XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label donnie yen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label donnie yen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2011

WU XIA : Penyingkapan Identitas Masa Lalu Ahli Beladiri

Quotes:
Bagaimanapun dunia sekarang ini, kau telah menjadi bagiannya..

Storyline:
Liu Jinxi yang kini menjadi pengusaha kertas tanpa sengaja menghabisi dua pembunuh berbahaya, salah satunya bernama Yan Dongsheng yang mengacau di desanya. Penyidik Xu Baijiu tidak mempercayainya begitu saja dan menyelidiki kejadian tersebut dengan detail. Ia meyakini Liu bukanlah warga biasa dan mencurigainya sebagai mantan pembunuh kelas wahid yang berusaha hidup damai dengan istrinya Ayu beserta kedua putra mereka Tianxiang dan Xiaotian. Benarkah Liu telah bertobat dan siapa kelompok 72 Iblis yang terus mencarinya itu?

Nice-to-know:
Film yang sempat diputar dalam ajang Cannes 2011 ini diproduksi oleh Dingsheng Cultural Industry Investment, JSBC Eudemonia Blue Ocean TV & Movie Group, Stellar Mega Films, We Pictures, Yunnan Film Group.

Cast:
Tahun 2011 ini membintangi 3 film termasuk All's Well Ends Well, Donnie Yen berperan sebagai Liu Jinxi
Baru saja bermain sebagai Zhu Geliang dalam dwilogi Red Cliff, Takeshi Kaneshiro bermain sebagai Xu Bai-jiu
Angkat nama lewat Lust, Caution (2007), Tang Wei kebagian tokoh Ayu
Wang Yu sebagai The Master

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Peter Chan setelah terakhir The Warlords (2007) yang lalu.

Comment:
Seorang Donnie Yen rasanya sudah mencoba puluhan peran serupa yang berkaitan dengan jago beladiri dalam produksi film Mandarin. Belakangan ini ia tampaknya harus lebih cerdas memilih karakter yang dimainkannya atau para penggemar akan merasa bosan, walaupun saya yakin mereka akan selalu terhibur dengan “kemampuan” yang diperagakannya.
Skrip yang ditulis oleh Oi Wah Lam ini secara keseluruhan bekerja dalam campuran genre psikologis dan action. Paruh pertama disajikan ala Sherlock Holmes dimana proses Baijiu menyelidiki Jinxi teramat menarik. Segala petunjuk sekecil apapun berhasil menggiring penonton untuk berimajinasi lebih jauh apalagi dibantu dengan rekonstruksi flashback yang cerdas. Petunjuk akan siapa sesungguhnya Jinxi ini terkuak tahap demi tahap melalui berbagai kemungkinan yang ada.
Paruh kedua harus diakui sedikit kehilangan daya tarik. Setelah semua rahasia mulai terungkap, penonton lantas hanya diajak menikmati aksi kungfu “seorang diri” Donnie Yen seperti biasanya dalam menghadapi villains yang berujung pada Master yang tentunya harus menawarkan tingkat kesulitan khusus. Endingnya sendiri tidak dapat dibilang buruk tapi kita berkali-kali pernah menyaksikan hal serupa sebelumnya.
Sutradara Peter Chan menawarkan sinematografi yang keren. Bagaimana tempo lambat sekalipun tidak sampai membosankan. Teknik stop motion camera yang sempat diperlihatkannya dalam The Warlords kembali muncul disini. Sangat membantu fighting scenes yang disajikan sehingga terlihat artistik. Semua elemen pendukung film dapat dikatakan terintegrasi dengan baik terutama departemen akting yang memuaskan.
Donnie memberikan sedikit improvisasi dalam karakter Jinxi dari segi emosionalnya. Menarik melihat Takeshi sebagai penyidik berkelas sekaligus ahli jarum yang mumpuni dimana sedikit latar belakang Baijiu juga disinggung demi memperkuat karakternya. Menyenangkan mengetahui Tang Wei kembali sebagai istri setia Ayu. Paling bersinar kali ini adalah aktor senior Jimmy Wang Yu yang menakutkan sebagai Master, intonasi dan bahasa tubuhnya berbicara lebih banyak dalam porsi yang minimal.
Jika anda mencari hiburan Mandarin yang berbeda dari biasanya, Wu Xia tanpa diragukan lagi dapat menjadi pilihan utama. Sempilan kebiasaan warga desa yang bernyanyi merupakan keunikan sendiri terlepas dari kontribusi minim terhadap film secara keseluruhan. Donnie dan Takeshi merupakan daya tarik utama kali ini, kedua pria berdarah dingin yang sulit ditebak niat aslinya, satu dengan keahlian bela diri yang mumpuni sedangkan satu lagi dengan kemampuan analisa yang mematikan. Interaksi yang akan mencengangkan anda dalam setiap scene yang mempertemukan mereka!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$38,438,310 till Jun 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 29 September 2010

LEGEND OF THE FIST : Kembalinya Chen Zhen Pahlawan Bertopeng

Original title:
Jing wu feng yun: Chen Zhen

Storyline:
7 tahun berlalu paska kematian Chen Zhen yang menemukan siapa pelaku penembakan gurunya Huo Yuanjia pada saat tentara Jepang menguasai Shanghai. Seorang pria misterius tiba dari luar negeri dan segera menjadi kawan dari bos mafia Liu Yutian. Pria tersebut sesungguhnya adalah penyamaran Chen Zhen yang bertekad mengobrak-abrik gerombolan penjahat yang berniat membentuk koalisi dengan Jepang. Dengan topeng dan seragam yang menutupi identitasnya, Chen Zhen beraksi setiap malam menyelamatkan orang-orang tidak bersalah yang diburu tentara Jepang.

Nice-to-know:
Merupakan versi terbaru dari film klasik Fist of Fury (1972).

Cast:
Donnie Yen sebagai Chen Zhen
Shu Qi sebagai Kiki
Anthony Wong sebagai Liu Yutian
Shawn Yue
Yasuaki Kurata sebagai Ayah Chikaraishi
Ryu Kohata sebagai Colonel Chikaraishi

Director:
Film ke-38 bagi Andrew Lau Wai Keung yang mengawalinya lewat Lian ai de tian kong (1984).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal film lawas legendaris Fist Of Fury yang melejitkan nama Bruce Lee pada tahun 1972? Sudah diremake berkali-kali dengan berbagai style termasuk yang paling ternama salah satunya adalah Fist Of Legend (1994) yang dibintangi Jet Li. Kini di abad 21 bisa disebut era nya Donnie Yen untuk film-film martial arts Hongkong dan giliran Andrew Lau lah yang mengarahkannya dalam versi terbarunya ini.
Chen Zhen sendiri sesungguhnya merupakan karakter fiktif. Dan entah mengapa saya lebih merasa karakter ini justru lebih terinspirasi oleh Green Hornet dengan topeng dan jubah hitam yang dikenakannya. Belum lagi polisi-polisi bermuka dua Huang Bo dan rekan-rekannya yang terasa komikal itu. Seakan menegaskan unsur komedi dan aksi yang mendasari film ini.
Donnie Yen memang terampil sebagai Chen Zhen. Kemampuan bertarungnya dengan tangan kosong ataupun double-stick masih memukau terutama pada bagian pembuka dan penutup film. Sayangnya hanya itu yang bisa ia perlihatkan, tidak ada kedalaman emosi seperti layaknya Ip Man. Aktingnya terasa datar dan hanya menuntaskan apa yang harus ia lakukan saja.
Shu Qi bermain menarik sebagai Kiki dengan pesona penyanyi dan penjiwaan wanita yang harus berdiri di dua pihak sekaligus. Sama halnya dengan Anthony Wong yang berperan seperti biasanya sebagai konglomerat pemilik night club Liu Yutian. Jika dipikirkan, terlalu banyak karakter yang lalu lalang dalam film ini dan tidak terlalu memberikan kontribusi yang bermakna dalam membangun konflik yang sekadar mengambang.
Sutradara sekaliber Andrew seperti kehilangan sentuhan terbaiknya yang kebingungan menentukan mood film mau diarahkan kemana. Padahal skrip sudah ditulis oleh empat orang termasuk Gordon Chan yang juga bertindak sebagai produser kali ini. Meski demikian kinerjanya menghadirkan scene-scene berkemilau dalam suasana Shanghai tahun 1920an patut diacungi jempol.
Selebihnya Legend Of The Fist : The Return of Chen Zhen hanyalah film aksi biasa yang tidak menunjukkan kedalaman emosi apapun dan banyak menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Satu-satunya yang cukup heroik dan patut diingat adalah semboyan “the Chinese are not the sick men of Asia" yang berulangkali dikumandangkan agar bangsa berkulit kuning tidak diremehkan begitu saja di peta dunia terutama bangsa Barat pada khususnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$32,978 till May 2011 (limited)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 01 Mei 2010

IP MAN 2 : Master Wing Chun Tertantang Beladiri Dunia Barat

Storyline:
Sejak kedatangan Ip Man di Hongkong pada tahun 1949, ia mengetahui bahwa sekolah beladiri yang beroperasi disana lebih sebagai triad. Untuk memperbaiki citra itu, ia membuka sekolah sendiri yang tidak hanya mengajarkan seni tetapi juga nilai-nilai keadilan. Namun kemudian Ip Man berselisih paham dengan guru Hung Gar yang jumawa dan menganggap beladiri harus diartikan dengan kemenangan dalam pertempuran. Lewat serangkaian peristiwa, Ip Man dan Hung Gar bisa saling respek satu sama lain sambil memikirkan tantangan Twister, juara dunia tinju yang mewakili seni beladiri dunia Barat yang meremehkan seni beladiri dunia Timur.

Nice-to-know:
Didistribusikan oleh Mandarin Film Distribution Co..

Cast:
Donnie Yen pernah meraih nominasi Hong Kong Film Award 1993 kategori Best Supporting Actor dalam Once Upon a Time in China II (1992). Kini ia melanjutkan peran Ip Man, pemrakarsa aliran beladiri Wing Chun.
Sammo Hung sebagai Hung Gar
Darren Shahlavi sebagai Twister

Director:
Wilson Yip pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai film Hongkong adalah 01:00 A.M. (1995).

Comment:
Hanya berselang setahun, Ip Man yang seru mengesankan itu dibuat sekuelnya. Terburu-buru demi mengejar aspek komersial? Saya rasa tidak. Saya percaya motif trio Wilson, Donnie dan Sammo lebih dari itu.
Sekadar mengingatkan, episode Ip Man terdahulu bisa jadi merupakan salah satu martial arts movie yang paling berkesan sepanjang masa, setidaknya bagi sebagian besar orang di belahan bumi Timur. Jika harus dibandingkan, episode kedua ini sedikit melemah karena plotnya hanya bercerita tentang perjuangan Ip Man agar seni beladiri kungfu dapat dihormati dunia Barat. Ya hanya itu para penonton!
Beruntung penampilan Donnie Yen tetap konsisten tanpa memberikan sentuhan berlebihan pada karakter Ip Man, gerakannya masih efektif dengan tutur bahasa yang lembut. Namun yang patut diacungi jempol adalah salah satu ikon perfilman Mandarin tahun 1980an, Sammo Hung Chin Pao. Selain berprofesi sebagai art director, ia juga solid memerankan tokoh Hung Gar yang tangguh dan keras hati. Catatan kecil sekaligus penting disini, pertarungan Donnie dan Sammo di paruh pertama film sangatlah memukau, melebihi endingnya itu sendiri. Keduanya yang asli menguasai kungfu beradu jurus dengan serunya di atas meja sampai dupa habis.
Sinematografi yang dihadirkan juga masih sama baiknya dengan atmosfer 1940an yang cukup kental. Secara keseluruhan Ip Man 2 memenuhi syarat film aksi hiburan yang baik. Anda yang belum pernah menyaksikan prekuelnya dijamin terkesan. Sedangkan bagi yang sudah menonton prekuelnya, tetap akan merasa terpuaskan walaupun rasa antusias yang muncul tidak akan sama seperti sebelumnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 20 Januari 2010

14 BLADES : Membekuk Pengkhianat Pasukan Pengawal Kaisar

Tagline:
An elite force above the law licensed to kill!

Storyline:
Dinasti Ming, Pasukan Elite Pengawal Kaisar yang bernama Jin Yiwei anggotanya direkrut dari anak-anak jalanan yatim piatu untuk kemudian dilatih bermacam-macam ilmu bela diri baik dengan/tanpa senjata. Masing-masing dari mereka dibekali 14 pisau yaitu 8 untuk menyiksa, 5 untuk membunuh dan 1 yang terbuat dari emas untuk bunuh diri jika gagal dalam tugas.
Masalah mulai timbul saat Pangeran Qing memberontak dan bekerjasama dengan kasim Jia Jingzhong lalu menjebak pemimpin Jin Yiwei yakni Qing Long untuk merebut sebuah kotak rahasia yang disimpan pejabat istana Zhao Shenyan. Apa sesungguhnya isi kotak tersebut? Bagaimana Qinglong menghadapi musuh tak terlihat yang membayangi dirinya?

Nice-to-know:
Reuni kedua Vicky dan Donnie setelah Painted Skin walaupun disana Donnie hanya kebagian peran pendukung saja.

Cast:
Donnie Yen sebagai Green Dragon / Qing Long
Vicky Zhao Wei sebagai Hua Qiao
Wu Chun sebagai Judge
Kate Tsui sebagai Tuo Tuo
Qi Yuwu sebagai Wu Xuan
Sammo Hung Kam-Bo sebagai Prince Qing
Damian Lau sebagai Zhao Shenyan
Law Kar-Ying sebagai Jia Jing Zhong
Wu Ma sebagai Jiao Zhong
Chen Kuan Tai sebagai Water Moon Monk

Director:
Daniel Lee sebelum ini menggarap Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon (2008).

Comment:
Sebagian besar plot cerita berfokus pada karakter yang diperankan keduanya dalam memperjuangkan apa yang diangggap benar sekaligus percikan-percikan api di antara mereka.
Donnie sebagai Qing Long merupakan pilihan tepat, ia memperlihatkan emosi yang baik sebagai seorang pemimpin yang terluka karena dikhianati tetapi harus terus berjuang. Satu adegan yang memperlihatkan tato di bagian atas tubuhnya yang terpahat dengan baik juga semakin mempertegas ketangguhannya. Vicky sebagai Hua Qiao tidak jauh berbeda dengan apa yang dipertontonkannya dalam Mu Lan dan jujur tipikal pejuang wanita yang dibawakannya selalu menarik di mata saya. Pendatang baru Kate Tsui juga patut diperhitungkan disini, aura pembunuhnya sangat kuat dengan ekspresi yang datar dan dingin. Masih banyak nama-nama tenar di luar ketiga tersebut di atas yang juga perform sesuai standar yang dibutuhkan.
14 pisau yang dijadikan judul film dikatakan memiliki keunikan masing-masing tetapi sayangnya tidak akan kita lihat disini karena ini bukanlah film superhero. Yang cukup dominan dipertunjukkan adalah pisau milik Qing Long yang tersimpan dalam kotak panjang yang kokoh sekaligus berfungsi sebagai senjata pamungkasnya. Adegan pertarungannya memang cukup dominan tapi tidak digarap dengan detail yang jeli, hanya terbantu dari settingnya yang dikonsep dengan indah dari satu tempat ke tempat yang lain. Thumbs up bagi sutradara Daniel Lee yang memaksimalkan spesial efek tanpa harus terlihat palsu.
14 Blades bukanlah film sempurna dengan rating yang bagus seperti IP Man ataupun Bodyguards and Assassins tetapi tetap sebuah suguhan yang menghibur dan tidak basi walaupun elemen-elemen dalam film sudah berulangkali ditayangkan dalam berbagai versi. Tentunya faktor kecemerlangan Donnie dan Vicky serta kinerja desainer kostum yang gemilang menjadi nilai plus tersendiri disini.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 27 Desember 2009

BODYGUARDS AND ASSASSINS : Perlindungan Bapak Revolusi Republik China

Storyline:
Untuk mewujudkan perubahan yang diimpikannya, Dr. Sun Yat Sen mau tidak mau harus berhadapan dengan Dinasti Ching yang saat itu masih berkuasa. Para pembunuh profesional pun dikerahkan untuk menggagalkan rencana Dr. Sun saat kedatangannya di Hongkong. Namun lima pengawal setia Dr. Sun bertekad sekuat tenaga melindunginya walau harus mengorbankan jiwanya sendiri. Harga yang dibayar untuk sebuah perubahan memang kadang terlalu mahal apalagi menyangkut modernisasi di negeri China yang terkenal kuno pada masanya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi atas kerjasama China Film Group, Cinema Popular dan Shanghai Media & Entertainment Group.

Cast:
Donnie Yen sebagai Sum Chung-yang
Leon Lai sebagai Lau Yuk-bak
Wang Xueqi sebagai Li Yue-tang
Tony Leung Ka Fai sebagai Chen Xiao-bai
Nicholas Tse sebagai Ah Si
Hu Jun sebagai Yan Xiao-guo
Li Yuchun sebagai Fang Hong
Eric Tsang sebagai Detective Smith
Simon Yam sebagai Fang Tian
Fan Bingbing sebagai Yuet-yu
Le Cung sebagai Sa Zhen-shan
Wang Bo-Chieh sebagai Li Chung-guang
Zhou Yun sebagai Ah Suen

Director:
Merupakan karya kedelapan Teddy Chan sejauh ini sejak terakhir Wait 'Til You're Older (2005).

Comment:
Premis film ini menunjukkan sejarah Kebangkitan China di akhir tahun 1800an. Buang jauh-jauh kata "membosankan" saat mendengarnya karena film ini justru bercerita dengan luar biasa. Aspek drama berpadu kuat dengan unsur actionnya di sepanjang durasinya.
Sutradara Teddy Chan mengemas plotnya dengan padat, bisa dikatakan sedikit mengesampingkan detail yang seharusnya diangkat. Namun yang terpenting adalah semangat juang yang ingin ditampilkan para pahlawan dan pembunuh bayaran tersebut. Dan Teddy memiliki jajaran ensambel cast yang luar biasa disini sebagai pendukungnya. Donnie Yen yang biasanya dominan kali ini berbagi porsi yang sejajar dengan Leon Lai, Simon Yam, Wang Yueqi, Liang Cia Hui. Junior mereka macam Nicholas Tse, Fan Bingbing, Zhou Yun, Wang Bo-Chieh hingga biduanita Li Yuchun juga terampil mengisi perannya masing-masing. Tanpa lupa menyebutkan Hu Jun, Le Cung dkk yang memainkan karakter antagonis dengan cukup meyakinkan. Masing-masing dibebatkan karakterisasi dengan motivasi yang berbeda-beda.
Bagian pertama mungkin sedikit slow karena penjelasan historis yang melatar belakangi cerita disertai dengan pengenalan tokoh-tokoh utamanya dan korelasi di antara mereka semua. Bagian kedua merupakan full aksi seru bertensi tinggi yang menakjubkan yang tidak jarang disematkan semangat pengorbanan dan dedikasi tinggi di dalamnya. Dipastikan anda akan trenyuh dibuatnya apalagi momen kematian para pahlawan tersebut dibuat slow motion dengan texting penjelasannya yang mempertegas kiprah mereka. Semua yang saya uraikan itulah keunggulan Bodyguards & Assassins yang juga plus dari sisi sinematografi, setting, kostum dan permainan kameranya. Saksikan dan anda akan mengakui ini sebagai salah satu film Asia terbaik selama beberapa dekade terakhir. Tidak percaya?

Durasi:
135 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 19 Desember 2008

IP MAN : Ketangguhan Jiwa dan Raga Jago Kungfu

Cerita:
Ye Wen mulai mempelajari aliran beladiri Yong Chun sejak berusia 13 tahun. Kecintaannya pada beladiri diimbangi dengan perhatiannya terhadap keluarganya yaitu istri Yong Cheng dan anaknya. Di saat ingin mengembangkan perguruan sendiri pada tahun 1935, Jepang datang menyerang China. Polemik pun terjadi dimana-mana dan berujung pada saat Ye Wen harus memilih mempertahankan martabat masyarakat Tionghoa atau menyelamatkan keluarganya.

Gambar:
Suasana perang China melawan Jepang di daerah Fo Shan selama 8 tahun digambarkan dengan sangat apik.

Act:
Aktor senior Hongkong yang sudah merintis karir di Hollywood, Donnie Yen sebagai Guru Ye Wen memberikan kesan dingin dan tangguh sebagai guru kungfu aliran Yong Chun tapi tetap seorang figur yang baik bagi keluarganya.
Simon Yam kali ini berperan sebagai sahabat lama Ye Wen, Zhou Qing Quan yang memiliki pabrik tekstil.
Hiroyuki Ikeuchi memegang peran antagonis sebagai Jenderal Miura, pemimpin pasukan Jepang sekaligus pengagum sejati seni beladiri.

Sutradara:
Wilson Yip sebelum film ini juga bekerjasama dengan Donnie Yen dalam action modern Flash Point. Berbeda tema tidak membuat Yip Wai Shun kedodoran, semua elemen dieksekusi dengan sangat baik. Boleh ditunggu sekuel Ip Man tahun depan!

Komentar:
Sebuah film beladiri yang tidak hanya menonjolkan teknik kungfu yang nyaris sempurna tapi didukung dengan inti cerita yang mengandung pesan moral. Cerita bergulir dengan lancar, mulai dari perguruan kungfu sekitar Fo Shan sampai terjadinya perang China melawan Jepang yang mengubah segalanya. Walaupun bergaya semi dokumenter, film yang sangat menghibur ini mampu mengetengahkan Donnie Yen ke porsi akting maksimal yang sesungguhnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 26 September 2008

PAINTED SKIN : Romantika Cinta Manusia Vs Siluman

Cerita:
Dalam perjalanan memimpin pasukannya pulang dari medan perang, Jenderal Wang menyelamatkan seorang gadis cantik, Xiao Wei dari sekelompok bandit dan membawanya pulang tanpa mengetahui gadis tersebut merupakan jelmaan siluman rubah yang harus memakan jantung manusia untuk tetap berwujud manusia. Hanya istri Wang, Pei Rong yang mencurigainya karena beberapa keanehan yang dirasa tidak wajar. Sayang semuanya malah menganggap Pei Rong cemburu dengan kehadiran Xiao Wei. Dibantu mantan kekasih Pei Rong yakni pendekar Yong dan Pemburu Hantu, mereka berusaha mengungkap tabir Xiao Wei yang sesungguhnya.

Gambar:
Setting rumah tradisional Tiongkok mampu menampilkan gambar memikat meski sebagian besar syuting dilakukan pada malam hari.

Act:
Donnie Yen sebagai Yong
Zhou Xun sebagai Xiao Wei
Vicky Zhao sebagai Pei Rong
Chen Kun sebagai Wang Sheng
Sun Li sebagai Xia Bing
Saya menyukai penjiwaan masing-masing karakter di film ini, terutama Zhou Xun yang semakin berkibar namanya belakangan ini. Zhao Wei dan Chen Ce Tan tidak perlu diragukan lagi kaliber aktingnya.

Sutradara:
Kelahiran Hongkong, Gordon Chan sudah terlibat dalam dunia perfilman sejak tahun 1980an dengan mengarahkan Jet Li, Jackie Chan dll. Kali ini mengangkat kisah tradisional Tiongkok yang sudah berusia lebih dari 300 tahun. Adaptasi yang fresh menjadi nilai tambahnya.

Komentar:
Meski didominasi nuansa drama cinta dengan percakapan yang bisa dibilang klise tidak menjadikan film ini membosankan. Dengan berlatar belakang kisah klasik yang sudah berulangkali ditulis ataupun difilmkan, Painted Skin versi terbaru ini tetap tontonan bermutu dari negeri China apalagi didukung dengan kombinasi bintang lawas dan anyar yang berhasil mengangkat film ini. Beberapa adegan pertarungan juga cukup real dan mendukung cerita secara keseluruhan. Wajib tonton apalagi untuk anda penggemar film Mandarin era 1980an!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!