XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rako prijanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rako prijanto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

MALAIKAT TANPA SAYAP : Cinta Lepas Situasi Donor Organ


Quotes:
Vino: Embun tak perlu warna untuk bisa bikin daun jatuh cinta.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 7 Februari 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Mura
Adipati Dolken sebagai Vino
Surya Saputra sebagai Ayah Vino
Ikang Fawzi sebagai Ayah Mura
Kinaryosih sebagai Ibu Vino
Agus Kuncoro sebagai Calo
Geccha Qheagaveta sebagai Wina
Reza Pahlevi

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Rako Prijanto yang tahun lalu menelurkan Perempuan-Perempuan Liar.

W For Words:
Lagu Dewi Lestari yang berjudul Malaikat Juga Tahu pernah membahana di radio-radio tanah air pada medio 2008. Kini Starvision Plus menggaet penulis skrip Anggoro Saronto untuk menjadikan lagu tersebut inspirasi dalam menulis skrip yang juga berkisah tentang kegetiran hidup tanpa kasih sayang dan masa depan itu.
Nasib sial menimpa kakak beradik Vino dan Wina setelah ayah mereka Amir ditipu oleh rekan bisnisnya hingga berpindah ke rumah kontrakan sekaligus ditinggal ibunya Mirna. Wina yang mengalami kecelakaan membutuhkan transfusi darah golongan A negatif dari Vino. Disitulah Vino ditawarkan oleh Calo untuk mendonorkan organ bagian dalamnya demi sejumlah besar uang. Awalnya Vino menyetujui demi membantu perekonomian keluarga tetapi setelah mengenal Mura di rumah sakit, ia menyesali keputusannya. Akankah ada keajaiban yang tidak merenggut kebahagiaan dari hari-hari “terakhir” mereka?

Sutradara Rako pernah menghasilkan dramaturgi indah nan puitis semacam Ungu Violet di masa lampau. Kali ini ia berupaya mengulang kembali kinerjanya itu, mudah-mudahan tidak sekadar bernostalgia. Terbukti Rako mampu bertutur runut menyibak lembar demi lembar kehidupan Vino dan Mura yang penuh kepahitan lengkap dengan pertukaran dialog yang menggigit di antara pemainnya sambil sesekali didukung dengan bahasa gambar yang menawan.
Adipati Dolken dan Maudy Ayunda berbagi ikatan emosional yang cukup dalam sebagai pasangan remaja disini. Lihat bagaimana keduanya terlihat saling mengisi di tengah harapan hidup yang semakin menipis mampu mengundang simpati. Masuknya karakter-karakter pendukung juga efektif dalam memperkuat pemahaman penonton akan tokoh Vino dan Mura secara utuh. Agus Kuncoro seperti biasa cukup menggigit walaupun porsinya tidak dominan. Tampaknya peran ayah menjadi “makanan” yang sulit dihindari oleh Surya Saputra belakangan ini.

Malaikat Tanpa Sayap pada akhirnya turut memperkaya khasanah perfilman Indonesia dengan kualitas yang di atas rata-rata. Saya menyukai penuturan lembut Rako yang sangat memperhatikan emosi aktor-aktrisnya yang terjaga dengan baik tanpa harus berlebihan. Sayangnya endingnya masih terlalu “tipikal” dengan twist yang sengaja dipaparkan demikian adanya. Tak pelak sepeda, lukisan pasir, komedi putar pun turut menjadi saksi bagaimana sepasang anak manusia mampu menemukan jati dirinya masing-masing di tengah himpitan kompleksitas masalah orang dewasa. Bukankah ikatan itu menguatkan?

Durasi:
104 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 11 Oktober 2011

PEREMPUAN-PEREMPUAN LIAR : Pelarian Liar Pengantin Restu Pernikahan

Quotes:
Dom: Walau kadang gw gak tau loe ngomong apa, gw jg gak bakal lupain loe.


Storyline:
Dom dan Mino bekerja sebagai penagih utang yang sukses karena selalu menjalankan tugasnya dengan ekstrim. Suatu saat karena kecerobohan, keduanya bertemu Mey dan Cindy dalam pernikahan Mey dan Rocky yang diatur oleh orangtua. Mey yang tidak mencintai Rocky lantas kabur bersama Dom, Mino dan Cindy. Kedua gadis tersebut adalah anak-anak konglomerat papan atas Indonesia yang hobi belanja dan gila pesta. Bahkan mereka menyarankan Dom menelpon ayahnya untuk meminta sejumlah tebusan. Pelarian itupun semakin liar hingga menumbuhkan rasa di antara keempatnya. Apakah tali perjodohan Dom yang sudah diatur bapaknya bisa dibatalkan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana press sreeningnya diadakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 5 Oktober 2011.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Dom
Dallas Pratama sebagai Mino
Maeeva Amin sebagai Mey
Rina Diana sebagai Cindy
Gary Iskak sebagai Rocky

Director:
Merupakan film ke-13 bagi Rako Prijanto sekaligus mempertemukan Tora Sudiro dengan Gary Iskak ketiga kalinya yang diawali oleh D’Bijis (2007).

Comment:
Masih ingat dengan film berjudul Roman Picisan (2010). Jika tidak atau memang belum menontonnya, maka kabar baik bagi anda. Namun sebaliknya, ini adalah kabar buruk. Mengapa saya katakan demikian? Penulis skrip Raditya Mangunsong yang sejak dulu bekerjasama dengan Rako Prijanto meyuguhkan benang merah cerita yang nyaris serupa, setidaknya 60%. Selebihnya orisinil? Tidak juga, banyak sekali comotan ide dari film-film Hollywood yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Begitu banyaknya kemiripan scene disini dengan yang sudah-sudah. Sebut saja, penculikan putri konglomerat, pembatalan pernikahan, pemblokiran kartu kredit saat pelarian, cinta yang tidak direstui orangtua, perjodohan yang tidak diinginkan dan lain sebagainya. Semuanya diracik oleh Raditya tanpa improvisasi yang berarti, datar dan mudah ditebak. Mungkin itulah alasan beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop terlebih dahulu sebelum selesai menyaksikannya.
Tidak ada yang baru dari akting seorang Tora Sudiro. Kebintangannya semakin memudar, dari 5 film di tahun 2008, 4 film di 2009, 3 film di 2010 dan tidak mengejutkan jika film ini adalah film pertamanya di tahun 2011. Peran Raga dalam Roman Picisan dan Sahroni dalam Preman In Love (2009) dikombinasikan ke dalam peran Dom kali ini, membosankan. Kehadiran Dallas Pratama sebagai Mino mungkin masih dapat dimaafkan mengingat baru film ketiga yang dilakoninya sejauh ini.
Maeeva Amin yang merupakan aktris pendatang baru lebih banyak menonjolkan pesona wajah Indo nya yang didukung dengan postur tinggi. Sama halnya dengan Rina Diana sebagai sidekick nya. Persahabatan erat keduanya kurang menghadirkan chemistry alami, bisa jadi karena tidak adanya eksplorasi karakter yang mampu memperkuat hubungan itu. Saya juga tidak menemukan korelasi yang konsisten di sepanjang film untuk patut menyebut keduanya “liar”.
Bagi saya sosok Rako adalah sutradara “cadas” yang lebih suka menonjolkan sisi ekstrim dalam karya-karyanya. Sayangnya dari tahun ke tahun, hasil garapannya cenderung menurun. Masih segar dalam ingatan saat Pengantin Sunat terpaksa saya masukkan dalam daftar 3 film terburuk tahun lalu. Pada kesempatan ini pun ia terkesan “malas” berkreatifitas dan memilih cara yang “aman” saja dalam bertutur menggunakan semua yang sudah pernah dikerjakan sebelumnya.
Perempuan-Perempuan Liar hanya menghibur sekitar 15-30 menit pertama dengan komedi “cadas” bertempo cepat ala Rako, sisanya adalah drama lamban hasil mixing beraneka subplot basi yang tak lagi memiliki daya jual. Endingnya pun dikonklusikan begitu mudahnya menutup romantika yang dibangun seadanya. So, everyone’s happy? Penonton masa kini jelas sudah semakin cermat dalam memilih film yang ingin ditontonnya, apa lagi yang ingin dikomunikasikan kepada mereka jika formulanya itu-itu saja?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 25 November 2010

PENGANTIN SUNAT : Kala "Kejantanan" Menjadi Ukuran Kebodohan

Storyline:
Sejak kecil Japra minder pada lingkungannya karena memiliki ukuran alat vital yang teramat sangat kecil sehingga dukun sunatnya pun menyerah. Japra hanya ditemani sahabat setianya Bini yang berkelamin perempuan tapi bertingkah sebagai laki-laki. 20 tahun kemudian, Kampung Pasir dihebohkan dengan kehadiran Srimpi, gadis cantik yang berkenalan dengan Japra terlebih dahulu dan menjadi dekat. Kontan saja hal ini menimbulkan kecemburuan warga terutama Sukri, Marwan dan Juhi. Padahal mereka bertiga memiliki masalah lemah syahwat sehingga selalu tertindas oleh istri masing-masing Lela, Jum dan Tiwi. Namun cinta Japra dan Srimpi tidak bisa dibendung walau dicemburui juga oleh Bini. Pernikahan mereka terancam bermasalah karena Japra belum disunat. Akankah Japra mampu menunjukkan kejantanan yang seharusnya diwarisi dari ayahnya yang "legendaris" itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan press screeningnya diselenggarakan di fX pada tanggal 16 November 2010 yang lalu.

Cast:
Aming sebagai Japra
Dara "The Virgin" sebagai Srimpi
Mita "The Virgin" sebagai Bini
Gary Iskak sebagai Marwan
Marwoto sebagai Sukri
Daus 'OB' sebagai Juhi

Director:
Baru saja menggarap drama romantis yang dibintangi Tora Sudiro dan Artika Sari Devi, Rako Prijanto kembali dengan genre komedi lewat film ini.

Comment:
Sejak awal, saya tidak berharap samasekali dengan film ini. Maafkan jika saya tidak jujur karena sesungguhnya saya memang berharap setidaknya tidak akan terlalu dikecewakan. Namun apa yang terjadi? Film ini membawa saya keluar dari Bumi untuk sesaat dan menempatkan saya di planet yang bernama MORON, mewakili orang-orang yang menghuninya.
Entah apa yang berusaha disampaikan. Masalah kejantanan baik sebagai kata sifat maupun kata obyek menjadi fokus yang tidak berkesudahan sepanjang film. Pertama sebagai obyek adalah SUNAT! Prolog film dibuka dengan penjelasan mengenai pentingnya prosesi sunat itu sendiri bagi seorang lelaki. Epilog juga membahas keharusan menjalani sunat sebelum memasuki pernikahan. Memang ada relevansinya tetapi tidak perlu terlalu gamblang.
Kedua sebagai sifat adalah NAFSU! Ini lebih menjijikkan lagi karena kaum ADAM dan kaum HAWA di planet MORON ini seakan tidak punya akal sehat samasekali. Kaum ADAM terobsesi membuktikan kejantanan mereka bukan terhadap muhrimnya masing-masing tetapi justru kepada gadis pendatang baru di desa mereka yang juga tidak jelas asal usulnya darimana, bidadari dari langitkah? (Tunggu dulu, pertanyaannya apakah di planet MORON memiliki langit?) Sedangkan kaum HAWA terobsesi mendapatkan ‎​‎​​‎​‎​​seks hebat yang tidak bisa didapat dari pasangan-pasangan mereka yang "loyo". Seakan ini belum cukup dangkal malah semakin diperparah dengan beberapa adegan nudis (disensor tentunya) dan dilengkapi dengan suara ‎​‎​crot (anda akan mengerti jika menontonnya) para lelaki tersebut setiap kali berniat mesum. Sungguh mengganggu!
Rako oh Rako, nampaknya ini adalah eksperimental komedi humor yang gagal yang sudah anda lakukan. Saya merasa kasihan pada dua personil The Virgin yang memulai debutnya dengan peran seperti ini. Aming tampil seperti biasanya, peran ini rasanya memang diperuntukkan Rako baginya sejak awal. Aktor langganan sang sutradara yaitu Gary, mohon kenakan baju anda kembali secara lengkap dan tolong jangan berpikir untuk melakukannya lagi lain kali.
Sekali lagi saya mohon ampun andaikata penggunaan kata-kata yang vulgar pada review saya kali ini. Namun itulah kenyataannya, Pengantin Sunat memang sevulgar itu tapi kosong melompong tanpa isi sama sekali. Sukses mendegradasi intelejensi saya dengan polah tingkah para makhluk planet MORON tersebut. Ibarat Tong Pecah Kosong, Melempem Bunyinya sehingga tinggal ditendang saja ke dalam TPS alias Tempat Pembuangan Sampah.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 21 Mei 2010

ROMAN PICISAN : Dilema Di Ambang Pernikahan

Cerita:
Canting mengantar sahabat karibnya Widya yang akan menikah di Bali dengan Tomtom. Sayangnya menjelang detik terakhir, Tomtom tidak hadir di acara tersebut, yang belakangan diketahui karena hasutan sobatnya, Raga yang tidak percaya komitmen. Widya yang putus asa terus disemangati oleh Canting dan Canting terang-terangan menantang Raga bahwa kedua sahabat mereka akan kembali bersama dalam waktu 3 hari! Tanpa disengaja, Raga dan Canting kemudian terdampar di pulau asing dan menghabiskan waktu bersama semalaman penuh. Disana barulah keduanya saling berinteraksi dan tertarik satu sama lain. Namun apakah kebersamaan itu dapat berlanjut saat Canting harus kembali ke Yogya dan menikahi Bimo atas perjodohan orangtuanya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di eX tanggal 18 Mei yang lalu.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Raga
Artika Sari Devi sebagai Canting
Alex Abbad sebagai Tomtom
Ririn Ekawati sebagai Widya
Nungky Kusumastuti sebagai Ibu Canting
Banyu Putra Tanzil sebagai Bimo

Director:
Rako Prijanto terakhir membesut komedi asal berjudul Maling Kutang dan kali ini bekerjasama dengan penulis, Raditya Mangunsong.

Comment:
Tidak jauh berbeda dengan konsep komedi romantis Hollywood kebanyakan yang secara mengejutkan ternyata belum banyak diangkat di perfilman nasional mengenai sahabat-sahabat dari mempelai pria dan wanita yang dari saling membenci hingga mencintai satu sama lain. Beruntung disini penulis Raditya masih mengawinkannya dengan budaya Yogyakarta yang kental terutama segala pernak-pernik batik, musik latar dan adat kekeratonan yang kental di keluarga Canting. Dari jajaran cast, Artika bermain baik seperti biasanya. Dia terlihat cantik, pintar, patuh pada orangtua dan rasional. Sebaliknya Tora masih sedikit membawa gaya lamanya terutama di awal-awal dengan cengengesan tidak jelasnya itu. Di pertengahan hingga akhir sedikit membaik walaupun menurut saya tidak mampu menghapus kesan chemistry mereka berdua terlalu dipaksakan. Semua itu dibungkus Rako, masih dengan unsur kekosongan di setiap filmnya, entah kenapa seperti terasa menggunakan elemen keputusasaan di setiap scenenya tidak peduli scene bahagia ataupun sedih. Endnginya pun terasa dipenggal dan diselesaikan begitu saja. Meski demikian, Roman Picisan tetap cukup layak tonton jika ada waktu luang.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 02 Oktober 2009

MALING KUTANG : Kutang Tua Menjadi Incaran Kesalahpahaman

Cerita:
1973, nenek Sugeni berduka saat kehilangan suaminya yang tewas ditabrak wagon setelah membelikan kutang merah biru polkadot berumbai-rumbai emas. Kenangan terus membekas sehingga Sugeni yang tidak pandai mencari uang dituntut menjadi banci untuk mendapatkan uang dengan mudah?! Secara tidak sengaja, Sugeni menghilangkan kutang tersebut yang jatuh ke tangan Ina, pemilik toko kelontong sukses. Lewat kejadian tak disengaja, tetangga sekaligus saingan Ina yakni Syamsul dan Yuyun mengasumsikan Ina menyembah kutang norak tersebut. Berbagai cara kocak mereka lakukan untuk mendapatkannya. Seketika, kutang itupun menjadi rebutan berbagai pihak..

Gambar:
Berbagai scene karikatural selayaknya komedi DKI tahun 80an muncul kembali disini. Lengkap dengan beberapa pelesetan kejadian ataupun tokoh-tokoh ternama.

Act:
Arie K. Untung sebagai Sugeni
Indra Birowo sebagai Syamsul
Deswita Maharani sebagai Yuyun
Kinaryosih sebagai Ina
Sogi Indra Huaja

Sutradara:
Serasa stripping sinetron, Rako Prijanto meluncurkan film ketiganya dalam bulan-bulan terakhir ini setelah KCK dan Preman In Love! Masih mengangkat tema komedi, kali ini ia bekerjasama dengan penulis novel remaja, Raditya Dika yang baru saja sukses dengan Kambing Jantan.

Komentar:
Entah ide gila apa yang muncul di kepala Raditya Dika saat menulis cerita film ini dan didukung dengan visualisasi kacaunya Rako hingga menghasilkan film semacam ini! Dari plot cerita memang fresh tetapi tidak didukung logika yang baik sehingga terkesan membodohi penonton. Dari sisi humor, seakan kembali ke jaman dahulu dimana lelucon pengocok tawa memang terasa tradisional alami, sayangnya tidak relevan dengan subplot cerita yang berlapis-lapis. Dari segi cast, tetap sulit menyukai salah satu dari beberapa karakter utama tersebut dikarenakan tampilan norak yang ditonjolkan mereka. Alhasil Maling Kutang hanya akan membuat kening kita berkerut saat menyaksikannya termasuk saya yang kadang bingung dengan orang-orang di sekitar yang masih bisa tertawa dengan dagelan yang ditawarkannya, yang menurut saya tidak lucu samasekali. Semoga dengan open ending, tidak akan ada sekuelnya di masa mendatang..

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can't be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 18 September 2009

PREMAN IN LOVE : Berebut Cinta Kembang Desa

Cerita:
Preman desa Demolong di kaki gunung Sumbing, Sahroni hidup dari mencopet dan menjual obat-obatan. Meski demikian orang-orang desa tetap menyukainya. Kedatangan Rini sebagai staf pengajar di sekolah yang juga putri Pak Lurah menyita perhatian Sahroni. Keduanya menjadi dekat dan menyimpan ketertarikan satu sama lain. Sayangnya Pak Lurah berhutang budi pada Raden Mas Pono yang juga menyukai Rini. Raden Mas Pono pun meminta bantuan Heri, dukun sakti dari Dieng untuk memenangkan hati Rini. Bagaimana cinta segitiga tersebut diselesaikan pada akhirnya?

Gambar:
Bersetting di Wonosobo sebagai panggung kaki gunung Sumbing, suasana desa terasa natural di setiap sudutnya.

Act:
Masih sesuai stereotype nya seperti yang sudah-sudah, Tora Sudiro sebagai Sahroni, preman kampung yang sesungguhnya lugu dan baik hati.
Vincent Rompies kembali beradu akting dengan Tora setelah dua film sebelumnya kali ini memerankan Raden Mas Pono, aristokrat desa yang konyol dan ambisius sekaligus licik.
Pendatang baru, Fanny Fabriana sebagai Rini, kembang desa yang dipaksa mengikuti kemauan ayahnya Pak Lurah yang dimainkan oleh Marwoto.

Sutradara:
Film ketiga di tahun 2009 bagi Rako Prijanto dengan bintang-bintang yang sama setelah Benci Disko dan Krazy Crazy Krezy yang semuanya bergenre sama yaitu komedi. Rupanya Rako telah menemukan zona nyamannya di kategori ini.

Komentar:
Mau tidak mau kita harus membandingkan film ini dengan dua film yang baru saja saya sebutkan di atas. Jika tolok ukur tersebut digunakan, bolehlah Preman In Love berbangga karena jauh lebih unggul dari keduanya. Plot cerita yang lebih sederhana membumi ditambah gaya komedi yang lebih cerdas merupakan dua nilai plusnya selain tentunya penyelesaian cerita yang masuk akal, yang sayangnya tidak dimiliki Disko dan KCK. Beberapa adegan pengocok tawa yang terkesan "jorok" berlebihan rasanya bisa sedikit dimaafkan, juga penggunaan idiom-idiom baru yang mengundang tawa. Duet Tora dan Vincent memang menjadi nyawa cerita. Namun disini Vincent lebih diuntungkan dengan kostum dan penampilan rapinya yang bergaya bangsawan luar lengkap dengan sikap konyolnya. Kehadiran Fanny juga menambah semarak karena cukup memikat dalam debutnya ini. Secara keseluruhan memang cukup menghibur walau belum bisa dibilang bagus.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 20 Juli 2009

KRAZY CRAZY KREZY : Tiga Pemuda Mengejar Mimpi Ibukota

Cerita:
Dari Jakarta - Sony yang bercita-cita jadi artis walau tampang pas-pasan, dari Yogyakarta - Tino yang punya mimpi bertemu idolanya Suzanne, dari Kuala Lumpur - Farid yang bertekad mengadu nasib di ibukota dengan uang lima ratus ribu rupiah. Ketiganya bertemu dan sepakat tinggal bersama sementara di kos Sony yang digawangi Ratna dan ibunya yang galak sambil memutar otak untuk mencari uang. Perlahan, persahabatan pun terjalin di antara mereka lewat serangkaian kejadian memalukan dan berujung pada peristiwa tak terduga yang akan melibatkan nama baik mereka semua.

Gambar:
Suasana metropolitan digambarkan dengan pas lengkap dengan kos-kosan yang padat dan sulitnya mencari sesuai nasi di ibukota.

Act:
Tora Sudiro memantapkan ikon aktor komedi masa kini baik di televisi maupun layar lebar. Kali ini berperan sebagai Sony, Tora memainkan aksen cadel yang lucu dengan tompel di samping hidungnya.
Tak ketinggalan Vincent Rompies dengan peran yang bervariasi belakangan ini termasuk sebagai Tino yang lugu dan pandai bermain gitar.
Satu lagi aktor Malaysia yang berkiprah disini, Pierre Andre sebagai Farid yang licik namun banyak akal.
Trio Sigi Wimala, Sissy Priscillia, aktris Malaysia Julia Ziegler sebagai love interest ketiga pria tersebut yakni Kartika, Ratna dan Melati. Juga kemunculan Acha Septriasa yang juga turut bernyanyi sebagai biduanita Suzanne.

Sutradara:
Baru saja beberapa minggu lalu karyanya Benci Disko dirilis, Rako Prijanto sudah maraton bersama Tora dan Vincent membuat Temanku Selamanya yang akhirnya berganti judul menjadi Krazy Crazy Krezy ini. Kabarnya Rako sempat berujar ingin menciptakan ikon baru di dunia perfilman nasional selayaknya Warkop DKI, Srimulat dsb sehingga tercetuslah ide film ini.

Komentar:
Diawali dengan humor yang cukup menyegarkan tapi semakin basi memasuki pertengahan dan akhir film sehingga membuat saya mengantuk. Terasa agak kosong dimana bangunan-bangunan cerita yang harusnya saling menguatkan malah seakan terpisah satu sama lain. Tora, Vincent, Pierre bermain cukup kompak tapi tampaknya belum mampu menciptakan sinergi komikal yang baik dan bisa diterima semua pihak. Apa yang salah? Skenario atau eksekusi? Tanyakan saja pada Rako yang masih belum mampu mengatasi kelemahannya itu. Anyway, nikmati saja film ini jika memang anda memiliki waktu luang.

Durasi:
100 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 20 Mei 2009

BENCI DISKO : Persaingan Jago Disko Lantai Dansa

Tagline:
Jalan aja ngawur, apalagi DISKO..

Cerita:
Dua pemuda satu ayah lain ibu yang saling bermusuhan yaitu Harim dan Setiawan mendapat tugas mencarikan jodoh bagi adik perempuan tirinya, Harti tepat sebelum ayahnya Hamdan menghembuskan nafas terakhir. Tugas itu tidaklah mudah karena Harti hanya mau menikah dengan cowok yang jago disko seperti ayah mereka. Harim yang keriting urakan dan Setiawan yang pirang kemayu memutar akal untuk memenuhi permintaan itu sampai akhirnya bertemu Herman Amir di sebuah klub. Herman Amir yang jago disko klasik di luar dugaan menantang Harim dan Setiawan bertanding di lantai disko. Bagaimana akhir dari kemelut itu?

Gambar:
Sebagian besar mempertontonkan koreografi "disko" klasik lengkap dengan suasana club yang kental dengan warna 80an.

Act:
Tora Sudiro sebagai Harim yang urakan dan mengalami "insiden" semasa kecil tapi dituntut memenuhi keinginan adik tirinya itu.
Vincent Rompies cukup meyakinkan sebagai Setiawan yang banci dan harus bekerjasama dengan saudara seayahnya yang sebetulnya tidak disukainya itu.
Poppy Sovia tampil kocak sebagai Harti yang polos dan berselera "makan" buas.
Arie Untung sebagai si sombong jorok Herman Amir yang menguasai gaya disko klasik warisan gurunya di masa lalu.


Sutradara:
Reuni kembali Rako Prijanto dengan Tora Sudiro setelah D'Bijis (2006). Ada perbedaan mendasar antara karya komedi dan drama dari seorang Rako. Bahasa komedinya ternyata lebih "berbicara" dibanding bahasa puitisnya. Tidak percaya? Bandingkan saja sendiri.

Komentar:
Tidak perlu berpikir saat menyaksikan BENCI DISKO. Nikmati dan tertawa saja jika memang menurut anda lucu. Apa pasal? Sebab jika merunut ceritanya pada prolog sampai berujung pada epilog, tidak ada korelasi yang masuk akal. Permasalahan yang menjadi tema utama sama sekali tidak terselesaikan karena paruh kedua film terlalu sibuk mempertontonkan ajang "berdisko" di atas lantai dansa jika memang itu masih bisa disebut gaya disko yang benar dan baik, apalagi musik pendukungnya terasa tidak orisinil. Hm, seharusnya bisa lebih baik lagi andaikata tim kreatif mau lebih maksimal dalam bekerja. Sayang disayang!

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 01 Desember 2008

TAKUT / FACES OF FEAR : Antologi Horor Lokal Dengan Berbagai Rasa

And the SIX stories are..
SHOW UNIT (17min) by Rako Prijanto
Seorang pria (Lukman Sardi) yang tanpa sengaja membunuh anak perempuan kekasihnya (Marcella Zalianty). Berusaha menyembunyikan kenyataan, ia malah membunuh ayah anak tersebut (Donny Alamsyah). Masalah mulai muncul saat mayat anak itu hilang tanpa jejak.
Thrill-meter: 3 out of 5
Rako yang biasanya menangani film drama kali ini sedikit bereksperimen dalam konsep thriller bernuansa hitam putih yang dominan. Hasilnya tidak mengecewakan sebagai sebuah opening. Lukman tampil beda di film ini.

TITISAN NAYA (15min) by Riri Riza
Seorang gadis (Dinna Olivia) yang tidak mempercayai hal-hal mistis dan memilih menggoda sepupunya (Junior Lim) pada saat upacara adat pemandian keris di rumah kerabatnya sampai akhirnya ia mengalami delusi yang tidak pernah terbayangkan.
Thrill-meter: 3 out of 5
Riri yang lebih dikenal dengan film anak boleh diacungi jempol dalam usahanya memberikan sentuhan mistik dengan pencahayaan suram. Cukup menarik jika dikembangkan menjadi film panjang terutama dengan mempertahankan Dinna sebagai aktris utamanya.

PEEPER (10min) by Ray Nayoan
Seorang lelaki yang memiliki hobi mengintip (Epy) bertemu dengan penari opera (Wiwied Gunawan) yang memiliki rahasia kecantikan awet mudanya.
Thrill-meter: 2.5 out of 5
Ray menyuguhkan sesuatu yang beda disini. Thriller yang bersifat tradisional dan lebih kepada hukuman terhadap tabiat buruk seseorang. Menarik melihat Wiwied menari dan "bertopeng" disini dengan Epy sebagai lelaki mesum yang terlihat polos.

THE LIST (10min) by Robby Ertanto
Seorang wanita (Shanty) yang terobsesi mengerjai mantan pacarnya (Fauzi Baadila) lewat media dukun santet.
Thrill-meter: 2 out of 5
Meski section ini paling tidak menyeramkan, kredit boleh diberikan pada Robby yang juga bermain dengan sentuhan komedi. Shanty dan Fauzi tidak kalah memikat sebagai sepasang mantan kekasih yang saling membenci.

THE RESCUE (11min) by Raditya Sidharta
Penyelamatan seorang gadis cilik (Eva Celia) oleh tim gegana (Reuben & Shogi) saat penduduk kota menjadi zombie akibat wabah virus yang mematikan.
Thrill-meter: 2.5 out of 5
Rasanya Raditya ingin menampilkan sosok zombie versi Indonesia, tidak buruk tapi masih kurang orisinil. Ceritanya klise dan masih mengikuti pakem film sejenis buatan Hollywood.

DARA (22min) by Mo Brothers
Seorang chef wanita handal yang cantik (Shareefa Danish) dan digilai banyak pria termasuk (Mike Muliadro) menyimpan rahasia kelam seorang psikopat pembunuh nan sadis.
Thrill-meter: 4 out of 5
Bagian penutup yang manis sekaligus mengerikan, aplaus patut diberikan pada Shareefa yang mampu bermain "dingin" dengan sorot mata dan mimik mukanya. Mo Brothers rupanya mempunyai bakat membuat film gore dengan subsidi kantung darah yang konon banyak digunakan dalam film ini. Boleh ditunggu karya mereka selanjutnya.

Komentar:
TAKUT boleh dibilang cukup berhasil memadukan film horor kontemporer yang diberi sentuhan art dan ethnic. Semua ceritanya memang tidak berhubungan tapi memberikan citarasa yang berbeda-beda. Well done! Pembuatan film ini memang masih mendapat bantuan dan sentuhan sineas-sineas luar yang sudah berpengalaman mengerjakan thriller horror berkualitas tapi diharapkan hanya untuk sebuah awal. Untuk berikutnya, diharapkan bisa memacu kreatifitas filmmaker kita dalam menghasilkan karya yang semakin baik lagi terutama di genre yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini.

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni tidak boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!