XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label johnny depp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label johnny depp. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

DARK SHADOWS : Hit And Miss With Less Self-Conscious Adaptation


Quotes:
Barnabas Collins: If a man can become a monster, then a monster can become a man.

Nice-to-know:
Kerjasama Tim Burton yang kedelapan dengan Johnny Depp, ketujuh dengan istrinya Helena Bonham Carter, kelima dengan Christopher Lee dan kedua dengan Michelle Pfeiffer.

Cast:
Johnny Depp sebagai Barnabas Collins
Michelle Pfeiffer sebagai Elizabeth Collins Stoddard
Helena Bonham Carter sebagai Dr. Julia Hoffman
Eva Green sebagai Angelique Bouchard
Jackie Earle Haley sebagai Willie Loomis
Jonny Lee Miller sebagai Roger Collins
Bella Heathcote sebagai Victoria Winters / Josette DuPres
Chloë Grace Moretz sebagai Carolyn Stoddard

Director:
Merupakan feature film ke-16 bagi Tim Burton yang pertama saya kenal lewat Edward Scissorhands (1990).

W For Words:
Film ini diadaptasi dari opera sabun siang hari di stasiun televisi ABC periode 1966-1971 berjudul sama. Namun daya tariknya jelas ada pada faktor Johnny Depp dan Tim Burton selaku aktor utama dan sutradara. Tentunya bukan perkara mudah saat penulis skrip Seth Grahame-Smith berupaya memadatkan 1.225 episode ke dalam versi layar lebar berdurasi 113 menit. Namun seperti yang sudah kita ketahui, seorang Burton biasanya amatlah visioner dalam menerjemahkan karya-karyanya yang cenderung gelap tersebut.

Tahun 1752, Joshua dan Naomi Collins berlayar dari Inggris ke Amerika Serikat untuk memulai hidup baru. Sayangnya kesuksesan yang diraih tak berlangsung lama ketika kutukan melanda keluarga mereka. Putranya Barnabas pun harus kehilangan kekasihnya sebelum dimanterai penyihir Angelique Bouchard sehingga menjadi vampir akibat kasih tak sampai. Dua abad kemudian, Barnabas berhasil lolos dari peti yang mengurungnya dan kembali ke Collinwood Manor dimana tinggal dua bersaudara Elizabeth dan Roger dengan anak-anak mereka Carolyn dan David serta Dr. Julia Hoffman dan pelayan Willie Loomis. Keadaan tak lagi sama dan Barnabas seakan mengulang takdirnya saat bertemu pengasuh Victoria Winters yang amat mirip dengan cinta lamanya Josette DuPres.

 
Harus diakui 30 menit pertamanya menampilkan humor yang kelam dan tajam. Narasi flashback semasa hidup Barnabas yang menggigit plus pengenalan tokoh-tokoh keluarga Collins masa kini yang super duper freak itu. Namun selepas itu sutradara Burton tampak kehilangan sentuhannya untuk mempertahankan film tetap berada dalam relnya. Semua tokoh seakan ingin memiliki “frame”nya sendiri dimana proses perjalanan ke arah sana tak cukup memadai untuk memberikan kesan kuat. Saya tidak heran karena terlalu banyak chapter untuk diceritakan disana-sini dari rangkaian kisah yang amat panjang.

Beruntung kolaborasi Burton dengan Rick Heinrichs tetap maksimal dengan desain produksi yang memukau. Collinswood Manor yang megah dengan dua ratus kamar dan berbagai sudut rahasianya divisualkan secara brilian. Tata rias dan kostum aktor-aktrisnya sukses menonjolkan kesan gothic dan sensasional sesuai karakteristik masing-masing. Alih-alih memperlihatkan perseteruan bisnis antara Angel Bay dan Collins Fishing Fleet and Cannery yang memadai, penonton justru disuguhkan making love scenes yang weird sekaligus fantastis diantara Barnabas dan Angelique! 

Film ini mengingatkan saya akan beberapa referensi film lawas klasik seperti Beetlejuice (1988), Death Becomes Her (1992), Blast From The Past (1999) hingga karya-karya Burton sebelumnya yaitu Edward Scissorhands (1990), Corpse Bride dan Charlie and the Chocolate Factory, keduanya rilis 2005. Pesona Depp sendiri masih terjaga lewat penampilan dingin, pucat menyeramkan sampai lugu, kuno menyedihkan seorang Barnabas Collins. Multiple relationships nya dengan Eva Green, Helena Bonham Carter dan Bella Heathcote sekaligus memberikan perspektif kejantanan egois seorang pria sambil menjaga pesona dan elegansinya.

