XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Senin, 05 Juli 2010

THE LODGE : Losmen Penuh Teror Pasangan Muda

Tagline:
Must get away..

Storyline:
Mike dan Julia menyewa sebuah pondok terpencil untuk berakhir pekan. Setelah bertemu Harry sebagai penanggungjawab pondok tersebut, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi dan apa yang dimulai sebagai sebuah liburan romantis berubah menjadi sebuah permainan untuk bertahan hidup yang tiada akhir.

Nice-to-know:
Memenangkan Festival Awards dalam Great Lakes Film Festival 2008.

Cast:
Owen Szabo sebagai Michael
Elizabeth Kell sebagai Julia
Kevin McClatchy sebagai Henry
Mandi Kreisher sebagai Desi

Director:
Kolaborasi sekaligus karya pertama bagi Brad Helmink & John Rauschelbach.

Comment:
Klasifikasikanlah film ini ke dalam kelas B maka dosa-dosanya akan sedikit termaafkan! Plot cerita yang sudah teramat klise dibuka dengan bodoh saat kedua tokoh utamanya menemukan pondok terpencil yang tidak terkunci tanpa satupun pengunjung tetap memutuskan berlibur disitu tanpa kecurigaan apapun. Tunggu dulu? Apakah naluri anda merasa teruji? Jika iya, maka anda akan menemukan banyak lagi kejanggalan bodoh di dalamnya. Jika tidak ingin spoiler coba berhenti membaca sampai disini. Namun saya yakin anda sendiri tidak akan menyaksikannya juga maka langsung saya akan beberkan dalam 3 hal saja deh. Pertama, protagonis tertangkap dan terlepas dengan mudah begitu saja. Kedua, saat tokoh antagonis dapat dengan mudah menghabisI protagonis, dia menghilang entah kemana dan malah memberi ruang untuk kabur. Ketiga yang paling parah menurut saya, motif antagonis melakukan semua kesadisan tersebut justru keluar dari mulutnya sendiri dan menceritakannya pada protagonis (dan mungkin penonton yang bertanya-tanya. Anyone?). What? That is hillariously stupid. Endingnya pun (lagi-lagi) tidak realistis dan sangat tipikal. No surprise at all indeed. Beruntung Blitzmegaplex yang pernah memajang poster The Lodge pada space coming soon nya tidak jadi memutarnya. Jika tidak? Anda harus membayar tinggi untuk..

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 04 Juli 2010

SPLICE : Spesies Spesial Pembawa Perubahan

Quotes:
Elsa Kast-What do you want? What do you want?
Dren-Inside... you...

Storyline:
Dua ilmuwan muda berbakat, Clive dan Elsa ditugaskan mengumpulkan protein dari berbagai macam DNA hewan untuk kemudian dikembangkan sebagai obat penyakit. Segala macam penelitian mereka lakukan siang dan malam bersama dengan anggota tim yang lain yang akhirnya menghasilkan spesies baru bernama Dren. Pertumbuhan makhluk tersebut sangatlah cepat dimana 1 hari ditempuh dalam 1 menit hingga Clive dan Elsa sepakat menyembunyikan temuan langka tersebut. Namun mereka harus menghadapi masalah lain saat Dren tumbuh besar dan tidak wajar!

Nice-to-know:
Karakter Clive dan Elsa dinamakan berdasarkan dua ilmuwan serupa dalam Bride of Frankenstein (1935).

Cast:
Aktor berbakat ini lebih banyak bermain dalam film-film kecil pengecualian King Kong (2005). Adrien Brody disini melakoni Clive Nicoli yang selalu berpikir rasional.
Pernah dinominasikan Oscar 2008 kategori Penulisan Skrip Terbaik lewat Away From Her (2006), Sarah Polley kali ini mendalami Elsa Kast yang idealis dan berani mengambil resiko.
Raut wajah Dren diinspirasi dari aktris Delphine Chanéac.

Director:
Vincenzo Natali yang juga bertindak sebagai penulis cerita sebelumnya banyak berpengalaman di bidang art department serial televisi dan beberapa film layar lebar.

Comment:
Jujur saja saya mengharapkan sebuah sains fiksi yang memacu adrenalin saat membaca sinopsisnya. Namun setelah 100 menit, perasaan saya bercampur aduk ketika meninggalkan bioskop. Saya bisa klasifikasikan film ini dalam dua bagian. Bagian pertama benar-benar bertutur tentang sains fiksi itu sendiri dengan sangat baik. Bagaimana hati nurani Elsa dan Clive saling bertentangan dengan keputusan yang mereka ambil, demi umat manusia atau egoisme pribadikah? Belum lagi penampakan spesies misterius yang juga lucu sekaligus mengerikan saat kecilnya. Bagian kedua terutama menjelang akhir cukup mengganggu saya dengan topik gender, incest ataupun seksualitas yang tidak berkesudahan. Ayolah, kita sudah pernah disuguhkan Spesies yang berseri-seri itu ataupun film kelas B lain dengan permasalahan yang hampir mirip. Bisa jadi memang sulit mengembangkan plot cerita yang sudah berulang kali dibuat dalam bermacam versi hingga ending film ini pun sudah bisa ditebak oleh penonton setelah dua pertiga bagian berjalan. Katakanlah sutradara Natali mereboot Frankenstein dalam nuansa modern. Lantas iapun menampilkan suasana lab dan pertanian tua yang tenang, dingin dan terasing. Benar-benar setting khas film Eropa yang dingin dan kaku! Dari segi cast, Brody dan Polley menyuguhkan chemistry yang menarik. Bagaimana mereka berjuang mempertahankan intensitas hubungan di tengah masalah idealisme mereka sebagai pasangan ilmuwan ataupun calon orangtua. Ending diperparah dengan konklusi nonsens dan alasan yang mendasarinya. Sengaja untuk membuka sekuel? Entahlah. Terlepas dari elemen-elemen tidak baru yang dimilikinya, Splice sebetulnya punya potensi untuk menjadi film besar apalagi "penampakan" spesial efek Dren yang cukup meyakinkan. Hanya saja disajikan dalam cara yang tidak wajar. Setidaknya menurut saya, belum tentu menurut sebagian besar anda yang bisa jadi memfavoritkannya!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$16,229,106 till end of Jun 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 03 Juli 2010

ECLIPSE : Episode Lain Pergulatan Panjang Cinta Segitiga

Quotes:
Bella Swan-Should I come back?
Jacob Black-I need some time, but I'll always be waiting.
Bella Swan-Until my heart stops beating.
Jacob Black-Maybe even then.

Storyline:
Seattle dikejutkan oleh beberapa pembunuhan sadis yang belakangan diketahui dipimpin oleh Riley dengan gang vampir pemusnah manusianya. Selepas akhir semester, Bella dan Edward kembali menikmati kebersamaan yang intim meskipun diselingi kehadiran Jacob yang tetap mengejar cinta Bella. Sementara itu Victoria masih terobsesi membalaskan dendam terhadap Edward yang telah membunuh kekasihnya, James. Dan Bella menjadi incarannya agar Edward merasakan sakit yang sama. Demi mengalahkan musuh yang lebih kuat, keluarga Cullen bergabung dengan klan werewolf untuk menciptakan kemenangan bersama. Akankah kali ini Bella tetap terlindungi dan mampu menetapkan hatinya?

Nice-to-know:
Kristen Stewart menggunakan wig disini setelah memotong pendek rambutnya untuk peran dalam The Runaways. Sementara itu Tom Felton dan Channing Tatum sempat dipertimbangkan untuk mengisi peran Riley.

Cast:
Masih dibintangi oleh aktor-aktris muda yang sama ditambah beberapa muka baru.
Kristen Stewart sebagai Bella Swan
Robert Pattinson sebagai Edward Cullen
Taylor Lautner sebagai Jacob Black
Xavier Samuel sebagai Riley
Bryce Dallas Howard sebagai Victoria
Anna Kendrick sebagai Jessica
Ashley Greene sebagai Alice Cullen
Peter Facinelli sebagai Dr. Carlisle Cullen
Elizabeth Reaser sebagai Esme Cullen
Kellan Lutz sebagai Emmett Cullen

Director:
Uniknya David Slade terakhir menggarap film yang bertemakan vampir juga yakni 30 Days of Night (2007).

