XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label aming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aming. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

COWOK BIKIN PUSING : Rebound Bersama Setelah Kandasnya Percintaan

Quotes:
Cecile: Mungkin emang loe yang mau hidup gw sepi dan menderita. Sama kayak apa yang loe alami!

Storyline:
Cecile, Tasha dan Justin telah bersahabat lama dimana mereka selalu berbagi cerita apapun. Cecile bersama Tasha bahkan mendirikan sebuah toko kue Cecile’s Bittersweet Chocolate yang laris manis itu termasuk salah satu pelanggan setianya, Dino. Sayangnya kebahagiaan tidak berlangsung lama karena Cecile harus putus dengan tunangannya, Marco setelah berjalan 5 tahun. Tasha dan Justin pun menghibur Cecile dengan membalas perlakuan Marco. Di sisi lain, Dino pun mengakhiri hubungannya dengan Angela yang ketauan berselingkuh. Kesamaan nasib membuat Dino dan Cecile menjadi dekat. Namun apakah perasaan yang mereka miliki itu sungguhan, bukan sekadar rebound saja?

Nice-to-know:

Diproduksi oleh MVP Pictures dan screening terbatas diadakan di Planet Hollywood pada tanggal 28 April 2011.

Cast:
Julie Estelle
sebagai Cecile

Laudya Chintya Bella
sebagai Tasha

Nino Fernández
sebagai Dino

Aming
sebagai Justin

Marcel Chandrawinata
sebagai Marco

Marissa Nasution sebagai Angela
Alex Abbad sebagai Alex

Director:
Winalda E. Melalatoa pernah menggarap MBA (Married By Accident) di tahun 2008 lalu.

Comment:
Tertunda nyaris selama 3 tahun sebelum akhirnya dirilis pada 5 Mei 2011 telah mengubah banyak fakta dalam film ini. Pertama, judul awalnya adalah “Selingkuh”. Kedua, Aming dan Marissa Nasution melakukan debutnya disini, sebelum film-film mereka yang justru rilis duluan. Entah apa penyebab pastinya mengenai penundaan tersebut, yang pasti komedi romantik yang satu ini tidak lantas dipandang sebelah mata.

Plotnya simpel yaitu mengenai cinta dan persahabatan. Cinta yang harus kandas karena banyaknya faktor penghambat yang tidak mampu diselesaikan oleh kedua belah pihak. Bukan sesuatu yang tidak umum, terlebih anda yang sudah sering melewati gagal/suksesnya sebuah hubungan. Lantas bagaimana jika persahabatan yang seharusnya suportif di dalam segala hal justru menjadi pengganjal cinta itu sendiri untuk maju. Siapkah anda untuk berpikir jernih jika harus memilih salah satu di antaranya?

Kurang lebih itulah yang ingin disampaikan oleh penulis skrip kondang, Sekar Ayu Asmara. Apalagi latar belakang tempatnya adalah Bali yang sangat menjual dengan eksotisme uniknya yang tentu sudah sangat dikenalnya secara pribadi. Modal awal tersebut memang terbukti mempermudah kinerja sutradara Winalda yang sebelumnya sudah familiar dengan tema percintaan. Bahkan pada beberapa bagian, kita akan turut merasakan campur tangan seorang Rizal Mantovani yang tampaknya lebih memilih untuk duduk di Departemen Artistik kali ini.
Keempat karakter utamanya disini yakni Julie, Laudya, Nino dan Marcel memang bermain “aman”. Tidak banyak perbedaan yang ditampilkan dari peran-peran mereka sebelumnya. Yang menarik adalah profesi masing-masing dimana bisnis Cecile's Bittersweet Chocolate yang dijalankan Cecile dan Tasha memperkenalkan cake dan coklat dalam tampilan menggugah selera serta tokoh Dino yang digambarkan sebagai seorang guru surfer yang handal. Sedangkan Aming dan Alex Abbad lumayan mencuri perhatian sebagai sidekick, alias pasangan gay yang serba heboh perkataan dan tindak tanduknya. Mudah-mudahan anda tidak terganggu.
Keputusan pemakaian judul film ini memang terkesan tidak tepat. Premis yang dihadirkan di awal mengenai “angka-angka statistik” cowok seakan lenyap begitu saja memasuki pertengahan. Konflik berganti menjadi kaburnya arti persahabatan dan sulitnya menjalankan hubungan baru paska putus alias rebound. Pada akhirnya, permasalahan yang cukup krusial tersebut memang terselesaikan kelewat mudah. Demi mengejar konsep happy ending yang aman dan menyenangkan bagi semua pihak? Apapun alasannya, Cowok Bikin Pusing tetaplah sebuah tontonan yang fun dan ringan untuk dinikmati.

Durasi:
85 menit


Overall:
7.5 out of 10


Movie-meter:

Kamis, 25 November 2010

PENGANTIN SUNAT : Kala "Kejantanan" Menjadi Ukuran Kebodohan

Storyline:
Sejak kecil Japra minder pada lingkungannya karena memiliki ukuran alat vital yang teramat sangat kecil sehingga dukun sunatnya pun menyerah. Japra hanya ditemani sahabat setianya Bini yang berkelamin perempuan tapi bertingkah sebagai laki-laki. 20 tahun kemudian, Kampung Pasir dihebohkan dengan kehadiran Srimpi, gadis cantik yang berkenalan dengan Japra terlebih dahulu dan menjadi dekat. Kontan saja hal ini menimbulkan kecemburuan warga terutama Sukri, Marwan dan Juhi. Padahal mereka bertiga memiliki masalah lemah syahwat sehingga selalu tertindas oleh istri masing-masing Lela, Jum dan Tiwi. Namun cinta Japra dan Srimpi tidak bisa dibendung walau dicemburui juga oleh Bini. Pernikahan mereka terancam bermasalah karena Japra belum disunat. Akankah Japra mampu menunjukkan kejantanan yang seharusnya diwarisi dari ayahnya yang "legendaris" itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan press screeningnya diselenggarakan di fX pada tanggal 16 November 2010 yang lalu.

Cast:
Aming sebagai Japra
Dara "The Virgin" sebagai Srimpi
Mita "The Virgin" sebagai Bini
Gary Iskak sebagai Marwan
Marwoto sebagai Sukri
Daus 'OB' sebagai Juhi

Director:
Baru saja menggarap drama romantis yang dibintangi Tora Sudiro dan Artika Sari Devi, Rako Prijanto kembali dengan genre komedi lewat film ini.

Comment:
Sejak awal, saya tidak berharap samasekali dengan film ini. Maafkan jika saya tidak jujur karena sesungguhnya saya memang berharap setidaknya tidak akan terlalu dikecewakan. Namun apa yang terjadi? Film ini membawa saya keluar dari Bumi untuk sesaat dan menempatkan saya di planet yang bernama MORON, mewakili orang-orang yang menghuninya.
Entah apa yang berusaha disampaikan. Masalah kejantanan baik sebagai kata sifat maupun kata obyek menjadi fokus yang tidak berkesudahan sepanjang film. Pertama sebagai obyek adalah SUNAT! Prolog film dibuka dengan penjelasan mengenai pentingnya prosesi sunat itu sendiri bagi seorang lelaki. Epilog juga membahas keharusan menjalani sunat sebelum memasuki pernikahan. Memang ada relevansinya tetapi tidak perlu terlalu gamblang.
Kedua sebagai sifat adalah NAFSU! Ini lebih menjijikkan lagi karena kaum ADAM dan kaum HAWA di planet MORON ini seakan tidak punya akal sehat samasekali. Kaum ADAM terobsesi membuktikan kejantanan mereka bukan terhadap muhrimnya masing-masing tetapi justru kepada gadis pendatang baru di desa mereka yang juga tidak jelas asal usulnya darimana, bidadari dari langitkah? (Tunggu dulu, pertanyaannya apakah di planet MORON memiliki langit?) Sedangkan kaum HAWA terobsesi mendapatkan ‎​‎​​‎​‎​​seks hebat yang tidak bisa didapat dari pasangan-pasangan mereka yang "loyo". Seakan ini belum cukup dangkal malah semakin diperparah dengan beberapa adegan nudis (disensor tentunya) dan dilengkapi dengan suara ‎​‎​crot (anda akan mengerti jika menontonnya) para lelaki tersebut setiap kali berniat mesum. Sungguh mengganggu!
Rako oh Rako, nampaknya ini adalah eksperimental komedi humor yang gagal yang sudah anda lakukan. Saya merasa kasihan pada dua personil The Virgin yang memulai debutnya dengan peran seperti ini. Aming tampil seperti biasanya, peran ini rasanya memang diperuntukkan Rako baginya sejak awal. Aktor langganan sang sutradara yaitu Gary, mohon kenakan baju anda kembali secara lengkap dan tolong jangan berpikir untuk melakukannya lagi lain kali.
Sekali lagi saya mohon ampun andaikata penggunaan kata-kata yang vulgar pada review saya kali ini. Namun itulah kenyataannya, Pengantin Sunat memang sevulgar itu tapi kosong melompong tanpa isi sama sekali. Sukses mendegradasi intelejensi saya dengan polah tingkah para makhluk planet MORON tersebut. Ibarat Tong Pecah Kosong, Melempem Bunyinya sehingga tinggal ditendang saja ke dalam TPS alias Tempat Pembuangan Sampah.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 09 Oktober 2010

MADAME X : Superhero Istimewa Bersenjata Antik Berantas Ketidakadilan

Quotes:
Adam: Tarjo, dapet salam dari centong nasi..

Storyline:
Negeri antah berantah tengah dirundung masalah politik saat PEMILU dimana semua partai politik berlomba-lomba berkampanye. Salah satunya adalah partai Kanjeng Badai yang beristrikan tiga wanita dan sangat ambisius menjadi calon presiden. Adalah trio banci Adam, Aline dan Cuncun yang bekerja di salon dan merayakan ultah Adam dengan berdansa di klub waria pada suatu malam. Malang tak dapat ditolak, klub tersebut digerebek Ormas Bogem yang berbuntut pada tewasnya Aline. Adam sendiri yang dilempar ke sebuah truk akhirnya bertemu Om Rudi dan Tante Yantje yang kemudian mengajarinya tari lenggok. Perlahan-lahan ketangkasan yang dimiliki Adam dengan berbagai tempaan latihan membuatnya berganti identitas menjadi Madame X untuk melawan ketidak adilan Kanjeng Badai.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films dan diproduseri oleh Nia Dinata.

Cast:
Aming sebagai Adam
Marcell Siahaan sebagai Kanjeng Badai
Shanty sebagai Kinky Amalia
Sarah Sechan sebagai Bunda Lilis
Fitri Tropica sebagai Cuncun
Robby Tumewu sebagai Om Rudi
Ria Irawan sebagai Tante Yantje
Joko Anwar sebagai Aline
Ikhsan Himawan sebagai Tarjo
Titi DJ
Vincent Rompies

Director:
Lucky Kuswandi.

