XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label bruce willis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bruce willis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2013

A GOOD DAY TO DIE HARD : A Bad Way To Stay Alive


Quotes:
John McClane: Need a hug?

John McClane Jr.: We're not a hugging family.
John McClane: Damn straight!


Nice-to-know:
Seri Die Hard pertama yang disyut dengan kamera film Fuji. Empat sebelumnya menggunakan Kodak.

Cast:
Bruce Willis sebagai John McClane
Jai Courtney sebagai Jack McClane
Sebastian Koch sebagai Komarov
Mary Elizabeth Winstead sebagai Lucy
Yuliya Snigir sebagai Irina
Radivoje Bukvic sebagai Alik
Cole Hauser sebagai Collins
Sergei Kolesnikov sebagai Chagarin

Director:
Merupakan feature film kelima bagi John Moore setelah terakhir Max Payne (2008).

W For Words:
Jika icon action baru di Hollywood hanya bertahan melalui satu atau dua judul film saja maka yang dapat dilakukan produser adalah memberi kepercayaan kembali pada icon lawas sebut saja Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis. Nama terakhir (sekaligus yang termuda) ini memang mencuat sejak Die Hard (1988) yang diikuti oleh Die Hard 2 : Die Harder (1990), Die Hard With A Vengeance (1995) dan Live Free or Die Hard (2007). Lebih dari lima tahun kemudian, muncullah seri kelimanya yang secara mengejutkan rilis di bulan Februari alias bukan summer period! Are you kidding me?

Detektif John McClane terbang ke Moscow dengan satu tujuan, membawa pulang putranya Jack yang dituduh melakukan pembunuhan. Padahal Jack adalah anggota CIA yang tengah menjalankan misi mendekati tahanan politik, Yuri Komarov yang memiliki berkas tersembunyi yang akan memberatkan politikus Chagarin. John yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya nyaris menimbulkan kekacauan ketika mengejar Jack di jalan raya. Pada akhirnya ayah dan anak yang tidak akur ini harus bertandem untuk membereskan segalanya. 

Penulis skrip Skip Woods memang masih setia dengan karakter original John McClane rekaan Roderick Thorp tapi entah mengapa saya merasa semua tokoh dalam seri ini teramat satu dimensi alias dangkal. Hubungan ayah-anak John dan Jack yang seharusnya menjadi highlight tersendiri pun gagal memunculkan chemistry yang believable. Sebagian di antaranya bahkan dibantu oleh dialog termasuk keinginan John agar Jack memanggilnya ayah, dari awal sampai akhir! Sosok antagonis yang biasanya menjadi nilai jual franchise pun tidak sampai benar-benar mencuat ke permukaan. Lantas apa yang tersisa selain konflik linier yang juga tak terlalu istimewa itu?

Sutradara Moore berupaya menutupi setiap kekurangan plot ceritanya dengan bombardir adegan aksi sejak menit pertama. Sayangnya semua kecanggihan spesial efek itu hanya membuat saya menahan nafas sesekali tapi tak mampu memuaskan segenap indera. Bagaimana penghancuran puluhan mobil di jalan raya selama paruh pertama film itu jadi begitu mengganggu karena seorang detektif senior sekelas John McClane bertingkah laku begitu konyol ketika menguber puteranya sendiri. Jelas bukan modal yang meyakinkan saya untuk memberi rekomendasi positif.

Terlepas dari faktor usia yang semakin senja, setidaknya Willis masih meyakinkan sebagai bad ass hero John McClane. Ia tidak sendiri karena McClane Jr alias Jack juga sama tangguhnya. Courtney yang mencuat lewat serial Spartacus sudah memiliki postur yang mendukung tapi belum mampu menyaingi kharisma Willis disini. Penampilan Koch yang biasanya kuat dan berwatak menjadi lemah karena ketipisan karakternya. Pun begitu dengan Snigir sebagai Irina atau Kolesnikov sebagai Chagarin yang tak lebih selain mempertebal nuansa Russian dalam film ini.

Dengan segala kekurangannya, Die Hard ini masih berharap meraih keuntungan maksimal dengan sepinya persaingan film awal tahun. Perlu diketahui bahwa versi IMAX nya hanya memikat pada pertarungan akhir di dalam gedung. Selebihnya, regular version is more than enough. Pecinta action movies rasanya masih dapat terpuaskan. Namun penggemar franchise Die Hard besar kemungkunan akan kecewa dan beranggapan bahwa seri ini adalah yang terlemah dari keseluruhan. Tetap penasaran menyaksikan kegilaan bukan hanya satu tetapi dua McClane yang sama-sama ‘susah mati’ tersebut?

Durasi:
97 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 14 Oktober 2012

LOOPER : Gripping Time Travel Tale About Hitman


Quotes:
Older Joe: I'm going to stop this guy. 
Joe: None of this concerns me... 
Older Joe: It is going to happen to you! 
Joe: It's going to happen to YOU, it's not going to happen to ME! 

Nice-to-know:
Adegan dimana Joe muda terjatuh menghindari ledakan bertepatan dengan hari ulang tahun ke-30 Joseph Gordon-Levitt. Ia lantas dibiarkan menggantung dengan kabel karena kru menyanyikan “Happy Birthday" sambil menyodorkan kue ulang tahun. 

Cast:
Joseph Gordon-Levitt sebagai Joe
Bruce Willis sebagai Old Joe
Emily Blunt sebagai Sara
Paul Dano sebagai Seth
Noah Segan sebagai Kid Blue
Piper Perabo sebagai Suzie
Jeff Daniels sebagai Abe 

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rian Johnson setelah Brick (2005) dan The Brothers Bloom (2008).

W For Words:
Science fiction dengan premis time travel memang tidak banyak. Oleh karena itu beberapa diantaranya tercatat sebagai cult movies sebut saja Terminator, Planet of the Apes, Star Trek dsb yang telah melahirkan berbagai seri. Namun untuk yang satu ini, referensi terdekat mungkin ada pada 12 Monkeys (1995). Selain sama-sama dibintangi Bruce Willis, duet Joseph Gordon-Levitt dan Emily Blunt yang telah memasuki jajaran bintang papan atas Hollywood mengingatkan anda pada Brad Pitt dan Madeleine Stowe di situasi yang kurang lebih sama pada masanya dahulu. 

2044, Joe adalah penembak jitu yang mengarungi perjalanan waktu untuk menghabisi target-targetnya dari masa depan. Ia dan looper-looper lainnya menikmati kehidupan mewah hasil bayaran tinggi yang didapat. Pada satu kesempatan, Joe tanpa sengaja membebaskan buruannya karena menyadari bahwa orang itu adalah dirinya sendiri dalam versi 30 tahun lebih tua. Keduanya lantas terlibat dalam permainan hidup dan mati sambil melibatkan nyawa seorang anak yang diyakini akan menjelma menjadi The Rainmaker di masa mendatang.

Upaya Gordon-Levitt untuk menyamakan penampilannya dengan Willis patut diacungi jempol (terima kasih pada hasil make-up Kazuhiro Tsuji). Aktingnya sebagai Joe muda kian matang dan dominan di setiap kemunculannya. Willis yang mulai menua terbukti masih tangguh dan cekatan sebagai Joe tua meski dengan gaya yang tak jauh berbeda. Sama halnya dengan Daniels sebagai antagonis Abe yang berdarah dingin. Blunt amatlah likeable sebagai ibu protektif yang keras kepala. Kredit tersendiri pantas dilayangkan bagi si cilik Gagnon yang mampu memberikan kesan polos dan misterius secara bersamaan. 

Satu-satunya komplain saya terhadap skrip yang brilian ini adalah paruh pertamanya yang terlalu naratif menjelaskan paradoks alam semesta, mitos dan kondisi yang dihadapi Joe. Beruntung di paruh kedua, tempo lebih efektif dalam bertutur sambil mempersempit karakter yang ada menuju klimaks yang ditunggu-tunggu itu. Kerumitan buah pikiran nan orisinil milik Johnson tersebut mampu diterjemahkan lewat cara yang paling sederhana sekalipun tanpa harus merendahkan intelejensi penonton.

Johnson yang juga bertindak sebagai sutradara sukses mengetengahkan konsep masa lalu, masa kini dan masa depan yang saling berkaitan. Bagaimana labirin pikirannya dituangkan ke dalam setiap potongan puzzle yang fasih bertutur membentuk sebuah pola tidak biasa. Pembagian ragam karakternya yang variatif terbilang seimbang. Elemen-elemen futuristik semisal sepeda terbang, telekinesis sampai senjata masa depan turut membangkitkan imajinasi. Penggunaan spesial efek juga tergolong maksimal, tidak melulu bombastis tapi tetap disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Eksekusi Johnson yang rapi diikuti dengan koneksi past and future yang sinergis dari Gordon-Levitt dan Willis menjadikan Looper sebuah time travel sci-fi movie terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan waktu yang akan membawa anda berputar-putar melihat masa depan secara antusias sambil melontarkan segudang pertanyaan yang turut terjawab pada akhirnya. Jangan lupakan endingnya yang emosional dan mind-blowing itu yang menegaskan hukum sebab akibat yang dapat mengubah segalanya. Beware that you might need second viewing to understand the concepts better!

Durasi:
118 menit

U.S. Movie Box Office:
$20,801,552 till September 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 19 September 2012

CATCH .44 : Lackluster Thriller Without Any Conclusion


Quotes:
If you are going down, take everyone with you.  

Nice-to-know:
Sarah Roemer, Lizzy Caplan dan Kate Mara membatalkan keikutsertaan mereka dalam film ini.

Cast:
Malin Akerman sebagai Tes
Nikki Reed sebagai Kara
Deborah Ann Woll sebagai Dawn
Forest Whitaker sebagai Ronny
Bruce Willis sebagai Mel
Shea Whigham sebagai Billy
Jimmy Lee Jr. sebagai Jesse / Trucker
Brad Dourif sebagai Sheriff Connors

Director:
Merupakan
film kedua bagi Aaron Harvey setelah The Evil Woods (2007).

W For Words:
Film yang diperkenalkan pertama kali kepada publik melalui Cannes Film Festival 2011 di Perancis ini menggunakan “pendekatan” ala Quentin Tarantino dalam Pulp Fiction (1994). Premisnya pun tak jauh berbeda yaitu gerombolan pengedar narkoba yang mencoba untuk saling mengkhianati. Tiga nama familiar yang diyakini mampu menjual adalah Bruce Willis, Forest Whitaker dan tentunya si cantik Malin Akerman lewat multi karakteristik yang akan membuat anda menerka-nerka kemana arah film ini bergulir.

Tes, Kara dan Dawn tengah duduk di sebuah restoran pada pukul 3 pagi menanti sesuatu atau seseorang untuk menunaikan misi terakhir dari raja narkoba, Mel. Saat itulah, flashback terkuak mengenai siapa sosok Tes sesungguhnya dan apa yang membawanya terjerumus dalam dunia hitam. Seorang polisi yang menggilai Tes sejak awal pun dalam perjalanan menuju kesana dimana rencana yang awalnya tersusun rapi bisa saja menjadi berantakan.

Kesalahan fatal patut ditimpakan pada Aaron Harvey seorang. Skrip biasa-biasa saja yang terkesan setengah jadi itu tidak menawarkan intrik yang cukup tajam untuk menjaga antusiasme penonton atau pengembangan karakter yang dibutuhkan untuk keberpihakan nyata. Semua mengalir datar. Gaya penyutradaraan back and forth juga cenderung membingungkan karena pemenggalan bangunan cerita yang lemah. Satu-satunya hal yang benar dilakukannya adalah presentasi “bunuh atau dibunuh” yang mencipratkan darah secara meyakinkan.

Sosok Whitaker paling mencuri perhatian disini lewat penokohan Ronny yang “misterius”. Lihat bagaimana ekspresi dingin dan aksen Hispanik kental yang menyertai aktingnya. Akerman dapat dikatakan belum berhasil mengangkat film sebagai strong female lead diatas Reed dan Ann Woll meski daya pikat fisiknya tidak diragukan. Lain hal dengan Willis yang underused dimana keterbatasan screentime membuatnya tak mampu menjiwai karakter Mel yang eksentrik secara utuh. Kasus yang sama berlaku pada Dourif sebagai Sheriff Connors.