Comment:
Here we go again with the never-ending love triangle between Swan, Cullen and Black. Wait. Did i just say their family names instead nick names? Yes, just because i'm tired with those Bella, Edward and Jacob things. Really! Twilight is still an okay movie for me. But New Moon? Sorry, it wasn't okay. I fell asleep in the theatre after one-packed working day. So did my love ones back then. *sigh*
Three episodes with three different directors. Compare to what Hardwicke and Weitz had achieved, Slade brings some British elements in here. Some scenes actually remind me of Sleepy Hollow or Van Helsing. Slade also tried to balancing the action and drama itself. The fight scenes are more dominant and the drama sides are little more developed with new elements added and appropriate music themes (although most of all still sounds cheesy for me).
Still there's not too much characters developing like the previous two. As for Bella, she did a great job reuniting the whole characters. Read this! Seductive with Edward, passionate with Jacob, insulting Victoria, symphatized for all Cullens family members. How great Stewart is, one-packaged teenage girl who actually seemed like stands for herself! Pattinson still did a great job with cool expression and cold face. Lautner should keep that body tight unless director would give Jacob's role to another young actor. But can somebody do me a favor? Please put clothes on him to stop women (and some men) audiences' gasping. Thank you! Thank you!
The only thing that works for me in here is the idea of werewolves and vampires colaboration to stand together. They cooperate well enough to create some strong bonding in the end. Also some of Jacob's wolf ancestors' flashback or even other Cullen members' life before turned out to be vampires which are more interesting to explored. Otherwise Eclipse would be just another long duration chapter of "oh my dear" confusing Bella Swan! Breaking Dawn's next..

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$83,637,242 in opening week early July 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 02 Juli 2010

STILL : Penderitaan Subyek Kematian Mengejutkan

Storyline:
"Flame", seorang pria yang dihantui rasa bersalah setelah selamat dari kebakaran klub malam yang merenggut kekasihnya.
"Imprison", seorang tahanan yang mempertanyakan kewarasannya setelah penghuni sel sebelumnya tewas gantung diri.
"Revenge", seorang pengedar narkoba yang bisu tuli membunuh wanita pelanggannya dan memutilasi mayatnya di apartmentnya.
"Haunting Motel", seorang penari telanjang sekaligus pelacur harus melayani dua lelaki bersahabat di sebuah hotel yang dimiliki oleh wanita tua gila dan dihantui pembunuh wanita.

Nice-to-know:
Semuanya didasarkan pada kejadian nyata yang dimuat sebagai berita utama di koran Thailand termasuk segmen "Flame" yang mengacu pada kejadian serupa yang menewaskan 66 orang di Bangkok pada pergantian tahun 2008-2009.

Cast:
Mai Charoenpura sebagai Phii Dao ("Haunting Motel")
Akara Amarttayakul sebagai Arm ("Flame")
Supakson Chaimongkol sebagai Nuan ("Revenge")
TAE sebagai Gong ("Imprison")
Uttaporn Teemakorn sebagai Niranam ("Imprison")
Wiradit Srimalai sebagai Puu ("Revenge")
Pimolrat Pisolyabutr sebagai Pang ("Flame")
Kachapa Toncharoen sebagai Phii Naknaen ("Haunting Motel")
Vasana Chalakorn sebagai Crazy Hotel Lady ("Haunting Motel")
Ratchanont Sukpragawp sebagai Thua (segment "Haunting Motel")
Arisara Thongborisut sebagai Jawys (segment "Revenge")

Director:
Poj Arnon dalam "Haunting Motel".
Chatchai Katenut dalam segment "Flame".
Thanwarin Sukhaphisit dalam "Revenge".
Manussa Vorasingha dalam "Imprison".

Comment:
Empat kejadian nyata yang disodorkan dalam nuansa dwilogi horor Thailand sukses, Phobia kali ini rasanya belum berhasil. Saya hanya akan mengomentari segmennya satu per satu dalam beberapa kesimpulan. Dalam "Flame", alur flashback yang digunakan berusaha menyusun twist khusus. Namun hal ini pernah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terlalu original. Adegan kecelakaan klub malam masih kurang mencekam dan terlihat pemakaian spesial efeknya. Dalam "Imprison" ilusi dan kenyataan terasa abu-abu sehingga cukup membingungkan walaupun endingnya sudah dapat diduga penonton yang tetap akan bertanya-tanya akan logika yang mendasarinya. Dalam "Revenge" alur tidak linier berusaha menyembunyikan kejadian sesungguhnya. Namun potongan demi potongan gambar yang disajikan kurang terangkai dengan baik dan pada akhirnya penonton dipaksa menerima saja konklusi yang dibuat. Dalam "Haunting Motel" humor coba dihadirkan lewat keempat tokohnya dengan setting sebuah motel angker. Kembali twist berusaha dijungkir balikkan disini tetapi jatuhnya menjadi mengada-ngada dan dipaksakan. Still pada intinya bertutur mengenai arwah orang-orang yang mengalami kematian mendadak sehingga tidak menyadari dirinya sudah meninggal. Satu-satunya yang patut dipuji dari horor ini adalah konsistensi tone warna gelap mulai dari biru, hitam dan abu-abu yang dominan sepanjang film, seakan menegaskan subyek kematian itu sendiri. Aktor-aktrisnya bermain standar di luar fakta bahwa tidak banyak ruang yang ditawarkan untuk mereka. Sayangnya proses delivery terhadap audiens tidak maksimal sehingga sulit dinikmati dan hanya akan membuat kening berkerut selepas menyaksikannya.

