XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 14 September 2011

MASIH BUKAN CINTA BIASA : Kedatangan Anak Biologis Bergaya Rocker

Quotes:
Tommy: Siapa sih kamu? Ngapain datang kemari?
Vino: Saya gak akan kesini kalau gak punya bukti-bukti yang kuat!


Storyline:
Tommy yang tengah jengah mengurusi urusan rumah tangga karena kesibukan Lintang yang sendirian mencari nafkah tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Vino. Remaja pria berpenampilan rocker itu mengaku sebagai anak Tommy dari Voni, salah satu fansnya di masa lalu ketika band The Boxis masih berada di puncak kejayaan. Seketika suasana keluarga yang dibangun Tommy bersama Lintang dan putri mereka Nikita yang beranjak dewasa pun mulai terganggu. Tommy bersama teman-temannya pun mulai menelusuri jejak Voni sekaligus mendidik Vino agar tidak keluar dari jalurnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh WannaB Pictures dimana gala premierenya diadakan di Plaza Indonesia XXI pada tanggal 13 September 2011.

Cast:
Ferdy Taher sebagai Tommy
Wulan Guritno sebagai Lintang
Olivia Jensen sebagai Nikita
Axel Andaviar sebagai Vino
Aline Adita sebagai Voni
Joe P. Project
Dalton
Budi Arab

Director:
Karya terbaik Benni Setiawan sejauh ini adalah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta di tahun 2010 yang lalu yang menyabet banyak nominasi dalam ajang Festival Film Indonesia.

Comment:
Genre drama keluarga yang menyoroti hubungan orangtua dan anak memang tergolong jarang diangkat oleh sineas kita. Salah satunya yang cukup menyedot perhatian adalah Bukan Cinta Biasa di pertengahan tahun 2009 yang lalu, lebih karena faktor cast yang fresh yaitu Ferdy dan Olivia serta penggunaan judul dari lagu populer yang dinyanyikan Afgan tersebut. Selang 2 tahun dari tangan penulis dan sutradara yang sama, lahirlah sekuelnya dengan premis yang kurang lebih sama.
Entah apa yang ada di benak Benni Setiawan saat menggagas skrip film ini, mudah-mudahan bukan karena ingin mengeruk untung belaka. Sebab 80% pengangkatan konfliknya hingga penyelesaiannya pun tidak jauh berbeda. Tinggal mengganti tokoh anak remaja perempuan menjadi laki-laki sehingga pendekatan sang ayah jelas tidak sama. Yang baru mungkin dari sisi persaudaraan kakak adik ditambah kehadiran beberapa tokoh pendukung yang menyumbangkan esensi tersendiri.
Penampilan Axel sebagai Vino merupakan faktor utama yang paling berpengaruh terhadap keseluruhan film ini. Untungnya ia berhasil membawakan imej personil band rock yang selalu mempertanyakan eksistensi diri di mata orangtuanya, ibu yang tidak memperlakukannya dengan baik dan ayah yang tidak pernah dikenalnya itu. Sayangnya lagi-lagi Benni merusak eksplorasi Axel dengan turn over karakter Vino yang tidak konsisten sepanjang film.
Ferdy Taher masih tetap Tommy yang dulu dengan rambut panjang, tato, kaos tanpa lengan, jaket kulit hingga jeans belel. Kecintaannya terhadap musik cadas menegaskan kekerasan karakternya walau sedikit tertutupi oleh kepatuhannya terhadap Lintang. Wulan dan Olivia serta Joe P Project juga masih memainkan karakter yang kurang lebih sama. Kehadiran Aline sebagai ibu kandung Vino terkesan tempelan belaka dengan minimnya penjelasan latar belakangnya.
Kualitas Masih Bukan Cinta Biasa secara garis besar “masih” menawarkan ketidakstabilan yang cukup mengganggu, sama seperti prekuelnya. Beruntung berbagai momen menyentuh yang disebabkan oleh asas kekeluargaan itu “masih” dapat dihadirkan dengan wajar dan tepat pada tempatnya. Jika film ini harus diberi apresiasi maka patut dilayangkan pada aktor-aktris yang “masih” berakting di dalamnya, bukan untuk Benni yang untuk kesekian kalinya “masih” melakukan closing yang demikian mudahnya. Semoga tidak berlanjut dengan Masih Tetap Bukan Cinta Biasa dengan modal yang “masih” itu-itu saja. “Masih” penasaran?

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 13 September 2011

BODYGUARD : Pengawal Putri Konglomerat Terancam


Storyline:
Konglomerat dari Jaisinghpur, Sartaj Rana memancing kemarahan dari Mhatre bersaudara yaitu Ranjan dan Vikrant karena persaingan bisnis. Ia mengutus Lovely Singh untuk mengawasi sekaligus melindungi putri kesayangannya yang masih seorang mahasiswi, Divya dan temannya Maya. Awalnya Divya merasa terganggu dan berniat mengganggu Lovely dengan menciptakan karakter fiktif bernama Chhaya untuk jatuh cinta padanya. Dengan intensitas telepon yang tinggi, Lovely akhirnya terperdaya walaupun pada akhirnya Divya harus mengakui perasaannya sendiri. Bagaimana akhir dari dendam dan kisah cinta tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Reel Life Production yang bekerjasama dengan Reliance Entertainment.

Cast:
Menutup tahun 2010 dengan penampilan gemilang dalam Dabangg, Salman Khan kembali sebagai Lovely B. Singh
Kareena Kapoor sebagai Divya S. Rana
Raj Babbar sebagai Sartaj Rana
Asrani sebagai Shekhar
Vidya Sinha sebagai Mrs. Rana (as Vidhya Sinha)
Rose Dawn sebagai Maya (as Hazel Keech)
Chetan Hansraj sebagai Mhatre

Director:
Merupakan film ketiga bertitel sama bagi Siddique dalam 2 tahun terakhir setelah sebelumnya Bodyguard (2010) dan The Bodyguard (2011).