Pada akhirnya Catch .44 meninggalkan semacam hutang pada penonton. Bagaimana tidak? Klimaks letusan tiga pistol yang saling tertodong satu sama lain tidak dipaparkan lagi. Layar ditutup begitu saja tanpa dosa oleh Harvey. Goddamnit! Audiens mungkin akan menebak pihak mana yang kira-kira selamat tapi tidak terlalu peduli lagi dengan konklusi tersebut. Jika anda mengharapkan twist berlapis nan cerdas dari sebuah action thriller mumpuni, catch another well-known titles from the past. At least they won’t disappoint you like this one. Avoid!

Durasi:
94 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 19 Agustus 2012

THE EXPENDABLES 2 : When Old Guns Are Having Fun

Quote:
Trench: I'll be back. 
Church: You've been back enough. I'll be back.  

Nice-to-know:
Seorang stuntman meninggal dan lainnya dalam kondisi kritis ketika kru tengah syuting di Bulgaria yang melibatkan ledakan perahu karet.

Cast:
Sylvester Stallone sebagai Barney Ross
Jason Statham sebagai Lee Christmas
Jet Li sebagai Yin Yang
Dolph Lundgren sebagai Gunner Jensen
Chuck Norris sebagai Booker
Jean-Claude Van Damme sebagai Villain
Bruce Willis sebagai Church
Arnold Schwarzenegger sebagai Trench
Terry Crews sebagai Hale Caesar
Randy Couture sebagai Toll Road
Liam Hemsworth sebagai Bill The Kid
Scott Adkins sebagai Hector
Nan Yu sebagai Maggie 

Director:
Merupakan feature film kesembilan bagi Simon West setelah The Mechanic (2011) yang juga didukung oleh Jason Statham.

W For Words:
Film aksi seru yang tidak membutuhkan nalar khusus dalam mencerna jalan ceritanya merupakan prospek potensial bagi industri perfilman untuk menjaring penonton awam membayar tiket dan bersenang-senang selama lebih kurang dua jam. Hollywood (Millennium Films dan Nu Image Films) jelas tak lupa gagasan itu ketika memutuskan memproduksi The Expendables (2010) yang sukses secara komersil itu. Tidak heran jika dua tahun kemudian muncul sekuelnya dengan jajaran pendukung gaek yang masih tegak berdiri.

Karena kekacauan terdahulu yang disebabkan Barney dkk, utusan CIA bertitel Church memberi tugas "wajib" mengawal Maggie dalam menemukan "MacGuffin" yang dapat membahayakan dunia jika jatuh di tangan pihak yang salah. Malangnya, mereka keduluan sekelompok penjahat keji yang dipimpin oleh Villain, bahkan kehilangan salah satu anggotanya yaitu Billy The Kid. Pengejaran berlanjut ke Eropa Timur dimana Barney dkk bertekad membalas dendam sekaligus menuntaskan misi berdarah yang telah dimulai.

Jika Stallone sudah menetapkan "standar" lewat penyutradaraan prekuelnya maka Simon West yang lebih berpengalaman seharusnya mampu membawa film ini ke level yang lebih tinggi. Menilik premisnya yang menjanjikan lebih banyak aksi, darah dan kekerasan, bisa jadi anda setuju setelah credit title bergulir. Namun akting buruk, plot setengah matang hingga editing manipulatif tetap tak dapat dihindari. Untungnya berbagai dialog one-liner cheesy dan spontanitas momen komedik masih mampu membangkitkan senyum dan tawa.

Keterlibatan Liam Hemsworth disini patut dipertanyakan, apakah hanya ingin menarik penonton lebih muda yang ingin melihat idola mereka ditumbalkan setelah memainkan unsur dramatis di pembuka film? Sama halnya dengan Jet Li yang tampil sekilas tentunya akan mengecewakan kubu penonton Asia. Namun setidaknya pendatang baru berwajah oriental, Nan Yu memberikan warna tersendiri sebagai satu-satunya wanita sekaligus tokoh kunci yang ternyata tangguh dan jago beladiri.

Adu otot dan tubuh prima antara Stallone dan Van Damme jelas dominan, mereka bahkan saling berhadapan pada final combat yang ditunggu-tunggu itu. Willis dengan gaya perlentenya yang memang tidak sampai terlibat pertarungan tapi hilarious moment nya bersama Schwarzenegger dalam parodi Terminator tak akan terlupakan begitu saja. Lundgren masih dengan kelambanannya, kontras jika dibandingkan Statham dengan kesigapannya. Jangan lupakan old dog, Norris yang entah apa fungsinya kali ini. 

The Expendables 2 jelas bukan konsumsi anak-anak karena banyaknya adegan berdarah karena tertembak atau potongan tubuh berhamburan karena ledakan. Ini adalah tontonan kaum lelaki yang menjual maskulinitas layaknya permainan video game dengan misi berbahaya yang diterima dan balas dendam yang harus dituntaskan. Reuni bintang-bintang lawas tahun 80-90an yang sangat mahir dalam genre ini merupakan nilai jual utama meskipun sedikit bergaya parodi. These old guns are definitely just having fun on screen, playing hard without taking stratches!

Durasi:
103 menit

U.S. Box Office:
$28,591,370 till August 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 30 April 2012

THE COLD LIGHT OF THE DAY : Meaningless Title For Above Class Action


Tagline:
Instinct Is His Greatest Weapon.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Intrepid Pictures, Film Rites, Fria Luz Del Dia, A.I.E., Galavis Film, Picture Machine, Summit Entertainment ini baru akan rilis di Amerika Serikat tanggal 7 September 2012.

Cast:
Henry Cavill sebagai Will Shaw
Verónica Echegui sebagai Lucia
Bruce Willis sebagai Martin Shaw
Sigourney Weaver sebagai Jean Carrack
Joseph Mawle sebagai Gorman
Caroline Goodall sebagai Laurie Shaw
Rafi Gavron sebagai Josh Shaw

Director:
Merupakan film ketiga Mabrouk El Mechri setelah terakhir JCVD (2008) yang gagal di pasaran itu.

W for Words:
Ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya mengenai penggunaan judul film yang tidak biasa ini. Bahkan setelah film berakhir pun, saya tidak menemukan korelasi apa-apa yang pantas dikaitkan dengannya. Skrip yang dikerjakan oleh Scott Wiper dan John Petro ini terasa seperti kebalikan premis dari Taken (2008) serta memiliki banyak persamaan elemen dengan Abduction (2011). Namun tidak ada salahnya menyaksikan kiprah Henry Cavill sebagai pemanasan menuju Man of Steel yang ditunggu-tunggu tahun depan itu.
Tatkala berlibur dengan kapal pesiar di Spayol, Will Shaw mendapati keluarganya hilang di tengah lautan. Pertemuan kembali dengan ayahnya, Martin tak berlangsung lama karena tewas diterjang peluru sesama agen CIA, Jean Carrack yang ingin melenyapkan saksi mata karena transaksi tas misterius yang super rahasia itu. Dalam kebingungan, Will melarikan diri dari kejaran orang-orang yang mengincar nyawanya sambil mencari cara untuk menyelamatkan keluarganya sekaligus membongkar kasus tersebut.

Sutradara Mabrouk sebetulnya memulai film dengan baik. Paruh pertama yang beralur lambat sukses menempatkan suspensi yang mampu membuat penonton penasaran dan juga bersimpati pada tokoh Martin Shaw yang posisinya tak menguntungkan samasekali sebagai protagonis. Namun paruh kedua yang lebih banyak menekankan aksi justru sedikit kehilangan greget karena kekliseannya, ditambah kinerja kamera hiperaktif yang kesulitan menyembunyikan permainan triknya disana-sini supaya terlihat believeable.
Satu-satunya yang tampil cemerlang disini adalah Bruce Willis yang sayangnya hanya kebagian 20 menit pertama. Henry Cavill sendiri sebagai jagoan sudah berupaya keras menyuguhkan karisma yang diharapkan mengingat sosok Will Shaw adalah pria biasa yang hanya mengikuti instingnya untuk bertahan hidup dan berbuat yang terbaik. Malangnya Sigourney Weaver lagi-lagi mengulangi kesalahan yang sama setelah Abduction (2011) dimana tokoh Jean Carrack tampak tidak berkelas dengan kekejaman intimidatif yang kaku dibawakannya. Saya tertawa keras saat ia mengemudikan mobil secara ugal-ugalan dan berteriak “Wooo.” I couldn’t believe my own ears!

