XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 30 Mei 2009

TERMINATOR SALVATION : Masa Depan Manusia Melawan Revolusi Mesin

Quotes:
John Connor-[to Marcus] You and me, we've been at war since before either of us even existed. You tried killing my mother, Sarah Connor. You killed my father, Kyle Reese. You will not kill me!

Cerita:
Tahun 2018, John Connor sudah ditakdirkan memimpin umat manusia melawan Skynet dan jaringan Terminatornya. Kehadiran sesosok pria yang lupa segalanya, Marcus Wright membuat John bingung dengan masa lalunya sekaligus masa depan bangsanya terlebih setelah mendengarkan suara tape rekaman ibunya, Sarah Connor yang menyatakan ayah John adalah Kyle Reese yang mungkin saja berusia lebih muda darinya! Selagi Skynet mempersiapkan pasukan T800 yang tangguh, John dan Marcus akhirnya berkolaborasi menembus jantung area operasional Skynet untuk membuka tabir rahasia mengerikan yang bisa menghancurkan umat manusia.

Gambar:
Sebagian besar bersetting di New Mexico, USA. Suasana kehancuran di tengah gurun yang gersang mendominasi hampir seluruh scene film.

Act:
Christian Bale memantapkan posisinya sebagai aktor papan atas Hollywood masa kini setelah sukses menjadi Bruce Wayne alias Batman versi baru. Dalam Terminator : Salvation, Bale menjadi John Connor, pemimpin pemberontakan terhadap mesin yang tangguh sekaligus cerdas.
Aktor Australia, Sam Worthington memulai debut yang cukup berarti dalam Hart's War (2002). Kali ini bermain sebagai Marcus Wright, manusia setengah cyborg yang sudah diprogram untuk menuntaskan misinya.
Tiga aktris cantik turut mendukung film ini yakni Moon Bloodgood sebagai Blair Williams, Bryce Dallas Howard sebagai Kate istri John Connor dan Helena Bonham Carter sebagai antagonis Dr. Selena Kogan.

Sutradara:
Penulis, produser sekaligus sutradara bernama singkat McG ini memulai debut penyutradaraannya dalam Charlie's Angels (2000). Meski belum terlalu banyak filmografinya, ia dipercaya menangani installment keempat Terminator ini. Pilihan yang tidak salah karena McG berhasil membangun film aksi yang baik.

Komentar:
Kisah Terminator yang sudah sangat melegenda dari awal tahun 1990an rasanya sulit dibayangkan masih mampu bertahan dengan sekuel-sekuelnya hingga saat ini. Tapi itulah yang terjadi. Banyak yang mengatakan Salvation hanyalah tambal sulam pengulangan dari apa yang sudah pernah ditampilkan pendahulunya. Terbukti dari rentang waktu yang tidak konsisten sejak seri pertamanya terutama garis lurus Sarah Connor-John Connor-Kyle Reese yang terkesan dipaksakan. Meski demikian T4 ini masih sanggup menghibur, memacu jantung dengan action tingkat tinggi mengenai peperangan manusia melawan mesin di masa mendatang. Tambahan lagi, cast yang memasang nama Bale rupanya tidak mengecewakan karena ia tampil total disini. Juga kemunculan tokoh Marcus Wright yang sedikit memunculkan twist di ending merupakan suatu inovasi baru. Tidak perlu berpikir jauh apalagi sampai menganalisa saat menyaksikan Salvation, nikmati saja spesial efek, adegan laga, kejutan-kejutan yang coba ditampilkannya.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$65,316,217 in opening May 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 29 Mei 2009

VIRGIN 2 : Mozaik Kisah Pergaulan Remaja Putri Metropolitan

Tagline:
From Innocence To Brutality. Striking And Original Busting Version.

Cerita:
Tina diusir dari rumah karena dianggap menggoda pacar baru ibunya. Tidak cukup menderita, Tina malah diperkosa Yama, kenalan sahabatnya di suatu diskotik dan kemudian dijual ke beberapa lelaki hidung belang dalam semalam! Nasib mempertemukannya dengan Nadya yang tengah hamil muda dimana kekasihnya mendekam di penjara. Nadya juga terjebak dalam hubungan sesama jenis yang membuatnya membutuhkan biaya besar. Bagaimana sepak terjang Tina dan Nadya selanjutnya menghadapi ganasnya pergaulan metropolitan?

Gambar:
Visual retro berhasil ditampilkan dengan pencahayaan biru kelam yang temaram dalam suasana malam.

Act:
Christina Santika sebagai Tina yang lugu dimana sering membuatnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Joanna Alexandra sebagai Nadya yang terpaksa melakukan secara cara untuk mendapatkan uang demi menolong dirinya sendiri dan orang lain yang dicintainya.
Yama Carlos sebagai Yama yang kejam dan juga mucikari independen khusus gadis belia.

Sutradara:
Nayato Fio Nuala yang berjanji menghasilkan karya yang di atas standar jika menggunakan (konon) nama aslinya itu kembali mengangkat drama remaja rumit nan tragis selayaknya yang pernah ditampilkannya dalam Butterfly.

Komentar:
Berusaha tapi tidak cukup berusaha. Dari segi plot cerita sepertinya tidak ada yang baru meski tidak menutup kemungkinan menjadi spesial jika dieksplorasi dengan tepat. Banyak hal yang tidak terjelaskan sebab musababnya dengan masuk akal. Penderitaan karakter di film seakan menular pada penonton yang juga menderita menyaksikan film ini yang terus terang saja seperti kehilangan fokus dari awal sampai akhir. Digadang-gadang bisa menjadi panutan remaja metropolitan dewasa ini? Rasanya belum tepat karena bisa jadi malah menginspirasi mereka terhadap hal-hal tabu yang ditampilkan. Satu hal lagi, "kelamnya" Virgin tidak bisa disaingi (konon) sekuelnya ini yang mengambil sub judul: Bukan Film Porno. Apa maksud?

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 28 Mei 2009

POCONG KAMAR SEBELAH : Saat Pocong Bisa "Bertingkah"

Cerita:
Felisa menempati tempat kos barunya dengan perasaan sedikit ganjil karena Ibu Ratmi sang pemilik kos selalu mengingatkannya untuk tidak membuka pintu kamar sebelahnya yang terkunci rapat. Kos tersebut sangatlah sunyi karena cuma dihuni oleh cucu Ibu Ratmi, Randy yang hobi memakai digicam dan mahasiswa keren, Marvin. Karena suatu hal, Felisa tidak sengaja membuka pintu kamar sebelahnya tersebut yang mengakibatkan arwah penasaran terlepas. Mereka berempat pun bergantian mengalami teror pocong yang menyeramkan. Siapa sesungguhnya arwah tersebut dan apa yang diinginkannya?

Gambar:
Suasana kos yang sunyi modern cukup membangkitkan suasana horor dalam berbagai sudut.

Act:
Tidak ada yang bermain spesial di film ini selain bertujuan menghabiskan roll film saja.
Rahma Azhari sebagai Felisa.
Reza Pahlevi sebagai Randy yang nerd.
Andrew Roxburgh sebagai Marvin.

Sutradara:
Ian Jacobs yang merupakan nama lain Nayato masiihh dengan formula yang sama dengan bintang yang berbeda. Kali ini dia menggaet si seksi Rahma Azhari untuk "berakting" di film garapannya. Hm, apa sih sebenarnya yang mau dijual?

Komentar:
Satu-satunya kesan saya menyaksikan film 80 menit yang tidak penting ini? Ternyata pocong bisa juga "bertingkah". Mulai dari jongkok, ngesot, ngintip, meliuk, membungkuk, menerjang, mengambang bahkan di beberapa scene terlihat bisa melepaskan kain kafannya. Visualisasi yang sebenarnya dirancang menyeramkan malah menjadi irasional dan cenderung lucu. Aneh? Pastinya..

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 27 Mei 2009

THE MERRY GENTLEMAN : Interaksi Tak Biasa Pembunuh Bayaran dan Saksinya

Quotes:
Frank Logan-I found a girl under a tree.
Kate Frazier-Sorry?
Frank Logan-You find presents under a tree. I found a girl.
Kate Frazier-You must have been a very good boy.

Storyline:
Kate pergi ke Chicago untuk melarikan diri dari suaminya yang suka menyiksa, Michael. Disana ia memulai hidup baru yang tenang dengan bekerja dan berkawan dengan orang-orang di sekitarnya. Pada malam Natal, tanpa sengaja Kate menggagalkan niat Frank Logan, seorang pembunuh bayaran yang kesepian. Kasus Frank tengah diusut oleh Detektif Dave yang juga sering meminta keterangan dari Kate. Kini Kate pun terjalin dalam kehidupan Frank dan Dave yang menaruh hati padanya dengan cara yang berlainan. Disamping itu, suaminya Michael juga menginginkannya kembali. Bagaimana Kate menyikapi semua itu?

Nice-to-know:
Sama halnya dengan Michael Keaton yang merangkap, Tom Bastounes pemeran Detektif Dave juga bertindak sebagai produser dalam film yang menghabiskan waktu syuting 26 hari ini.

Cast:
Absen dua tahun setelah The Last Time (2006), Michael Keaton kembali sebagai sutradara sekaligus aktor Frank Logan, pembunuh bayaran yang kesepian dan bersimpati pada seorang gadis baik hati.
Aktris Inggris ini sebelumnya mendukung No Country For Old Men (2007), Kelly Macdonald disini bermain sebagai Kate Frazier, wanita yang lari dari suaminya dan bertekad menjalani kehidupan baru.
Tom Bastounes sebagai Detektif Dave Murcheson.
Bobby Cannavale sebagai Michael.

Director:
Debut penyutradaraan pertama bagi Michael Keaton yang telah membintangi lebih kurang 50 judul film.

Comment:
Setelah menyaksikan film ini, rasanya hampir semua penonton mau mengakui jika Keaton memiliki bakat dalam menyutradarai. Meskipun ia hanya dalam posisi "pengganti" Ron Lazzaretti yang seharusnya menggarap setelah menulis naskahnya, Keaton mampu menghadirkan sebuah drama pembunuh bayaran dan saksinya dengan gaya yang berbeda. Selain itu ia juga memerankan karakter Frank Logan dengan kunci "lemah" dalam arti yang positif yakni moral yang ia sendiri ragu memilikinya setelah berbagai kejahatan yang ia lakukan. Sedangkan Macdonald juga bersinar sebagai Kate. Aksen Skotlandia nya terdengar menarik disini berbaur pas dengan sisi kewanitaan lembut yang dibawakannya. Bastounes juga cukup baik bermain sebagai Detektif Dave yang memiliki rasa penasaran yang tinggi sekaligus ingin melengkapi apa yang kurang dalam hidupnya. Sayangnya Cannavale yang berbakat tidak memiliki banyak kesempatan tampil sebagai Michael disini.
Jalinan cerita film ini sebetulnya bisa saja diarahkan sebagai aksi seru yang melibatkan banyak darah dan adegan kejar mengejar. Namun yang terjadi adalah sebuah drama yang kalem dalam bertutur sambil mengambil waktu untuk mengungkap kejutan demi kejutan dalam setiap scenenya jadi lupakan sejenak karya-karya Guy Ritchie atau Quentin Tarantino yang keras. Mungkin bagi sebagian besar orang akan menganggapnya membosankan tetapi percayalah pengecualian terkadang bisa jadi alternatif yang menarik.
The Merry Gentleman lebih banyak mengupas sisi hubungan antar manusia. Bagaimana interpersonal seseorang terkadang begitu sulit diterjemahkan dalam sikap dan kata-kata sehingga mendapatkan arti yang benar-benar berbeda. Kate yang dilema untuk mengatasi hubungannya dengan kaum lelaki, Frank yang rapuh dan bimbang dalam mencari arti hidup yang diinginkannya, Dave yang berniat baik tapi salah dalam menyampaikannya. Ketiganya menciptakan chemistry yang menarik mengenai orang-orang yang tertekan dalam hidupnya. Sebuah tontonan yang berbeda dengan kualitas tersendiri!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$74,981 till May 2009 (limited screens).

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 26 Mei 2009

WAITRESS : Getirnya Romansa Hidup Pembuat Pie Cekatan

Quotes:
Dr. Pomatter-So, what seems to be the problem?
Jenna-I seem to be pregnant
Dr. Pomatter-Congratulations!
Jenna-Thanks, but I'm not so happy about it like everybody else might be. I'm having the baby and that's that.

Cerita:
Jenna, seorang pelayan di kota kecil dengan impian besar, mempunyai bakat khusus dalam membuat pie. Ia mempunyai ambisi rahasia untuk memenangkan kontes berhadiah $25.000 supaya dapat meninggalkan suaminya yang jahat, memulai toko pie sendiri dan mengubah hidupnya. Sebuah pertemuan tak terduga dengan dokter muda, Jim menambah bahan yang tepat untuk membantu Jenna menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Gambar:
Bersetting di Halfway House Cafe, Saugus, California yang menyediakan pie lezat nan memanjakan mata dengan warna dan rasa yang terlihat sangat memikat.

Act:
Aktris cantik yang mulai dikenal setelah membintangi Honey I Blew Up The Kid (1992), Keri Russell sebagai Jenna yang bingung akan hidupnya sendiri karena situasi di sekelilingnya yang tidak menguntungkan.
Pernah mendukung Slither (2006), Nathan Fillion kali ini bermain sebagai Dr. Jim Pommater yang sepintas memiliki kehidupan bahagia tapi ternyata merasa hampa.
Ikut bermain dalam Wrong Turn (2003), Jeremy Sisto berperan sebagai suami yang emosional dan posesif disini.
Cheryl Hines dan Adrienne Shelly tampil kompak sebagai dua sahabat Jena yaitu Becky dan Dawn yang unik karakternya.

Sutradara:
Nama Adrienne Shelly memang belum terlalu dikenal. Sayangnya Waitress menjadi karya terakhirnya karena ditemukan meninggal oleh suaminya di bak mandi apartemen mereka. Awalnya disinyalir bunuh diri tapi kemudian ditutup sebagai kasus pembunuhan oleh seorang imigran ilegal yang bekerja pada Shelly.

Komentar:
Film yang sebetulnya cukup baik kualitasnya tapi tidak mendapat sorotan yang semestinya. Dari segi cerita sangat personal dan menyentuh, meski kadang seperti kebingungan mau dibawa fun romantic comedy atau bitter drama. Pemainnya bermain gemilang karena berhasil menciptakan mood yang wajar dan pas porsinya sepanjang film. Gambaran beragam pie dengan nama-namanya yang unik menjadi daya pikat tersendiri. Yah overall anggap saja Waitress sebuah flick yang bisa menjadi cerminan dalam hidup anda yang bersiap memasuki kehidupan berpasangan!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$19,067,631 till Oct 2007

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 25 Mei 2009

KILLSHOT : Suami Istri Target Duet Pembunuh Kejam

Tagline:
Yesterday she was a witness. Today she's a target.

Storyline:
Si Burung Jalak dan rekannya Richie seringkali main hakim sendiri saat ditugaskan bos mafia mereka. Pembunuhan demi pembunuhan keji terus dilakukan walau di luar target yang seharusnya. Beberapa waktu lalu pernah menyaksikan langsung kekejaman Richie, Carmen Colson dan suaminya Wayne ditempatkan di St Missouri dengan identitas baru oleh Departemen Perlindungan Saksi. Ketika Carmen berpikir mereka berdua telah aman, Si Burung Jalak yang jago tembak dan Richie sang psikopat muda pembunuh mulai mengintai. Akankah keduanya selamat dari target pembunuhan?

Nice-to-know:
Tanggal rilis film ini berubah beberapa kali dikarenakan sejumlah pengambilan ulang gambar dari versi originalnya yang selesai Januari 2006.

Cast:
Di tahun yang sama mendapat nominasi Oscar Aktor Terbaik dalam The Wrestler, Mickey Rourke bermain sebagai pembunuh senior yang berdarah dingin.
Aktris senior ini memperoleh satu-satunya nominasi Oscar Aktris Pembantu Terbaik dalam Unfaithful (2002), Diane Lane kali ini kebagian karakter Carmen yang tidak sengaja menyaksikan pembunuhan hingga nyawanya terancam.
Sebelum ini terlibat dalam film panjang Mutant Chronicle dan film pendek The Butler's In Love, Thomas Jane berperan sebagai Wayne yang harus sigap melindungi diri dari ancaman pembunuh.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Richie
Rosario Dawson sebagai Donna

Director:
John Madden sempat meraih nominasi Sutradara Terbaik dalam Academy Awards 1999 lewat Shakespeare In Love (1998).

Comment:
Diangkat dari novel Elmore Leonard, skripnya dikerjakan oleh Hossein Amini dan sang sutradara sendiri John Madden. Hasilnya cenderung gagal menurut saya! Tema serupa sudah beratus ribu kali diangkat baik lewat layar lebar maupun layar kaca. Dan itulah yang menjadikan film layar lebar ini patut dikonsumsi langsung di layar kaca lewat media digital video disc ataupun home video. Apa sebab? Harus diakui jajaran cast nya menjanjikan. Siapa yang tidak mengenal nama-nama macam Jane, Lane, Rourke, Gordon-Levitt, Dawson, Holbrook. Dan kesemuanya menampilkan kualita akting khas yang cukup mumpuni. Hanya saja jatuhnya menjadi sia-sia karena penokohannya sendiri agak berantakan, lebih dikarenakan konstruksi cerita yang tidak pada tempatnya. Prolog film yang cukup menarik menjadi terdegradasi di pertengahan dan hancur lebur di epilognya. Bagaimana duet maut Blackbird dan Richie menjadi begitu mentah pada akhirnya. Pelarian suami istri Wayne dan Carmen dengan identitas baru juga terasa menggampangkan logika apalagi keduanya tetap terancam bahaya juga.
Awalnya saya penasaran dengan film aksi ini tapi melewatkannya di bioskop hingga baru menonton di dvdnya nyaris beberapa tahun sebelumnya. Sempat tersiar kabar, kualitas tampilan gambar film ini mengalami penurunan di videonya. Entahlah tapi bisa jadi karena mata saya terasa mengantuk dengan editing yang tidak mulus dan visualisasi yang buram tidak konsisten. Sebetulnya Killshot memiliki bumbu yang baik tetapi dimasak dengan tidak tepat, bahkan oleh sutradara sekelas Madden. Oh well!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$17,007 till end of Feb 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 24 Mei 2009

NIGHT AT THE MUSEUM 2 : Petualangan Baru Di Museum Yang Lebih Besar

Quotes:
Kah Mun Rah-I have come back to life!
Larry Daley-No, I heard that. I got that. Welcome back.

Cerita:
Ketika Museum Sejarah Nasional ditutup untuk renovasi dan perbaikan, segala isinya harus dipindahkan ke Museum Washington yang jauh lebih besar termasuk di dalamnya Institusi Smithsonian yang berisikan lebih dari 136 juta koleksi mulai dari wanita penerbang pertama, Amelia Earhart hingga bandit ternama, Al Capone! Kali ini Larry Daley yang awalnya tidak diijinkan berada disana, nekad mencuri ID seorang penjaga untuk menuntaskan tanggungjawab yang diberikan padanya mengamankan miniatur sahabat-sahabatnya. Sialnya ternyata lempengan tablet ajaib turut membangunkan seluruh isi museum termasuk Kahmunrah, Pharaoh jahat yang berniat menguasai dunia. Apakah dengan bantuan teman-temannya, Larry berhasil menguasai situasi yang semakin kacau tersebut?


Nice-to-know:
"American Gothic" dan "Nighthawks" di Art Institute of Chicago, "The Thinker" di Musee Rodin - Paris, "Venus Italica" di North Carolina Museum of Art, Degas ballerina di Royal Academy - London adalah sebagian lokasi nyata yang digunakan film ini. Keseluruhan syuting dilakukan di Canada, New York dan Washington.

Cast:
Memulai karir layar lebar di usia 22 tahun dalam Shoeshine (1987), Ben Stiller adalah salah satu komedian top Hollywood saat ini termasuk kedua kalinya ia berperan sebagai si penjaga museum, Larry Daley.
Melejit lewat Enchanted (2007), Amy Adams disini bermain sebagai Amelia Eartheart, wanita penerbang pertama yang melintasi lautan Pasifik.
Owen Wilson, Hank Azaria, Robin Williams, Steve Coogan melanjutkan karakter Jedediah, Kahmunrah/The Thinker/Abe Lincoln, Teddy Roosevelt dan Octavius.

Director:
Melanjutkan dua kesuksesannya di tahun 2006 yaitu The Pink Panther dan episode pertama Night At The Museum yang fenomenal itu, Shawn Levy yang asli Kanada ini ditunjuk kembali untuk menangani sekuelnya yang bersubtitel Battle Of The Smithsonian.


Comment:
Trailernya memang menjanjikan. Selain fakta bahwa film pertamanya lucu, kreatif dan menghibur. Namun keraguan kualitas sekuel yang baik selama ini memang menghantui film apapun juga. Premis awalnya hanyalah pemindahan skala ke yang lebih besar. Konfliknya kurang lebih sama dengan kehadiran pihak antagonis yang lebih kuat. Apakah ini berarti sang penulis kehabisan ide? Beruntung pengembangan semua karakternya memang mendapat porsi yang seimbang dan saling bersinergi untuk menghadirkan lelucon. Dari segi cast, tidak banyak perubahan yang dilakukan Stiller terhadap peranannya. Namun tidak halnya dengan Azaria yang tampil brilian disini dengan tiga karakter penting yang dimainkannya. Adams juga memikat dengan rambut merah dan kostumnya yang gagah itu. Beruntung sang sutradara masih mempersenjatai sekuel ini dengan spesial efek yang rapi dan juga background musik yang menarik. Kesimpulan akhirnya, Battle Of The Smithsonian ini tetap mempertahankan konsep film keluarga yang bisa dinikmati orang dewasa dan anak-anak. Jika memang masih dibuat sekuel keduanya di masa mendatang, semoga lebih baik lagi.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$177,233,619 till Oct 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 23 Mei 2009

MY BLOODY VALENTINE : Dendam Pekerja Tambang Psikopat

Quotes:
Burke-[to a crime scene corpse] Happy fucking Valentine's Day.

Cerita:
Pertambangan Hanniger runtuh, lima orang tewas dan satu orang bernama Harry Warden dalam keadaan koma. Diduga Harry menjadi gila dan membantai rekan-rekannya untuk menghemat persediaan air. Setelah terbangun, Harry kembali "berulah" dan melarikan diri dari rumah sakit tepat pada saat hari Valentine. Di lain tempat, empat muda-mudi Axel dan pacarnya Irene menunggu kedatangan teman mereka Sarah dan pacarnya Tom di perayaan Valentine's Day yang diadakan di pertambangan Hannigan yang terbengkalai. Mudah ditebak, Harry muncul dan menghabisi kawanan anak SMU tersebut. Empat sekawan itu kemudian berpisah..Sepuluh tahun berlalu, Axel telah menjadi sheriff setempat dan menikah dengan Sarah. Tidak dinyana Tom kembali ke kota itu setelah kematian ayahnya. Legenda Harry Warden yang terkubur lama tiba-tiba mencuat kembali. Tragedi pembantaian pun terulang kembali. Benarkah sesungguhnya Harry masih hidup?

Gambar:
Mengambil set di Pennsylvania dengan dominan waktu malam hari. Ketenangan kota dan tambang yang terbengkalai disyut dengan baik.

Act:
Terkenal sebagai Dean Winchester dari serial teve sukses Supernatural, Jensen Ackles merambah layar lebar dalam film ini dengan berperan sebagai Tom Hannigan yang berusaha meneruskan pertambangan ayahnya yang pernah terjadi tragedi.
Memulai debut layar lebar di tahun 2001 dalam 3 film yaitu Happy Campers, Blow dan Pearl Harbor, Jaime King kebagian karakter Sarah yang berusaha mencari tahu latar belakang apa yang membuat Harry Warden seakan kembali setelah sepuluh tahun.
Pernah mendukung thriller remaja hit Final Destination (2000), Kerr Smith kali ini bermain sebagai sheriff Axel yang menyimpan "rahasia" terhadap istrinya sendiri yang notabene mantan kekasih sahabatnya dahulu.

Sutradara:
Angkat nama setelah membesut Dracula 2000 dan dua sekuelnya, Patrick Lussier boleh diacungi jempol atas inovasinya menciptakan 3D horor pertama di Hollywood tanpa kehilangan sentuhan ketegangan dan kesadisan.

Komentar:
Remake dari film berjudul sama di tahun 1981. Sebetulnya tidak ada yang baru yang ditawarkan film ini, plot serupa dengan yang kita saksikan dalam Friday The 13th ataupun Halloween tetapi yang membuatnya cukup mengesankan adalah aspek 3-D yang cukup detail dan terorganisir dengan baik mulai dari awal sampai akhir film. Beberapa adegan sadis yang berlumur darah mungkin akan sulit dicerna mata karena sangat mengerikan. Akting pemain cukup standar. Cerita agak sedikit dipaksakan tapi masih bisa diterima karena tetap berusaha menyembunyikan twist di ending. Bagi anda penikmat thriller remaja khas 80an, jangan lewatkan My Bloody Valentine dan persenjatai mata anda dengan kacamata tiga dimensi yang membuat semuanya seakan nyata di hadapan anda!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$51,527,787 till March 2008

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 22 Mei 2009

TOKYO GORE POLICE : Polisi Wanita Kembalikan Masa Depan Tokyo

Tagline:
Tokyo Is Burning.

Storyline:
Berlatar belakang dunia masa depan di Tokyo dimana polisi telah disingkirkan dan kepahitan kehancuran diri menjadi peristiwa yang biasa. Ini adalah kisah tentang seorang samurai wanita, Ruka dan misinya untuk membalas dendam atas pembunuhan ayahnya di masa silam. Ruka adalah seorang polisi yang bertujuan menghancurkan mutan-mutan manusia yang dikenal sebagai "insinyur" yang memiliki kemampuan untuk mengubah semua bentuk luka menjadi senjata untuk dirinya.

Nice-to-know:
Memenangkan gelar Film Terbaik pada Festival Film Fant-Asia 2008.

Cast:
Mulai dikenal sejak membintangi Audition (1999), Eihi Shiina bermain sebagai Ruka, polwan tangguh pantang menyerah menegakkan keadilan.

Director:
Merupakan film keempat bagi Yoshihiro Nishimura sejauh ini setelah debut awalnya di Anatomia Extinction (1995).

Comment:
Melihat poster dan premisnya, saya cukup antusias dengan film ini. Meskipun melewatkan penayangannya di Blitz Megaplex dan membeli dvd originalnya saat obral, saya tetap menyaksikannya juga. Namun setelah beberapa menit berlalu, rasanya ekspektasi saya sedikit meleset. Dikategorikan sebagai sains fiksi action horor, film ini menawarkan bergalon-galon darah yang memancar dari anggota tubuh yang terpotong ataupun tampilan manusia (lebih tepat disebut makhluk) yang aneh dengan tanduk, tangan bergigi dsb. Semua itu jujur membuat saya off dan bingung dengan suguhan yang menjijikkan tersebut. Plotnya sendiri sebetulnya imajinatif tetapi dideliver dengan cara yang ekstrim. Acungan jempol bagi sutradara Nishimura dengan kreatifitas gilanya. Sebagai aktris utama, Shiina tampil dominan dengan ekspresi dingin dan sabetan samurai nan mumpuni. Saat mengetahui durasi aslinya yang mencapai dua jam, saya sempat tertohok karena apa yang saya saksikan kurang dari satu setengah jam. Mungkin itu menjelaskan beberapa adegan seks vulgar ataupun pembantaian sadis yang hilang dari layar. Anyway, Tokyo Gore Police bukan film yang bagus, tapi tidaklah buruk, terbukti mendapat rating yang cukup bagus di internet dari para reviewernya. Hanya saja ini bukanlah film saya karena semua elemen yang over-the-top itu tidak berkorelasi dengan konstruksi cerita, tidak seperti The Machine Girl yang menurut saya lebih "beradab" dan memuaskan itu.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 21 Mei 2009

ANGELS & DEMONS : Memecahkan Misteri Menggagalkan Kehancuran Vatikan

Quotes:
Robert Langdon-I need access to the Vatican Archives.
Richter-Access to the Archives is only by written decree by the Holy Father.
Robert Langdon-Fellas, you called me.

Cerita:
Meskipun tidak berjiwa gereja sama sekali, ahli simbol Harvard, Robert Langdon dipanggil kembali untuk memecahkan teka-teki suatu organisasi rahasia terselubung bernama Illuminati. Paus meninggal dan sebelum pemilihan dimulai untuk mencari penggantinya, empat Kardinal diculik dan terancam dibunuh dengan cara yang berbeda-beda. Bersama Vittoria Vetra, Robert Langdon harus berjibaku dengan waktu memecahkan kunci misteri yang sangat mengejutkan sebelum kota Vatikan dimusnahkan dengan bom berkekuatan tinggi.

Gambar:
Bersetting sebagian besar di Roma dan California, Angels & Demons berhasil mengetengahkan peristiwa yang seakan nyata terjadi di site-site yang sebetulnya legendaris dan sensitif tersebut.

Act:
Tak diragukan lagi kualitas akting Tom Hanks yang diganjar dua kali Piala Oscar untuk kategori aktor terbaik termasuk kemenangan pertama di Philadelphia (1993). Ini merupakan kali kedua Hanks berperan sebagai ahli simbolis Robert Langdon dan penjiwaannya semakin baik.
Di tahun yang sama Hanks memenangkan Oscar pertama, Ewan McGregor juga memulai debutnya dalam Being Human. Dalam Angels & Demons, McGregor berperan sebagai Camerlengo Patrick McKenna.
Aktris kelahiran Israel, Ayelet Zurer mulai dikenal luas setelah membintangi Munich (2005). Mendapat kepercayaan dari Ron Howard untuk memegang peran Vittoria Vetra.
Baru saja tampil mendukung Mamma Mia!, Stellan Skarsgard dalam film ini menjabat sebagai Komandan Richter yang tegas dan ambisius.
Aktor Denmark yang mulai menanjak, Nikolaj Lie Kaas setelah bermain dalam The Candidate memegang peran antagonis dalam Angels & Demons.

Sutradara:
Kerjasama kelima dengan Tom Hanks, sutradara yang juga dikenal sebagai penulis dan aktor ini, Ron Howard kembali dalam prekuel The Da Vinci Code (2006). Karya-karya besar novelis tenar Dan Brown boleh dibilang sukses diterjemahkan Ron ke layar lebar, terbukti dari hasil peredaran film ini yang selalu mencapai box-office dimanapun ditayangkan.

Komentar:
Pesan utama dari saya, berhenti membandingkan isi film ini dengan bukunya. Bahasa tulisan dan bahasa visual adalah dua hal yang berbeda. Bolehlah buku karya Dan Brown itu dijadikan acuan tapi hargailah kinerja Ron Howard yang sangat baik di film ini, melebihi pencapaiannya dalam The Da Vinci Code. Musik dari Hans Zimmer terasa megah, sangat membantu menggapai nuansa relijius dan tidak usah heran kalau film yang berbau agama cenderung kontroversial. Terima saja Angels & Demons sebagai sebuah fiksi belaka dan anda akan menikmatinya dari awal sampai akhir. Akting brilian terutama dari McGregor dan twist ending yang tidak terduga membuat film ini layak tonton di tengah serbuan summer movies 2009!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
Mid May 2009 opening week $46,204,168

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!