XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 19 Maret 2010

DI BAWAH LANGIT : Masyarakat Pesisir Pantai dan Segala Polemiknya

Storyline:
Kyai Akhmad memiliki seorang putri bernama Maysaroh yang sedianya akan dijodohkan oleh salah satu dari dua santrinya yaitu Zaelani dan Gelung yang bertolak belakang kepribadiannya. Selain itu Kyai Akhmad juga mengasuh 7 anak yatim diantaranya Sukma, Fajar, Keling dll. Pada akhirnya di penghujung umurnya, Kyai Akhmad memilih Zaenal untuk mendampingi Maysaroh. Pernikahan pun segera dilangsungkan. Diam-diam Gelung yang patah hati pun meninggalkan rumah dan memilih tinggal di gubuk sederhana di pesisir pantai. Semenjak kematian Kyai Akhmad, keadaan tidak bertambah baik. Zaenal dan Maysaroh kesulitan mempertahankan rumah tangganya apalagi harus mengasuh 7 anak yang beranjak remaja tersebut. Sedangkan Gelung mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Opick Tombo Ati Film.

Cast:
Debut pertama akting bagi biduan religius bernama Opick Tombo Ati ini sebagai Gelung yang energik, intuitif, imajinatif dan kontemplatif.
Kembalinya mantan aktris hot tahun 1990an, Inneke Koesherawati sebagai Maysaroh.
Terakhir muncul dalam Kun Fayakuun, Agus Kuncoro sebagai Zaelani, santri yang berpandangan lurus, teguh dan tenang.

Director:
Film kedua bagi Gunung Nusa Pelita dan kali ini ia berkolaborasi dengan Opick yang juga merangkap sebagai aktor dan produsernya.

Comment:
Konon dengan bujet seadanya, Opick berani maju dengan film ini dan memegang beberapa "jabatan" sekaligus termasuk lagu-lagunya yang muncul juga di beberapa sekuens. Skenarionya sendiri ditulis keroyokan oleh Gutheng, Suroto, Yeri, Relita Hermanto. Plot ceritanya sebetulnya simpel tetapi tidak terlalu orisinil. Latar belakang pesisir pantai dimana komunitasnya didominasi nelayan dengan segala dinamika kehidupannya memang cukup menawan. Beratnya kehidupan 7 anak yatim yang kehilangan induk juga ditampilkan cukup lugas. Akhlak dan pengetahuan agama mungkin saja penting dalam pendidikan dasar seorang anak. Amanah orangtua seringkali menjadi beban pribadi yang akhirnya mengacaukan ritme hidup jika tidak dijalankan dengan tulus. Cinta boleh saja dipendam tetapi tidak akan lekang oleh waktu dan rintangan sekalipun. Hei hei apakah saya berbicara terlalu banyak? Namun itulah kenyataannya! Opick menyampaikan terlalu banyak hal tanpa kedalaman konflik yang memadai. Alhasil Di Bawah Langit terasa tanggung di berbagai aspek. Yang patut digarisbawahi, Opick setidaknya "berusaha" menyuguhkan sesuatu yang di atas rata-rata meskipun terkesan terlalu idealis dan optimis.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 18 Maret 2010

TEREKAM : Rekaman "Nyata" Koya Pagayo

Quotes:
Monique-Sini gw bawain barang-barang loe
Jupe-Ga perlu Mon. Gw tau beban hidup loe aja uda berat!

Storyline:
Terobsesi menjadi sutradara, Olga mencoba dahulu dengan proyek film horor kecil-kecilannya dengan kamera tangan. Bersama kedua sahabatnya, Monique dan Jupe, Olga mendatangi sebuah villa milik Siska di kawasan Gadok untuk menyusun skrip sekaligus syuting seadanya. Sejak awal kehadiran mereka bertiga sudah mengusik "penunggu" villa itu. Beberapa penemuan yang cukup menyeramkan belum membuat mereka ciut dan malah melanjutkan aktifitasnya. Beberapa kamera yang dipasang di sudut-sudut ruangan rupanya merekam sesosok makhluk menyeramkan. Setelah teror demi teror, ketiganya pun terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures.

Cast:
Masing-masing tampil sebagai dirinya sendiri
Olga Lydia
Julia Perez
Monique Henry

Director:
Merupakan film kelimanya di tahun 2010, Koya Pagayo bekerjasama dengan sang produser, Lucky Hakim untuk menggarap horor dokumenter ini.

Comment:
Temanya tidak terlalu asing lagi, lagi-lagi mengenai "pembuatan film horor" di suatu tempat asing yang angker. Dari ketiganya, boleh jadi kehadiran Jupe lah yang selalu menjadi "penyegar", bukan karena keseksian tubuh atau pakaian minim yang diperlihatkannya melainkan spontanitasnya di depan kamera. Lihat saja aktingnya menari, menyanyi, berekspresi dan berguyon yang sama lugasnya. Itulah yang dibutuhkan film bergaya dokumenter ini. Sedangkan Olga dan Monique terlihat seperti membintangi film biasanya saja. Tampilan hantu mungkin cukup menyeramkan karena dibuat kabur ataupun versi night mode yang minim pencahayaan itu. Nampaknya Koya masih perlu belajar lagi untuk "mencontek" REC / Quarantine yang mencekam itu. Eksekusinya tidak terlalu buruk tapi improvisasi dan angle-angle kameranya masih kurang maksimal. Dari segi ending, akan lebih baik jika diakhiri di villa itu saja tanpa perlu diperpanjang adegan di apartemen yang sangat merusak originalitasnya. Yang lebih bodoh lagi, Terekam dibuka dan ditutup dengan wawancara ketiga pemainnya yang tentu saja merusak unsur 'kenyataannya' itu.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 17 Maret 2010

DEATH BELL : Teka-Teki Maut Anak Sekolahan

Storyline:
Sekolah pilihan Chi-Chi secara aktif menciptakan kompetisi di antara siswa-siswinya dengan cara menayangkan ranking ujian mata pelajaran di televisi-televisi yang digantung di sepanjang koridor sekolah. Tujuannya adalah memilih 20 murid terbaik untuk mewakili sekolah dalam ajang pertukaran pelajar internasional. Salah satunya adalah Ina, sahabat baiknya Myong Hyo dan calon kekasihnya Hyun yang juga seorang DJ. Namun keanehan terjadi saat satu persatu murid hilang dan ditemukan dalam jebakan yang hanya bisa dihentikan jika soal-soal berhasil dipecahkan kunci jawabannya. Dibantu dua guru So Young dan Chang Wook, mereka harus berkejaran waktu sebelum jatuh korban bertambah banyak.

Cast:
Lee Beom Su sebagai Hwang Chang-wook
Yu Shin Ae sebagai Choi So Yeong
Nam Gyu Ri sebagai Ina
Kim Beom
Mun Ban Ya

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Yoon Hong Seung yang juga turut bermain sebagai Chang dalam film berjudul Korea, Gosa ini.

Comment:
Membaca premis film ini, ingatan kita akan melayang pada "Saw" yang legendaris itu. Bedanya ini disajikan dengan setting sekolahan dan atmosfir Korea juga. Alurnya disajikan secara lugas dan didukung oleh tempo yang cepat. Terima kasih juga pada beberapa adegan gory yang cukup membangkitkan emosi terutama saat tokoh-tokohnya berpacu dengan waktu untuk menjawab soal yang diberikan. Adrenalin anda akan naik disini walaupun saya cukup yakin anda tidak mencoba untuk turut menerka setiap kepingan teka-teki yang disajikan. Selain tentunya ending yang membuka kedok si pelaku yang rasanya tidak terlalu sulit diduga bukan? Sang sutradara harus diakui menguasai genre thriller horor cerdas yang tentunya dipelajari dari beberapa film sejenis yang sudah populer sebelumnya. Terbukti dengan jebakan yang dibuat pintar yang diakhiri dengan pembantaian keji. Semua diketengahkan dengan latar belakang yang luas dengan sedikit pembahasan karakter tokoh-tokohnya. Musik latar yang tepat dan suasana sekolah yang mencekam juga menjadi nilai plus tersendiri. Ternyata Death Bell tidak mengecewakan dan dijamin anda dapat menikmatinya sampai akhir.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 16 Maret 2010

CABIN FEVER 2 : SPRING FEVER

Tagline:
This time it's spreading.


Storyline:
Satu-satunya remaja yang selamat dari penularan virus liburan musim panas, Paul akhirnya tewas ditabrak bus sekolah Springfield. Tanpa diduga, darah Paul mengontaminasi sumber air kota yang didistribusikan perusahaan air minum ke seluruh penjuru. Sementara itu, SMU Springfield sedang menyiapkan pesta prom akbar di sekolah mereka tanpa menyadari bahaya virus mengancam mereka satu persatu, belum lagi tim evakuasi yang dikerahkan untuk melakukan pembantaian masal. Adakah yang selamat dari tempat itu hidup-hidup?


Nice-to-know:
Setelah editing dan syuting ulang, penulis/sutradara Ti West sempat meminta namanya tidak dicantumkan dalam credit title dan menggantinya dengan nama samaran populer Alan Smithee. Namun karena bukan anggota dari DGA, permintaannya ditolak produser.


Cast:
Rider Strong sebagai Paul
Noah Segan
sebagai John

Alexander Isaiah Thomas sebagai Dane

Alexi Wasser sebagai Cassie

Director:
Ti West mengawali karir penyutradaraan di usia 21 tahun lewat The Wicked (2001).

Comment:
Terlepas dari beberapa nuansa yang membuat tidak nyaman saat menontonnya, saya menyukai Cabin Fever (2002). Saat melihat kemungkinan dibuat sekuelnya pada tahun 2007, rasa penasaran pun muncul. Namun karena tidak ada gaungnya, saya baru sempat menyaksikannya di dvd pada tahun 2010 ini. Nyatanya film bersubjudul Spring Fever ini teramat sangat buruk kualitasnya! Hilangkan kata Cabin karena setting berpindah ke gedung SMU, beberapa saat sebelum pesta prom dimulai. Dialognya lucu dan dangkal, bahkan jauh lebih parah dari film sejenis American Pie sekalipun. Aktingnya juga tidak istimewa dan penokohannya tidak penting. Yang juara mungkin adegan gory khas horor kelas B sepanjang film terutama muntahan darah dari semua orang ataupun anggota tubuh yang mengelupas satu persatu, itupun jika tidak membuat anda muak menyaksikannya. Adegan mengerikan sempat digantikan beberapa sekuens animasi yang rasanya tidak membantu juga. Jelas sekuel yang seharusnya tidak dibuat. Dan di Amerika sana pun tidak jadi dirilis di bioskop sampai saat ini, hanya diedarkan terbatas di ajang sekelas Screamfest.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 15 Maret 2010

LAST HOUSE ON THE LEFT : Balas Dendam Pasutri Biasa Kawanan Pembunuh

Tagline:
If bad people hurt someone you love, how far would you go to hurt them back?

Storyline:
Kriminal berbahaya, Krug diselamatkan oleh adiknya, Francis dan kekasihnya, Sadie saat dipindahkan oleh dua detektif di perjalanan. Sementara itu, Mari Collingwood nekad pergi bersama sahabat lamanya, Paige ke sebuah motel sewaan pria pendiam yang baru dikenalnya, Justin dengan mengindahkan pesan orangtuanya, Dr. John dan Emma. Malang tak dapat diduga, ketiga kriminal tersebut kembali ke motel yang dijaga putranya, Justin! Kehadiran Mari dan Paige di tempat dan waktu yang salah harus dibayar mahal. Mobil kawanan kriminal tersebut meluncur ke arah danau di atas gunung tempat kediaman Collingwood yang terasing dari mana-mana. Akankah korban semakin berjatuhan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Sang Produser Jonathan Craven pernah membintangi versi aslinya, The Last House on the Left (1972).

Cast:
Tony Goldwyn dan Monica Potter memperlihatkan emosi yang baik sebagai pasangan suami istri Collingwood yang dilema menghadapi kriminal-kriminal yang telah menganiaya putri kesayangan mereka.
Beberapa kali membintangi film remaja termasuk Sydney White (2007), Sara Paxton disini bermain sebagai Mari Collingwood yang tegar walaupun teraniaya.
Tiga kriminal sadis yaitu Krug , Sadie dan Francis diperankan dengan baik masing-masing oleh Garrett Dillahunt, Riki Lindhome dan Aaron Paul.

Director:
Merupakan film kedua bagi Dennis Iliadis setelah Hardcore (2004).

Comment:
Konon nyaris langsung dilempar di pasaran dvd, film ini akhirnya tayang juga di bioskop Amerika sana. Dan sempat saya berharap akan masuk di Indonesia juga tapi nyatanya ditunggu-tunggu setahun tidak kunjung terjadi. Akhirnya saya menontonnya di DVD dan rasa penasaran sejak lama terbayar sudah. Walaupun miskin pengalaman, penyutradaraan Iliadis patut diacungi jempol. Penggambarannya sangat baik dan semua emosi dari karakternya tertangkap kamera dengan brilian. Dillahunt sebagai antagonis "terjahat" juga sangat mengerikan. Hal tersebut diimbangi juga oleh Goldwyn dan Potter yang berusaha tegar meskipun sesungguhnya hanya orangtua biasa yang berusaha menjaga martabat keluarga. Paxton dan MacIsaac juga mahir tampil beda dari komedi remaja yang biasa kita saksikan. Plot ceritanya sesungguhnya simpel dan tertata dengan baik per sekuensnya. Namun tensi ketegangan mampu terjaga sepanjang film dengan beberapa elemen kesadisan yang cukup membuat anda menutup mata karena miris. Meski belum menonton versi originalnya, saya berani mengatakan The Last House On The Left adalah remake thriller yang baik dan mampu disesuaikan dengan kondisi masa kini di luar banyaknya kegagalan usaha serupa belakangan ini.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$32,721,635 till May 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 14 Maret 2010

GREEN ZONE : Misi Mustahil Pencarian Senjata Pemusnah Masal

Tagline:
Chief Warrant Officer Roy Miller is done following orders.

Storyline:
Tiga bulan setelah invasi Amerika di Irak, kepala pasukan khusus Amerika ditugaskan mencari senjata pemusnah massal, Roy Miller bersama timnya. Berbagai petunjuk berupaya ia dapatkan termasuk dari reporter wanita, Lawrie ataupun pria setempat, Freddy yang akhirnya ia jadikan penerjemah. Namun lambat laun Miller merasa ada yang tidak beres dengan badan intelejen yang disinyalir memberikan informasi palsu. Bersama dengan kepala CIA di Bagdad, Martin Brown, mereka sepakat untuk mencari fakta yang sesungguhnya di balik semua perlawanan tersebut.

Nice-to-know:
Syuting dilakukan di Morocco, Inggris dan Spanyol sekaligus.

Cast:
Ketiga kalinya bekerjasama dengan sang sutradara setelah dua sekuel terakhir Bourne yaitu Ultimatum (2007) dan Supremacy (2004), Matt Damon bermain sebagai Roy Miller, pemimpin sekelompok tentara Amerika di Perang Irak.
Beberapa peran pendukung dimainkan oleh Greg Kinnear, Brendan Gleeson, Amy Ryan dan tentunya Khalid Abdalla sebagai si penerjemah, Freddy.

Director:
Pria kelahiran Inggris bernama Paul Greengrass ini pernah dinominasikan Sutradara Terbaik Academy Award 2007 untuk film United 93 (2006).

Comment:
Penggunaan kamera tangan selayaknya dilakukan dalam serial terakhir Bourne rupanya sangat mengganggu saat dilakukan kembali disini. Konflik di tengah peperangan menjadi tidak fokus dan sulit diikuti penonton. Mungkin maksudnya agar terlihat realistis dan membawa audiens seakan berada di tengah-tengah situasi tersebut. Tema Perang Irak rasanya masih hangat belakangan ini terutama setelah kemenangan besar film Indie, The Hurt Locker di ajang Academy Awards 2010! Tetapi Green Zone bukanlah Hurt Locker yang sangat realistis dan "gila" itu. Green Zone penuh muslihat walau inti ceritanya hanyalah tentang kepercayaan dan kemunafikan pihak-pihak oposisi tertentu. Jika ditelaah secara keseluruhan, film ini bisa jadi dikategorikan "bodoh" karena temanya yang terlalu simpel dan terlalu mengada-ngada. Superioritas Hollywood dalam mengetengahkan action terlalu diumbar disini. Kharisma Damon dalam beberapa film terakhirnya termasuk sifat dinginnya sebagai Miller rasanya akan sia-sia saja karena tidak mampu menyelamatkan film. Greengrass melakukan tugasnya dengan baik lewat sinematografi tapi eksekusinya secara keseluruhan agak tidak beralasan. Endingnya pun relatif mudah ditebak tanpa ada kejutan berarti.

Durasi:
110 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 13 Maret 2010

THE IMAGINARIUM OF DOCTOR PARNASSUS : Absurdnya Dunia Imajiner Dokter Parnassus

Quotes:
Tony-Can you put a price on your dreams?

Storyline:
London masa lampau, Doctor Parnassus mendirikan "Imaginarium", sebuah dunia yang akan membawa audiens mengalami hal-hal menakjubkan yang dikontrol oleh pikirannya. Doctor Parnassus bercerita pada timnya yaitu putrinya Valentina, asistennya Anton dan si kerdil Percy bahwa ia telah berumur ribuan tahun tetapi kehilangan keabadiannya saat jatuh cinta dengan seorang manusia. Demi hal itulah, Parnassus membuat perjanjian dengan iblis, Mr. Nick untuk mengambil nyawa Valentina di usia 16 tahun. Saat usia Valentina mulai memasuki fase tersebut, Parnassus mengulang perjanjiannya dengan menjanjikan lima nyawa yang terperangkap dalam Imaginarium. Di lain kesempatan, Percy, Valentina dan Anton menyelamatkan Tony yang digantung di bawah jembatan pelabuhan. Kehadiran Tony mungkin menentukan kelangsungan Imaginarium berikutnya.

Nice-to-know:
Honor yang diperoleh Depp, Law, Farrell untuk melanjutkan peran Ledger di tengah proses produksi diberikan kepada putri Ledger, Matilda untuk masa depannya.

Cast:
Film terakhir bagi peraih Oscar Aktor Pembantu Terbaik lewat The Dark Knight (2008), Heath Ledger bermain sebagai Tony. Dimana figur imajinasinya dipegang oleh Johnny Depp, Jude Law dan Colin Farrell secara bergantian.
Sang pemimpin Doctor Parnassus dilakoni oleh aktor senior asal Kanada, Christopher Plummer.
Karakter pendukung Doctor Parnassus masing-masing Anton, Percy dan Valentina diperankan oleh Andrew Jackson, Verne Troyer dan Lily Cole.

Director:
Mengawali karir penyutradaraan lewat Storytime (1968), Terry Gilliam juga aktif sebagai aktor, penulis, produser dan di beberapa departemen lainnya.

Comment:
Masa produksinya sempat digegerkan oleh kematian aktor muda berbakat Ledger tetapi tidak menghalangi Gilliam untuk menyelesaikan film dan pada akhirnya mendedikasikannya untuk Heath. Seperti biasa Gilliam membawa semangat klasik fantastik seperti yang pernah ditunjukkannya lewat karya-karyanya di masa lalu. Ceritanya sendiri bergulir lambat dan nyaris membuat penonton sulit bertahan di kursinya masing-masing, terlebih tone depresi dan visualisasi suram yang digunakan di paruh pertama film. Pengenalan semua karakter juga terasa absurd tetapi realistis. Tetapi jajaran cast berhasil melakukannya dengan baik dan terlihat menjiwai peranan masing-masing, terima kasih pada kostum dan setting yang sangat meyakinkan. Plummer dan Waits menciptakan chemistry yang baik sebagai dua pihak yang "berseberangan". Trio Ledger, Cole dan Jackson juga membawakan kemelut cinta segitiganya dengan baik. Sayangnya, The Imaginarium Of Doctor Parnassus bukanlah film yang dapat dikonsumsi publik umum, terutama mereka yang hanya mencari hiburan tontonan. Apalagi endingnya tidak bahagia selayaknya khas Hollywood, tetapi mungkin itulah nilai plusnya karena terasa lebih manusiawi.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$7,504,196 till early March 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 12 Maret 2010

AFFAIR : Cinta Segitiga Berbuntut Maut

Storyline:
Santi yang berpacaran dengan Daniel tiba-tiba bertemu sahabat lamanya Reta yg baru saja pindah kampus. Tak dinyana Reta malah jatuh cinta pada Daniel sejak pandangan pertama. Santi yang dulu pernah berhutang budi pada Reta punya ide menjodohkan Daniel dengan Reta hanya karena Reta didiagnosa kanker otak dan hidupnya kurang lebih 3 bulan. Awalnya Daniel menolak tapi akhirnya menyanggupi untuk berpura-pura pacaran. Kedekatan Daniel dengan Reta yang semakin lengket hingga setahun lamanya malah membuat Santi terbakar cemburu. Terlebih setelah Santi berulang kali membohonginya. Reta yang kalap terlibat adu fisik dengan Santi di rumahnya yang kosong pada suatu malam. Bagaimana akhir dari kemelut cinta segitiga ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dan gala premierenya diadakan di Planet Hollywood pada tanggal 9 Maret 2010.

Cast:
Baru saja tampil dalam slasher sukses Rumah Dara, Sigi Wimala kembali bermain dengan peran Reta yang sakit-sakitan.
Garneta Haruni kebagian tokoh Santi yang berhutang budi pada Reta di masa lampau.
Dimas Aditya sebagai Daniel yang mencintai Santi tetapi terjebak pada perasaannya sendiri terhadap Reta.

Director:
Pria yang menggunakan nama Nayato Fio Nuala berupaya mengadopsi genre thriller slasher yang sedang marak belakangan ini.

Comment:
Tiga puluh menit pertama semua unsur thriller horor bercampur baur sehingga tidak heran jika kepala penonton akan pening karena dipaksa mengikutinya. Mulai dari halusinasi, flashback, penampakan, pengalaman spiritual dsb. Awal itu yang diyakini kunci cerita dan juga perasaan dejavu pada endingnya. Namun setelahnya film bergulir dengan pengenalan ketiga tokohnya lebih dekat. Konflik yang berhubungan dengan ruang dan waktu diantara mereka ternyata tidak dieksplorasi dengan baik sehingga intervalnya terasa meloncat-loncat. Sayang sekali karena jika digarap lebih serius, hal ini bisa jadi bagian yang menarik. Semua tokoh disini adalah abu-abu. Reta dan Santi sama-sama berjiwa psikopat. Beruntung Sigi dan Garneta cukup serius berlakon disini sehingga penjiwaan mereka terasa maksimal. Dimas sebagai Daniel tidak banyak terekspos. Harus diakui Nayato menyajikan sinematografi yang cukup apik disini dengan angle dan visualisasi yang terus berganti. Dikatakan slasher karena banyak adegan berdarah antar dua wanita tersebut yang bisa jadi memacu adrenalin penonton meski dirasa agak terlalu berlebihan juga. Kesimpulannya, Affair adalah pengalaman obsesi yang akhirnya mengaburkan makna cinta dan persahabatan itu sendiri dan mampu membuat pribadi seseorang berubah seratus delapan puluh derajat!

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 11 Maret 2010

DENDAM POCONG MUPENG : Kos-kosan Terkutuk Berhantu Pocong

Storyline:
Sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara, Rini dan Andi secara tidak sengaja tewas karena kecelakaan di sebuah rumah megah. Keduanya menjadi hantu dan pocong di rumah tersebut. 10 tahun berlalu, rumah itu telah berpindah tangan ke saudagar Arab kaya bernama Wan Harun yang segera membangunnya menjadi kos-kosan. Tibalah empat pendatang baru masing-masing Sherly, Tommy, Mira, Rojak yang menyewa kamar-kamar di rumah tersebut. Satu persatu mulai mengalami gangguan supernatural hingga harus memanggil dukun seksi. Apakah pada akhirnya teror dapat dihentikan?

Nice-to-know:
Judul semulanya adalah Hantu Puncak Datang Bulan.

Cast:
Andi Soraya sebagai Mira
Tesa Mariska sebagai Sherly
Ferly Putra sebagai Tommy
Rizky Mocil sebagai Rojak

Director:
Lagi-lagi propaganda KK Dheeraj yang berusaha mengikuti tren yang ada yaitu komedi horor ringan.

Comment:
Banyak dipangkas karena dianggap adegan syurnya terlalu berlebihan hingga durasinya tinggal sejam lebih dikit. Lantas apa yang diharapkan? Beruntung film ini pada akhirnya masih bisa tayang setelah diperjuangkan dan mengalami kemunduran tanggal rilis dari jadwal semula 11 Februari 2010. Dari plot cerita yang dangkal rasanya tidak usah ditanya karena merupakan khas K2K Productions. Skrip seadanya, eksekusi, improvisasi, editing sekenanya dan voila, siap muncul di bioskop-bioskop ibukota tanpa peduli kualitas akhir! Mudah bukan? Castnya juga tidak berkontribusi apa-apa selain berakting selebay mungkin terutama aktris-aktrisnya yang mempertontonkan tubuhnya kemanapun. Endingnya pun teramat sangat dipaksakan dan klise film-film sejenis. Ohya, jangan kaget jika menyaksikan pocong dan hantu bisa berdialog dan saling cemburu. Yang lebih aneh lagi, pocong bisa ditimpuk sabun, botol, gayung hingga celana dalam. Nah lho!

Durasi:
65 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar lah
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 10 Maret 2010

LOST TRIBE : Menghadapi Makhluk Humanoid Pulau Terpencil

Tagline:
It's our world. It's their island.

Storyline:
Saat berpesiar menggunakan kapal laut, sekelompok teman mengalami naas yang tak dapat diduga. Perahu mereka rusak diterjang karang dan mengalami kebocoran. Susah payah berenang, mereka mencapai sebuah pulau megah yang belum tersentuh. Sayangnya makhluk-makhluk humanoid penghuni pulau tersebut tidak menyukai kedatangan mereka dan mulai melakukan pembantaian satu-persatu dengan brutal.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Primal Films dan bersetting di Sydney, California hingga Costa Rika.

Cast:

Satu-satunya yang ternama disini mungkin hanya Lance Henriksen sebagai Gallo.
Emily Foxler dan Brianna Brown memerankan Anna dan Alexis.

Director:
Pria kelahiran Belanda bernama Roel Reine ini belum banyak dikenal dan kabarnya akan menyutradarai sekuel Death Race di tahun 2011.

Comment:
Sama sekali tidak ada yang spesial dari The Lost Tribe. Nyaris sejam pertama seakan benar-benar tidak tahu harus bercerita apa. Berputar-putar pada kebingungan masing-masing karakternya dalam berusaha bertahan hidup di pulau asing. Belum lagi kemunculan makhluk-makhluk aneh yang disinyalir sebagai penduduk setempat tanpa motif yang jelas membantai dan memangsa siapapun yang memasuki wilayah mereka. Semua itu ditambah oleh gaya penyutradaraan yang buruk dan eksplorasi yang sangat tidak maksimal. Casting juga tidak membantu apapun karena seolah masing-masing aktor-aktris berakting sendiri-sendiri. Yang sedikit menarik mungkin hanya menit ke-61 hingga ke-70 saat korban terakhir diburu habis-habisan dari segala penjuru sampai pada akhirnya ditutup dengan ending konyol yang tidak beralasan. Skip it even for DVDs!

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!