The Cold Light Of Day dapat dikategorikan sebagai action Spanyol kelas B yang terlalu berusaha menjejalkan setiap unsur film aksi ke dalamnya. Anda akan menemukan adegan kejar-kejaran menyusuri kota, tembak menembak, melompat dari tempat tinggi tanpa kurang suatu apapun, kebut-kebutan dengan motor maupun mobil yang terkesan hanya demi memperpanjang durasinya. Rasanya serentetan aksi saja tak akan cukup menjaga perhatian penonton untuk tetap fokus pada perwujudan skrip buruk yang untungnya masih menawarkan sedikit twist yang tersisa.

Durasi:
93 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 23 Oktober 2010

RED : Jangan Kambing Hitamkan Pensiunan Berbahaya

Quotes:
Marvin Boggs-Why are you trying to kill me?
Frank Moses-Look, why would I be trying to kill you?
Marvin Boggs-Because last time we met, I tried to kill you.
Frank Moses-That was a long time ago.
Marvin Boggs: Some people hold on to things like that.

Storyline:
Frank Moses menjalani hari-hari pensiunnya sendirian sambil terkadang berbincang dengan customer service Sarah Ross yang juga tidak beruntung dalam hal asmara. Namun ketenangan Frank mendadak terganggu saat rumahnya disatroni sekelompok pasukan rahasia yang membunuhnya. Bukan Frank namanya jika ia tidak bisa lolos sebab ia adalah seorang pensiunan CIA. Frank pun melarikan diri ke Kansas City dan melibatkan Sarah yang baru ditemuinya. Disana ia bergabung dengan mantan agen top lainnya yaitu Marvin, Joe dan Victoria yang ternyata menjadi target juga dari pasukan khusus yang dipimpin William Cooper. Siapa yang sesungguhnya mendalangi operasi tersebut? Berhasilkah mereka memaksimalkan pengalaman dan sisa keahlian untuk bertahan hidup?

Nice-to-know:
Brian Cox dan Helen Mirren memerankan agen Rusia dan Inggris. Dalam kehidupan nyata, latar belakang keduanya adalah sebaliknya dimana Brian Cox asli Inggris sedangkan Mirren yang lahir di Inggris beraksen Rusia.

Cast:
Tidak terlalu sukses dalam film terakhirnya Cop Out (2010), Bruce Willis berperan sebagai Frank Moses, pensiunan CIA yang terusik ketenangan hidupnya.
Angkat nama selama 5 tahun terakhir dari serial televisi Weeds, Mary Louise Parker kini bermain kembali dalam film layar lebar sebagai Sarah Ross.
John Malkovich sebagai Marvin Boggs
Hellen Mirren sebagai Victoria
Brian Cox sebagai Ivan Simanov
Morgan Freeman sebagai Joe Matheson
Karl Urban sebagai William Cooper

Director:
Pria kelahiran Jerman bernama Robert Schwentke ini terakhir dipuji saat mengarahkan Eric Bana dan Rachel McAdams dalam The Time Traveller’s Wife (2009).

