XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label mandy moore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mandy moore. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

SWINGING WITH THE FINKELS : Komitmen Perselingkuhan Selamatkan Rumah Tangga

Tagline:
What do you do to spice up your marriage?


Storyline:
7 tahun pernikahan, Alvin yang berprofesi sebagai arsitek mulai merasakan kejenuhan apalagi hubungan seks yang mendingin dengan istrinya Ellie yang berniaga sebagai designer pakaian. Segala upaya mereka lakukan termasuk yang paling ekstrim yaitu mencari pasangan suami istri lain via internet untuk diajak berselingkuh! Terpilihlah Richard dan Clementine yang dianggap cocok dengan profile mereka. Namun apakah setelahnya, api rumah tangga The Finkels bisa hidup kembali. Sahabat keduanya yaitu suami istri Peter dan Janet ternyata bermasalah juga sehingga meruntuhkan kepercayaan Alvin dan Ellie yang kemudian memutuskan berpisah. Apakah itu keputusan terakhir mereka?

Nice-to-know:
Merupakan versi panjang dari film pendek berjudul Sex with the FInkels karya Jonathan Newman.

Cast:
Baru saja menyelesaikan Love, Wedding, Marriage bersama Kellan Lutz, Mandy Moore berperan sebagai Ellie Finkel
Aktor yang dikenal lewat serial televisi The Office (2001-2003) bernama Martin Freeman ini bermain sebagai Alvin Finkel
Melissa George sebagai Janet
Jonathan Silverman sebagai Peter

Director:
Jonathan Newman terakhir mengerjakan film documenter berjudul Mustang Drift (2009).

Comment:
Pasangan suami istri yang telah menikah bertahun-tahun kerap terbentur dengan kejenuhan satu sama lain yang mengakibatkan hubungan mendingin. Berbagai solusi pun ditawarkan untuk mengatasinya terlepas dari sisi moralitas yang ingin dipertahankan. Begitulah kira-kira premis yang disuguhkan dalam komedi romantis yang juga berjudul Langweilig war gestern dalam bahasa Jerman ini. Sebuah realita yang bisa dialami oleh siapapun juga.

Jika ada yang patut dipersalahkan mungkin Jonathan Newman lah orangnya. Selain menulis, ia juga menyutradarai. Sebuah film pendek yang dieksplorasi menjadi film panjang bisa jadi sulit mempertahankan idealismenya sendiri. Itulah sebabnya film ini hanya mampu bermain “swinging” secara komedik di paruh pertamanya saja. Selebihnya adalah drama romantik biasa dengan bumbu-bumbu klise yang banyak ditemui dalam tipikal film sejenis.
Fakta yang mencengangkan adalah banyaknya humor yang menjurus ras, gender sekaligus isu-isu seksualitas yang cukup tajam. Dapat dipahami menilik penggunaan judulnya yang sudah berkesan vulgar itu. Visualisasi “adegan dewasanya” bisa jadi kurang vulgar seperti yang diharapkan tetapi sudah cukup membangkitkan asumsi penonton bahwa ada sesuatu di belakangnya. Biarkan imajinasi berkembang sendiri toh Newman memberikan ruang untuk itu dengan alur lambat yang dipilihnya.

Martin Freeman merupakan salah satu faktor yang membuat film ini sedikit bergigi. Perannya sebagai Alvin memang mewakili pria beristri pada umumnya yang meskipun jenuh tapi tetap berusaha setia. Mandy Moore menokohkan Ellie dengan manis dan simpatik walaupun sedikit egois karena ingin selalu dimengerti dari sudut pandang pribadinya. Kontribusi Melissa George dan Jonathan Silverman juga cukup membantu sebagai sahabat The Finkels yaitu Janet dan Peter yang ternyata juga memiliki “masalah” serius dalam rumah tangganya.
Swinging With The Finkels tidaklah seburuk yang saya duga. Banyak elemen lawas yang digunakan kembali disini sehingga nuansa retro terpampang jelas. Mungkin tidak seromantis atau tidak selucu yang anda bayangkan, tetapi cukup setia dengan pakem komedi romantik yang turut menyinggung seksualitas ataupun perkataan vulgar di dalamnya. Cinta memang bisa mendingin tapi eksistensinya tak bisa dihilangkan begitu saja. Asalkan ada usaha keras dari kedua belah pihak, api tersebut niscaya dapat dihidupkan kembali.

Durasi:
85 menit

U.K. Box Office:
£45,773 till July 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 03 September 2011

LOVE WEDDING MARRIAGE : Saat Pernikahan Di Ambang Ketidakpercayaan

Tagline:
Here comes the ride.


Storyline:
Ava yang menyandang gelar Ph.D jatuh cinta dengan Charlie. Keduanya pun sepakat menikah di tengah perayaan ulang tahun perkawinan orangtua Ava yang menginjak usia 30 tahun. Berkarir di bidang konselor pernikahan, Ava kaget mendapati ayah ibunya akan bercerai karena perselingkuhan yang dilakukan ayahnya 25 tahun lalu, bahkan sebelum kelahiran adiknya Shelby. Ava pun berjuang keras menyatukan kembali kedua orangtuanya tersebut hingga tidak sadar bahwa Charlie diam-diam merasa terpinggirkan.

Nice-to-know:
Suami istri dalam kehidupan nyata Alexis Denisof dan Alyson Hannigan memerankan pasangan yang membutuhkan terapi di bagian awal film.

Cast:
Terakhir menyumbangkan suara merdunya dalam Tangled (2010), Mandy Moore bermain sebagai Ava
Salah satu proyek yang dilakoninya sebelum dua episode pamungkas Twilight Saga, Kellan Lutz berperan sebagai Charlie
Christopher Lloyd sebagai Dr. George
Jessica Szohr sebagai Shelby
Michael Weston sebagai Gerber
James Brolin sebagai Bradley
Jane Seymour sebagai Betty

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Dermot Mulroney yang lebih terkenal sebagai aktor yang telah membintangi 75 judul film.

Comment:
Baiklah melihat judul film ini rasanya anda sudah bisa menerka apa saja yang ingin disuguhkan oleh duet penulis skrip Anouska Chydzik dan Caprice Crane. Tiga tahap yang biasa terdapat dalam sebuah drama romantis yaitu jatuh cinta, menikah dan menjalani rumah tangga. Bedanya film ini justru dimulai setelah pembahasan singkat ketiga prosesi tersebut. Berusaha menyajikan hal baru? Mungkin saja karena pasangan yang terlihat sempurna sekalipun bisa saja terlibat masalah perkawinan yang serius.
Sulit rasanya membayangkan duet Moore dan Lutz berpasangan dalam sebuah film. Nyatanya ini terjadi! Chemistry yang tercipta di antara mereka malah terkesan aneh meski tak dipungkiri, keduanya memiliki daya tarik fisik yang tinggi. Tidak diceritakan secara detail bagaimana Ava dan Charlie jatuh cinta, penonton langsung disuguhi drama pernikahan di antara keduanya yang dibumbui juga oleh krisis rumah tangga puluhan tahun Bradley dan Betty.
Permasalahannya Moore terlihat canggung sebagai konselor pernikahan yang mapan. Ekspresi dan intonasinya jauh dari kesan serius. Dua pasang klien yang ditanganinya pun tak mampu meyakinkan posisinya itu. Sama halnya seperti Lutz yang teramat mengandalkan torsonya sehingga tanpa alasan yang jelas sekalipun, ia begitu mudahnya melepaskan kaos dan bertelanjang dada. Lantas apakah yang ada di pikirannya hanya seks belaka? Benar-benar tipikal pemuda dengan tingkat kecerdasan yang patut dipertanyakan.
Dosa terbesar pembuatan film ini bisa jadi ada di tangan Dermot Mulroney. Debut penyutradaraannya teramat mengecewakan. Pengalaman di depan kamera selama ini tidak membantu karena terlalu banyak scenes yang disyut di luar ketentuan jarak pandang ataupun sudut pengambilan gambarnya. Satu hal yang boleh dibanggakannya adalah mengajak aktor-aktris sekaliber Brolin dan Seymour untuk mau ikut serta meski pada akhirnya nama karakternya tidak dicantumkan dalam credit title.
Love Wedding Marriage berisikan kumpulan adegan komedik gagal, dialog klise hingga momen menyentuh yang teramat dipaksakan untuk mengisi tempatnya masing-masing. Apalagi dengan skrip tidak begitu kuat semakin mengesankan film ini layaknya salah satu episode married teenagers MTV yang super boring dan super artificial selama sejam dengan extended version yang sama menyedihkannya. Rom-com lovers, don’t mess your favorite genre with this one!

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$1,378 in opening week June 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 03 Desember 2010

RAPUNZEL : Kebebasan dan Romantika Puteri Terkungkung

Quotes:
Rapunzel-Who are you, and how did you find me?
Flynn Rider-I know not who you are, nor how I came to find you, but may I just say... Hi. How you doin'?

Storyline:
Setelah menerima kekuatan penyembuhan sebuah bunga ajaib, bayi Puteri Rapunzel diculik dari istana pada suatu malam oleh Mother Gothel. Ya kekuatan itu lalu tumbuh di rambut panjang Rapunzel yang keemasan sehingga Mother Gothel mengurung putri malang itu di sebuah menara tinggi tanpa pintu demi membuatnya tetap sehat dan awet muda. Rapunzel yang terus bersabar ditemani bunglonnya, Pascal lambat laun merasa bosan terkungkung dan mengajukan permohonan keluar menara di usia 18 tahunnya untuk melihat festival lampion kerajaan. Mother Gothel tidak mengijinkannya hingga suatu saat Rapunzel nekad melarikan diri dengan bantuan sang pencuri mahkota, Flynn Ryder. Keduanya mengalami petualangan seru kemudian walau dikejar pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda. Akankah Rapunzel menemukan arti hidup yang baru di usianya yang muda itu?

Nice-to-know:
Merupakan film dongeng Disney pertama yang menggunakan teknologi CGI sekaligus mendapatkan rating PG.

Voice:
Sempat bermain dalam beberapa episode serial televisi top Grey's Anatomy, Mandy Moore kali ini menghidupkan sosok Rapunzel dengan suara merdunya.
Terakhir kali mendukung film anak-anak juga yaitu Alvin and the Chipmunks: The Squeakquel (2009), Zachary Levi kini mengisi suara Flynn Ryder, pencuri yang dalam pelariannya bertemu seorang putri berkemampuan ajaib.
Donna Murphy sebagai Mother Gothel
Ron Perlman sebagai Stabbington Brother

Director:
Nathan Greno dan Byron Howard sebelumnya pernah bekerjasama membuat film pendek yaitu Let It Begin (2009). Howard sendiri sempat menangani animasi CGI Disney lainnya, Bolt di tahun 2008.

Comment:
Tanpa ekspektasi apapun, saya pergi menonton film ini dengan setengah hati. Namun sejak scene pertama bergulir, saya merasa akan ada sesuatu yang istimewa disini. Dugaan tersebut tidak salah. Saya jatuh cinta sejak pandangan pertama dengan karakter Rapunzel dan bunglonnya, Pascal. Kemudian diperkenalkanlah karakter pencuri Flynn, ibu jahat Gothel dan kuda kerajaan Maximus. Lengkaplah kelima tokoh yang akan membombardir anda dengan berbagai macam perasaan selama lebih kurang 90 menit mulai dari senang hingga sedih.
Sejenak saya lupa bahwa film ini murni animasi CGI. Sebab banyak sekali elemen animasi klasik Disney seperti kehadiran putri, pahlawan penyelamat, nenek jahat dan jalinan kisah indah yang membelitnya. Background yang dipenuhi dengan pepohonan dan rerumputan hijau beratapkan langit biru sungguh memanjakan mata. Belum lagi festival tahunan lentera kerajaan yang mampu memaksimalkan konsep 3D yang diusungnya. Terutama pada satu scene dimana Rapunzel dan Flynn berlayar menelusuri sungai di malam hari. Indah sekali menyaksikan lampion-lampion tersebut seakan melayang langsung di hadapan wajah anda.
Meski menghadirkan beberapa humor slapstick, hal tersebut malah memperkaya eksplorasi ceritanya. Jangan katakan ini film feminis walau mungkin penonton perempuan akan dihibur oleh kemandirian dan rasa penasaran Rapunzel, tetapi penonton lelaki juga terwakili oleh ketangguhan dan keberanian Flynn. Aksi dan romantisme dihadirkan secara seimbang disini. Belum lagi kemunculan seekor bunglon yang cerdik lucu dan seekor kuda yang jumawa tangguh berhasil mencuri perhatian saat berinteraksi dengan tokoh-tokoh manusia tersebut walaupun tidak bisa berbicara samasekali.
Mandy Moore mampu bernyanyi dan berdialog sama baiknya sebagai Rapunzel. Ia pernah berakting dengan baik di berbagai drama sebelumnya tetapi mmbawakan sosok lugu nan bersemangat disini, saya menyadari bakat besar yang dimilikinya. Sebaliknya Levi juga terampil mengimbangi dengan menyuarakan Flynn dengan penjiwaan yang menarik. Chemistry keduanya benar-benar tergambar secara natural lewat proses yang tidak dipaksakan.
Saya bangga pada Walt Disney yang masih mampu bertaji di penghujung tahun 2010 ini. Kisah klasik Rapunzel ini bukan hanya berhasil dimodernisasi dengan kreatifitas tinggi tetapi juga disuguhkan dengan kehangatan hati. Percayalah meski ini animasi, emosi anda akan turut terseret jauh mengikuti petualangan Rapunzel dan Flynn diiringi dengan lagu-lagu penuh makna. Suatu karya yang tidak boleh anda lewatkan begitu saja dan mungkin saja Tangled akan menjadi salah satu all-time favorit anda seperti saya yang ingin menyaksikannya lagi dan lagi. Thumbs up untuk kinerja duet sutradara Greno dan Howard.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$68,706,298 in opening week of mid NovNov 2010.

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent