XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label chloe moretz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chloe moretz. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

CARRIE : Revenge Ain't Always Best Served Cold

Quote:
Carrie White: The other kids, they think I'm weird. But I don't wanna be, I wanna be normal. I have to try and be a whole person before its to late.

Nice-to-know:
Adaptasi film pertama dimana tokoh Carrie benar-benar dimainkan oleh remaja, Chloe Grace Moretz yang berusia 15 tahun. Terdahulu Sissy Spacek dan Angela Bettis masing-masing berusia 26 tahun dan 28 tahun.

Cast:
Chloë Grace Moretz sebagai Carrie White
Julianne Moore sebagai Margaret White
Gabriella Wilde sebagai Sue Snell
Portia Doubleday sebagai Chris Hargensen
Alex Russell sebagai Billy Nolan
Zoë Belkin sebagai Tina
Ansel Elgort sebagai Tommy Ross


Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Kimberly Peirce yang mulai angkat nama lewat Boys Don’t Cry (2006).

W For Words:
Carrie White adalah siswi SMU pemalu yang kesulitan bergaul. Dunianya hanya diisi oleh ibunya semata, Margaret White, wanita relijius berprofesi penjahit yang merasa terkhianati oleh cinta di masa lampau. Kejadian menstruasi pertamanya di toilet sekolah membuat Carrie jadi buah bibir sekaligus bahan celaan teman-temannya terutama siswi bermasalah, Chris Hargensen dan kekasihnya, Billy Nolan. Sue Snell yang merasa bersalah mengutus pacarnya Tommy Ross yang juga idola sekolah untuk mengajak Carrie ke prom night. Mimpi buruk pun dimulai dimana kekuatan telekinesis Carrie akan mengambil alih. 

Ada dua nama besar yang sudah membesarkan Carrie. Satu adalah Stephen King yang pertama kali mengangkat kisah fiktifnya ke dalam novel di tahun 1974 yang lantas menjadi best seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Dua adalah Brian De Palma yang sukses mengadaptasinya dengan bintang Sissy Spacek yang kemudian menerima nominasi Oscar pertamanya sebelum berjaya pada kesempatan berikutnya lewat Coal Miner’s Daughter (1980). Kini lebih dari tiga puluh tahun berlalu, MGM Pictures bekerjasama dengan Screen Gems dan Misher Films meremakenya dengan bekal yang menjanjikan dari tiga nama.

Pertama, Chloë Grace Moretz adalah the next big thing in Hollywood dengan kemampuan aktingnya yang terakreditasi. Walaupun banyak pihak yang mengatakan ia terlampau cantik untuk peran Carrie White, setidaknya usia gadis kelahiran 1997 ini benar-benar remaja saat syuting berlangsung. Pilihan yang terbukti tidak rancu karena saya benar-benar melihat transformasi dari korban tak berdaya menjadi pelaku berkuasa di sini, bukan hanya secara fisik tetapi juga segi emosionalnya yang cukup matang berbicara di layar.

Kedua, Julianne Moore adalah aktris kaliber Oscar dengan empat nominasi. Ia diyakini akan menjadi penyanding yang pas bagi Moretz. She performed great. Sisi lunatic psychotic nya terwujud nyata lewat setiap tindakan dan perkataannya. Sosok Kristen taat yang kerap menghubungkan segala sesuatunya dengan Tuhan dan iblis secara kontradiktif. Wilde dan Doubleday berhasil menempati posisi berseberangan secara brilian. Elgort juga terbilang likeable sebagai Tommy yang mulai terdistraksi oleh perasaannya sendiri. Greer juga mencuri perhatian sebagai pihak ketiga di sekolah, Ibu Desjardin yang juga pengajar olahraga.

Ketiga, Kimberly Peirce yang 14 tahun silam menghentak dunia dimana film yang ditulis dan disutradarainya sendiri, Boys Don’t Cry (1999) sukses menyabet Oscar baginya. Skrip yang ditulis oleh Lawrence D. Cohen dan Roberto Aguirre-Sacasa ini berupaya dimodernisasi dengan pemakaian ponsel berkamera dan media Youtube sebagai alat eksploitasi. Namun Peirce seakan menyandang beban berat apalagi harus berurusan dengan efek khusus yang terkadang bertentangan dengan spirit indie nya. Bagi saya apa yang dilakukannya secara detail dari awal sampai akhir masih terlalu episodik dibandingkan originalnya sehingga kerap terasa jumpy dan inconsistent.


Terlepas dari segala kekurangannya, remake Carrie yang satu ini tetap berhak mendapatkan spotlight yang diharapkannya. Tidak akan terlalu bersahabat bagi mereka yang mengenal betul versi originalnya tetapi lumayan menjanjikan bagi penonton ‘generasi baru’. Faktor kesetiaan dengan pendahulunya di departemen storytelling tampak berusaha diupgrade dengan tampilan visualnya yang lebih kekinian. Unsur gory dan violence yang diusungnya sedikit berpihak pada elemen horor dibandingkan thriller. For me it’s still haunting to see payback time where revenge ain't always best served cold.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,050,775 till Nov 2013

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 14 September 2013

KICK-ASS 2 : Kicking Lower But Still Ass-tonishing


Quote:
Dave Lizewski: What's the matter, Chris? Shit hit your shorts?
Chris D'Amico: Yeah, and I'm gonna wipe my ass with your face.

Nice-to-know:
Jim Carrey membawa propertinya sendiri sebagai referensi seperti buku komik versi Colonel Stars dan Stripes.

Cast:
Aaron Taylor-Johnson sebagai Dave Lizewski / Kick-Ass
Chloë Grace Moretz sebagai Mindy Macready / Hit-Girl
Christopher Mintz-Plasse sebagai Chris D'Amico / The Motherfucker
Jim Carrey sebagai Colonel Stars and Stripes
Robert Emms sebagai
Insect Man
Lindy Booth sebagai Night Bitch
Morris Chestnut sebagai Detective Marcus Williams
Claudia Lee sebagai Brooke
Amy Anzel sebagai Mrs. Zane
Clark Duke sebagai Marty / Battle Guy
Augustus Prew sebagai Todd / Ass Kicker

Director:
Merupakan
feature film ketiga bagi Jeff Wadlow setelah Never Back Down (2008).

W For Words:
Who loves the underdog? Raise your hands so I can count. Okay, me too! Itulah sebabnya Kick-Ass (2010) mampu mencatatkan diri sebagai salah satu cult movies karena konten mengejutkan yang tidak disangka-sangka oleh moviegoersdi belahan dunia manapun. Terlepas dari perolehan domestic box-office yang tidak sampai boomingtapi tetap menguntungkan karena bujetnya yang tak seberapa, Marv Films dan Plan B Entertainment kelewat percaya diri untuk melanjutkan sekuelnya, apalagi lantas mendapat dukungan dari Universal Pictures. Hell yeah! We’re dying to see another adventures of Kick-Ass and of course Hit-Girl.
Kehadiran Kick-Ass menginspirasi lahirnya ‘pahlawan biasa’ lainnya termasuk Colonel Stars and Stripes yang membentuk perkumpulan Justice Forever yang berangggotakan Doctor Gravity, Night Bitch, Insect Man dan pasutri Remembering Tommy. Bergabungnya Kick-Ass dikarenakan Hit-Girl memutuskan pensiun demi memenuhi janji pada almarhum ayahnya Big Daddy. Sementara itu putra Red Mist yaitu Chris D’Amico mengubah identitasnya menjadi The Motherfucker dan menggunakan kekayaannya untuk merekrut berbagai penjahat berbahaya demi menguasai dunia sekaligus membalas dendam.

Tugas yang berat diemban Jeff Wadlow yang kali ini memegang tampuk penulis skrip dan sutradara sekaligus, berusaha menyamai pencapaian Matthew Vaughn sebelumnya, berdasarkan komik karya Mark Millar dan John Romita Jr. Usahanya patut kita apresiasi karena berhasil menempatkan tiga karakter utamanya yaitu Dave, Mindy dan Chris dalam dunia nyata dan juga dunia di balik topeng lengkap dengan segala kroniknya. Banyaknya karakter baru hitam putih yang masuk justru semakin memperkaya tanpa harus mengganggu plot utama secara keseluruhan.
Namun harus diakui storytelling yang dilakukan Wadlow sebagai sutradara tidaklah sekuat Vaughn termasuk dalam membangun dunia modern nan realistis. Penonton bisa dengan mudah menerka proses dari A ke B di sepanjang durasinya.Beruntung konsistensi drama dan aksi terjaga lewat balutan komedi satir yang kerap menyentil di sana-sini. Dialog one-liners nya memang tak setajam dulu tapi masih efektif menegaskan kemana kita harus berpihak. Spesial efek yang digunakan, terutama dalam pertarungan pamungkas, terbilang cukup maksimal mengingat bujet produksi yang tidak terlalu besar.

Menarik melihat duo protagonistkita yang berkembang dewasa termasuk mulai berkencan. Taylor-Johnson masih mengusung imej geeky nya, Grace Moretz juga dengan penampilan average girl nya. Anda dijamin terpukau saat adegan Dave berlatih pull-up mempertontonkan sexy abs nya atau Mindy bertransfomasi sebagai ‘it girl’ di sekolah. Keduanya membangun chemistry dengan baik walau tidak selalu berbagi layar. Lihat bagaimana sisi emosional mereka tergali ketika harus memegang teguh janji masing-masing terhadap orang-orang terdekatnya.
Mintz-Plasse dengan gemilang melanjutkan mimpi buruk anda sebagai spoiled rich brat. Chestnut bermain ganda sebagai ‘pengasuh’ Mindy sekaligus abdi hukum yang cukup berpengaruh di kota. Peran Mr. Lizewski yang dilakoni M. Brown sekilas mengingatkan kita akan Uncle Ben bagi seorang Peter Parker, sama halnya Lee terhadap McAdams dalam Mean Girls (2004). At one particular scene, i do imagine Mindy would became Carrie as well! Dari deretan tokoh baru favorit saya adalah Night Bitch dan Mother Russia yang masing-masing dimainkan secara pas oleh Booth dan Kurkulina. On top of that, Carrey lumayan berhasil melepaskan stereotype lewat penokohan memorable Colonel Stars and Stripes.

Kick-Ass 2 memang terbilang setia pada pakem superhero movies yang sudah-sudah. Bedanya adalah posisi ‘kalah’ justru ditempatkan di pertengahan menjelang akhir. Tujuannya jelas menghindari tipikalitas yang biasa diusung DC atau Marvel. Toh pada akhirnya kebaikan tetap akan unggul dari kejahatan. Final fight yang disuguhkan Kick-Ass and Hit-Girl setidaknya berhasil mengalihkan perhatian penonton dari degradasi kualitas sekuel secara keseluruhan. Those regular superheroes definitely represent us best especially when it comes to self-acceptance about who we truly are.

Durasi:
103 menit

U.S. Box Office:
$28,094,560 till September 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 27 Juni 2012

TEXAS KILLING FIELDS : Promising Casts Confusing Thriller

Tagline:
Once in... There's no way out.

Nice-to-know:
Dalam mempersiapkan peran mereka, Sheryl Lee dan Chloë Grace Moretz menghabiskan waktu di pusat rehabilitasi pengguna narkoba.

Cast:
Sam Worthington sebagai Mike Souder
Jeffrey Dean Morgan sebagai Brian Heigh
Chloë Grace Moretz sebagai Little Ann Sliger
Corie Berkemeyer sebagai Shauna Kittredge
Trenton Perez sebagai White Kid
Sheryl Lee sebagai Lucie Sliger
Jessica Chastain sebagai Pam Stall

Director:
Merupakan feature film kedua Ami Canaan Mann setelah Morning (2001).

W For Words:
Konon film ini dibuat berdasarkan kisah nyata pembantaian sejumlah gadis belia yang terjadi di Texas bagian Selatan yang hingga hari ini kasusnya belum terungkap. Skrip yang dikerjakan oleh Don Ferrarone ini mungkin akan mengingatkan anda pada The Texas Chainsaw Massacre (2003) walau tidak sampai mencapai tingkat gory yang sama. Sekali lagi kombinasi kejahatan dan kegilaan pelaku yang kontras dengan kelambanan polisi dalam beraksi di kota kecil menjadi suguhan utama yang banyak dilakukan oleh filmmakers internasional sebelumnya.

Mike Souder yang bertindak sebagai detektif pembunuhan di kota Texas mendapat partner baru dari New York yaitu Brian Heigh. Keduanya tengah mengusut jejak pembunuh berantai sadis yang selalu membuang mayat korbannya yang telah dimutilasi ke dalam area yang disebut The Killing Fields. Sang pembunuh yang selalu selangkah lebih maju dalam permainan kerapkali menjebak kedua detektif tersebut dengan petunjuk palsu. Ketika gadis lokal Ann Sliger menghilang, Mike dan Brian pun harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sekaligus membekuk orang yang mereka buru.

Prosedur interogasi dan penyidikan kasus dalam film ini tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah disuguhkan serial televisi bertemakan serupa, sebut saja Law & Order atau CSI. Sang penulis skrip yang juga mantan petugas administrasi Badan Anti Narkoba seakan langsung menempatkan audiens di tengah situasi yang berjalan dimana segala petunjuk sebelumnya tidak lagi dijelaskan. Belum selesai kebingungan berlangsung, penonton lantas diperkenalkan pada serentetan tokoh baru dari yang paling penting hingga yang selayang pandang begitu saja.

Dean Morgan sebenarnya sudah bermain meyakinkan dengan karisma detektif berpengalaman dan family man yang kuat dalam diri Heigh. Sebaliknya Worthington masih terjebak stereotype peran-peran sebelumnya, belum lagi perangai keras tokoh Souder seakan tanpa sebab. Moretz seperti biasa tampil paling memikat sebagai Ann yang memiliki problem keluarga tapi korelasinya terhadap bangunan cerita patut dipertanyakan. Belum lagi Clarke yang sebenarnya terlihat sukses sebagai bad ass Rule tapi timbul tenggelam sepanjang film. Sulit rasanya menjalin koneksi dengan salah satu tokoh disini meskipun nama-nama yang terlibat di dalamnya jelas bukan aktor-aktris sembarangan.

Upaya sutradara Canaan Mann (putri kandung Michael Mann) dalam menyuguhkan thriller kompleks beratmosfer depresi dan kehampaan memang cukup berhasil. Namun kesan amatir masih sulit lepas menilik sinematografi dan editingnya. Narasi liar antara tokoh, tempat dan kejadian yang terus berpindah-pindah pada akhirnya menyisakan minim ketertarikan bagi penonton yang sesungguhnya setia menantikan sesuatu yang brilian dan twisted. Hal tersebut tidak pernah terjadi! Texas Killing Field seharusnya tetap menjadi misteri menakutkan di dunia nyata, bukan menggelikan di layar lebar.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$45,282 till Nov 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 11 Mei 2012

DARK SHADOWS : Hit And Miss With Less Self-Conscious Adaptation


Quotes:
Barnabas Collins: If a man can become a monster, then a monster can become a man.

Nice-to-know:
Kerjasama Tim Burton yang kedelapan dengan Johnny Depp, ketujuh dengan istrinya Helena Bonham Carter, kelima dengan Christopher Lee dan kedua dengan Michelle Pfeiffer.

Cast:
Johnny Depp sebagai Barnabas Collins
Michelle Pfeiffer sebagai Elizabeth Collins Stoddard
Helena Bonham Carter sebagai Dr. Julia Hoffman
Eva Green sebagai Angelique Bouchard
Jackie Earle Haley sebagai Willie Loomis
Jonny Lee Miller sebagai Roger Collins
Bella Heathcote sebagai Victoria Winters / Josette DuPres
Chloë Grace Moretz sebagai Carolyn Stoddard

Director:
Merupakan feature film ke-16 bagi Tim Burton yang pertama saya kenal lewat Edward Scissorhands (1990).

W For Words:
Film ini diadaptasi dari opera sabun siang hari di stasiun televisi ABC periode 1966-1971 berjudul sama. Namun daya tariknya jelas ada pada faktor Johnny Depp dan Tim Burton selaku aktor utama dan sutradara. Tentunya bukan perkara mudah saat penulis skrip Seth Grahame-Smith berupaya memadatkan 1.225 episode ke dalam versi layar lebar berdurasi 113 menit. Namun seperti yang sudah kita ketahui, seorang Burton biasanya amatlah visioner dalam menerjemahkan karya-karyanya yang cenderung gelap tersebut.

Tahun 1752, Joshua dan Naomi Collins berlayar dari Inggris ke Amerika Serikat untuk memulai hidup baru. Sayangnya kesuksesan yang diraih tak berlangsung lama ketika kutukan melanda keluarga mereka. Putranya Barnabas pun harus kehilangan kekasihnya sebelum dimanterai penyihir Angelique Bouchard sehingga menjadi vampir akibat kasih tak sampai. Dua abad kemudian, Barnabas berhasil lolos dari peti yang mengurungnya dan kembali ke Collinwood Manor dimana tinggal dua bersaudara Elizabeth dan Roger dengan anak-anak mereka Carolyn dan David serta Dr. Julia Hoffman dan pelayan Willie Loomis. Keadaan tak lagi sama dan Barnabas seakan mengulang takdirnya saat bertemu pengasuh Victoria Winters yang amat mirip dengan cinta lamanya Josette DuPres.

 
Harus diakui 30 menit pertamanya menampilkan humor yang kelam dan tajam. Narasi flashback semasa hidup Barnabas yang menggigit plus pengenalan tokoh-tokoh keluarga Collins masa kini yang super duper freak itu. Namun selepas itu sutradara Burton tampak kehilangan sentuhannya untuk mempertahankan film tetap berada dalam relnya. Semua tokoh seakan ingin memiliki “frame”nya sendiri dimana proses perjalanan ke arah sana tak cukup memadai untuk memberikan kesan kuat. Saya tidak heran karena terlalu banyak chapter untuk diceritakan disana-sini dari rangkaian kisah yang amat panjang.

Beruntung kolaborasi Burton dengan Rick Heinrichs tetap maksimal dengan desain produksi yang memukau. Collinswood Manor yang megah dengan dua ratus kamar dan berbagai sudut rahasianya divisualkan secara brilian. Tata rias dan kostum aktor-aktrisnya sukses menonjolkan kesan gothic dan sensasional sesuai karakteristik masing-masing. Alih-alih memperlihatkan perseteruan bisnis antara Angel Bay dan Collins Fishing Fleet and Cannery yang memadai, penonton justru disuguhkan making love scenes yang weird sekaligus fantastis diantara Barnabas dan Angelique! 

Film ini mengingatkan saya akan beberapa referensi film lawas klasik seperti Beetlejuice (1988), Death Becomes Her (1992), Blast From The Past (1999) hingga karya-karya Burton sebelumnya yaitu Edward Scissorhands (1990), Corpse Bride dan Charlie and the Chocolate Factory, keduanya rilis 2005. Pesona Depp sendiri masih terjaga lewat penampilan dingin, pucat menyeramkan sampai lugu, kuno menyedihkan seorang Barnabas Collins. Multiple relationships nya dengan Eva Green, Helena Bonham Carter dan Bella Heathcote sekaligus memberikan perspektif kejantanan egois seorang pria sambil menjaga pesona dan elegansinya.

Deretan pendukung yang punya nama dan penuh talenta membuat Dark Shadows mengusung beban yang berat. Tidak heran jika ekspektasi penikmat film dunia semakin tinggi karenanya. Saya pribadi masih bisa menikmatinya karena elemen cheesy but tasty berhasil dipertahankan sepanjang film, adopsi terbaik yang bisa dilakukan terhadap film adaptasi serial televisi uzur. Kesenangan menontonnya sendiri terbilang hit and miss, some works but some not! Film yang seharusnya disikapi dengan santai sambil mengaburkan sedikit kesadaran diri anda untuk bekerja lebih baik. Just like shadows themselves!

Durasi:
113 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 Maret 2012

HUGO : A Timeless Tribute To Cinematic Wonder


Quotes:
Hugo Cabret: Maybe that's why a broken machine always makes me a little sad, because it isn't able to do what it was meant to do... Maybe it's the same with people. If you lose your purpose... it's like you're broken.

Nice-to-know:
Film pertama berating SU bagi Martin Scorsese dalam 18 tahun terakhir sekaligus tanpa adanya nama Leonardo Di Caprio dalam 12 tahun terakhir.

Cast:
Asa Butterfield sebagai Hugo Cabret
Chloë Grace Moretz sebagai Isabelle
Christopher Lee sebagai Monsieur Labisse
Ben Kingsley sebagai Georges Méliès
Sacha Baron Cohen sebagai Station Inspector
Ray Winstone sebagai Uncle Claude
Jude Law sebagai Hugo's Father

Director:
Merupakan film ke-50 bagi Martin Scorsese yang diawali dengan film pendek Vesuvius VI di tahun 1959.

W for Words:
Berapa banyak dari anda yang menyaksikan Hugo setelah kemenangan gemilang dalam ajang Academy Awards 2012 yang menghasilkan 5 piala kategori Best Achievement in Art Direction, Best Achievement in Cinematography, Best Achievement in Sound Editing, Best Achievement in Sound Mixing dan Best Achievement in Visual Effects itu? Saya adalah salah satunya. Namun jauh sebelum itu terjadi, mendengar kabar sutradara sekaliber Martin Scorsese menggarap film Semua Umur dari adaptasi buku berjudul “The Invention of Hugo Cabret.” karya Brian Selznick yang memenangkan medali Caldecott kategori buku bergambar untuk anak-anak saja sudah merupakan kejadian yang amat langka.
Hugo adalah seorang yatim piatu yang hidup di balik dinding stasiun kereta api Paris pada tahun 1930an. Keahliannya memperbaiki jam ataupun benda-benda elektronik lain membuatnya dipekerjakan oleh Georges Méliès yang sebelumnya menangkap basah Hugo mencuri peralatan. Misi Hugo sederhana yaitu membangkitkan automaton yang ditinggalkan mendiang ayahnya melalui kunci berbentuk hati yang ternyata dimiliki oleh Isabelle, putri angkat Melies. Keduanya pun terlibat petualangan unik yang menguak kenangan tak ternilai di masa lalu yang mungkin mengubah wajah sinema dunia.

Sutradara Scorsese membawa banyak elemen tak terlupakan dari film-film terdahulunya yang selalu di atas rata-rata itu ke dalam suguhan sepanjang 126 menit yang tentunya telah disesuaikan dengan pangsa pasarnya. Kerjasamanya dengan Robert Richardson dalam menghadirkan sinematografi Parisian pada jamannya juga terbilang memuaskan apalagi dibalut dalam efek 3D yang begitu kental mewujudkan esensi mimpi seorang anak sekalipun yang biasanya berangkat sebagai pengamat dunia sebelum benar-benar terjun di dalamnya.
Tiga nama terdepan adalah Asa Butterfield, Chloe Grace Moretz dan Ben Kingsley yang akan membawa anda bertualang secara magis dinamis dalam film ini mulai dari menjelajahi setiap jengkal stasiun kereta hingga merasakan pengalaman menonton sebuah film untuk pertama kalinya. Samasekali tidak ada keterkaitan yang dipaksakan antara Hugo dengan tokoh-tokoh lainnya, semua mengalir sesuai kebutuhan cerita yang pada akhirnya saling merangkai satu keping dengan yang lainnya. Boleh dibilang tidak ada tokoh antagonis disini kecuali Sascha Baron Cohen yang sedikit menjengkelkan walau tak jarang memaksa anda tertawa dengan polah tingkah kikuknya bersama anjing kesayangannya.

Sejarah Méliès yang lahir pada tahun 1861 ini mengawali karirnya sebagai pesulap ternama yang memiliki gedung teater sendiri sebelum beralih pada gambar bergerak setelah menyaksikan proyeksi film pertama pada tahun 1895. Anda diajak untuk menjadi saksi evolusi bagaimana perkembangan film dari format layar kurang dari 2 inci yang hanya bisa disaksikan satu orang menjadi layar lebar yang mampu mencakup sejumlah orang dalam sebuah gedung pertunjukan. Sangat mengesankan!
Hugo adalah sosok emosional karena hidup dalam kenangan yang digunakannya sebagai pemacu untuk terus melangkah maju sekaligus mempercayai konsep bahwa dirinya hanyalah suatu partikel kecil yang dapat membuat dunia berfungsi secara benar. Penuturan brilian dari Scorsese membawa sugesti persuasif yang jelas, yaitu mengajak penonton untuk selalu menghargai sekaligus percaya bahwa film memang selalu memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi anda. You will feel the passionate love from Scorsese’s Hugo, a timeless masterpiece that should be treated with an extra honor!

Durasi:
126 menit

U.S. Box Office:
$71,300,195 till Mar 2012.

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 09 Januari 2011

LET ME IN : Kompleksitas Berhubungan Dengan Gadis Vampir Cilik

Quotes:
Owen: Are you a vampire?
Abby: I need blood to live.
Owen: But how old are you, really?
Abby: Twelve. But... I've been twelve for a very long time.

Storyline:
Seringkali Owen yang berbadan kecil diganggu di sekolahnya. Ia tak bisa melawan terlebih menghadapi tekanan juga di rumah dari orangtuanya yang telah bercerai. Semua berubah saat Abby yang juga berusia 12 tahun sepertinya datang ke kota dan menjadi tetangganya. Abby banyak mengajarkan Owen untuk melawan sedangkan Owen juga membuka mata Abby akan ketulusan sebuah persahabatan. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya semenjak kedatangan Abby, banyak korban penduduk lokal yang berjatuhan dengan luka gigitan di lehernya. Siapakah Abby sebenarnya? Akankah Owen mampu menerima sahabatnya itu apa adanya?

Nice-to-know:
Kata "vampire" hanya diucapkan sekali selama durasi film.

Cast:
Pertama kali angkat nama lewat Romulus, My Father (2007), Kodi Smit-McPhee yang asli Australia ini berperan sebagai Owen, remaja putra yang sering diganggu anak-anak di sekolahnya.
Remaja berusia 13 tahun ini sebelumnya mencuri perhatian dalam Kick Ass (2010) sebagai The Hit Girl. Kali ini Chloe Moretz bermain sebagai Abby, vampir kekal yang tetap dalam tubuh anak berusia 12 tahun.
Richard Jenkins sebagai Ayah Abby
Cara Buono sebagai Ibu Owen
Elias Koteas sebagai The Policeman

Director:
Pria berusia 44 tahun asal New York bernama Matt Reeves ini sebelumnya sukses dengan Cloverfield (2008).

Comment:
Saya menyukai apa yang sudah ditampilkan Let The Right One In meski tidak terlalu memfavoritkannya juga. Lantas bagaimana dengan remake versi Hollywood ini?
Awalnya saya mengharapkan akan ada adaptasi yang sedikit berbeda. Namun secara keseluruhan ternyata 90% sama. Saya sedikit kecewa. Namun sepertinya Matt Reeves yang merangkap sebagai sutradara dan penulis skrip tidak ingin berjudi untuk mengubah apa yang sudah baku dari John Ajvide Lindqvist.
Yang membedakan hanyalah tone warna film. Jika versi aslinya dominan dengan warna putih pucat yang menyiratkan kesepian total maka versi remake ini merupakan kombinasi putih dan merah yang berkesan dingin sekaligus hangat. Hal ini tergantung mood tokoh Abby yang menerjemahkan sisi manusia sekaligus vampir di dalam dirinya. Hal dasar ini sudah terlihat dari posternya bukan? Saya menganggap ini suatu konsep yang menarik karena lebih memanusiakan film ini sendiri.
Talenta Moretz memang harus diakui. Karakter Abby dimainkannya nyaris tanpa ekspresi tetapi tetap mampu menerjemahkan kompleksitas di dalamnya. Diimbangi pula oleh Smith-McPhee yang membuat karakter Owen terasa lemah tetapi tulus. Kedua anak ini mampu berbagi chemistry secara wajar sehingga membuat penonton dapat menyelami dan memahami hubungan keduanya yang bahkan dapat diartikan romantisme pra-remaja. Saya nilai akting mereka sedikit di atas pendahulunya yang sebetulnya juga berperan sangat baik.
Let Me In akan mengajak anda masuk ke dalam dunia Abby dan Owen yang sunyi dan dingin. Perlahan pikiran dan hati anda akan terbawa mengikuti perkembangan hubungan mereka yang mulai menghangat dan bermakna satu sama lain. Bukan film yang akan membombardir anda dengan rasa takut dan exciting saat menontonnya tetapi membangun konstruksi cerita perlahan-lahan dengan kedalaman dan sisi emosional yang unik. Bisa jadi membosankan bagi anda yang tidak terbiasa dengan film off-mainstream seperti ini.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$12,134,420 till Dec 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 22 Mei 2010

KICK ASS : Kala Pecundang Berusaha Menjadi Pahlawan Super

Quotes:
Dave Lizewski-If it wasn't for you, I'd be dead.
Hit Girl-And if it wasn't for you... my dad wouldn't be.


Storyline:
Siswa SMU cupu, Dave Livewski yang menyukai komik bercita-cita menjadi pahlawan super terlebih setelah maraknya kejahatan terjadi di sekelilingnya. Lewat internet, Dave membeli sebuah kostum hijau dan menamakan dirinya Kick Ass, pahlawan tanpa kekuatan super. Dalam sebuah kejadian membela seseorang dari keroyokan anggota gang, Kick Ass tertangkap video dan kamera yang kemudian membuatnya terkenal seantero Amerika! Di luar dugaan, tindakannya itu mengundang perhatian bos mafia, Frank D'Amico yang terganggu olehnya. Dibantu superhero sebayanya Red Mist, dan ayah-anak, Big Daddy-Hit Girl, Kick Ass pun berjuang menuntaskan misinya memberantas gerombolan D'Amico.

Nice-to-know:
Daniel Craig dan Mark Wahlberg sempat dicast untuk peran Big Daddy dalam film yang komiknya dihasilkan oleh Stan Lee yang juga muncul sebagai cameo disini.

Act:
Sudah bermain serial televisi sejak usia 11 tahun, aktor muda Inggris bernama Aaron Johnson ini didapuk sebagai Dave Lizewski alias Kick Ass.
Pernah mengisi suara animasi Disney Bolt (2008), Chloe Moretz didaulat sebagai Mindy Macready alias Hit Girl.
Clark Duke dan Evan Peters sebagai duo tandem Kick Ass yaitu Marty dan Todd.
Love interest Kick Ass yaitu Katie Deauxma dimainkan oleh Lyndsy Fonseca.
Tak ketinggalan aktor yang rajin bermain film yaitu Nicolas Cage sebagai Big Daddy.

Director:
Pria kelahiran London pada 7 Maret 1971 bernama Matthew Vaughn ini terakhir lumayan berhasil menangani Stardust (2007) yang cukup disukai kritikus dan publik itu.

Comment:
Saya menyaksikan film ini tanpa ekspektasi apapun selain mendengar bahwa film ini booming di Amerika sana. Dan bagi sebagian besar penonton di belahan dunia bagian Asia mungkin akan sulit menyukainya karena beberapa hal. Awal film mungkin sedikit membosankan menyaksikan kehidupan monoton pecundang bernama Dave LIzewski yang berusaha menjadi seseorang. Beberapa adegan satir yang dialami Dave mungkin membuat kita miris dan berpikir harus ada yang seseorang yang melakukan sesuatu terhadapnya. Sampai titik ini kemunculan Big Daddy dan Hit Girl seakan menjadi jawabannya. Keduanya dibekali skill dan peralatan yang mumpuni untuk syarat menjadi superhero, tentu saja bukan tanpa misi karena masa lalu kelam yang dialami mereka. Adegan bertarungnya seakan perpaduan dari Spiderman dan Kill Bill dengan koreografi yang menarik. Pengeksekusian plotnya juga terasa abnormal karena mengombinasikan kekejamanan, sarkasme, humor dan keputusasaan secara seimbang. Johnson dan Moretz bermain gemilang menerjemahkan karakter utama yang dipercayakan pada mereka. Cage dan Strong juga efektif membagi pengalaman akting mereka. Semua terbantu oleh lagu-lagu Prodigy ataupun Sparks yang pas mengisi adegan bertensi tinggi. Terkadang musik latar mengingatkan pada Watchmen yang bertemakan tidak jauh berbeda. Yang cukup kontroversial adalah fakta bahwa Hit Girl masih berusia 11 tahun tetapi terbiasa dengan kata-kata kasar dan kemampuan membunuhnya yang sangat keras terlepas dari sekelam apapun masa lalunya. Namun jangan biarkan hal tersebut mengganggu pengalaman baru bersinema yang akan anda temukan dalam Kick Ass. I can't say it's good but it's uniquely stylish!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$46,616,232 till mid May 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent