XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label sara paxton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sara paxton. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2012

THE INNKEEPERS : Horrendous Building Slowly Little Scares


Quotes:
Some guests never check out.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Dark Sky Films dan Glass Eye Pix dimana rilis terbatas Amerika Serikatnya sudah dilakukan pada tanggal 3 Februari 2012.

Cast:
Sara Paxton sebagai Claire
Pat Healy sebagai Luke
Alison Bartlett sebagai Gayle
Jake Ryan sebagai Boy
Kelly McGillis sebagai Leanne Rease-Jones
George Riddle sebagai Old Man
Brenda Cooney sebagai Madeline O'Malley

Director:
Merupakan film kelima bagi Ti West setelah terakhir Cabin Fever 2: Spring Fever (2009).

W for Words:
Sebuah penginapan tua di daerah Connecticut tengah beroperasi di minggu terakhirnya. Claire dan Luke bergantian melayani beberapa tamu yang masih berniat untuk bermalam disana. Hadirlah kisah masa lalu di antara mereka mengenai arwah wanita pemilik Yankee Pediar tersebut yaitu Madeline O’Malley yang mati mengenaskan karena calon suaminya tidak hadir di hari pernikahan mereka. Misteri mulai merambat karena rasa penasaran dua pegawai yang tersisa tersebut.
Melihat trailer dan poster ini yang mengedepankan bangunan kuno Yankee Pediar Inn, saya mengharapkan sebuah horor bergaya tradisional yang mampu membangun tensi secara perlahan tanpa harus menggedor jantung penonton dengan serangkaian adegan sadis berdarah-darah. Sayangnya jadwal rilis yang berdekatan dengan The Woman In Black (2012) di 21 Cineplex membuat film yang diambil hak rilisnya oleh Blitzmegaplex ini akan dibandingkan bulat-bulat.

Benar sekali jika teknik untuk menakuti penonton sangatlah tipikal untuk film bergenre sejenis mulai dari pemakaian E.V.P. alias Electric Voice Phenomenon (sudah dilakukan dalam White Noise) atau web cam (Paranormal Activity) serta berbagai adegan penampakan yang mengejutkan tokoh utama. Namun semua itu tentu tak ada gunanya jika tidak didukung oleh sound department yang kuat sebagai pemicu sugesti penonton akan adanya sesuatu meskipun tidak terlihat oleh mata.
Cast yang amat terbatas memang jelas mengandalkan duet Sara Paxton dan Pat Healy yang bahu-membahu menjaga intensitas cerita dengan humor kering yang terkadang menjurus seksualitas atau tindakan bodoh yang seringkali memacu reaksi “tidak menyenangkan”, termasuk dari sudut pandang penonton yang menyaksikannya. Saya katakan mereka berhasil memaksimalkan gimmick yang demikian terbatas! Penampilan aktris lawas Kelly McGillis juga patut mendapat kredit tersendiri sebagai pembawa acara tenar kharismatik yang mampu berkomunikasi dengan arwah di sekitarnya.

Sayangnya The Innkeepers yang sudah didukung dengan atribut setting yang menyeramkan nyatanya tidak menawarkan hal baru. Pergerakan tempo nan lambat memang sedikit membosankan dimana tiga chapter yang ada (Yankee Pediar Inn, Madeline O’Malley dan The Final Guest) harus diakhiri dengan Epilog yang ambigu dan menyisakan banyak pertanyaan di benak penonton. Walaupun begitu derit pintu, koridor lengang, basement gelap, denting piano berhasil dimaksimalkan untuk membangun suspensi misteri yang diharapkan di sepanjang film dan sesekali sukses membuat anda meraba tengkuk!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$75,172 till Feb 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 23 November 2011

SHARK NIGHT 3D : Liburan Pelarian Serangan Hiu Lapar

Effect looks cheap. The sharks seem unreal. Without gore and nudism as expected, there won't be too much left to watch!

Tagline:
Terror runs deep.


Storyline:
Tiga tahun terakhir sejak kepulangannya di rumah danau Louisiana Gulf, Sara mengajak kawan-kawannya Nick, Beth, Blake, Malik dan Maya untuk menghabiskan akhir pecan. Disana mereka bertemu Sherif Sabin dan juga mantan kekasih Sara, Dennis dengan kawannya yang cabul, Red. Keceriaan semula berganti menjadi tragedi saat Malik disambar hiu ketika sedang berselancar air. Teror berikutnya pun tak menunggu lama untuk terjadi. Siapa yang bisa bertahan hingga akhir?

Nice-to-know:
Sutradara David R. Ellis awalnya menggunakan judul "Untitled 3D Shark Thriller" bagi film yang tidak dipertunjukkan lebih awal untuk media screening ini.

Cast:
Angkat nama lewat Aquamarine (2006), Sara Paxton berperan sebagai Sara
Dustin Milligan sebagai Nick
Chris Carmack sebagai Dennis
Katharine McPhee sebagai Beth
Chris Zylka sebagai Blake
Sinqua Walls sebagai Malik
Joshua Leonard sebagai Red

Director:
David R. Ellis terakhir menggarap The Final Destination, franchise keempat yang kebetulan juga berformat 3D.

Comment:
Masih terbayang dalam ingatan bagaimana Alexandre Aja mengemas Piranha 3D (2010) menjadi sebuah tontonan yang fun dan gory. Melihat kemunculan “serangan ikan” lainnya yang lebih besar dalam format serupa, tentunya harapan anda adalah tontonan yang lebih seru dan berdarah-darah. Nanti dulu! Estimasi bujet yang tidak jauh berbeda yaitu 24 juta U.S. dollar untuk yang lawas dan 25 juta U.S. dollar untuk yang gres ini ternyata kualitasnya jauh berbeda.
Will Hayes dan Jesse Studenberg yang mengerjakan skripnya sepertinya lupa untuk “bermain-main” dengan predator paling ganas di lautan itu. Alih-alih menyajikan hiu sebagai momok pembunuh mematikan, keduanya malah tetap memakai manusia sebagai sosok antagonisnya. Idenya memang orisinil tetapi menilik judul, rasanya premis tersebut sulit mengharapkan untuk diterima penonton. Apalagi tokoh-tokoh protagonisnya tidak melakukan sesuatu yang spesial disini.

Jebolan American Idol, Kat McPhee dan Chris Zylka adalah dua nama yang setidaknya bermain lumayan terlepas dari minoritas karakter mereka disini. Paxton yang sedianya memimpin casts malah tampil di bawah standar karena tokoh Sara di tangannya terkesan kurang kuat. Lemahnya karakterisasi dapat ditimpakan pada kualitas skenario yang sama buruknya. Tak heran berbagai konflik yang dituangkan malah seperti sinetron televisi. Sebagai bukti, lihat saja pasangan Sara-Dennis ataupun Malik-Maya yang overdramatisasi itu.
Sutradara Ellis juga gagal menjaga intensitas yang diinginkan sejak menit-menit awal. Bahkan hingga ending pun tidak ada improvisasi yang berarti untuk menyuguhkan tontonan yang menggigit. Belum lagi spesial efek yang “cupu” disana-sini. Adegan maut saat hiu menyerang pun tidak ditampilkan secara eksplisit, hanya cipratan darah atau genangan air yang memerah. Untuk apa membicarakan 36 jenis hiu jika hanya ditampilkan beberapa dalam hitungan sebelah jari tangan saja!

Efek 3D yang dibebatkan ke dalam film hanya bekerja dengan baik di bawah air, seakan membawa penonton menelusuri sebuah akuarium raksasa. Selebihnya cuma pemborosan uang belaka. Alhasil Shark Night 3D tidak lebih baik dari film-film kelas B atau C pengisi saluran televisi anda di malam hari. Mudah sekali ditebak arahnya. Jika memang penasaran, tontonlah dengan ekspektasi serendah mungkin dan anggap saja sebuah film serius non hewan predator. Namun jangan harapkan adegan gore atau nudis terjadi disini karena yang ada hanyalah sirip hiu dalam lighting temaram mencoba membangun ketakutan yang amat minim.

Durasi:
91 menit

U.S. Box Office:
$18,860,403 till Nov 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 15 Maret 2010

LAST HOUSE ON THE LEFT : Balas Dendam Pasutri Biasa Kawanan Pembunuh

Tagline:
If bad people hurt someone you love, how far would you go to hurt them back?

Storyline:
Kriminal berbahaya, Krug diselamatkan oleh adiknya, Francis dan kekasihnya, Sadie saat dipindahkan oleh dua detektif di perjalanan. Sementara itu, Mari Collingwood nekad pergi bersama sahabat lamanya, Paige ke sebuah motel sewaan pria pendiam yang baru dikenalnya, Justin dengan mengindahkan pesan orangtuanya, Dr. John dan Emma. Malang tak dapat diduga, ketiga kriminal tersebut kembali ke motel yang dijaga putranya, Justin! Kehadiran Mari dan Paige di tempat dan waktu yang salah harus dibayar mahal. Mobil kawanan kriminal tersebut meluncur ke arah danau di atas gunung tempat kediaman Collingwood yang terasing dari mana-mana. Akankah korban semakin berjatuhan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Sang Produser Jonathan Craven pernah membintangi versi aslinya, The Last House on the Left (1972).

Cast:
Tony Goldwyn dan Monica Potter memperlihatkan emosi yang baik sebagai pasangan suami istri Collingwood yang dilema menghadapi kriminal-kriminal yang telah menganiaya putri kesayangan mereka.
Beberapa kali membintangi film remaja termasuk Sydney White (2007), Sara Paxton disini bermain sebagai Mari Collingwood yang tegar walaupun teraniaya.
Tiga kriminal sadis yaitu Krug , Sadie dan Francis diperankan dengan baik masing-masing oleh Garrett Dillahunt, Riki Lindhome dan Aaron Paul.

Director:
Merupakan film kedua bagi Dennis Iliadis setelah Hardcore (2004).

Comment:
Konon nyaris langsung dilempar di pasaran dvd, film ini akhirnya tayang juga di bioskop Amerika sana. Dan sempat saya berharap akan masuk di Indonesia juga tapi nyatanya ditunggu-tunggu setahun tidak kunjung terjadi. Akhirnya saya menontonnya di DVD dan rasa penasaran sejak lama terbayar sudah. Walaupun miskin pengalaman, penyutradaraan Iliadis patut diacungi jempol. Penggambarannya sangat baik dan semua emosi dari karakternya tertangkap kamera dengan brilian. Dillahunt sebagai antagonis "terjahat" juga sangat mengerikan. Hal tersebut diimbangi juga oleh Goldwyn dan Potter yang berusaha tegar meskipun sesungguhnya hanya orangtua biasa yang berusaha menjaga martabat keluarga. Paxton dan MacIsaac juga mahir tampil beda dari komedi remaja yang biasa kita saksikan. Plot ceritanya sesungguhnya simpel dan tertata dengan baik per sekuensnya. Namun tensi ketegangan mampu terjaga sepanjang film dengan beberapa elemen kesadisan yang cukup membuat anda menutup mata karena miris. Meski belum menonton versi originalnya, saya berani mengatakan The Last House On The Left adalah remake thriller yang baik dan mampu disesuaikan dengan kondisi masa kini di luar banyaknya kegagalan usaha serupa belakangan ini.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$32,721,635 till May 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 23 Juli 2009

SYDNEY WHITE : Putri Salju Jaman Modern

Quotes:
Tyler-Who are you Sydney White? You throw a football like Matt Leinart, fearlessly conquer fraternity bathrooms, and clean up nice to boot.
Sydney White-Well, I'm more of a Peyton Manning. Leinart's a lefty.
Tyler-Marry me.

Cerita:
Ditinggal mati ibunya saat berusia 9 tahun, Sydney White tumbuh bersama ayahnya yang seorang pekerja konstruksi. Beranjak kuliah, Sydney menerima beasiswa dan berharap mengikuti jejak ibunya untuk memasuki asrama Kappa Phi Nu. Sayangnya ketua Kappa, Rachel menjegalnya dan membuat Sydney masuk The Vortex bersama 7 siswa tidak populer yaitu Lenny, Terrence, Jeremy, Gurkin, Spanky, George, Embele. Bersama mereka berjuang mengumpulkan dukungan demi mempertahankan The Vortex sekaligus mengembalikan keseimbangan kampus dalam pemilihan Kepala Senat yang baru!

Gambar:
Sepenuhnya bersetting di Florida, Sydney White menyajikan potret kehidupan kampus dan asmaranya dengan cukup glamor dan detail.

Act:
Aktris muda yang cukup dikenal ini pertama kali membintangi Big Fat Liar (2002), Amanda Bynes kali ini bermain sebagai Sydney White yang sederhana, cerdas dan idealis tapi kadangkala tidak percaya diri.
Reuni dengan sang sutradara setelah Sleepover (2004), Sara Paxton berperan sebagai Rachel Witchburn yang cantik culas dan terlalu percaya diri.
Sebelum ini kebagian peran Johnny Blaze muda dalam Ghost Rider (2007), Matt Long berakting sebagai Tyler Prince, ketua perkumpulan Beta yang tampan dan rendah hati.

Sutradara:
Satu-satunya karyanya yang cukup dikenal adalah Sleepover (2004), Joe Nussbaum tetap dipercaya menangani film yang berjudul lengkap Sydney White and the Seven Dorks ini.

Komentar:
Film ini memang adaptasi bebas dari Snow White and Seven Dwarfs dimana plot dipadu dengan kehidupan kampus modern yang penuh dengan dinamika remaja. Termasuk persaingan merebut popularitas sekaligus cinta. Setipe dengan peran-peran terdahulu, harus diakui Amanda Bynes tetap terlihat charming disini sebagai jualan utama jajaran cast. Ceritanya mengalir simpel dan wajar meski terkesan mudah ditebak dengan beberapa humor dan romantisme yang cukup memikat. Maka dari itu satu pesan dari saya saat anda memutuskan menonton Sydney White: Enjoy aja! Jangan terlalu berpikir rumit karena toh masih ada nilai-nilai idealis yang bisa anda petik di dalamnya. Hal lain yang tak boleh terlupakan, aspek hiburannya tergolong baik terutama bagi kaum remaja.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$11,549,960 till Oct 2007

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!