Comment:
Setiap negara rasanya memiliki versi film “pengawal pribadi” nya masing-masing walau gemanya tidak akan mampu mengalahkan The Bodyguard (1992) yang melejitkan nama Kevin Costner dan Whitney Houston dengan lagu-lagunya yang timeless hingga kini. Bagaimana dengan Siddique yang terlihat ambisius dengan trilogy Bodyguard nya yang tidak berhubungan satu sama lain ini? Kebetulan saya hanya menyaksikan installment terakhir ini dan tidak terlalu berniat menonton yang dua lainnya.
Salman dan Kareena harus diakui memiliki daya tarik fisik yang tinggi. Pemasangan keduanya menghasilkan chemistry yang pas apalagi saat menari bersama diiringi lagu. Ya, saya tidak becanda jika film ini masih sedikit menganut “paham” lama. Sayangnya tidak ada penjelasan apakah adegan “duet” ini terjadi dalam khayalan atau kenyataan? Jika kenyataan, bukankah hubungan mereka hanya terjalin dalam khayalan? Pertanyaannya adalah khayalan siapa? Divya atau Lovely? Tarik nafas sejenak untuk memikirkannya. Jika masih bingung, lanjut saja.
Penulis Siddique tampaknya masih menggunakan format lama, tokoh baik melawan tokoh jahat di atas fakta-fakta yang sedikit samar. Semuanya menjadi tak terlalu penting bagi nalar anda karena skrip hanya didesain untuk menghibur secara dangkal. Beruntung adegan laganya memuaskan, terima kasih pada stop-motion scenes ala The Matrix yang seakan menjadikan tokoh Lovely bagaikan seorang superhero yang lebih cepat dan lebih tangguh daripada manusia pada umumnya. Berlebihan tetapi bisa diterima!
Bodyguard tidak memiliki masalah samasekali sebagai sebuah tontonan yang masih sangat setia dengan pakem Bollywood ini walaupun amat kentara mengadopsi gaya Hollywood dari berbagai sisi. Adegan aksinya cukup banyak, humor slapsticknya mudah memaksakan tawa, romansanya juga bikin geregetan terlepas dari kesan yang dibuat-buat. Kesemuanya dibalut dengan scoring music yang memikat hasil karya trio Pritam, Himesh dan Sandeep.
Namun ada dua permasalahan utama yang mempengaruhi skor akhirnya. Pertama adalah kualitas akting dari jajaran castnya termasuk si mega bintang Salman Khan, bahkan jika anda termasuk pemujanya sekalipun. Kedua yaitu endingnya yang seakan turun dari langit ketujuh. Twistnya terjadi begitu saja menjawab segala pertanyaan yang tertinggal selama lompatan rentang waktu tertentu. Jika tujuannya untuk memuaskan penonton, hal ini tidak cerdas, sangat tidak cerdas! Menurut saya, akan lebih bijaksana apabila Siddique tidak memaksakan “kehendak” dan memberikan beberapa alternatif ending.

Durasi:
150 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 11 September 2011

CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER Kiprah Awal Tentara Pemimpin Bertameng

Quote:
Johann Schmidt: What makes you so special?
Steve Rogers: Nothing. I'm just a kid from Brooklyn.


Storyline:
Tahun 1942, Amerika menghadapi Perang Dunia II melawan Jerman. Steve Rogers yang bertubuh lemah dan sakit-sakitan tetap nekad mendaftar untuk militer, jiwa kepahlawanannya memang melebihi kemampuan fisiknya. Kesempatan datang saat Dr. Erksine mengajaknya bergabung dalam program rahasia Project Rebirth yang kemudian mengubah nasibnya di kemudian hari. Sayangnya rahasia tersebut berusaha dicuri oleh Hydra yang dikepalai oleh Johann Schmidt alias the Red Skull. Mampukah Steve menjalankan tanggungjawab barunya sebagai Kapten Amerika?

Nice-to-know:
Banyak nama-nama besar yang sempat dikabarkan mengisi jajaran aktor-aktris film ini sebelum batal karena berbagai alasan. Termasuk tiga nama yang sedianya menjadi sutradara yaitu Louis Leterrier, Jon Favreau dan Nick Cassavetes.

Cast:
Pernah mendukung Not Another Teen Movie (2001) di awal karirnya, Chris Evans berperan sebagai Steve Rogers alias Captain America
Angkat nama lewat serial televisi The Prisoner (2009), Hayley Atwell bermain sebagai Peggy Carter
Sebastian Stan sebagai James Buchanan 'Bucky' Barnes
Tommy Lee Jones sebagai Colonel Chester Phillips
Hugo Weaving sebagai Johann Schmidt / Red Skull
Dominic Cooper sebagai Howard Stark

Director:
Saya paling mengenal Joe Johnston dalam film petualangan keluarga Jumanji (1995).

Comment:
Marvel sangatlah populer dengan tokoh-tokoh superheronya yang berangkat dari komik hingga akhirnya diproyeksikan ke layar lebar selama satu dekade terakhir. Memang baru beberapa diantaranya, not much but already quite numbers, tapi sudah mencatat raupan dollar yang begitu tinggi sehingga tidak heran jika tren serupa akan terus berlanjut. Salah satunya yang mendapat giliran kali ini adalah karakter Steve Rogers yang menjadi pusat perhatiannya.
Duo penulis skrip Christopher Markus dan Stephen McFeely membagi hidup seorang Steve Rogers dalam 3 tahap disini. Pertama, Steve pecundang berbadan kurus tapi berjiwa besar. Kedua, Steve hasil eksperimen berbadan tegap yang diproyeksikan sebagai maskot tentara Amerika. Ketiga, Steve yang bertindak sesuai jiwa heroiknya berpartisipasi dalam peperangan melawan Jerman yang dikomandoi oleh Johann Schmidt.

Sayangnya hal-hal tersebut sudah pernah kita saksikan sebelumnya dalam berpuluh-puluh film hasil adaptasi komik superhero tanpa perlu saya sebutkan satu persatu lagi. Konsep From zero to hero! Sutradara Johnston juga tidak banyak membantu dengan alur linier yang dikembangkannya, semua serba predictable bagi penonton. Sesulit itukah membangun konflik dengan lebih cerdas atau setidaknya bermain dengan tensi yang lebih tinggi untuk memberikan suguhan yang lebih bernilai?
Secara postur, Chris Evans memang pilihan terbaik. Efek CGI yang menjadikannya kurus di bagian awal film sukses mencengangkan penonton. Namun dari segi akting, tidak banyak perbedaan yang diperlihatkannya dari karakter Human Torch kecuali sifat komediknya yang hilang samasekali disini. Penjiwaannya pun masih tergolong dangkal jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Maguire ataupun Downey, Jr sebelumnya.
Weaving pernah memukau sebagai antagonis dalam The Matrix Trilogy tetapi sebagai Red Skulls, kharismanya seakan lenyap ditutupi topeng merah ala Hellboy yang terlihat bodoh itu. Kekejamannya sebagai pemimpin Hydra tidak pernah benar-benar memancing antipasti penonton. Atwell yang bermain sebagai love interest Steve Rogers terlihat “bagus” dalam seragam Peggy Carter tetapi lagi-lagi karakterisasinya terlalu lemah dalam menciptakan percikan api romantisme yang terang benderang. Beruntung keluguan dan kesalahpahaman yang kerap dialami keduanya masih dapat menimbulkan rasa gemas tersendiri.

Bujet 140 juta dollar jelas dihabiskan untuk spesial efek yang cukup memanjakan mata. Sebut saja pistol laser biru canggih yang sanggup menghancurkan tubuh manusia dalam sekejap itu, medan peperangan yang didesain sedemikian rupa sebagai panggung baik di darat maupun di udara dan lain-lain. Semuanya dalam balutan nuansa kebiruan walau terkadang semua teknologi yang digunakan terasa terlalu canggih untuk tahun 40an.
Captain America : The First Avenger adalah sebuah repetisi dari apa yang sudah anda saksikan di tahun-tahun sebelumnya. Tidak akan meninggalkan kesan yang dalam, salahkan kedangkalan karakterisasi atau level keseriusan permasalahan yang disampaikan. Yang patut diapresiasi hanyalah kiprah seorang manusia biasa berjiwa luar biasa bernama Steve Rogers dengan tamengnya yang benar-benar ampuh melindunginya itu. Memang tidak jarang pahlawan justru muncul dalam identitas yang tidak terbayangkan sekalipun dan orang itu bisa jadi ada di sekitar anda.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$172,272,760 till Sept 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 10 September 2011

THE TREE OF LIFE : Dogma Pertanyaan Manusia Tuhan Alam Semesta

Quote:
Father Haynes: He is in God's hands, now.
Mrs. O'Brien: He was in God's hands the whole time. Wasn't he?


Storyline:
Sebuah keluarga di Texas pada tahun 50an, Jack dewasa berjuang menyikapi keluguan masa kecil yang dipengaruhi oleh ayah ibunya hingga kehilangan saudara kandungnya yang terus membayangi. Kemapanan dunia modern yang sudah diraihnya tetap membuatnya mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hidup sambil mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Nice-to-know:
Ide cerita film ini sebenarnya sudah muncul sejak akhir tahun 70an dimana Terrence Malick mengerjakan proyek bertitel “Q” yang mengeksplorasi kehidupan asli di bumi. Mudah diduga, proyek batal tetapi sebagian besar elemen di dalamnya terkandung dalam film ini.

Cast:
Brad Pitt sebagai Mr. O'Brien
Sean Penn sebagai Jack
Jessica Chastain sebagai Mrs. O'Brien
Hunter McCracken sebagai Jack Muda

Director:
Merupakan feature film kelima Terrence Malick sejauh ini yang diawali dengan Badlands (1973) di usianya yang menginjak 30 tahun.

Comment:
Jujur saja, ini adalah film Terrence Malick pertama yang saya saksikan, tidak perlu malu untuk mengakuinya. Saya tidak begitu peduli akan pandangan orang yang mengatakan gaya film Malick demikian “unik” dan sulit dicerna oleh penonton awam. Saya hanya ingin merasakan sebuah pengalaman bersinema yang lain dari biasanya. Itulah sebabnya saya begitu tidak sabar setelah menyaksikan trailer The Tree Of Life untuk kali pertama beberapa waktu lalu.
Opening film ini dibuka dengan pengenalan singkat keluarga O’Brien secara samar, suami istri dengan tiga putera yang satu sama lain tidak berbeda jauh rentang usianya. Setelah itu dilanjutkan dengan introduksi alam semesta selama kurang lebih tiga perempat jam. Selayaknya channel National Geography, anda diajak mengawasi serentetan peristiwa evolusi yang terjadi di berbagai belahan bumi mulai dari asteroid angkasa luar, gunung meletus, kehidupan bawah laut bahkan interaksi dinosaurus ribuan tahun yang lalu.