Deretan pendukung yang punya nama dan penuh talenta membuat Dark Shadows mengusung beban yang berat. Tidak heran jika ekspektasi penikmat film dunia semakin tinggi karenanya. Saya pribadi masih bisa menikmatinya karena elemen cheesy but tasty berhasil dipertahankan sepanjang film, adopsi terbaik yang bisa dilakukan terhadap film adaptasi serial televisi uzur. Kesenangan menontonnya sendiri terbilang hit and miss, some works but some not! Film yang seharusnya disikapi dengan santai sambil mengaburkan sedikit kesadaran diri anda untuk bekerja lebih baik. Just like shadows themselves!

Durasi:
113 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 13 November 2011

THE RUM DIARY : Jurnalis Nyentrik Menghadapi Dunia

Quote:
Paul Kemp: Oscar Wilde once said, "Nowadays, people know the price of everything, and the value of nothing."


Storyline:
Jurnalis freelance, Paul Kemp menemukan dirinya dalam sudut pandang kritis menyikapi hidupnya saat bekerja keras untuk surat kabar di Caribbean. Paul ditantang dalam tingkatan yang berbeda-beda untuk menghadapi cara adaptasinya terhadap sekelompok orang-orang yang “hilang” dan mengarah pada kehancuran diri masing-masing.

Nice-to-know:
Ketika Sanderson memperkenalkan Paul Kemp kepada Chenault dan bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Kemp menjawab di pesawat dalam penerbangan menuju San Juan yang mengacu pada novel aslinya.

Cast:
Terlibat lama dalam serial televisi yang melejitkan namanya 21 Jump Street (1987-1990), Johnny Depp kali ini bermain sebagai Paul Kemp
Aaron Eckhart sebagai Sanderson
Michael Rispoli sebagai Sala
Amber Heard sebagai Chenault
Richard Jenkins sebagai Lotterman
Giovanni Ribisi sebagai Moburg

Director:
Pria Inggris bernama Bruce Robinson ini juga dikenal sebagai aktor. The Rum Diary merupakan film ke-4 nya setelah vakum 19 tahun sejak Jennifer Eight (1992).

Comment:
Saya tidak pernah mendengar nama Hunter S. Thompson sebelumnya. Oleh karena itu, film adaptasi novel yang dikerjakan skripnya oleh Bruce Robinson ini tidak membangkitkan ekspektasi apapun dalam diri saya saat menyaksikannya. Nama Johnny Depp lah yang menjadi magnet utama dikarenakan jarang sekali melihatnya berakting sebagai “pria normal” dewasa ini karena tenggelam dalam kebesaran nama Jack Sparrow beberapa tahun terakhir.
Terbukti pemilihan Deep sebagai Kemp adalah tepat adanya. Ia menerjemahkan “relasi” nya yang amat variatif bersama teman-temannya dengan kaya sehingga penonton dapat melihat dari berbagai sudut pandang baik dari sisi protagonis maupun antagonis. Lihat aksinya merokok, ngorok, menyuntik, meneguk minuman keras yang dominan di sepanjang film, sedikit berlawanan dengan kapabilitasnya sebagai jurnalis handal yang seakan menentang “arus” dunia.

Di luar nama Depp masih ada Jenkins – sang editor keras kepala, Rispoli – fotografer peminum, Eckhart – pebisnis misterius dan Heard – kekasih cantiknya yang seduktif. Namun Ribisi lah yang paling menonjol sebagai supporting cast kali ini, tokoh Moburg paling pantas ditertawakan dengan tingkah laku aneh dan pemikiran ekstrimnya itu. Sayangnya karakter Yemon yang cukup krusial dalam novelnya tidak dihadirkan disini.
Nuansa Puerto Rico tahun 50-60an yang dihadirkan oleh sutradara Robertson memang tidak jauh berbeda dengan kondisi dunia sekarang dimana kisruh politik, kesenjangan sosial, keterpurukan ekonomi dsb mencapai taraf mengkhawatirkan. Kelemahan Robertson adalah kesulitan menyatukan kepingan-kepingan momen secara erat demi menyampaikan pesan yang kuat kepada penonton apalagi didukung dengan narasi yang cukup membosankan.

