XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 13 Januari 2010

MESSENGERS 2 : THE SCARECROW

Tagline:
The beginning of the end.


Cerita:
John dan Mary beserta putra putri mereka, Lindsey dan Michael mengandalkan hidup di peternakan dengan bertani jagung. Sayangnya beberapa panen terakhir gagal karena serangan sekumpulan gagak terhadap jagung-jagung tersebut. Dalam keputus asaannya, John menemukan orang-orangan sawah di lumbungnya. Meski diperingatkan putranya yang tidak menyukai ide tersebut, John tetap memasang itu di ladang jagungnya. Ajaib keesokan harinya, semua burung gagak ditemukan mati tanpa sebab. John pun membakar bangkai-bangkai tersebut. Beberapa waktu kemudian, panen sukses dan John bisa bernafas lega. Namun keanehan demi keanehan mulai terjadi termasuk beberapa kasus pembunuhan. Benarkah semua peristiwa itu dipicu oleh kekuatan jahat orang-orangan sawah tersebut?


Nice-to-know:
Berlokasi di Sofia, Bulgaria, semua set dalam film ini yaitu rumah, lumbung dan ladang jagung dibangun langsung di tempat untuk syuting selama 18 hari.


Cast:

Pernah tampil dalam beberapa film yang cukup dikenal termasuk awal karirnya dalam Mimic (1997), Noorman Reedus bermain sebagai petani frustrasi yang mulai bertingkah aneh, John Rollins.

Istri John beserta kedua anak mereka, Lindsey dan Michael masing-masing diperankan oleh Heather Stephens, Claire Holt dan Laurence Belcher.

Director:
Sutradara kelahiran Denmark 35 tahun yang lalu, Martin Barnewitz baru menggarap 9 film sebelumnya yang sebagian besar produksi Eropa dan langsung diedarkan dalam format home video.

Comment:
Dirilis langsung ke dalam bentuk DVD termasuk di Indonesia dengan bandrol 17,500 rupiah. Anehnya beberapa saat kemudian, diputuskan main di bioskop dengan rilis terbatas dan tiba-tiba semua DVD originalnya menghilang dari pasaran! Plotnya memang sangat sederhana dan kurang dapat dicerna oleh akal sehat, seperti comotan dari Children of the Corn dan Jeepers Creepers 2. Sebagai sebuah film horor, terornya memang tidak banyak dan cenderung hanya mengandalkan imajinasi penonton yang disuguhkan beberapa adegan cepat diakhiri dengan muncratan darah segar. Dari segi akting, para pemainnya samasekali tidak buruk. Bahkan Reedus dan Stephens menampilkan chemistry yang baik sebagai suami istri yang berjuang mempertahankan keluarga mereka. Paruh pertama film lebih menarik karena suspensi terjaga dan unsur drama terwakili dengan baik. Namun paruh kedua terutama menjelang akhir saat orang-orangan sawah mulai berjalan-jalan dengan suara aneh cukup mengganggu. Pertanyaan-pertanyaan yang semula membingungkan malah dijawab dengan twist yang sedikit mengada-ngada sehingga membuat penonton bertanya-tanya mengapa mereka menyaksikan ini. Tidak terlalu memiliki hubungan dengan prekuelnya The Messengers, film bersub titel The Scarecrow ini masih dapat dikatakan lumayan untuk film kategori B dengan bujet 2 juta dollar saja (dari rencana awal 15 juta).

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 12 Januari 2010

THE FOURTH KIND : Fakta Penyusupan Alien Dalam Tubuh Manusia?

Tagline:
There are four kinds of alien encounters. The fourth kind is abduction.


Storyline:
Pada tahun 1972, diberikan skala pengukuran kedatangan alien di muka bumi. Saat UFO terlihat, itulah perjumpaan pertama. Bukti-bukti terkumpul adalah perjumpaan kedua. Saat ada kontak itulah perjumpaan ketiga. Lalu yang keempat adalah ketika alien mengambil alih tubuh manusia! Seperti halnya yang terjadi di Nome, kota kecil di Alaska yang dilaporkan paling banyak angka orang menghilang sejak tahun 1960an. Tertarik dengan fakta itu, psikolog Dr. Abigail Tyler memulai sesi videotape dengan koleganya Dr. Abel Campos yang mengalami trauma paska meninggalnya Will, suaminya yang dicurigai dirasuki alien. Pada akhirnya Dr. Abigail menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sulit dijelaskan logika pada dokumentasi tersebut.

Nice-to-know:
Syuting dilakukan di Kanada, Bulgaria dan USA. Presiden Kawerak Inc yang mewakili komunitas Alaska, Melanie Edwards mendefinisikan film ini sebagai tidak sensitif terhadap keluarga yang anggotanya turut menghilang di Nome selama bertahun-tahun.


Cast:

Memulai karir akting lewat film Two Moon Junction (1988), Milla Jovovich disini bermain sebagai Abbey Tyler yang superstitius dan mempunyai rasa keingintahuan yang besar.

Will Patton
sebagai Sheriff August

Elias Koteas sebagai Abel Campos


Director:

Nama pria berkulit hitam ini memang unik yaitu Olatunde Osunsanmi. Sebelumnya pernah menangani Etat (2000).


Comment:
Tampaknya menjadi trend sendiri di akhir tahun bagi jaringan Blitzmegaplex untuk memutar film-film bujet kecil Hollywood yang lebih dikategorikan sebagai indie movies. Terakhir kita lihat Paranormal Activity yang sukses menakutkan itu dan kali ini disuguhkan plot cerita yang juga diangkat dari kisah nyata, hanya saja bukan hantu-hantuan tetapi alien. Trailer film ini boleh dibilang menjanjikan karena mampu membangun kengerian. Namun apa yang disuguhkan sesungguhnya jauh dari itu. Sejak menit-menit awal, penonton dipaksakan untuk percaya bahwa alien itu ada (walau sesungguhnya memang ada?! dengan berbagai teori klise yang tidak didukung oleh fakta yang cukup kuat. Alhasil sepanjang film, kita terasa dibodohi dengan penyusupan alien ke tubuh manusia, teknik hypnosis untuk mengembalikan ingatan dan konsep UFO yang sebetulnya sudah sangat lawas. Gaya bercerita dengan narasi malah semakin membingungkan batasan antara tokoh nyata itu sendiri. Cast dan sutradaranya juga tidak membantu samasekali sehingga The Fourth Kind terasa mentah, sama halnya dengan keberadaan Abigail Tyler yang tidak real di dunia nyata lewat pembuktian apapun. Kampanye marketing yang jelas menipu calon konsumennya!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$25,360,255 till Dec 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 10 Januari 2010

THE PRINCESS AND THE FROG : Romansa Pangeran Katak dan Gadis Pelayan

Quotes:
Princess Tiana-Once you two are married, you are gonna keep your promise and get me my restaurant, right?
Prince Naveen-Whoa, oh, not so fast. I made that promise to a beautiful princess, not some cranky wai - why are those logs moving?

Storyline:
Lottie dan Tiana sudah bersahabat sejak kecil, hanya saja nasib mereka berbeda jauh, Lottie terbiasa hidup dalam kemewahan dengan orangtua yang berada sedangkan Tiana berpuas dalam kesederhanaan dengan orangtua pekerja keras yang saling mencintai. Beberapa tahun kemudian, Lottie bisa disebut seorang puteri yang manja dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, bertolak belakang dengan Tiana yang hanya menjadi pelayan restoran. Sementara itu Pangeran Naveen yang bergaya hidup santai datang ke kota tersebut bersama asistennya Lawrence tanpa menyadari bahaya saat bertemu Dr. Facilier yang kemudian mengutuk Naveen menjadi seekor kodok. Kini Naveen harus berjuang mengembalikan status aslinya dengan sebuah ciuman kasih sayang yang tulus. Berhasilkah ia?

Nice-to-know:
Jennifer Hudson, Alicia Keys dan Tyra Banks sempat dipertimbangkan untuk mengisi suara Tiana tetapi akhirnya diambil oleh Anika Noni Rose yang kidal dan menginginkan karakter Tiana juga kidal pada filmnya.

Voice:
Pernah menjadi salah satu gadis bersuara emas dalam Dreamgirls (2006), Anika Noni Rose mendapat peran utama untuk mengisi suara Tiana
Bruno Campos sebagai Prince Naveen
Keith David sebagai Dr. Facilier
Michael-Leon Wooley sebagai Louis
Jennifer Cody sebagai Charlotte LaBouff
Jim Cummings sebagai Ray
Peter Bartlett sebagai Lawrence
Jenifer Lewis sebagai Mama Odie

Director:
Kolaborasi animasi keenam Ron Clements dan John Musker yang diawali sejak The Great Mouse Detective (1986).

Comment:
Rasanya sudah lama sekali Walt Disney tidak memproduksi film animasi dua dimensi konvensional. Terakhir yang cukup berkesan bagi saya adalah Brother Bear (2003. Kini hadir kembali dengan tema yang sudah dikenal kita semua sejak jaman kanak-kanak yaitu putri dan kodok. Kisah klasik tersebut sudah berulang kali difilmkan baik versi animasi ataupun live action, lalu sejauh mana Disney percaya diri dengan karyanya ini?
Dari segi cerita, beberapa improvisasi dilakukan yang bisa dikatakan berhasil karena ide-idenya tergolong fresh seperti kemunculan karakter kunang-kunang, buaya peniup terompet, dukun voodoo dsb. Semuanya bersinergi dengan baik dengan dua tokoh utama tersebut. Pembagian scene antar subplot tergolong lancar dan memperkuat bangunan cerita. Berbagai elemen klise disiasati dengan kreatif seperti Tiana yang tiba-tiba menjadi kodok juga setelah mencium Naveen. Petualangan keduanya sebagai kodok jantan dan betina itulah yang menarik disini.
Dari segi dubbing meski tidak menggunakan aktor-aktris ternama tetapi hasilnya cukup maksimal, terlebih David yang memberikan "jiwa" lebih pada karakter antagonisnya disini. Acungan jempol bagi duet sutradara Clements dan Musker yang menggarap detail cerita dengan efektif. Meski tidak sekuat pendahulunya, penempatan lagu tema cukup pas di beberapa bagian termasuk lantunan suara Ne-Yo via tembang Never Knew I Needed pada credit title.
Princess and the Frog akan mengingatkan anda pada masa keemasan Walt Disney di era 1990an dengan penokohan yang kuat dan intrik cerita yang terjalin rapi serta ditutup dengan manis dan realistis. Tidak heran hasil box-officenya tergolong memuaskan dimanapun ditayangkan. Semoga memacu studio film lain untuk tetap tertarik menghasilkan animasi tradisional dengan kualitas serupa. Thumbs up!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$104,374,107 till Apr 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 09 Januari 2010

HARI UNTUK AMANDA : Dilema Pernikahan Antara Masa Lalu dan Masa Depan

Quotes:
Hari-Hidup itu harus santai kayak di pantai, slow kayak di pulau..


Storyline:
10 hari menjelang pernikahannya dengan Dodi, Amanda masih mempunyai satu pertanyaan besar dalam hatinya: Bisakah ia melupakan Hari, mantan pacarnya sekaligus cinta pertamanya? Pertanyaan itu terjawab saat Amanda harus mengantar undangannya bersama Hari di saat tunangannya Dodi teramat sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Perjalanan seharian itu semakin membingungkan Amanda karena ia menyadari banyak hal-hal yang tidak dipunyai Dodi tetapi ia temukan dalam diri Hari. Siapa yang akhirnya dipilih Amanda untuk melewati masa depan bersama?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh MNC bekerjasama dengan Visinema Pictures, film ini berlokasi di Pasar Mayestik, Sabang hingga Blok S untuk menggambarkan setiap sudut Jakarta dengan cukup detail.


Cast:

Memulai debut akting sekaligus menyanyikan soundtracknya dalam Gue Kapok Jatuh Cinta, Oka Antara disini bermain sebagai Hari, pria santai yang masih menyimpan bayang-bayang mantan kekasihnya.

Terakhir terlihat mendampingi Tora Sudiro dalam Preman In Love, Fanny Fabriana kali ini memerankan sosok Amanda, gadis yang bimbang menghadapi perkawinannya yang tinggal hitungan hari.

Tampil mengesankan dalam Emak Ingin Naik Haji, Reza Rahadian mengisi karakter Dodi yang workaholic sampai tidak menyadari tugas-tugasnya sebagai calon pengantin terhadap wanita yang dicintainya.


Director:

Angga Dwimas Sasongko
yang mencuri perhatian pertama kali lewat Jelangkung 3 menyelesaikan drama romantis ini sejak akhir tahun 2007 yang lalu tetapi mengalami penundaan tayang hingga lebih dari satu tahun.


Comment:

Film dibuka dengan pengenalan pada tokoh Amanda dan segala problematikanya dalam menyusun rencana-rencana pernikahannya yang sudah semakin dekat mulai dari menyebar undangan, fitting baju, pengurusan kamar hotel, pemilihan catering dsb. Namun semua itu dihadirkan lewat tone warna lembut yang menarik dan close-up shot pada ekspresi cast nya masing-masing. Pemilihan Fanny dan Oka terbilang tepat, mereka berdua mampu berbagi chemistry dengan pas antara dua soulmate yang sebetulnya punya gaya dan pemikiran yang berbeda. Oka yang cuek dan punya dunia sendiri, Fanny yang teliti dan sensitive. Reza walaupun tidak tampil dominan cukup memberikan aksen seorang eksekutif yang sibuk terutama pada gaya rambut dan berpakaiannya.Acungan jempol patut disematkan pada Angga, sang sutradara. Meski belum banyak berkiprah tapi mampu menghasilkan karya yang enak ditonton. Satu-satunya kekurangan film ini adalah kurang orisinil. Terasa sekali pengaruh film-film Hollywood sejenis pada gaya bercerita dan ilustrasi musiknya. Namun semua itu tidak masalah sejauh memberikan impact yang baik sehingga pada akhirnya Hari Untuk Amanda adalah sebuah perenungan dari potret kegelisahan pasangan yang tengah menuju pelaminan. Anda termasuk salah satunya?


Durasi:
100 menit


Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 08 Januari 2010

INVITATION ONLY : Undangan Pesta Berdarah Lima Wakil Terpilih

Tagline:
You can despise the rich, but you'd die to be one of them..


Storyline:
Di kehidupan yang persaingannya ketat, Wade, Richard, Hitomi, Holly dan Lin mungkin hanya orang-orang biasa yang bekerja dengan tekun bagi bos mereka masing-masing demi mempertahankan status sosialnya. Hingga pada suatu ketika, mereka menerima undangan secara tidak sengaja untuk menghadiri pesta eksklusif yang diselenggarakan oleh sekelompok orang-orang kaya dan terkenal. Makanan mewah, permainan dan pertunjukan yang menarik pun segera memanjakan mereka. Namun ketika jasad Richard ditemukan tewas terbunuh secara brutal, mereka menyadari bahwa nyawa mereka mungkin taruhan berikutnya.


Nice-to-know:
Diproduksi oleh 3 Dots Entertainment dan mengambil lokasi syuting di Taipei City.


Cast:

Kristian Brodie

Bryant Chang
sebagai Wade

Vivi Ho

Jerry Huang sebagai President Yang

Joseph Ma
Maria Ozawa
Kao Yin-Hsuan


Director:
FIlm penyutradaraan pertama bagi Kevin Ko yang juga bertindak sebagai editornya.

Comment:
Dikatakan sebagai film horor slasher pertama Taiwan yang rasanya dikategorikan kelas 3 selayaknya The Untold Story beberapa tahun lalu. Plot ceritanya yang hampir tidak ada boleh dibilang comotan dari beberapa film Eropa/Amerika seperti Les Dents De La Nuit (2008) alias Vampire Party keluaran Perancis dikombinasikan dengan SAW yang legendaris itu hingga dibuat 5 film. Beberapa adegan sadis bahkan terang-terangan mencontek adegan Hostel seperti menggunting tumit kaki. Hm, kreatifitas yang sangat miskin! Boleh dibilang satu-satunya daya tarik film ini adalah partisipasi aktris porno Jepang berkaliber internasional yaitu Maria Ozawa a.k.a Miyabi walaupun cuma di menit-menit awal termasuk scene seks yang dimainkannya tergolong vulgar. Sang sutradara yang memang belum berpengalaman hanyalah meramu bahan-bahan sebagai berikut copy paste adegan sadis, kejahatan berdarah dan tubuh molek wanita-wanita dalam balutan gaun! Selebihnya, anda akan bingung atau mungkin tertawa menyaksikan begitu banyaknya lubang dalam skrip hingga membuat logika yang sulit diterima nalar terutama penjelasan motif antagonis terhadap mangsa-mangsanya.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 07 Januari 2010

BIDADARI JAKARTA : Isu Prostitusi, Narkoba dan Anak Jalanan Versi "Mudah"

Storyline:
Dari Kalimantan dengan harapan menjadi penyanyi di ibukota, Ulin malah terjebak dalam prostitusi terselubung sebuah night club. Keadaan mau tidak mau membuatnya menjadi pelacur jalanan yang harus selalu siap melayani laki-laki manapun yang disodorkan maminya. Beruntung persahabatannya dengan Anissa dan Tiara menguatkan batinnya untuk menjalani hidup terutama setelah bertemu Albert, eksekutif muda sukses yang menaruh hati padanya.
Di lain kasus, bocah laki-laki bernama Fahmi yang dijuluki si Ingus harus bertahan hidup di jalanan dengan mengamen. Selain harus bersaing dengan rekan sesama bocah pengamen, Ingus menghadapi "bengisnya" pemimpin mereka sekaligus berjuang mendapatkan perhatian dan kasih sayang ibu kandungnya yang tidak pernah mau mengakui keberadaannya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan independen, PT Mega Multi Media.

Cast:
Poppy Bunga sebagai Ulin
Pernah mendukung Nadine Chandrawinata dalam Mati Suri (2008), aktor Malaysia Keith Foo bermain sebagai Albert
Renny Novita
Ayang
Fahmi Aditya

Director:
Pernah menangani horor Terowongan Casablanca yang berkualitas rendah tetapi sukses, Nanang Istiabudi kali ini berusaha mengangkat isu pelacuran dan anak jalanan.

Comment:
Paruh pertama film terasa "menyiksa" sekali. Mengapa? Sebab kita disuguhi potongan gambar demi gambar yang berusaha menjelaskan apa itu women trafficking dan nasib anak jalanan. Kesan depresi dan menyedihkan benar-benar tertangkap apalagi dibantu dengan ilustrasi musik yang menyayat-nyayat. Pertanyaannya, apakah ini baik untuk film? Jika digarap dengan benar harusnya iya karena penonton bisa jadi bersimpati dengan karakter-karakternya. Tetapi garapan Nanang ini hanya sekadar menunjukkan, tidak bercerita sehingga kita akan stress dibuatnya. Memasuki paruh kedua, mood film sedikit membaik apalagi dengan hadirnya kisah cinta. Namun timbul pertanyaan yang lebih ekstrim lagi, apa yang menyebabkan pria sesempurna Albert jatuh cinta pada tokoh Ulin? Alasan kasihan? Pernah ditabrak? Atau murni cinta pada pandangan pertama? Semua sebab itu tidaklah penting lagi karena semua konflik pada film dengan mudahnya diselesaikan begitu saja. Perseteruan antar anak jalanan ataupun pemimpin mereka dibiarkan mengambang begitu saja. Kesan natural yang harusnya dihadirkan oleh kepolosan pemain-pemain cilik itu malah kurang wajar. Hasil akhir menjadi tidak maksimal di semua lini Bidadari Jakarta, judul yang juga tidak tepat. Skenario yang ditulis Jimmy S. Johansyah mungkin salah satu penyebab utamanya. Sayang memang karena isu-isu yang diangkat adalah masalah sosial keseharian yang dihadapi kota metropolitan manapun termasuk Jakarta.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 06 Januari 2010

MU LAN : Kepahlawanan Pejuang Wanita Legendaris Cina

Storyline:
Tahun 450 di Cina, seorang purnawirawan Hua Hu bersikeras mengabdi negara walau sedang sakit keras. Pagi-pagi buta keesokan harinya putri semata wayangnya Hua Mulan nekad menggantikan posisinya dan berangkat wamil. Karena tomboi, Mulan sukses mengelabui orang-orang kecuali Tiger, sahabat masa kecilnya dengan berdandan sebagai laki-laki. Pertempuran menghadapi bangsa Rouran terbentang di depan mata dan mencemaskan Wentai, putra Kaisar. Namun keberanian dan ketangkasan Mulan membuat bangsa Wei maju terus dan menuai kemenangan demi kemenangan. Lalu apa konsekuensi dari pengorbanan itu sendiri terhadap bangsa sekaligus pribadi Mulan sendiri?

Nice-to-know:
Materi promo film yang judulnya diangkat dari salah satu lagunya band Hole ini sudah disiapkan 15 bulan sebelum tanggal rilisnya!

Cast:
Vicky Zhao Wei mengawali karir aktingnya lewat Penitentiary Angel (1995) di usia 19 tahun. Disini ia kebagian memerankan salah satu tokoh wanita paling dikenal dalam sejarah peperangan Cina yaitu Hua Mulan.
Putra kandung Jackie Chan, Jaycee Chan menokohkan Tiger alias Fei Xiaohu.
Protagonis Wentai dan antagonis Danyu Modu dimainkan oleh Chen Kun dan Hu Jun, keduanya aktor asli RRC.

Director:
Pernah sukses mengharu biru seantero publik Asia lewat karyanya Fly Me To Polaris (1999), Jingle Ma yang sudah menjadi sutradara sejak tahun 1986 ini berusaha mengangkat kisah kepahlawanan Hua Mulan versi terbarunya.

Comment:
Jika anda memutuskan untuk menonton film ini, jangan mengharapkan sebuah epik megah yang sangat memanjakan mata dengan adegan pertempuran yang kolosal semisal dwilogi Red Cliff dsb. Sang sutradara Jingle Ma bertutur dengan halus dan kental dengan unsur drama. Namun bukan berarti tidak ada scene peperangan, hanya saja tidak terlalu diekspos sampai detil apalagi sampai menampilkan adegan berdarah-darah yang keji. Pengenalan terhadap karakter Hua Mulan di awal terlalu singkat dan penonton langsung diajak melihat kiprahnya. Yes, Zhao Wei di atas kuda dengan baju perang, helm, pedang dan perisai merupakan pilihan yang tepat untuk karakter pejuang wanita legendaris tersebut. Penjiwaannya tergolong baik walau terkadang dialog yang diucapkannya terkesan datar karena pita suara aslinya memang sudah seperti itu. Plot cerita yang dibangun sangat khas film-film China yaitu membelokkan sejarah asli walau tidak terlalu signifikan dampaknya. Mu Lan masih dapat dinikmati dengan unsur-unsur emosional yang cukup kuat di sepanjang film walau secara keseluruhan bukan film yang luar biasa.

Durasi:
100 menit

Asian Box Office:
CNY 88,800,000 in China till end of 2009.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 05 Januari 2010

HOTEL FOR DOGS : Tempat Penampungan Anjing Liar

Quotes:
Andi-You know, I think we might be in a little over our heads.

Dave-It's four-six; we're out dogged.


Cerita:
Di panti asuhan tempat tinggal Andi dan Bruce, binatang sangat dilarang! Namun hal itu tidak menghalangi mereka memelihara Friday, anjing kecil putih yang lucu selama 3 tahun secara sembunyi-sembunyi. Secara tidak sengaja, Andi dan Bruce menemukan tempat penampungan yang sempurna, yaitu hotel kuno megah yang sudah ditinggalkan. Tempat tersebut kemudian dirombak menjadi lokasi pemeliharaan anjing yang sangat jenius terutama bagi anjing-anjing liar yang terlantar. Menjaga rahasia sebesar itu tidaklah mudah sehingga Andi dan Bruce harus memutar otak untuk menjaga kelestarian sekaligus menghindari dari petugas penangkap anjing liar.


Nice-to-know:
Film Nickelodeon pertama yang tidak diproduksi Paramount Pictures atau salah satu divisinya, melainkan oleh partnernya yaitu DreamWorks. Berlokasi syuting juga di tempat penampungan binatang West Valley di Chatsworth, L.A.


Cast:

Aktris muda cantik yang memulai debutnya dalam Blow (2001) bersama Johnny Depp dan Penelope Cruz bernama Emma Roberts ini bermain sebagai Andi.

Sempat mengisi suara Nicky dalam The Ant Bully (2006), Jake T. Austin menyisihkan hampir 80 anak laki-laki untuk peran Bruce.

Pernah dinominasikan Aktor Terbaik Piala Oscar dalam Hotel Rwanda (2004), Don Cheadle kebagian karakter Bernie yang bijak dan murah hati.


Director:
Pernah menangani film remaja Monkey Business (1996), Thor Freudenthal kembali dengan film keenamnya yang diangkat dari novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1971 ini.


Comment:

Tak dipungkiri, daya tarik utama film ini adalah penampilan segerombolan anjing-anjing dari berbagai jenis mulai dari Bullmastiff, Boston Terrier, English Bulldog, Border Collie, Chinese Crested Dog, Poddle, Beauceron. Total hampir 70 ekor yang memang aslinya diselamatkan dari tempat penampungan hingga akhirnya beberapa diantaranya diadopsi langsung oleh kru film setelah film berakhir. Plot ceritanya sangat ringan hingga anda bisa mengajak anak-anak di bawah usia 10 tahun untuk menontonnya tetapi bukan berarti orang dewasa tidak bisa menikmatinya. Sepintas memang terasa dibodohi karena tidak mungkin anak belasan tahun bisa membuat mekanisme secanggih itu dalam “menyiapkan” kehidupan anjing-anjing terlantar. Namun semua itu tertutupi oleh ketulusan hati dan nilai-nilai kekeluargaan yang tertangkap secara eksplisit. Dari segi cast, meski dibintangi aktor-aktris kelas B seperti Kudrow dan younger Dillon, Roberts dan Austin terlihat charming untuk membuat penonton bersimpati pada perjalanan mereka. Sutradara cukup terampil memainkan formula yang aman sehingga hasil akhirnya adalah film keluarga menghibur yang bisa dinikmati semua pihak.


Durasi:

90 menit


U.S. Box Office:
$73,023,275 till May 2009

Overall:
7 out of 10


Movie-meter:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable

7-average
7.5-average n enjoyable

8-good

8.5-very good
9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 04 Januari 2010

SUSTER KERAMAS : Menjual Keseksian Bintang Porno Jepang

Storyline:
Keyla bersama kedua temannya menginap di suatu villa terpencil di desa. Key yang memiliki indera keenam segera mencium ketidakberesan ditempat tersebut, terlebih setelah arwah seorang ibu tua yang meninggal terus mengikuti untuk memperingatkannya tidak menyebut nama suster keramas dengan sembarangan. Sementara itu seorang turis Jepang yang cantik dan seksi bernama Michiko sedang mencari perawat bernama Karmila yang dulu pernah mengurus ayah kandungnya. Pertemuan Keyla dan Michiko juga seorang sutradara pembesut video porno mungkin saja mengusik hantu suster keramas di kediamannya tersebut.


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures yang belakangan konsisten di genre komedi seks horor.


Cast:

Rin Sakuragi
sebagai Michiko

Herfiza Novianti
sebagai Keyla

Rizky Mocil
sebagai Bari

Zidni Adam

Shinta Bachir


Director:
Terakhir menggarap Terowongan Rumah Sakit yang jauh dari publikasi itu, Helfi Kardit dipercaya menangani film ini yang secara terang-terangan menjual aktris luar negeri dari negara Sakura itu.


Comment:

Menit-menit pertama film cukup menjanjikan karena gaya khas sutradara yang sedikit dipicu film-film horor Jepang terlihat meyakinkan. Namun setelah itu, plot cerita menjadi tumpang tindih antara beberapa subplot yang sayangnya tidak didasari dasar yang kuat. Arah film menjadi mudah ditebak dan tidak fokus samasekali. Hal ini tentu saja karena ekspos yang berlebihan terhadap adegan syur di dalamnya yang melibatkan Rin Sakuragi, aktris porno ternama Jepang walau belum setenar Maria Ozawa alias Miyabi yang batal datang ke Indonesia itu. Apakah tren film lokal masa kini sedemikian dangkalnya hingga tidak mementingkan unsur lain? Beruntung gunting sensor masih cukup tajam sehingga tidak menjurus pornografi yang parah tetapi saya tetap menyebut film ini semiporno karena kevulgaran Rin yang mempertontonkan bh dan celana dalamnya terus menerus serta beberapa adegan lesbian yang sebetulnya tidak perlu. Kelucuan yang sejak awal dibangun Rizki Mocil dan Zidni Adam menjadi tidak penting lagi. Apalagi Keyla sang tokoh utama yang terasa tidak perlu dipedulikan nasibnya hingga film berakhir. Intinya, Suster Keramas hanyalah sebuah proyek coba-coba yang tidak mengesankan dalam segi apapun juga.


Durasi:

85 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable

7-average

7.5-average n enjoyable
8-good

8.5-very good

9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 02 Januari 2010

SHERLOCK HOLMES : Duet Kompak Detektif dan Dokter Menelusuri Misteri

Quotes:
Sherlock Holmes-You've never complained about my methods before. Dr. John Watson-I've never complained! When have I ever complained about you practicing the violin at three in the morning, or your mess? Your general lack of hygiene or the fact that you steal my clothes?

Storyline:
Setelah akhirnya menangkap pembunuh berantai gadis-gadis muda dan "penyihir" Lord Blackwood yang akhirnya dihukum gantung, detektif legendaris Sherlock Holmes dan tandemnya Dr. John Watson dengan mudahnya memecahkan berbagai kasus. Namun "kebangkitan" Lord Blackwood dari liang kubur dan bertekad membunuh tiga korban lagi, Holmes harus bekerja lebih keras lagi dalam perburuan tersebut. Dalam perjalanannya, berurusan dengan tunangan baru Watson, kepala Scotland Yard Inspektur Lestrade dan juga godaan wanita misterius Irene Adler. Pada akhirnya tuntutannya hanyalah satu, Holmes harus lebih pintar dalam menghadapi kasus yang penuh tipuan dan ilmu hitam


Nice-to-know:
Beberapa lokasi di Inggris Raya disetting menjadi kota tua seperti Brompton Cemetery, Bunsen Street, Chatham Docks, Finsbury, Freemason's Hall, Little Lever Street, Manchester Town Hall, Mangle Street, Newton Street dan St. Paul's Cathedral serta sedikit scene di New York City.


Cast:

Aktor senior yang pertama kali dinominasikan Aktor Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat Chaplin (1992), Robert Downey Jr. kini kebagian karakter legendaris Sherlock Holmes yang pintar dan eksentrik.

Aktor papan atas kelahiran Inggris yang dinominasikan Aktor Pendukung Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat The Talented Mr. Ripley (1999), Jude Law berperan sebagai Dr. John Watson, asisten Holmes yang sangat ilmiah.

Peran antagonis Lord Blackwood dan wanita misterius Irene Adler dipegang oleh Mark Strong dan Rachel McAdams.


Director:
Sutradara eksentrik kelahiran Inggris 41 tahun lalu, Guy Ritchie mulai angkat nama di perfilman dunia setelah film keduanya yaitu Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) mencapai status cult.

Comment:
Remake yang bisa dibilang sesuai dengan kondisi masa kini. Acungan jempol untuk sutradara Ritchie yang berhasil melakukan delivery dengan sangat baik serta tensi yang terjaga sepanjang film sehingga dua jam tidak terlalu dirasakan oleh penonton. Lihat bagaimana ia bermain dengan fast track dan slow motion yang sangat menarik terutama untuk berbagai adegan aksi yang porsinya pas tanpa mengganggu keseimbangan tema. Plot cerita disesuaikan dengan literatur yang terfokus pada Holmes dan Watson dalam memecahkan misteri demi misteri. Penjiwaan Downey Jr. terhadap Holmes yang kecanduan alkohol, gemar berlatih beladiri, hobi menyamar dan seringkali mengejek orang-orang di sekitarnya nyaris sempurna. Chemistrynya bersama Watson terasa pas yang juga dimainkan dengan berkarisma tinggi oleh Law. Strong menampilkan karakter Lord Blackwood dengan misterius, picik dan menyeramkan. Belum lagi McAdams yang memberi nuansa cantik berbahaya, sulit ditebak untuk karakter Irene Adler. Semua itu menjadikan jajaran cast yang sangat menjanjikan. Tim produksi juga sukses memvisualisasikan kota tua London dengan indah dan sesuai mood pada masanya. Versi Sherlock Holmes terbaru ini bisa dikatakan yang terbaik dari karya-karya Sir Arthur Conan Doyle manapun dari berbagai aspek yang ditawarkannya.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$62,390,000 in end of Dec 2009 (opening week)

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!