XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 12 Oktober 2010

LE GRAND CHEF 2 : Pertarungan Olahan Kimchi Dua Jago Masak

Tagline:
The ultimate battle begins to find the authentic taste!

Storyline:
Pemerintah Korea mengadakan lomba masak nasional, Kimchi Contest untuk menjadikan kimchi sebagai bahan original terbaik di Asia. Jang Eun yang merupakan koki ternama di Jepang kembali ke Korea untuk ikut serta. Ia juga berencana menutup restoran ibunya yang pernah dinobatkan sebagai restoran tradisional terbaik di Korea. Di lain pihak, Sung Chan yang hanya penjual sayur mayur berusaha mempertahankan restoran tersebut karena nilai historis yang ada di dalamnya terlepas dari konflik yang pernah dialaminya dengan ibunya yang bisu tuli. Pemenang dari kontes ini berhak atas restoran tersebut. Siapa yang akan menang?

Nice-to-know:
Film ini berjudul asli Kim-chi-jeon-jaeng.

Cast:
Ku Jin sebagai Sung Chan
Kim Jeong Eun sebagai Jang Eun
Wang Ji Hye sebagai Jin Soo

Director:
Baek Dong Hoon

Comment:
Saya menonton ini tanpa ekspektasi apapun selain mencoba menghadiri pembukaan Korean Movie Show di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Sejauh yang saya ingat prekuelnya yang baru ditonton dvdnya pada bulan Juni lalu tidaklah terlalu mengesankan sehingga tidak banyak yang bisa dikenang pada saat itu.
Plotnya kurang lebih masih menggunakan bumbu-bumbu yang sama yaitu persaingan antar koki beserta latar belakang masing-masing dengan keahlian memasak satu sama lain. Bedanya kedua karakter yang berseberangan ini tidak dibagi dalam protagonis dan antagonis karena keduanya sama-sama menyenangkan untuk ditonton. Ku Jin jelas akan lebih menarik simpati penonton karena tokoh Sung Chan yang dimainkannya dengan rendah hati berangkat dari bawah. Sedangkan tokoh Jang Eun diperankan dengan dingin dan berkelas kalau tidak mau disebut arogan oleh Kim Jeong Eun, meski demikian penonton tidak akan otomatis membencinya, lebih ke arah kagum akan arogansi profesionalnya.
Itulah yang menarik dari Le Grand Chef 2 ini selain faktor penyajian berbagai macam masakan kimchi yang sangat menggugah selera itu. Ditambah beberapa scene emosional yang bisa jadi mengharu-biru bagi sebagian orang. Kimchi Battle ini dapat saya katakan lebih baik dari prekuelnya di segala aspek pembentuknya. Good job!

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 11 Oktober 2010

THE BLIND SIDE : Ketika Ibu Angkat Ubah Nasib Pemuda Afro-Amerika

Quotes:
Michael Oher: It's nice, I never had one before.
Leigh Anne Touhy: What, a room?
Michael Oher: A bed.

Storyline:
Big Mike yang berkulit hitam dan bertubuh besar sekilas tidak ada bedanya dengan anak-anak jalanan lain yang kerap terlibat perdagangan obat ataupun seks bebas. Namun ia berusaha keras untuk mendapatkan sedikit pendidikan walaupun harus bersusah payah. Beruntung Big Mike akhirnya mendapat perhatian dari suami istri terpandang yang baik hati dan kaya raya, Sean dan Leigh Anne Tuohy yang mengangkatnya anak bersama putra-putri kandung mereka, Jae dan Collins. Bagaimana Big Mike dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya sekaligus perlahan-lahan menapak mimpinya sendiri?

Nice-to-know:
Saat Quinton Aaron diaudisi untuk peran Michael Oher, ia tengah bekerja sebagai petugas sekuriti. Setelah audisi, Aaron bahkan meninggalkan kartu dengan nomor kontaknya dan menawarkan bekerja sebagai petugas sekuriti di lokasi syuting.

Cast:
Bermain juga dalam 2 film yang banyak dibicarakan tahun ini yakni The Proposal yang sukses besar dan All About Steve yang sukses dicap buruk, Sandra Bullock memuncaki karirnya sebagai Leigh Anne Tuohy disini yang optimis dan berbudi baik.
Meski lebih banyak terdengar sebagai penyanyi country, Tim McGraw pernah tampil dalam Four Christmases (2008) sebelum mendapat peran Sean Tuohy.
Sebelumnya mendapat peran kecil dalam Be Kind Rewind (2008), Quinton Aaron langsung didapuk sebagai pemeran utama disini yaitu Michael Oher alias Big Mike.
Jae Head sebagai S.J. Tuohy
Lily Collins sebagai Collins Tuohy
Kathy Bates sebagai Miss Sue

Director:
John Lee Hancock sebelum ini juga menulis dan menyutradarai The Alamo (2004).

Comment:
Inilah drama kehidupan yang dikombinasikan dengan olahraga. Jika biasanya salah satu sisi akan lebih berat tapi film ini menampilkannya dengan seimbang. Mungkin secara keseluruhan akan terlihat sebagai dongeng indah yang mustahil terwujud, tetapi itulah kenyataannya, memang ada orang-orang sebaik Sean dan Leigh Anne tanpa alasan apapun di belakangnya.
Tak diragukan lagi inilah akting terbaik yang bisa disuguhkan seorang Sandra Bullock sehingga pantas diganjar Piala Oscar. Ia tidak hanya menampilkan ciri khasnya dalam berekspresi dan bertingkah laku, tetapi juga konsisten dalam beraksen dan berpendirian teguh. Aaron bermain decent sebagai Michael, tidak luar biasa tapi cukup untuk menjiwai peran remaja Afro-Amerika yang lembut dan pendiam. Si kecil Jae Head cukup mencuri perhatian dengan sikap witty nya. Sedangkan Bates dan McGraw menunjukkan kelasnya sebagai artis berpengalaman.
Jangan hiraukan durasinya yang dirasa panjang karena The Blind Side akan meleburkan anda dalam suasana harmonis kekeluargaan yang haru sekaligus inspiratif. Nasib bisa jadi sudah digariskan tetapi manusia tidak boleh berhenti berusaha dan harus tetap optimis mengejar apa yang menjadi tujuannya. Sebuah film yang akan membuat siapapun yang meninggalkan gedung bioskop dengan semangat positif untuk terus melakukan yang terbaik dalam hidupnya.

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$255,950,375 till early May 2010

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 09 Oktober 2010

MADAME X : Superhero Istimewa Bersenjata Antik Berantas Ketidakadilan

Quotes:
Adam: Tarjo, dapet salam dari centong nasi..

Storyline:
Negeri antah berantah tengah dirundung masalah politik saat PEMILU dimana semua partai politik berlomba-lomba berkampanye. Salah satunya adalah partai Kanjeng Badai yang beristrikan tiga wanita dan sangat ambisius menjadi calon presiden. Adalah trio banci Adam, Aline dan Cuncun yang bekerja di salon dan merayakan ultah Adam dengan berdansa di klub waria pada suatu malam. Malang tak dapat ditolak, klub tersebut digerebek Ormas Bogem yang berbuntut pada tewasnya Aline. Adam sendiri yang dilempar ke sebuah truk akhirnya bertemu Om Rudi dan Tante Yantje yang kemudian mengajarinya tari lenggok. Perlahan-lahan ketangkasan yang dimiliki Adam dengan berbagai tempaan latihan membuatnya berganti identitas menjadi Madame X untuk melawan ketidak adilan Kanjeng Badai.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films dan diproduseri oleh Nia Dinata.

Cast:
Aming sebagai Adam
Marcell Siahaan sebagai Kanjeng Badai
Shanty sebagai Kinky Amalia
Sarah Sechan sebagai Bunda Lilis
Fitri Tropica sebagai Cuncun
Robby Tumewu sebagai Om Rudi
Ria Irawan sebagai Tante Yantje
Joko Anwar sebagai Aline
Ikhsan Himawan sebagai Tarjo
Titi DJ
Vincent Rompies

Director:
Lucky Kuswandi.

Comment:
Cukup lama Kalyana Shira Films absen memproduksi film lokal sejak Berbagi Suami (2006). Dan tahun ini tiba-tiba Nia Dinata selaku produsernya kembali turun gunung dengan film bertemakan superhero dengan poster bergaya kartun. Jika anda memperhatikan posternya dengan seksama, niscaya bisa menebak 70-80% cerita apa yang kira-kira disuguhkan. Seorang pahlawan “unik” gaya baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan suatu karakter istimewa untuk diangkat ke sebuah film superhero bernuansa lokal.
Dengan plot yang carut marut itulah, film ini berusaha sejujur-jujurnya menyentil segala problematika yang terjadi di negara kita ini. Mulai dari ormas yang rajin main hakim sendiri, berita infotainment yang semakin tak karuan, situasi politik yang kerap kisruh, perilaku hedonisme wanita kalangan atas, kaum minoritas yang kian terpojok. Semua itu dilabeli negeri antah berantah tanpa menyebut nama. Cerdik sekaligus meminimalisir aspek kontroversial tentunya.
Semua aktor-aktris yang mengisi cast film ini tidak usah diragukan lagi. Aming seperti biasa "lugas" dengan ekspresi dan tingkah laku khasnya, ditambah kostum kulit dan wig hitam putih sepintas mengingatkan kita pada biduanita internasional Lady Gaga. Joko Anwar yang tampil sekilas juga cukup menggigit dengan mulut bawelnya. Duet om Robby dan tante Ria tak usah ditanya, klop sebagai dua mentor senior. Debutan-debutan seperti Marcell dan Fitri juga tidak kalah menggigit. Juga ada Sarah, Vincent, Shanty yang tidak boleh disepelekan kontribusinya. Pokoknya semua mengisi peran masing-masing dengan menarik, mungkin karena karakterisasinya sendiri juga kaya improvisasi.
Meskipun terkesan berantakan, norak dan sangat colorful, Madame X tetaplah sebuah tontonan yang menjual. Di luar faktor faktual terkini dan cast yang cemerlang, keberanian trio produser-sutradara-penulis patut diacungi jempol untuk keberaniannya menampilkan sesuatu yang beda dalam porsi humor yang pas tanpa bermaksud menyinggung pihak minoritas tertentu. Inilah cara baru penegak keadilan bekerja dengan senjata-senjata yang "tidak terduga". Thumbs up!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 08 Oktober 2010

GOING THE DISTANCE : Manis Getir Hubungan Cinta Jarak Jauh

Quotes:
Erin: We're not trying to choke each other with commitment. But now you're fucking freaking me out and I can't do anything but picture him humping some fucking bartender. Thank you.
Corinne: I'm your sister. This is what I'm here to do: terrify you.


Storyline:
6 minggu tersisa dari kontrak magangnya di New York Sentinel, Erin malah jatuh hati pada Garrett yang baru putus dari kekasihnya. One night stand yang mereka lakukan malah berlanjut hingga keduanya sepakat menjalin hubungan jarak jauh New York-San Fransisco. Tidak pernah mudah karena Garrett ditertawakan kedua sahabatnya, Erin juga dicemooh kakak perempuannya. Akankah ada jalan tengah yang adil bagi mereka pada akhirnya atau semua itu harus berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan?

Nice-to-know:
Cuma 2 karakter yang memiliki nama lengkap dalam film ini yaitu Garrett Austin Scully untuk Justin Long dan Erin Rankin Langford untuk Drew Barrymore.

Cast:
Mulai bermain film layar lebar di usia 5 tahun lewat ltered States (1980), Drew Barrymore berperan sebagai Erin
Terlibat dalam 13 proyek sekaligus di tahun 2009 merupakan tahun tersibuk Justin Long yang kali ini bermain sebagai Garrett
Charlie Day sebagai Dan
Jason Sudeikis sebagai Box
Christina Applegate sebagai Corinne
Ron Livingston sebagai Will

Director:
Merupakan feature film pertama Nanette Burstein setelah 4 film dokumenter sebelumnya.

Comment:
Hubungan jarak jauh memang tidak pernah mudah untuk dijalani atas pertimbangan apapun juga. Beda kota ataupun beda negara sama saja. Pesimis? Percayalah karena saya sendiri pernah mengalaminya selama 4 tahun! (Kok malah jadi curhat? Lanjut ya!) Siapa yang punya pendapat serupa? Di luar dugaan sang produser film ini, David Neustadter juga memiliki pengalaman serupa dengan mantan kekasihnya dahulu.
Penulis skrip Geoff LaTulippe dengan jitu memainkan konflik-konflik basi long distance relationship ke dalam takaran komedi yang menyenangkan, tidak berlebihan tapi juga tidak garing. Sudut pandang pria dan wanita dihadirkan silih berganti untuk mendapatkan kesamarataan persepsi dan tidak ada pihak manapun yang lebih diuntungkan ataupun dirugikan. Tak lupa dukungan tokoh-tokoh di luar pasangan tersebut sebagai pengamat tersendiri yang bisa suportif dan preventif sekaligus.
Keseimbangan chemistry juga berhasil dijaga oleh Barrymore dan Long yang tampil ceria. Keduanya adorable dan kasmaran satu sama lain tanpa mengesankan kenaïfan, sebuah sikap yang sering timbul saat meyakini sesuatu yang tidak pasti. Kekurangannya mungkin ada pada gap usia Barrymore yang memang terlihat lebih tua untuk Long. Namun hal itu tidak terlalu menjadi masalah sejauh esensi hubungan dapat terjaga secara riil dengan segala on-off nya.
Sutradara Burstein di satu sisi seperti menggunakan format dokudrama dalam mengetengahkan hubungan jarak jauh ini. Bagaimana perjalanan digambarkan dengan animasi pesawat melintasi peta dan kamera yang terus bergerak di antara dua negara bagian untuk meliput kehidupan Garrett bersama teman-teman prianya atau Erin bersama keluarga saudarinya. Berbagai perkataan “dewasa” yang berkali-kali terlontar dari mulut karakternya memang terasa frontal tapi cukup menegaskan betapa sarkastisnya dunia di luar sana.
Going The Distance merupakan sebuah komedi romantis yang menghibur, tidak hanya untuk penonton wanita sebagaimana biasanya tetapi juga penonton pria. Tidak menjual mimpi indah dengan akhir bahagia tetapi perspektif nyata yang terkadang sulit diduga endingnya. Humor yang dikemas sedemikian rupa untuk membuat anda spontan tertawa ngakak sekaligus tersenyum getir bagi sebagian orang yang pernah menjalani LDR. Pada akhirnya memang kembali lagi pada kesediaan untuk memilih bagian mana dari kata hati dan logika yang dianggap terbaik bagi hidup anda. That's just how life happens, people!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$17,804,299 till Oct 2010

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 07 Oktober 2010

SATU JAM SAJA : Tiga Sahabat Dalam Cinta Bersyarat

Quotes:
Gadis: Memang kamu nggak mau besok tidur disini sama aku?

Storyline:
Andika, Hans dan Gadis sudah bersahabat sejak kecil hingga beranjak dewasa. Pada suatu kesempatan, Andika berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di Jerman. Saat Hans dan Gadis ingin menyambangi Andika, mobil yang ditumpangi mereka mogok di tengah hujan badai. Sayangnya Hans tidak dapat menahan nafsunya sehingga tidak lama kemudian, Gadis hamil akibat perbuatannya itu. Andika yang diam-diam mencintai Gadis bersedia menikahinya sekaligus menjadi ayah bagi jabang bayi tersebut. Namun luka di hati Gadis tidak bisa hilang begitu saja. Di sisi lain, Hans menyesali perbuatannya dan meminta Andika mempertemukannya kembali dengan Gadis. Bagaimana akhir dari kemelut ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Karnos Film dan diproduseri oleh Santy Karno.

Cast:
Vino G. Bastian sebagai Andika
Revalina S. Temat sebagai Gadis
Andhika Pratama sebagai Hans
Rano Karno sebagai Bos Andika
Widyawati sebagai Dokter
Marini sebagai Ibu Gadis

Director:
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi pria kelahiran Bogor bernama Ario Rubbik ini.

Comment:
Jujur saja film ini sangat mengandalkan nama Rano Karno yang sudah sangat lama absen dari dunia perfilman Indonesia disamping fakta bahwa ia tampil juga dalam beberapa scene sebagai pemilik dealer motor tempat Andika bekerja. Selain itu apa yang dijual film ini? Tentu saja trio Reva, Vino dan Andhika yang berulangkali mencatat sukses dalam film-film yang pernah mereka perankan sebelumnya.
Plot ceritanya yang ditulis Rano sebetulnya sangat mudah ditebak dan boleh dibilang tidak ada sesuatu yang baru. Cinta segitiga antar tiga sekawan yang akhirnya menimbulkan tragedi dimana perasaan dan persahabatan benar-benar diuji. Mungkin dari menit pertama hingga terakhir bisa anda konstruksikan sendiri bahkan sejak opening scene bergulir. Itulah kenyataannya. Pemakaian judul yang juga terinspirasi dari lagu itu juga terkesan terlalu mendramatisir walaupun tidak harus seperti itu.
Dari paparan di atas, apakah kualitas film ini sedemikian buruk? Nyatanya tidak. Justru kejujuran dan kesederhanaan yang dijual cukup mengena. Akting Reva dan Vino bisa dikatakan cemerlang, permainan emosi mereka tertangkap dengan baik. Andhika sekuat tenaga mengimbangi tapi nampaknya ruang yang diberikan padanya untuk mengeksplorasi akting juga tidak sebesar kedua nama di atas. Belum lagi para pendukung senior yang seakan membawa film ini kembali ke nuansa tahun 1980an atau setidaknya awal 1990an.
Bagi sebagian penonton terutama pria bisa jadi film ini membosankan dikarenakan alur yang lambat dengan musik latar yang seharusnya membantu mood ternyata sangatlah minim. Namun kewajaran Satu Jam Saja dalam bercerita diyakini tetap mampu menguras emosi audiens yang spontan tertawa dengan dialog-dialog cheesy ataupun terharu dengan permainan nasib yang tidak adil itu.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 04 Oktober 2010

THE STEPFATHER : Teror Ayah Tiri Pembunuh

Tagline:
Daddy's home.

Storyline:
Ketika Michael Harding kembali ke rumah dari sekolah militernya, ia menemukan ibunya tergila-gila dengan kekasih barunya, David yang walaupun baru berpacaran selama 6 bulan bahkan berencana menikah dalam waktu dekat. Mulanya, David nampak seperti pria baik yang pantas menjadi figur suami dan ayah tiri yang sempurna. Kemudian Michael dan kekasihnya, Amber tanpa sengaja mendapati segala keanehan yang berasal dari masa lalu David yang misterius. Kini yang harus dilakukan adalah membongkar sisi gelap calon ayah tiri tersebut sebelum semuanya terlambat.

Nice-to-know:
Bintang The Stepfather (1987), Terry O'Quinn sempat ditawarkan menjadi cameo dalam remake ini tetapi ditolaknya.

Cast:
Sebelumnya Walsh dan Ward lebih banyak bermain dalam serial televisi.
Dylan Walsh sebagai David Harris
Sela Ward sebagai Susan Harding
Penn Badgley sebagai Michael Harding
Amber Heard sebagai Kelly Porter

Director:
Lebih banyak menyutradarai serial televisi, Prom Night (2008) merupakan debut layar lebar bagi Nelson McCormick.

Comment:
Jika anda sudah disuguhi jawaban sebuah film pada bagian prolognya, lantas apa lagi yang bisa dijual? Jawabannya tentu saja prosesnya. Dalam sebuah thriller ada lagi yang lebih penting yaitu siapa saja yang berhasil selamat dari teror antagonisnya. Apalagi jika targetnya adalah sebuah keluarga yang biasanya beranggotakan orangtua dan anak-anak. Tidak tega rasanya membayangkan hal itu terjadi.
Disini kita punya Ward sebagai sang ibu, Badgley sebagai sang putra dan Heard sebagai kekasihnya. Ketiga tokoh ini cukup dominan daripada aktor-aktris cilik yang bahkan kemunculannya tidak konsisten. Ward bermain lumayan tetapi tidak diberikan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi kegalauannya sebagai ibu tiga anak dan janda yang kesepian. Sedangkan Badgley-Heard nyaris selalu mengenakan pakaian minim di setiap scene yang melibatkan mereka. Baiklah, sebut saja audiens tahu badan mereka berdua memang bagus tetapi apakah pantas jika diperlihatkan terus menerus? Saya jadi mempertanyakan motif di baliknya. Namun kunci utama justru ada di tokoh antagonis dalam hal ini Walsh yang terus terang saja belumtidak cukup mengerikan. Ia hanya mengandalkan wajah dingin dan seringai sinisnya. Saya tidak pernah menyaksikan O’Quinn tetapi banyak review yang menilai ia lebih berhasil dalam sisi ini. Entahlah. Karakterisasi para tokoh disini juga menurut saya masih terlalu dangkal.
Sutradara McCormack memang tergolong sukses menyajikan adegan demi adegan yang memacu adrenalin anda. Hal ini tidak lepas dari kesetiaannya pada originalitas film yang diproduksi pada tahun 1987 itu. Tentunya beberapa elemen penting juga diperbaharui disini terutama dari segi musik latar yang mengiringinya. Namun apakah sebuah thriller bisa disebut memuaskan hanya dengan fakta tersebut? Penilaian akhir, The Stepfather sudah memiliki elemen thriller yang baku dan baik tetapi sayangnya terlalu lemah di karakterisasi dan penerjemahan skripnya sehingga menjadi tidak memorable.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$28,802,131 till mid Nov 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 02 Oktober 2010

LEGEND OF THE GUARDIANS : THE OWLS OF GA'HOOLE Saat Burung Hantu Berpetualang

Tagline:
On his way to finding a legend...he will become one.

Storyline:
Saat sedang belajar terbang dan terjatuh ke dasar hutan, dua burung hantu muda, Soren dan Kludd diculik oleh tentara St. Aggie's yang memiliki camp pelatihan burung hantu agar menjadi tentara yang handal. Kludd yang ambisius merasa dihargai dan memilih tinggal, sedangkan Soren yang lembut hati berusaha melarikan diri bersama Gylfie yang ditemuinya disana. Usaha yang tidak mudah karena Soren masih dalam tahap belajar sedangkan Nyra beserta bala tentaranya terus mengejar. Susah payah kembali ke kampung halamannya, Soren kemudian bertemu idolanya Ezylryb yang kemudian mengajarnya menjadi burung hantu sejati. Kini Soren yang baru siap menjalani petualangannya sendiri dan meneruskan apa yang diyakininya.

Nice-to-know:
Film pertama sutradara Snyder yang tidak mendapat rating Dewasa.

Voice:
Jim Sturgess sebagai Soren
Emily Barclay sebagai Gylfie
Abbie Cornish sebagai Otulissa
Essie Davis sebagai Marella
Adrienne DeFaria sebagai Eglantine
Joel Edgerton sebagai Metalbeak
Ryan Kwanten sebagai Kludd
Anthony LaPaglia sebagai Twilight
Helen Mirren sebagai Nyra
Hugo Weaving sebagai Noctus / Grimble
Sam Neill sebagai Allomere
Richard Roxburgh sebagai Boron

Director:
Mulai dikenal setelah membesut Dawn of the Dead (2004), Zack Snyder kini dianggap sebagai salah satu sutradara bertalenta yang rata-rata filmnya sukses.

Comment:
Jangan ragukan kemampuan grafis sutradara Snyder. Ia sudah membuktikannya berkali-kali lewat live-action movie sebelumnya. Bagaimana dengan animasi? Film ini adalah jawabannya. Dan sekali lagi ia menjawab tantangan itu dengan baik. Lihat bulu, paruh, kedipan mata, gerak bibir, kepakan sayap para burung hantu disini yang sangat nyata dan detail. Dipadukan dengan elemen 3D menghadirkan konsep visualisasi yang luar biasa indah apalagi dengan berbagai close-up shot. Awesome!
Dari segi cerita, nyaris tidak ada yang baru disini. Pengenalan terhadap dua saudara yang saling bersaing untuk kemudian memisahkan keduanya ke dalam sisi gelap dan terang. Otomatis konsen penonton akan jatuh pada protagonisnya yaitu Soren yang sepintas terlihat lebih lemah dan kurang ahli dibandingnya sang antagonis Kludd yang lebih kuat dan banyak kemampuan. Sturgess dan Kwanten memberikan intonasi suara yang pas ke dalam kedua karakter tersebut.
Sketsa yang lebih besar adalah keberadaan dua kubu yang juga saling bertolak belakang. Pertama ada The Aggie’s yang memiliki kekuatan misterius dari persembahan-persembahan yang dilakukan warganya. Mereka lebih terlihat sebagai negara fasis yang mengusung militerisme dengan berbagai persenjataan yang komplit.
Kedua ada Tree of Ga’Hoole yang terasa lebih beradab dan manusiawi dimana semua warganya hidup berdampingan secara aman dan damai. Mereka mewakili negara demokrat yang mengembangkan suasana kekeluargaan yang kental.
Sepanjang film anda akan disuguhi petualangan Soren dkk dalam menjalani impian masa kecilnya akan figur kepahlawanan yang nyata sekaligus memerangi tirani yang membelenggu. Saran saya saksikan film ini dalam 3D sebab memang dibuat untuk itu. Versi 2D nya terus terang menjadi kurang menggigit apalagi sosok burung hantu masih terasa asing untuk dikedepankan dalam sebuah film animasi. Dibandingkan film-film sejenis yang sudah lebih dahulu beredar. Legend of the Guardians : The Owls of Ga’Hoole tidaklah terlalu istimewa tetapi sangat memanjakan mata.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$16,112,211 in opening week end of Sep 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 01 Oktober 2010

SWEETHEART : Potret Kontras Dunia Remaja Putri

Quotes:
Imel: Gimana caranya mereka masih mau sama gue kalo gue udah dipake??

Storyline:
Berat hati, Nina terpaksa pindah ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baru mengikuti ibunya Cynthia yang baru saja dinikahi secara siri oleh seorang pengusaha kaya. Kemudian Nina berkenalan dengan cowok tampan bernama Irwan yang juga tinggal di sekitar situ. Di sekolah Nina juga berteman dengan Misha yang terobsesi menjadi anggota geng Sweetheart yang paling populer disana. Geng ini beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry sebetulnya bukan panutan yang baik. Mereka senang berfoya-foya, dugem, mabuk-mabukan bahkan melakukan seks bebas. Imel yang paling dominan diantara ketiganya mengalami guncangan batin saat diputuskan oleh Jodi yang juga vokalis band tenar. Sayangnya sakit hati Imel lalu dilampiaskan kepada Nina lewat serangkaian "penyiksaan". Batin Nina hancur tetapi ia harus bangkit berdiri dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan barunya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan diproduseri oleh Ferry Angriawan.

Cast:
Marcel Chandrawinata sebagai Irwan
Aurellie Moeremans sebagai Nina
Sabai Morscheck sebagai Imel
Joanna Alexandra sebagai Cherry
Sheila Thohir sebagai Fifi
Ayu Azhari sebagai Cynthia
Ivan Ray sebagai Jodi

Director:
Merupakan film kedua bagi Hanny R. Saputra di tahun 2010 ini setelah Sst.. Jadikan Aku Simpanan di bulan Januari lalu.

Comment:
Prolog film ini seperti ada di pertengahan sesuatu. Kita tidak tahu siapa Nina yang lugu ataupun trio populer berlakuan negatif Sweetheart yang beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry. Latar belakang keempatnya tidak disinggung samasekali. Hal yang sesungguhnya sangat penting bagi audiens untuk dapat menyelami karakterisasi tokoh-tokoh utama itu. Yang ada narasi berjalan terus merekam berbagai polah tingkah keempat remaja putri tersebut dengan alur linier. Konflik demi konflik terus dijejali kalau tidak mau disebut berlebihan. Namun harus diingat kembali, ini adalah film remaja yang menyimpan misi edukasi tersendiri.
Sutradara Hanny menyajikan sinematografi yang teduh dengan pemilihan warna-warni lembut yang menarik. Kepiawaiannya menyajikan drama yang baik memang tidak bisa dipungkiri seperti yang pernah diperlihatkannya dalam Heart. Momen-momen bold yang menohok emosi ditampilkan secara gamblang. Penampilan Sabai yang meledak-ledak sebagai gadis pembangkang cukup mampu membuat penonton berantipati padanya. Sebaliknya Aurellie tampil kalem tetapi persuasive. Kedua karakter yang bertolak belakang itulah yang menjadi nilai jual utama film ini. Kehadiran Marcell, Joanna, Ayu dll hanya terkesan sebagai pelengkap belaka dan tidak ada alasan yang kuat untuk membuat mereka beerimprovisasi disini.
Jika anda bisa memaafkan letusan peluru yang terjadi di awal, niscaya Sweetheart akan menjadi tontonan yang memenuhi standar kualitas sebuah film. Terlepas dari klise dan predictable endingnya, saya menganggap film ini masih layak untuk ditonton. Nilai-nilai persahabatan yang berpadu dengan peran orangtua dalam menanamkan pendidikan moral sejak dini memang bagian terpenting dalam pertumbuhan seseorang yang beranjak remaja. Bukankah masa depan dan pilihan dalam hidup ditentukan dari fase tersebut?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 30 September 2010

LASKAR PEMIMPI : Komedi Musikal Berlatar Agresi Militer 2

Quotes:
Kopral Jono: Bebek-bebek kami masih lebih pintar daripada bebek-bebek kalian..

Storyline:
Sri Mulyani hanya bisa meratapi ayahnya yang dibawa tentara Belanda dalam Agresi Militer II di Maguwo, Jawa Tengah pada bulan Desember 1948. Iapun mengembara hingga ke wilayah Panjen dan berjumpa dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito yang tengah membuka pendaftaran anggota baru. Lantas bergabunglah Udjo yang didesak pujaan hati Wiwid, Ahok yang beretnis Cina, Tumino yang beretnis Jawa, Toar si gerilyawan rabun, Kopral Jono yang turun pangkat dan ingin menikahi kekasihnya Yayuk yang juga adik kandung Wiwid ke dalam squad yang juga melibatkan Letnan Bowo, tangan kanan Kapten Hadi Sugito.
Persiapan demi persiapan pun mereka lakukan sebelum menghadapi Belanda yang dipimpin Letnan Kuyt. Malangnya Letnan Kuyt berhasil menculik Wiwid, Yayuk beserta warga desa lainnya terlebih dahulu hingga membuat Kapten Jono cs berang. Berbekal informasi dari tentara KNIL yang mereka tawan yakni si gembul Once, mereka nekad menyerbu markas Letnan Kuyt. Berhasilkah mereka mencatatkan diri sebagai pahlawan tanpa nama yang terlupakan sejarah perjuangan Indonesia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Sri Mulyani
Udjo Project Pop sebagai Udjo
Odie Project Pop sebagai Ahok
Gugum Project Pop sebagai Tumino
Yosi Project Pop sebagai Toar
Oon Project Pop sebagai Once
Dwi Sasono sebagai Kopral Jono
Shanty sebagai Wiwid
Gading Marten sebagai Kapten Hadi Sugito
T Rifnu Wikana sebagai Letnan Bowo
Masayu Anastasia sebagai Yayuk
Marcell Siahaan
Candil

Director:
Setelah menyelesaikan 3 film tahun 2009 lalu yang ditutup dengan Keramat, Monty Tiwa kembali dengan film pertamanya di tahun 2010 lewat Laskar Pemimpi ini.

Comment:
Poster film ini terkesan “epik” tapi melihat jajaran pemain dan sutradaranya, kesan tersebut langsung sirna. Siapa yang tidak mengenal Project Pop sebagai grup vokal pengocok tawa dengan polah tingkah dan lirik-lirik jenakanya yang telah eksis lebih dari satu dekade di blantika musikIndonesia?
Benar sekali. Film ini didesain menjadi panggung mereka, berakting dan bernyanyi sekaligus nyaris di setiap scenenya. Jika boleh saya mengatakan, kebebasan improvisasi rasanya diberikan secara penuh kepada masing-masing personil Project Pop, skrip yang ditulis Eric dan Monty Tiwa sepertinya hanya menjadi buku panduan belaka yang tidak mutlak dihafal.
Di luar dugaan, Oon dan Udjo mendapat porsi yang "lebih" dibandingkan rekan-rekannya. Tidak apalah toh keduanya gape memasang mimik komedik yang sangat diandalkan memancing tawa.Nama-nama seperti Dwi Sasono, Shanty, Masayu Anastasia, Teuku Rifnu Wikana yang sebenarnya lebih senior dalam bidang film terasa dikesampingkan kali ini. Ironisnya, Rifnu justru baru saja merampungkan Darah Garuda yang bertemakan mirip tapi jauh lebih serius itu.
Monty yang kabarnya melakukan persiapan yang cukup lama untuk film ini sayangnya hanya memperhatikan kostum pejuang/tentara dan setting outdoornya saja sehingga aspek lain yang serba jelas tertangkap kamera menjadi kedodoran. Adegan "epik"nya yang melibatkan persenjataan pun tidak sampai menggelegar, lebih terdengar seperti bunyi petasan basah yang nyaris gagal meledak. Ya itulah kenyataannya karena elemen melodinya justru lebih dominan disini, itupun tidak terlalu mulus timingnya.
Terlepas dari kekurangan disana-sini, kemunculan Laskar Pemimpi yang bisa disebut bergenre action komedi musikal perjuangan ini sedikit memperkaya tema perfilman nasional yang sudah semakin monoton.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 29 September 2010

LEGEND OF THE FIST : Kembalinya Chen Zhen Pahlawan Bertopeng

Original title:
Jing wu feng yun: Chen Zhen

Storyline:
7 tahun berlalu paska kematian Chen Zhen yang menemukan siapa pelaku penembakan gurunya Huo Yuanjia pada saat tentara Jepang menguasai Shanghai. Seorang pria misterius tiba dari luar negeri dan segera menjadi kawan dari bos mafia Liu Yutian. Pria tersebut sesungguhnya adalah penyamaran Chen Zhen yang bertekad mengobrak-abrik gerombolan penjahat yang berniat membentuk koalisi dengan Jepang. Dengan topeng dan seragam yang menutupi identitasnya, Chen Zhen beraksi setiap malam menyelamatkan orang-orang tidak bersalah yang diburu tentara Jepang.

Nice-to-know:
Merupakan versi terbaru dari film klasik Fist of Fury (1972).

Cast:
Donnie Yen sebagai Chen Zhen
Shu Qi sebagai Kiki
Anthony Wong sebagai Liu Yutian
Shawn Yue
Yasuaki Kurata sebagai Ayah Chikaraishi
Ryu Kohata sebagai Colonel Chikaraishi

Director:
Film ke-38 bagi Andrew Lau Wai Keung yang mengawalinya lewat Lian ai de tian kong (1984).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal film lawas legendaris Fist Of Fury yang melejitkan nama Bruce Lee pada tahun 1972? Sudah diremake berkali-kali dengan berbagai style termasuk yang paling ternama salah satunya adalah Fist Of Legend (1994) yang dibintangi Jet Li. Kini di abad 21 bisa disebut era nya Donnie Yen untuk film-film martial arts Hongkong dan giliran Andrew Lau lah yang mengarahkannya dalam versi terbarunya ini.
Chen Zhen sendiri sesungguhnya merupakan karakter fiktif. Dan entah mengapa saya lebih merasa karakter ini justru lebih terinspirasi oleh Green Hornet dengan topeng dan jubah hitam yang dikenakannya. Belum lagi polisi-polisi bermuka dua Huang Bo dan rekan-rekannya yang terasa komikal itu. Seakan menegaskan unsur komedi dan aksi yang mendasari film ini.
Donnie Yen memang terampil sebagai Chen Zhen. Kemampuan bertarungnya dengan tangan kosong ataupun double-stick masih memukau terutama pada bagian pembuka dan penutup film. Sayangnya hanya itu yang bisa ia perlihatkan, tidak ada kedalaman emosi seperti layaknya Ip Man. Aktingnya terasa datar dan hanya menuntaskan apa yang harus ia lakukan saja.
Shu Qi bermain menarik sebagai Kiki dengan pesona penyanyi dan penjiwaan wanita yang harus berdiri di dua pihak sekaligus. Sama halnya dengan Anthony Wong yang berperan seperti biasanya sebagai konglomerat pemilik night club Liu Yutian. Jika dipikirkan, terlalu banyak karakter yang lalu lalang dalam film ini dan tidak terlalu memberikan kontribusi yang bermakna dalam membangun konflik yang sekadar mengambang.
Sutradara sekaliber Andrew seperti kehilangan sentuhan terbaiknya yang kebingungan menentukan mood film mau diarahkan kemana. Padahal skrip sudah ditulis oleh empat orang termasuk Gordon Chan yang juga bertindak sebagai produser kali ini. Meski demikian kinerjanya menghadirkan scene-scene berkemilau dalam suasana Shanghai tahun 1920an patut diacungi jempol.
Selebihnya Legend Of The Fist : The Return of Chen Zhen hanyalah film aksi biasa yang tidak menunjukkan kedalaman emosi apapun dan banyak menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Satu-satunya yang cukup heroik dan patut diingat adalah semboyan “the Chinese are not the sick men of Asia" yang berulangkali dikumandangkan agar bangsa berkulit kuning tidak diremehkan begitu saja di peta dunia terutama bangsa Barat pada khususnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$32,978 till May 2011 (limited)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: