XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label agus kuncoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agus kuncoro. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

GENDING SRIWIJAYA : Fiksi Kolosal Menjanjikan Tanpa Keakuratan Historis


Quote: 
Kita berjuang demi tanah ini dari kerakusan Dapunta.

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Putaar Production dan Pemda Sumatra Selatan ini gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 9 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Agus Kuncoro sebagai Awang Kencana
Sahrul Gunawan 
sebagai Purnama Kelana

Julia Perez sebagai Malini
Slamet Rahardjo sebagai Dapunta Hyang Mahawangsa
Hafsary Thanial Dinoto sebagai Endang Wangi
Mathias Muchus
sebagai Ki Goblek

Oim Ibrahim sebagai Pati Duta
Jajang C Noer
sebagai Ratu Kalimanyang


Director: 
Merupakan karya ketujuh yang ditulis dan disutradarai Hanung Bramantyo setelah terakhir Sang Pencerah (2010).

W For Words:
Saya sudah lupa kapan terakhir ada sebuah film kolosal nasional dengan latar belakang sejarah daerah. Yang ada di ingatan cuma Saur Sepuh I-V (1987-1992) dan Tutur Tinular I-IV (1989-1992) dimana hanya bisa saya saksikan via televisi. Acungan jempol pantas diberikan pada Hanung Bramantyo atas inovasi dan keberaniannya mengerjakan proyek semacam ini tentunya dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Sumatra Selatan sehingga pemakaian Sriwijaya sebagai latar belakang setidaknya dapat ’disahkan’

Abad 16, Kedatuan Bukit Jerai adalah kerajaan kecil yang dipimpin Dapunta Hyang Mahawangsa dengan permaisuri Ratu Kalimanyang. Dua putranya, Awang Kencana dan Purnama Kelana memiliki karakter yang bertolak belakang. Saat Dapunta menunjuk Purnama yang mengandalkan intelektualitas sebagai penggantinya, Awang yang pandai bertarung marah bukan kepalang. Purnama difitnah membunuh Dapunta dan masuk penjara sebelum dinyatakan tewas saat pelariannya. Adalah Malini, puteri Ki Goblek pemimpin perampok yang membantu Purnama kembali dan menuntut balas pada Awang yang telah diangkat menjadi raja baru.

Jangan salah kaprah, film ini murni fiksi fantasi, jadi tidak perlu mengaitkan dengan fakta yang ada. Hanung yang menulis skripnya sendiri tak pernah menjelaskan tempat dan waktu kejadian. Penonton diajak menjadi pengamat sebuah perebutan kekuasaan yang lazim terjadi di masa apapun juga. Sayangnya durasi 138 menit mungkin terlampau panjang untuk sebuah feature film yang sebagian besar dihabiskan untuk pengenalan multi karakternya mulai dari yang agak penting hingga yang paling krusial demi membangun satu intrik tarik menarik yang mampu menjerat perhatian penonton.

Hanung sebagai sutradara juga begitu jeli memperhatikan setiap detail production value mulai dari set lokasi, tata kostum, tata rias, artistik sehingga terlihat meyakinkan. Penggunaan dialek Palembang terbilang konsisten di sepanjang film meski tak semuanya dilengkapi teks bahasa Indonesia baku. Akting para pemainnya pun berhasil ia poles sedemikian rupa sampai merasa nyaman meskipun harus menggunakan kostum yang tidak sesederhana kelihatannya tersebut. Memang sejak awal kabar mengenai film ini bergulir, banyak pihak yang mempertanyakan pemilhan casts nya.

Saya yakinkan pada anda bahwa penunjukan Julia Perez tidak salah pilih. Ia bermain total sebagai Malini yang heroine sejati. Kesan seksinya masih tertinggal walau kerap tertutup rias. Menarik melihat wanita-wanita (gending) lain yang berani memperjuangkan martabat sekaligus kebenaran melalui ilmu kanuragan tingkat tinggi. Agus Kuncoro berhasil membawakan sosok antagonis Awang Kencana yang begitu memancing emosi terutama di paruh terakhir film. Sebaliknya Sahrul Gunawan tampak begitu lugu dan innocence sebagai Purnama Kelana yang santun dan lemah lembut.

Gending Sriwijaya adalah babak lain dalam catatan prestasi seorang Hanung Bramantyo dalam kancah perfilman Indonesia. Intrik perang saudara, pengkhianatan, balas dendam, kebangkitan ditampilkan begitu hidup dalam jalinan kisah yang mudah diikuti. Adegan laga berikut koreografinya juga dieksploitasi dengan memikat. Memang sedikit tercoreng faktor historis yang sedikit terabaikan, tetapi keseriusan Hanung dalam penggarapannya jelas lebih pantas diapresiasi dibanding puluhan sinetron sejenis yang mengisi jam tayang utama stasiun televisi swasta kita selama bertahun-tahun.

Durasi: 
138 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 11 Oktober 2012

CITA-CITAKU SETINGGI TANAH : Presentasi Inspiratif Mimpi dan Perjuangan


Quotes:
Mbah: Rejeki itu nggak pernah pergi, cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Humanplus Production ini screeningnya diadakan di Djakarta XXI pada tanggal 2 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Agus Kuncoro sebagai Bapak Agus
Donny Alamsyah sebagai Pegawai restoran Padang
Nina Tamam sebagai Ibu Agus
Iwuk Tamam sebagai Nenek Agus
M Syihab Imam Muttaqin sebagai Agus
Rizqullah Maulana Daffa sebagai Jono
Iqbal Zuhda Irsyad sebagai Puji
Dewi Wulandari Cahyaningrum sebagai Mey/Sri
Luh Monika Sokananta

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Eugene Panji yang juga bertindak sebagai produser.

W For Words: 
Pengertian cita-cita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Tentunya anda masih ingat ketika duduk di bangku sekolah dasar, tenaga pengajar selalu menanyakan apa cita-cita masing-masing anak. Manfaatnya tentu saja untuk mengukur kemampuan sekaligus menetapkan tujuan yang mau dicapai sejak dini. Film segala umur produksi Humanplus ini mengambil sudut pandang anak-anak sehingga cocok menjadi tontonan seantero keluarga. 

Agus berasal dari keluarga sederhana di Muntilan. Ayahnya bekerja di pabrik tahu sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang terampil membuat tahu bacem. Suatu ketika ibu guru menugaskan murid-muridnya menulis karangan tentang cita-cita. Sri yang beken dipanggil Mey ingin menjadi artis terkenal dimana ibunya turut membantu, Jono yang selalu menjabat sebagai ketua kelas ingin menjadi tentara, Puji ingin selalu membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan Agus? Ia hanya ingin makan di restoran Padang sehingga rela menabung setiap harinya untuk mewujudkannya.

Penata skrip Satriono mampu bertutur secara linier. Alur film mudah dinikmati layaknya air mengalir. Sentralisasi tokoh Agus yang dianggap memiliki cita-cita rendah tapi menyusahkan berhasil menjembatani konflik dengan karakter-karakter di sekitarnya yang juga variatif merepresentasikan dirinya masing-masing. Permasalahan yang diangkat memang tergolong ringan tetapi cukup untuk menyentuh perasaan penonton meski tanpa kehadiran satu sosok antagonis pun di sepanjang 82 menit durasinya.

Produser-sutradara Eugene Panji yang selama ini berkecimpung dalam pembuatan video klip musik terampil memaksimalkan setting Muntilan, Jawa Tengah sebagai panggung indah lengkap dengan segala atribut pendukungnya. Potret kehidupan sederhana di desa kecil di kaki gunung Merapi ini teramat kontras dengan kota besar yang selama ini anda kenal. Sebuah perbandingan nyata yang mungkin akan membuat anda lebih bersyukur. Lantunan suara merdu Endah dan Rhesa dari Bumble Bee Studio turut mengalun serta.

Sekolah akting yang dilakoni keempat bintang cilik selama setahun ini terbukti membantu mereka dalam menjiwai perannya. M Syihab berhasil menghidupkan sosok Agus dengan natural dimana tekad kuat dan kerja kerasnya pantas menjadi panutan. Dewi dengan impersonifikasi artisnya akan membuat anda terpingkal-pingkal. Rizqullah dan Iqbal juga bermain menggemaskan dengan kebiasaan masing-masing. Jangan lupakan kontribusi Agus Kuncoro, Donny Alamsyah serta ibu dan putrinya, Iwuk dan Nina Tamam sebagai wanita-wanita bersahaja.

Cita-citaku Setinggi Tanah akan membuka mata anda bahwa film “baik” itu pantas untuk dinikmati. Bukan hanya itu, 100% hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada Yayasan kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) demi memotivasi semangat mereka untuk melanjutkan hidup. Antara menginginkan dan mewujudkan tentunya ada proses yang harus dilalui. Kita lantas menyebutnya perjuangan dimana besar kecilnya usaha akan menentukan hasil akhir. Berhasil atau gagal ada di tangan anda. Wujudkan cita-cita, berawal dari kita, slogan penutup sempurna untuk sebuah presentasi inspiratif dari seorang Eugene Panji.

Durasi: 
82 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 01 Juni 2012

SULE AY NEED YOU : Sitkom Low Profile Butuh Sule


Quotes:
Ayla: Emangnya kalo Ay belum punya pacar, kang Sule mau?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh E-Motion Entertainment ini press conference dan gala premierenya diadakan di Plaza Indonesia XXI pada tanggal 23 Mei 2012.

Cast:
Sule sebagai Sule
Titi Kamal sebagai Ayla
Andre Taulany sebagai Andre
Parto sebagai Parto
Nunung Srimulat sebagai Romlah
Indro Warkop sebagai Rozak Tambunan
Agus Kuncoro sebagai Benny
Dicky Chandra sebagai Uak Salim / Paman Sule

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Cuk FK.

W For Words:
Entis Sutisna awalnya hanyalah seorang penjual jagung rebus keliling kampung sekaligus ayam goreng dan kebaya. Nasib baik mengantarkannya menjadi pemenang API 1 bersama dengan Ogi Suwarna dan Obin Wahyudin yang tergabung dalam grup lawak SOS pada tahun 2005. Kini pria yang dikenal dengan nama Sule tersebut membintangi film layar lebar keduanya setelah Arwah Kuntilanak Duyung (2011) milik KK Dheeraj. Kabar baik lain adalah keterlibatan penulis senior Jujur Prananto sebagai penata skrip disini.

Mengingat ayahnya yang jatuh miskin karena menghabiskan uang untuk mengkampanyekan diri sebagai lurah, Sule diminta ibunya untuk berangkat ke Jakarta mencari uak Salim yang kaya raya. Sule yang lugu lantas malah menempatkan dirinya dalam situasi serba salah. Kekurangan uang membuatnya bekerja pada Romlah, istri polisi baik hati bernama Parto yang sempat menangkapnya. Tak lama kemudian, Sule berkenalan dengan Ayla, anak pengusaha terkenal yang tengah maju dalam pencalonan, Drs. Andre MHT MSc. Kebetulan demi kebetulan membawa Sule mengenali orang-orang sekitarnya sekaligus mencari tahu apa yang sesungguhnya ia inginkan dalam hidupnya.

Sule dapat dikatakan cukup beruntung menjadi tokoh sentral dalam film yang dikerubuti oleh komedian papan atas tahun 90an. Bukan hanya satu melainkan enam yang ia perankan disini, coba anda teliti dan sebutkan satu persatu. Ia tak hanya membawakan slapstick yang disengaja memancing tawa tetapi sebagian diantaranya merupakan naturalisasi komedi yang terbangun oleh situasi. Terima kasih akan kayanya karakterisasi yang saling bertautan mendukung bangunan utama cerita yang disajikan.

Gaya penyutradaraan Cuk FK memang mengingatkan kita akan sitkom lawas tahun 90an seperti Gara-Gara, Si Doel Anak Sekolahan dsb yang kelucuannya terasa wajar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masih ingat dengan kampung Sukasararean dalam Kawin Kontrak (2008)? Nah setting lokasi yang sama kembali muncul disini. Perpindahan dari satu subplot ke subplot lain tergolong mulus karena berjalan beriringan sehingga penonton tidak merasa “hilang” di tengah-tengah. Good job!

Benang merah percintaan beda status sosial yang menjadi konflik utama disuguhkan tanpa dramatisasi berlebihan. Sule tetaplah Sule yang bersahaja dari kampung sedangkan Ayla tetaplah Ayla yang kurang kasih sayang dari keluarga berada. Interaksi keduanya memang tidak tergali maksimal tetapi cukup menjelaskan situasi yang terjadi di antara keduanya. Sejak awal, penonton memang sudah dituntun untuk bersimpati pada karakter Sule yang santun, lugu nan jujur tapi selalu bernasib kurang baik itu. Dilema yang dihadapinya untuk bertahan hidup di desa dan di kota menjadi pertimbangan tersendiri.

Sule, Ay Need You adalah komedi situasi murni yang dibuat secara “benar” dengan tujuan menghibur. Suatu hal yang patut diapresiasi karena agak terlupakan oleh sineas-sineas kita yang kerapkali berupaya terlalu keras mengadaptasi formula yang itu-itu saja termasuk memanusiakan pocong sekalipun.
Sempilan hit-hit “ringan” dari Titi Kamal memang sudah diprediksi sebelumnya tapi tidak sampai mengganggu. Akting Parto dan Nunung menjadi favorit saya pada kesempatan ini. Namun Sule jelas “nyawa” yang berhasil mengangkat film ini dengan citarasa low profile yang apa adanya. Yes, we need this kind of movie once in a while!

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
 

Selasa, 01 November 2011

PENGEJAR ANGIN : Bajing Loncat Pendidikan Cita-Cita

Quotes:
Dapunta: Dapun ingin sekolah, Pak. Dapun nak kuliah..


Storyline:
Siswa SMA cerdas, Dapunta tinggal di Lahat menjelang kelulusannya sangat berambisi untuk meneruskan ke bangku kuliah. Sayangnya niat baik itu ditentang sang ayah yang lebih mengarahkannya menjadi penerusnya sebagai pemimpin Bajing Loncat di kampung mereka, belum lagi ibunya yang sakit-sakitan hingga membutuhkan biaya pengobatan. Pak Damar dan Pak Ferdi yang melihat potensi Dapunta berusaha melakukan segala cara agar muridnya itu mampu menerima beasiswa. Dapunta dibantu oleh kekasihnya, Nyimas dan sahabatnya, Husni harus bersaing dengan Yusuf di segala bidang termasuk keunggulannya sebagai pelari tercepat sekaligus membuka pintunya untuk kesempatan emas yang membentang. Akankah mimpi tersebut dapat diraih?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Putaar Production dengan didanai oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 31 Oktober 2011.

Cast:
Qausar Harta Yudana sebagai Dapunta
Lukman Sardi sebagai Pak Damar
Agus Kuncoro sebagai Ferdy
Mathias Muchus sebagai Ayah Dapunta
Wanda Hamidah sebagai Bunda Dapunta
Siti Helda Meilita sebagai Nyimas
Giorgino Abraham sebagai Yusuf

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Hestu Saputra, jebolan Dapur Film yang dibantu oleh Hanung Bramantyo.

Comment:
Cerita di balik layar yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai narasumber, proyek film ini memang seperti “Sangkuriang”. Siapapun yang terlibat di dalamnya bisa jadi menggali kuburannya sendiri dikarenakan waktu yang begitu singkat dan tuntutan yang begitu besar dari penyumbang dana produksinya. Cukup mengejutkan melihat nama sekaliber Hanung Bramantyo tercantum dalam credit title apapun jabatannya disitu.
Penulis skrip Ben Sihombing terlalu banyak memasukkan elemen dalam film ini, setidaknya ada 3 yang paling utama yaitu:
1. Bajing loncat, tidak jelas digambarkan sebagai antagonis/protagonist.
2. Pendidikan, isu kelas gratis dan jatah beasiswa.
3. Olahraga, pelari jarak dekat untuk kompetisi.

Kesemuanya itu masih dibaurkan lagi dalam tema persaingan, persahabatan, pelatihan, dedikasi, cinta, kekeluargaan dari keseluruhan tokoh-tokohnya yang juga amat variatif dan sama kuatnya. Interaksi antara Dapunta dan sobat-sobatnya, ayah Dapunta dengan kawanan bajing loncatnya, guru Pak Damar dengan kepsek dan rekan-rekannya serta berbagai hubungan linier lainnya turut andil dalam menjungkir balikkan logika penonton yang kelelahan mengikutinya.
Mathias Muchus dan Lukman Sardi adalah dua nama besar di perfilman Indonesia. Keduanya memiliki peran penting terhadap sang tokoh utama yang dihidupkan dengan natural dan cukup maksimal oleh Qausar. Sayangnya tidak terlihat proses Ayah ataupun Pak Damar menginspirasi Dapunta secara tegas karena kurang fokusnya karakterisasi yang berusaha dibangun. Agus Kuncoro, Wanda, Siti Helda, Giorgino pun seakan hanya numpang lewat menciptakan riak-riak kecil dalam problematika yang ada.

Sutradara debutan Hestu Saputra bekerja di bawah supervisi Hanung Bramantyo. Sinematografi yang dihasilkan justru terkesan terlalu dinamis, terasa sekali perbedaan kinerja kamera di siang dan malam hari. Penceritaan sekolah (pendidikan Dapunta) dan hutan (penempaan ayah Dapunta) terasa seperti dua alam yang berbeda. Tata musiknya sebenarnya sudah mewakili daerah Sumatera Selatan, hanya saja penempatannya agak dipaksakan sehingga gagal membangun feel yang diharapkan.
Benang kusut yang hadir selama satu setengah jam pun akhirnya dituntaskan dalam 10 menit terakhir, seakan dimasukkan ke dalam lubang hitam begitu saja. Propaganda Pemprov dalam menggelorakan semangat Sea Games ke-26 di Palembang pun mengubah arah endingnya tanpa rasa dosa sekalipun. Semakin mengaburkan kualitas Pengejar Angin secara keseluruhan yang sudah kehilangan identitasnya sejak menit awal. Yang tersisa hanyalah aspek-aspek comotan dari berbagai film yang sudah-sudah hingga sukses membuat penontonnya berhalusinasi. Untuk apa susah-susah dikejar, angin yang sebatas lalu itu ternyata cuma mampu meninabobokan.

Durasi:
101 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 22 Agustus 2011

TENDANGAN DARI LANGIT : Mimpi Sepakbola Realitas Pengharapan

Quotes:
Indonesia itu jagonya main di kandang sendiri! Kalo di kandang lawan? Mandul!!


Storyline:
Wahyu yang masih duduk di bangku SMU memiliki bakat luar biasa dalam sepakbola. Itulah sebabnya ia memiliki cita-cita untuk bermain dalam tim nasional Indonesia walau hanya berdomisili di Desa Langitan di lereng gunung Bromo bersama ayah ibunya yang hidup sederhana itu. Pak Lik Hasan kerapkali menawarkan sejumlah bayaran bagi Wahyu untuk memperkuat suatu tim sepakbola. Tidak sulit bagi Wahyu untuk meraih kemenangan dan mendapat sejumlah uang untuk dibelikan kuda bagi ayahnya Pak Darto. Sayang niat Wahyu untuk maju ditentang habis-habisan oleh sang ayah yang menganggap pesepakbola Indonesia tidak memiliki masa depan. Dengan dukungan teman-temannya Putro dan Purnomo serta gadis yang disukainya Indah, Wahyu nekad mengikuti try out Persema di bawah bimbingan Coach Timo. Akankah keberhasilan menghinggapi Wahyu pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sinemart Pictures dimana gala premierenya dilangsungkan di Gandaria XXI pada tanggal 22 Agustus 2011.

Cast:
Yosie Kristanto sebagai Wahyu
Maudy Ayunda sebagai Indah
Giorgino Abraham sebagai Timo
Jordi Onsu sebagai Putro
Joshua Suherman sebagai Purnomo
Agus Kuncoro sebagai Pak Lik Hasan
Sujiwo Tejo sebagai Pak Darto
Natasha sebagai Melly
Irfan Bachdim
Kim Kurniawan
Mathias Ibo

Director:
Merupakan film ke-16 Hanung Bramantyo sekaligus pertama yang bertemakan olahraga.

Comment:
Tema olahraga memang tak sering dilirik sineas tanah air dalam membesut film-filmnya. Beberapa judul yang sudah edar pun cenderung bermain “aman” dengan segmentasi anak-anak. Hasilnya pun harus diakui lebih baik dibandingkan dengan yang menyasar penonton dewasa. Lalu bagaimana posisi film ini? Tentunya nama Hanung Bramantyo sudah menjadi jaminan kualitas itu sendiri.
Penulis skrip Fajar Nugros dengan cerdik mengambil sudut pandang seorang remaja SMU sehingga baik anak-anak maupun orang dewasa sekalipun bisa menikmati film ini. Tokoh Wahyu seakan menjadi pembatas antara dua jendela, satu mengetengahkan mimpinya menjadi pesepakbola handal negeri ini, sedangkan satu lagi menyorot kehidupan cintanya terhadap orang-orang di sekitarnya. Dua sisi yang sukses bersinergi satu sama lain dalam menghadirkan jalinan kisah yang teramat menarik.
Yosie bermain dengan cemerlang. Sosok Wahyu yang tinggi kurus berkulit hitam dan tidak pandai berbahasa Inggris ini menegaskan konsep pemuda ndeso yang sederhana. Sebaliknya kemampuan olah kakinya diperlihatkan dengan mumpuni mulai dari menggiring bola hingga menjebol gawang. Simpati anda niscaya timbul melihat senyum tulus yang selalu terpancar dari wajahnya, belum lagi perangai santun yang selalu diperlihatkannya.

Dari jajaran senior, Sujiwo seperti biasa menyuguhkan akting luar biasa. Kekerasan hatinya di awal film mampu mengangkat konflik secara drastis walaupun tidak lantas berlarut-larut menghadirkan drama berlebihan. Agus Kuncoro juga melanjutkan penjiwaan gemilangnya lewat tokoh Pak Lik Hasan yang abu-abu itu, disebut abu-abu karena kita semua tahu motifnya disini. Menarik melihat Giorgino dan Mathias yang memiliki rupa bule tapi lancar berbahasa Indonesia sebagai Coach dan Fisioterapis.
Dari generasi muda, Joshua yang seakan hilang setelah ketenaran masa kecilnya kembali lagi sebagai sahabat pemantun. Bertandem dengan Jordi yang tidak kalah kocaknya sebagai kawan berapi-api. Maudy juga memberikan nyawa yang pas dalam karakter Indah, love interest Wahyu. Keduanya menampilkan cinta SMU yang polos manis tanpa romantisme norak samasekali. Sebagai cameo, Irfan dan Kurniawan bermain sebagai dirinya sendiri meski nyaris tanpa dialog.
Sutradara Hanung memang tidak berusaha memberi wacana panjang lebar mengenai sepakbola dan segala peraturannya disini. Yang terpenting justru bagaimana membuat para aktornya terlihat meyakinkan bermain bola di lapangan hijau tersebut. Desa Langitan yang berpadu dengan pesona Bromo itu sendiri rasanya sudah mampu menjadi magnet yang tidak biasa bagi penonton. Lihat saja scene dimana Wahyu berlatih keras dengan bola kulit usangnya. Amazing!
Tendangan Dari Langit selayaknya sebuah masakan berbumbu komplit, anda akan menemukan berbagai rasa di dalamnya. Scoring musik garapan Tya Subiakto dan lantunan suara Kotak juga terasa megah dalam melebur dinamis ke dalam bangunan cerita. Perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan tulus memang dibutuhkan untuk mengejar pilihan dan tujuan hidup anda. Rasakanlah dukungan perhatian, kasih sayang, kesetiakawanan dari orang-orang terdekat anda di sepanjang perjalanan tersebut. Film ini berhasil menjadi salah contoh konkrit bagaimana sebuah mimpi harus diwujudkan secara benar. Very recommended!

Durasi:
110 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 05 April 2011

? : Ketika Menyikapi Perbedaan Adalah Sebuah Pilihan

Tagline:
Masih pentingkah kita berbeda?

Storyline:
Tan Kat Sun telah menjalankan usaha rumah makan selama bertahun-tahun dan menyediakan masakan halal dan non halal bagi tamu-tamunya. Sayang putranya Hendra tidak terlalu peduli dengan nasib rumah makan itu dan seringkali bersitegang dengan ayahnya sendiri. Ada lagi Rika yang paska perceraian melepas jilbab dan bertekad bulat mendalami ajaran Katolik walaupun anak kesayangannya Abi lebih suka memeluk Islam. Dalam perjalanan Rika bertemu dengan Surya yang frustrasi dengan karir aktornya. Belum lagi Soleh yang kesulitan memperbaiki hubungannya dengan istrinya Menuk karena perbedaan agama. Pergulatan batin kerapkali mewarnai pertengaran mereka dengan orang-orang di sekitarnya. Akankah toleransi antar umat beragama dapat tercipta pada akhirnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Dapur Film Production yang bekerjasama dengan Mahaka Entertainment dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 5 April 2011.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Soleh
Revalina S Temat sebagai Menuk
Endhita sebagai Rika
Agus Kuncoro sebagai Surya
Hengky Soelaiman sebagai Tan Kat Sun
Rio Dewanto sebagai Hendra

Director:
Karya pertama Hanung Bramantyo setelah meraih Piala Citra tahun lalu lewat Sang Pencerah (2010).

Comment:
Isu perbedaan agama kembali diangkat ke sebuah produksi layar lebar. Kali ini dilakukan oleh Hanung Bramantyo, seorang sutradara papan atas Indonesia yang sudah membuktikan diri lewat karya-karyanya. Disini Hanung terlihat berhati-hati dalam melakukan pembahasan setiap masalah yang tertuang dalam berbagai subplot yang variatif dan kaya sudut pandang itu.
Pembukaan film harus diakui berjalan lambat dan kurang maksimal. Batas perpindahan scene per scene yang samar cukup membuat penonton kesulitan untuk mengenali para karakter dan segala permasalahannya itu. Memasuki pertengahan durasi barulah mengalami perbaikan, seiring mulai menebalnya konflik yang dialami Rika, Menuk ataupun Hendra.
Dari jajaran nama-nama tenar yang mengisi cast film ini sungguh di luar dugaan jika pada akhirnya saya paling bersimpatik pada karakter Agus Kuncoro yang benar-benar tampil apa adanya sebagai Surya. Enditha juga bermain tegas disini sebagai Rika yang berpindah agama setelah ditinggal suaminya. Konflik agama di antara mereka terasa menyegarkan dan menjadi highlight tersendiri.
Seperti biasa Reza Rahadian berakting dengan maksimal sebagai Soleh yang mengalami pertentangan emosi. Sayang chemistry nya bersama Revalina sebagai Menuk tidak mendapat porsi yang dominan kali ini. Sedangkan keluarga Tan Kat Sun sebagai pemilik rumah makan Canton Chinese Food berhasil menciptakan dilematis sendiri terlebih perbedaan pandangan ayah dan anak yang dibawakan oleh Rio Dewanto dengan cukup lugas meski masih harus belajar banyak di luar peran layar kaca yang biasa dilakoninya.
Beruntung sekali Hanung memberikan warna yang berbeda-beda sebagai latar belakang ketiga pasang tokoh utama tersebut. Ciri khasnya yakni dramatisasi dan pengaturan tempo film kembali bekerja dengan baik. Skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena ini berhasil menggiring penonton pada satu kesimpulan yang “bold” di akhir cerita. Bagaimana perbenturan agama pada akhirnya dapat terselesaikan secara damai lewat sikap ikhlas menerima dan pengorbanan yang tulus.
Tanda Tanya (?) yang diilhami dari berbagai kisah nyata ini juga menampilkan sudut-sudut kota Semarang lewat serangkaian perayaan agama Islam, Kristiani dan Buddha secara khususnya sepanjang tahun. Sebuah wacana yang diharapkan bisa jadi bahan refleksi kita dalam kehidupan beragama sehari-harinya. Bukankah Tuhan itu memang satu adanya?

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 19 Maret 2010

DI BAWAH LANGIT : Masyarakat Pesisir Pantai dan Segala Polemiknya

Storyline:
Kyai Akhmad memiliki seorang putri bernama Maysaroh yang sedianya akan dijodohkan oleh salah satu dari dua santrinya yaitu Zaelani dan Gelung yang bertolak belakang kepribadiannya. Selain itu Kyai Akhmad juga mengasuh 7 anak yatim diantaranya Sukma, Fajar, Keling dll. Pada akhirnya di penghujung umurnya, Kyai Akhmad memilih Zaenal untuk mendampingi Maysaroh. Pernikahan pun segera dilangsungkan. Diam-diam Gelung yang patah hati pun meninggalkan rumah dan memilih tinggal di gubuk sederhana di pesisir pantai. Semenjak kematian Kyai Akhmad, keadaan tidak bertambah baik. Zaenal dan Maysaroh kesulitan mempertahankan rumah tangganya apalagi harus mengasuh 7 anak yang beranjak remaja tersebut. Sedangkan Gelung mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Opick Tombo Ati Film.

Cast:
Debut pertama akting bagi biduan religius bernama Opick Tombo Ati ini sebagai Gelung yang energik, intuitif, imajinatif dan kontemplatif.
Kembalinya mantan aktris hot tahun 1990an, Inneke Koesherawati sebagai Maysaroh.
Terakhir muncul dalam Kun Fayakuun, Agus Kuncoro sebagai Zaelani, santri yang berpandangan lurus, teguh dan tenang.

Director:
Film kedua bagi Gunung Nusa Pelita dan kali ini ia berkolaborasi dengan Opick yang juga merangkap sebagai aktor dan produsernya.

Comment:
Konon dengan bujet seadanya, Opick berani maju dengan film ini dan memegang beberapa "jabatan" sekaligus termasuk lagu-lagunya yang muncul juga di beberapa sekuens. Skenarionya sendiri ditulis keroyokan oleh Gutheng, Suroto, Yeri, Relita Hermanto. Plot ceritanya sebetulnya simpel tetapi tidak terlalu orisinil. Latar belakang pesisir pantai dimana komunitasnya didominasi nelayan dengan segala dinamika kehidupannya memang cukup menawan. Beratnya kehidupan 7 anak yatim yang kehilangan induk juga ditampilkan cukup lugas. Akhlak dan pengetahuan agama mungkin saja penting dalam pendidikan dasar seorang anak. Amanah orangtua seringkali menjadi beban pribadi yang akhirnya mengacaukan ritme hidup jika tidak dijalankan dengan tulus. Cinta boleh saja dipendam tetapi tidak akan lekang oleh waktu dan rintangan sekalipun. Hei hei apakah saya berbicara terlalu banyak? Namun itulah kenyataannya! Opick menyampaikan terlalu banyak hal tanpa kedalaman konflik yang memadai. Alhasil Di Bawah Langit terasa tanggung di berbagai aspek. Yang patut digarisbawahi, Opick setidaknya "berusaha" menyuguhkan sesuatu yang di atas rata-rata meskipun terkesan terlalu idealis dan optimis.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa