XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label yama carlos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yama carlos. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

BADAI DI UJUNG NEGERI : Multi Konflik Sahabat Cinta Tugas Seorang Marinir

Quotes:
Piter: Kau ini tidak mengerti. Rupiah itu tidak ada artinya. Dollar Anissa, dollar!


Storyline:
Seorang marinir bernama Badai mendapat tugas di pos jaga perbatasan Indonesia dengan sebuah pulai di Laut Cinta Selatan. Ia bersahabat dengan Zein, nelayan setempat dan jatuh hati pada Anisa, gadis keturunan yang memegang teguh norma-norma setempat. Ketenangan seketika terusik saat penemuan beberapa mayat misterius terapung di laut. Badai dituntut masyarakat setempat untuk segera mengungkap kasus yang juga merenggut nyawa anak semata wayang Zein itu. Bukan hanya itu, Badai juga dipertemukan kembali dengan Joko, sesama perwira Angkatan Laut yang masih menyimpan salah paham dengannya. Siapa sesungguhnya otak dari kasus misterius tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Quanta Pictures dimana screeningnya diselenggarakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 28 September 2011.

Cast:
Arifin Putra sebagai Badai
Astrid Tiar sebagai Anissa
Yama Carlos sebagai Joko
Jojon sebagai Piter
Ida Leman sebagai Dr. Yana
Kukuh Adirizky sebagai Nugie

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Agung Sentausa setelah Garasi (2006).

Comment:
Rasa penasaran dan optimisme tinggi muncul saat pertama kali saya mendengar proyek film ini dikerjakan oleh produser Pingkan Warouw sekaligus debut pertama dari rumah produksi Quanta Pictures. Apalagi genre drama aksi yang berfokus pada kiprah seorang marinir di tempat asing dapat dihitung dengan jari tangan. Lantas apakah hasil akhirnya yang mencakup semua aspek dalam film sudah sesuai dengan ekspektasi saya dan mungkin sebagian besar orang?
Penulis skrip Ari M Syarif terasa mengombang-ambingkan karakter Badai. Aspek masa lalu, masa sekarang dan masa depan yang dijalaninya sedikit banyak mempengaruhi karakter asli yang ingin ditonjolkan, dalam hal ini ketangguhan dan ketegaran seorang marinir. Oleh karena itu tak jarang Badai malah terlihat rapuh dan tidak konsisten dengan segala tindak tanduknya. Sebetulnya tidak menjadi masalah jika ingin menekankan sisi manusiawinya asal dilengkapi dengan penjelasan latar belakangnya.
Dengan karakterisasi demikian, Arifin Putra juga mau tidak mau turut terjebak dalam ketidakpastian. Kadang Badai terlihat dewasa tapi di sisi lain masih kurang matang dalam mengambil setiap keputusan. Korelasinya dengan percintaan, persahabatan dan tanggungjawab terhadap tugas utamanya juga blur sepanjang film berjalan. Patriotisme yang dituntut darinya seringkali kontradiktif dengan anggapan masyarakat awam yang masih agak primitif. Nah, ini yang setidaknya menjadi highlight tersendiri.

Jojon justru paling mencuri perhatian dari jajaran cast yang ada. Bagaimana imej komediannya bisa luntur dan membaur dalam karakter Piter yang culas. Sosok antagonis yang memang tidak akan memancing kebencian penonton tapi mampu menghadirkan konflik yang tajam. Astrid Tiar dan Yama Carlos belum terlihat menggali sisi emosional yang dibutuhkan untuk peran Anissa dan Joko, bisa jadi karena porsi yang diberikan pada mereka belum cukup maksimal.
Satu nilai plus lagi, sutradara Agung berhasil menghadirkan sinematografi Tanjung Pinang alias Kepulauan Riau dengan indah. Pesisir pantai, laut dan perkampungan nelayan dapat disetel sebagai panggung sesuai kebutuhan cerita. Sayangnya adegan aksi yang diharapkan mampu memacu adrenalin malah cenderung datar. Bahkan adegan tembak-tembakan di atas kapal pada bagian pamungkas terkes4an menutupi detilnya. Tak mau menonjolkan kesadisan kasat mata atau takut terlihat palsu?
Badai Di Ujung Negeri bukanlah masuk kategori film buruk tetapi terbilang gagal memaksimalkan potensi yang sebenarnya sudah ada. Gaya penceritaan yang mundur maju dengan tempo lambat bisa jadi terasa membosankan. Namun kelemahan utamanya yaitu tidak cukup kuat menjalin keterikatan emosional dengan penonton untuk benar-benar tergugah dengan perjalanan konflik yang mengatasnamakan heroisme selama satu setengah jam durasinya.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 30 Oktober 2009

RUMA MAIDA : Mempertahankan Gedung Tua Penuh Kenangan

Cerita:
Gadis pengajar anak-anak kurang beruntung, Maida telah berusaha selama 2 tahun di sebuah gedung tua terbengkalai sampai akhirnya menemui hambatan saat seorang arsitek, Sakera mendatanginya dan berniat membongkar gedung tersebut untuk menjadikannya perkantoran atas perintah bosnya, Dasaad. Maida menolak dengan alasan fasilitas itu adalah satu-satunya tempat bernaung bagi anak-anak yang kesehariannya hanya bisa mengamen, berjualan koran dll untuk bertahan hidup. Tidak diduga, hubungan Maida dan Sakera pun semakin dekat karena mereka sering bertukar pikiran sampai pada akhirnya mereka bertekad mencaritahu sejarah gedung tua yang pernah menjadi saksi masa lalu tersebut untuk membatalkan pembongkaran.

Gambar:
Beberapa flashback ditampilkan dalam adegan hitam putih sephia lengkap dengan kostumnya. Sedangkan setting masa kini yang berlokasi di Jakarta dan Semarang juga turut mendapat perhatian dari sisi artistik.

Act:
Atiqah Hasiholan yang baru saja dipuji dalam Jamila dan Sang Presiden kali ini berperan sebagai Maida, gadis keturunan campur yang idealis dan teguh hati.
Terakhir muncul dalam komedi kacau Merem Melek, Yama Carlos bermain sebagai Sakera, arsitek muda yang rendah hati dan berjiwa sosial.
Baru saja mendukung sekuel Get Married, Nino Fernandez disini kebagian peran Ishak Pahing, komposer Belanda yang pro kemerdekaan.
Turut didukung pula oleh Davina Veronica Hariadi, Imelda Soraya, Wulan Guritno, Frans Tumbuan, ayah-anak Henky & Verdy Solaiman.

Sutradara:
Pernah menggunakan frame serupa dalam Ruang (2005), Teddy Soeriaatmadja kali ini bekerjasama dengan novelis Ayu Utami untuk mengarahkan film berlatar belakang sejarah nasional yang dibiayai oleh Lamp Pictures dan Karuna Pictures.

Comment:
Acungan jempol patut dilayangkan pada penulis skenario sekaligus ide ceritanya yaitu Ayu Utami yang bisa dibilang sukses mengadopsi suatu perjalanan panjang sejarah yang pernah terjadi di masa lalu dari mulai Kebangkitan Nasional 1920 hingga Kemerdekaan R.I. 1945 hingga melibatkan beberapa tokoh nasional yang hidup di jamannya semisal Bung Karno, Bung Hatta, Laksamana Maeda, WR Supratman, Sutan Syahrir dsb. Semuanya itu mungkin tidak terlalu berarti andai Teddy Soeriaatmadja tidak mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa gambar yang baik. Penyajian Ruma Maida ini cukup mengesankan karena ada batasan jelas antara masa lalu dan masa kini yang seimbang. Para pemainnya tampil memikat terutama Atiqah yang tampaknya semakin matang. Sebuah film tentang kisah cinta syahdu sekaligus tragis antara dua insan dengan latar pra dan pasca kemerdekaan Indonesia yang tentunya patut anda saksikan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 29 Mei 2009

VIRGIN 2 : Mozaik Kisah Pergaulan Remaja Putri Metropolitan

Tagline:
From Innocence To Brutality. Striking And Original Busting Version.

Cerita:
Tina diusir dari rumah karena dianggap menggoda pacar baru ibunya. Tidak cukup menderita, Tina malah diperkosa Yama, kenalan sahabatnya di suatu diskotik dan kemudian dijual ke beberapa lelaki hidung belang dalam semalam! Nasib mempertemukannya dengan Nadya yang tengah hamil muda dimana kekasihnya mendekam di penjara. Nadya juga terjebak dalam hubungan sesama jenis yang membuatnya membutuhkan biaya besar. Bagaimana sepak terjang Tina dan Nadya selanjutnya menghadapi ganasnya pergaulan metropolitan?

Gambar:
Visual retro berhasil ditampilkan dengan pencahayaan biru kelam yang temaram dalam suasana malam.

Act:
Christina Santika sebagai Tina yang lugu dimana sering membuatnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Joanna Alexandra sebagai Nadya yang terpaksa melakukan secara cara untuk mendapatkan uang demi menolong dirinya sendiri dan orang lain yang dicintainya.
Yama Carlos sebagai Yama yang kejam dan juga mucikari independen khusus gadis belia.

Sutradara:
Nayato Fio Nuala yang berjanji menghasilkan karya yang di atas standar jika menggunakan (konon) nama aslinya itu kembali mengangkat drama remaja rumit nan tragis selayaknya yang pernah ditampilkannya dalam Butterfly.

Komentar:
Berusaha tapi tidak cukup berusaha. Dari segi plot cerita sepertinya tidak ada yang baru meski tidak menutup kemungkinan menjadi spesial jika dieksplorasi dengan tepat. Banyak hal yang tidak terjelaskan sebab musababnya dengan masuk akal. Penderitaan karakter di film seakan menular pada penonton yang juga menderita menyaksikan film ini yang terus terang saja seperti kehilangan fokus dari awal sampai akhir. Digadang-gadang bisa menjadi panutan remaja metropolitan dewasa ini? Rasanya belum tepat karena bisa jadi malah menginspirasi mereka terhadap hal-hal tabu yang ditampilkan. Satu hal lagi, "kelamnya" Virgin tidak bisa disaingi (konon) sekuelnya ini yang mengambil sub judul: Bukan Film Porno. Apa maksud?

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 11 April 2009

MATI SURI : Misteri Spiritual Setelah Kondisi Koma

Tagline:
Mati tak cukup sekali

Cerita:
Menjelang pernikahannya, Abel kalut mendapati fakta bahwa calon suaminya, Wisnu pernah menghamili wanita lain. Dalam keputus asaannya, Abel menenggak sebotol obat hingga membuatnya koma atau sering disebut mati suri. Dalam kondisi itu, Abel seperti berada di suatu tempat asing yang dingin dan gelap. Saat terbangun setelah beberapa hari, Abel bertekad menyendiri dan menyelesaikan pekerjaannya sebagai fotografer di villa milik sahabat baiknya, Charlie. Sayangnya di tempat itu, Abel malah menemukan serangkaian kejadian supranatural yang berusaha membujuknya untuk mati sekali lagi..

Gambar:
Konsep visual yang baik dengan dominan warna biru di malam hari.

Act:
Mendominasi layar dari awal sampai akhir, Nadine Chandrawinata menunjukkan emosi dan penjiwaan yang baik sebagai Abel, gadis cantik rapuh yang tidak percaya mistik.
Setelah masuk nominasi aktor terbaik dalam FFI 2008 yang lalu, Yama Carlos kali ini bermain sebagai Wisnu yang kebingungan mendapati calon istrinya menghilang dan berusaha mendapatkannya kembali dengan sekuat tenaga.
Satu lagi model asal Malaysia yang menyusul terjun ke dunia akting, Keith Foo sebagai Charlie yang setia kawan tapi berkesan misterius.

Sutradara:
Rizal Mantovani kembali lagi ke genre horor setelah terakhir membesut Kesurupan (2007). Dalam Mati Suri, Rizal menyuguhkan konsep serupa yaitu kondisi saat tubuh kehilangan kendali jiwanya. Usahanya dalam film ini boleh diacungi jempol karena mampu memadukan konsistensi cerita dengan konsep visual yang baik.

Komentar:
Menggunakan narasi Mama Loren dalam trailer film ini sebetulnya cukup kreatif. Tapi apa yang ditampilkan secara utuh jauh lebih daripada itu. Walau bertempo cukup lambat, Mati Suri berhasil menjaga ritme cerita mulai dari awal sampai klimaks. Pelebaran karakter tidak merumitkan kisah tapi membuka satu persatu kejutan yang disuguhkan. Suatu hal yang jarang ditemui dalam horor lokal. Sayang sekali di tengah serbuan horor tidak standar belakangan ini, Mati Suri yang di atas rata-rata justru kurang mendapat perhatian.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 27 November 2008

Cerita:
Setelah jatuh bangun gagal casting film meski hanya mendapat figuran dengan peran sederhana sekalipun, dua sobat Kuntoro (asal Jogja) dan Junaidi (asal Padang) harus berputar otak untuk mencari uang demi membayar kontrakan dan kuliah mereka. Akhirnya sahabat mereka yang juga mengaku artis ngetop, Sheila menawarkan mereka untuk berjualan obat kuat dan alat-alat penunjang kegiatan seks. Meski awalnya menolak, Kun dan Jun mau tidak mau berusaha melakukannya sambil mencari cara terampuh dari sudut marketing. Apa trik yang akan mereka gunakan? Bagaimana mereka survive dengan kehidupan pribadinya masing-masing?

Gambar:
Lokasi setting yang minim membuat gambar seperti hanya berputar-putar saja. Bahkan jika jeli, kita bisa menemukan beberapa gambar serupa di film-film horornya Nayato.

Act:
Tampil di film ini tidak akan berarti apa-apa bagi karier akting Miller dan Yama Carlos. Sebagai dua sahabat lugu dan bodoh, mereka hanya mengikuti instruksi skenario saja dan mungkin melakukan improvisasi sendiri dengan mimik wajah, logat dan bahasa tubuhnya.
Cathrine Wilson dan Noumira mendapat peran yang sebetulnya krusial dalam film ini namun karakteristik mereka tidak memungkinkan dalam pengembangan cerita secara keseluruhan.

Sutradara:
Entah apa yang ada di benak Ian Jacobs (a.k.a Nayato) saat membesut film ini. Seseorang yang sebetulnya talented tapi tidak tahu bagaimana menggunakan kemampuannya. Eksekusi cerita yang konon merupakan skenario komedi pertama Viva Westi (yang mungkin saja akan disesalinya kemudian) sangat miskin tanpa awal dan ujung yang jelas.

Komentar:
Salah satu trash local movie tahun ini. Contoh nyata komedi yang bisa membuat anda tersiksa duduk di bangku bioskop yang nyaman!

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10

Minggu, 23 November 2008

PENCARIAN TERAKHIR : Pencarian Tim Pendaki Gunung Misteri

Cerita:
Sita mendapat telepon dari pos Jagawana gunung Sarangan bahwa sudah beberapa hari sang adik Gancar dan teman-temannya belum melapor. Kontan hal itu membuat Sita panik, sedih dan bingung. Dua temannya sesama pengurus outbound, Oji dan Bagus berusaha menghiburnya. Diam-diam, Bagus menyambangi Tito, sahabat lamanya yang pernah hilang saat mendaki gunung Sarangan sampai kehilangan sohibnya Norman 5 tahun lalu. Bersama mereka bergabung dengan tim pencari dengan target waktu 5 hari walaupun harus menghadapi resiko masing-masing di beberapa lokasi gunung yang terkenal angker itu. Apakah misi tersebut akan berhasil? Apa yang sebenarnya terjadi di gunung Sarangan selama ini?

Gambar:
Nuansa pegunungan yang sepintas kelihatan bersahabat namun menyimpan banyak misteri mampu ditangkap dengan baik. Semua setting terlihat meyakinkan karena terlihat seperti lokasi sesungguhnya.

Act:
Lukman Sardi sekali lagi menunjukan kelasnya sebagai aktor papan atas Indonesia. Perannya yang dilematis disini sebagai seorang yang trauma tapi harus menggali kembali ingatan masa lalu nya demi seorang yang ia cintai bisa dimainkan dengan cemerlang.
Richa Novisha sebagai Sita juga memperlihatkan debut yang baik, seorang kakak yang bimbang namun harus tetap maju dan bersikap optimis.
Yama Carlos dan Alex Abbad sebagai sidekick tokoh utama juga tampil sesuai porsinya, terlihat natural dan wajar tanpa improvisasi berlebihan. Patut dicatat ada perkembangan akting yang baik dari keduanya disini.

Sutradara:
Walaupun belum banyak dikenal, Affandi Abdul Rachman bersama Vandea Productions boleh dibilang sukses mengarahkan film ini. Mulai dari pemilihan casting dan lokasi yang dirasa tepat sampai eksekusi secara keseluruhan. Thumbs up!

Komentar:
Salah satu film lokal wajib tonton tahun ini. Ceritanya mengalir ringan namun tetap berisi. Alur lambat yang digunakan sedikit terbantu dengan dialog-dialog yang asyik untuk disimak. Beberapa adegan akan membuat bulu kuduk anda berdiri. Sebuah eksplorasi tentang kegiatan mendaki gunung dilihat dari kacamata orang-orang yang berpengalaman di bidangnya.

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10