XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 22 September 2009

GET MARRIED 2 : Kehamilan Dan Harmonisme Yang Ditunggu-tunggu

Cerita:
Empat tahun sudah, pesta pernikahan 4 hari 4 malam Mae dan Rendy berlalu. Kehidupan rumah tangga mereka terusik saat Mae tak kunjung hamil dikarenakan Rendy yang terlalu sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan 3 sahabat Mae yaitu Eman, Beni dan Guntoro sudah memiliki anak dari istrinya masing-masing. Kepusingan Mae bertambah karena ayah dan ibunya mengultimatum agar ia segera hamil atau terpaksa diceraikan dengan Rendy! Berbagai cara sudah Rendy dan Mae coba tetapi belum berhasil sehingga terpaksa pisah untuk sementara waktu. Rendy yang berusaha keras mempertahankan usahanya sekaligus pernikahannya pun memutar otak agar bisa mencari jalan terbaik. Akankah semua kembali normal seperti kebahagiaan awal?

Gambar:
Adegan-adegan komikal dengan konsep komedi jaman dahulu masih setia dipertunjukkan disini. Setting kampung yang dominan di film pertama kini ditambah dengan suasana perkantoran Rendy yang modern.

Act:
Dengan kondisi perut hamil 4 bulan, Nirina Zubir tetap melanjutkan peran Maemunah yang tomboy dan blak-blakan. Sangat sesuai dengan pengembangan karakterisasinya disini.
Menggantikan Richard Kevin sebagai Rendy, Nino Fernandez awalnya sempat terlihat canggung tetapi semakin membaik mulai pertengahan sebagai seorang eksekutif muda yang dituntut menjaga keutuhan keluarganya juga.
Trio Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's dan Aming masih setia dengan peran tiga sahabat Mae sejak kecil yang kocak dan setia kawan.
Ira Wibowo, Jaja Mihardja, Meriam Bellina tetap mengisi karakter orangtua Mae dan Rendy dengan sifatnya masing-masing.


Sutradara:
Meski mengaku benci dengan film sekuel, Hanung Bramantyo akhirnya tetap percaya diri menangani langsung Get Married 2 ini dalam waktu 4 bulan. Alasan utamanya adalah skenario yang dianggapnya memuaskan hasil kolaborasi dengan penulis cerita Cassandra Massardi ini.

Komentar:
Dari segi kreatifitas, Get Married 2 rasanya masih bisa diandalkan untuk meneruskan sukses Get Married yang menjadi film lokal terlaris di tahun 2007. Tapi apakah semudah itu melanjutkan film yang sudah memiliki nama besar? Meski ditangani oleh tim yang sebagian besar sama termasuk sutradara bertangan dingin, hasil akhir Get Married 2 tidaklah sama. Kekurangan utama terletak dari segi sinematografi yang miskin sehingga dari awal sampai akhir, film seperti terseret-seret mengikuti alurnya. Penggunaan narasi yang terlampau sering tidak membantu samasekali. Beruntung kekompakan pemainnya dan pengembangan karakternya cukup terjaga. Plot cerita masih ok lah, terasa wajar dan masuk akal. Soundtrack juga lumayan membantu meski tidak menggigit seperti dulu. Kehebohan yang ditampilkan juga terasa dibuat-buat, berbeda dengan prekuelnya. Secara keseluruhan agak membosankan walaupun masih bisa menghibur seantero keluarga.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 21 September 2009

PHOBIA 2 : Lima Kisah Horor Thailand Penuh Warna

Tagline:
Addicted to fear..

First - NOVICE by Paween Purijitpanya (30')
Pencuri sekaligus pelempar batu bersepeda motor, Pey dikirim oleh ibunya untuk mengikuti ritual sekelompok bhikku di hutan terpencil sambil menggunduli kepalanya dan mengucapkan ikrar. Tetapi semua itu terusik karena rasa lapar di tengah malam, Pey nekad melakukan sesuatu yang terlarang dan mungkin menyebabkan hantu kelaparan tidak senang.

Second - WARD by Visute Poolvoralaks (15')
Seorang pengendara motor mengalami kecelakaan sehingga kedua kakinya harus dirawat total di rumah sakit. Ditempatkan bersama orangtua koma yang hanya bergantung pada respiratory nya, hal-hal ganjil mulai terjadi di malam hari yang sulit dijelaskan bahkan oleh dokter dan suster rumah sakit tersebut.

Third - BACKPACKERS by Songyos Sugmakanan (20')
Sepasang pelancong Jepang menghentikan kontainer yang melintas di jalan sepi yang dikendarai oleh supir sangar dan pemuda misterius. Beberapa waktu kemudian, rahasia terungkap saat kontainer tersebut berisi puluhan mayat tak bergeming yang menyimpan rahasia di dalam tubuh mereka masing-masing dan bisa jadi mengubah mereka menjadi sesuatu hal yang mengerikan.

Fourth - SALVAGE by Parkpoom Wongpoom (25')
Penjual mobil, Nuch berusaha meyakinkan sepasang calon pembeli bahwa semua mobil bekas di bengkel tersebut berkualitas tinggi saat seorang wanita marah kepadanya dan mengatakan bahwa mobil yang dibelinya bekas kecelakaan. Saat menjelang tutup, Nuch sendirian dan menyadari putra semata wayangnya, Toey menghilang di antara puluhan mobil bekas tersebut. Apa yang sesungguhnya ia hadapi?

Fifth - IN THE END by Banjong Pisanthanakun (30')
Di tengah syuting sekuel Alone yang dibintangi Marsha, sekelompok kru film menemukan fakta bahwa sesungguhnya pemeran hantu, Kate sudah meninggal karena sakit setelah dibawa ke rumah sakit di tengah syuting sesi terakhir. Lalu siapa yang berdiri di hadapan mereka saat itu? Benarkah twist cerita dalam ending fiilm horor itu sangat penting artinya?

Act:
Jirayu La-ongmanee sebagai Pey.
Dan Worrawech sebagai remaja lumpuh di kamar rumah sakit.
Charlie Trairat sebagai penumpang kontainer misterius.
Nicole Theriault sebagai Nuch.
Marsha Wattanapanich.
Wiwat Kongrasri, Pongsatorn Jongwilas, Nattapong Chartpong dan Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai empat sekawan kru film.
Semua aktor-aktris tampil memuaskan dalam Phobia 2 ini sesuai peranannya masing-masing.

Sutradara:
Acungan jempol kembali patut diberikan pada kelima sutradara pencipta pakem baru genre horor di Thailand sana. Kreatifitas dan kemampuan mereka turut andil mensukseskan 4BIA tahun lalu dan setahun berlalu muncullah sekuelnya ini.

Komentar:
Menyaksikan Phobia 2 untuk kedua kalinya membuat saya semakin jatuh cinta dan memahaminya sama halnya dengan prekuelnya 4BIA (bahkan 3x) walaupun tidak memiliki keterkaitan apapun. Mau tidak mau kita membandingkan kedua film tersebut? Jika yang pertama ada 4, kini yang kedua memiliki 5 cerita. Harus diakui yang pertama memang lebih menyeramkan sekaligus menggetarkan tetapi yang kedua ini penuh warna dan unggul dalam dramatisasi cerita. Cerita #1 adalah orisinil karena bercerita tentang karma dan tradisi. Cerita #2 bisa ditebak tapi tetap menyeramkan. Cerita #3 boleh sedikit dilupakan dikarenakan kemiripannya dengan 28 Days Later tetapi twist elemennya masih cukup menarik. Cerita #4 terasa realistis dan juga dramatis. Cerita #5 penuh tawa dan kejutan yang teramat kreatif. Jika anda tanya kepada saya urutan favoritnya. Jawaban saya adalah 1,5,4,2,3 dilihat dari semua segi. Namun semakin sedikit anda mengetahui film ini, akan semakin enjoy anda saat menontonnya! Two thumbs up for Thai horror, #1 Asian country to do so nowadays!

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Art of work can't be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10

Minggu, 20 September 2009

MERAIH MIMPI : Usaha Mempertahankan Desa Warisan Bersama

Cerita:
Kakak beradik Dana dan Rai berusaha mempertahankan desa tempat keluarganya tinggal yang ingin dihancurkan untuk dibangun kembali menjadi perhotelan dan kasino oleh tuan tanah, Pairot. Perjuangan Dana tidaklah mudah karena ia juga harus memenangkan kompetisi beasiswa untuk sekolahnya demi memerangi ketidak adilan di daerah yang masih menganut sistem patriarkis tersebut termasuk keinginan ayahnya yang menjodohkannya dengan Ben. Akankah usahanya berhasil dan desa bisa dipertahankan pada akhirnya?

Gambar:
Dengan konsep animasi 3D hasil karya Infinite Frameworks yang asli organisasi Indonesia, Meraih Mimpi menyajikan gambar-gambar cerah nan dinamis untuk mendukung penokohan secara global.

Voice:
Proses dubbing yang kurang lebih berlangsung selama 2 bulan melibatkan dua bintang cilik, Gita Gutawa sebagai Dana dan Patton sebagai Rai.
Surya Saputra menyuarakan tokoh antagonis Pairot.
Turut didukung pula oleh Shanty, Ria Irawan, Jajang C Noer, Tike Priatnakusumah, Nina Tamam, Uli Herdinansyah dan Indra Bekti.

Sutradara:
Dengan supervisi Nia Dinata selaku penulis cerita, Phil Mohamad Mitchell maju dengan percaya diri menggarap animasi musikal pertama di Indonesia ini.

Komentar:
Dengan bujet 50 miliar dan waktu pengerjaan selama 2,5 tahun menandakan Meraih Mimpi dibuat dengan serius apalagi ide tersebut merupakan terobosan baru di dunia perfilman Indonesia. Memang tidak fair rasanya jika kita membandingkan dengan animasi luar negeri yang bujetnya bisa 10x lipat dengan teknologi yang lebih canggih termasuk sinkronisasi gerak bibir dengan ucapan karakternya. Hal tersebut menjadi kelemahan utama Meraih Mimpi selain kualitas animasi yang walaupun bisa dikatakan halus tetapi kurang eye-catching! Sayangnya lagi, plot cerita dikatakan merupakan hasil konseptual dari beberapa film luar negeri yang berusaha dinasionalisasikan. Apakah ini menandakan tim kreatif tidak pede mengusung tema sendiri? Meraih Mimpi masih banyak kurang disana-sini, renggangnya alur cerita bisa jadi membosankan bagi penonton apalagi beberapa sub plot yang sebetulnya tidak perlu atau dipaksakan masuk pada porsinya. Alunan nyanyian syahdu Gita juga tidak banyak membantu konsep film secara keseluruhan. Hm, sebagai perintis rasanya bisa sedikit termaafkan dan semoga bisa menjadi bahan pembelajaran yang baik jika terdapat rencana serupa di masa mendatang.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 19 September 2009

G-FORCE : Geng Marmut Terlatih Menggagalkan Misi Milyuner Jahat

Tagline:
The world needs bigger heroes

Cerita:
Mengisahkan satu tim agen rahasia marmut terlatih masing-masing Darwin, Blaster, Juarez dan tikus tanah Speckles serta lalat Mooch yang dikepalai oleh ilmuwan Ben dan asistennya Marcie dalam misinya mencuri rahasia milyuner Leonard Saber yang akan meluncurkan teknologi mematikan ke seluruh dunia dalam waktu dekat ini. Sayangnya hal tersebut tidak berlangsung mudah karena Darwin, Blaster dan Juarez sempat terdampar di toko binatang peliharaan dimana mereka baru menyadari siapa sesungguhnya diri mereka dan tujuan hidupnya.

Gambar:
Animasi G-Force tergolong detail dan penuh adegan close up apalagi yang memperlihatkan persenjataan lengkap yang dibawa ketiga karakter utama tersebut. Tentunya menjadi semakin menarik karena dilengkapi dengan teknologi 3D!

Voice:
Sam Rockwell sebagai Darwin
Penélope Cruz sebagai Juarez
Tracy Morgan sebagai Blaster
Nicolas Cage sebagai Speckles
Jon Favreau sebagai Hurley
Steve Buscemi sebagai Bucky

Act:
Bill Nighy sebagai Leonard Saber
Will Arnett sebagai Kip Killian
Zach Galifianakis sebagai Ben
Kelli Garner sebagai Marcie

Sutradara:
Film keduanya setelah Asteroid Adventure (1994), Hoyt Yeatman lebih banyak terlibat dalam bidang spesial/visual efek termasuk saat memenangkan Piala Oscar untuk kategori Best Effect dalam The Abyss (1989).

Soundtrack:
"Go G Force" by Ali Dee
"Boom Boom Pow" & "I Gotta Feeling" by Black Eyed Peas
"Just Dance" by Lady GaGa featuring Colby O'Donis
"Jump" by Flo Rida featuring Nelly Furtado

Komentar:
Bisa dikatakan gambaran yang sangat akurat mengenai marmut-marmut yang berperan sebagai agen rahasia meskipun hal ini tergolong belum pernah diangkat dalam animasi layar lebar. Belum lagi gadget dan teknologi canggih yang melengkapi persenjataan mereka masing-masing ditambah dengan keterampilan olah tubuh yang sangat cekatan dipercaya mampu memukau penonton. Tetapi semua itu belum cukup mampu menandingi animasi Disney-Pixar belakangan ini. Namun jika tidak dibandingkan G-Force tergolong menarik apalagi disuarakan dengan pas disertai dengan tempelan humor yang menyegarkan di suasana yang tidak semestinya. Sang sutradara melakukan usaha terbaiknya tetapi nilai minus yang paling mencolok adalah skrip yang terlalu polos dan kurang meyakinkan terutama pada bagian akhir yang sangat terasa dipaksakan. Saran saya, nikmatilah G-Force sebagai hiburan ringan belaka yang cocok ditonton oleh seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak anda.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$116,715,916 till mid Sep 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 18 September 2009

PREMAN IN LOVE : Berebut Cinta Kembang Desa

Cerita:
Preman desa Demolong di kaki gunung Sumbing, Sahroni hidup dari mencopet dan menjual obat-obatan. Meski demikian orang-orang desa tetap menyukainya. Kedatangan Rini sebagai staf pengajar di sekolah yang juga putri Pak Lurah menyita perhatian Sahroni. Keduanya menjadi dekat dan menyimpan ketertarikan satu sama lain. Sayangnya Pak Lurah berhutang budi pada Raden Mas Pono yang juga menyukai Rini. Raden Mas Pono pun meminta bantuan Heri, dukun sakti dari Dieng untuk memenangkan hati Rini. Bagaimana cinta segitiga tersebut diselesaikan pada akhirnya?

Gambar:
Bersetting di Wonosobo sebagai panggung kaki gunung Sumbing, suasana desa terasa natural di setiap sudutnya.

Act:
Masih sesuai stereotype nya seperti yang sudah-sudah, Tora Sudiro sebagai Sahroni, preman kampung yang sesungguhnya lugu dan baik hati.
Vincent Rompies kembali beradu akting dengan Tora setelah dua film sebelumnya kali ini memerankan Raden Mas Pono, aristokrat desa yang konyol dan ambisius sekaligus licik.
Pendatang baru, Fanny Fabriana sebagai Rini, kembang desa yang dipaksa mengikuti kemauan ayahnya Pak Lurah yang dimainkan oleh Marwoto.

Sutradara:
Film ketiga di tahun 2009 bagi Rako Prijanto dengan bintang-bintang yang sama setelah Benci Disko dan Krazy Crazy Krezy yang semuanya bergenre sama yaitu komedi. Rupanya Rako telah menemukan zona nyamannya di kategori ini.

Komentar:
Mau tidak mau kita harus membandingkan film ini dengan dua film yang baru saja saya sebutkan di atas. Jika tolok ukur tersebut digunakan, bolehlah Preman In Love berbangga karena jauh lebih unggul dari keduanya. Plot cerita yang lebih sederhana membumi ditambah gaya komedi yang lebih cerdas merupakan dua nilai plusnya selain tentunya penyelesaian cerita yang masuk akal, yang sayangnya tidak dimiliki Disko dan KCK. Beberapa adegan pengocok tawa yang terkesan "jorok" berlebihan rasanya bisa sedikit dimaafkan, juga penggunaan idiom-idiom baru yang mengundang tawa. Duet Tora dan Vincent memang menjadi nyawa cerita. Namun disini Vincent lebih diuntungkan dengan kostum dan penampilan rapinya yang bergaya bangsawan luar lengkap dengan sikap konyolnya. Kehadiran Fanny juga menambah semarak karena cukup memikat dalam debutnya ini. Secara keseluruhan memang cukup menghibur walau belum bisa dibilang bagus.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 17 September 2009

GENG PENGEMBARAAN BERMULA : Petualangan Seru Memburu Hantu Durian

Storyline:
Kampung Durian Runtuh dalam waktu singkat geger karena kasus hilangnya durian yang disinyalir mengarah pada "Hantu Durian" yang misterius. Kebetulan Badrol, cucu Tok Dalang, bersama kawannya Lim datang ke lokasi untuk berlibur. Dalam perjalanan mereka bertemu Rajoo si penggembala Sapy dan juga Upin & Ipin untuk memandu jalan. Keempatnya bersama dengan Ros, kembang desa yang juga kakak bocah kembar tersebut berusaha menyelidiki fenomena aneh itu hingga berpapasan dengan Oopet, makhluk kecil berbulu merah putih dari dunia lain. Berhasilkah tujuan mereka menangkap sang “Hantu Durian’ itu?

Nice-to-know:
Merupakan film animasi 3D CGI pertama yang diproduksi di Malaysia yang dirilis pada 12 Februari 2009 disana.

Voice:
Amir Izwan Abdul Rahim sebagai Badrol
Kee Yong Pin sebagai Lim
Kannan a/l Rajan sebagai Rajoo
Balqis Fadhullah Lee sebagai Ros
Nur Fathiah Diaz sebagai Upin dan Ipin

Director:
Mohd Nizam Abd Razak.

Comment:
Film yang sempat memenangkan gelar Anugerah Pilihan Penonton dalam Festival Film Anak-Anak Internasional 2009 yang diselenggarakan di Indonesia ini pernah diputar di jaringan bioskop Blitzmegaplex. Saya memang sempat tertarik untuk menyaksikannya pada waktu itu walau akhirnya harus menunda sekitar 2 tahun kemudian untuk menontonnya di DVD. Better late than never, right?
Dengan anggaran 4 juta Ringgit terbukti mampu menghasilkan animasi CGI yang detail dan easy in the eye. Jangan bandingkan dengan produksi Hollywood karena untuk ukuran first timer, Malaysia patut diacungi jempol dengan terobosannya. Skrip yang ditulis oleh Muhammad Anas b Abdul Aziz ini tergolong mudah diikuti oleh penonton dari berbagai kalangan usia walaupun jalan ceritanya tidak semudah itu ditebak.
Berbagai karakter yang tampil disini memiliki ciri khas masing-masing. Jika anda mengira Upin & Ipin akan mendapat porsi yang dominan nyatanya tidak. Justru Rajoo, Badrol dan Lim yang paling mencuri perhatian di samping si makhluk dunia lain bernama Oopet. Petualangan mereka menelusuri gua-gua hingga melawan monster misterius sekilas mengingatkan kita pada Petualangan Doraemon yang mempunyai warna serupa.
Hasil akhir 6,5 juta Ringgit yang diperoleh di Malaysia saja jelas berbicara banyak akan kualitasnya, jauh di atas film-film animasi lokal yang masih bisa dihitung dengan jari tangan. Geng Pengembaraan Bermula memang menyenangkan sebagai sebuah tontonan ringan pengisi waktu. Tak lupa nilai-nilai persahabatan dan keteguhan hati untuk memperjuangkan sesuatu yang benar tersampaikan jelas kepada penonton. Believeable adventure with laughable humors. What more can you expect from an animation movie?