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 01 Juli 2010

3 HATI 2 DUNIA 1 CINTA : Perbedaan Agama Terhadap Visi Kehidupan

Tagline:
Seorang pemuda muslim. Seorang gadis katolik. Will they live happily ever after?


Storyline:
Bekerja sebagai wartawan freelance dan juga penyair, Rosid yang lahir di keluarga Muslim yang taat memang terlihat santai menjalani hidup dengan gayanya sendiri. Itulah yang menarik bagi Delia yang berlatarbelakang Katolik dan juga seorang aktifis kampus. Keduanya mempertahankan keyakinannya masing-masing tetapi saling mengagumi satu sama lain. Sayangnya ortu masing-masing tidak setuju. Ayah-ibu Delia terang-terangan menolak sedangkan ayah-ibu Rosid malah menjodohkannya dengan gadis berjilbab yang soleh, Nabila. Selain itu Rosid juga dipertanyakan keagamaannya karena tidak bersedia memakai peci dan baju koko yang dianggapnya hanya meneruskan tradisi belaka. Akankah cinta dapat mengalahkan semua pandangan dasar tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mizan Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 29 Juni 2010.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rosid
Laura Basuki sebagai Delia
Arumi Bachsin sebagai Nabila
Ira Wibowo sebagai Martha
Robby Tumewu sebagai Frans
Henidar Amroe sebagai Muzna
Rasyid Karim sebagai Mansur
Zainal Abidin Domba
Jay Wijayanto

Director:
Ditulis dan disutradarai oleh Benni Setiawan yang baru saja menyelesaikan Cinta 2 Hati beberapa waktu lalu.

Comment:
Diangkat dari novel laris Da Peci Code serta Rosid dan Delia, film ini bisa jatuh ke dalam genre religi. Beruntung Benni yang merangkap disini tidak terkesan berusaha menggurui topik yang sensitif tersebut tetapi menerjemahkannya menjadi sebuah drama ringan menghibur yang tetap berisi. Lupakan sejenak Cinta 2 Hati yang mendayu-dayu dan merengek-rengek tersebut.
Interpretasi Reza Rahadian terhadap si kribo Rosid patut diacungi jempol. Aksesoris yang dikenakan di kepalanya bukan hanya sekadar aksesoris tetapi benar-benar merasuk pada penjiwaannya sebagai seseorang yang idealis sekaligus puitis. Reza mampu berkoar dengan lugas di kalangan "penganut peci putih" dan juga berpuisi dengan jumawanya di atas panggung. Menarik sekali menyaksikan aktor muda berbakat ini mendalami perannya. Terus terang saya ingin melihat lebih banyak lagi penampilan Laura Basuki di masa mendatang. Ia tidak hanya indah di mata tetapi sangat natural membawakan tokoh Delia yang santun dan menghormati pluralisme. Cukup menarik melihat Arumi Bachsin sedikit "keluar" dari peran-peran khas Nayato disini. Aktor-aktris pendukung senior sebagai orangtua Rosid dan Delia semakin memperkuat jalinan cast yang ada. Jangan ragukan Robby, Ira, Henidar, Rasyid yang konsisten dengan emosinya masing-masing.
Pada akhirnya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta tidak dapat dikatakan sebuah film utuh dengan penyelesaian yang klise dan tipikal melainkan lebih mirip suatu wacana yang mengembalikan pemahamannya pada masing-masing penonton akan makna cinta, keluarga dan pandangan hidup itu sendiri. Open endingnya cenderung diselesaikan dengan informasi tertulis, bukan dengan bahasa gambar. Thumbs up untuk puisi-puisi WS Rendra yang tajam menyentil dan kena pada garis besar topiknya!

