kadang lebih berbahaya apalagi jika diikuti dengan asumsi-asumsi tak berdasar yang menjurus pada tingkah laku responsif yang berlebihan. Berhati-hatilah!

Durasi:
95 menit

U
.S. Box Office:
$3,074,838 till July 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 13 Juni 2010

THE A-TEAM : Kelompok Berani Mati Bersihkan Nama Baik dan Kehormatan

Tagline:
Col. John 'Hannibal' Smith-I love it when a plan comes together.

Storyline:
Dibuka dengan pertemuan John “Hannibal” Smith, Templeton “Faceman” Peck, BA “Bad Attitude” Baracus dan HM “Howling Mad” Murdock yang tidak terduga hingga akhirnya membentuk satu kesatuan militer rahasia yang tangguh. 8 tahun berlalu dan sudah ratusan kasus mereka tangani hingga dijebak atas tuduhan pembunuhan Jenderal Morrison dan pencurian plat uang bernilai jutaan dollar! Keempatnya segera dijebloskan ke penjara selama beberapa waktu hingga ditawarkan kebebasan oleh Letnan Lynch dengan syarat mencari plat yang sesungguhnya. Tugas The A-Team tidaklah mudah karena berbagai intrik harus mereka pecahkan disamping menghindari kejaran C.I.A yang meyakini mereka bersalah. Bagaimana Kolonel Hannibal dapat memimpin timnya pada kehormatan yang menjadi hak mereka?

Nice-to-know:
Awalnya akan ditangani oleh John Singleton yang pernah sukses lewat 2 Fast 2 Furious (2003). Namun akhirnya dibatalkan oleh 20th Century Fox dikarenakan beberapa perubahan besar yang dilakukannya.

Act:
Aktor senior, Liam Neeson yang pertama kali bermain film dalam Pilgrim's Progress (1979) didapuk sebagai Komandan Hannibal Smith yang pandai mengatur strategi.
Aktor berusia 35 tahun yang sedang naik daun bernama Bradley Cooper ini kebagian peran Letnan Templeton Peck yang flamboyan.
Jessica Biel mengawali akting lewat Its a Digital World (1994) dan kali ini bermain sebagai kapten cantik, Charisa Sosa.
Tidak lupa si 'Rampage', Quinton Jackson dan Sharlto Copley yang angkat nama lewat District 9 (2009) sebagai B.A. Baracus yang jago kelahi dan Murdock yang gila.

Director:
Joe Carnahan terakhir menggarap Smokin' Aces (2006) dan kali ini bertindak sebagai penulis skenario juga untuk film yang diangkat dari serial televisi ternama tahun 1980an.

Comment:
Serial televisinya yang top di tahun 1980an hanya pernah sesekali saya ikuti bersama bokap di rumah, tentunya karena masih berusia di bawah 10 tahun, saya belum terlalu mengerti keseluruhan jalan ceritanya. Saat mendengar akan dibuat versi layar lebarnya, saya penasaran walau tidak antusias. Nyatanya sejauh ini, inilah film musim panas 2010 yang seharusnya disuguhkan! Ceritanya meski tergolong klise, kalau tidak mau dibilang sedikit mengingatkan The Losers beberapa pekan lalu, tetapi disuguhkan dengan tempo cepat yang dipadukan dengan skenario yang gemilang. Dengarkan saja sindiran tajam Baracus, celotehan gila Murdock, rayuan manis Peck ataupun instruksi tegas cerdas Hannibal. Dan castnya merupakan nilai paling plus disini. Neeson yang kadung matang tidak mengecewakan kepemimpinannya, Cooper tampan menggoda, Jackson gahar dengan rambut Mohawknya, belum lagi Copley yang melebur dengan kesintingannya. Lupa untuk menyebutkan Biel yang cantik tegas seperti biasa, atau bahkan Patrick Wilson yang herannya tidak tercantum namanya dalam credit title? Bujet besar diimbangi dengan penggunaan spesial efek pada scene yang tepat sehingga hasilnya mengagumkan, lihat bagaimana tank berpayung meluncur bebas di pertengahan atau kontainer cargo berjatuhan tak karuan di penghujung cerita. Sutradara memaksimalkan semua elemen yang dimiliki sehingga durasinya yang cukup panjang tidak terasa. The A-Team memang tidak akan membuat anda berpaling pada pilihan B. Tidak percaya?

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$30,000,000 in opening week mid June 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 04 April 2010

CLASH OF THE TITANS : Pertarungan "Balas Dendam" Manusia Melawan Dewa

Quotes:
Perseus-If I do this, I do it as a man.
Draco-But you are not JUST a man!

Storyline:
Yunani masa purba, kota Argos mengingkari kekuatan dewa-dewa sehingga dikutuk akan dimusnahkan dari muka bumi jika dalam 10 hari, putri raja Andromeda tidak dikorbankan kepada Kraken, monster lautnya dewa Hades pada saat gerhana. Sementara itu Perseus yang semasa kecil menjadi satu-satunya selamat dari karamnya kapal nelayan telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tangguh. Ia sesungguhnya masih keturunan Zeus sehingga mendapat sebutan demigod, setengah manusia setengah dewa. Dendamnya pada Hades coba dituntaskan Perseus dengan menyelamatkan kota Argos. Dengan bantuan Calibos, Io, Draco dkk, mereka berkelana mencari jawaban untuk mengalahkan Kraken. Berhasilkah mereka?

Nice-to-know:
Awalnya Stephen Norrington akan menyutradarai film ini tetapi ia belum pernah menyaksikan versi aslinya sehingga tidak yakin mampu. Pada Juni 2008, proyek akhirnya diserahkan pada Louis Leterrier.

Cast:
Karir layar lebarnya dimulai lewat Bootmen (2000), kini Sam Worthington didapuk sebagai Perseus masa kini yang keras hati sekaligus tangguh bertarung.
Dua aktor senior, Liam Neeson dan Ralph Fiennes didaulat sebagai dewa yang selalu berseberangan yaitu Zeus dan Hades.
Dua gadis cantik, Gemma Arterton dan Alexa Davalos dipercayakan sebagai Io dan Andromeda.

Director:
Terakhir menggarap The Incredible Hulk (2008) yang cukup sukses itu, pria Perancis bernama Louis Leterrier ini sangat mengagumi film klasik Clash Of The Titans (1981) dan antusias saat mendapat kesempatan meremakenya.

Comment:
Apakah sebuah kesalahan melakukan remake film klasik dengan tambahan spesial efek? Hm, bisa jadi iya walau harapan meraih hasil yang lebih baik juga ada. Sebetulnya jika ditelaah lebih jauh dunia dewa-dewa teramat sangat banyak karakternya dengan karakterisasi dan cerita kehidupannya masing-masing. Clash Of The Titans hanyalah menarasikan segelintir peristiwanya dan sayangnya hal tersebut sudah dilakukan oleh film pop remaja, Percy Jackson yang baru launching beberapa bulan lalu! Plot ceritanya memang terkesan mengambang karena diawali seperti di tengah-tengah sesuatu dan tiba-tiba saja Perseus sudah dewasa tanpa kita tahu perkembangan jiwanya. Transisi antara adegan aksinya juga sedikit mengganggu, belum lagi dialognya yang tidak terlalu mengesankan. Mengingatkan film-film blockbuster buatan Michael Bay yang tidak beremosi dan bermakna. Worthington sudah melakukan yang terbaik bagi karakter Perseus tetapi kedalaman eksplorasinya tidak memungkinkan. Fiennes dan Neeson sekalipun tidak dapat berkontribusi banyak karena cerita seakan tidak menjadi fokus utama. Di luar faktor aksi dan visual efek yang menampilkan Medusa dan Kraken, film ini tidaklah terlalu spesial apalagi sampai dibilang epik. Faktor 3D juga tidak akan banyak membantu karena 2D nya sendiri sudah cukup.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$61,400,000 in first week of April 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 14 Juli 2009

THE OTHER MAN : Kematian Istri Kuak Rahasia Cinta Lain

Tagline:
Is knowing the truth worth living a lie?

Storyline:
Di Cambridge, teknisi software Peter telah menjalani pernikahan yang bahagia selama lebih dari 25 tahun bersama desainer sepatu Lisa. Mereka juga dikaruniai seorang putri yang beranjak dewasa, Abigail yang berencana menikah dengan George dalam waktu dekat ini. Selama hidupnya, Lisa kerapkali pergi ke Italia untuk berbisnis dengan Gianni & Gianni Company tanpa diketahui suaminya bahwa ia berselingkuh dengan Ralph..Rahasia tersebut terbongkar setelah kematian Lisa saat Peter menemukan email cinta Ralph di komputer istrinya. Peter yang terluka langsung pergi ke Italia untuk menemukan sosok Ralph yang sesungguhnya.

Nice-to-know:
Laura Linney mengambil alih peran Lisa dari tangan Juliette Binoche.

Cast:
Baik Banderas maupun Neeson sebelumnya terlibat pengisian suara dalam film anak-anak, Neeson sebagai Aslan dalam The Chronicles of Narnia: Prince Caspian (2008) dan Banderas sebagai Ralph dalam Shrek The Third (2007).
Liam Neeson sebagai Peter
Laura Linney sebagai Lisa
Antonio Banderas sebagai Ralph
Romola Garai sebagai Abigail

Director:
Sebelum ini Richard Eyre menggarap Notes on a Scandal (2006).

Comment:
Premis film ini harus diakui menarik, perasaan terdalam suami setia yang mengetahui istri yang disayanginya ternyata selingkuh di belakangnya. Apalagi didukung aktor aktris yang sudah sering wara-wiri di perfilman Hollywood. Neeson yang biasanya garang dan tangkas kali ini terlihat rapuh dan kesepian. Banderas masih dengan peran pria Latin yang flamboyan dan pecinta yang romantisi. Linney sendiri memperlihatkan sosok istri, ibu dan wanita karir sukses yang terlihat sempurna di segala hal. Ketiganya berusaha keras menutupi skrip yang memang sangat lemah tetapi kelihatannya sia-sia saja sebab setelah 30 menit pertama, film ini entah mau dibawa kemana.
Kesalahan terbesar mungkin ada di tangan sutradara Eyre yang seperti kehilangan jiwa dalam mengeksekusi sebuah film. Nyaris semua scene terekat secara dipaksakan padahal seperti berdiri sendiri-sendiri. Belum lagi alur mundur maju dengan pergerakan yang lambat benar-benar membosankan. Konklusi dari semua konflik juga dikonsep begitu saja di 10-15 menit terakhir, meninggalkan penonton dalam pertanyaan. Sebetulnya The Other Man memiliki modal yang baik untuk menjadi sebuah drama yang dalam maknanya, hanya saja segala sesuatunya terasa misleading, misdirect, misinterpret, Too bad!

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent