XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label desta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2011

SETANNYA KOK MASIH ADA : Penjaga Kamar Mayat Pengusir Hantu

Quotes:
Beno: Kita mau besuk siapa sih? Siapa yang sakit?
Dedi: Elu yang sakit. Kita kan mau kerja!


Storyline:
Dedi dan Beno adalah dua sarjana pengangguran yang terpaksa menerima pekerjaan sebagai penjaga kamar mayat di sebuah rumah sakit. Mudah ditebak kericuhan pun terjadi saban malam karena rasa takut yang menggelora. Pada suatu kesempatan, Maya yang juga seorang model menyewa Beno dan Dedi untuk menjaga rumah mewah warisan kakeknya yang meninggal. Maya yang berlibur bersama Niken dan Ranti saja ketakutan sejak malam pertama karena diganggu pocong, kuntilanak dan hantu kepala buntung hingga menginap di hotel. Apakah dua sekawan kocak itu akan merasakan hal serupa dalam tugas baru mereka tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diadakan pada tanggal 11 Oktober 2011 di Planet Hollywood XXI.

Cast:
Dedi Mahendrea Desta sebagai Beno
Zaky Zimah sebagai Dedi
Deriell Jaqueline Tampung sebagai Maya
Indah Kusuma Wardani sebagai Ranti
Paramita Sari sebagai Niken
Ramco Sari Tua sebagai Mang Toha

Director:
Merupakan film ketiga Muchyar Syamas sekaligus kedua tahun ini setelah Mudik Lebaran.

Comment:
Ada yang masih ingat dengan komedi produksi Millenium Visitama Film di tahun 2008 yang berjudul Setannya Kok Beneran? Dibintangi trio Indra Birowo, Mario Lawalatta dan Ence Bagus yang berlakon sebagai pengusir hantu reality show televisi hingga akhirnya disuruh mengusir setan beneran di sebuah rumah berhantu? Jika tahu atau pernah menyaksikannya, siapa sangka 3 tahun kemudian muncullah sekuel tak resminya!
Jika dulu cerita digarap oleh Deden Tristanto maka kali ini berpindah tangan kepada kakak beradik Muchyar dan Martias Syamas. Anehnya saya merasa ada kesamaan sekitar 50-60% dari yang sudah-sudah, sebut saja dari trio menjadi duo yang “dikondisikan” berurusan dengan hantu sampai akhirnya atas permintaan cewek cantik benar-benar berjumpa dengan hantu yang sesungguhnya. Setting final pun sama-sama berlangsung di rumah angker. Sungguh kreatif!
Muchyar yang juga bertindak sebagai sutradara untuk dua film tersebut masih mengusung pola yang tidak jauh berbeda. Komedi situasi yang dibalut dengan nuansa horor memang lebih dimaksudkan untuk memancing tawa dibanding rasa takut itu sendiri. Syukur-syukur bisa dua-duanya. Rasio keberhasilan tak dipungkiri terletak pada skrip dan para pemainnya itu sendiri. Setting lokasi kamar mayat rumah sakit dan rumah megah berhantu rasanya tinggal dimaksimalkan saja dengan bantuan musik tentunya.
Duet Zaky dan Desta tak dinyana cukup ampuh mempertahankan film ini untuk tetap berada dalam rel komedinya. Selepas menjerit-jerit menangani mayat-mayat di rumah sakit, duet Beno dan Dedi kemudian terbirit-birit menghadapi hantu-hantu di rumah angker. Kekompakan keduanya bertukar dialog spontan lumayan sukses menghadirkan tawa membahana, apalagi adegan pamungkasnya ketika mereka balik “memperdaya”. Konyol dengan sentuhan slapstick!
Produser Anjasmara dan Gobind Punjabi tampaknya tidak terlalu berambisi dengan Setannya Kok Masih Ada ini. Terbukti komedi horor yang bernuansa 80an ini tampil apa adanya, nyaris sekelas dengan film lepas televisi. Secara keseluruhan tergolong cukup menghibur walaupun logikanya sering dipertanyakan di sepanjang durasi. Semua elemen disini nyaris tidak ada yang baru termasuk wajah hantu yang tersorot sinar lampu acapkali penampakan. Meski demikian kuntilanak yang hobi ngikik dan suster yang rajin ngesot itu sukses “dikerjai” habis-habisan, mudah-mudahan versi aslinya tidak tersinggung!

Durasi:
83 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 31 Agustus 2011

GET MARRIED 3 : Ketidaksiapan Ayah Kekhawatiran Ibu

Quotes:
Rendy: Kalo tahu penontonnya banyak, aku bisa lebih banyak atraksi tadi


Storyline:
Bertahun-tahun sudah, Mae dan Rendy kini sudah memiliki tiga bayi yang lucu-lucu, masing-masing diberi nama Mark, Oprah dan Hanung. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena Mae malah mengalami baby blues syndrome yang membuatnya terus-menerus menangis. Rendy yang khawatir langsung mengutus Guntoro, Beni, Eman untuk menemani keseharian Mae. Campur tangan juga datang dari ayah ibu Mae serta ibu Rendy yang memiliki gayanya masing-masing. Semua mulai porak poranda saat Rendy nekad mendatangkan Eyang Mae dari Arab hingga berujung pada pertengkaran Mae dan Rendy karena Rendy dinilai tidak becus sebagai ayah dan suami sekaligus. Akankah keduanya dapat kembali rukun seperti sediakala?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 25 Agustus 2011.

Cast:
Nirina Zubir sebagai Mae
Fedi Nuril sebagai Rendy
Amink sebagai Eman
Ringgo Agus Rahman sebagai Beni
Deddy Mahendra Desta sebagai Guntoro
Meriam Bellina
Jaja Mihardja
Ira Wibowo
Ratna Riantiarno

Director:
Merupakan film ke-8 Monty Tiwa yang diawali lewat Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007).

Comment:
Satu sekuel sudah merupakan pertaruhan tersendiri, apalagi jika tidak melampaui kesuksesan prekuelnya dari segi kualitas maupun perolehan jumlah penonton. Jika dilanjutkan dengan sekuel keduanya? Nah ini tentu keberanian seorang produser bernama Chand Parwez Servia untuk melakukannya. Namun melihat Get Married sudah memiliki fan base khusus, rasanya keputusan tersebut tidak dibuat secara mentah-mentah.
Musfar Yasin yang mengangkat tema cinta beda kasta dalam Get Married, tugasnya dilanjutkan oleh Cassandra Massardi dalam dua sekuelnya kemudian yang masing-masing mengetengahkan topik kesulitan memperoleh keturunan dan problematika baby blues syndrome. Yang terakhir ini boleh dibilang terlalu ringan untuk dieksplorasi panjang lebar, untuk itu dibutuhkan tambahan konflik lawas nan klise dalam sebuah hubungan suami istri yaitu kepercayaan!
Pergantian sutradara dari Hanung Bramantyo ke Monty Tiwa juga memberikan kontribusi yang signifikan. Monty di mata saya adalah sutradara bertalenta yang angin-anginan, ia bisa bagus dengan karya jelas, bisa juga buruk dengan karya tak tentu arah. Kali ini Monty tampaknya sudah berusaha menyuguhkan unsur drama dan komedi tontonan keluarga yang seimbang sehingga minus-minus yang terjadi tidak boleh ditimpakan lagi kepadanya.
Entah mengapa tokoh Rendy “ditakdirkan” untuk selalu berganti dari awal sampai sekarang. Jika sebelumnya dua tokoh “Indo”, kali ini pilihan justru jatuh pada Fedi Nuril! Khusus akting, saya tidak meragukan aktor yang satu ini tetapi membayangkannya memiliki pesona yang sama dalam balutan komedi? Nanti dulu. Terbukti sepanjang satu setengah jam, Fedi tidak konsisten melakukannya, terkadang lucu (sebagian atas bantuan dialog) sedangkan sisanya canggung!
Lain halnya dengan Nirina, Desta, Ringgo, Amink yang sudah memiliki keterikatan dengan peran masing-masing. Jujur saja tidak ada yang baru dari apa yang mereka tampilkan disini. Fakta bahwa semua faktor komedik yang sudah terduga itu memang tidak lagi menyenangkan untuk sebuah film komedi. Apabila digambarkan dalam grafik, maka tinggal bayangkan sebuah kurva menukik tajam yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dari titik nadir sekalipun.
Meski secara keseluruhan masih memenuhi standar hiburan film liburan, Get Married 3 terasa sekali menyeret penonton (yang sebenarnya datang ke bioskop sudah dengan perasaan apatis) untuk terus mengikuti sajian basi dengan bumbu yang tidak lagi menggugah selera. Andai masih ada pihak yang berupaya memperpanjang nyawa franchise ini di kemudian hari, saya sangat merekomendasikan format sinetron saja. Setidaknya penghasilan dari slot iklan adalah ide yang jauh lebih baik dibandingkan merampok orang untuk membayar karcis bioskop.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 30 Desember 2010

3 PEJANTAN TANGGUNG : Misi Dadakan di Daratan Borneo

Storyline:
Gaya hidup hedonis tiga sahabat yakni Harta, Angga dan Kris dapat dikatakan memuncak padahal kewajiban menuntaskan kuliah dengan tenggat waktu skripsi sudah di depan mata. Pada suatu malam setelah clubbing dan mabuk, mereka terbangun di sebuah kapal asing terombang-ambing di lautan. Sesampainya di daratan yang belakangan diketahui bernama Borneo itu, ketiganya bertemu Kepala Suku yang bijaksana dan memperlakukan mereka sebagai tamu. Sayangnya Angga dan Kris tanpa sengaja menyebabkan kebakaran gubuk yang mereka tempati. Kontan ketiganya dihukum untuk kerja bakti sebelum boleh kembali ke Jakarta. Tak lama kemudian, Harta berjumpa Riana, mahasiswa Kedokteran yang juga putri Kepala Suku. Di sisi lain seorang pengusaha bernama Handoyo tengah mengincar tanah setempat untuk dibangun ulang. Akankah petualangan ketiganya membawa babak baru dalam kehidupan mereka?.

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 23 Desember 2010.

Cast:
Ringgo Agus Rahman sebagai Harta
Deddy Mahendara Desta sebagai Angga
Dennis Adhiswara sebagai Kris
Siti Anizah sebagai Riana
Joe P-Project sebagai Handoyo
Piet Pagau sebagai Kepala Suku

Director:
Baru saja menyelesaikan Senggol Bacok beberapa bulan lalu, Iqbal Rais kembali lagi dengan genre komedi yang masih mengandalkan aktor-aktor kesayangannya.

Comment:
Saya harus akui plot cerita film ini menarik, terlepas dari intervensi pengaruh beberapa film asing yang juga mengangkat tema serupa. Sah-sah saja jika mampu dikombinasikan secara baik dengan unsur lokal. Kali ini Iqbal menggabungkannya dengan setting Samarinda yang memang menjadi kota kelahirannya. Berbagai unsur budaya setempat disajikan dengan natural tanpa ada unsur paksaan sama sekali, lengkap dengan setting hutan dan desanya. Perfilman nasional rasanya cukup beruntung memiliki sutradara muda satu ini yang selalu hadir dengan ide dan kreatifitasnya yang tidak melulu itu-itu saja, mengingat sepanjang 2010 penonton sudah cukup muak disodorkan tema yang serupa tapi tak sama.
Plot yang demikian unik tentu saja akan sia-sia jika tidak tereksekusi dengan baik. Dan film ini memiliki kelemahan yang cukup kentara terutama dari segi karakterisasinya. Harta, Kris dan Angga nyaris tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengeksplorasi "perangai" masing-masing meskipun waktunya sangat tersedia. Bahasan karakter ketiganya hanya dilakukan secara naratif di prolog film. Diperburuk lagi oleh trio Ringgo, Desta dan Dennis yang sayangnya kali ini kurang ampuh mengeluarkan "jurus-jurus" andalan mereka. Bisa jadi hal ini disebabkan terlalu seringnya Ringgo-Desta berakting dalam genre komedi selama beberapa tahun terakhir apalagi duet keduanya juga kerapkali terjadi di beberapa judul diantaranya. Memang disayangkan terlebih kehadiran aktor senior Piet yang sudah lama absen sudah menjadi nilai plus tersendiri disini.
Premis utama film yang sudah cukup menjual di awal menjadi keteteran memasuki pertengahan durasi. Antusias dan rasa penasaran penonton akan endingnya bisa jadi terganggu karena kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas. Seumpama kapal yang berlayar tanpa riak ombak, datar-datar saja. Alhasil 3 Pejantan Tanggung tidak mampu memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya sebagai film penutup tahun 2010 sebagai film komedi dengan misi budaya terselubung.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 24 Desember 2009

BUKAN MALIN KUNDANG : Komedi Parodi Kutukan Anak Durhaka

Quotes:
Nenek Rapiah-Anak muda..

Cerita:
Tiga sahabat, Rian, Ado dan Luna memiliki hobi yang sama yaitu bolos kuliah dan bersenang-senang juga menghindari keluarga. Ado dimaklumi karena ia hanyalah satu dari sekian banyak anak orangtuanya. Luna malah terlalu dijaga ayah-ibunya hingga ingin berontak. Sedangkan Rian yang hidup bersama orangtua tunggal kerapkali memperlakukan ibunya semena-mena. Pada suatu ketika saat Rian sedang menyetir tidak sabar melihat seorang nenek tua yang berjalan lambat di depan mobilnya. Timbul niat iseng mereka bertiga untuk mengikat nenek tersebut di tiang listrik tanpa menyadari sang nenek mengucapkan sumpah serapah. Sesampainya di rumah, Ryan terkejut mendapati patung seorang wanita di kamar ibunya yang disertai dengan menghilangnya sang ibu. Berusaha mencari jawaban atas keanehan tersebut, seorang dukun menyarankan mereka mencari sang nenek yang belakangan diketahui bernama Rapiah itu untuk mencabut kutukannya kembali.

Gambar:
Rumah Ado, Luna dan Rian mendapat sorotan yang berharga disini termasuk lokasi panti jompo yang didominasi nenek-nenek dengan berbagai karakter.

Cast:
Sissy Priscillia terakhir mendukung trio juga dalam Krazy Crazy Krezy kali ini kebagian peran Luna yang dimanjakan orangtuanya hingga berontak di luar.
Kerjasama kedua Ringgo Agus Rahman dan Desta di tahun ini setelah Get Married 2 sebagai dua sahabat, Rian yang manja dan Ado alias Fernando yang pasrah.
Sebelumnya menjadi preman gemulai dalam Perjaka Terakhir, disini Aming memegang karakter Nenek Rapiah yang judes dan "sakti".

Sutradara:
Sutradara muda kelahiran Samarinda, 21 Januari 1984, Iqbal Rais masih di zona nyamannya yaitu drama komedi terutama setelah mendulang kesuksesan besar lewat dwilogi The Tarix Jabrix yang memunculkan ikon tersendiri itu.

Comment:
Plot ceritanya merupakan twist dari legenda tradisional Malin Kundang yg terkenal sejak dulu kala itu. Pengembangan ceritanya memang cukup menarik tetapi masih terlalu menggampangkan logika sehingga terkesan norak dan dibuat-buat. Sang sutradara memang pernah berhasil dalam genre komedi yaitu dwilogi Tarix Jabrix lebih karena faktor para personil The Changcuters. Namun dengan trio Desta, Sissy, Ringgo nanti dulu. Mereka terbukti bisa melucu disini dengan polah tingkah lakunya tetapi imejnya terlalu komikal, entah karena tuntutan skrip atau apa. Aming terlihat kreatif dengan kostum dan make-up nya sehingga terlihat meyakinkan sebagai perempuan tua, tetapi yang parah gaya khasnya masih belum berusaha dihilangkan untuk benar-benar menjadi orang lain di luar kebiasaan dirinya. Pesan moral yang ingin disampaikan cukup mengena meski lewat proses yang aneh. Alhasil Bukan Malin Kundang yang katanya dipersiapkan untuk menyambut hari Ibu ini pada akhirnya akan dilupakan orang begitu saja setelah cukup menghibur hanya pada paruh pertamanya.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!i

Selasa, 22 September 2009

GET MARRIED 2 : Kehamilan Dan Harmonisme Yang Ditunggu-tunggu

Cerita:
Empat tahun sudah, pesta pernikahan 4 hari 4 malam Mae dan Rendy berlalu. Kehidupan rumah tangga mereka terusik saat Mae tak kunjung hamil dikarenakan Rendy yang terlalu sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan 3 sahabat Mae yaitu Eman, Beni dan Guntoro sudah memiliki anak dari istrinya masing-masing. Kepusingan Mae bertambah karena ayah dan ibunya mengultimatum agar ia segera hamil atau terpaksa diceraikan dengan Rendy! Berbagai cara sudah Rendy dan Mae coba tetapi belum berhasil sehingga terpaksa pisah untuk sementara waktu. Rendy yang berusaha keras mempertahankan usahanya sekaligus pernikahannya pun memutar otak agar bisa mencari jalan terbaik. Akankah semua kembali normal seperti kebahagiaan awal?

Gambar:
Adegan-adegan komikal dengan konsep komedi jaman dahulu masih setia dipertunjukkan disini. Setting kampung yang dominan di film pertama kini ditambah dengan suasana perkantoran Rendy yang modern.

Act:
Dengan kondisi perut hamil 4 bulan, Nirina Zubir tetap melanjutkan peran Maemunah yang tomboy dan blak-blakan. Sangat sesuai dengan pengembangan karakterisasinya disini.
Menggantikan Richard Kevin sebagai Rendy, Nino Fernandez awalnya sempat terlihat canggung tetapi semakin membaik mulai pertengahan sebagai seorang eksekutif muda yang dituntut menjaga keutuhan keluarganya juga.
Trio Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's dan Aming masih setia dengan peran tiga sahabat Mae sejak kecil yang kocak dan setia kawan.
Ira Wibowo, Jaja Mihardja, Meriam Bellina tetap mengisi karakter orangtua Mae dan Rendy dengan sifatnya masing-masing.


Sutradara:
Meski mengaku benci dengan film sekuel, Hanung Bramantyo akhirnya tetap percaya diri menangani langsung Get Married 2 ini dalam waktu 4 bulan. Alasan utamanya adalah skenario yang dianggapnya memuaskan hasil kolaborasi dengan penulis cerita Cassandra Massardi ini.

Komentar:
Dari segi kreatifitas, Get Married 2 rasanya masih bisa diandalkan untuk meneruskan sukses Get Married yang menjadi film lokal terlaris di tahun 2007. Tapi apakah semudah itu melanjutkan film yang sudah memiliki nama besar? Meski ditangani oleh tim yang sebagian besar sama termasuk sutradara bertangan dingin, hasil akhir Get Married 2 tidaklah sama. Kekurangan utama terletak dari segi sinematografi yang miskin sehingga dari awal sampai akhir, film seperti terseret-seret mengikuti alurnya. Penggunaan narasi yang terlampau sering tidak membantu samasekali. Beruntung kekompakan pemainnya dan pengembangan karakternya cukup terjaga. Plot cerita masih ok lah, terasa wajar dan masuk akal. Soundtrack juga lumayan membantu meski tidak menggigit seperti dulu. Kehebohan yang ditampilkan juga terasa dibuat-buat, berbeda dengan prekuelnya. Secara keseluruhan agak membosankan walaupun masih bisa menghibur seantero keluarga.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 17 November 2008

SI JAGO MERAH : Balada Kwartet Pemadam Kebakaran

Cerita:
4 mahasiswa yakni Gito Prawoto, Dede Rifai, Kuncoro Prasetyo, Rojak Panggabean dipanggil Pengawas Kampus karena sudah 4 semester menunggak uang kuliah dan semuanya terancam drop out. Putus asa dengan kemelaratan itu, mereka memutuskan untuk mencoba beberapa kerja part-time sampai akhirnya bermuara di kantor dinas pemadam kebakaran. Setelah satu insiden, mereka diterima dan diberikan mobil dinas "Si Jago Merah". Bagaimana kelanjutan nasib mereka di kampus? Apakah menjadi pemadam kebakaran mampu mengubah hidup mereka selanjutnya?

Gambar:
Permainan kamera yang sederhana namun mampu menangkap angle-angle detail yang pas mendukung penampilan para tokoh utamanya.

Act:
Desta Club 80's sebagai Gito dan Ringgo Agus Rahman sebagai Dede tampil sesuai peran stereotype nya selama ini, meskipun lumayan tapi belum menunjukan improvisasi yang berarti.
Ytonk Club 80's sebagai Coro dan Judika sebagai Rojak justru patut diacungi jempol memulai debutnya di layar lebar, tampil lepas dan konsisten dengan karakter dan logat yang memperkuat peran mereka.

Sutradara:
Iqbal Rais mampu mengarahkan drama suka-duka para pemadam kebakaran ini dengan fun dan ringan. Konsep dialog komedik yang "nendang" dari tokoh utama pun bisa dieksekusi dengan baik. Good job!

Komentar:
Jangan mengharapkan sebuah film yang intens heroik seperti halnya kebanyakan film balada seni profesi Hollywood. Film ini justru menampilkan kisah sederhana yang mudah diikuti namun tetap menggigit dan asyik untuk diikuti.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!