XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label sabai morscheck. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabai morscheck. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

MILLI AND NATHAN : Datang Pergi Romantisme Remaja

Quotes:
Milli: Cinta itu seperti kopi, enak diminum kalo masih panas. Tapi resikonya jadi cepat habis..

Storyline:
Sekelas dalam sebuah SMU di Bandung, Milli dan Nathan saling menyukai satu sama lain. Nathan yang cerdas dan fokus pada cita-citanya sebagai kebanggaan keluarga seringkali mengingatkan Milli untuk rajin belajar. Namun sikap Milli yang polos malah semakin menarik Nathan untuk menjatuhi pilihannya. Keduanya pun berpacaran layaknya remaja berbahagia, apalagi didukung oleh kedua sahabat mereka yaitu Asti dan Oji. Selepas kelulusan, Nathan lebih memilih melanjutkan kuliah di Jakarta, meninggalkan Milli yang memilih untuk menetap dan meneruskan impiannya sebagai penulis novel. Perpisahan tidak terhindarkan meski beberapa tahun kemudian keduanya bertemu kembali tanpa bisa membohongi perasaan masing-masing. Apakah menyatukan dua hati yang saling mencinta sedemikian sulit karena pertentangan ego?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Falcon Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX Platinum XXI pada tanggal 22 Juni 2011.

Cast:
Olivia Jensen Lubis sebagai Milli
Chris Laurent sebagai Nathan
Sabai Morscheck sebagai Asti
Chaca Rasidy Ariefiansyah sebagai Oji
Fendy Chow sebagai Oscar
Frans L. Tumbuan
Minati Atmanagara
Mario Lawalata
Him Damsyik

Director:
Pria kelahiran Salatiga berusia 46 tahun bernama Hanny R. Saputra ini mulai dikenal luas lewat debutnya, Virgin di tahun 2004.

Comment:
Romantisme remaja.. Ah rasanya sebuah tema drama cinta yang tak lekang oleh waktu dan telah melahirkan berjuta-juta versi diantaranya. Lantas yang tersisa hanyalah eksekusi sebuah skenario dengan sentuhan baru plus nilai jual yang coba ditawarkan disana-sini. Kali ini faktor nama sohor Hanny R. Saputra dan Olivia Jensen lah yang berusaha mengangkat film secara keseluruhan. Berhasil atau tidaknya tentu dikembalikan kepada penilaian masing-masing penonton.
Plot ceritanya sendiri nyaris sama dengan sebuah judul film nasional yang baru saja tayang beberapa waktu lalu. Tidak perlu saya sebutkan agar tidak terkesan spoiler. Perbandingan dari berbagai segi boleh saja dilakukan tapi yang jelas masing-masing film memiliki plus minus tersendiri. Kali ini sang penulis skrip handal Titien Wattimena berupaya menyuguhkan detail konflik dari sudut pandang para karakter utamanya sehingga didapatkan sisi personal yang ingin disampaikan.
Olivia merupakan aktris muda berbakat dalam hal akting tapi masih terlihat kesulitan memvariasikan perannya dari satu film ke film lainnya. Karakter Milli di tangannya digambarkan siswi optimis, lugu, ceria kemudian bertransformasi menjadi penulis muda cerdas, sukses, mandiri. Sedangkan debut Chris tidak terlalu mengecewakan meski ia lebih mengandalkan wajah fresh dan cutenya sebagai heartthrob bernama Nathan yang sikapnya selalu maju mundur itu.
Chemistry mereka terjalin cukup manis dan menggemaskan. Saya tidak akan berbicara mengenai French kiss yang kabarnya digunting LSF tersebut. Namun sejak menit awal penonton diajak bersimpati pada keduanya. Sedangkan karakter yang dihidupkan oleh Sabai dan Chaca juga turut memperkuat esensi persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah itu dimana permainan “Pancasila Lima Dasar” mungkin akan membawa ingatan anda melayang kembali..
Sutradara Hanny masih menggunakan ciri khasnya yakni tempo lambat untuk mengeksekusi skrip detail dari Titien. Bisa jadi anda akan merasa bosan walau jika ditelaah lebih jauh, gambar-gambar yang disuguhkan sebetulnya berbicara banyak. Terima kasih pada lokasi setting Kota Kembang yang mampu dimaksimalkan untuk mendukung penceritaan. Dramatisasi terbangun dengan baik tanpa kesan berlebihan walau sayangnya harus ditutup dengan ending yang terlalu rushing tanpa penjelasan lebih dalam akan alasan dan situasi sebenarnya yang dihadapi tokoh Nathan tersebut.
Milli & Nathan memang tidak akan mengajarkan anda akan konsep baru percintaan dua sejoli muda usia tetapi harus diakui cukup mengesankan dalam bertutur dan menegaskan problema yang terjadi di antara kedua tokoh utamanya. Suatu suguhan yang mengajak anda berandai-andai untuk mengalami perasaan seperti yang dimiliki Milli. Bukankah bahagia dan sedih itu satu paket? Terbungkus dalam balutan satu cinta yang tulus bersemi..

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 01 Oktober 2010

SWEETHEART : Potret Kontras Dunia Remaja Putri

Quotes:
Imel: Gimana caranya mereka masih mau sama gue kalo gue udah dipake??

Storyline:
Berat hati, Nina terpaksa pindah ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baru mengikuti ibunya Cynthia yang baru saja dinikahi secara siri oleh seorang pengusaha kaya. Kemudian Nina berkenalan dengan cowok tampan bernama Irwan yang juga tinggal di sekitar situ. Di sekolah Nina juga berteman dengan Misha yang terobsesi menjadi anggota geng Sweetheart yang paling populer disana. Geng ini beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry sebetulnya bukan panutan yang baik. Mereka senang berfoya-foya, dugem, mabuk-mabukan bahkan melakukan seks bebas. Imel yang paling dominan diantara ketiganya mengalami guncangan batin saat diputuskan oleh Jodi yang juga vokalis band tenar. Sayangnya sakit hati Imel lalu dilampiaskan kepada Nina lewat serangkaian "penyiksaan". Batin Nina hancur tetapi ia harus bangkit berdiri dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan barunya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan diproduseri oleh Ferry Angriawan.

Cast:
Marcel Chandrawinata sebagai Irwan
Aurellie Moeremans sebagai Nina
Sabai Morscheck sebagai Imel
Joanna Alexandra sebagai Cherry
Sheila Thohir sebagai Fifi
Ayu Azhari sebagai Cynthia
Ivan Ray sebagai Jodi

Director:
Merupakan film kedua bagi Hanny R. Saputra di tahun 2010 ini setelah Sst.. Jadikan Aku Simpanan di bulan Januari lalu.

Comment:
Prolog film ini seperti ada di pertengahan sesuatu. Kita tidak tahu siapa Nina yang lugu ataupun trio populer berlakuan negatif Sweetheart yang beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry. Latar belakang keempatnya tidak disinggung samasekali. Hal yang sesungguhnya sangat penting bagi audiens untuk dapat menyelami karakterisasi tokoh-tokoh utama itu. Yang ada narasi berjalan terus merekam berbagai polah tingkah keempat remaja putri tersebut dengan alur linier. Konflik demi konflik terus dijejali kalau tidak mau disebut berlebihan. Namun harus diingat kembali, ini adalah film remaja yang menyimpan misi edukasi tersendiri.
Sutradara Hanny menyajikan sinematografi yang teduh dengan pemilihan warna-warni lembut yang menarik. Kepiawaiannya menyajikan drama yang baik memang tidak bisa dipungkiri seperti yang pernah diperlihatkannya dalam Heart. Momen-momen bold yang menohok emosi ditampilkan secara gamblang. Penampilan Sabai yang meledak-ledak sebagai gadis pembangkang cukup mampu membuat penonton berantipati padanya. Sebaliknya Aurellie tampil kalem tetapi persuasive. Kedua karakter yang bertolak belakang itulah yang menjadi nilai jual utama film ini. Kehadiran Marcell, Joanna, Ayu dll hanya terkesan sebagai pelengkap belaka dan tidak ada alasan yang kuat untuk membuat mereka beerimprovisasi disini.
Jika anda bisa memaafkan letusan peluru yang terjadi di awal, niscaya Sweetheart akan menjadi tontonan yang memenuhi standar kualitas sebuah film. Terlepas dari klise dan predictable endingnya, saya menganggap film ini masih layak untuk ditonton. Nilai-nilai persahabatan yang berpadu dengan peran orangtua dalam menanamkan pendidikan moral sejak dini memang bagian terpenting dalam pertumbuhan seseorang yang beranjak remaja. Bukankah masa depan dan pilihan dalam hidup ditentukan dari fase tersebut?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 29 April 2010

AKIBAT PERGAULAN BEBAS : Seksinya Dunia Malam Kaum Metropolitan

Storyline:
Kanya, Dinda dan Zizi yang bersahabat sama-sama terhempas dalam bebasnya kehidupan kaum muda metropolitan. Kanya menjadi cewek panggilan dan menghasut Dinda untuk terjun juga. Awalnya menolak tapi karena kesulitan ekonomi, Dinda akhirnya terjerumus juga apalagi dijanjikan menjadi fotografer terkenal oleh Boy. Zizi juga menjadi simpanan pria beristri bernama Roy hingga berakibat kehamilan tanpa tahu siapa yang harus bertanggungjawab. Sementara itu Gladys yang berpacaran dengan Boni juga terseret dilema yang menghubungkannya dengan Kanya dan Dinda. Akankah pada akhirnya masing-masing dapat sadar dan kembali ke jalan yang benar?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood tanggal 26 Maret yang lalu.

Cast:
Uli Auliani sebagai Kanya
Samuel Zylgwyn sebagai Boni
Sabai Morscheck sebagai Gladys
Leylarey Lesesne sebagai Dinda
Smitha Anjani sebagai Zizi
Diramaikan pula oleh Ray Sahetapy dan Yama Carlos.

Director:
Pernah diakui kepiawaiannya dalam Ekskul (2006) yang menggondol Piala Citra walau akhirnya dicabut itu membuat nama Nayato Fio Nuala sukses bertahan hingga saat ini dengan film-film yang hampir seragam.

Comment:
Dari pembuka saya merasa 80% tema film yang ditulis oleh Puguh P.S. Atmadja ini sama persis dgn 18+ sehingga konsentrasi saya tidak terpaku pada layar lagi melainkan pada ponsel RIM dan snack yang saya bawa. Ya tiga sahabat putri dengan dinamika hidupnya masing-masing yg tersentralisasi pada gaya metropolitan yaitu dugem, seks, drugs dengan berbagai motif mulai dari uang, pelarian, kesepian, kesenangan dsb dimana pada akhirnya mereka saling berseteru dan berjuang satu sama lain. Lagi-lagi saya bisa mengatakan betapa berbakatnya seorang Nayato dalam mendirect gambar-gambar yang bagus dengan pendekatan angle-angle yang menarik. Hanya saja talentanya kembali terbuang sia-sia karena tidak berani menyuguhkan sesuatu yang baru dan lebih berbobot! Akting para pemainnya juga tidak banyak membantu. Yang tidak masuk akal, hampir semua aktifitas yang dilakukan para aktornya disini diharuskan tanpa baju alias shirtless? Hm, Akibat Pergaulan Bebas yang diembel-embeli terinspirasi dari berbagai kisah nyata merupakan remake atau spin-off yang jelas gagal yang cuma menjual adegan-adegan syur yang sudah tergunting sensor pula.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 02 Agustus 2007

SANG DEWI : Asmara Getir Petinju Bisu dan Pelacur Cantik

Cerita:
Laras yang berparas bidadari merasa hidupnya tidak lengkap karena cinta selalu jauh darinya dan memaksanya menjadi pelacur demi bertahan hidup.
Beno yang bisu sedari kecil bekerja sebagai pembersih sasana sambil diam-diam berlatih tinju dengan saudara seperjuangannya demi mewujudkan impian naik ring tinju suatu saat nanti.
Nasib mempertemukan Laras dan Beno kembali setelah masa kecil mereka. Akankah rasa cinta bisa tumbuh di saat keduanya mulai menjalani kehidupan yang berliku dan tidak adil itu?

Gambar:
Sasana tinju dan jalan-jalan ibukota bagi dua tokoh utamanya seakan bercerita tentang mirisnya hidup yang mereka jalani.

Act:
Volland Humonggio yang aslinya memang menguasai beladiri bermain cukup baik sebagai petinju bisu Beno yang pantang menyerah mengejar cinta dan mimpinya.
Sabai Morscheck tampil cukup meyakinkan sebagai Laras, pelacur cantik yang merasa cinta selalu menjauhinya di saat ia tengah menggenggam kebahagiaan.
Didukung pula oleh Donny Alamsyah dan Cathy Sharon sebagai dua sahabat setia Beno.

Sutradara:
Karya perdana Dwi Ilalang yang berusaha menggabungkan aksi, tinju, drama, romantisme dalam satu film. Namun penggunaan judul Sang Dewi agak dirasa kurang tepat.

Komentar:
Sebetulnya plot cerita cukup menarik hanya terkesan sering kurang fokus. Andai mau dieksplorasi lebih jauh lagi, Sang Dewi mungkin akan lebih baik kualitas secara keseluruhannya. Unsur mengharukan bisa ditemukan pada beberapa adegan tapi kesalahan fatal terjadi pada endingnya yang terasa dipaksakan dan terasa antiklimaks. Lagu indah Sang Dewi sekaligus cameo penyanyinya Titi DJ pun hanya sekadar tempelan belaka. Namun sesekali bolehlah manjakan diri anda dengan film lokal yang berbeda nuansanya seperti ini.

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!