Durasi:
105 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 30 Juni 2010

OBAMA ANAK MENTENG : Kilas Balik Masa Kecil Pembentuk Kepribadian

Cerita:
Lahir dari ibunya yang kulit putih dan ayahnya yang kulit hitam membuat Barry Obama memiliki latar belakang yang bervariasi. Pada usia 9 tahun, ia ikut ayah ibu angkatnya pindah ke Jakarta dan tinggal di Menteng. Barry kemudian bersahabat dengan anak sopir ayahnya, Slamet dan Yuniardi yang juga kakak beradik. Belum lagi ada pembantunya yang gemulai nan setia, Turdi yang selalu siap sedia menemani dan mengantarnya. Meskipun awalnya kesulitan beradaptasi, Barry menebusnya dengan kedisiplinan dalam mempelajari semua ilmu yang disodorkan padanya. Di sekolah, Barry juga bertemu dengan gadis cilik idamannya, Rebecca dan juga geng sok jago yang dipimpin Carut. Lantas apa yang dipelajari Barry disini yang mungkin saja menentukan pandangan masa depannya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan secara megah di fX pada tanggal 30 Juni 2010.

Cast:
Hasan Faruq Ali sebagai Barry
Cara Lachelle sebagai Rebecca
Yehuda Rumbindi sebagai Carut
Teuku Zacky sebagai Turdi

Director:
Kembalinya John de Rantau yang terakhir menggarap Denias : Senandung Di Atas Awan (2006) dan kali ini bekerjasama dengan Damien Dematra selaku penulis novelnya.

Comment:
Harus diakui ini merupakan salah satu proyek ambisius MVP Pictures yang berusaha sekuat tenaga mengumpulkan fakta-fakta minimalis dari masa kecil orang nomor satu Amerika Serikat tersebut yang sempat dihabiskan di Indonesia itu. Melalui berbagai riset, jadilah film ini yang rasanya masih sulit dikatakan semi-autobiografi, saya lebih suka menyebutkan terinspirasi dari kisah nyata. Mengambil lokasi syuting dari Cimahi hingga Kota Tua, suasana tahun 70an coba dihadirkan lewat pernak-pernik jaman dahulu dan penggunaan ejaan-ejaan lama. Dari segi cerita, berbagai potongan mozaik coba dirangkai mulai dari permainan pingpong dan catur, pembelajaran dini hari, perkelahian, persahabatan sejati dan berujung pada perpisahan yang pada akhirnya membawa kenangan tersendiri. Cukup? Masih kurang inspiratif menurut saya. Hasan membawakan karakter Barry kecil dengan datar walaupun tidak bisa disebut buruk. Interaksinya dengan tokoh-tokoh di sekitarnya masih kurang maksimal apalagi dengan pemeran ayahnya yang terasa miscasting. Sutradara de Rantau yang sempat berselisih dengan Dematra paska produksi film ini tidak mampu mengulangi keluguan dan kenaturalan Denias dalam film ini. Apalagi dialog-dialognya masih kurang tajam, kalau tidak mau dibilang agak mengganggu di nyaris sebagian besar scene yang diusungnya. Alhasil Obama Anak Menteng secara keseluruhan tidaklah memukau, hanya keseriusan penggarapannya saja yang patut diapresiasi.

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 29 Juni 2010

CHLOE : Kecurigaan Istri Berbuntut Obsesif Kompulsif

Tagline:
If the one you love was lying to you, how far would you go to find out the truth?

Storyline:
Saat kecewa karena suaminya David ketinggalan pesawat untuk menghadiri acara ultah yang sudah disiapkan, Catherine mulai berpikir buruk. Akumulasi hubungan suami istri yang mulai mendingin membuatnya nekad menyewa jasa Chloe, gadis misterius yang sering wara-wiri dekat tempat prakteknya. Ketika Chloe mulai menceritakan interaksinya dengan David, Catherine menjadi cemburu dan semakin kehilangan kendali akan akal sehatnya. Benarkah perselingkuhan itu terjadi hingga rumah tangga pasutri Stewart harus berakhir?

Nice-to-know:
Saat proses syuting berjalan pada bulan Maret 2009, Liam Neeson sempat meninggalkan lokasi beberapa hari karena istrinya Natasha Richardson mengalami cedera otak akibat kecelakaan ski es. Pada akhirnya Richardson meninggal, Neeson pun dengan sukarela melepaskan kepergiannya dan kembali meneruskan perannya dalam 2 hari setelah filmmaker sepakat mengubah skripnya.

Cast:
1 dari 4 proyek film yang dikerjakannya di tahun 2009 termasuk A Single Man, Julianne Moore bermain sebagai Catherine Stewart
Baru saja mendukung remake Jennifer’s Body (2009), Amanda Seyfried berperan sebagai Chloe
Liam Neeson sebagai David Stewart
Max Thieriot sebagai Michael Stewart

Director:
Atom Egoyan mulai dikenal luas setelah meraih nominasi Oscar kategori Sutradara Terbaik lewat The Sweet Hereafter (1997).

Comment:
Dengan kumpulan berbagai premis film-film thriller erotis tahun 1990an terciptalah film yang skripnya ditulis oleh Erin Cressida Wilson ini. Sepasang suami istri yang kehidupan rumah tangganya mulai goyah ditambah dengan kehadiran wanita muda penggoda. Sounds such an old twist and turns memang, tapi untungnya berhasil diremajakan sedemikian rupa untuk sebuah citarasa baru yang tidak kalah fresh. Nicely done!
Saya harus katakan ini adalah filmnya Julianne Moore. Totalitas aktingnya patut diacungi jempol karena bersedia beradegan nudis hingga menjurus aksi seksual. Emosinya pun benar-benar terpancing natural baik saat berhadapan dengan Neeson, Seyfried, Thieriot ataupun figurnya sebagai dokter ginekolog sukses. Kerapuhannya dapat dimengerti oleh penonton yang mungkin pernah merasakan pengalaman pribadi serupa dengannya.
Bagaimana dengan Amanda Seyfried? Peran gadis baik-baik yang biasa dilakoninya berubah 180 derajat kali ini. Yang menarik kesan lugu yang terpancar dari mata bundarnya seakan mengartikan hal lain, sesuatu yang dirahasiakan sekaligus berbahaya. Kecantikannya pun sedikit berkesan dewasa dari cara berpakaiannya yang apik. Berhadapan dengan Moore setelah Streep jelas semakin memperkaya pengalaman aktrisnya di masa mendatang.
Sutradara Egoyan menghadirkan sinematografi modern yang nyaman di mata dengan penggunaan setting lokasi yang minimalis tetapi maksimal hasilnya. Berpadu apik dengan scoring musik dari Mychael Danna yang merambat lurus searah dengan elemen suspensi yang dituangkan. Perubahan yang dilakukan Egoyan terhadap akhir cerita menyesuaikan kabar dukacita yang menimpa Neeson menguatkan kepekaannya terhadap hubungan antar manusia itu sendiri
Chloe adalah sebuah drama thriller yang solid dan mampu mengikat penonton untuk terus mengikutinya sampai akhir. Endingnya mungkin masih dapat dikategorikan predictable tetapi tetap sebuah cara manis nan realistis untuk mengakhirinya demikian. Insting alamiah seorang manusia kadang lebih berbahaya apalagi jika diikuti dengan asumsi-asumsi tak berdasar yang menjurus pada tingkah laku responsif yang berlebihan. Berhati-hatilah!

Durasi:
95 menit

U
.S. Box Office:
$3,074,838 till July 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 28 Juni 2010

ALPHA DOG : Jeratan Muda-Mudi Narkoba dan Seks Bebas

Quotes:
Angela Holden-So you're like... ransom.
Julie Beckley-That's hot.
Zack Mazursky-It's ok. Its like another story to tell my grandchildren
Julie Beckley-Stolen boy.

Storyline:
Penyaluran narkoba di San Gabriel Valley, California di akhir tahun 1990an dimana Johnny menjadi orang termuda dalam daftar orang yang paling dicari FBI. Di usia 20, Johnny Truelove adalah pemuda yang rumahnya menjadi tempat populer buat teman-temannya untuk memakai narkoba dan melakukan seks. Tetapi semua hal baik berakhir ketika salah satu penyalur Johnny, Jake Mazursky berhutang padanya sebesar $1,200. Saudara tiri Jack yang berusia 15 tahun, Zack diculik dan disandera untuk mendapatkan uang itu kembali.

Nice-to-know:
Terpilih sebagai film penutup Festival Film Sundance 2006.

Cast:
Johnny Truelove muda diperankan oleh Emile Hirsch yang sudah bermain di puluhan serial televisi sejak usia 11 tahun.
Sang ayah Sonny Truelove dimainkan oleh aktor senior, Bruce Willis.
Ketiga sahabat utama Johnny yaitu Tiko, Elvis dan Frankie masing-masing dihidupkan oleh Fernando Vargas, Shawn Hatosy dan Justin Timberlake.
Kakak beradik Mazursky dilakoni oleh Ben Foster dan Anton Yelchin.

Director:
Nick Cassavetes yang kelahiran New York terakhir membesut Gosling dan McAdams dalam The Notebook (2004).

Comment:
Epilog film diceritakan dengan gaya yang sangat mengganggu dimana audiens diperkenalkan oleh sekumpulan anak muda kulit putih yang berdialog dengan gaya musik rap kulit hitam ditambah dengan gaya urakan satu sama lain. Namun semakin bercerita, rasanya kita akan mulai terbiasa akan semua itu kalau tidak mau dibilang bersimpati pada karakter-karakternya yang terasa nyata di kehidupan sehari-hari tersebut. Dari semuanya, Timberlake di luar dugaan menampilkan akting paling cemerlang sehingga sesaat sesaat kita lupa ketenarannya sebagai vokalis R&B papan atas masa kini. Tokoh Frankie yang dibawakannya mendominasi screen dari setiap scene yang ditawarkannya dengan kharisma tersendiri. Yelchin juga terbilang sukses mewakili karakter anak manis yang terjebak dalam lingkungan keluarga yang tidak membuatnya nyaman. Selebihnya tidak terlalu menonjol kalau tidak mau dikatakan terlalu satu dimensi. Sayangnya sutradara Cassavetes nyatanya berusaha terlalu banyak dalam mengangkat kisah yang diinspirasi dari kejadian nyata ini sehingga penonton akan bingung sekaligus tidak nyaman sepanjang durasinya yang cukup panjang itu apalagi dijejali dengan ratusan kata-kata kasar nyaris di setiap dialognya. Alpha Dog memiliki potensi yang baik dengan mood depresi yang diusungnya, great film but not comfortable watching it.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$15,229,325 till mid Feb 2007.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 27 Juni 2010

THE LEGEND IS BORN IP MAN : Asal Usul Tokoh Wing Chun Muda

Storyline:
Setelah kematian gurunya Chan Wah Shun di Foshan, Ip Man pergi ke Hongkong untuk belajar. Di sana ia diperkenalkan pada teori Wing Chun dari Leung Pik yang memberinya kemajuan besar. Ketika ia kembali ke Foshan, Ip Man jatuh cinta dengan putri wakil walikota Cheung Wing-shing tetapi ditentang oleh ayahnya. Sementara itu gaya Wing Chun ala Ip Man juga dikatakan menyimpang dari bentuk asalnya terutama dari saudaranya Ip Tin Chi. Bagaimana ia menghadapi semua tantangan ini dan menjadi salah satu guru kungfu paling dihormati sepanjang masa?

Nice-to-know:
Berjudul asli Ye Wen qianzhuan.

Cast:
Dennis To sebagai Ip man
Fan Siu-Wong sebagai Ip Tin Chi
Sammo Hung Kam-Bo sebagai Chan Wah-shun
Huang Yi sebagai Cheung Wing-shing

Director:
Herman Yau tahun lalu cukup mencuri perhatian dengan Turning Point (2009).

Comment:
Jika satu film sukses sudah dibuatkan sekuelnya yang ternyata sukses juga maka bisa dipastikan akan ada lagi kelanjutan yang biasanya prekuelnya. Tak terkecuali dengan film yang mengangkat biografi guru kungfu legendaris pemilik aliran Wing Chun ini. Ip Man pun dikisahkan sejak masa mudanya. Problemnya adalah Ip Man sudah kadung kondang dengan nama Donnie Yen sehingga secara teori akan sulit menjual film ini.
Penggantinya adalah Dennis To, sang juara martial arts terbaru Hongkong yang memerankan Ip Man remaja. Secara postur dan penampakan, Dennis dapat dikatakan Donnie muda. Mirip sekali. Terima kasih pada tim kostum dan make-up yang mendadaninya sedemikian rupa. Namun dari akting, Dennis belum terlalu menonjol. Beruntung koreografi kungfunya cukup meyakinkan sehingga tidak mengecewakan. Aktor senior Sammo Hung dan Yuen Biao nyatanya cuma tampil sebagai pemeran pendukung. Yang cukup dominan malah Fan Siu Wong yang cukup berkarakter sebagai Ip Tin Chi. Kredit patut diberikan pada penampilan khusus Ip Chun yang merupakan putra asli Ip Man.
Fighting scene yang biasanya menjadi jualan film Ip Man kali ini sedikit kendor. Kebanyakan Ip Man remaja hanya berlatih tanding ataupun belajar. Memasuki pertengahan menjelang akhir barulah ada lawan seimbang dari kubu gangster Jepang era perang Sino-Japanese, itupun sudah bisa ditebak kemana arahnya. Satu hal yang menarik adalah duel antara Sammo dan Yuen di awal film dimana mata keduanya sempat ditutup saat memeragakan Wing Chun. Menarik!
Beruntung skrip Erica Lee diterjemahkan cukup baik oleh sutradara kawakan Herman Yau. Dengan demikian aspek-aspek lemah film ini dapat sedikit tertutupi dengan kemasan yang cukup menarik dari sisi sinematografi yang menggambarkan era yang dahulu sekali. Dari segi emosional yang menggerakkan penonton, The Legend Is Born rasanya belum mampu menyaingi Ip Man 1-2.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 26 Juni 2010

KNIGHT AND DAY : Tandem Dadakan Tuntaskan Misi Tak Terduga

Quotes:
June Havens-The pilots are dead!
Milner-Yeah, they've been shot.
June Havens-By who?
Milner-By me. No, actually, I shot the first pilot then he accidentally shot the second pilot. It's just one of those things.

Storyline:
Bertekad menghadiri pernikahan adiknya akhir pekan ini, June Havens tanpa sengaja bertemu Roy Miller di bandara. Perkenalan tersebut berlanjut di pesawat dan setelahnya. Lambat laun June mengetahui bahwa Roy adalah seorang agen rahasia cekatan yang tengah diburu dua pihak yang saling berseberangan yaitu FBI yang dipimpin Fitzgerald dan sindikat internasional yang dikepalai Antonio. Hal tersebut dikarenakan Roy menyimpan sumber energi baru yang dihasilkan oleh pemuda culun, SImon lewat sebuah eksperimen. Hari-hari June yang tenang pun berubah menjadi mencekam terlebih ia harus mengandalkan Roy untuk selamat sekaligus menuntaskan misinya tersebut.

Nice-to-know:
Dari judul "All New Enemies" menjadi "Trouble Man" dan sempat dipertimbangkan "Wichita", akhirnya tetap dipakai "Knight And Day". Skripnya pun mengalami pergantian sampai 6x!

Cast:
Tom Cruise pertama kali mendapat nominasi Oscar di usia 28 tahun kategori Aktor Utama lewat Born on the Fourth of July (1989). Disini ia kebagian peran Roy Miller, agen rahasia tangkas dan cerdas yang tengah menuntaskan misi terakhirnya.
Sebaliknya Cameron Diaz memperoleh nominasi Golden Globe pertamanya di usia 26 tahun kategori Aktris Utama Drama/Musikal via There's Something About Mary (1998). Kali ini dia didaulat sebagai June Havens yang bertemu "pria" yang salah yang kemudian menyeretnya dalam petualangan penuh aksi.

Director:
James Mangold terakhir menggarap 3:10 To Yuma (2007) dan Knight And Day ini adalah karya layar lebarnya yang ke-8.

Comment:
Cruise yang nampaknya masih mempertimbangkan lanjutan Mission Impossible seperti melakukan test-pack terhadap audiens dengan film ini. Sayangnya penundaan demi penundaan syuting maupun tanggal rilis bahkan hingga saat terakhir membuat banyak orang pesimis. Oke kita bahas dari plotnya dulu yang masih formula lama tentang agen rahasia yang terlibat misi rahasia hingga melibatkan orang biasa. Terdengar biasa? Coba tengok dulu aksi Cruise dan Diaz kali ini yang faktanya melakukan sebagian besar adegan berbahaya sendiri. Keduanya berbagi chemistry dengan baik dan orisinil, tanpa ada kesan palsu ataupun dipaksakan. Cruise yang nyaris dibilang paruh baya masih cukup mahir melakukan aksi demi aksinya. Diaz seperti biasa menampilkan keanekaragaman ekspresi dan bahasa tubuh yang menarik dari seorang wanita "nol" menjadi "seseorang". Belum lagi karakter-karakter pendukung yang secara porsi jauh di bawah kedua superstar itu tapi tetap tidak mengecewakan. Skripnya terbangun dengan rapi disusul dengan eksekusi yang cermat. Sinematografinya cukup menakjubkan dengan lokasi yang bervariasi di berbagai negara. Sutradara Mangold secara gemilang menampilkan sebuah action yang untungnya dibalut unsur komedi sehingga beberapa logika tidak masuk akal dan elemen-elemen yang berlebihan terasa termaafkan. Prolog dan epilog yang tersaji juga sangat entertaining dan witty. Menonton Knight and Day seakan mengendarai mobil dengan mata tertutup dan kecepatan yang konstan, memilih belokan secara acak tanpa tahu apa yang akan kita temui sepanjang perjalanan.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$27,288,528 in opening week end of Jun 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent