XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label louis koo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label louis koo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juli 2015

LITTLE BIG MASTER : Moving Story Of Extraordinary Teacher

Original title:
Ng Gor Siu Haai Dik Haau Cheung


Nice-to-know:
Film yang rilis di Hongkong pada 19 Maret 2015 yang lalu ini menjadi #2 box office di bawah Furious 7

Cast:
Miriam Chin Wah Yeung sebagai Prinicipal Lui
Louis Koo sebagai Tung Tung
Richard Ng
Yuen Yee Ng
Philip Keung
Shui-Fan Fung
Man-Wai Wong               
Sammy Leung   
Mimi Chi Yan Kung
Winnie Ho
sebagai Siu-suet
Zaha Fathima sebagai Kitty
Khan Nayab sebagai Jennie
Keira Wang sebagai Chu-chu
Fu Shun-ying sebagai Ka-ka

Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Adrian Kwan setelah Team of Miracle: We Will Rock You (2009).

W For Words:
Jika Indonesia memiliki sosok Butet Manurung yang gigih menjelajahi pedalaman hutan Jambi demi memberikan pendidikan bagi anak-anak rimba dalam Sokola Rimba (2013), maka Hongkong mempunyai Lillian Lui Lai-hung yang rela melepas karir di sekolah bergengsi demi menyelamatkan sekolah terpencil yang terancam ditutup. Yes, you’re in for humanist story! Film yang mencatat box-office 33 juta HKD selama peredaran seminggu pertama di Hongkong pada April silam ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Thanks to Feat Pictures who brought this to us via Cinemaxx and CGV Blitzmegaplex!

Akibat perbedaan prinsip, Kepsek Lui keluar dari sekolah elit bertepatan dengan mundurnya sang suami sebagai kurator musium. Niat keduanya untuk bersantai dan keliling dunia batal setelah mendengar TK di desa Yuen Long akan diganti menjadi tempat pembuangan sampah. Lima murid tersisa, Siu-suet yang membantu ayahnya yang pincang, Chu-chu yang kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan dan tinggal bersama bibinya, Ka-ka yang jadi saksi pertengkaran ayah ibunya yang menjadi korban kontraktor, dua bersaudari Pakistan yakni Kitty dan Jennie yang dilarang ayahnya bersekolah harus bekerjasama mencari murid baru demi kelangsungan sekolah mereka.














Skrip yang ditulis oleh Adrian Kwan dan Hannah Chang ini memang menekankan pada kisah orang-orang biasa (kelas menengah ke bawah) dengan segala permasalahan nyata dalam keseharian mereka. Berbagai kritik sosial turut menyertai, seperti sikap sinis, apatis dan pesimis masyarakat masa kini dalam menyikapi hampir semuanya. Belum lagi kasus bullying dalam segala bentuk yang kian marak. Bagaimana pihak yang kurang beruntung akan semakin ditekan. Keseluruhan problem tersebut secara gemilang mampu terangkai dalam satu bingkai yakni pendidikan sebagai dasar utama akhlak manusia. 

Yeung berhasil menyalurkan emosi sebagai pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri meski harus berjuang secara fisik sekalipun. Koo sukses menghidupkan sosok suami yang berpendirian teguh dan mencintai dengan cara yang unik. Chemistry keduanya mungkin tidak begitu nyata terlihat tapi terasa natural dan belieavable. Ho, Fu, Wang, Fathima dan Nayab merupakan bintang dalam film ini. Penampilan individual maupun saat berinteraksi dengan keluarga masing-masing  akan menawan hati anda hingga tanpa sadar menitikkan air mata dibuatnya.














Produser Benny Chan yang sudah banyak makan asam garam berusaha menjawab tantangan dimana film yang diangkat dari kisah nyata biasanya sulit berbicara di pasar. Saya tidak tahu metode yang digunakan Kwan, selama ini dikenal sebagai sutradara ‘Kristen’ lewat karya-karyanya, dalam menggali potensi kelima gadis cilik yang sebetulnya bukan aktris untuk merajut sisi emosional yang begitu pas. Sinematografi Anthony Pun terasa ciamik menangkap setiap detil shot yang berisi. Musik Wong Kin-wai memberi nyawa melodrama yang kuat. Sedangkan editing Curran Pang semestinya bisa lebih cepat sehingga lebih efektif dalam bercerita.

Produksi kolaborasi One Cool Film Production, Sil-Metropole Organisation, Sirius Pictures International dan Sun Entertainment Culture ini diyakini akan menuai banyak penghargaan di festival film internasional. Selain didedikasikan untuk semua pengajar di seluruh dunia, Little Big Master adalah sebuah upaya untuk mengerti suka dan duka kehidupan itu sendiri dari kacamata anak-anak. Suatu peringatan dimana kita yang bertumbuh dewasa kerap lupa untuk menjaga optimisme sambil tetap bermimpi akan tujuan yang ingin dicapai. Passions will drive you forward, no matter what challenge you might face.

Durasi:
112 menit

Movie-meter:

Senin, 29 Juni 2015

SPL 2 : A TIME FOR CONSEQUENCES No-Holds-Barred For Action Fanfare

Original title:
Saat po long 2

Nice-to-know:
Bukan merupakan prekuel ataupun sekuel walaupun masih dibintangi Wu Jing dan Simon Yam dengan karakter yang juga berbeda.

Cast:
Tony Jaa sebagai Chai
Jacky Wu sebagai Kit
Max Zhang sebagai Ko
Simon Yam sebagai Wah
Louis Koo sebagai Hung
Unda Kunteera Thordchanng sebagai Sa
Jun Kung sebagai Bill

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Cheang Pou-sui setelah The Monkey King (2014).

W For Words:
Para penikmat action Mandarin mungkin akan menyebutkan Saat po long alias Kill Zone (2005) jika ditanya salah satu film favoritnya sepanjang masa. Adalah Wilson Yip yang membesutnya jauh sebelum trilogy Ip Man yang legendaris tersebut. Satu dekade kemudian, 1618 Action Limited dan Abba Movies Co. Ltd. merilis sekuelnya meski tak lagi digawangi Yip dan juga sudah ditinggalkan oleh dua bintang besar Donnie Yen dan Sammo Hung. Jangan apatis dulu. Cobalah perlakukan film ini sebagai standalone. Reset mindset anda. Who knows you will love it even better.
Setelah penyamarannya terbongkar dalam sebuah misi human trafficking yang dilakukan oleh Hung, polisi Kit dijebloskan ke dalam penjara Thailand yang dijaga oleh sipir Chai. Kedua orang berbeda jalur hidup tersebut memiliki tujuan yang nyaris sama. Hung bertekad transplantasi jantung dari adiknya Bill demi melanjutkan hidup, sedangkan Ko berniat mencari donor sumsum tulang belakang untuk putrinya Sa yang menderita leukemia. Tak dinyana, kecocokan ada pada Kit yang sedang diupayakan bebas oleh pamannya Wah. Pertalian nasib itu kemudian harus dituntaskan dalam pertarungan klimaks berdarah.













Skenario Jill Leung dan Wong Ying ini terbilang ‘cheating’ dalam hal menjembatani komunikasi antar dua bangsa. Lihat bagaimana translator digital bahasa Mandarin dan Thailand yang begitu akurat. Atau pertukaran ‘emoji’ via ponsel yang di luar dugaan mampu memancing tawa penonton. Namun semua itu tertutupi dengan bangunan character arc yang solid dan variatif sehingga arah keberpihakan sudah jelas sejak menit awal tanpa harus dikacaukan dengan strukturisasi twist yang berlebihan. Setup berbagai adegan aksinya juga mulus dengan aksi reaksi yang wajar dari para tokohnya. 

Sutradara Cheang seakan naik kelas beberapa tingkat di sini setelah  The Monkey King (2014) yang mengecewakan itu. Plot demi plot terjahit sempurna demi menciptakan rangkaian emosi yang tidak pernah putus menuju konklusi epilog nya. Salute to editor David Richardson. Sekuens fighting nya begitu apik dengan varian lokasi yang tak kalah menarik, mulai dari penjara hingga gedung bertingkat mewah. Dukungan scoring music layaknya orkestra klasik sekaligus sumbangsih suara Xie Zhongjie dan Kayla Dawn kian memperkuat tone dan dramatisasi yang dibutuhkan.














Wu Jing yang dalam prekuelnya tidak mendapat spotlight memadai kali ini menunjukkan kharismanya sebagai martial arts star yang pantas dipuja. Sementara itu Tony Jaa yang sempat tenggelam usai kiprah cemerlangnya dalam Ong Bak (2003) seharusnya mendapatkan momentum kebangkitan lagi lewat peran Chai. Max Zhang memberikan impresi mendalam sebagai sipir Ko yang kejam dan tangguh. Sama halnya dengan Louis Koo yang mungkin tidak akan anda kenali di sini. Thordchanng sebagai Su yang bernasib malang justru tak jarang menjadi comic-relief. 

SPL 2 yang diberi subjudul A Time For Consequences ini masih setia pada elemen unggulan yang ada pada pendahulunya yaitu pertukaran jurus berenergi tinggi. Namun jelas tidaklah tabu jika sebuah film action turut dilengkapi dengan cerita emosional yang menampilkan beraneka ragam hubungan antar manusia nan kompleks lengkap dengan penjabaran sifat-sifat dasarnya. Tinggalkan sejenak logika anda untuk bisa lebih menikmati suguhan yang begitu kental dengan hukum sebab akibat ini. Definitely one of the best action movies in recent years you wouldn’t want to miss. Ready for high-octane tension and rollercoaster emotion? 

Durasi:
120 menit

Movie-meter:




Selasa, 27 Maret 2012

MR. AND MRS. INCREDIBLE : Lame Action But Fun Comedy Combo


Quotes:
Gazer Warrior: Honey, let’s find a small village and settle down.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh We Pictures dan sudah dirilis di Hongkong 3 Februari 2011 yang lalu.

Cast:
Louis Koo sebagai Huan / Gazer Warrior
Sandra Ng Kwan Yue sebagai Red / Aroma Woman
Zhang Wen
Wang Po-chieh
Li Qin

Director:
Vincent Kok yang juga dikenal sebagai aktor ini terakhir menyutradarai l's Well, Ends Well 2009.

W for Words:
Sineas Asia memang terhitung jarang menggarap sebuah film bertemakan superhero. Kali ini Vincent Kok bersama Min Hun Fung mencoba peruntungan mereka dengan menulis skenario mengenai pasangan suami istri berkekuatan super yang mencoba menjalani kehidupan sehari-hari mereka secara normal. Pada beberapa bagian, anda akan merasakan pengaruh The Incredibles (2004) ataupun Mr. & Mrs. Smith (2008) yang diperbaharui sedemikian rupa dalam aksen komedi yang lebih kental.
Sepuluh tahun lalu, Gazer Warrior pernah menggagalkan perampokan yang dilakukan oleh Empat Hama sedangkan Aroma Woman sempat membekuk seorang suami penyiksa istri dan anaknya. Tak pelak keduanya dianggap pahlawan oleh masyarakat. Suatu pertemuan tak diduga membuat Huan dan Red jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Kejenuhan mulai melanda hingga mereka sepakat memiliki anak justru di tengah berlangsungnya event penentuan ranking perguruan para petarung masa kini.

Jujur saja melihat trailernya, saya berharap menemukan kombinasi aksi komedi yang amat menghibur. Namun lebih dari satu setengah jam berjalan, semua harapan tersebut sirna. Aksi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang hingga penghujung film, villain yang tiba-tiba muncul gagal membangun suspense yang seharusnya ditebarkan sejak awal. Harus diakui efek CGI digunakan secara efektif, tidak bombastis tapi disesuaikan dengan esensi yang diinginkan. Vincent yang juga bertindak sebagai sutradara termasuk cermat dalam menciptakan setting desa yang mirip Forbidden City.
Romansa yang terjalin antara Louis dan Sandra memang pas. Keduanya mengingatkan pada duet legendaris Stephen Chow dan Anita Mui di masa silam. Berbagai adegan slapstick antara suami istri seperti bertengkar, isyarat untuk bercinta,nostalgia, saling cemburu ditampilkan dengan lugas meskipun beberapa repetisi cukup mengganggu. Penggunaan musik latar dari Wong Ying-Wah menegaskan konsep komikal terlebih suara yang menyerupai video game Mario Bros itu.

Mr. & Mrs. Incredible hanya menawarkan hiburan yang decent sebagai penyegaran di tengah keseragaman tema film Hongkong belakangan ini. Namun jika dimaksudkan untuk menyambut Tahun Baru Imlek rasanya tidak akan memorable kalau tidak mau dikatakan lame dengan tarik ulur plot di sepanjang durasi. Jika anda mengharapkan sesuatu yang intens dipastikan kecewa karena fighting scenes nya sendiri tak sampai menonjolkan kekerasani. Walau begitu saya cukup terhibur melihat pasutri superhero yang pensiun dan harus menghadapi realita usia yang semakin menua.

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 02 Juli 2011

A CHINESE GHOST STORY : Kisah Cinta Segitiga Beda Alam

Quotes:
Sufeng Lei: Manusia dan hantu tidak dapat bersama. Jangan pernah imajinasikan karena itu hanyalah sebuah ilusi.

Storyline:
Petugas Pemerintahan muda, Choi San ditugaskan untuk mencari sumber air bagi warga dusun Black Mountain yang mengalami kekeringan panjang. Kepala desa menugaskan Ti Nga dan beberapa narapidana untuk menemaninya. Hal ini bukan tanpa alasan karena Black Mountain terkenal angker dan diyakini tempat bersemayam siluman jahat yang dipimpin oleh Tree Demon. Choi San yang berpikiran lurus-lurus saja kemudian bertemu gadis cantik Sou Sin yang sebenarnya hantu pengisap energi manusia. Pembasmi hantu Chek Ha sudah memperingatkan Choi San akan siapa Sou Sin sesungguhnya. Namun hubungan sudah terjadi dan mereka harus dihadapkan pada pilihan akhir yang dilematis.

Nice-to-know:
Didedikasikan untuk mengenang salah satu aktor sekaligus biduan kesohor Hongkong yakni Leslie Cheung (1956-2003).

Cast:
Louis Koo sebagai Yan Chixia (燕赤霞)
Liu Yifei sebagai Nie Xiaoqian (聶小倩)
Yu Shaoqun sebagai Ning Caichen (寧采臣)
Kara Hui sebagai Tree Demon (樹妖)
Wang Danyi Li sebagai Xia Bing (夏冰)
Louis Fan sebagai Xia Xuefenglei (夏雪風雷)
Li Jing sebagai Iron Teeth (鐵牙)

Director:
Wilson Yip merupakan pria yang menyutradarai Ip Man (2008) dan Ip Man 2 (2010) sebelum ini.

Comment:
Bagi anda penikmat film bioskop di tahun 80-90an pasti tidaklah asing dengan suguhan film-film Mandarin yang mendominasi bioskop Ibukota dengan berbagai genre pada waktu itu. Salah satunya adalah Sien nui yau wan (1987) yang menjadi cult hingga saat ini serta berhasil melejitkan nama Leslie Cheung dan Joey Wang yang sontak menjelma sebagai idola baru perfilman Hongkong di tahun-tahun berikutnya.
Versi terbaru ini dapat dikatakan setia dengan originalnya dimana sebagian besar plot utamanya masih dipertahankan. Intronya langsung menohok seakan tanpa basa-basi, membawa anda berkenalan dengan tokoh-tokoh utamanya baik manusia maupun siluman, antagonis sekaligus protagonist itu sendiri. Selepas itu konflik pun bergulir dan sampai berujung pada konklusi yang sebetulnya tidak terlalu sulit untuk ditebak.
Sutradara Yip Wai Shun dengan cerdas memadukan konsep drama romansa dengan soft horror yang tidak menakutkan samasekali. Ilustrasi musik cukup menyenangkan untuk mengintervensi setiap perpindahan scenenya sekaligus mempermulus editing disana-sini. Di luar dugaan, saya menyukai segi spesial efek yang tidak berlebihan (berbeda dengan remake klasik Mandarin pada umumnya), plus tata kostum dan make-up yang terbilang rapi dan meyakinkan.
Wajah ayu Yifei terasa pas sebagai Sou Sin, sang hantu lembut hati berwujud seorang gadis berbaju putih. Sepintas mengingatkan saya pada Cecilia Cheung. Keluguan Shaoqun yang belum banyak dikenal juga cukup tepat dalam menjiwai Choi San yang berhati tulus. Sedangkan Louis koo mungkin merupakan satu-satunya cast yang paling tersohor disini dan menarik melihatnya mendapat peran berbeda Chek Ha di luar genre aksi yang mendominasi filmografinya. Tanpa lupa menyebut nama Kara Hui dan Fan Siu Wong yang bermain menarik sebagai dua kubu yang berseberangan.
A Chinese Ghost Story hanyalah sebuah film nostalgia bagi penonton generasi lawas dan introduksi gaya percintaan horor klasik Tiongkok bagi penonton masa kini. Semua digarap sesuai porsinya, tidak over ataupun tidak minus sehingga menjadikannya tontonan yang cukup menghibur sebagai pengisi waktu senggang anda. Jangan terlalu berharap sesuatu yang luar biasa disini. Namun pandanglah sebagai teori sederhana mengenai sebentuk cinta yang dilandasi kerelaan dan sikap berkorban itu sendiri.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 07 Mei 2011

DON’T GO BREAKING MY HEART : Sweet Indecisive Urban Love Triangle


Quotes:
Cheng Zixin: Bagaimana dia bisa mencintaiku saat hatinya tidak hanya untukku?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Media Asia Films, China Film Media Asia Audio Video Distribution Co. dan Milky Way Image Company ini dirilis di China pada tanggal 31 Maret 2011 yang lalu.

Cast:
Louis Koo sebagai Cheung Shen-ran
Daniel Wu sebagai Fang Qihong
Gao Yuanyuan sebagai Cheng Zixin
Lam Suet
Selena Li
JJ Jia
Terence Yin


Director:
Merupakan film ke-51 bagi Johnnie To yang mengawalinya sejak The Enigmatic Case (1990).

W For Words:
Jangan terpengaruh oleh judul ceritanya yang klise. Film yang mengadakan world premierenya pada ajang 35th Hong Kong International Film Festival ke-35 tanggal 20 Maret 2010 yang lalu ini terbukti menawarkan berbagai hal baru dari sisi realita romansa yang tidak selalu mulus dan indah layaknya dongeng cinta putri dan pangeran. Tak peduli bumbu cinta segitiga yang mungkin basi tersaji hasil buah pemikiran kuartet penulis skrip Wai Ka Fai, Yau Nai Hoi, Ryker Chan, Jevons Au, anda akan tetap merasakan keterikatan yang kuat dari tiga tokoh utamanya yang karismatik ini.

Zixin adalah gadis manis bersahaja yang patah hati karena kekasihnya lebih memilih untuk menikahi wanita lain. Saat itulah ia berkenalan dengan pria tampan kaya pemilik perusahaan keuangan di seberang kantornya, Shenran yang ternyata seorang playboy sejati. Hubungan mereka semakin dekat apalagi Cheng mengajaknya tinggal bersama. Zixin lupa bahwa pertemuan manis tak disengaja bertahun-tahun lalu dengan pemuda mantan arsitek ganteng Qihong juga menyimpan kisah yang belum selesai. Siapa yang akhirnya dipilih oleh Zixin sebagai pendamping hidupnya?
Spesies lelaki dalam film ini diklasifikasikan menjadi tiga yaitu yang selingkuh, yang akan selingkuh atau jenis ketiga yang diidentikkan dengan makhluk dari dunia lain. Menarik sekaligus faktual bukan? Louis Koo mewakili jenis pertama (dan kedua) dengan karakter Cheng yang flamboyan, menganggap semua cinta dapat dibeli dengan uang, sama mudahnya dengan menghabiskan stok kondom di mobilnya. Daniel Wu menginterpretasikan jenis ketiga dengan karakter Fang yang santun, meyakini sebuah cinta dalam seumur hidupnya, jelas tipikal pemuda yang ingin dibawa pulang setiap gadis ke rumah untuk diperkenalkan pada keluarga.

Gao Yuanyuan dengan kenaifan dan kecerdasannya bertransformasi dari pecundang cinta menjadi gadis menarik yang mampu memikat dua pria sukses. Sikap moody dan kebimbangannya dalam memilih memang kadang menjengkelkan, membuat konflik berlarut-larut sampai akhir. Namun audiens tentu dapat memahami pergolakan batinnya dalam menentukan pria mana yang tepat baginya. Momen demi momen yang dijalani oleh tokoh Zixin bersama Cheng ataupun Fang diyakini akan menempatkan penonton (terutama wanita) dalam dua kubu yang saling berseberangan. Teka-teki yang dibiarkan tanda tanda sampai akhir film.
Sutradara Johnnie To lebih banyak menggunakan aksen Mandarin daripada Cantonese dalam film yang kerap berpindah dari Hongkong ke Suzhou ini. Interaksi asmara unik mampu dihadirkan melalui dua elemen yang amat kekinian. Satu, jendela kaca di tempat kerja yang berseberangan, membuka kemungkinan pertukaran simbolisasi bahasa tubuh ataupun bahasa gambar dari dua pihak yang saling pandang dari kejauhan. Dua, ponsel canggih masa kini yang memungkinkan pertukaran tulisan, suara hingga video secara interaktif, meretas jarak yang terbentang sekalipun.

Don’t Go Breaking My Heart merupakan satu dari sedikit komedi romantis berkualitas Asia yang muncul selama beberapa tahun terakhir. Satu dari sedikit film pula yang mau mengedepankan kodok sebagai ikon kesetiaan sekaligus penjawab keraguan. Kekuatan karakterisasi yang konsisten dari Koo, Wu dan Yuanyuan berhasil menjaga konsep romansa yang seringkali salah timing atau bahkan tak terungkapkan. Tendensi yang pada akhirnya menimbulkan rasa penyesalan yang mendalam bagi siapapun yang mengalaminya. Selain itu, penerapan teori bahwa jatuh cinta memang tak selalu melihat kesempurnaan dari diri seseorang melainkan mencintai ketidaksempurnaannya itu adalah benar adanya. Path of true love doesn’t always run smooth. Yes, this one is charming for ladies and delicate also for gentleman.

Durasi:
114 menit

Asia Box Office:
$1,500,000 on first day in China till end of March 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 16 September 2009

OVERHEARD : Penyusupan Membongkar Intrik Perdagangan Saham

Storyline:
Sebagai bursa saham besar di dunia, Hongkong tidak hanya menarik dana investasi saja tetapi banyak orang yang ingin memanipulasi pasar. Sebuah tim sergap dari Biro Intelijen dikirim untuk menyusup dipimpin oleh Johnny Leung yang beranggotakan veteran polisi Gene Yeung dan polisi muda Max Lam. Mereka menyusup ke dalam Feng Hua International untuk memasang alat penyadap dan mengawasi arus telepon perusahaan tersebut. Saat mendengar rencana manajemen meningkatkan harga saham, Gene dan Max yang sangat membutuhkan uang meminta Johnny menahan informasi dari supervisornya. Akankah tindakan tersebut ada konsekuensinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Bona Entertainment dan Sil-Metropole Organisation.

Cast:
Lau Ching Wan sebagai Johnny Leung
Louis Koo sebagai Gene
Daniel Wu sebagai Max
Zhang Jingchu sebagai Mandy
Michael Wong sebagai Will Ma

Director:
Kerjasama ketiga bagi Alan Mak dan Felix Chong dalam menyutradarai setelah Ching yi ngor sum gi (2005) dan Lady Cop & Papa Crook (2008).

Comment:
Plot ceritanya dapat dikatakan merupakan angin segar bagi drama kejahatan Hongkong yang semakin monoton dari hari ke hari apalagi dengan aktor aktris yang tidak jauh berbeda dari satu film ke film lainnya. Kepolisian yang berusaha menyelidiki intrik-intrik “kotor” yang biasa terjadi di bursa saham. Terdengar baru?
Apapun yang berusaha disajikan duet sutradara Alan dan Felix disini seharusnya bisa lebih menarik lagi. Sayangnya terlalu banyak subplot di dalamnya yang sebetulnya tidak terlalu penting selain bertujuan melebarkan durasi tetapi mengaburkan fokus utamanya. Bagaimana kehidupan masing-masing dari karakter Johnny, Gene dan Max turut dibahas juga. Belum lagi latar belakang para “pelaku” disini. Bagus dari segi pengembangan karakterisasi walaupun cenderung membosankan.
Satu lagi yang cukup mengganggu adalah setengah durasi film yang lagi-lagi jatuh ke dalam tipikal film sejenis yang biasanya memuat pembunuhan, penculikan hingga balas dendam. Bahkan sekaliber Lau, Koo, Wu tidak mampu mengangkat tokoh yang mereka perankan masing-masing untuk keluar dari stereotype. Pengecualian mungkin bagi Michael Wong yang tetap kharismatik dengan aroma antagonis dan tangan dinginnya.
Pada akhirnya Overheard hanya menjanjikan di awal tetapi menjadi klise menjelang akhirnya. Seharusnya akan lebih baik jika ide tetap berada dalam jalurnya yakni pembahasan dunia perdagangan saham dan segala permasalahannya. Mungkin dikhawatirkan penonton Asia masih terlalu takut untuk menyaksikan film yang terlalu kompleks ala Wall Street?

Durasi:
100 menit

Asian Box Office:
HKD 15,345,043 di Hong Kong sampai akhir September 2009.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 25 November 2008

CONNECTED : Pertaruhan Hidup Sebuah Koneksi Telepon

Cerita:
A Bang seorang penagih hutang sekaligus orangtua tunggal hidupnya tidak berjalan dengan baik. Dalam perjalanan ke bandara mengantar kepergian kakak dan putranya ke Kanada, A Bang menerima telepon dari seorang wanita bernama Grace yang mengaku terancam jiwanya. Awalnya tidak mempercayai tapi kebaikan hati A Bang membuatnya mau membantu Grace yang samasekali tidak dikenalnya hanya dengan berkomunikasi melalui telepon genggam! Berhasilkah usaha A Bang menyelamatkan Grace dari ancaman sekaligus mempertahankan keluarganya sendiri?

Gambar:
Adegan seru yang memacu adrenalin di berbagai sudut kota Hongkong mulai dari kompleks perumahan, gudang tak terpakai, sekolah, jalan bebas hambatan dan berujung di bandara!

Act:
Louis Koo sebagai A Bang bisa dikatakan keluar dari peran stereotypenya. Seorang ayah yang harus bertanggungjawab terhadap kehidupan putranya sekaligus mencoba berbuat baik bahkan terhadap orang yang tidak pernah ditemuinya sekalipun.
Barbie Hsu yang angkat nama lewat serial hit Meteor Garden disini kebagian peran wanita muda Grace yang disekap segerombolan mafia yang menginginkan sesuatu darinya.
Nick Cheung sebagai Detektif Fai yang tengah menjalani masa skorsing tapi mempercayai instingnya dalam mencium kejahatan.
Tidak biasanya Liu Ye memainkan karakter jahat. Namun semua itu dijawabnya dengan berperan sebagai Inspektur Senior Fok yang menghalalkan segala cara untuk menutupi kebusukannya.


Sutradara:
Benny Chan sebelum ini menyutradarai film aksi hit Invisible Target (2007). Kepiawaiannya meramu action modern yang memacu adrenalin mampu dipertahankan dalam adaptasi film Hollywood, Cellular ini.

Komentar:
Salah satu film Hongkong yang menonjolkan banyak produk ternama di dalamnya seperti Tissot, Pepsi, Motorola dsb tapi semua itu tidak mengesampingkan fakta bahwa Connected sangat menarik untuk diikuti dari awal sampai akhir. Kenapa? Penulisan skrip di luar fakta bahwa ini adaptasi bebas Cellular sangatlah kreatif, jauh berbeda dari film aksi Hongkong pada umumnya. Empat karakter utamanya tampil memuaskan dan saling mendukung intensitas cerita yang coba dijaga. Endingnya pun mengandung pesan yang mampu dilayangkan kepada audiens. Nikmati saja CONNECTED seperti halnya saya yang menyukainya dari segala aspek.

Durasi:
110 menit

H.K. Box Office:
About HK$13,000,000

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!