XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label dokumenter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokumenter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

WORKING GIRLS : Dilematis Kaum Perempuan Pencari Nafkah

Tagline:
We love, we struggle, we have dreams, just like you!

Terbagi dalam 3 segmen:
5 MENIT LAGI AH.. AH.. AH..
(35 min) by Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak
Ayu Riana sudah menjadi tulang punggung keluarganya di usia 14 tahun saat memenangkan kontes dangdut Superdut di salah satu stasiun televisi pada tahun 2008. Aksinya dari satu panggung ke panggung, kampung demi kampung di Jawa Barat menghasilkan uang yang cukup banyak. Namun akankah tekanan keluarga turut mengaburkan impian pribadi Riana yang sebenarnya?

ASAL TAK ADA ANGIN (40 min) by Anggi C. Noen
Kamek dan kawan-kawannya bertahun-tahun menjalani pilihan hidup sebagai seniman pertunjukan tradisional Jawa yaitu Ketoprak Tobong yang perlahan-lahan mulai terkikis jaman. Benarkah nafas dan hidup belakang panggung mereka mampu bertahan di tengah modernitas dan kebutuhan ekonomi terekonstruksi yang semakin mendesak?

ULFIE PULANG KAMPUNG (45 min) by Daud Sumolang dan Nitta Nazyra C. Noer
Ulfie, waria yang memiliki salon kecantikan sendiri di Jakarta bertekad pulang ke kampung halamannya di Aceh setelah bertahun-tahun. Ia secara rutin mengirimkan uang pada ibu dan abang-abangnya disana walau tidak sering bertemu muka. Rasa mirisnya mulai timbul saat mengetahui banyak teman-teman sesama waria di tanah kelahirannya meninggal karena HIV. Rasa kemanusiaan dan kepeduliannya merangsak naik dan bertekad berbuat sesuatu untuk mencegah keterpurukan situasi tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation melanjutkan tema perempuan yang sudah diangkat lewat Pertaruhan (2008) yang sempat rilis terbatas itu.

Comment:
Kehidupan kaum perempuan memang menjadi salah satu tema yang tidak akan pernah habis untuk digali dalam sebuah produksi film. Tanpa terkecuali Nia Dinata yang sebagai produser aktif membangkitkan sineas-sineas muda atau yang belum berpengalaman sekalipun untuk dapat berkarya secara nyata. Kali ini dipilih konsep dokumenter untuk menyajikan semua konflik yang beraneka ragam dari sudut pandang yang variatif.

Ketiga segmen disini dapat dikatakan mewakili perempuan dari kaum ekonomi lemah yang masih dalam taraf “berjuang” menjadi tulang punggung keluarga. Pengenalan dari awal hingga penyampaian konflik yang mulai memuncak tersampaikan dengan cukup baik. Penyelesaiannya tidak perlu diharapkan karena filmmaker bercerita apa adanya dan audiens dianggap cukup cerdas untuk mampu mencerna poin yang digarisbawahi.

Sayangnya ada sedikit kekurangan yang cukup mengganggu yaitu eksekusi kamera dan proses editing yang masih berjalan kurang mulus. Hal ini berdampak pada antusiasme penonton yang bisa jadi turun karena tidak berhasil menyatu dengan apa yang disuguhkan di layar. Beda halnya dengan Pertaruhan (2008) yang tergolong kreatif dan mampu menjaga intensitas audiens untuk bersinergi pada permasalahan-permasalahan yang dibahas.

Dari semua segmen yang hadir, favorit saya adalah segmen Ulfie Pulang Kampung. Benang merahnya terasa bold yaitu konflik paling relevan saat ini mengenai transgender dan penanganan HIV. Belum lagi hadirnya beraneka sudut pandang dari berbagai tokoh di luar Ulfie sendiri. Acungan jempol bagi Nazyra dan Daud yang mengerahkan upaya tidak sedikit untuk “sampai” ke Nangroe Aceh Darussalam yang terkenal keras dan tertutup itu.

Akhir kata Working Girls memang belumlah sempurna. Namun proses pembelajaran para filmmaker terhadap documentary style tersebut arahnya sudah benar. Bravo Kalyana Shira yang tidak pernah bosan akan upayanya membuka mata publik akan dilema yang dihadapi kaum perempuan secara universal. Tidak usah berkaca terlalu jauh, mulailah dari ibu, saudari, nenek, bibi dan rekan-rekan perempuan lainnya yang anda miliki untuk dihargai secara utuh.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 13 Mei 2011

ELITE SQUAD : Kesatuan Elit Kontra Warga Sipil

Tagline:
On the streets of Rio only the elite survive.

Storyline:
Pada tahun 1997 sebelum kedatangan Paus ke Rio de Janeiro, Kapten Nascimento dari BOPE (Batalyon Polisi Operasi Khusus) ditugaskan untuk mengakhiri resiko peredaran narkoba di daerah kumuh tempat Paus akan tinggal sementara waktu. Nascimento yang berniat pensiun dan menjadi pelatih kesatuan baru karena istrinya tengah mengandung pun berusaha menemukan penggantinya dalam waktu singkat. Pilihannya mungkin jatuh pada dua sahabat yang idealis, Neto dan Matias yang bertekad menjadi polisi jujur dan menjunjung tinggi kebenaran. Namun apakah semuanya sesederhana itu?

Nice-to-know:
Selama syuting, sebuah van dengan 90 senjata tangan (30 asli dan 60 palsu) dirampok di bukit Chapéu Mangueira. Sekelompok polisi setempat langsung menyisir Favela Pavão-Pavãozinho di Copacabana tetapi hanya berhasil dikumpulkan setengahnya.

Cast:
Wagner Moura sebagai Capitão Nascimento
André Ramiro sebagai André Matias
Caio Junqueira sebagai Neto
Milhem Cortaz sebagai Capitão Fábio
Fernanda Machado sebagai Maria
Maria Ribeiro sebagai Rosane

Director:
Merupakan feature film pertama bagi José Padilha yang sebelumnya menangani beberapa dokumenter.

Comment:
Berapa banyak film berbahasa Portugis yang bisa anda ingat? Atau jangan-jangan anda belum pernah menontonnya samasekali. Tidak usah malu karena sayapun tidak berhasil mengingat satu judul juga. Yang pasti alasan saya menyaksikan film satu ini karena rasa penasaran akan ratingnya yang tinggi dimanapun ditayangkan. Meski sudah rilis tahun 2007 lalu tidak apa jika baru bisa masuk bioskop Indonesia tahun ini. Berterima kasihlah pada krisis film yang tak kunjung selesai.
Nyaris tidak ada plot cerita yang baku disini karena disajikan dengan gaya dokumenter. Seakan kurang meyakinkan, film ini juga mengambil setting kejadian yang sesungguhnya. Tidak heran jika sampai ada scene sesi talkshow televisi, perbincangan surat kabar hingga mulut ke mulut antar warga di dalamnya. Kesemuanya mengambil bermacam-macam sudut pandang mulai dari tentara, penduduk sipil dsb hingga batasan protagonis dan antagonis terasa kabur.
Sutradara Padilha memang tidak asing dengan konsep documentary movie. Itulah sebabnya ia begitu lugas memainkan handheld camera ataupun shot jauh-dekat yang terasa sangat real. Rodrigo Pimentel mantan kapten BOPE tersebut juga diajak untuk menulis skrip bersama-sama demi mendekatkan isi film dengan fakta yang ada dimana BENAR dan SALAH akan selalu menjadi perdebatan panjang dalam Kepolisian itu sendiri.
Aktor-aktor yang terlibat disini juga memberikan kontribusi positif meski belum banyak berpengalaman atau dikenal public sebelumnya. Terutama Moura sebagai Nascimento yang berjiwa pemberontak, percaya pada dirinya sendiri justru harus menghadapi tekanan dari istri dan tanggungjawabnya terhadap kesatuan elit tersebut. Perubahan sikapnya dari awal sampai akhir terwujud dengan baik sehingga bisa dimengerti alasan yang sesungguhnya.
Tropa de Elite memang teramat jujur dalam mengusung konsep pacifism dan militarism secara bergantian. Segala keburukan sebuah negara seperti dihadirkan dengan gamblang yang berujung pada kekerasan dan ketidak adilan yang tiada akhir. Sebuah pengalaman wajib bersinema yang mungkin membuat anda membutuhkan aspirin untuk menyelesaikannya hingga ending. Saya memuji Elite Squad sebagai karya brilian tapi terus terang tidak menyukai gaya dokumenter dan narasinya yang terlalu dominan. Bagaimana dengan anda?

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$8,060 till Sept 2008

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 12 Desember 2010

HAUNTED CHANGI : Menelusuri Rumah Sakit Bersejarah Terbengkalai

Tagline:
In January 2010, a group of filmmakers began exploring Old Changi Hospital in Singapore.. with terrifying and tragic results.

Storyline:
Empat orang masing-masing Andrew, Sheena, Audi dan Farid mempunyai proyek menyelidiki RS Changi yang terbengkalai dan konon berhantu. Berbagai kamera ditempatkan di setiap sudut untuk mengambil gambar sepanjang hari, siang dan malam. Terkadang mereka turun langsung ke lokasi untuk mencari terowongan rahasia yang tersembunyi sejak jaman penjajahan Jepang atas bangsa Singapura tersebut. Kemudian bergabungnya Tim Pemburu Hantu Singapura dengan keempat muda-mudi tersebut. Apa yang akan mereka temukan disana?

Nice-to-know:
Tanggal premiere film ini di negara asalnya adalah 2 September 2010.

Cast:
Andrew Lau sebagai Director
Sheena Chung sebagai Producer
Farid Azlam sebagai Sound
Audi Khalis sebagai Camera

Director:
Andrew Lau

Comment:
Film ini sangat menghebohkan Singapore beberapa bulan terakhir. Pasalnya keempat orang yang berinisiatif terjun langsung dalam proyek ini menggunakan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk menciptakan eforia tersendiri. Bagaimana mereka membeberkan timeline produksi mulai dari ide awal hingga berjalannya syuting. Taktik promosi yang pintar sehingga membuat publik setempat penasaran luar biasa apalagi Rumah Sakit Tua Changi itu memang sudah kesohor angkernya sejak tahun 1997.
Prolog dibuka dengan pengenalan para kru yang terlebih dahulu menceritakan sejarah rumah sakit tersebut sekaligus mewawancarai beberapa penduduk setempat. Hal ini sangat krusial mengingat audiens di luar Singapura membutuhkan informasi tersebut untuk benar-benar masuk ke dalam tujuan pembuatan dokumenter ini. Bisa diartikan juga pemanasan agar anda bisa berimajinasi terlebih dahulu akan apa yang ditampilkan kelak. Nyaris separuh durasi film dihabiskan untuk hal ini dan suka tidak suka memang agak membosankan.
Ketakutan yang berusaha dihadirkan terbagi menjadi dua yaitu siang dan malam hari. Pada siang hari, walau tanpa spesial efek apapun, gedung tua itu sudah sangat mengerikan yang menyiratkan akan kesepian yang misterius. Bagian ini diyakini mampu membuat anda terjaga untuk berusaha menangkap setiap detil yang mungkin muncul. Pada malam hari memang dibantu oleh night vision dari berbagai jenis kamera yang sukses menyingkap bayangan dari pencahayaan yang minim. Bagian ini saya acungi jempol akan keberanian mereka menelusuri lorong-lorong sempit dimana terkadang bertemu dengan hal-hal aneh yang sulit dijelaskan.
Twist dirancang pada akhir cerita yang meski tidak terlalu mencengangkan tetapi kenyataan yang terbangun cukup membuat audiens sedikit "blank". Haunted Changi merupakan proyek ambisius negeri Singapura untuk menembus pasaran horor internasional dengan konsep found footage pertamanya. Benarkah rekaman yang terdiri dari potongan-potongan gambar ini asli? Terus terang saya sedikit meragukannya atas berbagai alasan. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 29 Mei 2010

OCEANS : Kehidupan Bawah Laut Yang Menakjubkan

Tagline:
Explore the depths of our nation's oceans. Experience the stories that connect their world to ours.

Storyline:
Nyaris tiga perempat belahan bumi ditutupi air dan film ini secara tegas membabarkan penjelajahan misteri yang terdapat di dalamnya termasuk eksplorasi manusia terhadap ekosistem bawah laut dan juga jenis-jenis makhluk hidup yang mungkin tidak pernah anda bayangkan sebelumnya.

Nice-to-know:
Merupakan film kedua yang didistribusikan Disneynature setelah Earth (2008) untuk menyambut Hari Dunia yang jatuh pada tanggal 22 April 2010.

Cast:
Untuk versi Inggrisnya, narator disuarakan oleh mantan James Bond, Pierce Brosnan.

Director:
Jacques Perrin sempat dinominasikan Best Picture Academy Awards 1970 bersama Ahmed Rachedi lewat Z (1969) kali ini dibantu astrada, Jacques Cluzaud.

Comment:
Jika sebelumnya ada Earth (2008) secara luar biasa sukses di pasaran internasional maka film ini dapat dikatakan lebih spesialis pada kehidupan bawah laut. Kamera berteknologi tinggi dari berbagai sudut termasuk yang disematkan kepada helikopter elektrik yang dikendalikan remote kontrol dan juga speedboat berhasil menyorot gambar-gambar menakjubkan. Coba bayangkan ikan paus yang berjumpalitan di udara, ikan sarden yang berenang berkelompok dengan cepat atau pertempuran antar ekosistem demi bertahan hidup. Semua itu merupakan kerja keras bertahun-tahun sutradara dan tim produksi yang berkelana di berbagai belahan dunia. Narasi yang dijabarkan bisa dikatakan minimal dan tidak menggurui samasekali meskipun tetap menyelipkan pesan moral akan perilaku manusia menjamah ataupun mencemari lautan dengan sesuka hati. Endingnya ditutup oleh penggambaran kapal laut yang berjuang mengatasi badai cuaca yang ganas di tengah lautan dengan ombak berpuluh-puluh kaki yang menerjang. Walaupun secara keseluruhan kualitasnya masih sedikit di bawah Earth dalam hal pengaturan tempo dan tensi penceritaan, Oceans tetap layak tonton bagi anda dan keluarga yang peduli akan lingkungan tentunya.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$18,524,665 till end of May 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 18 Maret 2010

TEREKAM : Rekaman "Nyata" Koya Pagayo

Quotes:
Monique-Sini gw bawain barang-barang loe
Jupe-Ga perlu Mon. Gw tau beban hidup loe aja uda berat!

Storyline:
Terobsesi menjadi sutradara, Olga mencoba dahulu dengan proyek film horor kecil-kecilannya dengan kamera tangan. Bersama kedua sahabatnya, Monique dan Jupe, Olga mendatangi sebuah villa milik Siska di kawasan Gadok untuk menyusun skrip sekaligus syuting seadanya. Sejak awal kehadiran mereka bertiga sudah mengusik "penunggu" villa itu. Beberapa penemuan yang cukup menyeramkan belum membuat mereka ciut dan malah melanjutkan aktifitasnya. Beberapa kamera yang dipasang di sudut-sudut ruangan rupanya merekam sesosok makhluk menyeramkan. Setelah teror demi teror, ketiganya pun terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures.

Cast:
Masing-masing tampil sebagai dirinya sendiri
Olga Lydia
Julia Perez
Monique Henry

Director:
Merupakan film kelimanya di tahun 2010, Koya Pagayo bekerjasama dengan sang produser, Lucky Hakim untuk menggarap horor dokumenter ini.

Comment:
Temanya tidak terlalu asing lagi, lagi-lagi mengenai "pembuatan film horor" di suatu tempat asing yang angker. Dari ketiganya, boleh jadi kehadiran Jupe lah yang selalu menjadi "penyegar", bukan karena keseksian tubuh atau pakaian minim yang diperlihatkannya melainkan spontanitasnya di depan kamera. Lihat saja aktingnya menari, menyanyi, berekspresi dan berguyon yang sama lugasnya. Itulah yang dibutuhkan film bergaya dokumenter ini. Sedangkan Olga dan Monique terlihat seperti membintangi film biasanya saja. Tampilan hantu mungkin cukup menyeramkan karena dibuat kabur ataupun versi night mode yang minim pencahayaan itu. Nampaknya Koya masih perlu belajar lagi untuk "mencontek" REC / Quarantine yang mencekam itu. Eksekusinya tidak terlalu buruk tapi improvisasi dan angle-angle kameranya masih kurang maksimal. Dari segi ending, akan lebih baik jika diakhiri di villa itu saja tanpa perlu diperpanjang adegan di apartemen yang sangat merusak originalitasnya. Yang lebih bodoh lagi, Terekam dibuka dan ditutup dengan wawancara ketiga pemainnya yang tentu saja merusak unsur 'kenyataannya' itu.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Minggu, 29 November 2009

PARANORMAL ACTIVITY : Apa Yang Terjadi Saat Anda Tidur?

Quotes:
Katie-You promised me you wouldn't get a fucking Ouija board!
Micah-No, I promised I wouldn't go *buy* Ouija board. I borrowed one.

Cerita:
Pasangan muda dari kalangan menengah, Micah dan Katie pindah ke rumah pinggir kota dengan harapan mendapatkan suasana baru terlebih karena Katie "sensitif" sejak kecil. Namun disana mereka malah mengalami gangguan supranatural terutama di tengah malam atau subuh saat beristirahat lelap. Hari demi hari, malam demi malam, Micah dan Katie berusaha keras mencari tahu apa yang sesungguhnya menghantui mereka.

Gambar:
Berlokasi syuting di San Diego, gambar yang ditampilkan dari sudut pandang camera/webcam terasa sangat riil dengan night mode.

Act:
Micah Sloat dan Katie Featherston pernah tampil sebagai bintang tamu dalam The Jay Leno Show dan The Bonnie Hunt Show di tahun 2009 ini. Akan menarik menanti kiprah mereka di masa yang akan datang.

Sutradara:
Bertindak mulai dari proses casting, penulis cerita, editor, produser sampai sutradara dilakoni Oren Peli yang mendadak terkenal setelah film produksi 2007 ini meledak justru beberapa tahun setelahnya.

Comment:
Penceritaan film ini bisa dikatakan sangat sederhana tapi bisa dialami oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-harinya. Jika anda melihat dari sudut pandang yang sempit, film ini akan terasa biasa saja. Namun jika anda memperhatikan lebih seksama, banyak sekali kelebihan yang ditawarkannya. Akan saya uraikan satu persatu. Pemilihan Katie dan Micah sendiri bisa dibilang tepat karena berbagi chemistry yang kuat, dimana dialog yang diucapkan dan gestur tubuh yang ditampilkan mempertajam situasi buruk yang mereka hadapi bersama. Sang sutradara sangatlah pandai memaksimalkan tensi, penokohan dan imajinasi sehingga jalinan kisah semakin mantap. Pemilihan tata suara, pencahayaan dan sudut pandang kamera juga brilian sehingga terkesan homemade video selayaknya yang pernah ditampilkan dalam A Blair Witch Project sebagai pionirnya. Paranormal Activity tidaklah menampilkan sosok hantu tetapi membuat anda membayangkannya dan itu jauh lebih menakutkan. Endingnya cukup shocking, niscaya penonton akan terdiam dahulu selama beberapa saat. Salah satu film terseram sepanjang masa yang bisa jadi membuat anda sulit tidur berhari-hari setelah menyaksikannya!

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$103,690,184 till mid Nov 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 03 September 2009

KERAMAT : "Live Show" Mencekam Sebuah Kru Film Di Bantul

Cerita:
Sebuah tim produksi film, berangkat dari Jakarta ke daerah Bantul Yogyakarta dalam rangka persiapan shooting film. Dengan style kota besar yang dibawanya, mereka bersikap seenaknya saat memasuki daerah yang disucikan dan keramat. Akibat mengusik tabu, sehingga kejadian demi kejadian aneh mereka alami. Melalui paranormal, mereka mengetahui alam mistis di sekitar mereka sedang bergolak karena sesuatu hal. Kehadiran mereka tampaknya memperburuk keadaan. Bagaimana mereka bisa keluar dengan selamat dari tempat tersebut?

Gambar:
Tanpa sinematografi karena handheld camera style biasanya tidak fokus dalam mempertunjukan scene demi scenenya terutama di adegan malam hari.

Act:
Poppy Sovia
Migi Parahita
Sadha Triyudha
Miea Kusuma
Dimas Projosujadi
Diaz Ardiawan
Brama Sutasara


Sutradara:
Hanyalah sebuah film eksperimen bagi seorang Monty Tiwa yang belakangan semakin kehilangan sentuhannya sehingga berusaha menggali ide-ide baru yang sayangnya tidak pernah tergarap dengan baik olehnya!

Komentar:
Sulitnya mengambil tema orisinil bagi sebuah film bertipe semi dokumenter seperti ini. Alhasil Keramat yang dibumbui kejadian nyata gempa di Bantul beberapa tahun lalu dengan memadukan unsur lokal "terkesan" mengekor formula film-film luar seperti Blair Witch Project, Cloverfield ataupun Quarantine. Jika ketiga film tersebut bisa dibilang berhasil mengekspos kengerian dengan konsisten dan setidaknya "terasa" masuk akal, tidak halnya dengan Keramat. Semua elemen kejutan yang berusaha ditampilkan sayangnya malah membuat penonton semakin "enggan" dan mengernyitkan kening karena terganggu semua panca inderanya. Dari awal sampai akhir, tidak ada penjelasan yang jelas atas tindakan A, tindakan B dsb dan berujung pada suatu konklusi yang campur aduk. Para pemainnya juga sama sekali tidak membantu dalam "berakting". Hm, mudah-mudahan tidak ada lagi yang mencoba hal serupa jika tidak didukung dengan skill yang baik. Percayalah, hasilnya hanya akan menjadi mimpi buruk saja!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 19 Juni 2009

THE HURT LOCKER : Aksi Penjinak Bom di Kancah Peperangan Sipil

Tagline:
War is a drug

Cerita:
Sekelompok tentara elit yang bertugas mengamankan bom di tengah peperangan. Ketika sersan baru, James mengambil alih tugas tingkat tinggi penjinak bom di tengah konflik, dia mengejutkan dua bawahannya, Sanborn dan Eldridge dengan membawa mereka dalam permainan hidup dan mati dengan pertikaian warga setempat. James berlaku seakan dia tidak peduli dengan maut. Kota yang bertikai pun semakin kacau dan karakter asli James muncul dan mungkin mengubah pribadi masing-masing selamanya.

Gambar:
Kota Irak yang seakan menjadi gurun luas dengan setiap lokasi menjadi ladang peperangan disyut dengan sangat realistis.

Act:
Pernah mendukung S.W.A.T (2003), Jeremy Renner tampil cemerlang sebagai Sersan William James yang berkarakter keras dan tidak kenal takut.
Anthony Mackie sebagai JT Sanborn yang tangguh tapi memiliki batas kemanusiaan ini sepintas mirip Will Smith, juga pernah membintangi film sejenis dalam We Are Marshall (2006).
Brian Geraghty sebagai Owen Eldridge yang penakut dan terjebak dalam situasi yang tidak pernah dibayangkannya.

Sutradara:
Tak dinyana Kathryn Bigelow merupakan sutradara wanita penghasil film-film keras termasuk satu yang paling dikenal yaitu Point Break (1991) yang melejitkan nama Keanu Reeves. Dalam Hurt Locker, ia menggunakan pendekatan semi dokumenter dalam bercerita. Menarik!

Komentar:
Dari awal kita sudah disuguhi adegan realistis yang seakan membuat penonton seperti benar-benar berada di tengah peperangan. Desing peluru, ledakan bom, rentetan tembakan dan lain-lain terasa sangat nyata. Konflik antar pasukan penjinak bom memang bukan yang baru ditampilkan tetapi tidak mengurangi daya tarik film ini. Intensitas bercerita yang konsisten pada tensi tinggi sampai akhir menambah keunggulan film ini. Hanya saja yang tetap harus menjadi perhatian adalah tidak semua orang bisa menikmati film perang apalagi tanpa ilustrasi musik samasekali. Bagaimana dengan anda?

Durasi:
115 menit

Europe Box Office:
$136,205 (Italy) till Nov 2008

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 21 Februari 2009

GENERASI BIRU : Musikal/Dokumenter Yang Membuka Sisi Lain SLANK

Cerita:
Perjalanan kelompok musik cadas SLANK dengan tokoh-tokoh yang memiliki trauma terhadap kekerasan, politik, drugs dan cinta. Tokoh Bimbim bertemu dengan tokoh anak kecil yang selalu sembunyi di bawah meja karena melihat orang tuanya diculik saat dia bermain di bawah meja. Kaka bertemu dengan Nadine, Ivan dan Ridho bertemu tokoh manusia binatang yang berperilaku seperti binatang karena pernah merasakan dihajar layaknya seekor binatang, sementara Abdi bertemu dengan tokoh ibu yang anak-anaknya diculik di masa reformasi. SLANK berusaha melawan berbagai bentuk kekerasan dan cekal yang menyebabkan trauma-trauma tersebut. Pada akhirnya mereka bisa bersama-sama keluar menuju pulau biru. Pulau tanpa kekerasan dan ancaman, penuh dengan kedamaian.

Gambar:
Sangat abstrak dan penuh bahasa simbol yang dipadukan dengan koreografi unik!

Act:
Lucu menyaksikan polah tingkah para personil SLANK di film ini dimana mereka menyanyi, menari dan berbicara di luar kebiasaan mereka masing-masing.
Didampingi pula oleh si cantik mantan Puteri Indonesia, Nadine Chandrawinata yang menari dengan absurd.

Sutradara:
Film keduanya yang beredar tahun ini setelah Under The Tree, Garin Nugroho mencoba jalur biografi yang dikombinasikan dengan dokumenter dan musikal. Gaya khasnya masih cukup kental dimana filmnya cenderung jatuh menjadi art movie yang tidak bisa dicerna begitu saja. Bekerja sama dengan John De Rantau dan Dosy Omar, mereka mencoba mengetengahkan peringatan 25 tahun SLANK di blantika musik Indonesia dengan berbagai elemen film yang konon diinspirasi dari sebagian besar lirik lagu SLANK yang banyak menyorot kepekaan sekitarnya mulai dari masalah narkoba, korupsi, perdamaian, asmara dll.

Komentar:
Terlalu liar untuk bisa disebut sebagai film musikal dan terlalu rumit untuk ukuran sebuah film dokumenter, belum lagi dikombinasi dengan beberapa scene animasi kreatif. Memang sulit bertahan menyaksikan film jenis baru ini dari awal sampai akhir sehingga sebagian besar penonton (yang mungkin awalnya penggemar SLANK ataupun lagu-lagunya) keluar masuk bioskop ataupun bermain-main dengan hp di kursinya masing-masing. Ah tapi tetaplah seorang Garin harus diapresiasi dengan kreatifitas dan kejeliannya dalam menggarap sebuah film dan kapan lagi kita bisa melihat "sisi lain" dari para personil SLANK itu sendiri?

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 20 Desember 2008

QUARANTINE : "Laporan Langsung" Karantina Gedung Apartemen

Cerita:
Reporter televisi, Angela Vidal dan kameramen, Scott ditugaskan untuk meliput kehidupan Pemadam Kebakaran Los Angeles. Setelah melakukan pengenalan dibantu dua petugas, Jake dan Fletcher beberapa saat, tiba-tiba alarm 911 berbunyi. Segera mereka mengunjungi sebuah gedung apartemen 4 tingkat dengan total 12 unit. Di dalam mereka menemukan seorang wanita tua bersimbah darah yang tiba-tiba menyerang Fletcher hingga terluka parah. Pertolongan tidak didapatkan begitu mudah karena tanpa sebab yang jelas, polisi mengkarantina mereka semua dan tidak membiarkan siapapun keluar hidup-hidup. Perlahan-lahan karena serangan misterius, beberapa penghuni apartemen "berubah" seperti terinfeksi sesuatu. Apa sebenarnya yang terjadi di gedung tua tersebut? Bagaimana perjuangan mereka yang masih hidup untuk keluar dengan selamat?

Gambar:
Film dengan handheld camera bukan hal yang baru dan kita semua sudah tahu gangguan gambarnya seperti apa. Tapi dalam film ini hal tersebut tidak terlalu mengusik. Setiap sudut apartemen mampu tertangkap dengan baik walau minim pencahayaan.

Act:
Jennifer Carpenter mungkin paling dikenal sebagai Emily Rose dalam film horor 2005, The Exorcism Of Emily Rose. Di Quarantine, Jen boleh dikatakan "berimprovisasi" dengan teriakan dan komentar-komentar lugas sebagai reporter televisi, Angie. Kinerjanya cukup wajar walau kadang mengganggu.
Jay Hernandez yang karirnya berawal dari Crazy/Beautiful (2002) kali ini kebagian peran sebagai pemadam kebakaran Jake yang cukup cekatan dalam situasi sulit yang tidak diduga. Tidak jauh beda dengan apa yang sudah diperlihatkannya dalam Hostel (2005) yang menghebohkan itu.

Sutradara:
Nominator Grand Jury Prize di Slamdance Film Festival 2005 untuk The Dry Spell, John Erick Dowdle menulis ulang skenario dan menyutradarai film ini yang merupakan remake horor Spanyol, REC. Untuk film keduanya, Dowdle bisa dibilang cukup berhasil untuk sebuah film berbujet rendah dan mencapai hasil yang lumayan di box office Amerika.

Komentar:
Dibuat dengan gaya live documenter dimana aktor-aktris seolah berbicara langsung dengan penonton, Quarantine berhasil mengedepankan unsur suspense thriller mystery sehingga tidak terkesan membosankan. Dari awal sampai akhir, ketegangan cukup terjaga walaupun endingnya mungkin sudah bisa diduga oleh penonton.

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office (till mid Nov):
$31,691,811

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 18 Desember 2008

AT STAKE : "Pertaruhan" Nyata Issue Mengenai Perempuan

Terbagi menjadi 4 cerita:
EFFORT FOR LOVE (30 min) by Ani Ema Susanti
Berkisah tentang dua orang TKW di Hongkong yaitu Ruwati dan Ryantini.
Ruwati menghadapi penyakit sejenis tumor rahim dan harus dilakukan operasi lewat vagina. Hal ini dipermasalahkan oleh calon suaminya yang seorang duda beranak satu yang menganggap Ruwati mencari alasan ketidakperawanannya.
Ryantini yang lesbian menjalin hubungan mesra dengan seorang gadis. Pasang surut romantika dua sejoli sesama jenis ini diakhiri dengan kepulangan mereka berdua ke kampung halaman dan harus menyembunyikan fakta sesungguhnya di negara berbudaya Timur itu.

WHAT FOR? (25 min) by Iwan Setiawan & Muhammad Ichsan
Mengetengahkan permasalahan sunat perempuan yang masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Perempuan harus disunat agar tidak liar, tidak terbawa arus, dsb begitulah alasan praktisi setempat. Pada kenyataannya, dari segi kesehatan tidak ada efek yang pasti atas praktek ini. Jadi sebenarnya apa tujuannya?

MISS & MRS (25 min) by Lucky Kuswandi
Menjabarkan diskriminasi terhadap perempuan tidak menikah dalam menerima layanan kesehatan reproduksi. Keputihan dan penyakit lain yang berhubungan dengan vagina harus diperiksa dengan cara "pap smear" oleh dokter ginekolog. Sayangnya dokter, bidan dan perawat tidak diberikan penyuluhan bagaimana penanganan pasien yang baik sehingga bukan membantu malah terkesan memojokkan bahkan menghakimi perempuan yang ingin diperiksa.

RAGAT'E ANAK (30 min) by Ucu Agustin
Bercerita tentang Nur dan Mira yang bekerja siang hari sebagai buruh pemecah batu dan malam hari sebagai pekerja seks komersil bertarif murah di Gunung Bolo, pekuburan Cina di daerah Tulungagung. Hal itu mereka lakukan karena minimnya penghasilan demi menghidupi diri sendiri maupun anak sehari-hari.

Komentar:
Film dokumenter yang lugas bercerita ini diambil dari berbagai sudut pandang sehingga tidak memihak. Perasaan iba, gemas, prihatin, geli dll wajar saja timbul di benak penonton saat menyaksikan issue-issue dengan subyek perempuan yang memang nyata terjadi dalam kehidupan ini. Workshop kolaborasi Kalyana Shira Foundation, Dewan Kesenian Jakarta dan The Body Shop dengan produser Nia Dinata berhasil menelurkan 5 sutradara dengan karya-karyanya yang bertutur dengan ketajaman sudut pandang dan gaya bahasa ini. Hasilnya? Salah satu film dokumenter terbaik yang pernah dibuat di Indonesia.

Durasi:
110 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10