XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 08 Oktober 2013

FLU : Dramatically Massive Epidemic Korean Movie

Tagline:
Death goes viral

Nice-to-know:
Film berjudul asli Gamgi ini sudah tayang di Korea Selatan pada tanggal 14 Agustus 2013 yang lalu.

Cast:
Jang Hyuk sebagai Kang Ji-koo
Soo Ae sebagai Kim In-hae

Park Min-ah sebagai Mirre
Cha In-Pyo sebagai Presiden
Yoo Hae-jin sebagai Bae Kyung-ub
Lee Hee-joon sebagai Byung-ki
Lee
Sang-Yeob sebagai Byeong-woo

Jeon Kook-Hwan sebagai Ma Dong-seok

Director:
Merupakan f
eature film keenam bagi Kim Sung-su setelah Please Teach Me English (2003).

W For Words:
Masih membekas dalam ingatan akan wabah virus flu yang mematikan dalam Contagion (2011) atau World War Z (2013). Kini rumah produksi Korea, iLoveCinema dan iFilm Co.membuat versinya dimana hak distribusi dipegang langsung oleh CJ Entertainment. Beruntung publik Indonesia bisa menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex walaupun harus terlambat dua bulan. Sederetan aktor-aktris ternama negeri ginseng dikerahkan untuk menghidupkan suasana chaos. Tak heran jika wajah-wajah familiar akan anda temukan dalam film yang menghabiskan total bujet 9,9 juta won.

Sejumlah imigran gelap diselundupkan ke Bundang dekat Seoul. Virus flu H5N1 menewaskan semua kecuali Monssai yang menyebarkan ke seantero warga sipil di dekatnya akibat melarikan diri dari kakak beradik Byeong-woo dan Byeong-ki. Kontan wabah tersebut meluas hingga memaksa Presiden mengambil tindakan yaitu melakukan evakuasi untuk menghentikan penyebaran. Sementara itu dokter yang juga single mom, In-hae bertekad menyembuhkan anaknya Mirre yang tertular dengan bantuan petugas Tim Penyelamat baik budi, Jigu yang juga menaruh hati padanya.
Layaknya film Korea yang kerap menitikberatkan pada nilai-nilai keluarga, yang satu ini bukan pengecualian. Small units yaitu Jigu dan ibu anak In-hae dan Mirre membawa semangat itu, lengkap dengan melodrama episodiknya di paruh kedua sampai film berakhir. Teori konspirasi dari pihak-pihak berwenang dalam menangani wabah juga turut memperkaya konflik. In the end, it might only be the worst situation that happened in Bundang, small city with approx half million population. Namun nyatanya tetap mampu memberikan efek global yang dibutuhkan tanpa terkesan ambisius.

Sutradara Kim melakukan intertwining setiap porsi subplot nya dengan baik sehingga tidak kehilangan fokus. Terima kasih pada kerapian editing Nam Na-young dan kecermatan DOP Lee Mo-gae mengambil suasana kericuhan publik baik steady maupun handheld. Belum lagi kemegahan scoring music yang terbilang efektif menjaga tempo film yang berjalan lebih dari dua jam. Efek virus flu yang mengerikan mulai dari ruam kulit, batuk parah, semburan darah juga sukses membangun paranoia penonton, terlebih ancaman kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup kita.

Jang Hyuk yang biasanya bermain komedik kali ini mengusung jiwa patriotik yang meski terkesan berlebihan langsung membuat penonton berpihak padanya. Sebaliknya Su Ae yang insecure dan memegang kode etik kedokteran justru dihadapkan pada situasi yang menuntutnya berubah drastis. Si kecil Min-ha menampilkan akting lugu menggemaskan nan memikat dengan spontanitas dan high curiosity nya. Aksi heroik penuh wibawa dilakoni In-pyo sebagai Presiden yang mendapat tekanan internal, militer sekaligus pihak asing yang mulai mencampuri otoritasnya.

Flu adalah disaster movie dengan intensitas tinggi. Tak jarang esensi konfliknya begitu menekan anda hingga ke ulu hati termasuk perpanjangan klimaks menjelang ending. Atmosfirnya yang depresif juga secara konstan menyetir anda untuk bisa merasakan bagaimana jika berada dalam kondisi demikian. Berbagai informasi teknis dari segi medik ataupun sosial politik yang seharusnya kuat mendukung memang sedikit terabaikan. Toh semua itu tak menghalangi keberhasilan filmmaker Kim dalam menyuguhkan mass hysteria cause by epidemic. This horrible but logically expected under those circumstances sci-fi thriller will stuck in your mind for a while.

Durasi:
121 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 06 Oktober 2013

GRAVITY : Spectacular Space Survival Ride


Tagline:
Don't Let Go

Nice-to-know:
Penggarapan Gravity sempat terombang-ambing selama empat tahun karena perfeksionisme Cuarón yang menginginkan inovasi teknologi yang lebih tinggi lagi.

Cast:
Sandra Bullock sebagai Ryan Stone
George Clooney sebagai Matt Kowalski
Ed Harris sebagai Mission Control
Orto Ignatiussen sebagai Aningaaq
Paul Sharma sebagai Shariff
Amy Warren sebagai Explorer Captain


Director:
Merupakan f
ilm ke-16 bagi Alfonso Cuarón setelah feature terakhirnya Children of Men (2006).

W For Words:
Ayo tunjuk tangan siapa di antara anda yang waktu kecil sempat bercita-cita menjadi astronot ketika ditanya guru? Setelah dewasa mungkin sebagian besar diantaranya sudah mengurungkan niat tetapi masih berpikiran bahwa profesi astronot itu keren. Namun semua opini tersebut dijamin akan berubah seratus delapan puluh derajat selepas menyaksikan persembahan terbaru Warner Bros., Esperanto Filmoj dan Heyday Films ini. Tidak percaya? Buktikan saja. Saya rekomendasikan versi 3D, IMAX 3D atau bahkan 4DX untuk pengalaman sinematik yang lebih nyata. Worth the higher admission price!

Ahli medis Dr. Ryan Stone menjalani misi luar angkasa pertamanya bersama astronot kawakan Matt Kowalski yang berniat pensiun segera. Tugas yang semula tampak tenang dan sederhana itu berubah menjadi bencana ketika serpihan satelit Rusia menerjang stasiun mereka hingga hancur berantakan. Beruntung Matt sempat ‘mengikat’ Ryan sebelum terombang-ambing dalam kepanikan dimana cadangan oksigen nya kian menipis. Komunikasi dengan Houston yang terputus ditambah perjalanan jauh menuju statsiun terdekat membuat harapan hidup keduanya menjadi minim. 

Skrip yang dikerjakan oleh ayah dan anak Cuarón, Alfonso dan Jonás ini sepintas memang terkesan ‘ringan’ tanpa subplot. Murni interaksi antara kedua karakter utama yang berlawanan jenis tanpa tendensi seksual eksplisit dari awal sampai akhir. Demi menjaga tensi film maka dimaksimalkan berbagai macam elemen sebagai penguat cerita seperti persediaan oksigen yang hampir habis, kesigapan bergerak di hampa udara, kemampuan mengoperasikan mesin hingga keinginan kuat untuk bertahan hidup dalam rentang waktu yang demikian terbatas. 

Sebagai filmmaker handal, Alfonso jelas tahu betul bagaimana memvisualisasikan konsep yang ada di kepalanya. Setting stasiun dan kapal luar angkasa dibangun sedetail mungkin melampaui berbagai referensi yang sudah ada dari film sejenis. Pergerakan kamera yang smooth dari berbagai angle kinerja Emmanuel Lubezki juga sangat memikat. Bukan hanya mata, indera pendengaran anda pun dimanjakan dengan sound design yang apik mulai dari yang silent sampai menggelegar sekalipun. Sumbangsih scoring music nan grande dari composer Steven Price juga tak main-main. 

Besar kemungkinan Bullock akan dinominasikan kembali sebagai aktris terbaik di banyak ajang penghargaan film internasional tahun depan melalui performa primanya sebagai Stone. Lihat ekspresi wajah dan dengar intonasi suara saat ketakutan melanda tanpa harus menghilangkan sosok ilmuwan cerdas dan berkemauan keras. Tokoh Kowalski bisa jadi mengingatkan anda pada Chris Kelvin dalam Solaris (2002) yang sama-sama dimainkan Clooney. Gaya perayu flamboyan paruh baya yang dibawakannya di sini tergolong sah saja demi membangkitkan suasana rileks barang sejenak. Ada yang mengenali suara Harris sebagai Mission Control?

Tak dipungkiri, Gravity adalah obsesi tingkat tinggi sekaligus puncak prestasi seorang Cuarón sejauh ini. Sebuah tontonan sempurna yang mampu menstimulasi multi indera penonton secara efektif dari awal sampai akhir. Audiences will be emotionally challenged. Sebuah pengalaman sinematik kaya perspektif yang akan bertahan lama di dalam memori anda selepas meninggalkan bangku bioskop. Most of us could never imagined what it feels like being up there hopeless with fears around. That would be the key for success to gain cult status among survival thriller in years to come.

Durasi:
90 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 05 Oktober 2013

RUSH : Iconic Rivalry and Friendship On/Off The Track


Quote:
James Hunt: The closer you are to death, the more alive you feel. It’s a wonderful way to live. It’s the only way to drive.

Nice-to-know: 
Brühl and Hemsworth tidak diperkenankan mengendarai mobil Formula 1 sungguhan.

Cast:
Chris Hemsworth sebagai James Hunt
Daniel Brühl sebagai Niki Lauda
Olivia Wilde sebagai Suzy Miller
Alexandra Maria Lara sebagai Marlene Lauda
Pierfrancesco Favino sebagai Clay Regazzoni
David Calder sebagai Louis Stanley


Director:
Merupakan feature film ke
=22 bagi Ron Howard yang mengawalinya sejak Grand Theft Auto (1977).

W For Words:
Jika anda mencari referensi film ‘balap mobil’ terbaik sepanjang masa di internet, bisa jadi akan muncul dua judul yakni Grand Prix (1966) atau Winning (1969). Yes, it was very long time ago. Yang terbaru yang bisa saya sebutkan hanyalah produksi Perancis, Michel Vaillant (2003) atau Hollywood product, Speed Racer (2008) yang sebenarnya merupakan remake berjudul serupa di tahun 1967. Kali ini sutradara kondang yang juga seorang aktor, Ron Howard mengetengahkan “kisah nyata” bertemakan serupa dengan dua bintang yang kian bersinar namanya. 

Formula 1 di tahun 70an memang menawarkan kemudahan hidup bagi para pembalapnya terutama si tampan dari Inggris bernama James Hunt. Kapanpun dan dimanapun selalu menarik perhatian media dan wanita termasuk supermodel Suzy Miller yang akhirnya dinikahinya. Sang rival dari Austria, Niki Lauda sebaliknya lebih mengandalkan kerja keras dan perhitungan yang matang. Saat balapan maut di situasi yang kurang kondusif mengakibatkan kecelakaan, keduanya lantas harus jatuh bangun bukan hanya di arena tetapi dalam mengarungi hidup itu sendiri. 

Skrip yang ditulis Peter Morgan ini semenjak menit awal sudah menempatkan Lauda dan Hunt di ‘posisi’ masing-masing mulai dari karakteristik menyetir hingga gaya hidup mereka yang begitu bertolak belakang. Penonton seakan dibiarkan menjadi saksi untuk menentukan keberpihakan selama rentang waktu 6 tahun sekaligus mengenal para tokoh pendukung yang secara langsung ataupun tidak turut andil terhadap perjalanan hidup keduanya dalam merangkak naik ke mimbar juara lengkap dengan polemik tak berkesudahan di sepanjang prosesnya.


Brühl  pantas mendapat acungan jempol atas penampilan luar biasanya menyuguhkan aksen Austria yang kental termasuk bahasa tubuh yang begitu mendekati aslinya. Memang secara karakter, Lauda tergolong challenging dimana terjadi pergeseran psikologis yang signifikan sebelum dan sesudah kecelakaan. Hemsworth masih menokohkan stereotype womanizer yang fancy. Tokoh Hunt di tangannya terbukti lebih memiliki aura bintang walau dari tingkat kesulitan tidak terlalu bisa dibanggakan. As supporting characters, Wilde, Maria Lara, Dormer dan McKay jelas tak mengecewakan samasekali.
Sutradara Howard masih menggunakan konsep biopik yang tipikal dimana footage dari siaran televisi masih menjadi motor storytelling. Terlepas dari detail balapan seru dari satu sirkuit ke sirkuit lain yang minim porsinya, presentasi real life Hunt dan Lauda yang dramatis justru menjadi kekuatan utamanya. Toh teknis pengambilan gambar yang variatif tetap membuat anda merasakan atmosfir yang sesungguhnya. Pace film juga terbilang dinamis meskipun durasinya panjang. Kontribusi Hans Zimmer dalam ‘menghidupkan’ cerita melalui scoring music megahnya jelas tidak sedikit.

Rush sesuai dengan rating Dewasa yang disandangnya tetap menyisakan adegan-adegan miris yang akan membuat anda mengernyitkan kening. Varian lintasan dan tipe mobil yang disuguhkan memang menghadirkan sensasi istimewa terlepas dari unsur bahaya yang meliputinya. Bagi saya, emosionalitas persahabatan dan rivalitas yang sesungguhnya saling menguatkan dua legenda F1 ini sudah merupakan elemen kemenangan film tersendiri. But for all of us, seeing fearless instinct competing against analytical thinking while learning life lessons might be the strongest adrenaline rush ever.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$13,686,319 till September 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 28 September 2013

INSIDIOUS : CHAPTER 2 Lambert’s Horror Saga Goes Full Circle


Quote:
Young Elise Rainier: In my line of work things tend to happen when it gets dark.

Nice-to-know:
Ketika Specs dan Tucker memasuki rumah Elise, terdapat lukisan African Tribal tergantung di dinding. Sama persis dengan yang ada di kamar Daniel dan rumah nenek di Paranormal Activity 2 dan 3.

Cast:
Patrick Wilson sebagai Josh Lambert
Rose Byrne sebagai Renai Lambert
Ty Simpkins sebagai Dalton Lambert
Lin Shaye sebagai Elise Rainier
Barbara Hershey sebagai Lorraine Lambert
Steve Coulter sebagai Carl
Leigh Whannell sebagai Specs
Angus Sampson sebagai Tucker


Director:
Merupakan feature film ketujuh bagi James Wan yang memulainya lewat Stygian (2000).

W For Words:
Masih segar dalam ingatan bagaimana The Conjuring sukses menakuti jutaan penonton Indonesia dua bulan lalu. Film yang kemudian menjadi summer hit dimana-mana bahkan dinobatkan sebagai salah satu horor terbaik sepanjang masa. Berlebihan? Tidak. We all know the mastermind behind it. None other than the talented James Wan. Pria kelahiran Malaysia tersebut, bahkan sebelum dua filmnya di tahun 2013 beredar, sudah menyatakan cukup dengan genre yang satu ini. Kabar yang tidak menggembirakan mengingat tak banyak sutradara yang ahli sepertinya. Namun keputusan tersebut dirasa masuk akal, terlebih semua trik miliknya mungkin sudah dikeluarkan, dimana anda akan mulai terbiasa dibuatnya. His bag of tricks might be empty after this! Let him fastforward to FF7 then.

Kematian misterius cenayang Elise Rainier membuat polisi mencurigai Josh Lambert sebagai pelakunya meski sang istri Renai membela habis-habisan. Mereka sepakat mengungsi ke rumah masa kecil demi suasana baru bersama sepasang putra Dalton-Jordan dan bayi mereka Cali. Lambat laun kelakuan Josh mulai aneh, bersamaan dengan teror supernatural yang menghampiri Renai. Ibu Josh, Lorraine lantas menghubungi rekan lama Elise, Carl untuk menguak misteri masa lalu dengan bantuan dua asisten Elise, Specs dan Tucker di sebuah rumah sakit tua sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Dua tahun lalu Insidious menggebrak dengan horor psikologis yang memperkenalkan proyeksi astral. Penulis Whannell dan Wan langsung melanjutkan kejadian dari ending tersebut hingga membentuk satu kesatuan utuh. Klausa sebab akibat dijelaskan melalui dua plot yang berjalan bersisian. Beruntung mereka tidak terang-terangan mendikte logika penonton saat melakukannya. Nalar kita tetap dibiarkan bebas berasumsi sekaligus menganalisa di sepanjang prosesnya. Tidak sulit bagi anda yang memiliki banyak referensi dari puluhan (bahkan ratusan) horror/thriller sebelumnya.

Wilson dan Byrne yang pada prekuelnya mendapat karakter 'linier' kali ini berkesempatan lebih untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka. Shaye yang sebenarnya digambarkan sudah tiada justru masih memegang peranan kunci di sini. Begitupun Hershey yang harus menggunakan ingatan masa lampaunya untuk menarik benang merah dari semua kutukan yang menimpa. Duet pinpinbo Whannell dan Sampson memang berfungsi mencairkan suasana mencekam dengan aksi komedi mereka di beberapa bagian. Si kecil Simpkins yang sebelumnya menjadi sentral cerita di sini kebagian porsi yang minim tapi memorable, terlebih di bagian ber'telepon'. Penampilan Fitzpatrick dan Bisutti terbilang tidak mengecewakan walaupun harus terbantu dengan tim make-up dan wardrobe.
Sutradara Wan memang mahir menerapkan slogan, "It comes when least expected." Adegan-adegan yang dijamin membuat anda terpekik atau terlompat dari kursi. Setting rumah masa kecil Josh yang dominan warna lampu merah kuning temaram dengan ruang yang saling terhubung sudah cukup efisien sebagai panggung bercerita, ditambah lagi dengan rumah sakit terbengkalai yang menyimpan banyak misteri gelap. Konsep ruang dan waktu yang saling bertubrukan mungkin akan menjadi pertanyaan anda. Sah-sah saja mengingat selalu ada 'pintu' psikologis yang bisa menjungkirbalikan seluruh peristiwa. Scoring music dari Joseph Bishara kian memperkuat nuansa creepy yang dibangun. Judul ber font merah dan sound yang mendirikan bulu kuduk yang mengiringinya bahkan masih dipertahankan.

Insidious Chapter 2 terlepas dari pergeseran genre menjadi psychological thriller yang justru lebih menonjolkan kekerasan fisik tetap memikat sebagai tontonan yang tak boleh dilewatkan. Uniknya bagi saya yang beragama Buddha, premis film ini sangat kental dengan hukum karma dan hypnotherapy yang belakangan kerap dibahas. Bagaimana seseorang melacak masa lalunya untuk memperbaiki apa yang salah. Bagaimana karma seseorang bisa mempengaruhi karma orang lain. Tak ada pengulangan formula yang biasanya jadi stereotype sebuah sekuel. It will come in full circle. Another benchmark in Wan's young career that should be fully appreciated. It’s not only about haunted house but keeping what you love most before taken away.

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$69,349,509 till September 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 15 September 2013

GROWN UPS 2 : Wasting Time Going Nowhere


Tagline:
Just because they're a little older doesn't mean they've grown up.

Nice-to-know:
Merupakan film sekuel pertama bagi Adam Sandler.

Cast:
Adam Sandler sebagai Lenny Feder
Kevin James sebagai Eric Lamonsoff
Chris Rock sebagai Kurt McKenzie
David Spade sebagai Marcus Higgins
Salma Hayek sebagai Roxanne Chase-Feder
Maya Rudolph sebagai Deanne McKenzie
Maria Bello sebagai Sally Lamonsoff

Director:
Dennis Dugan yang juga dikenal sebagai aktor ini bekerjasama untuk kesekiankalinya dengan Adam Sandler setelah terakhir Jack & Jill (2011).

W For Words:
Bertambah umur tidak selalu menjadikan seseorang lebih dewasa. Coba tanyakan empat sekawan Lenny Feder, Eric Lamonsoff, Kurt McKenzie dan Marcus Higgins yang memulai isu tersebut lewat Grown Ups (2010) yang pada akhirnya sukses meraup pendapatan dua kali lipat biaya produksinya untuk peredaran Amerika Serikat saja. Columbia Pictures dan Happy Madison Productions kali ini menggandeng Sony Pictures Entertainment untuk melanjutkan petualangan pria-pria dewasa tersebut. Permasalahannya apakah satu film dirasa belum cukup dalam menyampaikan esensinya?

Lenny memindahkan keluarganya ke lingkungan tempat tinggalnya dulu dimana ia tumbuh bersama Eric, Kurt dan Marcus. Tentu saja semua tak lagi sama. Lenny terus-terusan ditodong istrinya Roxanne untuk mempunyai bayi lagi, Eric yang selalu mempermasalahkan berat badannya, Kurt yang khawatir putrinya mulai berkencan, Marcus ternyata memiliki seorang putra Braden yang tubuhnya jauh lebih besar. Suasana yang semestinya hangat mulai tak terkendali ketika musuh dan cinta lama Lenny kembali, bersama ratusan anak lelaki asrama yang ingin membuat perhitungan dengan mereka.

Skrip yang masih ditangani oleh Fred Wolf dan Adam Sandler sendiri dengan tambahan Tim Herlihy ini mungkin tak seharusnya ditulis. Entah mengapa fokusnya menjadi kabur, penokohannya melenceng jauh sehingga yang tersisa hanyalah repetitive jokes yang lebih banyak miss daripada hit. Sebagian besar di antaranya keluar dari mulut Lenny (Sandler) yang kerap melecehkan orang-orang di sekitarnya. Permasalahan antar teman, suami-istri, orangtua-anak tanpa garis batas ini kian diperburuk dengan masuknya tokoh-tokoh baru yang fungsi sebenarnya menutupi kelemahan plot saja.

Dugan memang sudah berkali-kali bekerjasama dengan Sandler di genre yang paling dikuasainya ini. Sayangnya kolaborasi mereka tampaknya harus segera ditinjau ulang di kemudian hari karena kualitas yang semakin memudar, see their latest work Jack and Jill (2011) for example. Humor yang terlalu menjurus seksualitas mulai dari bikini hingga masturbasi ini selayaknya dipertanyakan mengingat identitasnya adalah film keluarga dengan segmentasi remaja pada khususnya. Nyaris tidak ada garis lurus yang bisa ditarik dari satu babak ke babak lainnya. Semua terasa dipaksakan memenuhi durasi.

Kemunculan muka-muka baru yang sesungguhnya memiliki nama malah dipertanyakan motifnya. Lihat bagaimana mengganggunya Meadows dan keluarga yang berulang kali mengatakan ‘What?’ dengan pitch meninggi. Swardson sebagai pengemudi ‘beler’, Ludwig sebagai putra tak diinginkan, Austin sebagai seteru masa kecil Lenny, Penny sebagai mantan love interest Lenny, Hudson sebagai instruktur gay dan lain-lain seharusnya memberi kedalaman konflik tapi terlalu sedikit screentime bagi mereka untuk berbuat lebih. Entah apa yang dipikirkan Lautner, Ventimiglia atau Schwarzenegger Jr. dalam menerima peran frat ‘annoying’ boys.

Bagi saya Grown Ups 2 adalah proyek percobaan. Percobaan mengulangi kelarisan prekuelnya. Percobaan memperpanjang isu tanpa formula yang laik. Percobaan menampilkan puluhan (bahkan mungkin ratusan) aktor-aktris tenar dalam satu film. Percobaan memaksimalkan humor basi yang bagaikan kompilasi dari film-film komedi sebelumnya. Semuanya itu berujung pada satu kondisi yaitu gagal alias failure! This movie won’t do any benefit for everybody’s resume except their own wallet for sure. Sandler in particular, you’ve got to grow up and move forward!

Durasi:
101 menit

U.S. Box Office:
$130,648,721 till September 2013

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 14 September 2013

KICK-ASS 2 : Kicking Lower But Still Ass-tonishing


Quote:
Dave Lizewski: What's the matter, Chris? Shit hit your shorts?
Chris D'Amico: Yeah, and I'm gonna wipe my ass with your face.

Nice-to-know:
Jim Carrey membawa propertinya sendiri sebagai referensi seperti buku komik versi Colonel Stars dan Stripes.

Cast:
Aaron Taylor-Johnson sebagai Dave Lizewski / Kick-Ass
Chloë Grace Moretz sebagai Mindy Macready / Hit-Girl
Christopher Mintz-Plasse sebagai Chris D'Amico / The Motherfucker
Jim Carrey sebagai Colonel Stars and Stripes
Robert Emms sebagai
Insect Man
Lindy Booth sebagai Night Bitch
Morris Chestnut sebagai Detective Marcus Williams
Claudia Lee sebagai Brooke
Amy Anzel sebagai Mrs. Zane
Clark Duke sebagai Marty / Battle Guy
Augustus Prew sebagai Todd / Ass Kicker

Director:
Merupakan
feature film ketiga bagi Jeff Wadlow setelah Never Back Down (2008).

W For Words:
Who loves the underdog? Raise your hands so I can count. Okay, me too! Itulah sebabnya Kick-Ass (2010) mampu mencatatkan diri sebagai salah satu cult movies karena konten mengejutkan yang tidak disangka-sangka oleh moviegoersdi belahan dunia manapun. Terlepas dari perolehan domestic box-office yang tidak sampai boomingtapi tetap menguntungkan karena bujetnya yang tak seberapa, Marv Films dan Plan B Entertainment kelewat percaya diri untuk melanjutkan sekuelnya, apalagi lantas mendapat dukungan dari Universal Pictures. Hell yeah! We’re dying to see another adventures of Kick-Ass and of course Hit-Girl.
Kehadiran Kick-Ass menginspirasi lahirnya ‘pahlawan biasa’ lainnya termasuk Colonel Stars and Stripes yang membentuk perkumpulan Justice Forever yang berangggotakan Doctor Gravity, Night Bitch, Insect Man dan pasutri Remembering Tommy. Bergabungnya Kick-Ass dikarenakan Hit-Girl memutuskan pensiun demi memenuhi janji pada almarhum ayahnya Big Daddy. Sementara itu putra Red Mist yaitu Chris D’Amico mengubah identitasnya menjadi The Motherfucker dan menggunakan kekayaannya untuk merekrut berbagai penjahat berbahaya demi menguasai dunia sekaligus membalas dendam.

Tugas yang berat diemban Jeff Wadlow yang kali ini memegang tampuk penulis skrip dan sutradara sekaligus, berusaha menyamai pencapaian Matthew Vaughn sebelumnya, berdasarkan komik karya Mark Millar dan John Romita Jr. Usahanya patut kita apresiasi karena berhasil menempatkan tiga karakter utamanya yaitu Dave, Mindy dan Chris dalam dunia nyata dan juga dunia di balik topeng lengkap dengan segala kroniknya. Banyaknya karakter baru hitam putih yang masuk justru semakin memperkaya tanpa harus mengganggu plot utama secara keseluruhan.
Namun harus diakui storytelling yang dilakukan Wadlow sebagai sutradara tidaklah sekuat Vaughn termasuk dalam membangun dunia modern nan realistis. Penonton bisa dengan mudah menerka proses dari A ke B di sepanjang durasinya.Beruntung konsistensi drama dan aksi terjaga lewat balutan komedi satir yang kerap menyentil di sana-sini. Dialog one-liners nya memang tak setajam dulu tapi masih efektif menegaskan kemana kita harus berpihak. Spesial efek yang digunakan, terutama dalam pertarungan pamungkas, terbilang cukup maksimal mengingat bujet produksi yang tidak terlalu besar.

Menarik melihat duo protagonistkita yang berkembang dewasa termasuk mulai berkencan. Taylor-Johnson masih mengusung imej geeky nya, Grace Moretz juga dengan penampilan average girl nya. Anda dijamin terpukau saat adegan Dave berlatih pull-up mempertontonkan sexy abs nya atau Mindy bertransfomasi sebagai ‘it girl’ di sekolah. Keduanya membangun chemistry dengan baik walau tidak selalu berbagi layar. Lihat bagaimana sisi emosional mereka tergali ketika harus memegang teguh janji masing-masing terhadap orang-orang terdekatnya.
Mintz-Plasse dengan gemilang melanjutkan mimpi buruk anda sebagai spoiled rich brat. Chestnut bermain ganda sebagai ‘pengasuh’ Mindy sekaligus abdi hukum yang cukup berpengaruh di kota. Peran Mr. Lizewski yang dilakoni M. Brown sekilas mengingatkan kita akan Uncle Ben bagi seorang Peter Parker, sama halnya Lee terhadap McAdams dalam Mean Girls (2004). At one particular scene, i do imagine Mindy would became Carrie as well! Dari deretan tokoh baru favorit saya adalah Night Bitch dan Mother Russia yang masing-masing dimainkan secara pas oleh Booth dan Kurkulina. On top of that, Carrey lumayan berhasil melepaskan stereotype lewat penokohan memorable Colonel Stars and Stripes.

Kick-Ass 2 memang terbilang setia pada pakem superhero movies yang sudah-sudah. Bedanya adalah posisi ‘kalah’ justru ditempatkan di pertengahan menjelang akhir. Tujuannya jelas menghindari tipikalitas yang biasa diusung DC atau Marvel. Toh pada akhirnya kebaikan tetap akan unggul dari kejahatan. Final fight yang disuguhkan Kick-Ass and Hit-Girl setidaknya berhasil mengalihkan perhatian penonton dari degradasi kualitas sekuel secara keseluruhan. Those regular superheroes definitely represent us best especially when it comes to self-acceptance about who we truly are.

Durasi:
103 menit

U.S. Box Office:
$28,094,560 till September 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 07 September 2013

THE INTERNSHIP : When Nooglers Got Something To Prove


Quote:
Billy McMahon: So, we say 'no' to love?
Mr. Chetty: Yes, we say 'no' to love.

Nice-to-know:
Co-founder Google, Sergey Brin terlihat mengendarai sepeda saat adegan kedatangan di Google headquarters dan juga ketika menyelamati Billy dan Nick di akhir film.

Cast:
Vince Vaughn sebagai Billy McMahon
Owen Wilson sebagai Nick Campbell
Rose Byrne sebagai Dana
Aasif Mandvi sebagai Mr. Chetty
Max Minghella sebagai Graham Hawtrey
Josh Brener sebagai Lyle
Dylan O'Brien sebagai Stuart
Tiya Sircar sebagai Neha
Tobit Raphael sebagai Yo-Yo Santos

Director:
Merupakan
film ke-30 bagi Shawn Levy yang memulainya lewat beberapa serial televisi.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal GOOGLE di masa sekarang? Nyaris semua orang mengaksesnya untuk mendapatkan informasi apapun kapanpun dimanapun. Yang jelas kreatornya, Larry Page dan Sergey Brin telah mengubah peta informasi dunia dimulai pada tahun 1998 saat keduanya masih duduk di Universitas Stanford. Kini Twentieth Century Fox memang tidak bercerita mengenai sepak terjang mereka melalui produksi terbarunya ini, melainkan kiprah sekumpulan mahasiswa/i pilihan yang magang di sana dalam menjalani serangkaian tes sebagai bahan pertimbangan utama. 

Dua sales ahli,
Billy dan Nick semakin kesulitan melakukan penjualan karena orang lebih memilih teknologi digital dalam bertransaksi. Putus asa, mereka nekad melamar ke Google sebagai tenaga magang terlepas dari usia yang tidak muda lagi. Surat panggilan kemudian menempatkan keduanya di antara siswa-siswi cerdas dari berbagai penjuru termasuk Graham yang sombong dan ambisius. Pengalaman tinggi Nick dan Billy menjadi aset terbaik yang dimiliki kelompok pecundang yang beranggotakan Lyle, Stuart, Neha, Yo-Yo yang semula dianggap sebelah mata.

Vince Vaughn telah meniti karir panjang di Hollywood sebagai aktor, sebagian besar di antaranya bergenre komedi. Kali ini ia bertindak pula sebagai produser dan pemilik ide cerita yang lantas dituangkan ke dalam skrip bersama Jared Stern. Harus diakui multitasking nya terbilang berani dimana kreatifitas dipertaruhkan di atas segala-galanya. Isu-isu kontradiktif abadi seperti kuno versus modern dan senior versus junior kemudian dikombinasikan sedemikian rupa sebelum dilebur dengan konsep zero to hero demi untuk menggaet minat penonton. Though nothing new, I guess it still works charm.


Kekompakan Vaughn dan Wilson memang semula menjadi daya tarik utama dimana keduanya saling mengisi sebagai Billy dan Nick yang kali ini membutuhkan sedikit waktu sebelum membuat anda benar-benar ‘berpihak’ pada mereka.  Namun seiring durasi bergulir, perhatian penonton akan tertuju pada new kids on the block alias aktor-aktris muda tanpa nama seperti Minghella, Brener, O’Brien, Sircar, Raphael dengan varian karakteristik masing-masing. Tentunya jangan lupakan penampilan kaku Mandvi sebagai ketua training atau si cantik Byrne yang terlihat begitu fresh sebagai Dana. 

Sutradara Levy menghandle brand yang sudah demikian global dengan begitu hati-hati. Penggunaan narasi cepat memang tak jarang meninggalkan beberapa subplot yang tidak sampai terakomodir fungsinya tapi terbukti berhasil mempertahankan dinamismenya. Penataan setting Googleplex sebagai tempat belajar, bermain sekaligus bekerja pun dimaksimalkan sedemikian rupa untuk memicu faktor “wow” tanpa harus mengabaikan korelasinya sebagai panggung bertutur yang memikat. Keseimbangan unsur drama dan komedi juga dijaga di tengah pesatnya perkembangan internet di berbagai kalangan masyarakat. 

On top of that, The Internship masih mengandalkan formula baku sehingga tergolong predictable dari menit ke-1 sampai ke-119. Namun tetap tak menghalanginya menjadi tontonan menyenangkan, terlebih closing finale nya yang cukup memorable itu. Tak ayal pesan kehidupan nya sukses tersampaikan tanpa kesan menggurui. Yes, we should work to achieve something but don’t forget to live to the fullest especially maintain our own relationships with others. At least this comedy drama got heart to feel and those underdog Nooglers definitely had something to say.

Durasi:
119 menit

U.S. Box Office:
$44,665,963 till September 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 01 September 2013

R.I.P.D. : Restless Cops Keeping Peace Tryouts

Quote:
Roy Pulsipher: Damn. I don't know what eyes to shoot you between.

Nice-to-know:
Di Amerika Serikat dan negara lainnya, film ini dirilis pada tanggal yang sama dengan Red 2, sekuel Red yang ditangani Robert Schwentke dengan bintang Mary-Louise Parker. Juga dua hari setelah Turbo yang disulihsuarakan oleh Ryan Reynolds.

Cast:
Jeff Bridges sebagai Roy
Ryan Reynolds sebagai Nick
Kevin Bacon sebagai Hayes
Mary-Louise Parker sebagai Proctor
Stephanie Szostak sebagai Julia
James Hong sebagai Nick's Avatar
Marisa Miller sebagai
Roy's Avatar

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Robert Schwentke setelah RED (2010).

W For Words:
Buddy cop movies mungkin sudah biasa dalam persepsi anda. Bagaimana jika mereka hantu? I bet most of you might think for hours to recall similar themes you’ve seen before. Got it? No? Okay forgiven! Dead Heat di tahun 1988 dimana sutradara Mark Goldblatt memasangkan Treat Williams dan Joe Piscopo adalah satu dari sedikit judul di antaranya. Entah mengapa saya sendiri justru langsung teringat akan franchise Ghostbusters yang sudah menjadi teman setia sepulang sekolah dulu. Yes, I’m 80’s generation. Proud and will always be.

Bertekad menyerahkan emas temuan saat menggerebek sarang kriminal, polisi jujur Nick malah terbunuh dalam tugas. Rohnya sampai di hadapan Proctor yang menawarkannya sebuah posisi di Departemen Rest In Peace dimana pemberantas kejahatan yang telah meninggal bekerja menjaga perdamaian di muka bumi dari ancaman monster. Nick yang tidak memiliki pilihan kemudian dipasangkan dengan Roy, petugas senior nan eksentrik yang selalu punya cara sendiri. Kerjasama unik pun terjalin dimana Nick malah mendapat kesempatan untuk mencari pembunuhnya.
Adaptasi komik serial Dark Horse milik Peter M. Lenkov ini ditranskripsi oleh Phil Hay dan Matt Manfredi ke dalam bentuk skenario. Benang merah yang digunakan memang nyaris serupa dengan trilogy Men In Black (1997-2012) dimana ketidakcocokan Nick dan Roy dieksploitasi sedemikian rupa di awal cerita. Ide yang cukup orisinil adalah wujud asli dunia nyata Nick dan Roy yang begitu kontradiktif meski terkadang physical jokes yang repetitif ini tak jarang mengganggu. Sedangkan kelemahan yang paling mendasar adalah tidak adanya perbedaan prosedural ‘above universe’ yang semestinya bisa digali lebih jauh lagi.

Aktor aktris yang terlibat di sini sudah mengalami limitasi karakter sehingga terasa begitu satu dimensi. Humor yang dilontarkan terbilang hit and miss, sebagian besar terlalu karikatural. Bridges masih mengandalkan gaya lawasnya lengkap dengan suara sengau dan sorot mata tajamnya. Reynolds berupaya semaksimal mungkin menampilkan perjalanan emosi dari hidup hingga mati. Chemistry keduanya tergolong asyik terlepas dari keterbatasan di sana-sini. Parker juga masih mencuri perhatian dalam kerjasama keduanya berturut-turut dengan sang sutradara.
Overall, Sutradara Schwentke berupaya mengalihkan perhatian penonton dari faktor skrip yang kurang solid dengan memfokuskan diri pada dynamic duo Bridges-Reynolds dan sekuens aksi cepat dari satu titik ke titik lain. Sayangnya benang merah film tak dipungkiri memang membutuhkan polesan CGI yang mumpuni. Aspek lain lagi yang juga gagal ditampilkan karena teknologi yang digunakan kurang kekinian. Bahkan 3D nya tak membantu. Monsternya tak jauh beda dengan apa yang diburu oleh Ghostbusters sehingga gagal memukau penonton dewasa yang sudah kian terbiasa menikmati sajian mutakhir. 

R.I.P.D. mungkin masih bisa dihargai dalam usahanya menghibur penonton lewat materi yang begitu terbatas, mostly helped by Nick-Roy’s mishmash combination and Schwentke’s practical approach. Selebihnya adalah presentasi setengah jadi yang menyisakan begitu banyak lubang menganga di sana-sini. Twist di penghujung film pun rasanya tidak mengejutkan lagi. Moviegoers might find it quite (at least) suitable for one hour and a half entertainment but in the end should agree that those undead probably better rest in peace rather than get wrong tryouts.

Durasi:
96 menit

U.S. Box Office:
$33,284,630 till September 2013

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 24 Agustus 2013

PERCY JACKSON : SEA OF MONSTERS Swept Away Those Previous Charms


Quote:
Annabeth: It's a Chariot of Damnation.
Grover: Looks like a New York City cab.
Annabeth: Same difference.

Nice-to-know:
Meskipun fakta film ini disyuting dengan kamera Super 35, pernyataan "Filmed in Panavision" masih tertera di kredit akhir.

Cast:
Logan Lerman sebagai Percy Jackson
Alexandra Daddario sebagai Annabeth
Douglas Smith sebagai Tyson
Leven Rambin sebagai Clarisse
Brandon T. Jackson sebagai Grover
Jake Abel sebagai Luke
Anthony Head sebagai Chiron
Stanley Tucci sebagai Mr. D


Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Thor Freudenthal setelah Diary of a Wimpy Kid (2010).

W For Words:
Jika sebuah franchise fiksi laris semacam Percy Jackson & the Olympians karya Rick Riordan sudah menelurkan adaptasi layar lebar pertamanya di tahun 2010 lalu yang berkualitas standar, maka pilihan ada di tangan anda untuk tetap mengikuti sekuelnya atau berhenti begitu saja. Namun yang jelas kolaborasi Fox 2000 Pictures, 1492 Pictures, Sunswept Entertainment dan lain-lain masih tetap percaya diri untuk merilisnya di akhir musim panas tahun 2013 ini. Tentunya masih dengan dukungan aktor-aktris yang sama meski terjadi pergantian di tampuk sutradara dari sebelumnya Chris Columbus.

Kepopuleran Percy Jackson perlahan merosot digantikan oleh putri Ares, Clarisse yang cantik dan cekatan. Saat camp Half-Blood diserang Colchis Bulls, Percy berhasil menaklukkannya. Sayang pohon Thalia yang menjadi pertahanan mereka tumbang. Tugas Percy bersama dua sobat karibnya Annabeth dan Grover beserta saudaranya si mata satu Tyson bertekad mencari Golden Fleece meskipun harus bersaing dengan Luke Castellan dan kawanannya yang berniat membangkitkan Kronos. Misi mengarungi Segitiga Bermuda yang misterius dan berbahaya pun dimulai.

Skrip yang ditulis oleh Marc Guggenheim ini memang terasa mengecilkan ‘skala’ dari apa yang sebelumnya dikerjakan oleh Craig Titley. Bukan hanya itu, mitologi Yunani yang kental di prekuelnya memang terasa mengalami deviasi. Tidak sepenuhnya salah karena Riordan sendiri lebih memfokuskan diri pada masa remaja Percy yang naik turun termasuk menghadapi persaingan ataupun penerimaan kenyataan yang amat bergantung pada tingkat kedewasaannya. Ia pun lebih dituntut menggunakan instingnya saat berjuang sendiri tanpa mengandalkan embel-embel yang mengikuti namanya. 

Kinerja Freudenthal secara keseluruhan harus diakui tampak lebih memihak anak-anak dan remaja dibandingkan penonton dewasa. Efek CGI nya cukup memukau, menjadi nilai plus bagi penonton yang berkesempatan menyaksikannya dalam format 3D (atau bahkan 4DX yang teaternya baru dibuka di Blitzmegaplex Grand Indonesia). Variasi setting yang sebetulnya megah dan detil tersebut seakan sia-sia karena babak demi babak bergulir nyaris tanpa kesan berarti. Kepedulian penonton untuk mau mengenal apalagi mengikuti perjalanan para tokohnya dari awal sampai akhir menjadi minim.
Seperti fungsi karakternya dalam episode ini, Lerman menokohkan Percy lebih dari sisi dramatiknya menghadapi situasi-situasi tak terduga daripada heroiknya. Daddario dan Jackson terkesan terlalu karikatural sebagai supporting act. Sangat predictable. Sama halnya dengan Abel sebagai antagonis mudanya. Munculnya muka baru Rambin dan Smith tergolong menyegarkan walau tak ada pendalaman signifikan selain penekanan dua konflik utama yang saya sebutkan di atas. Fillion, Head ataupun Tucci yang lebih senior juga cuma mendapat screentime yang terbatas.

Percy Jackson : Sea of Monsters jelas bukan seri perbaikan, menyebabkan franchise ini berada pada lifeline yang kritis untuk diteruskan di masa mendatang. Namun yang jelas perolehan dollar secara domestik dan internasional akan lebih menentukan nasib The Titan’s Curse. Sementara itu simaklah terlebih dahulu berbagai elemen yang sengaja dibangun sebagai jembatan bagi seorang Percy Jackson meretas takdirnya sebagai putra Poseidon. Some one-liners and few familiar twists along the way might still worked to keep you excited or even completely swept away under two hours long.

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$48,346,000 till August 2013

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 17 Agustus 2013

ELYSIUM : Pretentious Sci-fi That Stimulates Our Imagination

Quote:
Max Da Costa: I promise you, one day I'll take you to Elysium.

Nice-to-know:
Bersetting waktu 2154 AD, seperti halnya Avatar (2009).

Cast:
Matt Damon sebagai Max
Jodie Foster sebagai Delacourt
Sharlto Copley sebagai Kruger
Alice Braga sebagai Frey
Diego Luna sebagai Julio
Wagner Moura sebagai Spider
William Fichtner sebagai John Carlyle

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Neill Blomkamp setelah District 9 (2009).

W For Words:
Pada tahun 2009 yang lalu, Neill Blomkamp sukses mengangkat namanya sendiri lewat action sci-fi thriller District 9 yang meraup lebih dari seratus juta dollar untuk peredaran Amerika Serikat saja, terlepas dari bujet produksi yang hanya mencapai sepertiganya. Empat tahun kemudian ia kembali dengan genre serupa yang lebih menekankan sisi dramanya dengan setting yang jauh lebih futuristik. Salah satu aktor utamanya yakni Sharlto Copley dipertahankan meski bagi publik internasional jelas lebih tertarik pada nama besar Matt Damon dan Jodie Foster. I bet you too!

Tahun 2154, Bumi nyaris hancur dimana tinggal kaum miskin dan terpinggirkan yang tinggal di sana. Sedangkan golongan menengah ke atas hidup nyaman di Elysium dengan teknologi canggih yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit. Adalah Max de Costa, pekerja tambang tanpa sengaja terkena radiasi yang akan segera merenggut nyawanya. Ia bergabung dengan gang lokal demi mendapatkan akses ke Elysium dimana pejabat Departemen Pertahanan, Delacourt berkuasa atas bantuan agen kejam, Kruger. Sementara itu sahabat kecil Max, Frey juga bertekad menyembuhkan putrinya, Matilda yang didiagnosa mengidap kanker ganas.
Harus diakui skrip yang ditulis Blomkamp ini terlalu pretensius. Aspek dunia masa depan yang kompleks tidak sepenuhnya terjamah karena begitu banyak yang ingin disampaikan mulai dari cinta, pengkhianatan hingga konfrontasi. Pendekatan storytelling yang naratif berupaya dilakukan untuk memangkas detail tapi harus diakui tak sepenuhnya berhasil. Paruh pertama sibuk mengenalkan diferensiasi dua ‘planet’ sedangkan paruh kedua malah menghadirkan perebutan kekuasaan. Final act yang mengarah pada action juga terasa sedikit dipaksakan dalam waktu yang begitu minim.

Sebagai sutradara, Blomkamp melakukan upaya terbaiknya dengan ide inovatif dan kreatifitas tinggi seperti yang ditunjukkannya dalam District 9. Sayang ruang bermain dan juga ambisi yang berbeda tidak lagi sama hasilnya. Presentasi kondisi “2154” yang amat nyata dan kontradiksi jauh di atas rata-rata sci-fi sejenis dengan penggunaan spesial efek yang cukup belieavable. That’s why seeing it in IMAX version would be recommended. Dari sekuens fighting memang sedikit kedodoran karena minimnya senjata canggih ataupun jurus one-on-one yang memadai.
Copley lagi-lagi outstanding meski diberikan karakter antagonis. Setiap kemunculan Kruger di layar mampu menaikkan level film dengan tindak tanduknya yang brutal dan sifat anarkisnya. Damon dan Braga sesungguhnya bisa menciptakan chemistry yang lebih andaikan fokus film tidak melebar kemana-mana. Sebagai solo performer, keduanya terbilang tidak mengecewakan dalam menegaskan konflik emosi yang dihadapi masing-masing. Kekuatan peran Foster di paruh pertama sedikit cacat karena tidak ada latar belakang yang jelas akan tokoh Delacourt.

Terlepas dari segala kekurangannya, bagi saya Elysium tetap menjadi tontonan yang memuaskan karena varian karakternya yang menarik untuk dipelajari. Bagi yang tidak terpuaskan mungkin karena tersisa begitu banyak ruang kosong yang sebetulnya justru mampu melambungkan imajinasi. Coincidentally this is something a movie should provide for its viewers. Lupakan sejenak District 9 untuk bisa benar-benar melebur ke dalam dunia Elysium dengan ekspektasi seadanya. The idiocracy formula might not get this straight right away but further approach or even spin-off are on the cards.

Durasi:
109 menit

U.S. Box Office:
$57,562,417 till August 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter: