XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label dermot mulroney. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dermot mulroney. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

INSIDIOUS CHAPTER 3 : When The Chill Goes Downhill

Quote:
Elise Rainier: Give her back!
Nice-to-know:
James Wan tidak menyutradarai seri ketiga ini karena tengah mengerjakan Furious 7 (2015).

Cast:
Stefanie Scott sebagai Quinn Brenner
Dermot Mulroney sebagai Sean Brenner
Lin Shaye sebagai Elise Rainier
Angus Sampson sebagai Tucker
Leigh Whannell sebagai Specs
Tate Berney sebagai Alex Brenner
Steve Coulter sebagai Carl
Hayley Kiyoko sebagai Maggie

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Leigh Whannell yang sebelumnya menulis dan turut membintangi dua prekuelnya.

W For Words:
Tidak adil rasanya jika nama James Wan berkibar sendirian meski pencapaiannya di genre horror/thriller selama satu decade terakhir memang mengagumkan. Siapa yang tidak mengenal dwilogi Insidious atau septuple Saw. Namun jangan lupakan tandem setianya, Leigh Whannell yang bahkan sudah mendukung Wan dengan mengambil peran dalam feature debutnya, Stygian (2000). Tiba saatnya Whannell mendapatkan spotlight nya sendiri dengan menggawangi seri ketiga dari franchise horror yang dikembangkannya ini. Thanks to Wan's decision for directing Furious 7. I know most of us were disappointed when we got that news in the first place. But hey, give this dude a chance to show what he's got.

Remaja putri Quinn bertekad menentukan jalan hidupnya sendiri lewat percobaan seni peran paska SMU berakhir. Namun sang ayah Sean kerap membebaninya dengan tanggungjawab akan adiknya Alex. Dalam kebuntuan dan kesedihannya, Quinn lantas kerap mencoba berkomunikasi dengan mendiang ibunya Lilith. Cenayang Elise yang ditemuinya sontak menyadari bahwa ada arwah lain yang mengikuti Quinn bahkan mengancam nyawanya. Namun Elise harus berjuang mengatasi ketakutannya sendiri sebelum membantu keluarga Brenner melewati kemelut tersebut.











Dari segi cerita, nyaris tidak ada yang baru yang ditawarkan oleh Whannell. Pakem 'roh yang meninggalkan tubuh' masih jadi menu utama. Mungkin proyeksi astral itu sendiri memang diyakini masih menyimpan banyak misteri akan alam hidup dan mati. Setting rumah yang berpindah ke apartemen tua setidaknya memberikan perspektif baru bagi penonton. Bagaimana tetangga samping dan atas anda bisa menciptakan situasi janggal yang tidak diharapkan.

Dari segi eksekusi, semua trik yang digunakan Wan berupaya dihadirkan kembali. Scoring music yang membangun atmosfir masih terbukti efektif mengiringi setiap jump scares yang tentu saja ditunggu-tunggu audiens. Namun perbedaan visi dan penyusunan sekuens dalam storytelling nya yang cukup kentara tak dapat dipungkiri seberapapun kerasnya Whannell berusaha. Coba cermati penampakan hantu demi hantu yang terasa seperti perpaduan gaya barat dan timur.













Jajaran cast yang mumpuni terbilang menjadi penyelamat prekuel ini. Aktris senior Shaye mampu menerjemahkan karakter cenayang Elise yang superior sekaligus rapuh pada saat bersamaan. Pendatang baru Scott akan dengan mudah mengambil simpati penonton karena sejak menit awal tokoh Quinn sudah dirundung nasib malang. Mulroney tampak meneruskan apa yang sudah dilakukan Wilson melalui karakter ayah yang bertekad mempertahankan anak kesayangannya meski kali ini tanpa 'kekuatan khusus'. Berbagai pendukung juga sukses menjalankan peranan masing-masing, terutama Angus Sampson.

Insidious Chapter 3 jelas merupakan seri terlemah dari semuanya. Sajian horor yang sebetulnya masih bisa menakuti tetapi tidak sampai merasuki pikiran anda. No matter how bad i (or most reviewers) wrote about this, you're still gonna watch it. Keputusan yang samasekali tidak salah karena beberapa petunjuk yang tersebar di sepanjang film harus anda rangkai demi keutuhan sebuah trilogy yang diharapkan tidak ditambahkan kembali. Some of set-up scenes were creative enough to raise chills. Which one works best for you is your duty to find out.

Durasi:
97 menit

Movie-meter:

Senin, 27 Februari 2012

THE GREY : To Live Surviving Or Die Trying


Quotes:
Diaz: Fate didn't give a fuck. Dead is dead.

Nice-to-know:
Lokasi syuting di Smithers, British Columbia sempat mencapai suhu minus 40 derajat Celcius. Bahkan adegan badai salju memang benar-benar terjadi, bukan rekayasa CGI.

Cast:
Liam Neeson sebagai Ottway
Dallas Roberts sebagai Hendrick
Frank Grillo sebagai Diaz
Dermot Mulroney sebagai Talget
Nonso Anozie sebagai Burke

Director:
Merupakan film kelima bagi Joe Carnahan yang terakhir menggarap The A-Team (2010).

W for Words:
Film berbujet 25 juta dollar ini mengisahkan perjuangan hidup segelintir manusia yang kesemuanya (bukan kebetulan) adalah pria. Perjuangan melawan alam (bencana), makhluk hidup (serigala) dan juga takdir (Tuhan) yang kerapkali menjadi proses yang tidak pernah dapat kita hindari. Sesungguhnya bukan tema yang baru mengingat pernah ada Alive (1993) dari Frank Marshall yang mengambil setting sama yaitu iklim Kanada yang bersalju.
Sekelompok pengebor minyak mengalami musibah saat pesawat yang ditumpangi kandas di pegunungan Alaska. Yang tersisa kemudian adalah Ottway, Hendrick, Diaz, Talget, Burke, Flannery dan Hernandez yang berusaha bertahan hidup dari dinginnya suhu dan terpaan badai salju. Ternyata bukan hanya itu karena segerombolan serigala yang merasa terganggu mulai mengintai mereka satu persatu. Ottway yang berprofesi sebagai pemburu serigala pun berusaha memimpin mereka keluar hidup-hidup dengan segenap keahlian dan pengalamannya.

Keberanian Joe Carnahan untuk keluar dari “zona nyaman” lewat film ini patut diacungi jempol . Adrenalin anda memang masih dipacu dengan ketakutan nyata yang muncul dari perburuan serigala dan juga pembantaian manusia yang cukup sadis tetapi pengembangan karakternya sedikit terabaikan walau tidak sampai mengganggu. Sang karakter utama sendiri, Ottway tidak diceritakan latar belakangnya dengan gamblang selain halusinasi frekuentif sang istri yang entah masih hidup atau sudah meninggal, anda bisa asumsikan sendiri.
Liam Neeson masih menyisakan sisi “jagoan” yang kental seperti dalam film-film sebelumnya. Namun dalam suasana putih bersalju yang bisa berubah menjadi percikan darah, anda akan melihat sisi lain dari seorang Ottway yang rapuh karena masa lalunya. Perbedaan dari karakter lain, ketakutan yang terang-terangan diakuinya itu tidak membuatnya goyah dan tetap menggunakan akal sehat untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk terus bertahan hidup.

Momen dimana kematian begitu dekat menjadi highlight film ini. Lihat saja transisi sikap tokoh Diaz yang paling mencolok. Atau Hendrick dan Talget dapat dikatakan telanjur pesimis sehingga kemungkinan terburuk yang dapat terjadi tidak bisa dihindarkan. Setiap manusia menyikapi momen tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian orang yang religius mungkin akan melihatnya sebagai upaya berserah diri kepada Tuhan dan jalan untuk bertemu orang terkasih yang lebih dahulu meninggalkannya.
The Grey bukanlah gory thriller biasa dengan momok serigala, Carnahan terbukti membawa standar survival drama ke tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman yang terasa amat nyata dan emosional ini diyakini mampu membuat anda tercekat di kursi saat menunggu detik-detik mencekam. Tak perlu malu untuk menutup mata atau telinga jika dirasa terlalu mengejutkan anda. Terpenting untuk digarisbawahi adalah tagline film ini sendiri yakni live and die on this day. So mark every aspect of your life with appreciative efforts!

Durasi:
117 menit

U.S. Box Office:
$42,787,884 till Feb 2012.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 03 September 2011

LOVE WEDDING MARRIAGE : Saat Pernikahan Di Ambang Ketidakpercayaan

Tagline:
Here comes the ride.


Storyline:
Ava yang menyandang gelar Ph.D jatuh cinta dengan Charlie. Keduanya pun sepakat menikah di tengah perayaan ulang tahun perkawinan orangtua Ava yang menginjak usia 30 tahun. Berkarir di bidang konselor pernikahan, Ava kaget mendapati ayah ibunya akan bercerai karena perselingkuhan yang dilakukan ayahnya 25 tahun lalu, bahkan sebelum kelahiran adiknya Shelby. Ava pun berjuang keras menyatukan kembali kedua orangtuanya tersebut hingga tidak sadar bahwa Charlie diam-diam merasa terpinggirkan.

Nice-to-know:
Suami istri dalam kehidupan nyata Alexis Denisof dan Alyson Hannigan memerankan pasangan yang membutuhkan terapi di bagian awal film.

Cast:
Terakhir menyumbangkan suara merdunya dalam Tangled (2010), Mandy Moore bermain sebagai Ava
Salah satu proyek yang dilakoninya sebelum dua episode pamungkas Twilight Saga, Kellan Lutz berperan sebagai Charlie
Christopher Lloyd sebagai Dr. George
Jessica Szohr sebagai Shelby
Michael Weston sebagai Gerber
James Brolin sebagai Bradley
Jane Seymour sebagai Betty

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Dermot Mulroney yang lebih terkenal sebagai aktor yang telah membintangi 75 judul film.

Comment:
Baiklah melihat judul film ini rasanya anda sudah bisa menerka apa saja yang ingin disuguhkan oleh duet penulis skrip Anouska Chydzik dan Caprice Crane. Tiga tahap yang biasa terdapat dalam sebuah drama romantis yaitu jatuh cinta, menikah dan menjalani rumah tangga. Bedanya film ini justru dimulai setelah pembahasan singkat ketiga prosesi tersebut. Berusaha menyajikan hal baru? Mungkin saja karena pasangan yang terlihat sempurna sekalipun bisa saja terlibat masalah perkawinan yang serius.
Sulit rasanya membayangkan duet Moore dan Lutz berpasangan dalam sebuah film. Nyatanya ini terjadi! Chemistry yang tercipta di antara mereka malah terkesan aneh meski tak dipungkiri, keduanya memiliki daya tarik fisik yang tinggi. Tidak diceritakan secara detail bagaimana Ava dan Charlie jatuh cinta, penonton langsung disuguhi drama pernikahan di antara keduanya yang dibumbui juga oleh krisis rumah tangga puluhan tahun Bradley dan Betty.
Permasalahannya Moore terlihat canggung sebagai konselor pernikahan yang mapan. Ekspresi dan intonasinya jauh dari kesan serius. Dua pasang klien yang ditanganinya pun tak mampu meyakinkan posisinya itu. Sama halnya seperti Lutz yang teramat mengandalkan torsonya sehingga tanpa alasan yang jelas sekalipun, ia begitu mudahnya melepaskan kaos dan bertelanjang dada. Lantas apakah yang ada di pikirannya hanya seks belaka? Benar-benar tipikal pemuda dengan tingkat kecerdasan yang patut dipertanyakan.
Dosa terbesar pembuatan film ini bisa jadi ada di tangan Dermot Mulroney. Debut penyutradaraannya teramat mengecewakan. Pengalaman di depan kamera selama ini tidak membantu karena terlalu banyak scenes yang disyut di luar ketentuan jarak pandang ataupun sudut pengambilan gambarnya. Satu hal yang boleh dibanggakannya adalah mengajak aktor-aktris sekaliber Brolin dan Seymour untuk mau ikut serta meski pada akhirnya nama karakternya tidak dicantumkan dalam credit title.
Love Wedding Marriage berisikan kumpulan adegan komedik gagal, dialog klise hingga momen menyentuh yang teramat dipaksakan untuk mengisi tempatnya masing-masing. Apalagi dengan skrip tidak begitu kuat semakin mengesankan film ini layaknya salah satu episode married teenagers MTV yang super boring dan super artificial selama sejam dengan extended version yang sama menyedihkannya. Rom-com lovers, don’t mess your favorite genre with this one!

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$1,378 in opening week June 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!