Comment:
Cukup lama Kalyana Shira Films absen memproduksi film lokal sejak Berbagi Suami (2006). Dan tahun ini tiba-tiba Nia Dinata selaku produsernya kembali turun gunung dengan film bertemakan superhero dengan poster bergaya kartun. Jika anda memperhatikan posternya dengan seksama, niscaya bisa menebak 70-80% cerita apa yang kira-kira disuguhkan. Seorang pahlawan “unik” gaya baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan suatu karakter istimewa untuk diangkat ke sebuah film superhero bernuansa lokal.
Dengan plot yang carut marut itulah, film ini berusaha sejujur-jujurnya menyentil segala problematika yang terjadi di negara kita ini. Mulai dari ormas yang rajin main hakim sendiri, berita infotainment yang semakin tak karuan, situasi politik yang kerap kisruh, perilaku hedonisme wanita kalangan atas, kaum minoritas yang kian terpojok. Semua itu dilabeli negeri antah berantah tanpa menyebut nama. Cerdik sekaligus meminimalisir aspek kontroversial tentunya.
Semua aktor-aktris yang mengisi cast film ini tidak usah diragukan lagi. Aming seperti biasa "lugas" dengan ekspresi dan tingkah laku khasnya, ditambah kostum kulit dan wig hitam putih sepintas mengingatkan kita pada biduanita internasional Lady Gaga. Joko Anwar yang tampil sekilas juga cukup menggigit dengan mulut bawelnya. Duet om Robby dan tante Ria tak usah ditanya, klop sebagai dua mentor senior. Debutan-debutan seperti Marcell dan Fitri juga tidak kalah menggigit. Juga ada Sarah, Vincent, Shanty yang tidak boleh disepelekan kontribusinya. Pokoknya semua mengisi peran masing-masing dengan menarik, mungkin karena karakterisasinya sendiri juga kaya improvisasi.
Meskipun terkesan berantakan, norak dan sangat colorful, Madame X tetaplah sebuah tontonan yang menjual. Di luar faktor faktual terkini dan cast yang cemerlang, keberanian trio produser-sutradara-penulis patut diacungi jempol untuk keberaniannya menampilkan sesuatu yang beda dalam porsi humor yang pas tanpa bermaksud menyinggung pihak minoritas tertentu. Inilah cara baru penegak keadilan bekerja dengan senjata-senjata yang "tidak terduga". Thumbs up!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 24 Desember 2009

BUKAN MALIN KUNDANG : Komedi Parodi Kutukan Anak Durhaka

Quotes:
Nenek Rapiah-Anak muda..

Cerita:
Tiga sahabat, Rian, Ado dan Luna memiliki hobi yang sama yaitu bolos kuliah dan bersenang-senang juga menghindari keluarga. Ado dimaklumi karena ia hanyalah satu dari sekian banyak anak orangtuanya. Luna malah terlalu dijaga ayah-ibunya hingga ingin berontak. Sedangkan Rian yang hidup bersama orangtua tunggal kerapkali memperlakukan ibunya semena-mena. Pada suatu ketika saat Rian sedang menyetir tidak sabar melihat seorang nenek tua yang berjalan lambat di depan mobilnya. Timbul niat iseng mereka bertiga untuk mengikat nenek tersebut di tiang listrik tanpa menyadari sang nenek mengucapkan sumpah serapah. Sesampainya di rumah, Ryan terkejut mendapati patung seorang wanita di kamar ibunya yang disertai dengan menghilangnya sang ibu. Berusaha mencari jawaban atas keanehan tersebut, seorang dukun menyarankan mereka mencari sang nenek yang belakangan diketahui bernama Rapiah itu untuk mencabut kutukannya kembali.

Gambar:
Rumah Ado, Luna dan Rian mendapat sorotan yang berharga disini termasuk lokasi panti jompo yang didominasi nenek-nenek dengan berbagai karakter.

Cast:
Sissy Priscillia terakhir mendukung trio juga dalam Krazy Crazy Krezy kali ini kebagian peran Luna yang dimanjakan orangtuanya hingga berontak di luar.
Kerjasama kedua Ringgo Agus Rahman dan Desta di tahun ini setelah Get Married 2 sebagai dua sahabat, Rian yang manja dan Ado alias Fernando yang pasrah.
Sebelumnya menjadi preman gemulai dalam Perjaka Terakhir, disini Aming memegang karakter Nenek Rapiah yang judes dan "sakti".

Sutradara:
Sutradara muda kelahiran Samarinda, 21 Januari 1984, Iqbal Rais masih di zona nyamannya yaitu drama komedi terutama setelah mendulang kesuksesan besar lewat dwilogi The Tarix Jabrix yang memunculkan ikon tersendiri itu.

Comment:
Plot ceritanya merupakan twist dari legenda tradisional Malin Kundang yg terkenal sejak dulu kala itu. Pengembangan ceritanya memang cukup menarik tetapi masih terlalu menggampangkan logika sehingga terkesan norak dan dibuat-buat. Sang sutradara memang pernah berhasil dalam genre komedi yaitu dwilogi Tarix Jabrix lebih karena faktor para personil The Changcuters. Namun dengan trio Desta, Sissy, Ringgo nanti dulu. Mereka terbukti bisa melucu disini dengan polah tingkah lakunya tetapi imejnya terlalu komikal, entah karena tuntutan skrip atau apa. Aming terlihat kreatif dengan kostum dan make-up nya sehingga terlihat meyakinkan sebagai perempuan tua, tetapi yang parah gaya khasnya masih belum berusaha dihilangkan untuk benar-benar menjadi orang lain di luar kebiasaan dirinya. Pesan moral yang ingin disampaikan cukup mengena meski lewat proses yang aneh. Alhasil Bukan Malin Kundang yang katanya dipersiapkan untuk menyambut hari Ibu ini pada akhirnya akan dilupakan orang begitu saja setelah cukup menghibur hanya pada paruh pertamanya.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!i

Kamis, 26 November 2009

XXL : Perang Antar Geng dan Pemulihan "Kepercayaan Diri"

Cerita:
Melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai kepala geng etnis Sunda "Barudak Lieur", Kasep tidak memiliki kepercayaan diri karena ukuran penis yang dimilikinya teramat kecil. Anggota geng pun memikirkan cara untuk mengatasi itu yakni dengan menyewa jasa Mak Siat ydengan padepokan "Manuk Riang" nya yang baru saja dibebaskan dari penjara. Sementara itu geng saingan mereka, "Wong Kenthir" pimpinan Soemanto terus menekan dan membabi-buta. Dalam "pengobatan"nya, Kasep secara tidak sengaja berkenalan dengan Melati yang merupakan adik Soemanto. Keduanyapun saling tertarik satu sama lain. Bagaimana semua konflik dapat terselesaikan pada akhirnya?

Gambar:
Suasana kampung beretnis Sunda terasa sekali dengan warung, rumah tinggal dan padepokan yang disorot dengan pas.

Cast:
Baru beberapa minggu lalu terlihat dalam Perjaka Terakhir, Aming memang terkesan "kejar setoran" dan kali ini didapuk sebagai Kasep, pemimpin geng Barudak Lieur yang rendah diri karena ukuran alat vitalnya yang minim.
Kembali dalam peran yang sama Mak Siat yang ahli mengecilkan alat vital, Sarah Sechan disini dikisahkan baru dibebaskan dari penjara karena praktek ilegal.
Suami Widi AB Three, Dwi Sasono sebagai Soemanto, pemimpin geng Wong Kenthir yang sangar tapi suka curhat di telepon.
Debut Meychan di layar lebar sebagai Melati, love interest Kasep sekaligus adik Soemanto.

Sutradara:
Debut pertama Ivander Tedjasukmana dalam menangani sekuel film yang dulunya ditangani oleh Monty Tiwa yang kali ini masih bertindak sebagai penulis cerita dan skenario.

Comment:
Kekurangan utamanya adalah fokus cerita yang tidak teratur. Awalnya kita disuguhkan perjuangan Mak Siat yang keluar dari penjara untuk menata hegemoninya kembali di kampung halaman dan harus bersaing dengan Mak Lampir. Namun setelah itu film menguap dengan berpindah pada kehidupan geng Barudak Lieur dengan segala permasalahan dan perseteruannya dengan geng lawan. Lalu diselipkan pula pada romansa antara Kasep dan Melati yang meskipun cukup menarik tapi tidak mampu merangkai bangunan film menjadi satu kesatuan utuh. Salahkan skenario yang memang tidak terkonsep matang. Demikian para cast yang sudah tampil dengan kapasitas masing-masing menjadi sia-sia. Sebagai komedi, kelucuan masih dapat tercipta di beberapa bagian melalui tindak-tanduk ataupun celotehan meskipun sebagian besar hanya membuat penonton terpaksa tertawa. Pada akhirnya ending XXL dikonklusikan dengan sangat enteng yang sayangnya tidak bermakna apa-apa.

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 16 Oktober 2009

PERJAKA TERAKHIR : Pria Kemayu Bersanding Dengan Wanita Jagoan

Cerita:
Instruktur salsa, Ramya sehari-hari akrab dengan wanita-wanita dan juga berpenampilan kemayu. Tidak heran ia kerapkali dipanggil banci. Sampai pada suatu ketika, nasib mempertemukannya dengan Sigi, calon penerus ketua debt collector yang beranak buahkan si kembar Bona dan Boni. Berseberangan dengan gank Sigi adalah gank Piratez yang dikepalai Gerry. Karena desakan ibunya untuk menikah, Sigi nekad mengambil Ramya sebagai pasangan hidupnya. Kesalah pahaman kerap terjadi di antara mereka. Sementara itu Gerry secara licik berusaha menghancurkan Sigi dengan caranya sendiri tentunya dengan bantuan orang yang tidak disangka-sangka.

Gambar:
Kostum Aming benar-benar eye catching disini, berbanding terbalik dengan Fahrani yang serba cool. Tak jarang interaksi mereka berdua berhasil menampilkan adegan slapstick pengundang tawa.

Act:
Penampilan Fahrani disini dengan tato di punggungnya dan penjiwaannya sebagai wanita pemimpin geng penagih hutang, Sigi patut diacungi jempol. Serupa dengan kinerjanya dalam Radit dan Jani.
Performa Aming sebagai pria kemayu, Ramya alias Mia tidak perlu diragukan lagi kekhasannya.
Kembali kebagian peran antagonis berturut-turut setelah Perempuan Berkalung Sorban dan Queen Bee, Reza Rahadian sebagai si licik Gerry, saingan Sigi.
Aktris senior, Nani Wijaya sebagai ibunda Sigi yang cerewet dan penuntut.
Bogie Samudra dan Bari Bintang sebagai si kembar anak buah Sigi yaitu Bona dan Boni.

Sutradara:
Wanita bernama Arie Aziz ini rata-rata filmnya sukses diterima di pasaran baik yang bergenre drama komedi ataupun horor. Kita lihat saja apakah kinerjanya yang kali ini banyak bermain dalam spesial efek bisa mengangkat perolehan rupiah film.

Comment:
Awalnya melihat premis Perjaka Terakhir, saya cukup tertarik dan berharap lebih terutama mengetahui Fahrani turut bermain disana. Namun setelah menit-menit awal film, saya langsung bisa mengatakan film ini "terinspirasi" dari film box-office Korea yang sudah dibuat dua sekuelnya yaitu My Wife Is A Gangster! Ya, istri yang dominan dan suami yang lemah menjadi jualan utamanya, tentunya disesuaikan dengan budaya Indonesia walau masih terasa terlalu dipaksakan. Kelucuan Aming memang "kena" tapi terkadang over-the-top di beberapa scene. Fahrani tampil mengesankan dengan gestur dan mimik yang meyakinkan. Keduanya boleh dibilang cukup baik dalam berbagi chemistry. Selebihnya? Plot cerita cenderung klise dan terasa dipermudah logikanya demi tujuan hiburan belaka. Namun rasanya semua usaha tersebut "cukup" untuk menghibur anda untuk sekadar melepaskan beban pikiran. Hanya saja jangan terlalu tinggi berharap terutama bagi anda yang pernah menonton film Korea yang saya sebutkan di atas.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 22 September 2009

GET MARRIED 2 : Kehamilan Dan Harmonisme Yang Ditunggu-tunggu

Cerita:
Empat tahun sudah, pesta pernikahan 4 hari 4 malam Mae dan Rendy berlalu. Kehidupan rumah tangga mereka terusik saat Mae tak kunjung hamil dikarenakan Rendy yang terlalu sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan 3 sahabat Mae yaitu Eman, Beni dan Guntoro sudah memiliki anak dari istrinya masing-masing. Kepusingan Mae bertambah karena ayah dan ibunya mengultimatum agar ia segera hamil atau terpaksa diceraikan dengan Rendy! Berbagai cara sudah Rendy dan Mae coba tetapi belum berhasil sehingga terpaksa pisah untuk sementara waktu. Rendy yang berusaha keras mempertahankan usahanya sekaligus pernikahannya pun memutar otak agar bisa mencari jalan terbaik. Akankah semua kembali normal seperti kebahagiaan awal?

Gambar:
Adegan-adegan komikal dengan konsep komedi jaman dahulu masih setia dipertunjukkan disini. Setting kampung yang dominan di film pertama kini ditambah dengan suasana perkantoran Rendy yang modern.

Act:
Dengan kondisi perut hamil 4 bulan, Nirina Zubir tetap melanjutkan peran Maemunah yang tomboy dan blak-blakan. Sangat sesuai dengan pengembangan karakterisasinya disini.
Menggantikan Richard Kevin sebagai Rendy, Nino Fernandez awalnya sempat terlihat canggung tetapi semakin membaik mulai pertengahan sebagai seorang eksekutif muda yang dituntut menjaga keutuhan keluarganya juga.
Trio Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's dan Aming masih setia dengan peran tiga sahabat Mae sejak kecil yang kocak dan setia kawan.
Ira Wibowo, Jaja Mihardja, Meriam Bellina tetap mengisi karakter orangtua Mae dan Rendy dengan sifatnya masing-masing.


Sutradara:
Meski mengaku benci dengan film sekuel, Hanung Bramantyo akhirnya tetap percaya diri menangani langsung Get Married 2 ini dalam waktu 4 bulan. Alasan utamanya adalah skenario yang dianggapnya memuaskan hasil kolaborasi dengan penulis cerita Cassandra Massardi ini.

Komentar:
Dari segi kreatifitas, Get Married 2 rasanya masih bisa diandalkan untuk meneruskan sukses Get Married yang menjadi film lokal terlaris di tahun 2007. Tapi apakah semudah itu melanjutkan film yang sudah memiliki nama besar? Meski ditangani oleh tim yang sebagian besar sama termasuk sutradara bertangan dingin, hasil akhir Get Married 2 tidaklah sama. Kekurangan utama terletak dari segi sinematografi yang miskin sehingga dari awal sampai akhir, film seperti terseret-seret mengikuti alurnya. Penggunaan narasi yang terlampau sering tidak membantu samasekali. Beruntung kekompakan pemainnya dan pengembangan karakternya cukup terjaga. Plot cerita masih ok lah, terasa wajar dan masuk akal. Soundtrack juga lumayan membantu meski tidak menggigit seperti dulu. Kehebohan yang ditampilkan juga terasa dibuat-buat, berbeda dengan prekuelnya. Secara keseluruhan agak membosankan walaupun masih bisa menghibur seantero keluarga.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 15 Oktober 2008

DOA YANG MENGANCAM : Perenungan Atau Penertawaan?

Cerita:
Terkisah Madrim, seorang kuli yg merasa hidupnya sangat susah ditambah dgn hutang yg bejibun dan istri yg kabur meninggalkan rumah. Sampai pada suatu ketika, Madrim berdoa mengancam Tuhan, jika dalam 3 hari ia masih sengsara, ia akan berbalik meninggalkan Tuhan. Apa yg terjadi? Seketika petir menyambar Madrim. Setelah bangun dari koma, Madrim memiliki kemampuan baru yaitu menemukan org hilang hanya dgn melihat fotonya saja. Dari sinilah titik hidup Madrim bergulir ke arah yg positif. Namun apakah ia bahagia dgn kemampuan dan kehidupan barunya itu?

Gambar:
Suasana pasar dan kehidupan masyarakat kelas bawah disorot dgn tajam. Namun tetap tidak mengganggu kualitas gambar sepanjang film krn terbantu dgn setting yg baik.

Act:
Aming berusaha keras menunjukan emosi dan kebiasaan hidup seorang kuli yg sengsara sampai menjadi seorang yg dicari dan dihargai krn kemampuannya. Transformasi yg Aming tunjukan cukup berhasil walau harus diakui sulit menghapus imej komedi komikal dari yg biasa diperlihatkannya.

Sutradara:
Sekali lagi Hanung Bramantyo menunjukan kepiawaiannya mengarahkan sebuah film yg baik dan bisa dinikmati dgn mudah.

Komentar:
Cerita yg acapkali kita temui dalam kejadian sehari-hari bahkan mungkin kita pernah alami sendiri pergulatan batin dalam diri kita saat menghadapi tumpukan masalah. Film yg menarik untuk disaksikan walau arahnya menjadi komedi satir. Untuk perenungan atau ditertawakan?

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!