Durasi:
90 menit

Malaysia Box Office:
6,5 juta Ringgit sampai April 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 16 September 2009

OVERHEARD : Penyusupan Membongkar Intrik Perdagangan Saham

Storyline:
Sebagai bursa saham besar di dunia, Hongkong tidak hanya menarik dana investasi saja tetapi banyak orang yang ingin memanipulasi pasar. Sebuah tim sergap dari Biro Intelijen dikirim untuk menyusup dipimpin oleh Johnny Leung yang beranggotakan veteran polisi Gene Yeung dan polisi muda Max Lam. Mereka menyusup ke dalam Feng Hua International untuk memasang alat penyadap dan mengawasi arus telepon perusahaan tersebut. Saat mendengar rencana manajemen meningkatkan harga saham, Gene dan Max yang sangat membutuhkan uang meminta Johnny menahan informasi dari supervisornya. Akankah tindakan tersebut ada konsekuensinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Bona Entertainment dan Sil-Metropole Organisation.

Cast:
Lau Ching Wan sebagai Johnny Leung
Louis Koo sebagai Gene
Daniel Wu sebagai Max
Zhang Jingchu sebagai Mandy
Michael Wong sebagai Will Ma

Director:
Kerjasama ketiga bagi Alan Mak dan Felix Chong dalam menyutradarai setelah Ching yi ngor sum gi (2005) dan Lady Cop & Papa Crook (2008).

Comment:
Plot ceritanya dapat dikatakan merupakan angin segar bagi drama kejahatan Hongkong yang semakin monoton dari hari ke hari apalagi dengan aktor aktris yang tidak jauh berbeda dari satu film ke film lainnya. Kepolisian yang berusaha menyelidiki intrik-intrik “kotor” yang biasa terjadi di bursa saham. Terdengar baru?
Apapun yang berusaha disajikan duet sutradara Alan dan Felix disini seharusnya bisa lebih menarik lagi. Sayangnya terlalu banyak subplot di dalamnya yang sebetulnya tidak terlalu penting selain bertujuan melebarkan durasi tetapi mengaburkan fokus utamanya. Bagaimana kehidupan masing-masing dari karakter Johnny, Gene dan Max turut dibahas juga. Belum lagi latar belakang para “pelaku” disini. Bagus dari segi pengembangan karakterisasi walaupun cenderung membosankan.
Satu lagi yang cukup mengganggu adalah setengah durasi film yang lagi-lagi jatuh ke dalam tipikal film sejenis yang biasanya memuat pembunuhan, penculikan hingga balas dendam. Bahkan sekaliber Lau, Koo, Wu tidak mampu mengangkat tokoh yang mereka perankan masing-masing untuk keluar dari stereotype. Pengecualian mungkin bagi Michael Wong yang tetap kharismatik dengan aroma antagonis dan tangan dinginnya.
Pada akhirnya Overheard hanya menjanjikan di awal tetapi menjadi klise menjelang akhirnya. Seharusnya akan lebih baik jika ide tetap berada dalam jalurnya yakni pembahasan dunia perdagangan saham dan segala permasalahannya. Mungkin dikhawatirkan penonton Asia masih terlalu takut untuk menyaksikan film yang terlalu kompleks ala Wall Street?

Durasi:
100 menit

Asian Box Office:
HKD 15,345,043 di Hong Kong sampai akhir September 2009.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 15 September 2009

BEYOND A REASONABLE DOUBT : Ambisi Pribadi Jurnalis dan Masa Lalu Terselubung

Tagline:
Why would a man frame himself... for murder?

Storyline:
Pengacara kawakan Martin Hunter memiliki catatan menakjubkan dalam memenjarakan banyak pelaku kejahatan dan mencalonkan dirinya sebagai Gubernur. CJ Nichols, jurnalis ambisius menyelidiki kemungkinan Hunter memberikan bukti palsu untuk memperkuat dakwaannya, sang jaksa mulai kelabakan. Untuk menjebak Hunter, CJ sengaja menjadikan dirinya sebagai tersangka pembunuhan. CJ juga terlibat asmara dengan asisten jaksa, Ella hingga Ella terperangkap di antara ambisi politik atasannya dan penyelidikan CJ yang membahayakan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Foresight Unlimited, RKO Pictures, Signature Pictures dan didistribusikan oleh After Dark Films.

Cast:
Mulai naik pamor lewat film layar lebar pertamanya yaitu John Tucker Must Die (2006), Jesse Metcalfe kali ini berperan sebagai jurnalis ambisius yang bertekad menggulingkan seorang pengacara ternama.
Amber Tamblyn terakhir membintangi The Sisterhood of the Traveling Pants 2 (2008) yang diangkat dari novel, disini ia bermain sebagai asisten jaksa yang harus memilih berdiri di antara kekasih dan atasannya sendiri.
Michael Douglas sebagai Martin Hunter.

Director:
Peter Hyams pernah beberapa kali mengarahkan Van Damme termasuk dalam Timecop (1994).

Comment:
Merupakan remake film berjudul serupa di tahun 1956 yang bisa dikatakan telah menjadi cult saat ini, entah bagaimana caranya mereka membuat film ini pada jamannya. Kini 53 tahun setelahnya diproduksi ulang dengan jajaran cast yang menarik. Kita punya Michael Douglas yang justru lebih terlihat sebagai aktor pendukung terlepas dari superioritas karakter yang diperankannya. Lalu ada dua nama yang lebih muda dan saling berpasangan yaitu Jesse Metcalfe dan Amber Tamblyn. Keduanya berbagi chemistry dengan cukup baik tetapi sayangnya tidak cukup kuat untuk memimpin. Entah Metcalfe yang lebih banyak terlibat dalam serial televisi mau membawa karir aktornya kemana. Peran CJ sepertinya terlalu berat baginya meski ia sudah berusaha maksimal. Tamblyn juga terasa kurang konsisten, terkadang bagus terkadang buruk di berbagai scene. Hal ini menjadikan Douglas sebagai satu-satunya yang outstanding apalagi untuk peran sosok yang berpengalaman dan kharismatik tersebut.
Sutradara Hyams bukan lagi jaminan film aksi laris seperti yang pernah disandangnya di tahun 1990an. Belakangan ia lebih banyak membuat film kelas B sehingga berdampak juga pada kualitas film ini mulai dari sinematografi, eksekusi skrip dsb. Dialah orang nomor satu yang mungkin patut dipersalahkan atas kegagalan film ini.
Namun jika mencap Beyond A Reasonable Doubt sebagai film yang buruk, nanti dulu. Drama thriller ini memang agak membosankan di awal tetapi cukup piawai meningkatkan tensi melewati pertengahan durasi hingga memuncak di akhir. Elemen suspensi juga cukup terasa menjelang akhir bahwa siapa sesungguhnya karakter abu-abu tersebut. Sebuah twist yang disiapkan mendekati credit title bisa jadi membuat anda terkesiap. Setelah itu? Lupakan saja film ini karena tidak memorable samasekali.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$32,409 till 27 September 2009.

Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 14 September 2009

TRAILER PARK OF TERROR : Sekelompok Muda-Mudi Terjebak Teror Setan

Tagline:
Fear Has A New Home!

Storyline:
Enam siswa-siswi SMU bermasalah bersama dengan Pastor muda, Lewis baru saja kembali dari aktifitas pembangunan karakter di sebuah pegunungan. Saat badai, bus yang mereka tumpangi mengalami tabrakan dan terdampar di tengah Trucker's Triangle. Mereka kemudian mencari perlindungan di sebuah rumah tua yang dihuni oleh Norma, wanita seksi yang menyimpan dendam bersama kawanannya yang haus darah. Akankah semuanya terbantai atau harus ada yang hidup untuk bercerita mengenai itu semua?

Nice-to-know:
Didasarkan pada serial Komik Imperium berjudul sama, Trailer Park of Terror.

Cast:
Nichole Hiltz sebagai Norma
Priscilla Barnes sebagai Jean
Stefanie Black sebagai Tiffany
Jeanette Brox sebagai Bridget
Ryan Carnes sebagai Alex
Ed Corbin sebagai Sgt. Stank
Brock Cuchna sebagai Aaron
Matthew Del Negro sebagai Pastor Lewis

Director:
Steven Goldmann biasa menangani video klip musik country seperti Faith Hill dalam This Kiss dan terutama musik rock nya Metallica.

Comment:
Dikategorikan sebagai horor komedi, saya tidak pernah melihat atau mendengar komik yang menjadi alasan pembuatan film ini. Sutradara Goldmann yang sudah sangat piawai di bidang musik rasanya terlalu "inovatif" dalam mengarahkan genre seperti ini. Memang beberapa lagu rock termasuk Come To Me, Satan sangat mendominasi adegan teror yang ada dan bisa dibilang cukup tepat membangun atmosfernya. Namun jika segmentasi remaja yang dituju, Goldmann bisa dibilang gagal membangun tawa ataupun rasa ngeri. Yang ada hanyalah gambar-gambar menjijikkan yang dikombinasi dengan kegilaan perilaku zombie-zombie tersebut bisa jadi hanya bisa dinikmati mereka yang menyenangi atmosfir kesadisan bersinema. Tidak halnya dengan saya yang lebih menyukai horor/thriller yang wajar dalam segala aspek. Ohya, beberapa adegan seks ataupun yang menjurus aksi porno juga terpapar dengan gamblang tanpa malu-malu. Aktor-aktrisnya juga nyaris tidak memiliki peluang membangun karakter karena keterbatasan skrip. Pembukaan dan penutupan film juga nyaris tanpa penjelasan yang logis. Akhir kata, Trailer Park Of Terror akan menyiksa dengan kebosanan dan menyuguhkan kebodohan semata bagi audiens umum.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 13 September 2009

EVENING : Nostalgia Masa Muda Di Usia Senja

Quotes:
Ray-Mistakes are beautiful, baby. Mistakes are part of the fun.

Cerita:
Menjelang ajalnya, Ann Lord kerapkali menyebutkan nama Harris sambil mengingat masa 50 tahun lalu saat ia masih menjadi penyanyi paruh waktu. Ia melakukan perjalanan dari New York demi menghadiri pernikahan sahabatnya Lila Wittenborn di Newport sekaligus menjadi pengiringnya. Ann Grant disambut oleh saudara Lila, Buddy yang menaruh hati padanya. Buddy bercerita bahwa sesungguhnya Lila jatuh hati pada Harris Arden yang memiliki daya tarik tinggi. Alih-alih menghindari, Ann malah terlibat affair singkat dengan Harris. Pada akhirnya semua hanyalah kenangan belaka dan kedua putri Ann, Nina dan Constance memiliki perbedaan mendasar satu sama lain yang disebabkan masa lalu ibunya.

Gambar:
Keindahan New York dan Rhode Island di masa 1950an tergambar dengan jelas, pemandangan senja dan malam hari mendominasi scene.

Act:
Claire Danes memulai aktingnya dalam Dreams of Love (1990) dan kali ini kebagian peran Ann Grant dimana ia dituntut untuk bernyanyi dan berekspresi sebagai gadis oportunis yang berkepribadian hangat.
Aktor berusia 36 tahun ini pertama muncul dalam My Sister's Wedding (2001). Disini Patrick Wilson bermain sebagai Harris Arden, bekas pekerja militer yang juga seorang dokter lapangan.
Didukung oleh belasan nama ternama seperti Meryl Streep, Glenn Close, Eileen Atkins, Vanessa Redgrave, Hugh Dancy, Mamie Gummer dll.

Sutradara:
Pria kelahiran Hungaria 63 tahun yang lalu bernama Lajos Koltai ini lebih sering bertindak sebagai sinematografer untuk film-film Jerman ataupun Perancis semasa karirnya.

Komentar:
Film adaptasi yang cukup pintar dari sebuah novel yang bagus. Alur maju mundur yang digunakan tetap mampu mengeksplorasi beberapa karakter utama secara konsisten. Dari segi cast tidak perlu diragukan lagi, nama-nama kondang yang sudah jaminan mutu turut mendukungnya. Acungan jempol patut dilayangkan pada Claire Danes yang memperlihatkan kemampuan bernyanyinya, juga Patrick Wilson yang menunjukkan kharismanya dengan gemilang. Permasalahan keluarga yang diangkat terasa nyata karena siapapun mungkin menyesali kehidupannya terutama jika dipandang dari usia lanjut. Yang sedikit dipertanyakan adalah solusi yang bisa jadi kelewat rapi dibandingkan kehidupan sesungguhnya. Tetapi lihatlah Evening dari sudut pandang personal, kita akan menemui banyak nilai kehidupan yang patut direnungkan. Sayangnya alur lambat yang digunakan rasanya cukup menyiksa penonton untuk tetap duduk manis.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$12,406,646 till July 2007

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!