Hunter S. Thompson secara “sederhana” menunjukkan bahwa arus informasi yang tinggi kerapkali membuat kita terbenam dalam kebimbangan. Bahkan tak jarang turut bereaksi di luar batas seharusnya terlebih untuk isu-isu yang sebenarnya sensitif untuk dibahas. Pihak yang berharta dan berkuasa dapat dengan mudah memanipulasi keadaan sekalipun merugikan pihak yang lebih lemah dan rendah tapi tetap ingin memperlihatkan eksistensinya masing-masing.
The Rum Diary bukanlah film semua “orang” melainkan mereka yang mengerti konsep jurnalistik ala HST sekaligus para penggemar Depp yang seperti biasa berakting maksimal dalam tingkat kesulitan yang tinggi. Pengalaman menonton film ini tidak akan menghibur anda tetapi duduk manis saja mengikuti perjalanan seorang pria “kreatif” melewati masa susah senangnya. Harap bersabar mengikuti chapter awal dari kehidupan Paul Kemp dan jangan ragu untuk “minum” sedikit selepas keluar dari gedung bioskop demi mencerna apa yang baru saja anda saksikan.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$10,356,215 till Nov 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 Oktober 2011

PIRATES OF THE CARIBBEAN : ON STRANGER TIDES Petualangan Pencarian Air Mancur Awet Muda

Quotes:
Angelica: You were the only pirate I thought I could get away with.
Jack Sparrow: That is NOT a compliment.


Storyline:
Kapten Jack Sparrow menyisir London untuk mencari orang yang meniru tindak tanduknya dalam mencari kru kapal hingga akhirnya mempertemukannya dengan mantan kekasihnya, Angelica yang kini telah menjadi putri bajak laut kejam Blackbeard. Tujuan mereka adalah menemukan mata air awet muda yang telah menjadi incaran banyak orang dengan menggunakan kapal Queen Anne's Revenge. Jack juga menyelamatkan sahabat lamanya Josh sebelum ditugaskan King George II untuk memimpin ekspedisi sebelum armada Spanyol datang. Akankah petualangan Jack kali ini membuahkan hasil manis di tengah persaingan dan cinta yang dihadapinya?

Nice-to-know:

Dikarenakan eforia seri 1-3 nya, Kepala Produksi Disney – Oren Aviv menegaskan On Stranger Tides ini akan menjadi pembuka dari trilogi baru dengan mereset semua elemen yang sudah ada.

Cast:
Baru saja mengisi suara dalam Rango, Johnny Depp kembali sebagai Jack Sparrow
Terakhir muncul sekilas dalam Sex and the City 2 (2010), Penélope Cruz bermain sebagai Angelica Teach
Geoffrey Rush sebagai Barbossa
Ian McShane sebagai Blackbeard
Kevin McNally sebagai Joshamee Gibbs
Sam Claflin sebagai Philip
Astrid Bergès-Frisbey sebagai Syrena

Director:
Sebelum ini menggarap film musikal sukses Nine (2009), Rob Marshall ditunjuk pihak Disney untuk menggarap trilogy kedua (rencana) Pirates of the Caribbean ini.

Comment:
Selama periode 2003-2007, trilogy Pirates of the Caribbean telah menjadi tambang emas tersendiri bagi Disney Pictures, menyusul kesuksesan wahana berjudul serupa di Disneyland yang konon mendasari pembuatan film ini. Jika anda berpikir franchise tersebut sudah habis, nanti dulu. Terbukti produser Jerry Bruckheimer belum cukup “puas” dan kembali menghidupkannya dengan nuansa yang baru, setidaknya dengan pergantian beberapa karakter kunci.
Mau tidak mau anda harus setuju dengan fakta bahwa Jack Sparrow adalah ikon utama PotC dengan segala tingkah laku eksentrik plus minusnya. Ia dipasangkan dengan Barbossa dan seorang wanita dari masa lalunya yaitu Angelica Teach untuk mengisahkan petualangan baru dengan tokoh-tokoh yang baru pula. Lupakanlah Will Turner dan Elizabeth Swann karena Bloom dan Knightley tidak akan muncul kembali, tidak usah berspekulasi apakah keduanya meminta bayaran terlalu tinggi atau tidak.
Depp kembali dengan bahasa tubuh antik dan dialog-dialog satir komediknya yang tetap ampuh memancing perhatian. Tidak ada keputusan yang lebih tepat selain memasangkannya dengan Cruz yang cantik, tangguh sekaligus licik dalam sebuah installment baru. Menarik melihat perkembangan asmara mereka selanjutnya setelah ending yang cukup menjengkelkan itu. Kontribusi McShane dan Rush juga tidak boleh disepelekan begitu saja, sama halnya dengan Claflin dan Bergès-Frisbey yang menghidupkan peran pendukung dengan menarik.

Skrip garapan Ted Elliott dan Terry Rossio ini terbilang ringan jika dibandingkan dengan trilogy sebelumnya. Semua elemen fantasi yang ada seperti air mancur awet muda dan legenda putri duyung yang mungkin sudah beratus-ratus kali dengar sebelumnya dari berbagai dongeng dijadikan satu dalam balutan petualangan yang dibumbui oleh romantisme unik Sparrow dan Teach serta perseteruan Barbossa dan Blackbeard. Sangat sederhana, kan?
Harus diakui kinerja Rob Marshall sebagai sutradara menjadikan On Stranger Tides ini lebih ngepop dari apa yang sudah dibangun oleh Gore Verbinski dahulu. Sangat mudah mengikuti aksi-aksi yang ditawarkan dalam intensitas yang tidak terlalu tinggi. Bagi penonton dewasa bisa jadi sebuah penurunan karena akan dianggap terlalu ringan. Satu yang pasti, scoring musik milik Hans Zimmer patut diacungi jempol sekali lagi untuk membangun mood film.
Mari menggarisbawahi, Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides menawarkan petualangan baru yang predictable dan fun. Adegan aksinya lumayan memikat meskipun tinggal menyisakan sedikit kejutan di dalamnya. Jangan mengharapkan pesona yang sama dengan trilogy sebelumnya dimana magic dan excitement nya masih begitu tinggi. Terima saja persembahan Marshall dengan harapan ke depannya akan jauh lebih menarik lagi sebagai sebuah franchise unggulan. Satu yang pasti, Jack Sparrow lah yang membuat anda selalu kembali ke bioskop selaku fans PotC.

Durasi:
135 menit

U.S. Box Office:
$241,011,325 till mid Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 29 Desember 2010

THE TOURIST : Ketika Tersangka Jatuh Dalam Intrik dan Cinta

Quotes:
Elise: I'm sorry, I got you involved in all this.
Frank Taylor: Why are you involved?

Storyline:
Dalam perjalanan di kereta menuju Venice, Elise memilih duduk di sebelah turis Amerika, Frank. Pihak Kepolisian tengah membuntuti Alice selama beberapa tahun terakhir sambil menunggu yang bersangkutan menghubungi kekasihnya, Alexander Pierce. Diketahui Pierce telah melarikan uang lebih dari 2 miliar dollar dari Kepala Mafia berpengaruh tanpa membayar pajak sekitar 775 juta dollar! Tugas Elise adalah menghindari polisi sekaligus mafia yang menginginkan uang tersebut kembali. Sayangnya tidak satupun yang pernah melihat wajah asli Alex sehingga Elise sangat dibutuhkan untuk mengindentifikasinya. Lantas apa reaksi Frank yang harus terlibat dalam semua ini?

Nice-to-know:
Angelina Jolie mengenakan 12 kostum yang berbeda sepanjang film.

Cast:
Tidak banyak yang tahu debutnya dalam A Nightmare On Elm Street (1984) di usia 19 tahun, Johnny Depp berperan sebagai Frank Tupelo
Sempat terlibat dalam spesial episode Kungfu Panda untuk televisi di sela-sela syuting film ini, Angelina Jolie bermain sebagai Elise Clifton-Ward
Paul Bettany sebagai Inspector John Acheson
Timothy Dalton sebagai Chief Inspector Jones
Steven Berkoff sebagai Reginald Shaw
Rufus Sewell sebagai The Englishman
Raoul Bova sebagai Conte Filippo Gaggia

Director:
Merupakan film panjang kedua bagi Florian Henckel von Donnersmarck yang asli Jerman ini setelah The Lives of Others (2006).

Comment:
Bayangkan jika dua bintang papan atas Hollywood disatukan dalam sebuah film. Daya tarik akting seorang Depp dan pesona seorang Jolie tentunya tidak akan anda hiraukan begitu saja. Keduanya berbagi chemistry dengan manis disini. Terus terang saya menikmati kehadiran Jolie sebagai Elise, wanita cantik dalam berbagai situasi yang ternyata seorang agen rahasia. Lihat keanggunan, kecantikan, keseksiannya dari gaya rambut hingga busananya yang sungguh menggoda. Sedangkan karakter Frank, seorang guru lugu nan misterius dibawakan Depp dengan gaya tersendiri. Menarik melihatnya kembali bermain sebagai "pria biasa" mengingat beberapa tahun terakhir ini Depp membawakan karakter aneh mulai dari Jack Sparrow hingga Mad Hatter. Jangan lupakan juga kehadiran mantan James Bond, Timothy Dalton serta Bettany yang selalu konsisten di mata saya.
Saya juga mengagumi keberanian sutradara von Donnersmarck untuk memberikan warna French movie ke dalam film ini meskipun settingnya di Venice. Gagal atau tidak kinerjanya merupakan penilaian anda masing-masing. Namun sinematografinya terangkai indah menghadirkan pemandangan indah Eropa klasik mulai dari konstruksi ruangan hotel berkelas ataupun menelusuri Venice dengan gondola. Dijamin mata anda tak berkedip menatap semua itu. Genre aksi dan drama juga dihadirkan secara seimbang terlepas dari berbagai dialog yang tidak konsisten, terkadang menarik tapi tak jarang juga basi.
Permasalahannya adalah publik pemerhati dunia film tahu betapa proyek ini sempat terombang-ambing karena pergantian castnya yang tak hanya sekali tapi berkali-kali. Dan saya bisa bayangkan dalam waktu singkat Depp harus bisa menerjemahkan karakter Frank sedemikian rupa. Tidak buruk bagi aktor sekelasnya tetapi saya tetap merasa ada yang kurang sehingga dalam beberapa scene, Depp benar-benar terlihat seperti "Goofy" bercambang. Sedangkan Jolie pun nyaris tidak menawarkan apapun yang baru disini selain kesempurnaan fisiknya yang sangat menjual.
Sebenarnya kualitas akhir The Tourist tidaklah seburuk yang dibayangkan. Terlebih jika anda tidak berpengharapan terlalu tinggi saat berniat menyaksikannya, rasanya masih dapat dinikmati sebagai film hiburan ringan di akhir pekan. Twist yang dihadirkan di epilog tidaklah terlalu mengejutkan seperti yang diharapkan banyak pihak. Namun kolaborasi Depp dan Jolie diyakini benar-benar akan menjadi magnet yang kuat disini sehingga karakter lainnya terasa tidak penting untuk diingat. Tidak percaya? Sebagai referensi, bolehlah anda saksikan dan bandingkan film ini dengan Anthony Zimmer yang asli film Perancis itu.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$16,472,458 in opening week mid Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 28 Juli 2010

SWEENEY TODD : Obsesi Balas Dendam Tukang Cukur

Quotes:
Sweeney Todd-I can guarantee the closest shave you'll ever know.

Storyline:
London jaman dahulu, tukang cukur terbaik Benjamin Barker menikah dengan si cantik blonde Lucy yang kemudian memberinya puteri bernama Johanna. Sayang kebahagiaan itu tidak bertahan lama saat Hakim Turpin merenggut Lucy dan Johanna dari Benjamin. Bertahun-tahun kemudian, Benjamin kembali ke Kota dan mengganti nama menjadi Sweeney Todd yang berpenampilan dingin dengan obsesi membalas dendam lamanya. Kali ini ia bertemu pembuat pai terburuk, Mrs. Lovett yang ditinggal mati suaminya dan hidup sebatang kara. Keduanya berbagi tempat tinggal sambil mengatur siasat terbaik untuk menuntaskan rivalnya pada waktu yang tepat.

Nice-to-know:
Lakon Sweeney Todd dan Mrs. Lovett aslinya dipentaskan Len Cariou dan Angela Lansbury pada pertunjukan musikal Broadway di tahun 1979.

Cast:
Baru saja membintangi episode ketiga Pirates of The Caribbean, Johnny Depp disini kebagian peran Sweeney Todd, tukang cukur Inggris yang menyimpan dendam terhadap Hakim Kota yang telah merenggut istri dan putrinya dari dekapannya.
Terakhir mendukung Harry Potter and the Order of Phoenix, Helena Bonham Carter kali ini bermain sebagai Mrs. Lovett, pembuat pie yang eksentrik dan terobsesi pada Sweeney Todd.
Tokoh antagonis Hakim Turpin dilakoni oleh Alan Rickman yang juga setia ambil bagian dalam franchise Harry Potter.

Director:
Sutradara bercita rasa seni tinggi bernama Tim Burton ini mengawali pengarahan pertamanya dalam The Island of Doctor Agor (1971).

Comment:
Memenangkan Piala Oscar kategori Best Achievement in Art Direction di tahun 2008 sudah cukup berbicara banyak mengenai visualisasi film ini. Kita semua sudah kenal seorang Tim Burton dan karya-karyanya yang kaya imajinasi dan biasanya gelap. Dan kinerjanya disini berbaur sempurna dengan cerita yang disajikan. Prolognya menceritakan asal usul Benjamin Barker sampai ia bertransformasi menjadi Sweeney Todd. "Kolaborasinya" secara tidak langsung dengan Mrs. Lovett juga terasa natural dikarenakan sama-sama menghadapi situasi yang tidak menguntungkan pada awalnya. Sampai disini baik Depp maupun Bonham Carter mampu menjawab tantangan peran manusia ekstrim yang ditawarkan kepada mereka. Keduanya juga berbagi chemistry dengan baik dan sangat mendominasi scene. Beruntung Rickman dan si kecil Sanders mampu mengimbangi walaupun tidak sebanding porsinya.
Sweeney Todd : The Demon Barber Of Fleet Street bukanlah film publik yang "mudah" dikonsumsi, ada rasa tidak nyaman saat menyaksikannya. Bagi sebagian orang, dialog-dialog yang dinyanyikan akan terdengar "aneh" dan tidak merdu samasekali. Tetapi sekali lagi drama thriller musikal ini menurut saya solid dari berbagai elemennya. Unsur gothic yang dihadirkan konsisten sepanjang film berpadu dengan warna merah darah yang seringkali terpercik. Dan pada akhirnya ditutup dengan twist miris yang sangat menggetarkan di 20 menit terakhir. Definitely a must see movie for Burton fans!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$52,898,073 till end of March 2008.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 08 Maret 2010

ALICE IN WONDERLAND : Dunia Wonderland Kreasi Terbaru Tim Burton

Quotes:
Alice Kingsley-This is impossible.
The Mad Hatter-Only if you believe it is.

Storyline:
Abad 19, Alice Kingsleigh adalah putri saudagar Charles Kingsleigh yang meninggal beberapa tahun lalu. Kehilangan masa kecilnya yang indah, Alice malah dipaksa menerima lamaran Hamish, putra mantan rekan bisnis ayahnya pada suatu pesta kebun. Kebingungan, Alice meninggalkan lokasi dan mengikuti seekor kelinci putih hingga terjatuh di lubang tak berdasar. Tak diduga setibanya di dasar, tubuhnya sudah mengecil dan menggenggam sebuah kunci yang membuka jalan taman indah yang teramat luas. Disana Alice menemukan makhluk-makhluk aneh mulai dari Dourmouse, burung Dodo, si kembar Tweedles, Cheshire Cat, Mad Hatter hingga Abosolom yang memiliki ramalan bahwa Alice akan mampu memberantas Jabberwocky, monster andalan Red Queen yang jahat itu. Berhasilkah Alice menyelamatkan kerajaan White Queen sekaligus keluar dari wonderland tersebut?

Nice-to-know:
Diangkat dari serial televisi ternama awal 1990an yang diangkat dari novel klasik karangan Lewis Caroll dan dibuat versi layar lebar kontemporernya dengan bujet 250 juta dollar!

Cast:
Mia Wasikowska yang asli Australia ini menyisihkan beberapa kandidat ternama lain seperti Amanda Seyfried dan Lindsay Lohan untuk mendapatkan peran Alice Kingsleigh.
Terbiasa dengan tokoh eksentrik di beberapa filmnya yang justru sukses besar, Johnny Depp kembali sebagai Mad Hatter, sang ahli pembuat topi yang mendapat porsi cukup besar disini.
Karakter yang bertolak belakang, Red Queen dan White Queen dimainkan oleh Helena Bonham Carter dan Anne Hathaway.

Director:
Pria kelahiran California 52 tahun silam bernama Tim Burton ini bekerjasama 6 kali dengan istrinya, Bonham Carter dan 7x dengan aktor kesayangannya, Depp melalui film ini.

Comment:
Harus diakui kharisma seorang Tim Burton selama beberapa dekade terakhir cukup kuat di perfilman Hollywood. Beberapa film terakhirnya sukses secara kualitas dan juga pundi-pundi dollar di pasaran internasional. Gaya eksentrik dan gelap merupakan trademarknya dalam menggarap film, seperti halnya yang dibayangkan orang saat mengetahui Burton akan menggarap versi layar lebar terbaru kisah kartun legendaris ini. Film ini merupakan episode ketiga sehingga tidak heran jika Alice sudah berumur 19 tahun dan kunjungannya ke Wonderland adalah kesekian kalinya. Beruntung beberapa elemen dari episode pertama dan kedua tidak dihilangkan begitu saja sehingga tetap menuntun penonton yang belum tahu kisahnya untuk tetap bisa mengikuti jalan ceritanya. Dari segi cast, Mia sebagai Alice bermain cukup wajar, bukan kebetulan usia aslinya sama persis dengan usia Alice di film. Depp, Bonham Carter, Hathaway rasanya terbantu dengan kostum dan make-up yang menunjang mereka berakting tanpa bermaksud mengecilkan improvisasi masing-masing. Tetapi karakter Depp disini agak tidak beralasan karena diplot sebagai salah satu karakter utama. Jika tujuannya mengangkat film rasanya tidak terlalu berarti. Pada akhirnya, Alice In Wonderland versi Burton hanya memanjakan mata dengan visual grafik yang sangat mengagumkan dan detail. Selebihnya tidak ada yang baru dari tema dan ending yang berusaha disuguhkan dengan konsep modernisasi di segala bidang. Menonton versi 3D nya rasanya tidak akan berpengaruh banyak. Percayalah! Saran saya, nikmati film ini dari sudut pandang masa kanak-kanak anda.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10

Minggu, 26 Juli 2009

PUBLIC ENEMIES : Kisah Perampok Bank Terbesar Sejarah AS

Quotes:
John Dillinger-[from trailer] They ain't tough enough, smart enough or fast enough. I can hit any bank I want, any time. They got to be at every bank, all the time.

Cerita:
Chicago 1930s, John Dillinger dan kawan-kawan sukses merampok bank dan selalu berhasil kabur dari penjara bagaimanapun caranya. Semua itu merupakan kesenangan hidupnya sampai bertemu Billie Frechette dan jatuh cinta. Waktu kemudian membawanya bertemu Melvin Purvis, agen FBI yang punya misi melumpuhkan Dillinger meski harus beradu siasat dan mengerahkan segenap kecerdasannya. Pada masa itu, FBI baru saja terbentuk di bawah kepemimpinan J. Edgar Hoover. Undang-undang Hukum pertama pun diberlakukan di Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak kasus tersebut.

Gambar:
Mengambil setting sesuai lokasi aslinya yakni Wisconsin, film ini berhasil menyuguhkan potret komplet tahun 1930 sesuai replikanya mulai dari kostum, kendaraan dan kehidupan kota besar Amerika Serikat.

Act:
Hampir semua orang percaya bahwa suatu saat nanti Johnny Depp akan mampu meraih Oscar setelah 3 kali dinominasikan sebagai aktor terbaik. Penjiwaannya sebagai John Dillinger, perampok terbesar yang pernah ada di sejarah Amerika Serikat patut diacungi jempol.
Di luar beberapa penghargaan utama perfilman Hollywood, nama Christian Bale memang menjadi jaminan kualitas akting yang beberapa kali memenangkan gelar aktor terbaik festival film asing termasuk dalam The Dark Knight (2008). Disini sebagai Melvin Purvis, sekali lagi Bale memperlihatkan totalitasnya dengan tampil dingin.
Sebelum ini memenangkan Oscar Aktris Terbaik dalam La Vie En Rose, Marion Cotillard semakin mengukuhkan talentanya dengan peran Billie Frechette, love interestnya John Dillinger yang cantik dan bersahaja.
Didukung oleh puluhan nama kondang lainnya seperti James Russo, Billy Crudup, Stephen Dorff, Channing Tatum dsb termasuk kembalinya aktris muda Leelee Sobieski yang sudah lama absen main film.

Sutradara:
Di usia 56 tahun hanyalah Piala Oscar yang kurang dari karier sutradara senior yang satu ini termasuk dalam The Insider (1999). Michael Mann boleh dibilang berhasil dalam jajaran cast Public Enemies dimana modal awal itu menjadi salah satu kekuatan menciptakan film sejarah yang mumpuni. Lihat saja hasil akhirnya!

Soundtrack:
Alunan suara jazzy Diana Krall dan Billie Holiday sangat membantu membangun mood film terutama sisi romantisme Dillinger dan Frechette.

Komentar:
Setting yang sempurna dan kualitas akting yang mumpuni adalah jualan utama film yang diangkat dari kisah nyata ini. Tapi selayaknya film sejarah, sulit mengubah aspek baku yang mungkin hanya berujung pada ketidak akuratan fakta, terbukti dari kemudahan John Dillinger beberapa kali melumpuhkan aparat dan sistem penjara Amerika Serikat di masa lampau yang sepertinya agak tidak masuk akal tapi mau disiasati bagaimana lagi. Sang sutradara sudah melakukan yang terbaik tetapi secara keseluruhan Public Enemies hanya seperti harimau garang tanpa cakar. Separuh pertama film berkutat pada sepak terjang dan asal usul John Dillinger dkk terus terang agak membosankan meski masih tertolong dengan dialog-dialog yang smart. Setengah jam terakhir merupakan suguhan terbaik dimana ketegangan dan dramatisasi berbaur dengan baik.

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$79,639,205 till mid July 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 14 Desember 1990

EDWARD SCISSORHANDS : Balada Kehidupan Makhluk Bertangan Gunting

Quotes:
Kim-You're here... They didn't hurt you, did they?
[Edward shakes his head]
Kim-Were you scared? I tried to make Jim go back, but, you can't make Jim do anything. Thank you for not telling them that we...
Edward-You're welcome.
Kim-It must have been awful when they told you whose house it was.
Edward-I knew it was Jim's house.
Kim-You... you did?
Edward-Yes.
Kim-Well, then why'd you do it?
Edward-Because you asked me to.

Cerita:
Pada suatu ketika di sebuah istana nun jauh di atas bukit hiduplah seorang inventor yang menciptakan kreasi bernama Edward. Walaupun Edward memiliki pesona, ia tidaklah sempurna. Kematian inventor penciptanya yang tiba-tiba meninggalkan Edward belum terselesaikan dengan pemotong metal tajam sebagai tangannya. Tinggal sendirian sampai akhirnya seorang sales Avon yang baik hati membawanya pulang untuk tinggal bersama keluarganya. Dan dimulailah petualangan fantastis Edward dalam surga berwarna pastel yang bernama Suburbia.

Gambar:
Konsep perumahan suburbia yang colorful rupanya benar ada di Florida tanpa mengubah set aslinya. Kontras dengan nuansa istana Edward yang dingin dan sepi.

Act:
Sebelum tampil disini, Johnny Depp terkenal lewat serial remaja 21 Jump Street. Sebagai Edward, Depp menunjukkan penjiwaan yang sangat baik sebagai makhluk aneh yang tidak sempurna di luar tapi lembut di dalam.
Mengawali karir dalam Lucas (1986), Winona Ryder kebagian peran Kim, remaja putri yang awalnya menolak kehadiran Edward sampai akhirnya bersimpati pada nasib dan ketulusan Edward.
Penampilan apik Dianne Wiest sebagai Peg, sales Avon yang baik hati.
Penampilan terakhir sebelum tutup usia, Vincent Price sebagai The Inventor.

Sutradara:
Terkenal dengan film-film off mainstream dengan dunia khayalan dan makhluk-makhluk ajaib, Tim Burton adalah salah satu legenda Hollywood. Beruntung karena pemilihan cast yang gemilang, Tim akhirnya bisa mewujudkan imajinasi masa kecilnya lewat Edward Scissorhands.

Komentar:
Menyaksikan Edward Scissorhands seakan menikmati sebuah simfoni yang lengkap di segala aspek. Ada rasa ngeri, marah, miris, sepi, senang, tersentuh dsb silih berganti dari awal sampai akhir mengikuti balada hidup Edward. Paling ingat saat saya menonton film ini tengah malam di televisi pada usia 8 tahun, terharu sekaligus takjub dengan imajinasi visualisasi yang begitu kaya. Menonton ulang hampir 20 tahun kemudian, menurut saya film ini tetap timeless masterpiece. Setuju dengan saya?

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$56,362,352

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10