XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label affandi abdul rachman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label affandi abdul rachman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

NEGERI 5 MENARA : Sahibul Menara Kekal Persahabatan


Quotes:
Alif: Eh mimpi tuh harus jauh, tinggi. Lihat seperti menara itu!

Nice-to-know:
Diproduksi secara kolaborasi oleh Simple Pictures, KG Productions, Million Pictures dan IB Perbankan Syariah dimana gala premierenya diselenggarakan di Gandaria XXI pada tanggal 25 Februari 2012.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Ustad Salman
Rangga Djoned sebagai Ustad Thorik
Lulu Tobing sebagai Amak
David Chalik sebagai Ayah
Ikang Fawzi sebagai Kyai Rais

Gazza Zubizareta sebagai Alif
Aris Putra sebagai Dulmajid
Billy Sandy sebagai Baso
Ernest Samudera sebagai Said
Rizki Ramdani sebagai Atang
Jiofani Lubis sebagai Raja
Andhika Pratama sebagai Fahmi

Director:
Merupakan film kelima Affandi Abdul Rachman yang mengawalinya dengan Pencarian Terakhir di tahun 2008.

W For Words:
Novel berjudul sama karangan Ahmad Fuadi ini memang telah mencatat sukses besar dengan berkali-kali dicetak ulang. Kini Salman Aristo dan Rino Sarjono bekerjasama mentransformasikan kisah persahabatan 6 remaja itu ke dalam skrip film yang akhirnya disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman. Jujur saya belum membaca novelnya sehingga tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap filmnya, tidak pula membandingkannya dengan Laskar Pelangi (2008) tau Semesta Mendukung (2011) meskipun ada kemiripan tema yang tidak disengaja.
Tahun 1988, Alif tamat dari SMP dan direncanakan ayahnya melanjutkan studi ke pesantren Pondok Madani di Ponorogo. Berat hati ia meninggalkan kampung halaman, orangtua sekaligus sahabatnya Randai. Rencana satu tahun melewati masa percobaan saja urung terjadi karena Alif bertemu teman-teman baru yang sangat suportif yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya dan Dulmajid dari Madura. Keenam remaja itu lantas berikrar untuk mempraktekkan slogan “Man Jadda Wajada” yang diajarkan Ustad Salman untuk mengejar impian masing-masing.

Sutradara Affandi mengusung narasi cerita yang runut menyenangkan dimana keterbatasan durasi waktu samasekali tidak mengekang kebebasannya berkreasi. Kehidupan sehari-hari keenam siswa SMU itu dibentangkan secara nyata dan manusiawi mulai dari jatuh hati, merindukan orangtua, membidik mimpi, berusaha keras dsb. Komposisi musik latar dari Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro juga semakin memperteguh spirit Alif cs dalam mengejar cita-citanya masing-masing.
Penonton diajak untuk merasakan “nyaman” saja mengikuti babak demi babak yang disuguhkan sambil sesekali tertawa ataupun terharu. Namun jika mau dicermati, nyaris tidak ada problematika krusial yang hinggap dalam film ini untuk memunculkan riak tersendiri, seakan kita hanya disugestikan menikmati sebuah pantai tenang dengan sesekali sapuan ombak di telapak kaki. Datar meski tidak sampai membosankan. Bahkan adegan penutupnya yang mengambil setting lokasi di London pun terasa tempelan belaka tanpa korelasi sebagai pembangkit semangat yang diharapkan.

Beruntung semua aktor remajanya tampil maksimal. Alif, Baso dan Said adalah tiga karakter favorit saya dimana Gazza, Billy dan Ernest mampu mencuri perhatian dengan ekspresi dan gesture alami di setiap kemunculan mereka. Sedangkan dari jajaran aktor dewasa, saya menghargai akting Ikang Fawzi sebagai Kyai Rais yang simpatik dan Andhika Pratama yang terasa pas sebagai arek Malang alias Fahmi. Donny Alamsyah dan Rangga Djoned terlepas dari minimnya porsi tetap memegang peranan penting di bagian awal dan akhir film terlebih saat memberikan inspirasi.
Adegan favorit saya tentu saja aksi panggung anak-anak kelas 2 pesantren Pondok Madani yang memukau dan inspiratif. Layaknya slogan “Man Jadda Wajada”, Negeri 5 Menara memang tidak mengajukan konsep impian yang terlalu muluk. Semua orang bisa mencapainya asalkan bersungguh-sungguh! Komitmen dan kerja keras jelas dibutuhkan untuk meraih standar kesuksesan yang diinginkan walaupun terkadang harus melampaui limitasi diri. Satu yang tak boleh terlupakan yaitu dukungan orang lain terutama keluarga, sahabat dan orang terdekat anda lah yang membuat semua itu tidak terlihat mustahil seperti yang ditunjukkan oleh Alif cs dengan lugas kali ini. Be sure to watch it!

Durasi:
119 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 26 Oktober 2011

THE PERFECT HOUSE : Guru Pengganti Rumah Sempurna

Quotes:
Madame Rita: Anda tidak kenal cucu saya, nak Julie..


Storyline:
Julie adalah seorang guru privat untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus termasuk Angie, anak autis yang mencapai tahap berhasil dibimbingnya. Sewaktu berniat cuti, Julie justru kedatangan Madame Rita yang memintanya menangani cucunya Januar. Guru lamanya, Lulu menghilang entah kemana. Akhirnya Julie menyanggupi untuk datang ke rumah megah nan klasik di daerah Puncak yang terpencil itu. Di antar asistennya Dwi, Julie kemudian harus membiasakan diri dengan interaksi tegang antara nenek dan cucu tersebut di samping perilaku aneh sang pembantu Yadi. Lama kelamaan, Julie semakin bersimpati dengan Januar yang cerdas itu. Ia merencanakan pelarian tanpa mengetahui rahasia apa yang sesungguhnya tersimpan di rumah tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh VL Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 25 Oktober 2011.

Cast:
Cathy Sharon sebagai Julie
Bella Esperance sebagai Madame Rita
Endy Arfian sebagai Januar
Mike Lucock sebagai Yadi
Wanda Nizar sebagai Dwi

Director:
Merupakan film keempat bagi Affandi Abdul Rachman yang diawali dengan Pencarian Terakhir di tahun 2008 dan menyusul satu judul setiap tahunnya kemudian.

Comment:
Pertama kali mendengar proyek ini di awal kuartal kedua tahun 2011, antusiasme saya merebak.Meskipun harus menunggu berbulan-bulan, produksi pertama VL Production ini harus melanglang buana terlebih dahulu hingga ke Puchon International Fantastic Film Festival di bulan Juni, akhirnya di penghujung kuartal ketiga pun dirilis juga. Kebetulan saya termasuk satu dari sedikit media yang beruntung mendapatkan kesempatan pertama menyaksikannya lewat screening khusus.
Trio penulis Alim Sudio, Affandi Abdul Rachman dan Vera Lasut menggarap sebuah thriller psikologis yang hanya memfokuskan diri pada kompleksitas 3 karakter utamanya saja di sebuah rumah kuno terpencil. Hal ini membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk memperkaya karakteristik secara. Premis yang sebetulnya terdengar lazim pun bisa disiasati dengan konstruksi konflik yang merambat secara perlahan dan sedikit membutuhkan kesabaran.

Kembalinya Bella ke ranah perfilman nasional disini terbilang gemilang. Peran Madame Rita dihidupkannya dengan meyakinkan lewat aksen Indo-Belanda yang tegas dan lantang. Ekspresi wajah dengan lirikan matanya pun konsisten di sepanjang film sebagai momok yang ditakuti. Sedangkan Cathy menjiwai peran Julie dengan baik, tokoh Ibu Guru yang lembut dan pelindung. Usahanya untuk mendobrak norma-norma yang berlaku di dalam rumah tersebut cukup memikat.
Penampilan si kecil Endy yang baru berusia 10 tahun juga patut diacungi jempol. Meskipun emosinya masih cenderung turun naik tapi kepolosan tingkah laku dan mata berbinar lugu Januar mampu menyihir penonton. Usaha Mike yang total mengandalkan bahasa tubuh menutupi fakta bahwa karakter Yadi sangatlah minim dialog. Apresiasi khusus pantas diberikan pada Wanda lewat peran minor Dwi yang secara mengejutkan meninggal dunia seminggu sebelum filmnya rilis nasional.

Sutradara Affandi berhasil bekerjasama dengan Faozan Rizal dan Benny Lauda untuk menjaga kesinambungan sinematografi indah dengan tata artistik dinamis lewat tampilan interior rumah yang bergaya lawas itu, sangat mendukung atmosfer yang ingin dibangun sebagai panggung bercerita. Sisi minor film ini mungkin ada pada editing beberapa adegan yang terasa diputus begitu saja, salah satu contoh saat Julie bersembunyi di kamar Madame Rita, tanpa penjelasan sekuensi lebih lanjut.
Saya berani katakan bahwa The Perfect House dapat dikatakan thriller lokal terbaik di sepanjang tahun 2011 yang banyak diisi oleh komedi horor. Kinerja berbagai departemen yang saling bersinergi mampu menghadirkan tontonan menarik yang sangat solid production valuenya. Kejutan twist di akhir cerita terbukti cukup “mengganggu” walau tidak akan asing bagi anda penyuka genre serupa, menutup rangkaian mimpi buruk konstan sepanjang satu setengah jam. Satu rumah berjuta cerita, siapkah anda memasukinya?

Durasi:
96 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 29 Oktober 2010

AKU ATAU DIA : Misi Kembali Ke Pelukan Mantan Pacar

Storyline:
Hubungan panjang Dafi dan Novi yang terjalin sejak kuliah menjadi kandas setelah Dafi memasuki dunia kerja. Tawaran partnership di law firm milik Amara tampaknya lebih menarik bagi Dafi apalagi Amara memberikan perhatian khusus padanya. Novi yang kecewa lantas menyewa jasa Heartbreak.Com yang dipimpin Mbak Eliza untuk memenangkan hati Dafi kembali. Tentunya Mbak Eliza tidak sendirian dan mengutus Rama untuk berpura-pura sebagai pacar Novi untuk mengusik perhatian Dafi. Semua berjalan lancar apalagi Novi juga dibantu saudara-saudaranya Pipit, Wawan dan Asep yang kompak. Namun akankah semua yang sudah rusak bisa dengan mudah diperbaiki?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh One Star Productions dan gala premierenya dilangsungkan di Djakarta Theatre tanggal 16 Oktober 2010 yang lalu.

Cast:
Fedi Nuril sebagai Rama
Julie Estelle sebagai Novi
Rizky Hanggono sebag
Terbitkan Entri
ai Dafi
Ringgo Agus Rahman sebagai Asep
Ananda Omesh sebagai Wawan
Aline Adita sebagai Amara
Sophie Navita sebagai Mbak Elza
Alex Abbad sebagai Felipe
Edo Borne
Lukman Sardi
Yama Carlos

Director:
Masih ditangani oleh Affandi Abdul Rachman yang juga menggarap prekuelnya Heartbreak.Com

Comment:
Akhir tahun lalu ada sebuah drama komedi romantis lokal yang nilainya di atas rata-rata meskipun plotnya tidak terlalu orisinil. Itulah Heart-break.com yang dibintangi Ramon dan Raihaanun pada waktu itu.
Nyaris setahun kemudian muncul sekuelnya yang ditulis Affandi bersama Nataya Bagya dengan background cerita yang kurang lebih sama. Bedanya kali ini pihak wanita yang merasa tersakiti dan membutuhkan jasa Heart-break.com tersebut. Dan Julie Estelle lah yang mendapat tugas tersebut dan sebagai leading lady ia berhasil membagi peran dipasangkan dengan siapapun di setiap scenenya. Lihat transformasi karakter Novi di awal cerita yang rapuh dan tak berdaya menjadi tegar dan rasional di akhir cerita. Demikian juga dengan Fedi yang sedikit memberikan aksen berbeda dari peran-peran biasanya, karakter Rama dibawakannya dengan spontanitas yang natural. Cukup lama absen dari layar lebar, Rizky juga menunjukkan kharisma tersendiri sebagai Davi yang labil dan bimbang menentukan pilihan antara cinta dan karirnya.
Apresiasi patut diberikan pada sutradara Affandi yang mampu menekankan karakterisasi tokoh-tokohnya dengan maksimal dan menegaskan porsi yang seimbang di antara mereka. Maka dari itu meski trio Julie-Rizky-Fedi yang menjadi sentral cerita, aktor-aktris lainnya berhasil mencuri perhatian di setiap scene yang dipercayakan. Lihat bagaimana kocaknya duet Omesh dan Ringgo yang bodoh tetapi setia saudara. Sebagai kru inti Heart-break.com trio Sophie-Edo-Lukman juga tergolong konsisten dengan gaya khas masing-masing.
Keseluruhan elemen yang bersinergi dengan pas itu menjadikan Aku Atau Dia sebuah sekuel yang tergarap baik dan mampu meneruskan rasa gemas dan haru yang sama dalam menyaksikannya. Kelemahan justru terasa pada unsur non teknis dimana sinematografi yang dihadirkan terasa kurang maksimal, lebih disebabkan pada pencahayaan dan pengadeganan yang tidak stabil. Belum lagi produk-produk sponsor yang hadir terlalu dominan sampai seakan menjadi warna utama film. Endingnya mungkin menyenangkan penonton tapi bagi saya masih menyimpan beberapa pertanyaan dasar yang seharusnya bisa dituntaskan dengan tepat. Bagaimana menurut pendapat anda?

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 04 Desember 2009

HEART-BREAK.COM : Menjadikan Patah Hati Menjadi Semangat Baru

Tagline:
Patah hati anda.. Bisnis bagi kita..

Cerita:
Hati berbunga-bunga Agus saat menyambangi kekasihnya Nayla yang baru pulang dari Australia setelah satu tahun berubah menjadi kekecewaan. Hal itu disebabkan karena Nayla memutuskannya secara sepihak dan lebih memilih Kevin. Sahabat Agus, Wawan dan pacarnya Raya bertekad menyembuhkan patah hati Agus dengan membawanya ke lembaga intelijen khusus, Heart-break.Com yang bergerak di bidang pemulihan patah hati dan dipimpin oleh Mbak Elza dengan dua agennya yaitu Ferdy dan Nadia. Usaha demi usaha pun dijalani Agus untuk mendapatkan Nayla kembali. Berhasilkah perjuangannya?

Gambar:
Gaya kontemporer diusung film ini mulai dari situasi kampus, warnet, rumah sampai gedung lembaga intelijen, Heart-break.Com yang beraksen minimalis.

Cast:
Terakhir tampil tambun dalam Romeo Juliet, Ramon Y Tungka berhasil kembali ke berat badan aslinya untuk memerankan karakter Agus yang aslinya periang menjadi sensitif karena patah hati.
Raihaanun yang pernah bermain dalam remake Badai Pasti Berlalu (2006) kali ini kebagian peran Nayla, gadis manis keras hati yang kadang tidak bisa membaca situasi.
Ananda Omesh dan Richa Novisha mendapat peran pembantu teman-teman Agus yang setia kawan. Sedangkan Sophie Navita dan Gary Iskak sebagai Mbak Elza dan Kevin, si pacar playboy.

Sutradara:
Pernah dipuji saat menangani film horor petualangan Pencarian Terakhir (2008), Affandi Abdul Rachman kembali lagi setelah menghilang cukup lama lewat genre drama romantis ini yang sesungguhnya bukan ide yang baru.

Comment:
Film yang diproduksi One Star Pictures ini bisa dibilang menjanjikan. Premis awalnya memang terkesan mencomot beberapa film Hollywood yang pernah menyajikan hal serupa. Namun untungnya hasil akhirnya membuktikan bisa berdiri sendiri dengan tetap setia pada identitas lokal. Beruntung juga Ramon dan Raihaanun mau ambil bagian disini karena kekhasan akting mereka bisa dibilang cukup di atas rata-rata sejak dahulu. Debut Ananda Omesh dengan celetukan dan mimik polosnya memberikan warna komedi yang berbeda. Sang sutradara muda yang punya potensi, Affandi juga berhasil memberikan porsi yang pas pada setiap karakter intinya sehingga hubungan satu sama lain terasa wajar dan masuk akal. Bukan berarti film ini tanpa kelemahan karena beberapa scene terasa diulur-ulur apalagi dengan pencahayaan dan setting yang terkadang monoton terutama pada kuarter kedua dan ketiga. Patah hati dan kekuatan cinta memang plot cerita yang tak ada habisnya untuk digali. Dan disini HEART-BREAK.COM membawakannya dengan lugas, jujur dan segar. Ohya, sedikit twist di ending juga menghindari klisenya romantika yang biasa diakhiri di bandara dengan peluk dan cium. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!