Comment:
Ide cerita ini diangkat dari novel grafis D.C. Comics karya Warren Ellis dan Cully Hamner dengan genre action komedi. Tidak banyak hal baru yang bisa ditawarkan disini tetapi penyampaian ke penonton lah yang membuatnya berbeda dimana berbagai twist mampu membuatnya terasa fresh!
Dari segi aksi, penggunaan berbagai jenis senjata api, bom asap, granat sampai pertarungan tangan kosong para agen uzur tersebut ditampilkan dalam kapasitas penuh. Keahlian mereka yang sudah terpahat bertahun-tahun benar-benar menjadi senjata mematikan disini.
Dari segi humor, hubungan kerja yang terbentuk diantara mereka selama berpuluh-puluh tahun lamanya terasa menyimpan banyak cerita tersendiri sehingga celetukan maupun sindiran tajam bernada sarkastis tak jarang mampu menghadirkan derai tawa lepas yang tak berkesudahan di setiap scenenya.
Sutradara Schwentke juga dengan cerdas memadukan kedua elemen tersebut lewat perpindahan dinamis chapter demi chapter yang ditandai dengan postcard bertuliskan nama lokasi kejadian secara simultan. Teka-teki mengapa Moses dkk diburu CIA yang harus dipecahkan juga tidak lantas dijawab begitu saja. Pada awalnya mereka terlihat sama bingungnya dengan penonton tetapi melihat kegigihan mereka rasanya cukup membuat kita percaya akan kebenaran sejati yang berusaha diperjuangkan mereka. Lambat laun petunjuk demi petunjuk pun terbuka dengan sendirinya yang mengarah pada satu konklusi yang cukup untuk menjelaskan semua.
Dari jajaran cast, nama-nama senior ini bisa jadi jaminan sendiri. Willis kembali dengan peran superhero yang rapuh sekaligus tangguh di luar franchise Die Hard yang membesarkan namanya itu. Malkovich seperti biasa jago bertingkah konyol dan menyebalkan dengan berbagai ekspresi wajahnya itu. Cox dan Mirren lain lagi dalam menjiwai peranan dua mantan agen yang pernah saling mencintai, lihat ketangguhan mereka berdua membombardir musuh dengan revolver otomatis!
Dari generasi yang sedikit lebih muda diwakili oleh Karl Urban yang memberikan gambaran menarik sebagai agen CIA handal masa kini yang harus berdiri di antara tugas nyata dan kata hatinya sendiri. Jangan lupakan juga Mary Louise Parker yang innocent tapi berbagi chemistry yang manis dengan Willis disini.
R.E.D adalah sebuah comedy action flick yang sangat menghibur bagi penonton dari semua kalangan usia. Berbagai pakem film aksi dijaga disini dimana pahlawan tidak pernah membunuh orang baik sekalipun dan kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan pada akhirnya. Mungkin bukan film aksi kelas satu yang anda harapkan akan menjadi timeless masterpiece tetapi jelas akan cukup berharga mengisi waktu luang anda di kala akhir pekan yang santai.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$21,761,408 till mid Oct 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 28 Juni 2010

ALPHA DOG : Jeratan Muda-Mudi Narkoba dan Seks Bebas

Quotes:
Angela Holden-So you're like... ransom.
Julie Beckley-That's hot.
Zack Mazursky-It's ok. Its like another story to tell my grandchildren
Julie Beckley-Stolen boy.

Storyline:
Penyaluran narkoba di San Gabriel Valley, California di akhir tahun 1990an dimana Johnny menjadi orang termuda dalam daftar orang yang paling dicari FBI. Di usia 20, Johnny Truelove adalah pemuda yang rumahnya menjadi tempat populer buat teman-temannya untuk memakai narkoba dan melakukan seks. Tetapi semua hal baik berakhir ketika salah satu penyalur Johnny, Jake Mazursky berhutang padanya sebesar $1,200. Saudara tiri Jack yang berusia 15 tahun, Zack diculik dan disandera untuk mendapatkan uang itu kembali.

Nice-to-know:
Terpilih sebagai film penutup Festival Film Sundance 2006.

Cast:
Johnny Truelove muda diperankan oleh Emile Hirsch yang sudah bermain di puluhan serial televisi sejak usia 11 tahun.
Sang ayah Sonny Truelove dimainkan oleh aktor senior, Bruce Willis.
Ketiga sahabat utama Johnny yaitu Tiko, Elvis dan Frankie masing-masing dihidupkan oleh Fernando Vargas, Shawn Hatosy dan Justin Timberlake.
Kakak beradik Mazursky dilakoni oleh Ben Foster dan Anton Yelchin.

Director:
Nick Cassavetes yang kelahiran New York terakhir membesut Gosling dan McAdams dalam The Notebook (2004).

Comment:
Epilog film diceritakan dengan gaya yang sangat mengganggu dimana audiens diperkenalkan oleh sekumpulan anak muda kulit putih yang berdialog dengan gaya musik rap kulit hitam ditambah dengan gaya urakan satu sama lain. Namun semakin bercerita, rasanya kita akan mulai terbiasa akan semua itu kalau tidak mau dibilang bersimpati pada karakter-karakternya yang terasa nyata di kehidupan sehari-hari tersebut. Dari semuanya, Timberlake di luar dugaan menampilkan akting paling cemerlang sehingga sesaat sesaat kita lupa ketenarannya sebagai vokalis R&B papan atas masa kini. Tokoh Frankie yang dibawakannya mendominasi screen dari setiap scene yang ditawarkannya dengan kharisma tersendiri. Yelchin juga terbilang sukses mewakili karakter anak manis yang terjebak dalam lingkungan keluarga yang tidak membuatnya nyaman. Selebihnya tidak terlalu menonjol kalau tidak mau dikatakan terlalu satu dimensi. Sayangnya sutradara Cassavetes nyatanya berusaha terlalu banyak dalam mengangkat kisah yang diinspirasi dari kejadian nyata ini sehingga penonton akan bingung sekaligus tidak nyaman sepanjang durasinya yang cukup panjang itu apalagi dijejali dengan ratusan kata-kata kasar nyaris di setiap dialognya. Alpha Dog memiliki potensi yang baik dengan mood depresi yang diusungnya, great film but not comfortable watching it.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$15,229,325 till mid Feb 2007.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 Oktober 2009

SURROGATES : Konflik Robot Pengganti Manusia di Masa Depan

Quotes:
Male Newscaster-Still no official word on when, or if, surrogate services can be restored. It appears, at least for now... that we are on our own.

Cerita:
Di masa mendatang, orang hidup aman di dalam rumah masing-masing, segala aktifitas yang mereka lakukan digantikan oleh robot pengganti yang berpenampilan serba wah tanpa ada batasan apapun. Sebuah dunia yang boleh dikatakan bebas dari rasa sakit, kejahatan, ketakutan dan resiko yang hampir tidak ada. Semua mulai berubah saat sebuah pembunuhan terjadi setelah bertahun-tahun diselimuti kedamaian. Hal tersebut menjadi tugas agen FBI, Greer yang kemudian menemukan konspirasi di balik fenomena robot pengganti sekaligus memecahkan misteri dengan dirinya sendiri yang bertindak langsung.

Gambar:
Full setting di Massachusettes, konsep futuristik masa depan yang diwakili robot berpenampilan manusia rupawan turut membangun cerita.

Act:
Film layar lebar pertama yang memasang namanya dalam credit title adalah Blind Date (1987). Namun Bruce Willis kini tetap menjadi aktor papan atas Hollywood walau agak jarang bermain film. Sebagai Tom Greer, agen FBI yang bertugas melacak misteri pembunuhan, Willis tampil seperti biasanya.
Mulai terangkat saat membintangi Phone Booth (2002), Radha Mitchell bermain sebagai Peters, robot pengganti yang cantik sekaligus tangguh.
Pernah bermain antagonis dalam franchise James Bond yakni Die Another Day (2002), Rosamund Pike kebagian peran robot pengganti Maggie yang juga istri dari Tom.

Sutradara:
Pernah mensukseskan Terminator 3 : Rise of the Machines (2003), Jonathan Mostow kali ini kembali menangani film aksi futuristik yang juga mengandalkan bintang gaek.

Comment:
Sedikit banyak mengingatkan pada I, Robot ataupun Eagle Eye tapi dalam sisi yang lebih humanis. Ide cerita sebetulnya kreatif dan sangat potensial jika dapat dikembangkan dengan cerdas, tetapi pada akhirnya hanyalah sebuah fiksi yang menarik tanpa kedalaman makna yang berarti. Screenplay dan gaya penyutradaraan sudah cukup baik. Beberapa adegan aksinya juga cukup mencengangkan. Kekurangan yang paling mencolok adalah plot cerita yang seakan terburu-buru disajikan kepada penonton dan dipaksa mengikuti saja. Belum lagi editing yang terlampau banyak disana-sini. Endingnya sedikit idealis dan dipaksakan dramatis walau masih bisa diterima. Pada akhirnya, Surrogates hanyalah pengekor dari beberapa film sejenis yang sudah ada, bahkan tidak sebaik pendahulunya. Di luar itu, film ini masih cukup layak tonton dan menyenangkan bagi mereka yang mencari aksi hiburan belaka.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$26,284,134 till early Oct 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!