XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label amink. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amink. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2011

GET MARRIED 3 : Ketidaksiapan Ayah Kekhawatiran Ibu

Quotes:
Rendy: Kalo tahu penontonnya banyak, aku bisa lebih banyak atraksi tadi


Storyline:
Bertahun-tahun sudah, Mae dan Rendy kini sudah memiliki tiga bayi yang lucu-lucu, masing-masing diberi nama Mark, Oprah dan Hanung. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena Mae malah mengalami baby blues syndrome yang membuatnya terus-menerus menangis. Rendy yang khawatir langsung mengutus Guntoro, Beni, Eman untuk menemani keseharian Mae. Campur tangan juga datang dari ayah ibu Mae serta ibu Rendy yang memiliki gayanya masing-masing. Semua mulai porak poranda saat Rendy nekad mendatangkan Eyang Mae dari Arab hingga berujung pada pertengkaran Mae dan Rendy karena Rendy dinilai tidak becus sebagai ayah dan suami sekaligus. Akankah keduanya dapat kembali rukun seperti sediakala?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 25 Agustus 2011.

Cast:
Nirina Zubir sebagai Mae
Fedi Nuril sebagai Rendy
Amink sebagai Eman
Ringgo Agus Rahman sebagai Beni
Deddy Mahendra Desta sebagai Guntoro
Meriam Bellina
Jaja Mihardja
Ira Wibowo
Ratna Riantiarno

Director:
Merupakan film ke-8 Monty Tiwa yang diawali lewat Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007).

Comment:
Satu sekuel sudah merupakan pertaruhan tersendiri, apalagi jika tidak melampaui kesuksesan prekuelnya dari segi kualitas maupun perolehan jumlah penonton. Jika dilanjutkan dengan sekuel keduanya? Nah ini tentu keberanian seorang produser bernama Chand Parwez Servia untuk melakukannya. Namun melihat Get Married sudah memiliki fan base khusus, rasanya keputusan tersebut tidak dibuat secara mentah-mentah.
Musfar Yasin yang mengangkat tema cinta beda kasta dalam Get Married, tugasnya dilanjutkan oleh Cassandra Massardi dalam dua sekuelnya kemudian yang masing-masing mengetengahkan topik kesulitan memperoleh keturunan dan problematika baby blues syndrome. Yang terakhir ini boleh dibilang terlalu ringan untuk dieksplorasi panjang lebar, untuk itu dibutuhkan tambahan konflik lawas nan klise dalam sebuah hubungan suami istri yaitu kepercayaan!
Pergantian sutradara dari Hanung Bramantyo ke Monty Tiwa juga memberikan kontribusi yang signifikan. Monty di mata saya adalah sutradara bertalenta yang angin-anginan, ia bisa bagus dengan karya jelas, bisa juga buruk dengan karya tak tentu arah. Kali ini Monty tampaknya sudah berusaha menyuguhkan unsur drama dan komedi tontonan keluarga yang seimbang sehingga minus-minus yang terjadi tidak boleh ditimpakan lagi kepadanya.
Entah mengapa tokoh Rendy “ditakdirkan” untuk selalu berganti dari awal sampai sekarang. Jika sebelumnya dua tokoh “Indo”, kali ini pilihan justru jatuh pada Fedi Nuril! Khusus akting, saya tidak meragukan aktor yang satu ini tetapi membayangkannya memiliki pesona yang sama dalam balutan komedi? Nanti dulu. Terbukti sepanjang satu setengah jam, Fedi tidak konsisten melakukannya, terkadang lucu (sebagian atas bantuan dialog) sedangkan sisanya canggung!
Lain halnya dengan Nirina, Desta, Ringgo, Amink yang sudah memiliki keterikatan dengan peran masing-masing. Jujur saja tidak ada yang baru dari apa yang mereka tampilkan disini. Fakta bahwa semua faktor komedik yang sudah terduga itu memang tidak lagi menyenangkan untuk sebuah film komedi. Apabila digambarkan dalam grafik, maka tinggal bayangkan sebuah kurva menukik tajam yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dari titik nadir sekalipun.
Meski secara keseluruhan masih memenuhi standar hiburan film liburan, Get Married 3 terasa sekali menyeret penonton (yang sebenarnya datang ke bioskop sudah dengan perasaan apatis) untuk terus mengikuti sajian basi dengan bumbu yang tidak lagi menggugah selera. Andai masih ada pihak yang berupaya memperpanjang nyawa franchise ini di kemudian hari, saya sangat merekomendasikan format sinetron saja. Setidaknya penghasilan dari slot iklan adalah ide yang jauh lebih baik dibandingkan merampok orang untuk membayar karcis bioskop.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 09 Mei 2011

AKIBAT PERGAULAN BEBAS 2 : SKANDAL VIDEO PORNO

Storyline:
Berada di puncak karirnya sebagai bintang film, Denis Yudhistira merasa berada di atas angin. Kebiasaan buruknya adalah memiliki affair dengan banyak wanita walau sudah berhubungan serius dengan penyanyi terkenal, Rasty Maria. Hal ini dikritik habis-habisan oleh sahabat sekaligus lawan mainnya, Jimmy Ardiansyah yang jadwal syutingnya sering terganggu apalagi Tiara, wanita yang disukainya lebih memilih berkencan dengan Denis. Puncak kemarahan Jimmy ditumpahkan pada manajer artis Mario sebelum baku hantam terjadi. Paska kejadian itu, Denis kehilangan laptop pribadinya yang berisikan rekaman percintaan panasnya dengan sejumlah wanita yang kemudian sampai ke media. Akankah karir Denis berakhir?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 9 Mei 2011.

Cast:
Keith Foo sebagai Denis Yudhistira
Leylarey Lesesne sebagai Rasti
Lia Aulia sebagai Tiara
Rocky Jeff sebagai Jimmy
Amink sebagai Mario
Tasya Djerly sebagai Dini

Director:
Film kedua Findo Purwono HW di tahun 2011 ini dimana tahun lalu menyutradarai total 4 film.

Comment:
Semua orang yang mengaku Warga Negara Indonesia seharusnya mengetahui kasus video porno Ariel, Luna Maya, Cut Tari beberapa waktu lalu yang sangat menghebohkan itu. (Kepada artis yang bersangkutan mohon maaf jika menyinggung kembali nama anda-anda sekalian karena saya hanyalah seorang movie reviewer). Dan entah apa yang ada di pikiran produser HM Firman Bintang untuk merekayasa kembali skandal tersebut dalam sebuah produksi layar lebar. Berusaha mengeruk keuntungan di sela-sela minimnya pasokan film impor di bioskop-bioskop Ibukota?
Findo juga terkesan “mendegradasi” dirinya sendiri dengan duduk di kursi sutradara kali ini. Biasanya film-film beliau mempunyai ciri khas tersendiri dan mayoritas bermain di genre horor/komedi yang harus diakui mudah dicerna penonton awam. Kali ini ia murni menggarap sebuah drama yang tidak menawarkan kejutan apapun di dalamnya karena mayoritas audiens sudah mengetahui arah yang ditujunya. Yang tersisa tinggal bagaimana penulis Aviv Elham menutup film ini.
Saya pribadi merasa nama-nama yang mengisi film ini sangat miscasting, terlebih berbagai cameo yang sangat tidak penting. Keith Foo bukanlah Ariel dan setidaknya ia berusaha menginterpretasikan versinya sendiri dengan cukup wajar. Itulah satu-satunya nilai plus dari aktingnya disini selain logat Inggris-Melayunya yang terkadang mengganggu pendengaran. Aming seperti biasa terlihat nyaman tampil sebagai dirinya sendiri dalam peran manajer artis yang banci.
Sedangkan dari aktris-aktrisnya sendiri masih kurang maksimal. Ley terlihat tidak konsisten dalam mengeksplorasi sisi emosionalnya saat menghadapi kesulitan. Lia tidak mendapat banyak kesempatan selain tampil seksi menggoda. Lain lagi dengan Tasya yang dikabarkan sebagai perawan lugu dari Bogor tetapi justru berpenampilan wah selayaknya gadis metropolitan. Sekali lagi saya tekankan kalau karakterisasi mereka sudah diplot sedemikian rupa tanpa perlu banyak adiksi.
Akibat Pergaulan Bebas 2 di paruh pertama durasinya kelihatan berusaha untuk bercerita secara runut mengenai pengenalan tokoh-tokohnya. Namun jatuhnya membosankan dan tidak menarik. Paruh kedua mencoba meningkatkan intensitas seiring dengan mencuatnya konflik tapi malah semakin tergelincir. Penulis terkesan bingung menyajikan ending yang diplot dengan twist. Sayangnya tidak lagi mengejutkan penonton yang bahkan lebih memilih pergi duluan sebelum sampai kesana.
Sekadar catatan, film ini tidak ada kaitan apapun dengan APB versi Nayato yang edar tahun lalu itu. Murni berdiri sendiri dan hanya menambah angka 2 di belakangnya plus subtitle tambahan “Skandal Video Porno” untuk memberikan penegasan. Dari sisi sinematografi dan editing, APB 2 ini kualitasnya di bawah FTV sekalipun. Dan jika anda masih (setidaknya) mengharapkan sex scene sebagai suguhan utamanya maka bersiaplah untuk kecewa juga dengan film yang super minus ini.

Durasi:
80 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 21 Desember 2010

KABAYAN JADI MILYUNER : Saat Kabayan Mengejar Cinta dan Harta Ke Ibukota

Storyline:
Ketua pesantren As-Salam, Ustad Soleh merupakan sosok yang dihormati di sebuah kampung di Jawa Barat dan ia memiliki tangan kanan bernama Kabayan, pemuda lugu yang juga disukai penduduk setempat. Pada suatu hari datanglah Boss Rocky yang ingin membeli tanah kampung tersebut untuk dijadikan resort yang lengkap. Kontan kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh warga. Namun Boss Rocky yang licik menugaskan asistennya, Iteung yang cantik untuk mendapatkan hati Kabayan. Usaha ini berhasil karena Kabayan tertipu hingga menandatangani kontrak jual beli tanpa disengaja. Sahabat setia Kabayan, Armasan terus menyemangatinya untuk berangkat ke Jakarta bertemu dengan Abah dan Ambu dari Iteung yang menuntutnya uang satu milyar untuk menikahi Iteung. Apakah Kabayan dapat memenangkan permainan ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood tanggal 21 Desember 2010.

Cast:
Jamie Aditya sebagai Kabayan
Rianti Cartwright sebagai Iteung
Amink sebagai Armasan
Christian Sugiono sebagai Boss Rocky
Didi Petet sebagai Abah
Meriam Bellina sebagai Ambu
Slamet Rahardjo sebagai Ustad Soleh

Director:
Karya kedua Guntur Soeharjanto di tahun 2010 ini setelah Ngebut Kawin.

Comment:
Pada awal pencetusan ide pembuatannya, proyek film ini sempat digadang-gadang akan mencetak sukses besar di tahun 2010. Apa pasal? Siapa yang tidak mengenal sosok Kabayan yang merupakan tokoh rakyat terkemuka dari Cirebon karena keluguan dan kesederhanaannya. Di layar gelas, serial televisi Kabayan yang melejitkan nama (alm) Kang Ibing bertahan cukup lama sebagai salah satu siaran favorit pemirsa. Sedangkan di layar lebar, Kabayan dan beberapa sekuelnya mempopulerkan nama Didi Petet yang kali ini terlibat juga setelah lebih dari 20 tahun absen. Terus terang saya cukup antusias menantikan film ini hingga penghujung tahun.
Sekitar 20 tahun kemudian rasanya kita sulit membayangkan siapa yang lebih cocok daripada artis segudang talenta, Jamie Aditya sebagai Kabayan masa kini. Dan Jamie menjawab tantangan itu dengan mantap dimana sosok lugu dan sederhana tetap dipertahankan tetapi ditambah dengan ekspresi 1001 wajah dan bahasa tubuhnya yang kocak itu. Penunjukkan Amink sebagai sidekick juga terasa tepat karena karakter Armasan memang cerdik nan sinis yang seringkali menjadi penunjuk bagi Kabayan. Rianti sendiri terasa pas sebagai love interest Kabayan walau kita akan melihat sedikit "pergeseran" penjiwaan Nyi Iteung di paruh pertama dan paruh kedua film. Tetap menarik di usia paruh baya, trio Slamet-Didi-Meriam dengan peranannya masing-masing.
Sutradara Guntur berhasil menyuguhkan sinematografi yang hidup mulai dari setting pedesaan Jawa Barat nan asri hingga perkotaan Jakarta nan bising. Namun skenario yang ditulis Cassandra Massardi masih memiliki kelemahan yang kentara yakni terlalu banyak menyajikan hal-hal komikal yang seringkali tidak relevan dengan bangunan utama cerita. Kreatifitas yang berbau komedik memang sah-sah saja asal tidak merusak esensi secara keseluruhan apalagi untuk mengangkat tokoh rakyat yang sudah sedemikian populer ini.
Harus diakui saya sangat menikmati 50 menit pertama film ini saat Kabayan masih di "sarang"nya. Konsep natural sangat tertata apik seperti menggembalakan ternak, bermain seruling, wayang orang dsb. Namun setelah berpindah ke Metropolitan, plot cerita seakan berbalik 360 derajat dimana absurditas sedikit menantang logika penonton untuk tetap antusias mengikutinya. Bagaimanapun juga Kabayan Jadi Milyuner tetaplah sebuah tontonan semua umur semua kalangan yang akan menghibur anda dengan gelak tawa ala 80an plus lantunan suara Melly Goeslaw yang berbeda dari biasanya itu. Siap untuk bernostalgia?

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 31 Oktober 2008

GARA-GARA BOLA : Taruhan Berujung Nestapa Dua Pemuda

Cerita:
Sepasang sohib penggila bola, Ahmad yang mengerjakan pesanan t-shirt lengkap dengan desainnya dan Heru yang bekerja sebagai kasir di rumah makan bakmi ayahnya tumbuh bersama di lingkungan yang sama. Pada suatu malam di pertengahan tahun 2006 tepat dilangsungkannya Piala Dunia, Ahmad nekad mempertaruhkan sejumlah uang atas nama dirinya dan Heru tanpa sepengetahuan sohibnya itu yang tengah tertidur pulas karena yakin Jerman yang menang. Bisa ditebak kalau taruhan itu gagal dan mereka berdua harus menangguk sejumlah utang yang harus dilunasi hanya dalam waktu satu hari satu malam tepat di saat Heru dipecat oleh ayahnya sendiri dan juga kehilangan kontrakan mereka karena menunggak pembayaran! Apa yang akan mereka berdua lakukan sementara dua tukang tagih sangar dari bandar judi bola itu selalu mengawasi gerak-gerik mereka? Berhasilkah mereka menyelesaikan semua konflik itu hanya dalam waktu semalam?

Gambar:
Gambar-gambar cepat nan dinamis khas Nia Dinata akan tersaji di film ini dengan setting-setting yang tertata menarik.

Act:
Winky Wiryawan yang tampil berantakan dan seadanya cukup meyakinkan sebagai Ahmad. Gestur tubuh dan nada bicaranya mewakili sosok pemuda cuek yang hidupnya pecundang.
Herjunot Ali memberikan gambaran yang pas sebagai Heru, pemuda playboy yang sebenarnya berasal dari keluarga berada yang tidak bahagia.
Didukung juga oleh penampilan ciamik dari Amink, Tarzan, Aida Nurmala dll.

Sutradara:
Tidak buruk walau disutradarai oleh duet Agasyah Karim-Khalid Kashogi yang notabene asing namanya di perfilman Indonesia. Namun film ini kental dengan "nafas" Nia Dinata yang kali ini bertindak sebagai produser.

Komentar:
Di beberapa scene, dialog-dialog dan gambar-gambar yang ditampilkan hanya untuk konsumsi dewasa dan diyakini mampu memancing tawa. Cerita yang sebenarnya simpel dan realistis ini diubah menjadi suatu film yang bergerak cepat dan terkesan "chaos" tapi tetap menarik untuk disaksikan. Duet Winky-Junot yang kompak cukup memberikan nilai tambah tersendiri.

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!