XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 11 Mei 2012

DARK SHADOWS : Hit And Miss With Less Self-Conscious Adaptation


Quotes:
Barnabas Collins: If a man can become a monster, then a monster can become a man.

Nice-to-know:
Kerjasama Tim Burton yang kedelapan dengan Johnny Depp, ketujuh dengan istrinya Helena Bonham Carter, kelima dengan Christopher Lee dan kedua dengan Michelle Pfeiffer.

Cast:
Johnny Depp sebagai Barnabas Collins
Michelle Pfeiffer sebagai Elizabeth Collins Stoddard
Helena Bonham Carter sebagai Dr. Julia Hoffman
Eva Green sebagai Angelique Bouchard
Jackie Earle Haley sebagai Willie Loomis
Jonny Lee Miller sebagai Roger Collins
Bella Heathcote sebagai Victoria Winters / Josette DuPres
Chloƫ Grace Moretz sebagai Carolyn Stoddard

Director:
Merupakan feature film ke-16 bagi Tim Burton yang pertama saya kenal lewat Edward Scissorhands (1990).

W For Words:
Film ini diadaptasi dari opera sabun siang hari di stasiun televisi ABC periode 1966-1971 berjudul sama. Namun daya tariknya jelas ada pada faktor Johnny Depp dan Tim Burton selaku aktor utama dan sutradara. Tentunya bukan perkara mudah saat penulis skrip Seth Grahame-Smith berupaya memadatkan 1.225 episode ke dalam versi layar lebar berdurasi 113 menit. Namun seperti yang sudah kita ketahui, seorang Burton biasanya amatlah visioner dalam menerjemahkan karya-karyanya yang cenderung gelap tersebut.

Tahun 1752, Joshua dan Naomi Collins berlayar dari Inggris ke Amerika Serikat untuk memulai hidup baru. Sayangnya kesuksesan yang diraih tak berlangsung lama ketika kutukan melanda keluarga mereka. Putranya Barnabas pun harus kehilangan kekasihnya sebelum dimanterai penyihir Angelique Bouchard sehingga menjadi vampir akibat kasih tak sampai. Dua abad kemudian, Barnabas berhasil lolos dari peti yang mengurungnya dan kembali ke Collinwood Manor dimana tinggal dua bersaudara Elizabeth dan Roger dengan anak-anak mereka Carolyn dan David serta Dr. Julia Hoffman dan pelayan Willie Loomis. Keadaan tak lagi sama dan Barnabas seakan mengulang takdirnya saat bertemu pengasuh Victoria Winters yang amat mirip dengan cinta lamanya Josette DuPres.

 
Harus diakui 30 menit pertamanya menampilkan humor yang kelam dan tajam. Narasi flashback semasa hidup Barnabas yang menggigit plus pengenalan tokoh-tokoh keluarga Collins masa kini yang super duper freak itu. Namun selepas itu sutradara Burton tampak kehilangan sentuhannya untuk mempertahankan film tetap berada dalam relnya. Semua tokoh seakan ingin memiliki “frame”nya sendiri dimana proses perjalanan ke arah sana tak cukup memadai untuk memberikan kesan kuat. Saya tidak heran karena terlalu banyak chapter untuk diceritakan disana-sini dari rangkaian kisah yang amat panjang.

Beruntung kolaborasi Burton dengan Rick Heinrichs tetap maksimal dengan desain produksi yang memukau. Collinswood Manor yang megah dengan dua ratus kamar dan berbagai sudut rahasianya divisualkan secara brilian. Tata rias dan kostum aktor-aktrisnya sukses menonjolkan kesan gothic dan sensasional sesuai karakteristik masing-masing. Alih-alih memperlihatkan perseteruan bisnis antara Angel Bay dan Collins Fishing Fleet and Cannery yang memadai, penonton justru disuguhkan making love scenes yang weird sekaligus fantastis diantara Barnabas dan Angelique! 

Film ini mengingatkan saya akan beberapa referensi film lawas klasik seperti Beetlejuice (1988), Death Becomes Her (1992), Blast From The Past (1999) hingga karya-karya Burton sebelumnya yaitu Edward Scissorhands (1990), Corpse Bride dan Charlie and the Chocolate Factory, keduanya rilis 2005. Pesona Depp sendiri masih terjaga lewat penampilan dingin, pucat menyeramkan sampai lugu, kuno menyedihkan seorang Barnabas Collins. Multiple relationships nya dengan Eva Green, Helena Bonham Carter dan Bella Heathcote sekaligus memberikan perspektif kejantanan egois seorang pria sambil menjaga pesona dan elegansinya.

Deretan pendukung yang punya nama dan penuh talenta membuat Dark Shadows mengusung beban yang berat. Tidak heran jika ekspektasi penikmat film dunia semakin tinggi karenanya. Saya pribadi masih bisa menikmatinya karena elemen cheesy but tasty berhasil dipertahankan sepanjang film, adopsi terbaik yang bisa dilakukan terhadap film adaptasi serial televisi uzur. Kesenangan menontonnya sendiri terbilang hit and miss, some works but some not! Film yang seharusnya disikapi dengan santai sambil mengaburkan sedikit kesadaran diri anda untuk bekerja lebih baik. Just like shadows themselves!

Durasi:
113 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 09 Mei 2012

HATTRICK : Serba-Serbi Idealisme Dan Patriotisme Futsal

 
Quotes:
Pak Toro: Kenapa masih nyuri, Nand. Kan semua udah disediain perlengkapan latihannya.
Anand: Gak apa, Pak. Saya mah cuma cari adrenaline rushnya aja.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh MVP Pictures ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 8 Mei 2012.

Cast:
Arumi Bachsin sebagai Sophie
Denny Sumargo sebagai Galang
Lukman Sardi sebagai Pak Toro
Ira Wibowo sebagai Bu Bos
Fauzan Nasrul sebagai Samuel
Lionil H Tikoalu sebagai Halil
Dion Wiyoko sebagai Alung
Amrit Punjabi sebagai Anand
Mikael Jakarimilena sebagai Markus
Pong Hardjatmo sebagai Pak Dedy

Director:
Merupakan film kedua bagi Robert Ronny setelah salah satu segmen dalam omnibus Dilema (2012).

W For Words:
Bicara jujur, saya bukanlah seorang penggila futsal yang komunitasnya di Indonesia semakin bertambah dari waktu ke waktu, terbukti beberapa lahan kosong di tengah kota pun beralih fungsi menjadi lapangan sewaan yang rutin dipadati penonton. Premis yang idenya muncul dari buah pikiran Ody C Harahap, Robert Ronny dan Amrit Punjabi ini menjadikannya sebagai film lokal pertama yang mengangkat olahraga futsal dimana pendekatannya mengingatkan anda pada Gara-Gara Bola (2008).
Turnamen Underground Futsal bertaraf internasional kembali digelar. Janda mafia, Bu Bos berambisi meneruskan cita-cita suaminya memiliki tim futsal jawara. Direkrutlah Toro sebagai pelatih bagi para anggota tim bentukannya yaitu Samuel, Alung, Halil, Anand dan Markus dari berbagai latar belakang hidup yang kemudian ditempa secara intensif baik fisik maupun teknik. Waktu latihan yang semakin singkat kerapkali diganggu oleh masalah-masalah pribadi kelima pemuda tersebut. Berhasilkah tim Garuda Merah bersaing dengan 7 tim kuat dari berbagai negara lainnya?
Satu fakta yang mencolok dalam film ini adalah durasinya yang mencapai 120 menit. Whoa! Suatu hal yang tidak biasa dalam film kita apalagi plotnya tergolong sederhana, lagi-lagi from zero to hero. Alih-alih membahas persiapan dan strategi tim yang matang dalam menghadapi kompetisi, filmmakers malah sibuk menuturkan konflik personal dari enam aktor utamanya, lengkap dengan dramatisasi dan penyelesaian klise yang tidak berkontribusi banyak terhadap bangunan utama cerita. Sekadar ingin memperkenalkan aktor-aktor anyar ke ranah publik meski berbekal akting yang minim?
Fauzan Nasrul jelas memiliki kesempatan paling besar untuk mengeksploitasi perannya bersama dengan Lukman Sardi dan Arumi Bachsin. Namun Lionil H Tikoalu justru tampil paling lugas dengan gaya sok kece dan figur boyband yang melekat padanya, tunggu dulu jika ia mengikuti kompetisi boyband kenapa selalu bernyanyi solo? Ira Wibowo bermain komikal sebagai Bu Bos yang tegas dan galak. Sayang rivalitasnya dengan Pong Hardjatmo digambarkan terlalu teatrikal. 
Sutradara Robert Ronny tampak asyik bermain dengan pieces of puzzle nya yang tergarap dinamik dari satu frame ke frame lain. Ini menarik! Sayang tidak menyajikan sesuatu yang fresh. Babak finale yang seharusnya menjadi penutup memang tersaji memikat tetapi unsur idealisme dan patriotisme nya tidak dapat terhindarkan. Sah-sah saja terkadang kemenangan memang merupakan harga mati seperti apa yang dikatakan Michael Jakarimilena dalam satu-satunya kesempatan bicaranya, “Sejarah tidak pernah mencatat siapa yang menjadi juara dua.” Setidaknya kali ini upaya Samuel, Alung, Halil, Anand dan Markus dalam membangun chemistry satu sama lain lewat olah kata dan bahasa tubuh terbilang padu.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

THE HUNTER : Misi Spiritual Perburuan Langka

 
Quotes:
Jack Mindy: So you can imagine when he arrived a few years back, he was about as popular as a snake in a sleeping bag.

Nice-to-know:
Terpilih oleh Magnolia Pictures untuk pendistribusiannya di Amerika Serikat pada tahun 2012 ini setelah melakukan world premiere nya di ajang Toronto Film Festival 2011.

Cast:
Willem Dafoe sebagai Martin David
Sam Neill sebagai Jack Mindy
Frances O'Connor sebagai Lucy Armstrong
Morgana Davies sebagai Sass Armstrong
Maia Thomas sebagai Shakti

Director:
Daniel Nettheim sebelumnya lebih banyak menangani serial televisi.


W For Words:
Ada yang pernah membaca buku keluaran tahun 2006 berjudul "Carnivorous Nights: On the Trail of the Tasmanian Tiger" milik Margaret Mittelbach dan Michael Crewdson? Perjuangan menemukan hewan langka yang sukses membuat para peneliti American Museum of Natural History di Manhattan penasaran tersebut kemudian ditulis dalam bentuk novel oleh Julia Leigh dan skrip oleh Alice Addison berdasarkan rekaan dari Wain Fimeri ini.
Seorang penembak jitu bernama Martin David ditugaskan oleh sebuah perusahaan biokimia misterius Eropa untuk berburu spesies terakhir harimau Tasmania. Demi memuluskan rencananya, Martin ditemani oleh ahli sains Jack Mindy dalam mengenali alam sekitar. Martin juga menyewa pondok tua milik Lucy Armstrong dengan putra-putrinya Bike dan Sass untuk beristirahat. Interaksi dengan orang-orang baru di alam yang masih asing baginya itu membuat Martin terpacu untuk menemukan targetnya dalam keadaan hidup.

Willem Dafoe adalah seorang aktor watak yang selalu memperlihatkan kelas akting tersendiri walaupun harus berperan stand alone disini. Karakter Martin David di tangannya mampu menyeimbangkan naluri tajam seorang pemburu profesional dengan kehangatan seorang family man secara simultan. Perubahan demi perubahan yang terkadang ekstrim itulah yang membuat film ini berjalan menarik karena rasa kemanusiaan Dafoe selalu diuji lewat rangkaian peristiwa tak terduga.
Sutradara Nettheim menyajikan sinematografi alam Australia sebagai panggung yang indah dan asri. Hutan yang sepi tetapi penuh jebakan alami itu jadi ajang bermain Martin David yang betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk meneliti, mempelajari dan beraksi sesuai kepentingan. Konflik kepentingan antara pendatang dan penduduk lokal memang selalu menjadi isu tersendiri, tanpa terkecuali dalam film ini meski tak sampai mempengaruhi konflik utama secara berlebihan.

Menilik secara keseluruhan, The Hunter bukanlah thriller yang mampu memuaskan penonton karena dibutuhkan kesabaran dan pemahaman yang mendalam akan karakter Willem Dafoe yang kompleks tersebut. Sayangnya ending tragisnya seakan berupaya mengkhianati karakteristik Martin David yang sudah terbangun sejak awal tanpa penjelasan yang memadai. Saran saya, nikmati saja eksplorasi alam Australia selama lebih kurang 100 menit. Bayangkan jika anda benar-benar berada di sana dan bertindak sebagai sosok Martin David rekaan anda sendiri.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$158,219 till May 2012


Overall:
7 out of 10


Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 08 Mei 2012

LOVELY MAN : Realita Humanisme Substansi Personal Ayah Anak


Quotes:
Syaiful: Pasti orang-orang heran lihat ada banci duduk sama anak kecil, berjilbab pula.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Karuna Pictures bekerjasama dengan Investasi Film Indonesia ini gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI pada tanggal 8 Mei 2012.

Cast:
Raihaanun Soeriaatmadja sebagai Cahaya
Donny Damara sebagai Syaiful/Ipuy
Asrul Dahlan
Yayu Aw Unru
Ari M Syarif

Director:
Merupakan film keenam bagi Teddy Soeriaatmadja yang dimulai sejak Banyu Biru (2004).

W For Words:
Film ini pertama kali diputar di Q! Film Festival 2011 pada bulan September 2011 lalu di Teater Salihara, Kemang dimana respon penonton sangatlah positif. Namun bukan faktor itu saja yang membuat antusiasme besar dalam diri saya tetapi karena kembalinya aktor lawas karismatik bernama Donny Damara ke kancah perfilman layar lebar. Tak sia-sia memang karena lewat perannya disini, ia diganjar penghargaan Aktor Terbaik dalam Asian Film Awards ke-6 di Hongkong pada akhir bulan Maret 2012 yang lalu dengan menyisihkan kandidat kuat lainnya termasuk Andy Lau (Hongkong), Chen Kun (China), Park Hae Il (Korea) dan Koji Yakusho (Jepang).

Gadis remaja pesantren, Cahaya datang ke Jakarta dengan satu tujuan yaitu menemui ayahnya, Syaiful yang telah meninggalkan rumah selama 15 tahun. Kaget bukan kepalang, Cahaya mendapati sosok Syaiful telah berganti wujud menjadi seorang waria bernama Ipuy yang mencari nafkah dengan “berniaga” di pinggir jalan setiap malamnya. Interaksi dadakan sambil menyusuri setiap sudut ibukota pun membuka rahasia demi rahasia di antara keduanya sekaligus menjalin tali silaturahmi yang telah lama hilang.

Penulis skrip sekaligus sutradara Teddy Soeriaatmadja menyuguhkan drama keluarga yang dibalut dengan realita lewat cara bertutur yang apik. Keterbatasan bujet berhasil disiasati dengan memaksimalkan lokasi syuting luar ruang yang juga berhasil memvisualisasikan Jakarta sebagai panggung dinamis kehidupan para pendatang yang terkesan tidak ramah. Niscaya anda akan merasa dekat dengan kosan kumuh, rumah makan Padang, warteg, flyover, kolong jembatan, busway hingga stasiun kereta yang menyimpan berjuta cerita dalam kesehariannya.

Donny Damara sekali lagi membuktikan kemumpunian seni perannya, mungkin sebagian dari anda akan teringat pada penampilannya satu dekade silam dalam Panggil Aku Puspa. Karakter Ipuy disini “bertransformasi” karena panggilan hidupnya, bukan semata karena uang. Raihaanun yang selalu saya rindukan aktingnya sukses menjiwai sosok gadis remaja pesantren yang tengah bimbang. Karakter Cahaya digambarkan soleh tapi tidak sempurna karena telah berbuat jauh dengan kekasih yang dicintainya. Itulah sebabnya anda akan mencintai Ipuy dan Cahaya sejak menit pertama film bergulir.

Interaksi ayah dan anak itu tidak terlihat canggung samasekali. Dialog-dialog yang tercipta di antara mereka terdengar realistis, datar tapi penuh luapan emosi yang tertahan. Perhatikan bagaimana pergeseran sikap dan tutur kata Ipuy terhadap Cahaya. Perlahan tetapi pasti penggunaan frasa “lu”, “gue”, “kuntil”, “perempuan” dsb berubah menjadi “aku”, “kamu”, “nak” setelah melalui proses “pengakuan” panjang dari hati masing-masing. Wig dan jilbab mereka seakan bertindak sebagai salah satu atribut identitas yang tak terbantahkan, setidaknya di mata umum.

Konflik dalam film ini terbilang sederhana. Ipuy dikatakan “mencuri” uang tiga puluh juta dari mafia dalam rangka membayar operasi kelamin demi sebuah pernikahan "tidak biasa" pada akhirnya memang menerima hukumannya. Cahaya dikabarkan “hamil” delapan minggu akibat terlalu intim menjalin kasih pada akhirnya mampu menuntaskan dilemanya. Kedua premis yang berjalan bersisian ini berujung pada (lagi-lagi) cinta, dedikasi pada pria pilihan masing-masing. Sepadankah pengorbanan mereka tentunya harus melihat pada kadar pembenaran yang ada.

Ketidaksempurnaan sebagai film dibayar tuntas dengan kesempurnaannya dalam mengeksploitasi substansi hubungan antar personal. Lovely Man tidak bertutur dengan cara yang ekstrim meskipun tokoh Ipuy sendiri tak akan diterima begitu saja oleh kebanyakan orang. Penyelesaiannya tergolong pas dalam menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi Cahaya atau kewajiban-kewajiban yang membebani Syaiful secara harfiah, meninggalkan penonton dengan tanda tanya besar akan kelanjutan hidup ayah dan anak setelah perjalanan satu malam tersebut. Sisi humanis yang teramat realistis itulah yang menjadikan saya dan sebagian besar penonton lain jatuh cinta. Cinta akan tontonan berisi apa adanya tanpa harus membalutnya dengan sampul eksklusif. No argue, it's one of the best local dramas I’ve ever seen for my whole life!

Durasi:
76 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 06 Mei 2012

TEZZ : Silly Premise Worthy One Stop Action


Tagline:
What Is Rightfully Yours?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh United 7 Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 27 April 2012 yang lalu.

Cast:
Anil Kapoor sebagai Arjun
Ajay Devgn sebagai Aakaash
Philip Martin Brown sebagai Inspector Alan
Zayed Khan sebagai Aadil
Kangana Ranaut sebagai Nikita
Mohanlal sebagai Shivan
Sameera Reddy sebagai Megha

Director:
Merupakan film ke-67 bagi Priyadarshan.

W For Words:
Apa yang anda lakukan ketika sebuah negara dengan budayanya secara tidak langsung mengeliminasi sesuatu yang berharga yang anda miliki. Bisa jadi anda akan bertindak seperti halnya Ajay Devgn disini yaitu memasang bom dalam sebuah kereta yang melaju kencang sambil mengharapkan uang tebusan sebagai kompensasinya. Itulah yang berusaha diketengahkan oleh United 7 Entertainment lewat film terbarunya ini yang sedikit terinspirasi dari apa yang sudah dilakukan oleh Hollywood sebelumnya.

Aakaash adalah seorang insinyur cerdas yang masuk ke London dengan cara yang ilegal. Sayangnya hukum tidak mentolerir keberadaannya. Sebagai balas dendam, Aakaash bersama dengan kompatriotnya, Adil dan Megha memasang bom dalam sebuah kereta. Suatu aksi teroris yang dipicu oleh ketidakadilan yang dialaminya hingga harus berhadapan dengan polisi senior yang baru saja pensiun, Arjun. Bukan hanya itu, sejumlah besar uang tebusan dimintanya demi hidup berkecukupan dengan istrinya, Nikita dan putra mereka di kemudian hari.
Bagian terbaik film ini adalah elemen actionnya antara Anil Kapoor dan Ajay Devgn terutama pertarungan tangan kosong ataupun permainan kucing tikus di basement parkir rumah sakit di penghujung film. Koreografinya ditangani oleh Gareth Milne yang sebelumnya berpengalaman lewat The Bourne Identity, The Bourne Ultimatum beserta kerjasamanya dengan Peter Pedrero. Tidak lupa menyebutkan penampilan menarik dari Sameera Reddy sebagai sang gadis pengendara sepeda cekatan.

Sutradara Priyadarshan dan penulis skrip Robin Bhatt tidak banyak merekonstruksi plot cerita sedemikian rupa untuk mengubah stereotype. Tentu saja seperti biasa pihak protagonis yang menjalani kriminalitas dalam perfilman Bollywood wajib didukung oleh kejadian tragis sebagai penunjang demi membujuk penonton untuk tetap bersimpati. Adegan pembuka saat tokoh Aakaash masuk ke Desi Club dimana Mallika Sherawat bernyanyi dan meliuk erotis bersama para penari latarnya nyaris tak memberi kontribusi apa-apa selain mempertunjukkan kebiasaan para pendatang India di London tersebut.
Tezz memang menawarkan premis yang terlampau sederhana kalau tidak mau dikatakan malas bercerita. Semua situasi dirancang sedemikian rupa sehingga setiap karakternya tinggal mengikuti alur yang ada termasuk cameo aktor legendaris Mohanlal yang terasa sia-sia itu. Klimaksnya sendiri terlalu mudah ditebak tanpa berupaya meningkatkan standar logika yang ada. Film ini hanyalah pengulangan formula yang sudah-sudah dengan sedikit ketegangan disana-sini dan tentunya faktor Devgn, Kapoor, Irani, Reddy dan Khan lah yang membuat anda ingin menyaksikan yang satu ini sebagai pengisi waktu belaka.

Durasi:
122 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 05 Mei 2012

THE AVENGERS : Teamed Up Superheroes And Bang Bang Boom


Quotes:
Loki: What have I to fear?
Tony Stark: The Avengers. That's what we call ourselves. Sort of like a team. Earth's mightiest heroes, type thing.

Nice-to-know:
Film Marvel pertama yang didistribusikan oleh Walt Disney Pictures ini sudah tayang di Amerika Serikat pada tanggal 11 April 2012 yang lalu.

Cast:
Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark / Iron Man
Chris Evans sebagai Steve Rogers / Captain America
Mark Ruffalo sebagai Bruce Banner / The Hulk
Chris Hemsworth sebagai Thor
Scarlett Johansson sebagai Natasha Romanoff / Black Widow
Jeremy Renner sebagai Clint Barton / Hawkeye
Tom Hiddleston sebagai Loki

Director:
Merupakan film kedua bagi Joss Whedon setelah Serenity (2005).

W For Words:
Sulit dipercaya jika keluaran pertama Marvel Studio di tahun 2008 yaitu Iron Man sesungguhnya merupakan proyek perjudian. Nyatanya empat film kemudian yang disusul berturut-turut oleh Iron Man 2 (2010), Thor (2011), Captain America : The First Avenger (2011), kesemua karakter pahlawan super tersebut bersatu-padu dalam sebuah film blockbuster yang diluncurkan sebagai appetizer summer movies tahun 2012 ini sekaligus tayangan pembuka teater IMAX Gandaria City XXI yang baru beroperasi di Indonesia.
Kepala S.H.I.E.L.D sebuah perusahaan penjaga perdamaian dunia, Nick Fury kerapkali berhubungan dengan komite Marvel Super Heroes yang beranggotakan Iron Man, The Incredible Hulk, Thor, Captain America, Hawkeye dan Black Widow. Suatu ketika adik Thor, Loki dan kawanannya bertekad menguasai dunia melalui kubus The Tesseract yang mampu menyerap kekuatan tanpa batas dari dimensi lain. Kini para pahlawan super itu beraksi kembali demi mencegah kerusakan dan kehancuran yang lebih besar lagi.

Komik yang digagas oleh Stan Lee dan Jack Kirby itu kemudian disadur oleh Joss Whedon dan Zak Penn ke dalam skrip yang sangat sederhana dengan tujuan mudah dimengerti oleh penonton yang murni menginginkan sebuah hiburan belaka. Bertindak pula sebagai sutradara, Whedon tampak paham betul bagaimana menghabiskan bujet 220 juta dollar ke dalam eksekusi cerdas nan jitu. Terlepas dari durasinya yang terlalu lama, penonton tidak akan terlalu merasakannya karena sibuk dijejali adegan aksi penuh antusiasme dari awal sampai akhir.
Seperti sudah diduga sebelumnya, Iron Man mendapat porsi terbesar dengan figur Tony Stark yang haus popularitasnya itu. Captain America dan Thor terlihat lebih nyaman di belakangnya melanjutkan apa yang sudah dilanjutkan duet Chris sebelumnya dalam feature film masing-masing. Black Widow memberikan kesan feminisme yang kental apalagi dalam kostum spandex yang seksi itu. Debut penampilan Jeremy Renner sebagai Hawkeye dan Mark Ruffalo sebagai Hulk yang teramat destruktif patut diacungi jempol terlepas dari faktor “kurang terdepan” nya mereka di antara yang lainnya. Jangan khawatir, anda tak akan kehilangan salah satu aksi dari mereka karena kemunculan yang bergantian.

Mengingat Captain America dan Thor sudah dibalut dalam teknologi 3D maka tidak ada alasan film ini muncul tanpa 3D. Jika anda bertanya pada saya apakah 3D nya layak? Saya cenderung menjawab iya. Joss Whedon memang melakukan post-converted di akhir tahun 2011 lalu tetapi sudah cukup memfasilitasi live action movie semacam ini. Pertarungan indoor yang dominan disini mungkin efek 3D nya tidak akan terasa tetapi khusus outdoor –terlebih di pertarungan akhir- jelas terasa karena kedalaman gambar yang signifikan, membuat anda seperti melihat ke luar jendela New York City.
Para pecinta komik The Avengers dipastikan menaruh harapan setinggi-tingginya akan adaptasi teranyarnya ini. Saya pastikan anda tidak akan kecewa! Bagi khalayak umum yang tidak terlalu memfavoritkan komiknya akan tetap menikmati sajian yang tak hanya luar biasa tetapi juga paling menghibur di antara deretan film adaptasi komik lainnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat pahlawan super kesukaan anda belajar untuk kompak sebagai sebuah kesatuan demi rasa kemanusiaan yang tinggi. Kita berharap saja sekuel yang tampaknya tidak terhindari itu tak akan lebih dari sekadar pengulangan belaka.

Durasi:
142 menit

U.S. Box Office:
$178,400,000 till April 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 04 Mei 2012

3 POCONG IDIOT : Anggap Bodoh Tak Dapat Diajar


Quotes:
Pipin: Pokoknya sebagai pocong sejati, kita harus balas dendam pada gorilla fitness itu!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini mengadakan screeningnya di fX Platinum XXI pada tanggal 30 April 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Pipin
Joshua Suherman sebagai Keling
Jordi Onsu sebagai Jadoel
Rina Diana sebagai Rayna
Rozie Mahally sebagai Glenn
Reymon Knuliqh sebagai Azis
Keira Shabira
Karina Meita

Director:
Merupakan film kelima bagi Nayato Fio Nuala setelah Seandainya di tahun 2012 ini.

W For Words:
Masih ingat dengan film India fenomenal berjudul 3 Idiots (2009) yang mencetak sukses dimanapun ditayangkan? Entah kita harus berbangga atau malu hati akan arti sebuah kreatifitas karena penulis anonim All Izz Well membuat versi novelnya berjudul “3 Pocong Idiot” yang lantas diadaptasi lagi oleh Gope T. Samtani dkk ke dalam versi filmnya lewat Rapi Films. Saya pribadi merasa malu kuadrat akan ketidak-kreatifan pangkat tiga ini dan tidak lagi peduli akan siapa-siapa yang terlibat di dalamnya.

Cendol Itu Asyik alias CIA merupakan boyband yang beranggotakan Glenn, Pipin, Jadoel dan Keling yang cukup populer di sekolah mereka. Malangnya saat akan manggung di sebuah cafe, Pipin, Jadoel dan Keling mengalami kecelakaan akibat kelalaian Azis mengemudi. Ketiganya pun menjadi pocong dan harus menyesuaikan diri dengan hidup baru mereka termasuk berinteraksi dengan orang-orang terkasihnya dahulu. Akankah kebahagiaan akan muncul dalam bentuk hidup yang lain bagi mereka?
Ide cerita yang ditulis oleh Ipnu Rinto Nugroho ini kemudian dituangkan dalam bentuk skrip oleh Djamaludin Moenaf dan Ery Sofid. Terus terang saya bingung apa sesungguhnya esensi yang ingin dihadirkan? Jika persahabatan, tidak ada gregetnya. Jika cinta, tidak ada chemistrynya. Jika kebodohan, nah yang satu ini banyak sekali, bertebaran dari menit awal sampai akhir, tanpa keeleganan samasekali yang mampu menyelamatkan kualitasnya dari keburukan fatal. Bayangkan seikat pocong bisa dengan mudahnya mengeluarkan tangan dan kaki untuk beraktifitas atas dasar apa?

Duet Joshua Suherman dan Jordi Onsu disini nyaris membuat saya menyesal karena sangat menyukai mereka dalam Tendangan Dari Langit (2011). Humor Keling dan Jadoel yang biasanya natural kali ini meleset disana-sini. Sama halnya dengan Ajun Perwira yang semakin membosankan dengan peran stereotype pocong sok asik. Sorry dude, you are not fun to watch anymore. Kalo melihat aktor-aktris langganan Nayato seperti Rozie, Reymon, Rina, Keira tak perlu dikomentari lagi, mereka sudah melekat dalam kebuntuan seperti kawanan kerbau dicocok hidungnya.
Sutradara Nayato bahkan menggunakan nama Koya Pagayo dalam jajaran penata kamera bersama Freddy A. Lingga. Jangan katakan bahwa “alter ego” nya tersebut sebetulnya nyata! Kembali pada 3 Pocong Idiot, trailernya yang lucu manis itu tidak usah dipercaya. Isinya tak lain tak bukan adalah daur ulang dari formula lawasnya saja, tambal sulam tanpa juntrungan yang mungkin berefek samping pada kecerdasan anda. Harapan terbesar saya adalah semoga ini kali terakhir kali saya melihat tiga anak manis tersebut bermain dalam film Nayato.

Durasi:
81 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 03 Mei 2012

KUNTILANAK-KUNTILANAK : Kreatifitas Menyepi Sosok Menghantui


Quotes:
Adelina: Salwa, in tas siapa?
Salwa: Tas Aiko, Ma.

Nice-to-know:
Film yang sedianya dijadwalkan rilis 5 April 2012 kemarin ini ditangani oleh Mitra Pictures.

Cast:
Niken Anjani sebagai Adelina Venus
Chrissie Vanessa sebagai Saskia
Reza Pahlevi sebagai Krisna
Adzwa Aurelline sebagai Salwa
Rikas Harsa sebagai Hardian
Yafi Tesa Zahara

Director:
Pertama kali di tahun 2012 ini Nayato alias Koya Pagayo merilis dua filmnya dalam minggu yang sama selain 3 Pocong Idiot.

W For Words:
Miris rasanya mengetahui fakta bahwa pocong dan kuntilanak bukan lagi momok yang menakutkan dalam dunia perfilman Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Penggunaan judul yang kelewat sering dengan materi yang tak terseleksi dengan baik membuat hantu asli Indonesia ini kehilangan taji. Tanpa terkecuali produksi terbaru Mitra Pictures yang satu ini, lagi-lagi sebuah repetisi karya-karya lawas Koya Pagayo apapun judulnya itu yang tak ingin saya ingatkan apalagi sebutkan satu persatu. Pamali!

Penulis novel sukses, Adelina Venus baru saja bercerai dari Krisna. Kesempatan tujuh hari menghabiskan waktu bersama anaknya Salwa yang hak asuhnya dimiliki oleh ayahnya itu digunakan Adelina untuk berlibur di Villa Bukit Hijau bersama dengan asistennya, Saskia. Semua kegiatan di villa direkam oleh berbagai kamera sebagai dokumentasi. Keanehan mulai terjadi saat Salwa mengaku punya teman imajiner bernama Aiko yang diikuti oleh kemunculan kuntilanak disana-sini. Apakah Adelina mampu menjelaskan semua misteri tersebut sambil berusaha tetap rasional?
Keputusan Niken Anjani dan Chrissie Vanessa memasang beberapa kamera di setiap sudut ruangan nyaris mengingatkan kita pada sensasi mockumentary sukses, Paranormal Activity. Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh salah satu adegan dapur dimana semua peralatan berserakan keluar dalam sekejap atau adegan kamar tidur dimana kursi melayang tanpa alasan. Come on! Apresiasi sesama filmmaker wajib hukumnya. Jika anda ingin mencontek, maka lakukanlah dengan lebih baik, bukan asal jadi yang menyiratkan penghinaan belaka.

Sosok Niken yang pemarah tidak mampu mengundang simpati penonton. Chemistry nya dengan Adzwa Aurelline sebagai ibu dan anak tak cukup efektif membangun kekuatan konflik yang diharapkan. Penampilan Rikas Harsa sendiri tidak terlalu memadai karena ia hanyalah satu dari sekian jebolan L-Men yang bukan kebetulan dipakai sutradara Koya Pagayo dalam film-filmnya. Suasana villa yang sudah amat familiar karena sering digunakan sebagai setting itu tak lagi menyeramkan meskipun dari segi penampakan kuntilanak dan hantu anak kecil memang ada sedikit perbaikan.
Kuntilanak-Kuntilanak adalah tontonan horor kosong tanpa intisari. Sama kosongnya dengan (katanya) novel terbaru karakter Adelina Venus yang baru saja memulai penulisan judul bab 1 lalu tiba-tiba terselesaikan dengan sendirinya tanpa korelasi yang masuk akal mendekati akhirnya. Seperti biasa penjelasan sekelumit latar belakang tokohnya banyak dilakukan lewat narasi tidak langsung yang semakin menegaskan kemalasan film dalam bercerita secara runut. Tidak mengherankan karena itulah yang selama ini dilakukan Koya dengan permainan “template” dan “frame in mind“ nya yang superf*ck tersebut!

Durasi:
77 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 02 Mei 2012

1911 : Great Historical Epic But Feel Disconnected


Quotes:
Sun Yat-Sen: The goal of revolution isn't death, but to change fate. Young people are sacrificing themselves for the revolution, so that the living can lead better lives.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Xinhai geming ini sudah rilis di China pada tanggal 23 September 2011 yang lalu.

Cast:
Jackie Chan sebagai Huang Xing
Li Bingbing sebagai Xu Zonghan
Winston Chao sebagai Sun Yat-Sen
Joan Chen sebagai Longyu
Jaycee Chan sebagai Zhang Zhenwu
Simon Dutton sebagai John Newell Jordan
Hu Ge sebagai Lin Juemin

Director:
Merupakan film ketiga belas yang disutradarai Jackie Chan yang kali ini dibantu oleh Zhang Li yang memulai debutnya.

W For Words:
Satu abad alias seratus tahun sudah sejak dimulainya gerakan Wuchang yang memicu Revolusi Xinhai hingga pada akhirnya sukses menggulingkan Dinasti Qing berlalu. Demi memperingatinya, berbagai studio dan perusahaan film besar di China memproduksi sebuah drama epic yang disutradarai dan dibintangi sendiri oleh megastar Jackie Chan sekaligus menandai film ke-100 sepanjang karirnya yang penuh pencapaian sempurna tersebut.
Karir politik Presiden RRC pertama, Sun Yat Sen dan komandan militer, Huang Xing merupakan dua tokoh penting dalam revolusi bersejarah. Sun merupakan diplomat yang menjembatani pihak Barat dengan China dalam menggalang dana luar negeri berstatus saling menguntungkan, sedangkan Huang bertindak sebagai pejuang perang yang tak segan-segan menyabung nyawa di setiap aksinya. Sementara itu Janda Permaisuri Dinasti Qing, Longyu tetap bersikeras mempertahankan ideologinya yang pada akhirnya memicu 14 propinsi menuntut kemerdekaan penuh.

Skrip yang ditulis oleh Wang Xingdong dan Chen Baoguang memang terlalu berpijak pada catatan sejarah tanpa memperhatikan esensi hiburan sebuah film. Strukturisasi linier terpampang begitu saja dalam menjabarkan fakta demi fakta, tokoh demi tokoh, momen demi momen yang dapat dikatakan tidak akan tertinggal samasekali dalam benak penonton. Tak heran jika selama nyaris 100 menit durasinya itu, konektifitas antara filmmaker dan audiensnya tidak terhubung memadai selain suguhan sinematografi dari Huang Wei yang sebetulnya cukup memikat itu.
Winston Chao yang memerankan Sun memang memperlihatkan karisma kuat seorang pemimpin tetapi tidak ditunjang dialog-dialog yang terlalu tekstual terlebih interaksinya dengan pihak asing. Aksi Jackie Chan sendiri hadir dalam narasi yang terlampau padat dengan editing yang terlalu terburu-buru sehingga perjuangannya terkesan kurang heroik walaupun sempat kehilangan sebagian jarinya itu. Satu-satunya yang lumayan menarik adalah interaksi Huang dan istrinya, Xu Zonghan yang menegaskan interaksi emosional atas nama cinta terlepas dari kecamuk politik yang menghinggapi hubungan mereka.

1911 dapat dikategorikan sebagai film propaganda yang menandai tonggak sejarah penting RRC dengan kedetailan fakta di dalamnya. Namun sebagai film, jembatan komunikasi dengan penontonnya tidak terbangun dengan kokoh kalau tidak mau dikatakan membingungkan sekaligus membosankan. Hasil box office yang tidak memadai di sebagian besar negara Asia yang menayangkan film ini menjadi indikasi bahwa Jackie Chan tidak tampil sebagaimana "biasa"nya meskipun upayanya dalam menghadirkan tontonan patriotik yang mengedepankan karakter Sun Yat Sen cukup konsisten dilakukannya.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$127,437 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 01 Mei 2012

Gala Premiere "Lovely Man"

Berikut nama peserta yang sudah memenuhi kualifikasi:
1. Amanda Puspita Sari (2 orang)
2. Prihadi
3. Imam Alfarabhy (2 orang) - @Film_Indonesia
4. Karin (2 orang) - @Film_Indonesia
5. Dedy Syahputra (2 orang) - @Film_Indonesia
6. Prabowo Adityo (2 orang) - @Film_Indonesia
7. Richardo Fransiscoli Damiano (2 orang) - @Film_Indonesia
8. Rangga Adithia - @FlickMagazine
9. Yoga Septiano
10. Intan Wulanuari
11. Timothy Wirjo Pawiro
12. Novita Dwi Nur Azizah (2 orang)
13. Ocha
14. Josefine Stefani
15. Ainel Firas (2 orang)
16. M. Taufik Hidayat
17. Nanda Sekar Asmara
18. Ignatius Donny Dwitama
19. Mustika Adinda
20. Ravi Agustiana
21. Linda Ferdiana
22. Chacha Sulaiman
23. Donny Andrian
24. M. Fajar Gunawan
25. Diaksa Adhistra
26. Syafrina Syaaf
27. Damar Wijanarko
28. Satria Budi Utama
29. Danang Trihargono
30. Febi Rosseva
31. Febry Dwi Putra
32. Markus Haposan
33. M. Ridho Mubaroq
34. Alexander Asisi
35. Felix
36. Dido Indra Segara
37. Ian Salim
38. Elvira Kusno
39. Lia Herawati (2 orang)
40. Algitya Pratomo
41. Andina Rezki (2 orang)
42. Adityo Surendro (2 orang)
43. Kaharudin Indra
44. Firas Bakrie
45. Helsa Novita
46. Probo Andrian
47. Ifrul
48. Sofian Septa
49. Dino Hutasuhut
50. Gana Pasaribu
51. Ali Satri Efendi
52. Satrio Nindyo Istiko (2 orang)
53. Ifan Mulya (2 orang)
54. Pandega
55. Thayib Rusfadli
56. Dwiputeri Indrayanti
57. Alvin Hariz Sadhana
58. Miky Sukiman (3 orang)
59. Wito
60. Sahroni