XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label russell crowe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label russell crowe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

MAN OF STEEL : Superb Induction For Super Human We All Know

Quote:
Jonathan Kent: You just have to decide what kind of man you want to grow up to be, Clark. Whoever that man is, he's going to change the world..

Nice-to-know:
Darren Aronofsky, Duncan Jones, Ben Affleck, Tony Scott, Matt Reeves dan Jonathan Liebesman sempat dipertimbangkan untuk menyutradarai film ini sebelum Zack Snyder terpilih.

Cast:
Henry Cavill
sebagai Clark Kent / Kal-El
Amy Adams
sebagai Lois Lane
Michael Shannon
sebagai General Zod

Kevin Costner sebagai Jonathan Kent
Diane Lane sebagai Martha Kent
Russell Crowe
sebagai Jor-El

Ayelet Zurer sebagai Lara Lor-Van
Antje Traue sebagai Faora-Ul
Laurence Fishburne
 sebagai Faora-Ul
Harry Lennix sebagai General Swanwick
Richard Schiff
sebagai Dr. Emil Hamilton
Christopher Meloni
sebagai Colonel Nathan Hardy
 

Director:
Merupakan feature film keenam bagi Zack Snyder setelah terakhir menggarap Sucker Punch (2011).

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal sosok pahlawan dengan lambang huruf S di dadanya? Jangan buru-buru memanggil dia dengan Superman dahulu karena Warner Bros sepakat untuk menyebutnya manusia baja pada installment pertama reboot terbaru tokoh legendaris DC Comics ini. Jika generasi saya dan seterusnya baru mengenal nama Christopher Reeve, Dean Cain, Brandon Routh atau mungkin Tom Welling sebagai para pemerannya secara simultan di layar lebar dan layar gelas, tentunya penunjukan aktor Inggris berusia 30 tahun bernama Henry Cavill cukup beralasan mengingat talentanya yang besar.

Di ambang kehancuran planet Krypton dan aksi kudeta Jenderal Zod, Jor-El dan Lara Lor-Van berhasil mengirim bayi laki-laki mereka Kal ke bumi. Anak dengan kekuatan luar biasa itu kemudian diasuh oleh pasutri Kent, Jonathan dan Martha yang memberinya nama Clark. Segenap peristiwa yang dialami membuat Clark tumbuh dewasa dengan segudang pertanyaan. Adalah wartawati Lois Lane yang bertekad menyelidiki asal-usulnya. Sementara itu Jenderal Zod dan armadanya bebas dari kutukan hingga bertekad membangun kembali Krypton di muka bumi walau harus membinasakan umat manusia. 

Tidak usah heran jika anda menemukan banyak template yang serupa dengan trilogi Batman (2005-2012) karena nama Christopher Nolan ada di jajaran pemilik ide cerita bersama dengan David S. Goyer yang sorangan bertugas rangkap sebagai penulis skenario juga. Introduksi terhadap sang manusia baja itu dilakukan secara detail mulai dari fase anak-anak, remaja sampai dewasa lengkap dengan evolusi sisi emosionalnya. Meski berhasil membalutnya dalam nuansa modern, kecenderungannya menuju genre science fiction instead of fantasy cukup mengganggu saya. Namun mengingat Kal berasal dari luar bumi, hal tersebut (harus) dimaklumi.

Kekuatan utama yang dimiliki film ini ada pada hubungan personal Clark dengan ayah kandung dan ayah-ibu angkatnya. Berbagai momen dramatis yang menghadirkan kutipan-kutipan ‘sakti’ dijamin mampu meluluhlantakkan sanubari anda hingga tak sadar menggulirkan air mata. Penonton yang secara pribadi dekat dengan orangtua pasti merasakan hal demikian. Dua aktor kaliber Oscar yang bukan kebetulan pernah memerankan Robin Hood yakni Costner dan Crowe menunaikan tugasnya dengan luar biasa. Lane dan Zurer juga tak kalah gemilang menampilkan naluri keibuan mereka yang begitu kental.

Bagi saya Cavill sendiri merupakan figur tepat untuk menghidupkan sang manusia baja. Wajah simpatik yang ditunjang dengan fisik kokoh kian menegaskan aura kepahlawanannya. Adams sebagai wartawati ambisius pemenang Pulitzer sukses memperlihatkan rasa keingintahuan tinggi dengan tekad kuatnya. Sayang chemistry keduanya saat berbagi layar justru terlihat kurang maksimal. Semoga pada kesempatan mendatang dapat diperbaiki. Shannon secara cemerlang menjiwai tokoh antagonis Zod dengan sorot mata tajam dan intonasi suara yang menggelegar. Traue sebagai pendampingnya lumayan menyita perhatian masih dengan konsep femme fatale.

Snyder tidak main-main dalam membangun set yang fantastik. Opening berdurasi dua puluh menitan yang mempertontonkan kultur planet Krypton adalah salah satu opening terbaik dalam sejarah film superhero. Belum lagi kecanggihan teknologi yang digunakan para penghuninya amatlah mencengangkan. Bombardir spesial efeknya memang tak dapat dihindari tetapi masih dalam konteks materi yang ada termasuk kedekatan berbagai aspek dengan dunia yang kita tinggali sehari-hari. Gimmick 3D nya memang tidak mutlak sebagai pilihan tapi cukup memuaskan. Balutan scoring musik megah dari Hans Zimmer tak usah diragukan lagi.


Man Of Steel diyakini tidak akan mengecewakan fanboy/fangirl nya di seluruh dunia termasuk merangkul generasi baru karena filmmaker nya tidak melupakan karakteristik dasar yang sudah demikian lekat. Skripnya memang belum sempurna tapi gaya penceritaan dinamis, editing ciamik dengan alur maju mundur dan tempo adaptif agaknya efektif menutupi segala kekurangan yang ada. In the end, it’s a superb induction about a super human we all know. Made us getting into Kal’s shoes to feel his emotions, understand his choices, fulfill his fate is the best thing Snyder could offered.

Durasi:
143 menit

U.S. Box Office:
$125.080.000 till
Jun 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 19 Januari 2013

LES MISERABLES : Showcasing Sacrifice, Change, Hope In Live Adaptation


Quotes: 
Fantine: I had a dream my life would be so different from this hell I'm living!

Nice-to-know: 

Saat audisi, Anne Hathaway berhasil memukau semua orang hingga menangis haru.

Cast: 
Hugh Jackman sebagai Jean Valjean
Russell Crowe sebagai Javert
Anne Hathaway sebagai Fantine
Amanda Seyfried sebagai Cosette
Sacha Baron Cohen sebagai Thénardier
Helena Bonham Carter sebagai Madame Thénardier
Eddie Redmayne sebagai Marius
Aaron Tveit sebagai Enjolras
Samantha Barks sebagai Éponine


Director: 
Merupakan film keempat bagi Tom Hooper setelah karya terakhir The King’s Speech (2010) menganugerahinya Piala Oscar.

W For Words: 
Kita patut berterima kasih pada Victor Hugo yang secara brilian menulis novel pada tahun 1862 mengenai kekisruhan Perancis di abad 19. Karya yang pada akhirnya diadaptasi menjadi film ataupun pertunjukan dalam jumlah yang tak terhitung lagi di berbagai negara.  Adalah sutradara brilian Tom Hooper yang dipercayakan oleh jajaran produser untuk menghidupkan kisah ini sekali lagi dengan inovasi baru yaitu aktor aktrisnya diminta untuk menyanyikan seluruh dialog yang terkandung dalam buku karya Claude-Michel Schönberg dan Alain Boublil. Pertaruhan yang begitu berani!

19 tahun dipenjara karena mencuri roti untuk diberikan pada saudaranya, Jean Valjean akhirnya dibebaskan dalam pengawasan ketat penegak hukum Javert. Jean dipekerjakan oleh pendeta baik hati sampai berhasil menjadi pengusaha sukses dengan nama palsu. Nasib mempertemukannya dengan Fantine, mantan buruh pabrik yang terpaksa melacur demi menghidupi putrinya, Cosette yang dibesarkan oleh pasangan pencuri kejam Thénardier dan Madame Thénardier. Sepeninggal Fantine, Jean sepakat membesarkan Cosette sampai beranjak dewasa dan jatuh cinta pada Marius, pemberontak revolusi. Jalanan Perancis lantas jadi saksi pergulatan takdir melawan gejolak politik yang kian memanas. 

Pencapaian Hooper sebagai sutradara dalam film ini perlu diapresiasi tinggi. Ketajaman visinya menghidupkan suasana Perancis di masa lampau tidak hanya detail tetapi juga epik. Desain produksi termasuk tata rias dan tata kostum betul-betul diperhatikan unsur estetikanya. Kebulatan hatinya untuk tetap meminta aktor-aktrisnya bernyanyi live di lokasi syuting daripada merekam di studio paska produksi terbukti semakin mempertajam pengalaman musikal yang sinematik. Lihat bagaimana ia membuka dan menutup film dengan stylish dan memorable. Wonderful!

Penampilan terbaik menurut saya jatuh pada Hathaway dan Redmayne. Meskipun Fantine hanya kebagian porsi minor, ia seakan menyanyikan isi hatinya dengan begitu lugas. Upaya Jackman pantas dihargai karena penonton dapat merasakan emosinya dalam rentang waktu yang begitu panjang. Beberapa track favorit saya tentu saja Look Down, I Dreamed A Dream dan On My Own. Menarik melihat debut Samantha Barks dan pelakon cilik Daniel Huttlestone disini. Jangan lupakan juga sumbangsih Baren Cohen dan Bonham Carter sebagai pasangan antagonis tersebut.

Kekurangan yang cukup mencolok ada pada Crowe dengan kemampuan bernyanyi yang begitu terbatas tapi justru ini membuatnya believable. Lihat bagaimana Hooper banyak menyiasati ketika Javert menyanyi dengan tidak menyorot wajahnya melainkan scene panoramik yang megah. Seyfried sendiri tampak terlalu terbebani dengan peran Cosette yang krusial sehingga membuatnya kurang lepas dalam berakting. Secara keseluruhan, mereka saling mengisi dengan plus minus masing-masing, memberikan dimensi interpretasi karakter yang begitu emosional.

Les Misérables memang bukan film musikal biasa, bisa jadi luar biasa bagi anda yang sudah sangat familiar dengan cerita dan pertunjukannya. Namun bagi sebagian orang yang tidak terbiasa, mungkin akan menyiksa apalagi tidak semua unsur melodi dapat menyatu sempurna dengan pelafalan dialognya. Durasi nyaris tiga jam dengan total 49 lagu yang berkumandang jelas membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak kehilangan esensinya di tengah-tengah. Kombinasi pengorbanan cinta, perubahan dunia, pengharapan tanpa batas membuatnya pantas menyandang status ‘istimewa’. I liked this but don’t think that second viewing is necessary to do.

Durasi: 
157 menit

U.S. Box Office: 
$118,723,185 till Jan 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 19 Desember 2012

THE MAN WITH THE IRON FISTS : Cheesy Martial Arts Attempt From RZA

Quote:
The Blacksmith: When you forge a weapon, you need three things: the right metal, temperatures over fourteen hundred degrees... and someone who wants to kill. Here in this village, we got all three. 

Nice-to-know: 

First cut film ini berdurasi empat jam. Sutradara RZA sempat menyarankan membaginya dalam dua film tapi produser Eli Roth tak setuju. Mereka akhirnya memotongnya menjad 90 menit.

Cast: 
RZA sebagai Blacksmith
Rick Yune sebagai Zen Yi, The X-Blade
Russell Crowe sebagai Jack Knife
Lucy Liu sebagai Madam Blossom
Dave Bautista sebagai Brass Body
Jamie Chung sebagai Lady Silk


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan RZA alias Robert Fitzgerald Diggs yang lebih dikenal sebagai aktor dan pengisi soundtrack. 

W For Words:
Melihat trailernya yang mengingatkan pada film-film Quentin Tarantino, sebut saja Kill Bill 1-2 (2003-2004), bisa jadi ekspektasi anda akan melambung jauh. Tagline yang cukup provokatif “You can’t spell Kungfu without F & U” pun didengungkan jauh-jauh melalui poster resminya. Tak banyak yang tahu bahwa penggagas film ini adalah RZA (baca: Rizza)  yang lebih dikenal sebagai aktor dan music producer. Tak banyak yang tahu bahwa ia penggemar setia film martial arts yang berpengaruh pada pemilihan Wu-Tang Clan sebagai nama grup hip-hopnya.

Kericuhan terjadi di Jungle Village, sebuah desa terpencil pedalaman China ketika ekspedisi emas milik Gold Lion melintas. Pengkhianatan yang dilakukan asistennya Silver Lion membuat putra Gold Lion yaitu Zen Yi bertekad membalas dendam. Seorang pembuat senjata yang dikenal dengan sebutan Blacksmith tengah berniat melarikan diri dari desa bersama kekasihnya, pelacur Lady Silk yang juga anak buah dari mucikari Madam Blossom. Kedatangan Jack Knife dan Brass Body yang juga mengincar kekayaan dan kekuasaan semakin meruncingkan persaingan hidup dan mati.

RZA bekerjasama dengan produser Eli Roth menulis skrip selama dua tahun dimana titik berat ada pada keunikan senjata yang digunakan masing-masing tokoh. Mungkin itulah penyebab dangkalnya karakterisasi yang seharusnya dimiliki juga. Dialog-dialog one liners tidak cukup membantu penonton untuk merasa terikat pada salah satu di antara mereka. Fokusnya pun tak terbentuk sempurna karena berpindah-pindah mulai dari Jack Knife di bagian pembuka, X Blade di pertengahan hingga Blacksmith di penghujung. Who’s actually the protagonist in here?

Sebagai sutradara, RZA menyajikan adegan kematian dengan brilian, unsur gore dengan cipratan darah disana-sini akan membuat anda terpekik. Temponya cukup terjaga lewat serangkaian sekuens aksi non-stop seru. Sayangnya flashback di beberapa bagian sedikit mengganggu walau sebetulnya tidak perlu. Scoring music nya yang merupakan kombinasi hip hop, new age, simfoni dan berbagai genre lain amat mendukung narasinya. Tata kostum dan artistik juga tergolong menakjubkan ditambah efek CGI untuk membuat “transformasi” nya terasa nyata.

Kemunculan RZA sebagai Blacksmith merupakan satu titik lemah meski porsinya sudah minim. Menarik melihat Russell Crowe memainkan peran yang berbeda dengan tubuh yang tambun. Aksi Lucy Liu jelas mengingatkan anda pada tokoh O-Ren Ishii dalam film yang disebutkan di atas. Byron Mann memberikan akting teatrikal sebagai bad guy. Berbeda dengan Dave Bautista, Cung Le atau Rick Yune yang memperlihatkan keunggulan fisik masing-masing. Jangan lupakan penampilan cameo dari Chen Kuan Tai, Gordon Liu, Pam Grier, Daniel Wu hingga Andrew Lin di berbagai kesempatan terbatas.

The Man With Iron Fists merupakan proyek ambisius RZA yang terlepas dari mempunyai nilai jual tetapi pada akhirnya kesulitan untuk mempertahankan konsep serious action flick hingga terkesan campy dan silly sekaligus. Pengungkapan berbagai twist yang disiapkan alih-alih memberikan kejutan, nyatanya malah semakin membingungkan dengan lapisan plot yang bertumpuk tak terselesaikan. Saksikan apabila anda menginginkan sebuah suguhan martial arts ala Asia dalam nafas Western yang kental. It would be fun enough for you to shout f*ck and sh*t several times during movie.

Durasi: 
95 menit

U.S. Box Office: 
$15,522,060 till Dec 2012


Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 13 Desember 2010

THE NEXT THREE DAYS : Melarikan Istri Dari Tuduhan Pembunuhan

Tagline:
Lose who you are to save what you love.

Storyline:
Tiba-tiba saja Lara Brennan ditahan di rumahnya sendiri karena dituduh membunuh bosnya sendiri dimana keduanya sempat terlibat argumen keras pada malam sebelumnya. Menurut Kepolisian, sidik jari Lara terekam di TKP sehingga memberatkannya dan mengganjarnya hukuman 20 tahun penjara. Suami Lara, John Brennan menghabiskan bertahun-tahun untuk mengeluarkan Lara tetapi sia-sia saja karena bukti dan kesaksiannya saja tidak cukup. Putus asa saat putranya Luke mulai menjauhi ibunya, John pun menempuh satu-satunya cara yaitu menjebol penjara dan merencanakan pelarian sempurna. Berhasilkah John merancang semuanya sekaligus menuju kehidupan baru yang harmonis kembali?

Nice-to-know:
Sebelumnya Elizabeth Banks pernah bermain sebagai ibu rumah tangga yang dituduh melakukan pembunuhan dalam serial "Law & Order: Special Victims Unit" (1999).

Cast:
Terakhir kita lihat bermain sebagai Robin Longstride dalam Robin Hood, Russell Crowe kini berperan sebagai John Brennan, ayah, suami sekaligus guru biasa yang nekad melawan hukum demi mempertahankan keutuhan keluarganya.
Turut bermain dalam serial televisi Scrubs di sela-sela kesibukannya, Elizabeth Banks tampil berbeda dari biasanya sebagai Lara Brennan yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap bos wanitanya sendiri.
Jason Beghe sebagai Detective Quinn
Aisha Hinds sebagai Detective Collero
Liam Neeson sebagai Damon Pennington
Olivia Wilde sebagai Nicole
Ty Simpkins sebagai Luke

Director:
Sutradara Inggris berusia 69 tahun bernama Michael Apted sebelum ini menyutradarai Married In America 2 (2007).

Comment:
Merupakan remake dari action thriller Perancis berjudul Anything for Her di tahun 2008. Kini sutradara Paul Haggis mengganti setting Paris, Eropa menjadi Pittsburgh, Amerika Utara. Nyaris sama persis dan konon sama baiknya meski saya belum menyaksikan versi originalnya. Lebih dari sepertiga film diawali dengan lambat saat karakter John melakukan riset terbaiknya sebelum menjalankan rencana nekad yang bisa dibilang kesempatan sekali seumur hidupnya. Melewati pertengahan film barulah intensitas mulai meningkat dan menyajikan berbagai aksi yang seru.
Crowe sebagai John, seorang guru bahasa Inggris kampus sepintas terlihat tidak beremosi tetapi tindakannya menunjukkan bahwa ia sepenuhnya percaya dan mencintai istrinya. Menarik melihat Crowe dalam porsi superior tapi masih manusiawi disini. Sebaliknya, Banks yang biasa bermain dalam genre komedi memperlihatkan akting yang baik sebagai istri sekaligus ibu yang terfitnah hingga terancam harus mengakhiri hidupnya di penjara akibat tuduhan pembunuhan. Meskipun tampil sekilas, Neeson cukup mengesankan sebagai figur mentor yang baik di prolog film.
Saya harus akui sebagai action thriller, The Next Three Days ditutup dengan baik lebih dikarenakan sudut pandang unik yang dipakainya walaupun durasinya cukup panjang. Berbagai twists dan turns berhasil menyajikan ketegangan sendiri dalam mengikutinya. Sedikit mengingatkan apa yang biasa dilakukan Haggis sebelumnya yang juga dikombinasikan dengan musik latar yang sangat membangun mood penonton. Anda seakan diajak peduli sepenuhnya pada usaha John melarikan Lara. Bagaimana seorang pria biasa berusaha semaksimal mungkin menyatukan keluarganya kembali walau harus melakukan hal-hal di luar kebiasaan dan kemampuannya. Sesaat kadang kita dihadapkan pada situasi dimana seperti berdiri di antara garis tipis benar atau salah yang terkadang sulit ditebak kenyataannya. Slow start then closed with excellency!

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$18,310,917 till early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 14 Mei 2010

ROBIN HOOD : Asal Usul Tokoh Pencuri Budiman

Storyline:
Abad ke-13 di Inggris, Robin dkk melawan korupsi Raja John terhadap penduduk lokal dan memimpin ribuan armada yang berusaha memberontak juga. Sejak kejatuhan Raja Richard, Raja John bertindak semena-mena dengan menceraikan istri sahnya dan menikahi putri Perancis, Isabella yang secara tidak langsung membawa tentara Perancis menginvasi Inggris. Robin yang jago panah kemudian berpindah ke Nottingham dan bertemu janda tegar, Lady Marion Loxley. Disanalah ia mulai membangun hegemoni rakyat kecil yang berpihak padanya untuk mempertanyakan kepemimpinan Raja John sekaligus mengembalikan kejayaan Inggris sekali lagi.

Nice-to-know:
Merupakan kali kelima kerjasama Ridley Scott dan Russell Crowe dalam sebuah produksi film dimana Crowe sempat mempertimbangkan untuk berambut panjang sebelum membatalkannya.

Cast:
Aktor Australia, Russell Crowe baru mengawali karir akting layar lebar di usia 26 tahun lewat Blood Oath (1990). Disini ia berkesempatan memerankan salah satu legenda ternama, Robin Hood versi terbaru yang lebih bernuansa Inggris.
Satu lagi aktris Australia yang sukses menaklukkan Hollywood, Cate Blanchett yang pertama kali dinominasikan Aktris Terbaik Oscar lewat Elizabeth (1999) kali ini bermain sebagai janda Marion Loxley yang tangguh dan juga love interestnya Robin Longstride.
Max von Sydow sebagai Sir Walter Loxley
William Hurt sebagai William Marshal
Mark Strong sebagai Godfrey
Oscar Isaac sebagai Prince John
Danny Huston sebagai King Richard The Lionheart
Eileen Atkins sebagai Eleanor of Aquitaine

Director:
Pertama kali dinominasikan Sutradara Terbaik dalam ajang Oscar adalah lewat Thelma & Louise (1991) hingga kini pria Inggris bernama Ridley Scott ini sudah mengantongi 3 nominasi walau belum berkesempatan menang.

Comment:
Sejak Batman sukses besar diremake, banyak sekali bermunculan ide serupa terhadap pahlawan fiktif maupun nyata. Sama halnya dengan Robin Hood yang pernah sukses di tangan Kevin Costner di awal 1990an kini dibuat versi barunya dengan tone yang lebih gelap. Crowe sebagai Robin Hood memang lumayan berhasil meskipun banyak terbantu oleh kostum ketatnya yang eye-catching dan sedikit menyembunyikan usianya. Blanchett seperti biasa bermain gemilang dalam membawakan karakter Lady Marion yang tegar dan pantang menyerah. Namun sayang, chemistry keduanya terasa dipaksakan apalagi tidak ditunjang pembagian scene bersama yang memadai. Sebagai sebuah film aksi, sutradara Scott memang sudah melakukan yang terbaik dari segi pertarungan dan membangun latar belakang cerita seputar tokoh Robin Hood termasuk kostum yang sangat membantu. Tetapi sayangnya tidak didukung skrip yang terasa hambar sehingga dialognya terkesan tidak cukup baik di sebagian besar durasi film. Nuansanya sedikit mengingatkan kita pada Gladiator dengan musik tema yang juga menunjang gaya penceritaan. Adegan pertempuran pamungkas di pesisir pantai memperlihatkan sebuah epik yang baik walau tidak terlalu megah. Bagaimanapun juga Robin Hood versi Scott terasa berbeda dan cukup menyegarkan untuk ditonton dengan semangat baru. Endingnya yang membuka kemungkinan sekuel kita harapkan bisa lebih baik lagi.

Durasi:
130 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 21 Oktober 2008

BODY OF LIES : Kolaborasi Konflik-Intrik-Polemik CIA

Cerita:
Seorang staf operasional CIA, Roger Ferris yang ditugaskan di Timur Tengah secara lambat tapi pasti menunjukkan kapabilitasnya dalam “menyelesaikan” beberapa konflik yang terjadi. Semuanya ia kerjakan sendiri hanya dengan informasi dari atasannya, Ed Hoffman yang melakukan komunikasi dengan telpon secara berkala. Konflik intern mulai tumbuh saat Roger jatuh cinta dengan suster blasteran Iran-Yordania yang cantik, Aisha dan semakin yakin bahwa Timur Tengah merupakan tempat yang tepat baginya. Ed yang diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Roger dari kantor pusat CIA menyusun suatu “siasat” khusus untuk menghadapi musuh utama mereka, Al Saleem yang mungkin saja menempatkan Roger dalam situasi yang sulit.

Gambar:
Setting yang berpindah-pindah antar negara Timur Tengah seperti Iran, Yordania, UAE menggambarkan gambaran situasi yang kurang lebih sama yaitu populasi yang padat, kekeringan padang pasir, kemiskinan di sebagian besar masyarakatnya.

Act:
Leonardo DiCaprio sekali lagi memberikan nuansa akting yang berbeda. Kecemerlangannya dalam melakoni peran semakin diuji dan usahanya di film ini patut diacungi jempol sebagai Roger yang ambisius sekaligus cerdas.
Russell Crowe yang kerapkali kebagian peran-peran serius juga tampil apik walau terlihat “tidak terlibat” langsung dalam situasinya ini namun aksen dan gerak-gerik yang dia berikan sebagai seorang atasan dalam CIA yang berbahaya cukup meyakinkan.

Sutradara:
Ridley Scott sudah tidak diragukan lagi kehandalannya. Menyajikan drama spy tingkat tinggi seperti ini, ia cukup berhasil membangun intrik cerita yang rumit dengan diselingi adegan aksi yang tidak terduga.

Komentar:
Film ini bukan film yang bisa dinikmati oleh siapapun. Konflik internal dan eksternal berbau dunia spionase tidak bisa begitu saja dicerna oleh orang awam. Mungkin kalimat ini yang paling tepat menjelaskan film ini: “Good director, great two leading actors but complicated spy non-thriller movie.”

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!