Setelah melewati bagian tersebut yang konon membuat banyak penonton awam menyerah dengan meninggalkan bioskop, Malick mengajak anda kembali pada keluarga O’Brien. Bagaimana sang ayah begitu tegas mengajarkan tata krama berbanding terbalik dengan sang ibu begitu lembut menekankan kedamaian hati, dua sikap kontras yang sebetulnya membekali anak-anak mereka untuk menghadapi kedewasaannya kelak. Bagaimana ketiga putera tersebut menyikapi perlakuan ayah-ibunya dengan cara yang berbeda-beda pula. Sebuah contoh kasus keluarga yang umum terjadi dimanapun juga, dua dunia bertolak belakang yang sering dianalogikan sebagai yin dan yang.
Si sulung Jack mendapat porsi mayoritas. Keyakinannya akan hidup yang hitam-putih menjadi terguncang saat dihadapkan pada kesakitan, penderitaan hingga kematian. Meski telah menginjak tahap kedewasaan yang mapan sekalipun, Jack tetap terjebak dalam labirin pikiran yang dipengaruhi oleh pengampunan dan penerimaan dirinya sendiri. McCracken dan Penn menunaikan tugasnya dengan baik dan meyakinkan sebagai Jack kecil dan Jack dewasa yang diproyeksikan maju mundur secara simultan.
Yang menarik lagi, semua detail yang biasa terdapat dalam sebuah film seakan tidak dipedulikan Malick. Nyaris tidak ada penyebutan nama panggilan antar tokohnya atau penjelasan peranan satu terhadap lainnya. Seakan penonton hanya diperkenankan menjadi pengamat, tanpa perlu mengingat. Bahasa tubuh, lantunan kata, sorot mata justru sudah berbicara banyak mengungkapkan apa yang ada dalam kepala Pitt, Chastain dan lain-lain. Terkadang mereka seperti sekumpulan orang asing yang cukup diketahui saja tapi tidak untuk dikenal, layaknya ratusan orang yang tiap hari lalu lalang dalam kehidupan anda.

Baru kali ini saya merasa tidak terganggu dengan banyaknya pertanyaan tidak terjawab yang ditinggalkan sebuah film begitu saja selepas menontonnya. Semua pertanyaan yang akan menghinggapi benak anda, menjadikannya buah pemikiran pribadi sebagai instrospeksi selama beberapa saat atau justru mendiskusikannya bersama-sama dengan teman-teman adalah opsi yang bijak. Yang jelas semakin banyak pertukaran informasi yang terjadi akan turut memperkaya pemahaman anda tentang film yang diganjar penghargaan tertinggi Palm d’Or dalam ajang Festival Film Cannes tahun 2011 ini.
Tree of Life bukanlah sebuah bahan perkuliahan dari Malick untuk direnungkan, melainkan sebuah dogma sederhana yang bermakna universal tanpa mengacu pada agama tertentu. Diterjemahkan secara emosional dalam seni bercitarasa tinggi bernuansakan surealis dengan balutan puisi retorik nan indah. Lalu lintas ingatan yang bertumpuk-tumpuk di kepala manusia, yang tak jarang tergali kembali oleh suatu peristiwa yang memicunya, memang kerapkali mempengaruhi langkah hidup yang seharusnya hanya berfokus pada tujuan dan mimpi-mimpi untuk diwujudkan. Berpikir untuk maju atau maju untuk berpikir, pilihan selalu ada di tangan anda!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$13,013,549 till Sept 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 08 September 2011

MUDIK LEBARAN : Ritual Tahunan Simpan Berjuta Masalah

Quotes:
Kau mau jadi apa? Calo syariah?


Storyline:
Sudah 3 tahun di ibukota, Gunadi masih saja menganggur. Bukan karena tidak mampu tapi kesempatan tidak pernah mampir padanya apalagi dengan sikap lugu yang dimilikinya. Padahal menjelang Lebaran di desa, Gunadi sudah ditunggu keluarganya untuk pulang sekaligus menikahi Lestari, gadis berjilbab yang disukainya itu. Lewat sahabat satu kosnya Martono, Gunadi akhirnya menjadi supir antar jemput Bapak Iskandar, seorang pejabat yang sangat dipandang warga Wonosalam. Malangnya pada suatu malam, Gunadi malah bertemu gadis mabuk Wulan yang segera ditolongnya tapi malah memberinya masalah di kemudian hari. Bagaimana pula dengan pemilik kos, Kuncoro yang selalu bersinggungan dengan istrinya Yustina yang mendambakan mudik ke Bukit Tinggi?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Multivision Plus dan diproduseri oleh Raam Punjabi.

Cast:
Irwansyah sebagai Gunadi
Wiwid Gunawan sebagai Wulan
Ray Sahetapy sebagai Kuncoro
Melly Zamri sebagai Yustina
Irvan Penyok sebagai Martono
Leroy Osmani sebagai Iskandar
Sonya sebagai Lestari

Director:
Film kedua Muchyar Syamas setelah Setannya Kok Beneran? (2008)

Comment:
Setelah dua pekan lalu tak kurang dari 5 judul film nasional saling bantai untuk merebut jumlah penonton terbanyak memanfaatkan momen libur Idul Fitri, kini MVP Pictures melenggang sendirian dengan film di bawah radar ini yang nyaris tanpa pemberitaan ataupun promosi resmi yang digelar bersamaan dengan screening/gala premiere sebagaimana biasanya. Entah tidak cukup percaya diri atau justru berusaha memancing animo penonton? Saya tidak dapat menjawabnya.
Sebetulnya ada 2 opsi untuk menangani film dengan banyak tokoh semacam ini. Satu, ensemble drama dimana setiap karakternya mendapat porsi tersendiri dengan sekat waktu, tidak menjadi masalah jika pada akhirnya disimpulkan secara bersamaan. Dua, drama regular dimana sentralisasi diberikan pada 1-2 karakter utama untuk kemudian diselipkan subplot mengenai karakter-karakter pendukung untuk memperkuat bangunan utama. Sayangnya sutradara Muchyar malah mencampur-adukkan kedua opsi tersebut sekaligus sehingga penonton semakin bingung untuk mengikutinya.
Memang secara keseluruhan Irwansyah dan Wiwid tampil paling dominan tapi atas dasar apapun juga keduanya gagal menarik simpati. Saya merasa tokoh Gunadi terlalu polos alias bodoh dalam menyikapi hidupnya sendiri. 3 tahun berjibaku di kota metropolitan macam Jakarta seharusnya mampu mengubah perspektifnya. Manusia terlahir dengan insting bertahan hidup, bukan? Atau tokoh Wulan yang tindak-tanduknya terkesan mengganggu. Tidak ada penjelasan yang dapat memperkuat alasannya untuk tertarik pada pria desa hingga memperlakukannya semena-mena.
Penulis skrip Away Kilmer juga tidak mampu memberi kedalaman karakter pada tokoh-tokoh lainnya. Alhasil Ray Sahetapi, Melly Zamri, Irvan Penyok, Leroy Osmani dan lain-lain terasa keluar masuk layar begitu saja. Seberapa keras mereka memberikan aksen ataupun penjiwaan rasanya sia-sia belaka jika tidak berhasil menjalin koneksi dengan penonton yang hanya bisa sesekali tersenyum terpaksa menyaksikan polah tingkah masing-masing.
Data-data statistik mengenai para pemudik dan segala aktifitas mobilisasinya yang disematkan sebagai penutup cerita juga terkesan hanya informasi belaka, nice to know but not necessary. Tidak ada korelasi yang berarti dengan apa yang sudah tersaji selama 80 menit sebelumnya. Isu-isu yang coba diselipkan disana-sini seperti korupsi, kawin kontrak, uang halal dsb pada akhirnya lalu lalang begitu saja, tanpa penyelesaian yang masuk akal.
Menyaksikan Mudik Lebaran selayaknya menjejali pikiran penonton, yang sebetulnya cuma menginginkan hiburan, dengan fakta-fakta dan opini-opini yang lemah dan tidak akurat. Apalagi diperparah dengan interupsi tiap adegan seperti sinetron per babak berkualitas rendah. Masih berpikir untuk halal-bihalal di gedung bioskop paska Lebaran dengan sajian demikian? Tampaknya jauh lebih bijaksana jika anda melakukannya di kehidupan nyata dimana karakter-karakter serupa dalam film ini dapat ditemui di sekeliling anda.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 07 September 2011

TROLLHUNTER : Dokumentasi Rahasia Perburuan Troll Norwegia

Tagline:
You'll believe it when you see it!


Storyline:
Thomas, Johanna dan Kalle berusaha membuat dokumentasi perjalanan mereka di Norwegia dalam menghadapi kasus pembunuhan beruang misterius. Ketiganya bertemu dengan Hans, penduduk setempat paruh baya yang berprofesi sebagai pemburu troll. Benarkah troll memang ada di muka bumi? Atau semua sebenarnya hanyalah dongeng tak berdasar?

Nice-to-know:
Terdiri dari beberapa referensi yang mengacu pada dongeng Skandinavia tua termasuk kambing di jembatan dimana troll mengintainya dari bawah.

Cast:
Otto Jespersen sebagai Hans
Glenn Erland Tosterud sebagai Thomas
Johanna Mørck sebagai Johanna
Tomas Alf Larsen sebagai Kalle
Urmila Berg-Domaas sebagai Malica
Hans Morten Hansen sebagai Finn Haugen

Director:
Merupakan film kedua bagi André Øvredal setelah Future Murder (2000).

Comment:
Lagi sebuah genre film yang sedang popular di dunia yaitu mockumentary yang kali ini berasal dari Norwegia, sebuah negara yang tradisi thriller movienya teramat baik menurut saya. Penulis skrip André Øvredal yang bekerjasama dengan Håvard S. Johansen kali ini mengupas tentang troll, makhluk gaib yang seringkali dideskripsikan dalam bentuk dan wujud yang berbeda-beda baik dalam buku atau film sekalipun.
Øvredal yang juga menjabat sebagai sutradara menyuguhkan sinematografi yang dinamis meski sebagian besar dalam nuansa malam ataupun subuh. Lanskap Norwegia terekam dengan baik lewat setting hutan liar ataupun dataran pegunungannya yang kelihatan jarang terjamah oleh manusia. Shaky cam yang biasa terjadi dalam film bergenre serupa kali ini justru tidak mengganggu penglihatan samasekali, night vision dalam tone color hijau juga bekerja dengan baik menghasilkan gambar-gambar efektif mencekam.
Jajaran castnya berakting tidak luar biasa tetapi masih di atas rata-rata dalam beradu lidah satu sama lain di tengah balutan drama yang memang terkesan nyata itu. Unsur emosional dan kejutan tak terduga silih berganti mewarnai interaksi para karakternya disini. Persinggungan agama Kristen yang dibahas dalam salah satu scene mungkin cukup kontroversial bagi pemeluk agama tersebut walaupun tentunya tidak dimaksudkan untuk itu.
Salah satu aspek terbaik dalam film yang berjudul asli Trolljegeren ini adalah penggunaan efek spesial dalam menampilkan sosok troll yang mengerikan sekaligus mencengangkan. Kreatifitasnya ternyata tidak berhenti sampai disitu karena didukung pula dengan pembahasan detail mengenai spesies troll dan rencana perburuannya yang tertuang dalam TSS itu semakin memperkuat keyakinan penonton bahwa makhluk ajaib itu benar-benar ada?!
Trollhunter adalah salah satu dari sedikit mockumentary yang sukses membuat penontonnya percaya dengan perasaan yang campur aduk. Itulah tujuan akhir filmmaker dalam memaksimalkan bujet sekitar 3,6 juta dollar yang digelontorkan oleh pihak produser. Lupakan Cloverfield, The Blair Witch Project dan sederetan judul populer lainnya karena film ini akan menjadi cult tersendiri di kemudian hari. Tertarik untuk berburu troll, saudara-saudara? Lakukanlah berbagai persiapan matang terlebih dahulu seperti Hans dkk! Siapa tahu anda bisa membuat film documenter sendiri yang tidak kalah fenomenalnya. Oops, I’m starting to believe it!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$243,757 till Aug 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 05 September 2011

DARK COUNTRY : Perjalanan Mimpi Buruk Pasutri Seumur Jagung

Tagline:
One Wrong Turn... Into the Dark.


Storyline:
Richard terbangun di hotel murahan Las Vegas mendapati dirinya telah menikah dengan Gina yang baru dikenalnya. Setelah berkemas, mereka melanjutkan perjalanan ke Sedona melintasi gurun pasir. Tengah malam, mobil mereka nyaris menabrak sesosok pria asing dengan wajah mengenaskan berlumuran darah. Keduanya sepakat mengangkut pria tersebut di jok belakang. Kejadian demi kejadian tak diduga pun terjadi hingga Richard dan Gina mulai mempertanyakan identitas masing-masing.

Nice-to-know:
Syuting berlangsung selama 25 hari.

Cast:
Sebelum ini tampil dalam Killshot (2008), Thomas Jane berperan sebagai Richard
Mulai angkat nama setelah muncul dalam A Walk To Remember (2002), Lauren German bermain sebagai Gina
Ron Perlman sebagai Deputy Thompson

Director:
Merupakan film kedua yang disutradarai Thomas Jane setelah Jonni Nitro (2000).

Comment:
Ini adalah salah satu dari sedikit film yang menganut prinsip: “The least u know, the more u will enjoy it.” Dengan demikian lupakanlah semua referensi ataupun review yang mengulas film ini jika memang anda berniat menontonnya. Namun tetap tidak ada salahnya jika mengintip skor akhir yang diberikan, setidaknya anda bisa mengukur tingkat ekspektasi yang wajib dipasang.
Penulis skrip Tab Murphy nampaknya masih bermain-main dengan konsep Twilight Zone, serial televisi populer di awal tahun 90an. Perjalanan waktu maju mundur yang dialami tokoh utamanya seringkali berujung pada satu kesimpulan tak terduga. Anda cukup mencermati segala petunjuk yang diberikan dari awal lalu mulailah bermain tebak-tebakan dengan nalar yang anda miliki sebelum endingnya berakhir. Untuk yang satu ini rasanya tidak terlalu sulit. Wanna bet?
Nyaris tidak ada improvisasi dari akting seorang Thomas Jane disini. Peran pria biasa yang mencoba menjadi pahlawan, sudah terlalu stereotype. Ketakutan dan ketangguhannya tidak cukup kuat dalam mewakili karakter Richard yang sama bingungnya dengan penonton. Mungkin ia terlalu sibuk beraksi di depan dan belakang kamera secara bergantian disini? Jelas bukan suatu alasan yang bagus juga karena terbukti banyak aktor-aktris lain yang lebih gape melakukannya.
Dengan gaya penyutradaraan demikian, tidak heran jika duo produser Patrick Aiello dan Ashok Amritraj pada akhirnya memutuskan film ini tidak rilis di bioskop melainkan langsung ke pasaran DVD. Jane juga tidak seharusnya kecewa, setidaknya ia telah mencoba dan jelas bisa mengambil langkah perbaikan ke depannya daripada sekadar menyuguhkan film bertempo tidak konsisten dengan musik latar yang lebih pantas digunakan dalam film dewasa pengumbar syahwat.
Dark Country yang disyut dalam format 3D ini pun pada akhirnya sia-sia belaka telah menghabiskan sekian bujet, hanya untuk menghasilkan gimmick 3D berupa tangan yang menyembul keluar layar ataupun lampu motel remang-remang yang dikerubuti laron. Sama halnya dengan Blitzmegaplex yang nekad merilisnya di Indonesia dalam format 3D, penonton lantas bersumpah serapah meninggalkan gedung bioskop setelah menyesali sejumlah uang yang tidak sedikit dalam membayar HTM nya. Such a waste!

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 03 September 2011

LOVE WEDDING MARRIAGE : Saat Pernikahan Di Ambang Ketidakpercayaan

Tagline:
Here comes the ride.


Storyline:
Ava yang menyandang gelar Ph.D jatuh cinta dengan Charlie. Keduanya pun sepakat menikah di tengah perayaan ulang tahun perkawinan orangtua Ava yang menginjak usia 30 tahun. Berkarir di bidang konselor pernikahan, Ava kaget mendapati ayah ibunya akan bercerai karena perselingkuhan yang dilakukan ayahnya 25 tahun lalu, bahkan sebelum kelahiran adiknya Shelby. Ava pun berjuang keras menyatukan kembali kedua orangtuanya tersebut hingga tidak sadar bahwa Charlie diam-diam merasa terpinggirkan.

Nice-to-know:
Suami istri dalam kehidupan nyata Alexis Denisof dan Alyson Hannigan memerankan pasangan yang membutuhkan terapi di bagian awal film.

Cast:
Terakhir menyumbangkan suara merdunya dalam Tangled (2010), Mandy Moore bermain sebagai Ava
Salah satu proyek yang dilakoninya sebelum dua episode pamungkas Twilight Saga, Kellan Lutz berperan sebagai Charlie
Christopher Lloyd sebagai Dr. George
Jessica Szohr sebagai Shelby
Michael Weston sebagai Gerber
James Brolin sebagai Bradley
Jane Seymour sebagai Betty

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Dermot Mulroney yang lebih terkenal sebagai aktor yang telah membintangi 75 judul film.

Comment:
Baiklah melihat judul film ini rasanya anda sudah bisa menerka apa saja yang ingin disuguhkan oleh duet penulis skrip Anouska Chydzik dan Caprice Crane. Tiga tahap yang biasa terdapat dalam sebuah drama romantis yaitu jatuh cinta, menikah dan menjalani rumah tangga. Bedanya film ini justru dimulai setelah pembahasan singkat ketiga prosesi tersebut. Berusaha menyajikan hal baru? Mungkin saja karena pasangan yang terlihat sempurna sekalipun bisa saja terlibat masalah perkawinan yang serius.
Sulit rasanya membayangkan duet Moore dan Lutz berpasangan dalam sebuah film. Nyatanya ini terjadi! Chemistry yang tercipta di antara mereka malah terkesan aneh meski tak dipungkiri, keduanya memiliki daya tarik fisik yang tinggi. Tidak diceritakan secara detail bagaimana Ava dan Charlie jatuh cinta, penonton langsung disuguhi drama pernikahan di antara keduanya yang dibumbui juga oleh krisis rumah tangga puluhan tahun Bradley dan Betty.
Permasalahannya Moore terlihat canggung sebagai konselor pernikahan yang mapan. Ekspresi dan intonasinya jauh dari kesan serius. Dua pasang klien yang ditanganinya pun tak mampu meyakinkan posisinya itu. Sama halnya seperti Lutz yang teramat mengandalkan torsonya sehingga tanpa alasan yang jelas sekalipun, ia begitu mudahnya melepaskan kaos dan bertelanjang dada. Lantas apakah yang ada di pikirannya hanya seks belaka? Benar-benar tipikal pemuda dengan tingkat kecerdasan yang patut dipertanyakan.
Dosa terbesar pembuatan film ini bisa jadi ada di tangan Dermot Mulroney. Debut penyutradaraannya teramat mengecewakan. Pengalaman di depan kamera selama ini tidak membantu karena terlalu banyak scenes yang disyut di luar ketentuan jarak pandang ataupun sudut pengambilan gambarnya. Satu hal yang boleh dibanggakannya adalah mengajak aktor-aktris sekaliber Brolin dan Seymour untuk mau ikut serta meski pada akhirnya nama karakternya tidak dicantumkan dalam credit title.
Love Wedding Marriage berisikan kumpulan adegan komedik gagal, dialog klise hingga momen menyentuh yang teramat dipaksakan untuk mengisi tempatnya masing-masing. Apalagi dengan skrip tidak begitu kuat semakin mengesankan film ini layaknya salah satu episode married teenagers MTV yang super boring dan super artificial selama sejam dengan extended version yang sama menyedihkannya. Rom-com lovers, don’t mess your favorite genre with this one!

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$1,378 in opening week June 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 31 Agustus 2011

GET MARRIED 3 : Ketidaksiapan Ayah Kekhawatiran Ibu

Quotes:
Rendy: Kalo tahu penontonnya banyak, aku bisa lebih banyak atraksi tadi


Storyline:
Bertahun-tahun sudah, Mae dan Rendy kini sudah memiliki tiga bayi yang lucu-lucu, masing-masing diberi nama Mark, Oprah dan Hanung. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena Mae malah mengalami baby blues syndrome yang membuatnya terus-menerus menangis. Rendy yang khawatir langsung mengutus Guntoro, Beni, Eman untuk menemani keseharian Mae. Campur tangan juga datang dari ayah ibu Mae serta ibu Rendy yang memiliki gayanya masing-masing. Semua mulai porak poranda saat Rendy nekad mendatangkan Eyang Mae dari Arab hingga berujung pada pertengkaran Mae dan Rendy karena Rendy dinilai tidak becus sebagai ayah dan suami sekaligus. Akankah keduanya dapat kembali rukun seperti sediakala?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 25 Agustus 2011.

Cast:
Nirina Zubir sebagai Mae
Fedi Nuril sebagai Rendy
Amink sebagai Eman
Ringgo Agus Rahman sebagai Beni
Deddy Mahendra Desta sebagai Guntoro
Meriam Bellina
Jaja Mihardja
Ira Wibowo
Ratna Riantiarno

Director:
Merupakan film ke-8 Monty Tiwa yang diawali lewat Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007).

Comment:
Satu sekuel sudah merupakan pertaruhan tersendiri, apalagi jika tidak melampaui kesuksesan prekuelnya dari segi kualitas maupun perolehan jumlah penonton. Jika dilanjutkan dengan sekuel keduanya? Nah ini tentu keberanian seorang produser bernama Chand Parwez Servia untuk melakukannya. Namun melihat Get Married sudah memiliki fan base khusus, rasanya keputusan tersebut tidak dibuat secara mentah-mentah.
Musfar Yasin yang mengangkat tema cinta beda kasta dalam Get Married, tugasnya dilanjutkan oleh Cassandra Massardi dalam dua sekuelnya kemudian yang masing-masing mengetengahkan topik kesulitan memperoleh keturunan dan problematika baby blues syndrome. Yang terakhir ini boleh dibilang terlalu ringan untuk dieksplorasi panjang lebar, untuk itu dibutuhkan tambahan konflik lawas nan klise dalam sebuah hubungan suami istri yaitu kepercayaan!
Pergantian sutradara dari Hanung Bramantyo ke Monty Tiwa juga memberikan kontribusi yang signifikan. Monty di mata saya adalah sutradara bertalenta yang angin-anginan, ia bisa bagus dengan karya jelas, bisa juga buruk dengan karya tak tentu arah. Kali ini Monty tampaknya sudah berusaha menyuguhkan unsur drama dan komedi tontonan keluarga yang seimbang sehingga minus-minus yang terjadi tidak boleh ditimpakan lagi kepadanya.
Entah mengapa tokoh Rendy “ditakdirkan” untuk selalu berganti dari awal sampai sekarang. Jika sebelumnya dua tokoh “Indo”, kali ini pilihan justru jatuh pada Fedi Nuril! Khusus akting, saya tidak meragukan aktor yang satu ini tetapi membayangkannya memiliki pesona yang sama dalam balutan komedi? Nanti dulu. Terbukti sepanjang satu setengah jam, Fedi tidak konsisten melakukannya, terkadang lucu (sebagian atas bantuan dialog) sedangkan sisanya canggung!
Lain halnya dengan Nirina, Desta, Ringgo, Amink yang sudah memiliki keterikatan dengan peran masing-masing. Jujur saja tidak ada yang baru dari apa yang mereka tampilkan disini. Fakta bahwa semua faktor komedik yang sudah terduga itu memang tidak lagi menyenangkan untuk sebuah film komedi. Apabila digambarkan dalam grafik, maka tinggal bayangkan sebuah kurva menukik tajam yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dari titik nadir sekalipun.
Meski secara keseluruhan masih memenuhi standar hiburan film liburan, Get Married 3 terasa sekali menyeret penonton (yang sebenarnya datang ke bioskop sudah dengan perasaan apatis) untuk terus mengikuti sajian basi dengan bumbu yang tidak lagi menggugah selera. Andai masih ada pihak yang berupaya memperpanjang nyawa franchise ini di kemudian hari, saya sangat merekomendasikan format sinetron saja. Setidaknya penghasilan dari slot iklan adalah ide yang jauh lebih baik dibandingkan merampok orang untuk membayar karcis bioskop.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 29 Agustus 2011

AGE OF HEROES : Operasi Grendel Inggris Kontra Jerman

Quotes:
Major Jones: “We are the masters of our own lives!”


Storyline:
Pada tahun 1940, Jenderal Jones ditugaskan memandu 8 prajurit melintasi Norwegia meski ditentang istrinya Sandra yang tengah mengandung. Akhirnya Jones bersama spesialis Roger Rollright bertekad menemui agen Beowulf dan menghancurkan Stasiun Freyo milik Jerman sekaligus mencuri teknologi RDF dalam Operasi Grendel. Ia didukung pula oleh si lemah fisik Brightling dan Kopral Bob Rains yang memaksa ikut. Namun tentara Jerman yang terkenal bengis tentu tidak tinggal diam mengetahui ada yang membayangi mereka. Berhasilkah misi tersebut dijalankan dengan korban seminim mungkin?

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Atlantic Swiss Productions, Cinedome, Cinema Five, Giant Films, Matador Pictures, Metrodome Distribution, Moskus Film, Neon Park.

Cast:
Memulai karir aktornya lewat Winter Flight (1986), Sean Bean bermain sebagai Jones
Baru saja saya menyaksikannya dalam Severance (2006), Danny Dyer berperan sebagai Rains
Izabella Miko sebagai Jensen
James D'Arcy sebagai Ian Fleming
John Dagleish sebagai Roger Rollright

Director:
Merupakan feature film ketiga yang ditangani oleh Adrian Vitoria setelah terakhir The Crew (2008).

Comment:
Berapa banyak film yang mengangkat topik Perang Dunia Kedua dengan permainan kucing tikus antar kubu Jerman dan Inggris dari satu tempat ke tempat lain sebelumnya? Terlalu panjang jika harus menyebutkannya disini, salah satunya yang terbaru fenomenal adalah Inglourious Basterds (2009). Tidak bijak jika membandingkan keduanya karena produser James Brown kali ini terlihat tidak memiliki modal yang memadai untuk menjadikannya megah.
Meski demikian duet penulis Vitoria dan Ed Scates berhasil menyajikan action flick yang solid dari kacamata seorang Jenderal Jones. Semua terasa believeable disini mulai dari kamp pelatihan hingga misi lapangan di Norwegia, tidak terlalu detil tapi informasinya cukup bagi penonton untuk mau peduli dengan perjalanan mereka semua. Keseluruhan karakter dalam film ini memang cukup terasa pengembangannya tapi sayangnya tidak cukup dalam untuk bisa membangkitkan emosi secara signifikan dalam berbagai scene yang krusial.
Saya tidak pernah meragukan kapabilitas akting seorang Sean Bean. Peran Jenderal Jones di tangannya memiliki wibawa pemimpin yang mengundang simpati. Selebihnya bermain dengan cukup maksimal sesuai tuntutan cerita termasuk Dyer yang lumayan mencuri perhatian dengan peran Rains si pembangkang dan jago tembak itu. Meski demikian para cast disini tidak akan ada yang menetap lama dalam ingatan anda setelah menyaksikannya.
Vitoria menyuguhkan sinematografi yang memanjakan mata dengan dataran Norwegia yang tertutupi salju. Kontras dengan penggunaan spesial efek yang minimalis sehingga adegan peperangan kubu Jerman dan Inggris juga terkesan mini dengan hanya menggunakan beberapa granat dan senjata api saja. Sulit memang bagi sang sutradara untuk memberikan upaya yang lebih maksimal lagi jika sejak awal produser sudah membatasi durasinya sedemikian rupa padahal umumnya film perang lebih dari dua jam tayang.
Age of Heroes juga dirusak oleh ending yang terputus begitu saja. Tidak jelas bagaimana takdir kepahlawanan sang Jenderal, sedangkan perjalanan anggotanya yang selamat menuju Swedia hanya seperti berjalan kaki ke rumah tetangga saja! Sebuah keputusan meminimalisir yang lagi-lagi menghancurkan rating film ini. Sayang sekali karena sesungguhnya potensi yang dimiliki sudah ada tetapi tidak dibangun lebih lanjut. Yang pasti kepedihan semasa perang memang tidak pernah lepas dari tragedi dan kehilangan itu sendiri.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: