XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label amanda seyfried. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amanda seyfried. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

LES MISERABLES : Showcasing Sacrifice, Change, Hope In Live Adaptation


Quotes: 
Fantine: I had a dream my life would be so different from this hell I'm living!

Nice-to-know: 

Saat audisi, Anne Hathaway berhasil memukau semua orang hingga menangis haru.

Cast: 
Hugh Jackman sebagai Jean Valjean
Russell Crowe sebagai Javert
Anne Hathaway sebagai Fantine
Amanda Seyfried sebagai Cosette
Sacha Baron Cohen sebagai Thénardier
Helena Bonham Carter sebagai Madame Thénardier
Eddie Redmayne sebagai Marius
Aaron Tveit sebagai Enjolras
Samantha Barks sebagai Éponine


Director: 
Merupakan film keempat bagi Tom Hooper setelah karya terakhir The King’s Speech (2010) menganugerahinya Piala Oscar.

W For Words: 
Kita patut berterima kasih pada Victor Hugo yang secara brilian menulis novel pada tahun 1862 mengenai kekisruhan Perancis di abad 19. Karya yang pada akhirnya diadaptasi menjadi film ataupun pertunjukan dalam jumlah yang tak terhitung lagi di berbagai negara.  Adalah sutradara brilian Tom Hooper yang dipercayakan oleh jajaran produser untuk menghidupkan kisah ini sekali lagi dengan inovasi baru yaitu aktor aktrisnya diminta untuk menyanyikan seluruh dialog yang terkandung dalam buku karya Claude-Michel Schönberg dan Alain Boublil. Pertaruhan yang begitu berani!

19 tahun dipenjara karena mencuri roti untuk diberikan pada saudaranya, Jean Valjean akhirnya dibebaskan dalam pengawasan ketat penegak hukum Javert. Jean dipekerjakan oleh pendeta baik hati sampai berhasil menjadi pengusaha sukses dengan nama palsu. Nasib mempertemukannya dengan Fantine, mantan buruh pabrik yang terpaksa melacur demi menghidupi putrinya, Cosette yang dibesarkan oleh pasangan pencuri kejam Thénardier dan Madame Thénardier. Sepeninggal Fantine, Jean sepakat membesarkan Cosette sampai beranjak dewasa dan jatuh cinta pada Marius, pemberontak revolusi. Jalanan Perancis lantas jadi saksi pergulatan takdir melawan gejolak politik yang kian memanas. 

Pencapaian Hooper sebagai sutradara dalam film ini perlu diapresiasi tinggi. Ketajaman visinya menghidupkan suasana Perancis di masa lampau tidak hanya detail tetapi juga epik. Desain produksi termasuk tata rias dan tata kostum betul-betul diperhatikan unsur estetikanya. Kebulatan hatinya untuk tetap meminta aktor-aktrisnya bernyanyi live di lokasi syuting daripada merekam di studio paska produksi terbukti semakin mempertajam pengalaman musikal yang sinematik. Lihat bagaimana ia membuka dan menutup film dengan stylish dan memorable. Wonderful!

Penampilan terbaik menurut saya jatuh pada Hathaway dan Redmayne. Meskipun Fantine hanya kebagian porsi minor, ia seakan menyanyikan isi hatinya dengan begitu lugas. Upaya Jackman pantas dihargai karena penonton dapat merasakan emosinya dalam rentang waktu yang begitu panjang. Beberapa track favorit saya tentu saja Look Down, I Dreamed A Dream dan On My Own. Menarik melihat debut Samantha Barks dan pelakon cilik Daniel Huttlestone disini. Jangan lupakan juga sumbangsih Baren Cohen dan Bonham Carter sebagai pasangan antagonis tersebut.

Kekurangan yang cukup mencolok ada pada Crowe dengan kemampuan bernyanyi yang begitu terbatas tapi justru ini membuatnya believable. Lihat bagaimana Hooper banyak menyiasati ketika Javert menyanyi dengan tidak menyorot wajahnya melainkan scene panoramik yang megah. Seyfried sendiri tampak terlalu terbebani dengan peran Cosette yang krusial sehingga membuatnya kurang lepas dalam berakting. Secara keseluruhan, mereka saling mengisi dengan plus minus masing-masing, memberikan dimensi interpretasi karakter yang begitu emosional.

Les Misérables memang bukan film musikal biasa, bisa jadi luar biasa bagi anda yang sudah sangat familiar dengan cerita dan pertunjukannya. Namun bagi sebagian orang yang tidak terbiasa, mungkin akan menyiksa apalagi tidak semua unsur melodi dapat menyatu sempurna dengan pelafalan dialognya. Durasi nyaris tiga jam dengan total 49 lagu yang berkumandang jelas membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak kehilangan esensinya di tengah-tengah. Kombinasi pengorbanan cinta, perubahan dunia, pengharapan tanpa batas membuatnya pantas menyandang status ‘istimewa’. I liked this but don’t think that second viewing is necessary to do.

Durasi: 
157 menit

U.S. Box Office: 
$118,723,185 till Jan 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Senin, 16 April 2012

GONE : Lazy Thriller Little Suspense

Tagline:
No one believes her. Nothing will stop her.

Nice-to-know:
Film yang berlokasi syuting di Portland, OR yang juga kampung kelahiran Joel David Moore ini tidak mengadakan screening di awal rilis.

Cast:
Amanda Seyfried sebagai Jill
Daniel Sunjata sebagai Powers
Jennifer Carpenter sebagai Sharon Ames
Wes Bentley sebagai Peter Hood
Sebastian Stan sebagai Billy
Nick Searcy sebagai Mr. Miller

Director:
Pria Brazil yang mengawali karir penyutradaraan feature film berjudul Nina (2004) bernama Heitor Dhalia ini mengerjakan film keempatnya sejauh ini.

W for Words:
Pemilihan judul film ini terbilang amat sederhana sehingga sulit bagi penonton untuk mereka apa kira-kira yang ingin disuguhkan oleh sutradara Dhalia dan penulis skrip Allison Burnett. Namun melihat nama dan wajah Amanda Seyfried terpampang besar-besar di poster, rasanya dialah nilai jual sekaligus karakter utama yang ingin dikedepankan. Sah-sah saja mengingat gadis bermata besar ini tengah naik daun di Hollywood berkat peran-peran yang sukses mencuri perhatian.
Jill yang baru pulih dari trauma penculikan yang dialaminya bertahun-tahun lalu kembali dilanda rasa takut saat adiknya yang alkoholik, Molly menghilang. Kasus yang belum terungkap membuat Jill yakin hal serupa akan akan terulang kembali. Jill menghubungi polisi yang tidak mempercayai kisahnya termasuk Peter Hood yang terus mengawasinya. Akankah Jill harus menghadapi sang penculik sendirian sekaligus membahayakan nyawanya sendiri?

Seyfried sendiri terbilang berhasil memerankan Jill yang paranoid (atau gila) karena dirundung kecemasan berlebihan. Meski demikian kemampuannya menganalisa, mencari alibi, mengumpulkan bukti sekaligus beraksi sendiri menghadapi penculik patut diacungi jempol. Terima kasih pada stereotype dimana pihak kepolisian lagi-lagi tidak bertindak sesuai harapan. Heroine wanita dalam sebuah film tergolong lebih mampu menimbulkan simpati penonton karena dianggap kurang “berdaya”.
Sepanjang film mungkin anda berusaha menebak apakah pelakunya ternyata salah satu dari orang-orang yang dikenal Jill. Kecurigaan bisa jadi dilayangkan pada polisi Peter atau kekasih Molly yaitu Billy. Suspensi tersebut disimpan rapat-rapat hingga bagian ending tapi sayangnya tak akan terlalu mengesankan anda pada akhirnya. Itupun dengan catatan, anda mampu bersabar menunggu menit demi menit dari sutradara Dhalia yang menggunakan tipikal film klasik Noir tanpa tendensi itu.

Bukan hanya itu, Dhalia tampak terlalu berusaha keras menghadirkan dunia yang gelap, misterius dan penuh sarkasme dimana setiap orang tampak memiliki agenda tersembunyi masing-masing. Hal yang mengaburkan batas antara nyata atau tidak sehingga penonton sulit untuk mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Gone memang lebih terkesan sebagai thriller kelas B dalam nuansa modern, hanya saja ambiguitas yang tak terjawab sempurna sangat mungkin meninggalkan rasa tidak puas selepas credit title bergulir.

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$11,527,305 till March 2012

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 05 November 2011

IN TIME : Menghargai Ketersediaan Waktu Dunia

Tagline:
Live forever or die trying.


Storyline:
Di masa depan dimana manusia berhenti menua di usia 25 tahun, mereka hanya memiliki satu tahun tersisa dalam hidup. Demi memperpanjangnya, anda harus melakukan sesuatu. Will Salas dituduh melakukan pembunuhan atas seorang kaya yang memberinya “waktu” dalam jumlah besar. Kini Will harus menyeberangi zona waktu untuk mencari jawaban akan tujuan hidupnya selepas peninggalan ibunya Rachel Salas termasuk perjumpaan dengan keluarga Weis yang semakin membulatkan tekadnya untuk mengubah sistem global.

Nice-to-know:
Amanda Seyfried adalah satu-satunya pemeran dalam film ini yang berusia tepat 25 tahun sesuai kondisi terakhir penuaan.

Cast:
Terakhir bertandem gokil dengan Mila Kunis dalam Friends with Benefits (2011), Justin Timberlake bermain sebagai Will Salas
Baru saja menyelesaikan A Bag of Hammers (2011), Amanda Seyfried berperan sebagai Sylvia Weis
Cillian Murphy sebagai Raymond Leon
Olivia Wilde sebagai Rachel Salas
Vincent Kartheiser sebagai Philippe Weis

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Andrew Niccol setelah terakhir Lord of War (2005).

Comment:
Rasanya film ini dapat dikategorikan sains fiksi karena mengambil setting masa depan dimana tak ada seorangpun yang bisa mengira apa yang bakal terjadi. Melihat nama Andrew Niccol sebagai penulis cerita memang menjanjikan mengingat debut penulisan sekaligus penyutradaraan yang dilakukannya dalam Gattaca (1997) lumayan memorable bagi kalangan moviegoers. Kali ini, ia lagi-lagi menyelipkan unsur drama, action dan thriller silih berganti menghadirkan kisah yang unik.
Time is money. Semboyan yang nyaris selalu kita dengungkan dalam hidup. Bagaimana jika waktu benar-benar menjadi pengganti uang? Bisa bayangkan anda membayar segala kebutuhan hidup dengan mengurangi waktu hidup yang tertera indikasinya berupa cahaya hijau di sekitar nadi pergelangan tangan anda? Saya belum pernah menyaksikan ini sebelumnya dan terus terang amat tertarik membaca premis cerita dan trailer yang menyertainya.

Kelemahan yang dimiliki adalah banyaknya pertanyaan inti dalam benak penonton yang tidak terjawab samasekali. Bagaimana asal muasal Time System ditetapkan sebagai pengganti uang? Siapa yang mengontrol kinerja Timekeeper hingga begitu gigih memantau lalu lintas waktu? Mengapa system keamanan Time Bank begitu lemah sampai mudah sekali dibobol? Kenapa ada perbedaan kalangan yang mencolok di antara Time Zone antara si kaya dan si miskin? Semua ide brilian yang dimiliki mudah sekali lenyap jika tidak ada jawaban yang mendukung pertanyaan-pertanyaan di atas.
Duduk di kursi sutradara, Niccol berupaya keras menyajikan film yang enak ditonton. It is! Beberapa adegan kejar-kejarannya terbukti cukup inspiratif. Hanya saja terlalu banyak kesamaan satu dan lain hal disana-sini dari berbagai film yang menjadi referensinya, paling kentara adalah Bonnie And Clyde (1967) atau Robin Hood (1973). Gaya sinematografi yang diusung Roger Deakins ini nampaknya akan mengingatkan anda pada The Adjustment Bureau (2011). Sedangkan ilustrasi music dari Craig Armstrong juga menjadi salah satu poin kuat kali ini.

JT rupanya belum bisa ditakdirkan sebagai pemeran utama yang handal padahal selama ini cukup menyita perhatian sebagai pemeran pembantu. Ia masih terasa kurang maksimal dalam menerjemahkan emosi tokoh Will Salas yang sebetulnya turun naik cukup drastis dari awal sampai akhir ini. Beruntung Seyfried dan Murphy mampu memainkan peran masing-masing dengan baik dimana tokoh Sylvia terlihat transformasi karakter dari gadis baik-baik menjadi pemberontak dan tokoh antagonis Raymond begitu kompleks dan intens dalam menjalankan fungsinya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang telah saya sebutkan, In Time tetaplah sebuah film wajib tonton karena elemen inovatif yang dimilikinya akan mencengangkan anda, bukan cuma dari satu tapi beberapa sudut pandang sang subyek. Belum lagi sederetan pesan moral yang sukses digelorakan secara natural seiring film bergulir, bagaimana harus menghargai tiap waktu yang berjalan dalam hidup, terutama kebersamaan dengan orang-orang yang penting bagi anda. Sebab siapa yang tahu jika satu detik yang anda miliki sekalipun mampu mengubah segalanya!

Durasi:
109 menit

U.S. Box Office:
$23,990,237 till Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 27 Agustus 2011

RED RIDING HOOD : Ancaman Siluman Serigala Penduduk Desa

Quotes:
Valerie: I'll do anything to be with you.
Peter: I thought you'd say that.


Storyline:
Valerie terjebak di antara dua pilihan yaitu Peter yang mencintainya sejak kecil atau Henry yang dijodohkan oleh orangtuanya. Valerie tampaknya lebih memilih Peter dan merencanakan pelarian bersama keluar dari desa Daggerhorn yang tengah dilanda badai salju. Tak dinyana, kakak Valerie terbunuh oleh serigala untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Pengorbanan hewan yang dilakukan warga desa rupanya sia-sia karena sang monster tersebut lebih mengincar nyawa manusia. Father Solomon pun dipanggil untuk menangkap serigala itu tetapi selama bulan purnama korban masih akan berjatuhan lagi.

Nice-to-know:
Pengecualian bagi Valerie (Amanda Seyfried), semua karakter dari Daggerhorn dimainkan oleh aktor-aktris dengan mata coklat atau setidaknya menggunakan kontak lens warna coklat. Pada akhirnya Julie Christie yang terkenal dengan mata birunya tetap kebagian peran Nenek Valerie.

Cast:
Sebelum ini bermain mengesankan dalam Letters To Juliet (2010), Amanda Seyfried bermain sebagai Valerie
Terakhir muncul dalam The Book Of Eli (2010), Gary Oldman berperan sebagai Solomon
Billy Burke sebagai Cesaire
Shiloh Fernandez sebagai Peter
Max Irons sebagai Henry
Virginia Madsen sebagai Suzette

Director:
Merupakan film kelima Catherine Hardwicke setelah karya terakhirnya Twilight (2008) itu menjadi salah satu film legendaris di kalangan remaja.

Comment:
Siapa yang tidak mengenal legenda si kerudung merah dan sang serigala? Saya yakin sejak kecil anda sudah mengetahuinya dari berbagai versi mulai dari komik, buku, animasi sampai live action movie. Kini penulis skrip David Johnson mengembangkan plot serupa mengenai penduduk desa kecil bernama Daggerhorn selama musim dingin dimana sosok Valerie harus menempatkan diri di tengah cinta, sahabat dan keluarganya sendiri.
Sosok serigala yang ternyata manusia ini menjadi teka-teki yang harus anda jawab di penghujung cerita. Sejak awal anda boleh menerka-nerka siapa kira-kira orangnya setelah mengaitkan dengan motif yang mungkin melatarbelakanginya. Twist inilah yang diyakini filmmaker mampu menjaga penonton untuk tetap pada tempat duduknya masing-masing hingga detik terakhir selain efek CGI yang membuat sang monster terlihat meyakinkan tentunya.

Seyfried menghidupkan karakter Valerie dengan baik dimana sisi emosionalnya dalam memperjuangkan cinta sekaligus integritas dirinya sendiri terpampang jelas. Oldman seperti biasa memperlihatkan kelas yang berbeda walaupun dialog-dialog yang tercipta Solomon disini masih klise adanya. Saya tidak habis pikir mengapa Fernandez berakting dengan kemarahan nyaris di sepanjang film sebagai Peter, dimaksudkan untuk mengelabui penonton barangkali?
Sutradara Hardwicke meneruskan apa yang dilakukannya dalam Twilight (2008) yaitu sinematografi pucat musim dingin yang menekankan rasa sepi. Layaknya palet berwarna-warni yang memanjakan mata. Sayangnya kesan dongeng masih cukup kuat lewat berbagai pengadeganannya sehingga apa yang seharusnya terlihat sadis menjadi diperhalus, sama halnya dengan romantisme yang agak didramatisir dalam tempo yang lambat.

Red Riding Hood mungkin mengingatkan anda pada The Village (2004) milik M. Night Shyamalan dengan tata kostum dan setting yang serupa. Usaha produser Leonardo DiCaprio dkk memang cukup keras untuk menghidupkan dongeng klasik abadi segala usia ke dalam drama thriller masa kini yang lebih gelap dan dewasa. Sayangnya hasil akhirnya masih cenderung gagal karena mencoba terlalu kompleks untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di setiap elemennya.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$37,652,565 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 29 Juni 2010

CHLOE : Kecurigaan Istri Berbuntut Obsesif Kompulsif

Tagline:
If the one you love was lying to you, how far would you go to find out the truth?

Storyline:
Saat kecewa karena suaminya David ketinggalan pesawat untuk menghadiri acara ultah yang sudah disiapkan, Catherine mulai berpikir buruk. Akumulasi hubungan suami istri yang mulai mendingin membuatnya nekad menyewa jasa Chloe, gadis misterius yang sering wara-wiri dekat tempat prakteknya. Ketika Chloe mulai menceritakan interaksinya dengan David, Catherine menjadi cemburu dan semakin kehilangan kendali akan akal sehatnya. Benarkah perselingkuhan itu terjadi hingga rumah tangga pasutri Stewart harus berakhir?

Nice-to-know:
Saat proses syuting berjalan pada bulan Maret 2009, Liam Neeson sempat meninggalkan lokasi beberapa hari karena istrinya Natasha Richardson mengalami cedera otak akibat kecelakaan ski es. Pada akhirnya Richardson meninggal, Neeson pun dengan sukarela melepaskan kepergiannya dan kembali meneruskan perannya dalam 2 hari setelah filmmaker sepakat mengubah skripnya.

Cast:
1 dari 4 proyek film yang dikerjakannya di tahun 2009 termasuk A Single Man, Julianne Moore bermain sebagai Catherine Stewart
Baru saja mendukung remake Jennifer’s Body (2009), Amanda Seyfried berperan sebagai Chloe
Liam Neeson sebagai David Stewart
Max Thieriot sebagai Michael Stewart

Director:
Atom Egoyan mulai dikenal luas setelah meraih nominasi Oscar kategori Sutradara Terbaik lewat The Sweet Hereafter (1997).

Comment:
Dengan kumpulan berbagai premis film-film thriller erotis tahun 1990an terciptalah film yang skripnya ditulis oleh Erin Cressida Wilson ini. Sepasang suami istri yang kehidupan rumah tangganya mulai goyah ditambah dengan kehadiran wanita muda penggoda. Sounds such an old twist and turns memang, tapi untungnya berhasil diremajakan sedemikian rupa untuk sebuah citarasa baru yang tidak kalah fresh. Nicely done!
Saya harus katakan ini adalah filmnya Julianne Moore. Totalitas aktingnya patut diacungi jempol karena bersedia beradegan nudis hingga menjurus aksi seksual. Emosinya pun benar-benar terpancing natural baik saat berhadapan dengan Neeson, Seyfried, Thieriot ataupun figurnya sebagai dokter ginekolog sukses. Kerapuhannya dapat dimengerti oleh penonton yang mungkin pernah merasakan pengalaman pribadi serupa dengannya.
Bagaimana dengan Amanda Seyfried? Peran gadis baik-baik yang biasa dilakoninya berubah 180 derajat kali ini. Yang menarik kesan lugu yang terpancar dari mata bundarnya seakan mengartikan hal lain, sesuatu yang dirahasiakan sekaligus berbahaya. Kecantikannya pun sedikit berkesan dewasa dari cara berpakaiannya yang apik. Berhadapan dengan Moore setelah Streep jelas semakin memperkaya pengalaman aktrisnya di masa mendatang.
Sutradara Egoyan menghadirkan sinematografi modern yang nyaman di mata dengan penggunaan setting lokasi yang minimalis tetapi maksimal hasilnya. Berpadu apik dengan scoring musik dari Mychael Danna yang merambat lurus searah dengan elemen suspensi yang dituangkan. Perubahan yang dilakukan Egoyan terhadap akhir cerita menyesuaikan kabar dukacita yang menimpa Neeson menguatkan kepekaannya terhadap hubungan antar manusia itu sendiri
Chloe adalah sebuah drama thriller yang solid dan mampu mengikat penonton untuk terus mengikutinya sampai akhir. Endingnya mungkin masih dapat dikategorikan predictable tetapi tetap sebuah cara manis nan realistis untuk mengakhirinya demikian. Insting alamiah seorang manusia kadang lebih berbahaya apalagi jika diikuti dengan asumsi-asumsi tak berdasar yang menjurus pada tingkah laku responsif yang berlebihan. Berhati-hatilah!

Durasi:
95 menit

U
.S. Box Office:
$3,074,838 till July 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 25 Juni 2010

LETTERS TO JULIET : Terlambatkah Kesempatan Kedua Untuk Cinta?

Quotes:
Sophie-I'm sorry, I didn't know love had an expiration date.

Storyline:
Sophie mengikuti tunangannya yang seorang koki handal, Victor untuk melakukan perjalanan ke Verona, Italia. Disana Victor yang sibuk sendiri meninggalkan Sophie untuk membuat sebuah tulisan tentang romantisme Italia yang diinspirasi dari Secretary of Juliet. Disanalah sekelompok wanita paruh baya menulis jawaban atas surat-surat cinta yang dikirim oleh gadis-gadis dari seluruh dunia. Tanpa sengaja, Sophie menemukan surat cinta Claire yang telah tersembunyi selama 50 tahun dan membalasnya. Hal tersebut memicu kedatangan Claire yang sudah berusia lanjut dari Inggris bersama cucunya Charlie untuk mencari Lorenzo nya yang hilang. Petualangan tidak terduga pun dilakoni Sophie yang mungkin mengubah perspektifnya tentang cinta.

Nice-to-know:
Vanessa Redgrave dan Franco Nero merupakan pasangan sesungguhnya di kehidupan nyata.

Cast:
Karir akting Amanda Seyfried dimulai di layar gelas, As The World Turns pada tahun 2000. Kali ini kebagian peran utama Sophie yang secara sementara bergabung Secretary Of Juliet sementara tunangannya, Victor yang dilakoni oleh Gael Garcia Bernal sibuk menghadiri lelang wine.
Pernah mendukung Resident Evil : Extinction (2007), Christopher Egan bermain sebagai Charlie, pemuda Inggris yang menemani neneknya ke Italia.
Sempat memenangi Oscar kategori Aktris Pembantu Terbaik lewat Julia (1977), Vanessa Redgrave berperan sebagai Claire yang mencari cinta pertamanya justru di usia senja.

Director:
Karya penyutradaraannya pertama kali melalui Curfew (1989) dan Letters To Juliet merupakan karya ke-12 bagi Gary Winick.

Comment:
Melihat trailer film ini saya mengharapkan drama romantis yang berkualitas dan setelah menunggu beberapa minggu untuk kemudian menyaksikannya, harapan saya tidak salah. Plot ceritanya tidak jauh-jauh dari cinta dan mungkin bisa anda prediksikan apa yang akan terjadi dari menit ke menitnya. Namun yang membuat berbeda adalah intensitas scene demi scenenya disajikan dengan hangat dan tulus sehingga anda akan sabar menanti dan mengikutinya hingga berakhir. Penjiwaan Seyfried yang kaya ekspresi dan kepribadian sangat menarik. Mata bulat besarnya cukup mewakili kecerdasan dan antusiasme tokoh Sophie yang sebenarnya rapuh dan bimbang. Ia berhasil memimpin karakter lain yang juga tidak kalah mengecewakan. Redgrave memperlihatkan senioritasnya dengan tokoh Claire yang sensitif dan menyenangkan. Bernal juga menggambarkan sosok tunangan yang gila kerja dan sedikit egois. Tidak berbeda dengan Egan yang menerjemahkan tipikal pria Inggris kaku yang mengedepankan logika daripada cinta. Suasana Verona yang indah dengan lanskap bangunan tua di tengah-tengah padang rumput dan perladangan anggur juga sudah menimbulkan romantisme tersendiri. Romantisme yang sebetulnya dibungkus dengan pelukan hangat, gandengan tangan, curi pandang ataupun ciuman yang ditunggu-tunggu ini akan membuat hati audiens berdegup kencang dengan permainan emosi yang tumpah ruah. Letters To Juliet yang segmentasi utamanya wanita tetap membuat saya dan para penonton pria lainnya larut dalam antusiasme hingga durasi berakhir. Still great classic cliche romance movie that probably you've been waiting for!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$46,754,242 till mid Jun 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 19 April 2010

JENNIFER'S BODY : Saat Gadis Iblis Mengingkari Persahabatan Sejati

Quotes:
Needy Lesnicky-I thought you only murdered boys.
Jennifer Check-I go both ways.

Storyline:
Di kota kecil Devil's Kettle, remaja kutu buku Needy mengidolakan sahabat sejak kecilnya Jennifer yang angkuh. Saat menonton konser band Low Shoulder di bar Melody Lane, kecelakaan terjadi dan membakar bar tersebut hingga menewaskan delapan siswa. Sang vokalis, yang mengira Jen masih perawan membawa Jen ke dalam van mereka. Lewat ritual misterius, Jen dikorbankan dan tubuhnya diambil alih oleh setan hingga menjadi pembunuh remaja pria yang sadis untuk menjaga kekuatannya. Kini tinggal Needy dan kekasihnya Chip yang mampu menghentikan Jen sebelum semuanya terlambat.

Nice-to-know:
Materi promo film yang judulnya diangkat dari salah satu lagunya band Hole ini sudah disiapkan 15 bulan sebelum tanggal rilisnya!

Cast:
Menduduki peringkat 1 gadis terseksi majalah pria FHM, Megan Fox kebagian karakter Jennifer Check yang berubah menjadi cantik sadis setelah dirasuki setan.
Pernah mendukung beberapa serial televisi ternama seperti Law & Order, CSI dsb semakin mengukuhkan nama aktris muda ini. Amanda Seyfried disini berperan sebagai remaja kutu buku yang setia kawan, Needy Lesnicky.
Chip dan Nikolai dimainkan oleh Johnny Simmons dan Adam Brody.

Director:
Wanita asal Brooklyn bernama Karyn Kusama ini melejit setelah menggarap Girlfight (2000) yang banyak dipuji para kritikus itu. Jennifer's Body adalah karya layar lebar ketiganya sejauh ini.

Comment:
Pada saat perilisannya, film ini mendapat sorotan publik dikarenakan penulis cerita dan skenarionya, Diablo Cody berhasil memenangkan Oscar kategori Best Writing Screenplay lewat Juno (2007). Dan tentunya pesona Fox memikat perhatian penonton pria dimanapun film ini ditayangkan. Berhasilkah? Rasanya tidak karena pada akhirnya film ini toh hanya mencapai Break Even Point di Amrik sana, sebanding dengan bujetnya yang juga minim. Jennifer's Body hanyalah horor remaja biasa dengan beberapa adegan sadis yang eksplisit ini dapat juga dikategorikan komedi hitam. Berusaha mengedepankan nilai-nilai persahabatan sedari kecil dua gadis ABG tetapi nyatanya di beberapa sekuens, hal tersebut tidak berhasil diperlihatkan. Malahan adegan ciuman keduanya semakin memperburuk makna. Sesungguhnya Seyfried bermain lumayan dan Fox juga tidak buruk selain fakta ia menjual beberapa adegan telanjangnya yang disembunyikan angle kamera. Namun mereka agaknya terlalu terbebani untuk mengangkat skrip ke suatu tontonan berkarakter kuat. Sutradara Kasuma memberikan aksen suasana tahun 1980an dan membukanya dengan gaya flashback. Ohya setelah ending berakhir, jangan buru-buru mematikan film. Tengoklah credit note yang bertutur sedikit lagi dengan gaya spycam terhadap band Low Shoulder.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$16,195,523 till mid Nov 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 26 Februari 2010

DEAR JOHN : Ujian Jarak Waktu Cinta Tentara

Quotes:
Savannah Curtis: The saddest people I've ever met in life are the ones who don't care deeply about anything at all.


Storyline:
Marinir John Tyree tengah menghabiskan masa cuti selama 2 minggu di kampung halamannya. John berkenalan dengan Savannah Curtis hingga terlibat dalam asmara yang amat membahagiakan. Liburan dihabiskan berdua sampai John mengenalkan Savannah pada ayahnya yang menderita autis. Walaupun sempat timbul masalah, keduanya sepakat meneruskan hubungan melalui surat. Terpisah jarak dan waktu, Savannah mulai ragu akan masa depan hubungan mereka. Di sisi lain, John yang terus berpindah-pindah dalam misinya terus percaya akan kekuatan cinta yang membuatnya bertahan.

Nice-to-know:
Rilis minggu pertamanya di United States menempati posisi puncak sekaligus mengakhiri Avatar nya James Cameron yang sudah berada di sana selama 7 minggu berturut-turut!

Cast:
Baru saja membintang utamai G.I. Joe: The Rise of Cobra (2009), Channing Tatum berperan sebagai John Tyree
Mulai dikenal luas sejak serial televisi Veronica Mars (2004-2006), Amanda Seyfried bermain sebagai Savannah Curtis
Richard Jenkins sebagai Mr. Tyree
Henry Thomas sebagai Tim Wheddon
D.J. Cotrona sebagai Noodles

Director:
Lasse Hallstrom baru saja sukses mengharu-biru penonton lewat Hachiko : A Dog’s Story (2009)

Comment:
Nicholas Sparks memang terkenal dengan novel-novel romansa melankolisnya yang rata-rata sudah pernah difilmkan sebelumnya. Judul yang satu ini tanpa pengecualian dimana percintaan jarak jauh antara gadis konservatif dan pemuda Angkatan Darat menjadi bumbu utama. Jamie Linden ditunjuk untuk menggarap skripnya tanpa banyak perubahan berarti, terkecuali mempertajam dialognya yang disesuaikan dengan momen-momen yang ingin disampaikan.

Channing Tatum merupakan pilihan tepat untuk menokohkan John Tyree. Badannya yang tinggi tegap terlihat amat cocok sebagai tentara muda. Sepintas anda dapat menangkap kegelisahan jiwanya karena tumbuh di dalam keluarga yang tidak sempurna, bahkan tidak mengakui kalau ayahnya memiliki kelainan autisme. Sayangnya kiprah John di medan perang hanya terkesan sebagai latar belakang saja sehingga empati penonton tidak sampai terbangun dengan kuat untuk mempedulikannya.
Aktris muda bermata besar yang sedang naik daun, Amanda Seyfried memberikan penjiwaan yang cukup matang. Keriaan Savannah Curtis yang juga berjiwa sosial itu mampu dikombinasikannya dengan perasaan perempuan yang tak berdaya karena cinta yang tak pernah benar-benar ada di sisinya. Chemistry keduanya terjalin manis meskipun scene yang mempertemukan keduanya berhadap-hadapan boleh dihitung dengan jari.

Sutradara Hallstrom sudah populer dengan kemampuannya meracik bumbu drama sedemikian rupa hingga menjadi tontonan yang emosional. Sinematografinya cukup natural berpadu dengan ilustrasi musik tipikal bergaya lawas. Kali ini ia sampai melakukan syuting ulang untuk penutupan film karena adegan asli yang setia dengan bukunya tidak sesuai dengan harapan audiens pada saat screening awal. Jujur saya belum membaca bukunya sehingga tidak merasa berhak untuk membandingkan.
Sebagai sebuah drama percintaan, Dear John mengeksploitasi perasaan tentara perang dan gadis yang menunggunya dengan seimbang. Itulah sebabnya penonton pria maupun wanita mampu menikmati narasinya dengan curahan perasaan penuh lewat tulisan. Cinta sejati memang butuh ujian, sebagian menyerah dan sebagian lagi terus berupaya meskipun tertatih dan kehilangan arah. Satu yang pasti, waktu yang akan menjawab itu semua.

Durasi:
108 menit

U.S. Box Office:
$ 80,014,842 till Apr 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 07 Mei 2009

SOLSTICE : Misteri Kematian Saudari Kembar

Tagline:
You can't bury the truth.

Storyline:
6 bulan setelah peristiwa bunuh diri saudari kembarnya Sofie, Megan masih menyisakan kesedihan dan tanda tanya. Pada liburan Saint John's Eve, bersama Christian, Zie, Mark dan Alicia, Megan berkunjung ke rumah keluarganya di danau Nowell untuk merayakan gerhana musim semi. Mereka juga sempat berkenalan dengan Nick, penjaga toko setempat yang menjual majalah berisikan artikel cara berkomunikasi dengan yang telah meninggal. Lambat laun, Megan mulai merasakan kehadiran sesosok arwah yang diduga Sofie. Petunjuk demi petunjuk menuntunnya pada pemburu lokal, Leonard dan putrinya yang menghilang, Malin. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Sofie di masa lalu? Berhasilkah Megan menguak semua tabir tersebut?

Nice-to-know:
Dikarenakan Badai Katrina, Endgame Entertainment sempat berencana memindahkan produksi ke Florida, Georgia atau Texas tetapi akhirnya tetap di Louisiana dengan pengunduran waktu dan casting ulang.

Cast:
Elisabeth Harnois bermain ganda sebagai saudari kembar Megan / Sofie
Shawn Ashmore sebagai Christian
Hilarie Burton sebagai Alicia
Amanda Seyfried sebagai Zoe
Tyler Hoechlin sebagai Nick
Matt O'Leary sebagai Mark

Director:
Pria kelahiran Florida bernama Daniel Myrick ini mencuri perhatian saat film indienya, The Blair Witch Project menjelma menjadi cult movie yang dianggap salah satu film paling menyeramkan sepanjang masa.

Comment:
Melihat trailernya sepertinya cukup seru apalagi diembel-embel oleh sutradara pencetak The Blair Witch Project yang legendaris itu. Tema yang diusung sepintas terlihat tiada berbeda dengan horor thriller remaja yang sudah-sudah, hanya saja film ini menjanjikan misteri yang kelihatannya sulit ditebak begitu saja. Para pemainnya sebagian besar aktor aktris remaja Hollywood kelas B. Kecuali Seyfried yang kelak angkat nama di Mamma Mia! sehingga tidak heran jika akting mereka standar saja. Tempo yang digunakan berjalan lambat serta berusaha memfokuskan pada karakter utama dan bayang-bayang masa lalunya. Twist yang disimpan di ending memang cukup mengagetkan tetapi sayangnya tidak ada penjelasan lebih lanjut dari awal sampai akhir yang mampu menuntun penonton mengarah pada kesimpulan tersebut. Solstice yang langsung tayang dalam format video di Amerika sana tidaklah menyeramkan walaupun ada beberapa suspensi mengejutkan yang juga terbantu oleh kinerja sound, lighting dan setting lokasi yang sepi. Target penontonnya tentu saja kaum remaja yang rasanya perlu 'berimajinasi' untuk bisa tetap mengikutinya dengan seksama.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 19 September 2008

MAMMA MIA! : Pencarian Ayah Kandung Menjelang Pernikahan

Quotes:
Donna-You sound like you're having fun already.
Ali-Oh, we are!
Donna-[woefully] I used to have fun!
Ali-[giggles] Oh, we know!
[Donna looks worried]

Cerita:
Calon mempelai Sophie sedang dalam misi pencarian ayahnya sebelum hari pernikahannya. Hanya ada satu masalah, Sophie tidak tahu pasti siapa dia. Setelah diam-diam membaca buku harian ibunya Donna, Sophie menemukan fakta tiga mantan kekasih ibunya itu. Lantas Sophie mengundang ketiganya dan berusaha mencari tahu apa yang sesungguhnya pernah terjadi di antara Sam, Bill, Harry dengan ibunya di masa lalu sekaligus menentukan jati dirinya sendiri.

Gambar:
Sebagian besar bersetting di Yunani yang menampilkan lanskap laut biru dan perbukitan alami yang sangat indah.

Act:
Meryl Streep sebagai Donna Sheridan
Amanda Seyfried sebagai Sophie Sheridan
Pierce Brosnan sebagai Sam Carmichael
Colin Firth sebagai Harry Bright
Stellan Skarsgard sebagai Bill Anderson
Julie Walters sebagai Rosie
Rachel McDowall sebagai Lisa
Dominic Cooper sebagai Sky
Semuanya tampil fun dan atraktif saat bernyanyi sambil berkoreografi!

Sutradara:
Karya layar lebar perdana bagi Phyllida Lloyd selepas membesut satu-satunya serial televisi Gloriana (2000). Tugas yang samasekali tidak mudah tapi dijawabnya dengan baik.

Komentar:
Tidak mudah mengangkat suatu pentas sukses yang berulangkali dimainkan di panggung Broadway ke dalam layar lebar. Pertama, keterbatasan seni panggung sehingga memfokuskan pada nyanyian dan tari dibandingkan cerita. Sedangkan pada layar lebar sebaliknya, cerita seakan lebih diprioritaskan dibanding segalanya. Dalam hal ini, "Mamma Mia!" bisa dibilang gagal karena tidak satupun cast bernyanyi di atas rata-rata. Kedua, lagu-lagu ABBA yang timeless harus diinterpretasikan untuk mengangkat cerita secara prima. Dalam hal ini, "Mamma Mia!" bolehlah mendapat ponten baik karena lirik yang kuat dan pas dengan jalinan cerita. Di luar dua poin utama "Mamma Mia!" itu, usaha Streep dan Seyfried boleh diacungi jempol karena berhasil menciptakan chemistry yang baik sebagai ibu dan anak sehingga penonton masih bisa bersimpati mengikuti kiprah mereka. Kekurangan yang paling mencolok mungkin dari gaya penyutradaraan yang terasa amatir, sinematografi yang buruk entah karena pencahayaan yang overexposure atau underexposure. Kesimpulannya, Mamma Mia! hanya akan memuaskan dahaga anda dengan lagu-lagu nostalgia ABBA dan setidaknya bisa ikut bernyanyi selama 90 menit. Tidak buruk kan?

Soundtrack:
"I Have A Dream" by Amanda Seyfried
"Honey, Honey" by Amanda Seyfried
"Money, Money, Money" by Meryl Streep
"Mamma Mia" by Meryl Streep
"Chiquitita" by Julie Walters and Christine Baranski
"Super Trouper" by Meryl Streep, Julie Walters and Christine Baranski
"Dancing Queen" by Meryl Streep, Julie Walters and Christine Baranski
"Our Last Summer" by Amanda Seyfried, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard and Colin Firth
"Lay All Your Love On Me" by Amanda Seyfried and Dominic Cooper
"Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight)" by Amanda Seyfried, Meryl Streep, Julie Walters, Christine Baranski, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard, Colin Firth and Dominic Cooper
"Voulez-Vous" by Amanda Seyfried, Meryl Streep, Julie Walters, Christine Baranski, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard, Colin Firth and Dominic Cooper
"SOS" by Meryl Streep and Pierce Brosnan
"Does Your Mother Know" by Christine Baranski and Philip Michael
"Slipping Through My Fingers" by Amanda Seyfried and Meryl Streep
"The Winner Takes It All" by Meryl Streep
"Under Attack"
"Knowing Me, Knowing You"
"I Do, I Do, I Do, I Do, I Do" by Amanda Seyfried, Meryl Streep, Julie Walters, Christine Baranski, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard, Colin Firth and Dominic Cooper
"When All Is Said And Done" by Amanda Seyfried, Meryl Streep, Julie Walters, Christine Baranski, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard, Colin Firth and Dominic Cooper
"Take A Chance On Me" by Julie Walters and Stellan Skarsgard
"The Name Of The Game" by Amanda Seyfried and Stellan Skarsgard
"Waterloo" by Amanda Seyfried, Meryl Streep, Julie Walters, Christine Baranski, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard, Colin Firth and Dominic Cooper
"Thank You For The Music" by Amanda Seyfried

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$144,130,063 till early Nov 2008

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!