XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label owen wilson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label owen wilson. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 September 2013

THE INTERNSHIP : When Nooglers Got Something To Prove


Quote:
Billy McMahon: So, we say 'no' to love?
Mr. Chetty: Yes, we say 'no' to love.

Nice-to-know:
Co-founder Google, Sergey Brin terlihat mengendarai sepeda saat adegan kedatangan di Google headquarters dan juga ketika menyelamati Billy dan Nick di akhir film.

Cast:
Vince Vaughn sebagai Billy McMahon
Owen Wilson sebagai Nick Campbell
Rose Byrne sebagai Dana
Aasif Mandvi sebagai Mr. Chetty
Max Minghella sebagai Graham Hawtrey
Josh Brener sebagai Lyle
Dylan O'Brien sebagai Stuart
Tiya Sircar sebagai Neha
Tobit Raphael sebagai Yo-Yo Santos

Director:
Merupakan
film ke-30 bagi Shawn Levy yang memulainya lewat beberapa serial televisi.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal GOOGLE di masa sekarang? Nyaris semua orang mengaksesnya untuk mendapatkan informasi apapun kapanpun dimanapun. Yang jelas kreatornya, Larry Page dan Sergey Brin telah mengubah peta informasi dunia dimulai pada tahun 1998 saat keduanya masih duduk di Universitas Stanford. Kini Twentieth Century Fox memang tidak bercerita mengenai sepak terjang mereka melalui produksi terbarunya ini, melainkan kiprah sekumpulan mahasiswa/i pilihan yang magang di sana dalam menjalani serangkaian tes sebagai bahan pertimbangan utama. 

Dua sales ahli,
Billy dan Nick semakin kesulitan melakukan penjualan karena orang lebih memilih teknologi digital dalam bertransaksi. Putus asa, mereka nekad melamar ke Google sebagai tenaga magang terlepas dari usia yang tidak muda lagi. Surat panggilan kemudian menempatkan keduanya di antara siswa-siswi cerdas dari berbagai penjuru termasuk Graham yang sombong dan ambisius. Pengalaman tinggi Nick dan Billy menjadi aset terbaik yang dimiliki kelompok pecundang yang beranggotakan Lyle, Stuart, Neha, Yo-Yo yang semula dianggap sebelah mata.

Vince Vaughn telah meniti karir panjang di Hollywood sebagai aktor, sebagian besar di antaranya bergenre komedi. Kali ini ia bertindak pula sebagai produser dan pemilik ide cerita yang lantas dituangkan ke dalam skrip bersama Jared Stern. Harus diakui multitasking nya terbilang berani dimana kreatifitas dipertaruhkan di atas segala-galanya. Isu-isu kontradiktif abadi seperti kuno versus modern dan senior versus junior kemudian dikombinasikan sedemikian rupa sebelum dilebur dengan konsep zero to hero demi untuk menggaet minat penonton. Though nothing new, I guess it still works charm.


Kekompakan Vaughn dan Wilson memang semula menjadi daya tarik utama dimana keduanya saling mengisi sebagai Billy dan Nick yang kali ini membutuhkan sedikit waktu sebelum membuat anda benar-benar ‘berpihak’ pada mereka.  Namun seiring durasi bergulir, perhatian penonton akan tertuju pada new kids on the block alias aktor-aktris muda tanpa nama seperti Minghella, Brener, O’Brien, Sircar, Raphael dengan varian karakteristik masing-masing. Tentunya jangan lupakan penampilan kaku Mandvi sebagai ketua training atau si cantik Byrne yang terlihat begitu fresh sebagai Dana. 

Sutradara Levy menghandle brand yang sudah demikian global dengan begitu hati-hati. Penggunaan narasi cepat memang tak jarang meninggalkan beberapa subplot yang tidak sampai terakomodir fungsinya tapi terbukti berhasil mempertahankan dinamismenya. Penataan setting Googleplex sebagai tempat belajar, bermain sekaligus bekerja pun dimaksimalkan sedemikian rupa untuk memicu faktor “wow” tanpa harus mengabaikan korelasinya sebagai panggung bertutur yang memikat. Keseimbangan unsur drama dan komedi juga dijaga di tengah pesatnya perkembangan internet di berbagai kalangan masyarakat. 

On top of that, The Internship masih mengandalkan formula baku sehingga tergolong predictable dari menit ke-1 sampai ke-119. Namun tetap tak menghalanginya menjadi tontonan menyenangkan, terlebih closing finale nya yang cukup memorable itu. Tak ayal pesan kehidupan nya sukses tersampaikan tanpa kesan menggurui. Yes, we should work to achieve something but don’t forget to live to the fullest especially maintain our own relationships with others. At least this comedy drama got heart to feel and those underdog Nooglers definitely had something to say.

Durasi:
119 menit

U.S. Box Office:
$44,665,963 till September 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 22 Januari 2012

MIDNIGHT IN PARIS : Keindahan Magis Perjalanan Waktu Penulis

Quotes:
Inez: You're in love with a fantasy.
Gil: I'm in love with you.


Storyline:
Sambil mempersiapkan pernikahan, Gil dan Inez berlibur ke Paris menemani orangtua Inez yang melakukan perjalanan bisnis. Di sana Inez berjumpa dengan sahabatnya Carol dan Paul untuk bergabung dalam tour singkat. Gil yang tengah menyelesaikan buku terbarunya memilih menelusuri jalanan malam demi mendapatkan inspirasi. Sekonyong-konyong sebuah kereta kuda menjemputnya, Gil lantas bertemu tokoh-tokoh pujaannya yang hidup di masa lalu. Sebuah proses yang akan mempengaruhi keputusan masa depannya dalam waktu yang amat singkat.

Nice-to-know:
Woody Allen sempat merencanakan produksi film ini di Paris pada tahun 2006 tetapi dibatalkan karena biayanya terlalu mahal.

Cast:
Owen Wilson sebagai Gil Pender
Rachel McAdams sebagai Inez
Kurt Fuller sebagai John
Mimi Kennedy sebagai Helen
Michael Sheen sebagai Paul
Nina Arianda sebagai Carol

Director:
Woody Allen pernah menggarap Everyone Says I Love You di tahun 1996 yang cukup mengesankan itu.

Comment:
Tak henti-hentinya kota Paris menjadi obyek eksploitasi sineas Eropa maupun Amerika. Umumnya karena dipandang indah dan romantis, genre drama selalu menjadi pilihan utamanya. Tanpa terkecuali nama sekaliber Woody Allen yang kali ini menaburkan bumbu komedi dalam takaran yang minim sehingga masih dapat dikategorikan drama elegan yang membahas perjalanan waktu dari masa lalu ke masa depan yang mungkin mengingatkan anda pada The Purple Rose of Cairo (1985).
Hotel bintang lima, Le Bristol dan sederetan lokasi ternama Paris menjadi setting yang amat menjual. Apalagi lantunan jazzy score karya Stephane Wrembel berhasil membangun suasana magis yang menghangatkan. Langit senja, jalanan temaram, tata kota yang rapi, detil arsitektur bangunan yang memanjakan mata menjadi production value yang tak tergantikan. Sebagian besar memang mengesankan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas.

Awalnya saya menganggap adanya nama Owen Wilson dalam jajaran cast merupakan keputusan yang salah. Aktor komedi slapstick yang melekat padanya ternyata memang pas untuk melakoni tokoh Gil yang berjiwa seniman. Seseorang yang bimbang menghadapi situasi dunia nyata yang seringkali bertentangan dengan mimpi-mimpinya. Ketika dihadapkan pada kesempatan paling berharga dalam hidupnya, Gil harus membuat pilihan yang sulit.
Melihat tokoh-tokoh legendaris macam Cole Porter, Zelda Fitzgerald, Ernest Hemingway. F. Scott Fitzgerald, Joséphine Baker,Gertrude Stein, Adriana hingga Pablo Picasso dihidupkan aktor-aktris kaliber akan memukau anda. Tidak lupa menyebut nama si cantik Marion Cotillard yang benar-benar pas untuk peran Adriana yang mempesona itu lengkap dengan aksen Perancis yang seksi. Bertolak belakang dengannya, Rachel McAdams tampak berusaha keras untuk mengangkat karakter Inez yang kurang tereksplorasi itu.

Midnight In Paris bagaikan menjual mimpi tengah malam yang penuh keajaiban dalam visualisasi yang mengagumkan. Sayangnya begitu kembali ke dunia nyata, bagian penutupnya yang melibatkan konflik inti antara Gil dan Inez menjadi sedikit kurang sempurna. Suguhan absurd bertema kompleks tetapi disajikan dengan sederhana jelas menjadikan summer movie yang satu ini tidak dapat dilewatkan begitu saja, stimulasi kuat yang akan membawa jiwa anda menelurusi setiap jengkal kota Paris sebelum menyiapkan raga anda untuk benar-benar travelling kesana!

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$56,407,283 till Jan 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 13 Oktober 2011

CARS 2 : Persaingan Kotor Juarai World Grand Prix

Quotes:
Uncle Topolino: A wise car hears one word and understands two...


Storyline:
Bintang balap Lightning McQueen dan sahabat setianya Mater mengikuti perlombaan World Grand Prix dimana persaingan semakin ketat dengan hadirnya Francesco Bernoulli, mobil balap yang dikagumi oleh Sally, kekasih Lightning. Sementara itu milyuner ternama Miles Axelrod mengembangkan bahan bakar baru yaitu Allinol yang segera menjadi sponsor utama. Perjalanan menuju kejuaraan yang digelar dalam beberapa seri itupun semakin seru karena berbagai intrik kotor di dalamnya terlebih setelah Mater menemukan beberapa kejanggalan di arena.

Nice-to-know:
Sebagai penghormatan bagi Paul Newman yang meninggal di tahun 2008, karakter Doc Hudson tidak disertakan dalam film meskipun nama Hudson Hornet sempat disebutkan sebagai apresiasi.

Voice:
Larry the Cable Guy sebagai Mater
Owen Wilson sebagai Lightning McQueen
Paul Newman sebagai Doc Hudson
Bonnie Hunt sebagai Sally Carrera
Michael Caine sebagai Finn McMissile
Emily Mortimer sebagai Holley Shiftwell

Director:
John Lasseter yang berkolaborasi dengan Joe Ranft dalam Cars (2006) kali ini menggandeng Brad Lewis yang baru memulai debutnya ini.

Comment:
Cars (2006) yang menghasilkan $461,981,126 dari peredaran seluruh dunianya tentu amat menggoda Disney dan Pixar untuk menggarap sekuelnya. Setelah tarik ulur yang membutuhkan 5 tahun, film yang ceritanya ditulis oleh trio John Lasseter, Brad Lewis, Dan Fogelman ini akhirnya rilis juga dengan bujet yang membengkak dari 120 juta dollar menjadi 200 juta dollar. Mudah-mudahan perjudian tersebut sepadan dengan hasil yang diraihnya kelak.
Skrip yang dikerjakan oleh Ben Queen ini melanjutkan petualangan duet McQueen dan Mater ke skala yang lebih besar, tidak tanggung-tanggung dari Radiator Springs langsung menuju World Grand Prix! Sebetulnya plot cerita yang mengarah dunia spionase antar mobil ini memang lebih cocok bagi penonton remaja hingga dewasa. Namun karena sejak awal ditargetkan anak-anak, maka segala kerumitan berusaha disampaikan dengan cara “semudah” mungkin.
Hal tersebut berpengaruh pada eksekusi Lasseter dan Lewis yang seakan tersendat-sendat. Tidak ada pengembangan karakter-karakter yang berarti selain melengkapi mobil-mobil “cute” tersebut dengan senjata berat. Dari segi gambar memang jauh lebih bagus, terlebih saat penjelajahan kota-kota ternama di dunia yang dikonsep dengan indah. Sayangnya lagi kinerja soundtrack pun kurang efektif, belum mampu menyaingi prekuelnya.

Para pengisi suara disini masih mampu menunaikan tugas mereka dengan baik. Mater mendapat porsi paling dominan lewat sederetan aksi menarik yang dilakukannya. Hanya saja dialog komedik yang terlontar di antara mobil-mobil tersebut tidak selalu berhasil memancing tawa, sebagian disebabkan penulisan yang terkesan terburu-buru. Satu ciri khas Pixar yang hilang kali ini adalah momen menyentuh. Sangat disayangkan!
Cars 2 bukanlah film animasi yang buruk tetapi gagal mengambil tongkat estafet dari prekuelnya. Kesalahan Disney dan Pixar yang terlalu memaksakan sekuel sehingga mengabaikan elemen-elemen pentingnya? Akan lebih bijak jika mereka membuat film ini berdiri sendiri dimana pertentangan baik dan jahat dapat lebih tereksplorasi dengan tepat. Tak usah heran apabila anak-anak tidak akan mencintainya sebesar film originalnya dan orang dewasa cuma akan mengenangnya sejenak. Talking cars, interesting actions, not-so-good storytelling, less emotional moments. Ka-chow could be similar to “kacau”!

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$190,462,898 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 Januari 2011

LITTLE FOCKERS : Konflik Mertua Menantu Serta Nakalnya Anak-anak

Quotes:
Jack Byrnes: I'm watching you.
Greg Focker: Yeah, well I have eyes too, so I'll be watching you... watching me.

Storyline:
Beberapa tahun berlalu dari pertemuan dua keluarga besan yang menghebohkan, Greg dan Pam Fockers telah dikaruniai sepasang anak kembar yaitu Samantha dan Henry. Sekali lagi Kakek Jack mengkhawatirkan hegemoni keluarga Byrnes dimana menantu pertamanya, Dr. Bob telah gagal dan kali ini menyoroti kapabilitas Greg sebagai penerusnya. Kedatangan Jack dan Dina dalam menghadiri ultah si kembar menimbulkan kericuhan yang tak terelakkan. Terlebih kemunculan sahabat baik Greg, Kevin yang juga mantan Pam. Apakah Greg mampu menjawab tantangan Jack untuk menjadi "The Godfocker."?

Nice-to-know:
Dustin Hoffman sedianya mendapat porsi yang lebih banyak sebagai Bernie Focker, tetapi setelah mengetahui terjadi pergantian sutradara lalu menolaknya apalagi disertai perubahan skrip. Akhirnya Universal berhasil membujuh Hoffman untuk terlibat dalam 6 scene.

Cast:
Selain melanjutkan peran Jack Byrnes, Robert De Niro juga tampil dalam Stone dan Machete di tahun 2010 ini.
Sempat mengisi suara Bernard dalam Megamind kemarin, Ben Stiller kembali meneruskan tokoh Gaylord “Greg” Focker yang seorang perawat itu.
Owen Wilson sebagai Kevin Rawley
Dustin Hoffman sebagai Bernie Focker
Barbra Streisand sebagai Roz Focker
Blythe Danner sebagai Dina Byrnes
Teri Polo sebagai Pam Focker
Jessica Alba sebagai Andi Garcia
Laura Dern sebagai Prudence

Director:
Paul Weitz memulai karir sutradaranya lewat American Pie (1999) yang sangat tersohor di kalangan anak muda itu.

Comment:
10 tahun berlalu sejak kemunculan pertama Meet The Parents yang dilanjutkan Meet The Fockers 4 tahun kemudian telah membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah evolusi komedi berkualitas yang sayangnya sangat sulit dipertahankan dewasa ini. Kreatifitas menjadi isu yang paling penting dan kali ini tugas tersebut diemban oleh duet penulis John Hamburg dan Larry Stuckey yang menggantikan Greg Glienna dan Mary Ruth Clarke.
Sekali lagi film berfokus pada hubungan Jack dan Greg seperti MTP. Banyak sekali pengulangan slapstick interaksi fisik yang “menjurus” termasuk pertukaran dialog sinis di antara mereka. Terkadang kita lelah mengikuti perseteruan keduanya yang saling mencurigai bukan karena tidak menarik, tetapi karena kita pernah melihat hal serupa sebelumnya!
DeNiro dan Stiller sendiri masih konsisten membawakan karakter mertua dan menantu seperti biasanya. Di luar mereka rasanya cukup menyayangkan nama-nama kawakan Danner, Streisand, Hoffman menjadi tempelan belaka. Bahkan Polo juga seakan tidak terlalu digubris kali ini. Wilson masih sama dengan celotehan sengau dan tingkahnya yang flamboyan. Kehadiran Alba sedikit mengintrusi plot cerita tapi tidak cukup berpengaruh kuat terhadap konflik itu sendiri.
Sutradara Weitz menghadirkan scene-scene komikal yang cenderung over-the-top. Sepertinya ia tidak tahu kapan harus berhenti dan memberi jeda yang cukup untuk membangun elemen lain di luar komedi itu sendiri yaitu kekuatan cerita! Diperparah lagi dengan arah film yang mudah sekali ditebak endingnya dan repeated humor scenes seperti yang sudah saya singgung di atas.
Pemilihan judul Little Fockers juga terasa ambisius karena Sam dan Henry bahkan tidak terlalu berkontribusi apapun untuk dapat disebut sentral cerita. Daisy Tahan dan Colin Baiocchi rasanya juga tidak cukup manis ataupun nakal untuk membuat penonton gemas pada mereka. Early Human School hanya merupakan ide yang kreatif tapi tidak dieksekusi dengan maksimal. Jika konsepnya sendiri sudah salah, lantas apa lagi yang berusaha dijual? Enough is enough. I don’t wanna see the fourth Fockers coming up whatsoever the title would be.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$102,576,190 till early 2011.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 25 Februari 2009

MARLEY & ME : Perjalanan Anjing dan Dinamika Pasangan Grogan

Quotes:
John Grogan-A dog doesn't care if you're rich or poor, educated or illiterate, clever or dull. Give him your heart and he will give you his.

Cerita:
Setelah menikah, pasangan penulis surat kabar John dan Jennifer Grogan pindah ke Florida. Berusaha menyeimbangkan kehidupan mereka, John membelikan Jenny anak anjing labrador yang akhirnya dinamakan Marley. Perlahan tetapi pasti, Marley tumbuh menjadi anjing dewasa berbobot 50 kg dengan kenakalan yang amat sangat tanpa kedisiplinan. Namun bukan tanpa kegunaan, karena dengan kehadiran Marley, John memiliki materi untuk mengisi kolom dalam koran dan menjadi terkenal. Anak-anakpun mengisi rumah Grogan walau keberadaan Marley tetap spesial dalam kehidupan mereka.

Gambar:
Roda waktu terus bergulir mengiringi potret kehidupan keluarga Grogan dari masa ke sama ditambah kehadiran Marley dari anak anjing sampai anjing tua disorot dengan manis dan realistis.

Act:
Berawal dari Bottle Rocket (1994), nama Owen Wilson terus meroket menjadi salah satu aktor komedi papan atas. Kali ini sebagai John Grogan, Owen berhasil tampil wajar dan memberikan sentuhan personalnya.
Salah satu aktris yang berangkat dari sukses serial televisi terutama Friends, Jennifer Aniston disini berperan sebagai Jennifer Grogan yang berusaha mencurahkan waktunya untuk keluarga tetapi sering terbentur emosi pribadinya.
Kebalikan dari Jen, Eric Dane kerapkali membintangi serial televisi walau belum terlalu dikenal namanya. Bermain sebagai Sebastian, sahabat John yang lebih senang hidup melajang dengan berganti-ganti wanita dibandingkan pernikahan.

Sutradara:
Terakhir sukses mengarahkan The Devil Wears Prada (2006), David Frankel percaya diri menggarap film yang diangkat dari kisah nyata kolumnis John Grogan ini.

Komentar:
Sebuah drama keluarga yang lucu sekaligus menghangatkan jiwa. Sentralisasi pada perjalanan hidup seekor anjing labrador bernama Marley dengan latar belakang kehidupan keluarga Grogan. Itulah sebabnya sering terasa kehilangan detail karena waktu yang terus melompat-lompat tetapi tidak mengganggu cerita secara keseluruhan. Sang sutradara melakukan eksplorasi dengan brilian karena mampu menangkap momen-momen nyata sebagai potret riil kehidupan keluarga Amerika yang umumnya memiliki anjing di rumah mereka. Owen serta Jen bermain baik dan berbagi chemistry dengan kuat. Akhir kata, tidak usah heran mendapati diri anda tertawa terhibur di opening dan menangis terharu di ending film karena Marley & Me mungkin saja menginspirasi anda.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$143,153,751 till April 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!